ooOoo

Sebuket mawar putih berukuran sedang itu terlempar ke angkasa di ikuti oleh riuhnya para tamu undangan di bawahnya. Sebagian dari mereka rela menjerit karena berharap bisa mendapatkannya secara cuma-cuma. Bukan apa-apa, sebenarnya. Hanya saja mereka memiliki kepercayaan yang turun temurun dari nenek moyang bahwa; jika seseorang dari mereka berhasil menangkapnya, maka itu menjadi pertanda dia akan segera menikah. Dan jika seseorang yang sudah resmi berpasangan mendapatkannya, maka pasangannya tersebut akan terjaga dan langgeng sampai mereka pergi ke liang lahat. Bagaimanapun dalam sekejap saja, mungkin saja itu akan menjadi kenyataan.

Sampai HAP!―Sebuah tangan terangkat ke arah langit biru dan menangkap objek dengan harum khas yang datang kearahnya itu dengan sigap. Seseorang berhasil menangkap buket bunga itu. Seseorang yang tak lain adalah perempuan bersurai jingga, bermanik abu-abu dengan dress merah maroon yang mewah tanpa meninggalkan kesan seksi dari bibir dan belahan dadanya,

"Hei, aku mendapatkannya !," teriak perempuan itu, tanpa merasa malu oleh orang-orang di sekitarnya. Beberapa detik kemudian, ia menoleh kearah pria ber -tuksedo abu-abu yang sedari tadi menggandengnya, "Gin, aku berhasil mendapatkannya !,"

Pria itu hanya membalasnya dengan paras senyum abadi. Mungkin sebagai tambahan, ia hanya memunculkan sebagian deretan giginya dan bersikap dingin. Seperti tak cukup dengan dua kali berteriak saja, tiba-tiba perempuan itu menggeser tubuhnya ke arah lain dan mencoba mengalihkan perhatian targetnya sambil mengacungkan si buket bunga tinggi-tinggi, tepatnya ke arah pemilik acara,

"Kurosaki, Yuhuu !."

Di arah lain, seorang gadis cantik bertubuh pendek dengan gaun pengantin putih dan mewah menoleh ke arah sumber suara. Dalam sekejap, bibir manisnya melengkung, membentuk senyum tanpa rasa gugup. Hanya dengan itu, ia bisa membalasnya. Karena Rukia rasa, perempuan itu tetap akan mengerti.

Gadis itu mengambil fokus ke depan. Ia mengeratkan kaitan tangannya menjadi lebih kuat pada seseorang di sampingnya. Surai hitamnya menoleh, kemudian iris ungu itu menatap pemuda bersurai jingga dengan tuksedo putih yang tampak gagah juga tersenyum bangga dengan apa yang di gandengnya kali ini. Gadis itu benar-benar mengetahuinya. Walaupun ia sendiri merasa pemuda itu terlalu tinggi, tapi ia masih bisa menatap semua ekspresi yang terus bermunculan dari si pemuda. Tanpa sadar, senyumnya terukir lagi dan lagi pada saat-saat seperti itu. Tentu saja gadis itu juga merasa bangga, bahkan lebih bangga.

"Rukia,"

Pemuda itu memanggilnya, lirih. Dalam beberapa detik kemudian, mereka saling menatap intens dengan debaran dahsyat yang tersembunyi dalam dada mereka masing-masing. Namun kesunyian berhasil menghampiri. Mereka pun terdiam dalam beberapa saat, sebelum pemuda itu melanjutkan bisikannya yang sempat terhenti.

Pemuda itu tersenyum layaknya gula, manis sekali, "Aku mencintaimu."

Seketika saja pasang iris ungu itu pun agak terbelalak. Muncul semburat merah jambu merona dari ujung telinga ke ujung yang lainnya. Gadis itu membalasnya,

"Aku juga, sangat. Sangat mencintaimu, Ichigo -baka !"

"Kheh !,"

Pemuda itu―Ichigo―terkekeh kecil, lalu mengalihkan kembali pandangannya ke depan dan menunjukkan senyum sinisnya. Sikap yang wajar di tunjukkan saat kondisi hati berada antara rela di panggil dengan akhiran -baka dan bangga menggandeng seorang gadis cebol cantik―yang baginya―menyebalkan dan sudah resmi menjadi istrinya itu. Sebenarnya, itu semua sangat tidak menentu bagi Ichigo sendiri. Tak apalah. Lagipula, yang harus pemuda itu lakukan sekarang adalah menegapkan tubuhnya, membusungkan dada, dan memastikan si gadis masih berada di sampingnya,

"Sudah siap, Nyonya Kurosaki?", tanya pemuda itu dengan bangga.

"Tentu saja.", sahut Rukia, mantap.

Gadis itu cepat mafhum. Ia menggenggam sebagian kiri gaun pengantin putihnya, kemudian mengangkatnya. Dan pada akhirnya pasang kaki mungil itu mulai berjalan anggun dan teratur, beriringan dengan langkah Ichigo menuju sebuah mobil hitam mewah di hadapan mereka. Sebuah kendaraan yang nantinya akan mengantar mereka menuju tempat tinggal kehidupan baru sesungguhnya.

ooOoo

Ketika langit pagi yang gelap mulai berubah menjadi terang, mentari memancarkan sinar hangatnya dari sela-sela gumpalan awan di ufuk timur. Sungguh suatu pagi yang segar dan ramah yang pantas Rukia dapatkan dari balik kaca jendela kamar kala ia membuka mata. Untuk sejenak, gadis itu mengukir senyum bahagia. Bahagia karena hari ini adalah hari pertama ia bisa terlelap sepanjang malam dengan seseorang. Ngomong-ngomong tentang seseorang, tiba-tiba saja tubuh mungil Rukia mau menggeliat kecil kemudian memutar, mengubah posisi tidurnya agar bisa menghadap Ichigo. Dan seperti seharusnya, pemuda itu masih saja berada di sampingnya, tertidur nyaman dan tampak pulas.

Dalam diam, iris ungu gadis itu memandangnya. Mencoba terus menyapu pandangan dan memuji apa yang ada di depan mata. Dengan jantung yang berdetak hebat, ia seakan masih tak percaya pada dirinya sendiri bahwa pemuda itu kini persis ada di depannya. Bibir tipisnya, paras tampannya, rambut jingganya yang lembut, sekarang ia bisa memiliki semuanya tentang Ichigo. Dan bagian yang paling di sukai Rukia adalah ketika kelopak mata coklat milik Ichigo masih tertutup rapat dan sampai tak sadar bahwa Rukia sudah terjaga.

'Apa semua pria se -keren ini ketika tidur?', gumam gadis itu sambil tersenyum kecil.

Beberapa saat kemudian, tangan mungilnya terulur ingin mengelus paras tampan Ichigo. Namun tiba-tiba saja bunyi nyaring dari sebuah ponsel membatalkan niatnya. Dengan sangat terpaksa, Rukia mengangkat berat tubuhnya. Kemudian mencari sumber suara yang berasal dari sebuah meja kecil di samping tempat tidur. Gadis itu menatap layar ponsel untuk beberapa detik. Di temukannya nomor ponsel tak di kenal menunggu Rukia mengangkat panggilannya.

"Moshi-moshi? Dengan siapa ini?", sapa Rukia.

"Ini aku, Kuchiki -san,"

Gadis itu terlonjak, mendadak ia mengenal suara lawan bicaranya itu. Rukia hendak meneriakkan namanya karena kegirangan, namun lawan bicaranya itu tiba-tiba saja tertawa kecil dan mencegahnya,

"Nanti saja saat kita bertemu. Sekarang aku butuh bantuanmu. Bisakah kau menjemputku di Bandara?. Aku takut sendirian ... ", pintanya lebar, dengan nada bicara sedikit takut.

"Memangnya kau ada di Bandara mana?"

"Karakura Airport. Kira-kira, satu jam lagi aku mendarat. Kuchiki -san, kau, bisa 'kan?"

Sejenak, Rukia menimbang-nimbang; hari ini merupakan hari pertama bagi Rukia menikah dengan pemuda jingga itu dan mereka masih berada dalam suasana pernikahan. Tapi, ia juga ingin membantu si lawan bicara. Lagipula, yang akan ia lakukan pada hari pertama tidak akan jauh dari bersantai. Baginya itu mengubah waktu yang berharga menjadi sia-sia saja.

Tanpa pikir panjang, gadis itu pun menyetujuinya, "Mmm ..., baiklah. Kalau begitu, aku harus segera bersiap-siap"

Rukia bisa mendengar rasa senang dari lawan bicaranya, "Ah, benarkah? Arigatou -na, Kuchiki -san. Yoroshiku"

Rukia mengangguk, "Hn. Saa, sampai bertemu di Bandara."

"Baik !."

Dengan sigap, Rukia menutup panggilannya. Kemudian menyimpan ponselnya ke tempat semula dan hendak mengambil ikat rambut. Tiba-tiba saja, sebuah barito muncul dari samping tubuhnya,

"Panggilan dari siapa?"

Rukia menoleh, "Oh. Ohayou, Ichigo. Kau sudah bangun rupanya. Ah, itu panggilan dari temanku. Dia ingin aku menjemputnya di Bandara, hari ini", ujar Rukia.

"Oh," jawab Ichigo, singkat, "Dan kau menyetujuinya?"

Rukia tersenyum gugup dan setengah takut, "Err, iyaaa, begitulah. Boleh 'kan?"

Rukia mengedipkan pasang matanya, menggoda Ichigo.

"Teman pria atau teman wanita?"

"Tentu saja, teman wanita, Baka !", jawab Rukia dengan nada sedikit nembentak.

Pemuda itu mengacak rambut hitam Rukia, "Kau ini ... "

"Jadi boleh tidak?!"

Mereka terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya Ichigo melepaskan tangannya dari kepala Rukia dan mendesah pasrah, "Baiklaaah ... "

Rukia melebarkan senyumnya, ia merasa senang. Gadis itu memeluk Ichigo untuk sesaat,

"Suami yang baik. Maafkan aku karena harus merusak hari pertama kita,"

Rukia melepaskan pelukannya dan menyibakkan selimut tebal yang sedari tadi masih menutupi setengah badannya yang terbalut baju tidur biasa. Ia beranjak dari tempat tidur dan tangannya terulur mengambil ikat rambut. Sambil mengikat rambut sebahunya, Rukia menoleh dan tersenyum pada Ichigo. Ia melanjutkan pembicaraan,

"Kau, bersihkan tubuhmu dan sarapanlah. Aku akan membuatkanmu roti isi dan coklat panas, kesukaanmu"

Tiba-tiba saja sebelum ia hendak bergegas melangkahkan pasang kakinya, pemuda itu menggenggam tangan Rukia dengan cepat. Gadis itu menoleh sekali lagi,

"Rukia," Pemuda itu tersenyum dan menggantungkan pembicaraannya, "Aku mm... . Terimakasih."

Gadis itu membalas senyum Ichigo, "Tak masalah."

Tak lama genggaman tangan Ichigo terlepas dan Rukia pun segera melangkahkan kakinya dan bergegas meninggalkan Kamar, meninggalkan Ichigo sendirian.


To Be Continued ...


Meet you again, Minna -san ^^!. Bagaimana menurut kalian dengan chapter yang ke-dua ini?. Haha, GaJe, ya? -_- . Tapi gapapa deh.

Btw, lanjut nggak yaa? :D

Salam.