Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto


Our New Chapter

"Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."

.

.

.

Bab VII

Honey

"Jangan tidur di kamar lagi," putus Sakura ketika keduanya berada di ruang makan. Ia sedang menyiapkan dua roti tawar yang sudah dipanggang untuk Sasuke. "Kau di sofa saja," kata Sakura lagi. Sepertinya pria yang masih mengeringkan rambutnya ketika duduk di kursi itu tidak keberatan sama sekali.

"Aku sih tidak masalah," ujar pria itu sembari menatap Sakura, "tapi itu kamarku."

"Apa aku terlihat peduli akan hal itu?" tanya Sakura. Ia mengambil beberapa toples selai dari dapur dan menaruhnya di meja makan.

"Hm, kita kan sudah menikah. Tidur bersama itu wajar kan?"

Tangan mungil perempuan muda itu mencengkram dan mengambil satu toples kaca dan hendak melemparnya pada Sasuke, "kita hanya menikah. Tidak ada tidur bersama."

Sasuke nyaris terjengkang dari posisinya, "hei, kenapa kau kasar sekali? Aku pikir kau sudah memaafkanku," ujar sang suami tidak suka. Ia mengambil rotinya dan memoleskannya dengan selai kacang.

Sakura menatap Sasuke dengan wajah masam, ia menurunkan toples itu dan menaruhnya dengan hentakan keras, "memaafkanmu? Aku tidak pernah mengatakannya," ucap Sakura dingin. "Kau pikir aku bersikap baik padamu karena aku memaafkanmu? Kau naif sekali."

Mendengar ucapan istrinya, pria itu langsung menaruh rotinya dengan gerakan kasar, "kenapa kau tidak bisa memaafkanku? Kesalahanku itu ketika kita masih remaja!" Sasuke meninggikan suaranya.

Sakura mendecih, "apa kau pernah merasakan apa yang aku rasakan ketika remaja dulu?"

Sasuke bangkit dari duduknya, matanya memerah, dan napasnya sedikit memburu. Ia berjalan ke meja di ruang tamu dan mengambil gunting dari sana. Ia berjalan lagi ke arah Sakura yang masih beridiri di dekat meja. Sasuke mengambil tangan Sakura dan menaruh gunting itu di sana.

"Lukai aku kalau begitu," kata Sasuke yang langsung berlutut di hadapan Sakura. "Aku akan merasakan apa yang kau rasakan, setidaknya luka yang kau rasakan," kata pria itu.

Sakura melempar gunting itu dari tangannya yang bergetar ke arah lantai. "Kau jahat sekali," bisik Sakura. "Apa kau pikir aku bisa melakukan hal seperti itu?" katanya.

Sasuke mendongkak, ia masih terlihat marah, tapi beberapa detik kemudian ia tersadar dan menyesali perbuatannya. Ia mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan Sakura. Gadis itu langsung menepisnya. Wajahnya terlihat memerah menahan tangis dan amarah, membuat Sasuke semakin merasa bersalah.

Gadis itu kemudian membalikkan tubuhnya, tapi Sasuke langsung menarik tangannya sehingga gadis itu terduduk di atas lantai. Buru-buru Sasuke menahannya dengan melingkarkan tangan di tubuh mungil istrinya ketika Sakura melakukan perlawanan. "Aku akan melakukan apa pun, Sakura," kata Sasuke, "jadi kumohon maafkan sikapku tadi," lanjutnya.

Sakura berhenti memberontak. "Apa pun?" tanyanya, nada suaranya tiba-tiba berubah. Sasuke melepaskan pelukannya. Apa gadis itu hendak menjebaknya. Dia berpura-pura?

.

.

.

Ia tidak bisa tidur. Sekarang ada lingkaran hitam mengelilingi matanya. Gadis itu membuatnya membereskan barang-barang hadiah pernikahan sendirian, lalu Sasuke bahkan tidak bisa tidur nyaman di ranjang. Sebenarnya rumahnya di desain dengan cukup banyak kamar, namun belum ada satu pun yang terisi ranjang. Lagi pula, ranjang di kamarnya adalah ranjang yang dirancang oleh desainer terkenal dari Paris. Harganya sangat mahal, bahan dasar ranjangnya saja bahkan bisa membiayai kuliah sarjana seseorang.

Sasuke memukul-mukul bantal tidurnya karena kesal harus tidur di sofa. "Itu ranjangku, itu kamarku, semuanya milikku!" geramnya marah. Ia mendengus. Ia harus memikirkan cara lain untuk bisa menyelinap saat gadis itu sudah tertidur, tapi Sakura mengunci pintunya. Apa daya seorang suami yang teraniaya.

"Kenapa wajahmu lesu sekali, Sasuke?" tanya Sakura dengan nada puas. Ia menyiapkan nasi goreng buatannya untuk sarapan. Ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya ketika pria itu terlihat sangat menderita.

"Hn, kau tidak usah bertanya," sahut Sasuke. Ia kemudian melemparkan sebuah amplop berwarna cokelat di meja, "itu tiket liburan ke Hawaii, ayah dan ibu sudah merencanakan bulan madu kita."

Sakura membelalak, "benarkah? Kita ke Hawaii?" tanya Sakura riang. Ia berdeham, kemudian ia mengambil dan membuka amplop itu, "keberangkatannya seminggu lagi. Aku bisa ambil cuti sih, tapi bagaimana denganmu?"

"Hn? Aku memang harus ke sana, ada partner bisnisku yang harus kutemui di sana juga," kata Sasuke. "Lagi pula, itu dari ayah dan ibu. Tidak mungkin aku bisa menolaknya. Mereka pasti mencari cara agar kita bisa liburan bersama."

Sakura menatap Sasuke dengan seksama, nampaknya pria itu kurang sehat. Suaranya serak dan wajahnya sedikit pucat. Namum, ia segera mengalihkan tatapannya. Memangnya ia harus peduli? Hari itu, Sasuke mengantar Sakura ke Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk mengurus visa istrinya.

.

.

.

Semburat oranye telah muncul pada ufuk barat, menandakan waktu sudah hendak menjelang malam dan Sakura baru pulang dari kerjanya. Rasanya melelahkan sekali seharian di kantor, membaca dan menyunting puluhan naskah yang akan terbit dalam rubik online majalahnya. Selain itu, jarak dari kantor ke rumah Sasuke –atau lebih tepatnya rumah mereka –cukup jauh, sehingga Sakura harus mengambil taxi untuk pulang. Tentu saja suami gentlemannya mengantarnya ketika pergi bekerja.

"Aku pulang," kata Sakura. Tidak ada jawaban dari Sasuke.

Kaki kecilnya membawa dirinya untuk melangkah masuk dan menengok ke dalam ruang tamu. Sasuke tidak di sana. Sepatunya sudah ada di rak depan, apa mungkin pria itu sedang ada di ruang kerjanya? Sakura berjalan ke arah ruang kerja suaminya dan menemukan Sasuke duduk di sana, ia terlihat seksama membaca buku. Pakaiannya masih sama seperti ia meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor. Kemeja putih dan celana hitam.

"Sasuke, aku membelikan ikan dan sup jagung untuk makan malam," kata Sakura.

Membutuhkan beberapa saat untuk laki-laki itu merespon Sakura. Ia terlihat menyelesaikan dulu satu kalimat di dalamnya sebelum ia menjawab Sakura, "aa, kau bisa makan duluan," kata Sasuke singkat. Ia kembali berpaling ke bukunya.

Sakura mendengus. Padahal ia sedang mood makan bersama. "Nanti supnya dingin," ujar Sakura lagi, sedikit membujuk. Sesungguhnya ketika ia tinggal bersama Ino, keduanya selalu makan bersama. Bukankah lebih baik makan bersama dibandingkan makan sendirian padahal anggota rumah ada dua orang?

Sasuke menutup bukunya setelah ia memberikan pembatas buku. Ia membawanya, "kau benar, ayo makan bersama," kata Sasuke kemudian berjalan keluar ruangan.

Di ruang makan, Sasuke membantu istrinya menyiapkan piring di meja, kemudian duduk dan membaca buku yang sama setelah gadis itu mengambil alih untuk membuka makanan yang telah dibelinya. "Hei, kau bisa berhenti sebentar membacanya," tegur Sakura ketika ia sudah menyelesaikan persiapan makan malam mereka.

Pria itu melirik dan menaruh bukunya tanpa protes. "Bagaimana di kantor?" tanya Sasuke ketika ia mengambil beberapa lauk untuk dirinya sendiri.

"Baik-baik saja, kau?"

"Aku berharap kau menceritakan sesuatu yang menarik, Sakura."

Sakura memutar bola matanya, "memang tidak ada yang spesial sih. Aku hanya mengerjakan beberapa naskah untuk dipublikasikan secara online," kata Sakura, "lalu mesin kopi di kantor sedang rusak dan seluruh pegawai jadi ribut karena tidak mendapatkan kopi mereka," cerita gadis itu lagi sembari mengambil dua gelas air, "aku juga nyaris gila karena tidak bisa menahan kantukku saat siang hari, mungkin besok aku harus membawa kopi sendiri dari-"

Sakura berhenti berbicara ketika sadar ia terlalu banyak bercerita. Terlebih lagi Sasuke kini tersenyum melihat tindakannya seperti itu. "Kenapa berhenti? Aku suka mendengarmu bercerita," kata Sasuke. Ia terlihat tulus. Tapi, Sakura tidak sebodoh itu. Laki-laki itu pasti berniat memberikannya jebakan atau ranjau lain untuk bisa membuat Sakura luluh.

"Aku bisa tersedak jika terlalu banyak bicara, kau saja yang cerita," kata Sakura.

"Hm, kantorku hari ini sedang senggang. Aku hanya mengerjakan satu blueprint untuk sebuah cafe baru di dekat pusat kota. Kalau sudah jadi ayo kita coba makan di sana."

Gadis bersurai merah jambu itu mengangguk-angguk sambil memakan makanannya. Tak terasa keduanya tenggelam dalam obrolan malam yang hangat.

.

.

.

Sehari sebelum liburan bulan madu mereka yang dilaksanakan selama satu minggu, Sakura sudah menyiapkan satu koper besar untuk dirinya sendiri. Sebenarnya ia tidak terlalu banyak membawa pakaian, ia menyisakan beberapa tempat untuk oleh-oleh. Pasti di sana akan terasa sangat menyenangkan. Tentu saja Sakura tidak lupa membawa baju renangnya.

Gadis itu teringat akan Sasuke. Apa pria itu tidak menyiapkan pakaiannya? Ia segera berinisiatif menanyakan hal tersebut kepada suami 'tercinta'nya. Kakinya yang beralaskan sandal berbulu khusus di dalam rumah segera membawanya keluar dari kamar dan menuju ke ruangan tempat Sasuke berada.

"Kau tidak menyiapkan pakaian?" tanya Sakura pada pria yang didapatinya tengah tertidur di atas sofa sembari membaca buku yang sama sejak beberapa hari yang lalu. "Besok sore kita sudah berangkat kan?" tambahnya lagi, kini ia mengambil jarak yang lumayan dekat dengan pria itu.

Mata legam yang lelah milik Sasuke beralih ke arah Sakura. "Nanti akan kusiapkan," katanya. Suaranya terdengar parau. Meski kondisinya terlihat sangat tidak baik, tapi pria itu tetap melanjutkan aktivitasnya untuk membaca.

Sakura menahan buku bersampul putih tersebut, ia menatap Sasuke. "Kau harus istirahat," anjur gadis itu, sebenarnya ia sudah sadar kalau kondisi pria itu sedang kurang sehat. Oleh sebab itu, ia menyarankan Sasuke meminum vitamin setelah makan.

"Hn?" Sasuke menaikkan satu alisnya, "aku baik-baik saja," ucapnya sembari menarik bukunya dari jangkauan Sakura.

"Lebih baik kau sekarang bangun dan akan kubantu menyiapkan pakaianmu-" Sakura menarik tangan Sasuke, ia terkejut. Tangan pria itu terasa sangat panas. "Sasuke, kau sakit?" tiba-tiba nada suara Sakura tersirat kepanikan. Buru-buru ia menunduk dan menaruh telapak tangan kanannya di dahi Sasuke. Benar saja dugaannya. Pria itu demam tinggi.

"Tsk, aku baik-baik saja," Sasuke menepis pelan tangan Sakura. Ia sebenarnya sudah merasakan pusing yang begitu hebat sejak kemarin. Kemudian, pria itu bangkit dari tidurnya. "Aku hanya perlu meminum obat," bisiknya. Matanya terasa sangat panas dan keseimbangannya jadi kacau ketika ia berdiri.

Dengan cekatan, gadis bertubuh kurus itu menahan tubuh Sasuke dengan pegangannya yang ternyata sangat kuat. "Kenapa kau diam saja sih?" bentak Sakura, tentu saja itu adalah luapan ekspresi kemarahan serta kekhawatiran. Ada rasa sedikit menyenangkan ketika Sasuke mendengar protesan itu, "apa kau tahu aku akan sangat malu jika kita batal ke Hawaii karena kau sakit?"

Uchiha Sasuke menarik kembali pemikirannya.

Di sinilah ia sekarang, tidur terlentang di atas kasur nyamannya. Sepertinya sang istri mendapatkan perikemanusiaannya kembali. Perempuan yang kini menahan rambutnya dengan bandana itu buru-buru mengambil kotak kesehatan yang ada di rumah itu. Ia memberinya obat penurun panas sebelum mengambil termometer dan menempatkannya di telinga sang suami.

"Astaga, kau tidak tahu suhu tubuhmu sudah sampai 39 derajat, Sasuke," kata Sakura yang melihat hasil pengukuran benda itu. Setelah itu, ia mengaduk kotak putih kecil itu dan menemukan kompres di sana tapi hanya tersisa satu. Sepertinya pria itu sering mengalami demam seperti ini. Ia membuka bungkusnya, kemudian dengan gerakan ragu-ragu ia menyingkirkan poni Sasuke yang menutupi dahinya.

Gadis itu sudah menempelkan kompres itu di kepala Sasuke. Ia kemudian bangkit dan berinisiatif untuk menyiapkan kompres lain dari handuk. Namun, tangan Sasuke menahannya untuk pergi. Sakura menoleh, "ambilkan bukuku di luar," pintanya seperti mengucapkan permintaan terakhir sebelum ajal menjemputnya.

Sakura menarik tangannya, "kau harus tidur," tolak Sakura, "aku akan menyiapkan kompres lain untukmu dan menyiapkan pakaianmu, kau istirahat saja. Kalau tidak akan kubakar buku sialan itu."

Sempat terkejut, tapi Sasuke mendengus dan tersenyum. "Aa, terima kasih," ujar pria itu kemudian memejamkan matanya.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul tiga dini hari dan Sasuke tiba-tiba terjaga. Dengan satu tangan ia mengambil handuk yang mengompres dahinya. Ia mendudukkan dirinya di atas ranjang sembari mengedarkan pandangannya. Sakura tidak di sana. Namun, ia bisa melihat dua koper yang berdiri di dekat lemari. Sepertinya, gadis itu menyiapkan pakaian untuknya juga.

Sasuke sebenarnya sudah merasa lebih baik dibandingkan kemarin malam. Ia segera berjalan ke luar kamar untuk menemukan istrinya. Ternyata, gadis itu tidur di sofa, menggantikan dirinya. Pria itu mendengus, ada apa dengannya? Apakah Sakura tidak mau tidur bersamanya. Hanya tidur dalam arti sebenarnya bukan mengarah ke konotasi yang lain.

Pria yang kini hanya memakai kaos dan celana santai selutut itu berusaha dengan hati-hati mengangkat tubuh gadis itu. Sakura ringan sekali, batinnya. Ia bahkan tidak perlu mengeluarkan tenaga yang banyak untuk mengangkatnya. Dengan pasti, Sasuke membawanya ke kamar dan menaruhnya di tempat yang kosong di atas ranjang. Ia menyelimuti tubuh Sakura dan pergi ke kamar mandi sebelum ia tidur di samping gadis itu.

.

.

.

Tangan mungil itu meraba-raba sesuatu yang ada di pelukannya. Ia tidak tahu ada yang tidur di sebelahnya. Sakura membuka matanya secara tiba-tiba. Ia menoleh ke arah Uchiha Sasuke yang ternyata ada di sana! Bukan, kenapa Sakura yang ada di sini? Ia ingat tidur di sofa kemarin malam.

"Kemarin kau memelukku, sekarang kau merabaku, Sakura," kata Sasuke mengulum senyum dan menahan tawa.

Gadis itu langsung berguling menjauh dan membuang muka. Ia tahu pasti kalau pria yang nampaknya sudah bangun sejak tadi. Wajahnya sudah terlihat segar dan sepertinya sudah lebih sehat.

"Hei, terima kasih ya," kata Sasuke mengelus kepala istrinya. Sakura merasakan bulu kuduknya merinding. Ia merasa begitu aneh ketika pria itu melakukan sesuatu yang terlihat 'romantis'.

Gadis itu tidak menjawab, ia hanya memejamkan matanya. Membiarkan Sasuke mengelus-elus kepala bagian belakangnya dengan lembut.

"Aku tidak suka tidur dengan orang lain," kata Sakura tiba-tiba sehingga membuat gerakan Sasuke berhenti.

"Kenapa?"

Sepertinya Sakura tidak perlu memberikan alasan, ditambah lagi wacananya dari beberapa hari yang lalu sudah sangat jelas kalau Sakura tidak menyukai pria itu. Tapi, sepertinya Sakura perlu meyakinkan Sasuke akan hal itu kembali.

"Aku punya sindrom," ujar Sakura mantap, ia menoleh ke belakang dan mendapati pria itu sudah menghadap ke arahnya. "Sindrom itu disebut individualitas dan privasi."

"Oh, bukan sindrom memeluk dan meraba?" tanya Sasuke yang nyaris meledak karena menahan tawa.

Sakura memukul pundak Sasuke sedikit keras sehingga membuat pria itu mengaduh pelan. "Pokoknya, di Hawaii, aku minta kamar kita dipisah, atau kemungkinan terburuk twin bed," putus Sakura sepihak.

Pria yang memiliki warna mata dan rambut senada itu menggeleng kepalanya, "tidak bisa, ayah sudah memesankan kamar khusus untuk kita," ujar Sasuke.

Wajah gadis itu terlihat terkejut, "sebenarnya siapa yang ingin berbulan madu di sini?" protes Sakura.

"Kita," jawab Sasuke tepat, "makanya ayah melakukan semua untuk membuatnya sukses," lanjut pria itu dengan santai.

"Sukses untuk apa?" tanya Sakura kesal.

"Sakura," Sasuke memanggil gadis itu, "ayahku tentunya ingin cucu."

Buaak

Sakura menghantam wajah pria itu dengan bantal. "Suruh paman memelihara kucing atau onta, rasanya sama seperti memiliki cucu," ujar Sakura dengan wajah sedikit memerah.

Mendengar ucapan itu, langsung Sasuke tertawa terbahak-bahak sehingga membuat gadis berwajah semerah tomat itu membuang muka. "Astaga, akan kusampaikan pada ayah."

.

.

.

Uchiha Sasuke memakai kemeja biru dengan motif dedaunan putih kecil yang terlihat santai. Ia juga mengenakan luaran sweater abu-abu, serta celana jeans dan sepatu kets. Baru saja ia berpamitan bersama Uchiha Sakura kepada kedua orang tua Sasuke dan ayah Sakura. Gadis itu terlihat sangat manis mengenakan pakaian kasual dengan blus abu yang memiliki lengan terbuka dan melebar jatuh pada bagian dada sampai perut. Ia memadukannya dengan celana skinny jeans serta flatshoes senada dengan blusnya.

Keduanya segera menuju Bandar Udara Internasional Narita dengan Sasuke sebagai pengemudinya. "Aku tidak sempat memeriksa pakaianku lagi, apa kau yakin kau sudah memasukkan pakaian yang cukup?" tanya Sasuke.

Gadis di sebelahnya yang sedari tadi memainkan ponselnya menggumam dan mengangguk mendengar perkataan Sasuke. "Aku sudah masukkan baju santai dan pakaian formal juga. Kau bilang mau bertemu rekan bisnismu kan?" tanya Sakura balik.

Sasuke mengangguk puas, "baiklah. Ah, kau yakin sudah semua?"

"Tentu saja. Celana jeans, celana pendek, celana kain, kemeja, ah!" Sakura berteriak terkejut, Sasuke menoleh, "astaga, aku lupa!"

"Apa?" tanya pria yang masih berusaha fokus ke jalan, "apa yang kau lupakan?"

"Itu," Sakura mengedarkan pandangannya ke arah jendela, "aku tidak menyimpan dalamanmu," bisiknya sedikit kikuk.

"Apa? Kau pikir apa yang aku kenakan nanti?" dari nada suaranya, nampaknya Sasuke sedikit marah.

"Aku tidak tahu, aku lupa memberi tahumu kalau aku belum menyiapkannya," protes gadis itu tidak mau disalahkan.

Tentu saja, dalam kondisi apapun, seorang perempuan tidak boleh disalahkan. Ia pasti akan memberikan bertubi serangan jika Sasuke memojokkan gadis itu. Sudahlah, lagi pula istrinya itu sudah berniat baik sebelumnya, kan?

Pria itu menghela napas dan hanya diam tidak ingin berdebat. Ia akan mencari-cari minimarket dekat bandara karena untuk berputar arah akan memakan waktu lebih lama dan mereka bisa saja tertinggal pesawat.

Bruuuk

Sakura memekik kecil sehingga membuat Sasuke menoleh. Sepertinya ia menjatuhkan ponsel miliknya di samping kursi dekat pintu. Gadis itu terlihat sibuk menggapai-gapai ponselnya di sana. Sasuke tidak ingin berkomentar karena gadis itu sepertinya tengah berusaha keras.

"Aw! Aduh!" rintih Sakura.

Mendengar perempuan itu terlihat kesulitan, Sasuke memelankan laju mobilnya dan menoleh ke arah Sakura, "ada apa?" tanyanya.

"Aku tersangkut!" ujar Sakura yang masih dalam posisi membungkuk ke samping.

"Kenapa bisa?" tanya Sasuke pada istrinya. Ia segera memasang lampu sein ke arah bahu jalan yang searah. Setelah berhenti, Sasuke melepaskan sabuk pengamannya dan menengok ke arah Sakura. Ternyata gelang yang gadis itu gunakan tersangkut di sisi dekat pintu.

Sasuke menghela napas, ia keluar dari mobil dan segera membuka pintu jok depan tempat Sakura berada. Ia buru-buru melepaskan sabuk pengaman istrinya. Dengan perlahan Sasuke memundurkan kursi Sakura sehingga gelang itu akhirnya lepas dari jepitannya.

"Ah, gelangku lecet," keluh gadis itu mengelus-elus gelang miliknya, ia segera mengambil ponselnya yang terjatuh. Tanpa di sadari Sasuke masih menatapnya begitu lama dan intens. Pandangan Sasuke menelusuri wajah Sakura yang dipoles make up tipis, ditambah pakaiannya yang sedikit terbuka membuat dada Sasuke sedikit berdesir.

Duk

"Kyaa!" jantung Sakura nyaris copot ketika jok mobil dijatuhkan ke bawah secara tiba-tiba oleh Sasuke. Pria itu masuk ke dalam dan menutup pintu. Hujan secara spontan mengguyur di luar. Sakura membelalak ketika menyadari suaminya sudah berada di atasnya, menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat di definisikan. "Kau mau apa?" tanya Sakura sedikit ketakutan. Ia mendorong tubuh Sasuke yang semakin mendesak ke arahnya.

Bibir Sasuke menyeringai, "ketika kau bertanya seperti itu aku jadi ingin melakukan sesuatu padamu," kata Sasuke melepaskan pertahanan Sakura dengan menahan kedua tangan itu dengan pegangan kuatnya.

TBC


(A/N) Happy Valentine's Day Everyone! Khususnya bagi teman-teman yang merayakan. Semoga bab ini tidak terlalu mengecewakan ya. Terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah memberi feed back untuk bab kemarin. Sesuai dengan janji aku upload tanggal 14 Februari! Duh, UTS sudah lewat tapi penderitaan belum selesai. _

Kebetulan aku ada beberapa project menggambar, jadi aku usahakan untuk bisa membagi waktu antara deadline project dan update fanfic ini. Jadi, I'll see you soon again!

Salam hangat,Ruffie-chan.