Summary: Hidup Sakura sengsara. Ia merangkap tiga pekerjaan sekaligus. Itu semua untuk biaya pengobatan ayahnya yang sakit parah. Tiba-tiba pria itu datang lagi ke dalam kehidupanya dan menawarkan kesempatan yang bak buah Simalakama. "Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Our New Chapter
"Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
.
.
.
Bab VI
The Wedding
Sakura merasakan kerongkongannya tercekat, "apa katamu?" nada suaranya langsung berubah menjadi dingin. Ia memberikan Sasuke tatapan curiga.
"Siapa Sasori?" tanya Sasuke sekali lagi, "laki-laki berambut merah yang ada di video itu."
Gadis yang membiarkan rambutnya digerai itu kemudian mendengus dan tertawa sengit, "tidak ada urusannya denganmu," ujar Sakura. Ia sedikit tertegun ketka melihat ekspresi wajah Sasuke yang nampak marah, "sepertinya kau sudah mengambil semua barangku kan? Kau bisa-"
"Sakura, siapa Sasori?" desak pria itu sekali lagi. Seketika atmosfer di sekitar ruangan menjadi mencekam melihat bagaimana Sasuke menyampaikan pertanyaan ketiga yang sama, "kau bilang kau tidak punya pacar. Kenapa kau tidak menceritakannya? Aku sudah jujur padamu, lalu aku melihatmu mengenang seseorang yang tidak aku ketahui membuatku terkhianati."
Sakura merasakan tangannya terkepal, ia tidak mau menatap Sasuke. "Berhenti," bisiknya lirih.
"Ah, jangan-jangan dia mantan pacarmu? Apa kau bernasib sama denganku?"
"Berhenti!" Sakura berteriak, air matanya menetes, "jangan sekali-kali kau menyamakan Sasori dengan perempuan jalang yang pernah kau pacari!" mata hijau gadis itu memberikan Sasuke tatapan mencemooh lalu berbalik dan meninggalkan pria itu terpaku di sana. Sasuke bisa mendengar suara pintu depan terbuka. Gadis itu pergi ke luar rumah.
Sasuke kemudian beralih pada Ino dan Sai. Keduanya mengalihkan perhatiannya dan tidak mau menatap matanya.
.
.
.
Sasuke menghidupkan mesin mobilnya. Ia segera menginjak pedal gas kemudian menjalankan mobilnya secara pelan dan berputar-putar di beberapa tempat di sekitar daerah sana untuk menemukan Sakura. Setelah mendengar semuanya dari Ino dan Sai, ia langsung berlari keluar untuk menemukan Sakura.
"Sasori itu pacar Sakura. Mereka sudah berpacaran selama empat tahun dan mereka tidak bersama lagi sejak dua tahun lalu," jelas Ino. "Mereka bertemu ketika Sasori mengikuti sesi pemotretan untuk menjadi model fashion majalah kami."
"Lalu?" tanya Sasuke dingin. "Kenapa Sakura masih menyimpan semua tentang pria itu? Padahal usia pacaran mereka tidak terlalu lama dan sudah lama putus."
Ino tersenyum miris, "Sakura dan Sasori mencintai satu sama lain. Bahkan aku yakin jika Sasori masih hidup, Sasori akan dengan mudah meyakinkan Sakura agar tidak menikah denganmu."
Sasuke membelalakkan matanya, "apa maksudmu?"
"Sasori, dia meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan mobil," kata perempuan berambut pirang panjang itu. Wajahnya langsung mengkerut, dan ia menangis.
Sai buru-buru memeluk Ino, ia melihat ke arah Sasuke. "Tidak mudah bagi Sakura menceritakan tentang Sasori, kau tahu. Apa kau bisa dengan mudah membahas seseorang yang tidak lagi ada di dunia ini? Aku tidak menyalahkan Sakura karena masih menyimpan semua kenangannya bersama Sasori. Sasori adalah laki-laki yang paling berharga untuknya setelah ayahnya."
Sasuke meremas kemudi dengan begitu kuat. Ia menjadi laki-laki terjahat seumur hidup karena membuat Sakura terluka. LAGI.
Pria yang mengenakan setelan kemeja abu-abu dilapisi jas hitam dan celana kain itu menangkap seseorang di salah satu kursi di sebuah minimarket. Sasuke segera memarkirkan mobilnya di dekat sana. Ia keluar dari mobil dan menghampiri Sakura.
"Aku tidak butuh maafmu sekarang," kata Sakura ketika ia merasakan pria itu mendekat ke arahnya. Gadis itu seperti bisa membaca situasi. Ino dan Sai pasti menceritakan semua ketika ia pergi. Ia sudah berhenti menangis, meski belum bisa menghilangkan sembab dan sedikit memerah dari mata serta wajahnya.
Sasuke mengalihkan pandangannya. Sangat sulit melihat gadis itu mengangis sekarang karena ulahnya. Padahal sewaktu SMA, Sasuke seperti tidak mempunyai hati karena telah melukai Sakura. Pria itu mengacak rambutnya lalu masuk ke dalam minimarket dan membeli beberapa makanan manis yang mungkin disukai Sakura.
Setelah membayar, ia berjalan keluar dan duduk di depan Sakura. Ia mengeluarkan semua isi dari kantong pelastiknya. Membiarkan gadis itu memilih sendiri apa yang disukainya. Sasuke berinisiatif membukakan salah satu bungkus cokelat batang dan menyodorkannya pada calon istrinya.
Gadis itu menggeleng, "kau tahu, Sasori selalu membelikanku es krim rasa teh hijau saat dia membuatku marah," ucap Sakura. Sasuke segera bangkit dari kursinya untuk masuk ke minimarket lagi, namun Sakura menahan tangannya. "Kau bodoh? Kau pikir hal yang sama berpengaruh untukmu? Kau berniat menjadi copy-cat?"
Sasuke menatap Sakura. Tatapannya sangat dalam. "Aa, kau benar," ia kemudian kembali duduk dan menyerahkan cokelat batang yang sama pada Sakura.
Gadis itu menerimanya. Ia menggigitnya. Air mata Sakura jatuh, ia terisak, "kenapa cokelatnya pahit sekali," kata Sakura diselingan tangisnya. "Seperti kehidupanku saja," ia menghapus air matanya sembari mengunyah cokelat yang ada di mulutnya. "Kau tahu? Dia bahkan sudah melamarku," kata Sakura lagi, "dia MELAMARKU! Lalu ibuku tidak menyetujuinya," ia menahan suaranya di akhir kalimat itu. "Ibuku hanya ingin kau jadi menantunya. Aku yakin ibuku senang karena Sasori begitu cepat meninggalkan aku, anaknya tidak akan pernah bahagia dengan laki-laki yang bahkan tidak bisa di sisinya."
Sasuke menatap sedih ke arah Sakura. Matanya sedikit dilapisi air, membuat kelopaknya sedikit memerah. Rahang pria itu mengeras semakin ia mendengar ucapan gadis itu. "Kau tahu, aku bisa mengubah cokelat itu jadi manis," ujar Sasuke.
Setelah mendengar ucapan pria di hadapannya, Sakura menatap Sasuke masih dengan ekspresi kesedihan dan linangan air mata. Sasuke bangkit, menahan satu tangan Sakura yang sedang memegang cokelat. Ia mencondongkan tubuhnya dan sedikit memiringkan kepalanya ketika pucuk hidung mancungnya nyaris bertabrakan dengan hidung Sakura.
Bibir mereka bertemu, tepat ketika Sakura berkedip untuk menjatuhkan air matanya.
.
.
.
Gaara baru saja keluar dari toserba yang ada di depan sebuah minimarket dan ia berhenti sejenak ketika ia melihat Sakura duduk di seberang sana. Gadis itu memakai baju kaos dan celana tidur, tapi ia tidak mengenakan alas kaki. Wajahnya terlihat sedang melamun dan sepertinya ia habis menangis.
Pria berambut merah itu berniat untuk menyeberang menghampiri gadis yang terdiam di sana. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat Uchiha Sasuke datang. Pria itu berjalan ke arah Sakura. Gadis itu mengatakan sesuatu padanya tapi Sakura tidak melihat Sasuke. Apa mereka bertengkar?
Uchiha Sasuke kembali dari minimarket setelah membeli sekantung barang dan duduk di hadapan Sakura. Ia menumpahkan isi kantung itu dan mengambil cokelat dan membukakannya untuk Sakura. Gaara mengamati setiap gerakan keduanya.
Sepertinya mereka memang terlibat perkelahian. Mungkin batin mereka teruji di detik-detik menjelang pernikahan. Gaara sedikit merasakan tubuhnya menegang ketika ia melihat pria di hadapan Sakura bangkit dan menahan sebelah tangan Sakura. Sasuke menciumnya.
Mata Gaara sedikit berkedut tidak suka. Kenapa ini terlihat sangat familiar? Gaara tersenyum sinis. Ia jadi ingat Sasori. Kantornya harusnya tidak menyewa pria tersebut untuk menjadi model enam tahun lalu. Pria itu bahkan tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk bersama Sakura sehingga bisa menarik perhatian gadis yang telah dicintai Gaara sejak keduanya bertemu di universitas.
Ya, Gaara mencintai Haruno Sakura. Sejak dulu. Sebagai seorang yang lebih tua, Gaara selalu memandang adik tingkatnya itu adalah gadis yang spesial. Namun, Sakura seperti tidak pernah memandang Gaara sebagai seseorang yang bisa bertahkta di hati maupun benaknya. Tidak ketika kuliah, tidak ketika bekerja, dan bahkan sampai sekarang.
Lalu ada apa dengan Uchiha Sasuke itu? Apa yang ia ketahui tentang Sakura sehingga ia bisa datang seenak jidat dan menikah dengan Sakura? Kenapa ia bisa dengan mudahnya membuat Sakura menerimanya, bahkan setelah kematian Sasori?
Gaara akhirnya berusaha memalingkan wajahnya ketika Sasuke menarik dirinya. Pria itu langsung membuka jas hitamnya dan memenyelimuti pundak Sakura yang masih terpaku. Sasuke membereskan makanan yang tercecer di meja. Ia kemudian berdiri dan melihat ke arah kaki gadisnya yang tidak memakai alas kaki. Tidak segan-segan ia mengangkat tubuh Sakura ke mobilnya.
.
.
.
Ino menatap punggung Sakura yang tidur membelakanginya. Gadis itu pulang diantar oleh Sasuke. Keduanya tidak berbicara ketika sampai di rumahnya. Sebenarnya Ino sangat panik ketika Sasuke datang sembari memegangi Sakura. Ia langsung menarik gadis itu ke kamar mandi dan mencuci kaki sahabatnya dengan gerakan hati-hati layaknya membereskan keramik yang berharga.
Putri tunggal dari keluarga Yamanaka itu hanya mengawasi sedari tadi. Ia sedikit kagum bagaimana Sasuke memperlakukan Sakura saat itu karena pria itu tahu kaki gadis itu terluka. Setelah membersihkan luka Sakura dan mengobatinya, ia tidak lupa mengucapkan selamat malam pada Ino. Sementara Sai sudah pulang beberapa saat ketika Sasuke pergi mencari Sakura tadi.
"Sakura, apa yang terjadi?" tanya Ino, ia yakin temannya itu belum tidur.
"Ino, aku tidak yakin menikah dengannya."
"Ya Tuhan, ada apa, Sakura?" kekhawatiran Ino memuncak mendengar ucapan sahabatnya.
"Sasuke menciumku."
"APA?" Gadis itu melebarkan matanya dan berteriak histeris. Buru-buru meralat ucapannya, "maaf, harusnya aku tidak berteriak."
Sakura memeluk guling dan membenamkan wajahnya di sana, "aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sasori," ia meremas guling itu, "ah, aku lupa. Sasori tidak punya perasaan. Itu sebabnya dia meninggalkan aku."
Ino mengerutkan alisnya. Ia menepuk pundak Sakura, "ya, Sasori tidak punya perasaan."
.
.
.
Sasuke tidak bisa tidur karena kejadian itu. Apa yang telah ia lakukan? Kenapa ia mencium seorang gadis yang sedang menceritakan mengenai kekasihnya yang telah meninggal? Ah, dia begitu bodoh.
Ia jadi tidak bisa melupakan bagaimana ekspresi gadis itu setelah ia menempelkan bibirnya kepada milik Sakura. Terkejut, marah, dan terkhianati. Sasuke bangkit dari posisi tidurnya. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.
Dengan gerakan cepat, ia mengarahkan jemarinya untuk membuka aplikasi chat dan mencari nama Sakura. Ia kemudian mengetikkan beberapa huruf. 'Maaf'. Sasuke buru-buru menghapusnya. 'Kau masih marah?'. Pria itu menghapusnya lagi. 'Kau sudah tidur?'. Sasuke menimang-nimang di benaknya, ia segera mengirim pesan itu.
Beberapa menit berlalu, sebuah tulisan kecil muncul di sebelah pesannya. Sakura telah membaca pesannya. 'Sedang berusaha', jawabnya. Sasuke buru-buru mengetik pesan balasan. 'Kalau begitu selamat malam. Semoga kau tidur nyenyak.'
Butuh waktu beberapa saat untuk gadis itu membaca pesannya. Sasuke merasakan ia kecewa ketika beberapa menit berlalu tapi gadis itu hanya membaca pesan singkatnya. Mungkin Sakura masih marah-
'Kau juga.'
Sasuke membeku. Ia merasakan bibirnya tertarik sedikit ke atas. Ia langsung mengirimkan sticker untuk gadis itu. Ia tentu saja tidak ingin gadis itu yang mengakhiri pesan mereka.
Pria itu baru akan menaruh ponselnya, tapi ponselnya bergetar. Sebuah nama muncul di sana. Ekspresi Sasuke berubah menjadi dingin. Ia mengarahkan jarinya ke ikon telepon merah untuk menolak panggilan tersebut. Namun, Sasuke mengangkatnya.
"Halo, Sasuke," sebuah suara muncul di seberang, Sasuke memejamkan matanya. Suara itu dulunya terdengar begitu indah, sebelum pria berkulit putih itu menerima pengkhianatan darinya. "Kau di sana?"
"Apa?" jawab Sasuke singkat.
Shion menahan suaranya. Sasuke berharap kalau gadis itu sadar diri bagaimana ia di mata Sasuke sekarang. "Aku menerima undanganmu," kata suara di seberang sana sehingga membuat rahang pria itu mengeras "Kau menikah dengan Sakura? Haruno Sakura? Apa kau bercanda?"
"Apa kau pikir aku bisa bercanda setelah apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke balik.
"Kenapa? Kenapa kau jadi begini, Sasuke? Apa kau mau balas dendam?"
Pria yang kini memakai kaos biru itu tertawa sinis, "kenapa kau selalu bertanya pada suatu hal yang jawabannya sudah kau ketahui sendiri?"
"Sasuke! Berhenti memberiku pertanyaan. Aku yang bertanya-"
"Aku lelah. Aku akan tutup teleponnya. Selamat malam," ucap Sasuke cepat lalu mematikan panggilan itu. Ia mengubah mode ponselnya menjadi mode pesawat agar ia tidak bisa mendengar gadis itu meneleponnya lagi.
.
.
.
Hari bahagia itu tiba. Sasuke dan Sakura sempat tidak bertemu selama beberapa hari karena keduanya menerima berbagai persiapan dan perawatan. Acara pernikahan dilakukan di lapangan golf villa milik Sasuke. Banyak tamu yang datang dan menikmati acara pernikahan yang sederhana namun terkesan sangat kekeluargaan.
Sasuke hanya mengundang teman kantor dan bisnisnya. Tentu saja ia mengundang beberapa sahabat terbaiknya sejak SMA. Namun, mereka tidak datang. Sama halnya yang dilakukan untuk Shion. Sasuke berharap kalau perempuan itu datang bersama tunangannya.
Ayah Sakura juga hadir di sana, meski ia menggunakan kursi roda dan beberapa bantuan infus. Pria itu terlihat sangat berharap pada Sasuke. Bahkan Sasuke tidak membutuhkan waktu yang lama agar mendapat restu dari pria itu.
"Kau hanya perlu membuat Sakura bahagia," kata Kizashi. "Aku tidak ingin anakku satu-satunya terluka. Kau adalah penggantiku, Sasuke," kata Kizashi pada Sasuke yang telah memakai tuksedo putih.
Rambut hitamnya kini ditata sedemikian rupa sehingga memperlihatkan wajahnya keseluruhan. Ia menarik napas panjang ketika ia akhirnya bisa melihat mempelai wanitanya. Haruno Sakura sangat cantik ketika itu. Rambut merah jambunya ditata kebelakang. Beberapa helai dibiarkan menggantung di sisi kiri dan kanan kepalanya.
Ia mengenakan gaun putih panjang yang memiliki bagian yang melebar pada pinggulnya dan jatuh seperti air terjun ke bawah untuk diseretnya menuju ke arah Sasuke. Di kepalanya terdapat flower crown dengan bunga cantik dan dihiasi dedaunan hijau. Sementara tangannya memegang sebuket bunga. Ia terlihat sangat gugup ketika mata mereka beradu.
Sasuke akhirnya berhasil menerima mempelai perempuannya. Ia tersenyum ke arah Sakura, sementara gadis itu langsung memalingkan mata ketika tangannya mengait lengan Sasuke.
Setelah mengucapkan janji pernikahan dan sang pendeta mengizinkan Sasuke mencium mempelai perempuannya, keduanya berdiri berhadapan. Sasuke tersenyum ke arah gadis yang kini masih terlihat pendek karena tidak memakai sepatu hak tinggi. Itu semua karena pernikahan mereka dilaksanakan di tengah lapangan golf yang merupakan rerumputan!
Pria itu tidak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar. Sakura menatapnya dengan kikuk. Sejak kapan pria itu jadi sering tersenyum? Sasuke menundukkan kepalanya, menyajarkan bibirnya dengan pipi Sakura. "Maafkan waktu itu aku mencuri satu ciuman darimu. Jadi aku akan mencium pipi-"
Sakura menoleh cepat ke samping sebelum Sasuke menyelesaikan perkataannya. Ia menutup matanya sebelum bibir mereka bertemu. Seluruh penonton bersorak dan Sakura bisa mendengar suara Ino yang terdengar paling bersemangat.
Haruno Sakura, ah, bukan, Uchiha Sakura melepaskan ciumannya. Ia mengalihkan pandangannya setelah ia menyadari Sasuke masih terpaku dan terpukul karena ciuman itu. "Sekarang kita impas."
Sasuke menegakkan tubuhnya. Ia mengulum senyuman. Sepertinya Ia mulai menyukai permainannya.
.
.
.
Sakura merasakan pundaknya seperti ditaruh beban seberat sepuluh ton. Ia sangat kelelahan untuk menemani beberapa tamu di acara resepsi pernikahannya yang dilaksanakan sore hari yang kini bertempatan di dalam villa. Gadis yang membiarkan rambutnya kini diikat setengah itu mencari tempat duduk yang nyaman di sofa tempat sang mempelai.
Ia mengarahkan manik hijaunya ke arah Sasuke yang nampaknya masih baik-baik saja meski ia sudah berdiri beberapa jam untuk menemani tamu mengobrol. Beberapa diantara mereka terlihat seperti orang penting dan membicarakan bisnis yang tidak dimengerti Sakura.
Sakura nyaris tidak mengalihkan perhatiannya dari Sasuke. Namun, kehadiran sosok perempuan berambut pirang dari pintu masuk membuat tenggorokannya tercekat. Perempuan itu memakai gaun malam yang cantik, bahu putih mulusnya terekspos karena gaunnya yang terbuka.
Pupil matanya yang di dominasi warna ungu semakin terlihat indah ketika ia menggunakan riasan yang cocok pada kelopak matanya. Rambut pirang panjangnya digulung ke atas dan membiarkan poni datarnya jatuh tepat beberapa mili di atas alisnya.
Awalnya Sasuke yang mengobrol kini pun juga ikut beralih ke arah gadis itu. Wajah Sasuke berubah menjadi tegang sekali. Ditambah Sakura melihat perempuan itu sedang menggandeng lengan seorang laki-laki bertubuh besar yang memiliki kulit yang sangat pucat, lebih pucat dari Sai.
Sakura segera bangkit dari posisinya ketika kedua tamu yang baru datang itu berjalan ke arahnya. Ia menundukkan tubuhnya untuk memberi salam. Shion tersenyum ke arahnya, dengan cara yang membuat Sakura tidak nyaman, karena senyumannya terlihat terlalu tulus.
"Selamat atas pernikahanmu dengan Sasuke," katanya mengulurkan tangannya pada Sakura. Gadis itu mengangguk dan menerima jabatan tangan Shion. Tangannya terasa sangat lembut. "Ah, perkenalkan, ini tunanganku, Zetsu," kenal Shion pada pria bertubuh besar dan berambut hijau tua itu. Sakura memberikan senyum terbaiknya dan menyapa pria itu.
Belum sempat Sakura menawarkan diri untuk menemani mereka berkeliling, Sasuke muncul dan menyapa keduanya. Wajahnya terlihat datar-datar saja, tapi dari sorot matanya Sakura bisa membaca bertubi rasa benci.
"Aku pikir kalian tidak datang," sambut Sasuke setelah menjabat tangan Zetsu dan menundukkan kepala kepada Shion.
Shion tertawa pelan, "tadi pagi kami ada rapat, jadi kami memutuskan untuk datang ke resepsinya saja," kata Shion. "Pernikahan kalian cantik sekali, aku sudah lihat beberapa dokumentasi yang ditampilkan di TV depan. Selain itu dekorasinya juga sangat indah," puji Shion menyapu seluruh ruangan dan terlihat benar-benar kagum. "Aku harap pernikahanku bisa seindah ini," kata Shion.
Ketiganya tertawa kecuali Sasuke yang hanya tersenyum singkat. "Sepertinya kau membuat Tuan Zetsu gugup karena berbicara soal pernikahan," kata Sakura pada Shion.
"Ah, Sakura, kau bisa memanggilku Zetsu saja. Teman Shion adalah temanku juga," kata Zetsu pada Sakura ketika ia merasa ganjal dengan panggilan Sakura.
"Ah, maafkan aku," kata Sakura segera meralat. Teman? Sakura tidak ingat Shion pernah menjadi temannya. Perempuan itu benar-benar bermuka dua sejak SMA. Ia ingat bagaimana gadis itu selalu baik padanya di hadapan Sasuke atau teman-temannya, lalu berubah menjadi iblis ketika mereka hanya berdua. Yah, mungkin ketika itu mereka masih remaja dan belum dewasa.
Setelah beberapa saat ia melupakan kehadiran suaminya, gadis bersurai merah jambu tersebut berpaling pada Sasuke yang sejak tadi tidak ikut dalam pembicaraan. Sepertinya pria itu sedikit tertekan dengan keadaan sekarang. Ditambah Sakura terlihat nyaman berbicara pada Zetsu dan Shion sehingga membuat dirinya yang membenci keduanya, terpojok sendirian.
Sakura mengulurkan tangan kanannya ke tangan kiri Sasuke yang menganggur. Ia tahu pria itu sedikit tersentak ketika permukaan kulit mereka bersentuhan. Sakura menggenggam telapak tangan besar pria itu. Beberapa saat setelahnya Sasuke membalas genggamannya. Genggamannya sangat erat dan Sakura bisa merasakan amarah yang ada sebelumnya kini menguap dan berubah menjadi kekuatan.
Sembari mengulum senyum, Sakura akhirnya bisa tenang berbicara dengan Zetsu mengenai pekerjaan mereka, sementara Sasuke sesekali menambahkan. Ketiganya tidak menyadari bagaimana sengit tatapan Shion ke arah kedua pasangan baru yang sedang menggenggam satu sama lain.
.
.
.
Sinar matahari masuk melalui celah-celah kecil pada tirai kamar. Sakura menggeliat, ia merasa terganggu dengan cahaya itu tapi ia masih belum bersedia bangkit dari kasur empuk itu. Setelah hari melelahkan sebelumnya, Sakura merasakan kalau tidur adalah hal berharga yang tidak perlu dikorbankan hanya karena sinar mentari membangunkannya.
Sakura mempererat pelukannya pada benda keras dan lebar di depannya. Bahkan kakinya juga ikut melintang untuk mendominasi benda itu. Kasurnya hari ini terasa nyaman dan sangat wangi. Tunggu, sekarang Sakura sudah tidak tidur lagi di rumah Ino. Ah, ini adalah ranjang Sasuke. Pantas saja kasurnya terasa nyaman karena harganya mahal.
Lalu gulingnya terasa lebih hangat dan seperti berwujud manusia.
Eh.
Sakura membuka matanya secara paksa. Ia bisa melihat tangannya memeluk tubuh seseorang yang memakai sweater putih. Sakura menarik tangannya dan menengok ke wajah sang pemilik tubuh. Uchiha Sasuke sedang menatapnya, di tangan kirinya terdapat sebuah buku. Sementara tangan kanannya terlentang di dekat kepala Sakura. Sepertinya tangannya menjadi bantal tidur Sakura. Terlihat kalau pria itu juga baru bangun beberapa saat yang lalu karena rambutnya masih berantakan. Ia sepertinya tidak tega jika bangkit lalu membuat Sakura terbangun.
"Kau memelukku seperti koala, Sakura," ucap Sasuke nyaris tertawa.
Wajah Sakura memerah, "kyaaaaaaaaaaaaaaa!"
Bulan Oktober. Kediaman pribadi Uchiha Sasuke mengalami kegemparan pertamanya. Kehidupan pria yang biasa-biasa saja itu tentu berubah seratus delapan puluh derajat kala istrinya pindah ke sana.
TBC
(A/N) Halo, kembali lagi dengan bab baru lagi. Semoga kalian tidak bosan ya membacanya. Terima kasih bagi teman-teman yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca, mereview, serta memfollow dan memfavorite.
Ini ucapan terima kasih khusus bagi teman-teman yang sudah melihat fanartku bahkan sudah memfollow instagramku. Fanart untuk The Wedding sudah ada di instagramku dan sudah di post dari dulu (ig: ). Semoga aku bisa mengisi home instagram kalian dengan gambar-gambar yang lebih baik. Serta, bagi teman-teman yang mereview pada bab kemarin aku sangat senang membaca komentar-komentar kalian. Ada beberapa yang memberikanku saran yang sangat membangun, dan tidak sedikit yang memberiku semangat untuk menulis.
Tapi, ada kabar yang kurang enak untuk disampaikan. Cerita ini sudah tamat #dibakar. Ehem, bukan, maksudnya discontinued #dihajar. Bercanda! Cerita ini sudah berada di akhir awal pertemuan mereka dan aku memutuskan mngambil rehat selama seminggu lebih karena ada urusan pribadi (ada UTS, UTS, UTS) minggu depan. Jadi aku akan mengambil waktu hiatus kira-kira sampai~
#bukakalender
Astaga, kuliahku padat sekali. :')
Kira-kira sampai tanggal 14 Februari #valentine
Mungkin aku bisa update mininal dua hari dari tanggal tersebut. Mengingat jadwalku sangat padat di semester pendek ini, jadi tidak bisa update secepat interval yang sudah dijanjikan.
Tapi, dijamin ceritanya seru kok! Nantikan saja ya! Lalu sepertinya di bab selanjutnya, aku memberikan peringatan soal rating ya. Fanfic ini memiliki rating M, jadi teman-teman sudah tahu artinya bukan? Sekian sih _!
I'll miss you guys!
Salam hangat, Ruffie-chan.
