Summary: Hidup Sakura sengsara. Ia merangkap tiga pekerjaan sekaligus. Itu semua untuk biaya pengobatan ayahnya yang sakit parah. Tiba-tiba pria itu datang lagi ke dalam kehidupanya dan menawarkan kesempatan yang bak buah Simalakama. "Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Bab ini mengandung unsur dewasa. Apabila dibawah umur tidak dianjurkan untuk membacanya. Author akan memberikan tanda untuk kembali pada alur cerita


Our New Chapter

"Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."

.

.

.

Bab VIII

The One

.

Rate M skip until ALUR CERITA

Sakura merasakan ponselnya terjatuh dari tangannya lagi. Matanya langsung otomatis terpejam tak mau ketika merasakan ciuman Sasuke datang di pipi kirinya. Rasa yang aneh menjalar ke seluruh tubuh Sakura ketika bibir Sasuke bergeser ke sebelah kanan untuk mencari bibir mungilnya.

Kakinya ditahan oleh setengah berat tubuh Sasuke, membuat Sakura tidak bisa memberikan perlawanan yang maksimal dari posisinya yang tidak menguntungkan. Ditambah tempatnya begitu sempit sehingga tidak memungkinkan bagi Sakura untuk melarikan diri.

Sakura merasakan bibir mereka bersentuhan. Rasanya lebih hangat dan dalam dibandingkan ciuman singkat yang pernah mereka lakukan. Hal tersebut dikarenakan Sasuke menggerakan bibirnya untuk membuat Sakura membuka mulutnya dan membalas ciumannya.

Mata tajam Sasuke terbuka sedikit dan melihat Sakura yang berusaha bertahan sekuat tenaga agar tidak tergoda untuk membalas ciuman maut itu. Gadis itu bahkan rileks sama sekali. Buru-buru Sasuke melepaskan ciumannya.

"Tenanglah sedikit," bisik Sasuke ke telinga kanan Sakura, Sakura menoleh ke kiri untuk menghindari ciuman Sasuke pada bibirnya. Tapi, pria itu malah mengecup lehernya lembut sehingga membuat Sakura memekik kecil. Pria itu tersenyum sebelum ia megarahkan kedua tangan Sakura untuk melingkar di lehernya.

"Kita akan terlambat," kata Sakura masih dengan mata terpejam, wajahnya memerah karena malu dan terlihat tidak mau melanjutkan permainan yang dimulai Sasuke.

"Memangnya kenapa? Kita masih punya waktu dua jam sebelum pesawat berangkat," kata Sasuke mulai membelai wajah gadisnya. "Buka matamu," bisiknya.

Gadis itu tidak mau menuruti perintah suaminya sampai ia merasakan jemari panjang Sasuke menyelip di bawah blus abunya. Ah, Sasuke akhirnya bisa melihat pupil hijau indah milik Sakura yang nampak ketakutan sekaligus berkaca-kaca.

Satu kecupan mendarat di sebelah mata kanan Sakura. Kecupan lain melintas di pipi kirinya. Ia kemudian menyeret bibirnya sepanjang jalan menuju bibir gadis itu. Satu tangan yang bebas menurunkan sedikit dagu Sakura agar membuka jalan masuk menuju mulut Sakura ketika ia memberikan ciuman di sana.

Gadis itu menggeliat tidak tahan dengan ciuman yang terasa sedikit memabukkan itu. Ia bahkan meremas kerah kemeja Sasuke yang menyembul dari sweaternya, entah memaksa Sasuke untuk berhenti atau melanjutkan. Tanpa sadar gadis itu juga membalas ciuman Sasuke.

Saat itulah, pria bersurai hitam itu mengambil langkah lebih dalam di balik blus Sakura. Ia meremas sesuatu yang sedikit menonjol di bagian dada Sakura yang terselimuti oleh bra. Sakura mendesah di sela ciuman mereka. Bulu kuduknya langsung beridiri ketika gerakan itu diulang oleh pria di atasnya.

Sasuke melepaskan ciumannya lalu menurunkan lengan pakaian Sakura yang terbuka ke bahunya sehingga memperlihatkan pundak kecil gadis itu, menampilkan bagaimana tulang selangka yang terlihat menonjol di sana. Pria itu menurunkan kepalanya untuk memberikan kecupan singkat ke rahang Sakura dan menjilat lembut permukaan leher Sakura yang tidak tertutup.

"Hm!" desah gadis itu tertahan sembari menjambak rambut belakang Sasuke. "He-hentikanh!" kata Sakura ketika merasakan Sasuke menghisap pelan lehernya, kemudian setelah itu pria itu menjilatnya pelan, mengulang kedua gerakan itu secara intens. Mata Sakura terlalu sering memaksakan diri untuk terpejam sehingga air mata mulai keluar dari sututnya.

Namun, Sasuke tidak mempedulikan permintaan Sakura ia terus memberikan perlakuan di sana sehingga meninggalkan jejak berwarna kemerahan. Beberapa menit berselang Sasuke bangkit dan mulai menggerakkan tangannya untuk melepaskan pakaian Sakura dari atas.

Melihat Sakura yang hanya tertidur dan membiarkannya melakukan segala yang ia mau Sasuke menghentikan gerakannya, ia mengelus wajah Sakura, "apa kau ketakutan?" tanya Sasuke.

Gadis itu menahan pakaiannya sebelum mengekspos dadanya, ia mengangguk. "Jangan," pinta Sakura.

Tangan Sasuke membelai wajah istrinya lagi, "aku rasa aku benar-benar menyukaimu, Sakura," kata Sasuke jujur. Ia mengarahkan tangannya untuk membuka kancing jeans Sakura.

"Aku bilang jangan," kata Sakura, menahan tangan Sasuke.

"Apa kau tidak menyukaiku juga, Sakura?" pertanyaan itu langsung terproses di otak Sakura sehingga membuat Sakura memalingkan wajahnya, "diantara ribuan alasanmu membenciku, apakah kau tidak menyisakan tempat di hatimu untuk bisa menyukaiku, sedikitpun?" tanya Sasuke.

Sasuke melepaskan sweaternya, melemparnya ke jok kemudi, dan melepaskan beberapa kancing kemejanya. Ia mengarahkan pandangan Sakura ke wajahnya.

"Tolong jawablah," pinta Sasuke. Rambutnya terlihat berantakan setelah gadis itu sempat mengacaknya sebentar tadi, memberikan kesan yang semakin mengundang dan membuat jantung Sakura 'sedikit' berdebar.

Gadis itu mengerutkan alisnya, ia menggeleng dan menatap ke arah lain, "aku," Sakura merasakan suaranya bergetar, "aku tidak tahu," katanya.

Pria itu menangkap kanan tangan Sakura yang menahan pakaiannya tetap terjaga, ia menaruhnya pada dada miliknya, membuat gadis itu merasakan detak jantung suaminya yang berpacu kencang, "aku tidak berbohong."

Sakura menatap Sasuke yang terlihat serius, tapi ia tidak tahu harus berkata apa. Kenapa kejadian ini langsung terjadi begitu saja? Apa pria ini gila? Ia ingin melakukannya di mobil? Sakura benci berada di keadaan terdesak dan tempat sempit seperti ini. Bukan berarti gadis itu mau melakukannya jika di hamparan rumput sekalipun. Singkatnya, Sakura tidak mau melakukan apa-apa dengan Sasuke! Tapi, ini adalah tindakan tidak senonoh yang diinginkan satu pihak! Ini adalah pemerkosaan!

Tangan Sasuke kemudian membawa tangan kanan Sakura ke arah wajahnya, "aku menyukaimu," bisik Sasuke sembari mengecup telapak tangan Sakura, menyisakan rasa hangat dan lembut di sana. Pria itu menundukkan wajahnya ke Sakura, mencium pipinya lagi bagaikan mencium pipi bayi yang menggemaskan. "Aku menyukaimu," bisiknya lagi sebelum tangannya mulai menurunkan pertahanan terakhir Sakura menahan pakaiannya. "Aku menyukaimu," bisik Sasuke mencium leher Sakura dan turun ke dada Sakura.

"Ahn! Jangan, kumohon- ah~" desah Sakura ketika pria itu membuka bibirnya dan menghisap pelan salah satu dadanya. Laki-laki itu benar-benar melakukannya! Gerakan lidah yang memainkan area sensitifnya membuat Sakura merintih dan mendesah, mengiringi suara rintikan hujan lebat yang sedikit teredam karena di dalam mobil. "Hn, ah," desah Sakura tersenggal-senggal, ia mendorong tubuh Sasuke ketika pria itu berpindah ke sebelah dan melakukan hal yang sama sampai membuat tubuhnya menegang. Gadis itu nampak begitu tidak nyaman. Gadis itu sedikit terisak dan bergetar ketakutan.

Sasuke menyelesaikannya secara tiba-tiba. Ia kemudian memasangkan pakaian Sakura dan mengancingkan kemeja miliknya sediri. Tanpa berkata apa-apa, ia berpindah ke jok kemudi, membantu Sakura untuk menegakkan kembali kursinya. Gadis itu terlihat benar-benar terpukul, tapi ia segera memperbaiki pakaiannya lagi dan memasangkan kancing celananya.

ALUR CERITA

Wajah gadis itu pucat dan shock. Sasuke memberikan sweaternya pada Sakura, untuk menutupi beberapa bekas yang mungkin bisa terlihat jika hanya memakai blus terbuka itu. Gadis itu menerimanya dan memakainya.

"Maaf, aku kelepasan," bisik Sasuke sedikit menyesal. Ia tidak berani menatap wajah Sakura, "tapi, aku benar-benar jujur," katanya lagi, "soal menyukaimu. Tapi, jika kau menganggapku laki-laki berengsek yang mengatakan itu karena dalam keadaan seperti tadi, aku juga tidak bisa menyalahkanmu."

Sakura mengambil ponselnya yang sempat jatuh lagi dan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap ke arah jendela ketika air matanya menetes. Sasuke menjalankan mobil lagi. Sepanjang perjalanan kejadian tadi berputar di benak Sasuke. Apa yang telah ia lakukan? Rasanya begitu cepat dan memabukkan ketika melihat gadis itu dalam keadaan tidak terjaga seperti tadi.

Pandangan Sasuke menangkap Sakura yang masih enggan menatap ke arahnya. Kemudian satu tangan terdekat Sasuke menggapai jemari Sakura dan menggenggamnya erat sebelum gadis itu menepisnya. Tapi, Sakura tidak melakukannya. Gadis itu membiarkan suaminya mengelus pelan punggung tangannya dengan jempolnya. Hal itu sebenarnya membuat Sakura merasa sedikit lebih tenang.

.

.

.

Pria bertubuh tinggi itu mengambil trolley dan mengarahkannya ke bagasi mobilnya. Ia mengambil dua koper besar dan menaruhnya di trolley sebelum ia menutup dan mengunci mobilnya. Sasuke melihat istrinya sudah menunggunya dengan sweater kebesaran miliknya.

Keduanya pun berjalan memasuki bandara dan check-in. Setelah melakukan berbagai instruksi keamanan keduanya menunggu boarding bersama. Gadis itu masih terlihat murung. Wajahnya tidak tersenyum sama sekali. Ia bahkan mengganti model rambutnya sehingga menutupi lehernya yang memiliki bekas Sasuke.

"Kau mau kopi?" tanya Sasuke, dan istrinya itu menggeleng. Anak kedua dari keluarga Uchiha itu menghela napas, "apa boleh aku merangkulmu?" tanya Sasuke lagi.

Gadis bersurai senada dengan gulali itu menatapnya seakan berkata 'menurutmu?', tapi Sasuke mengabaikan penolakan itu dan menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Sakura hendak memberontak tapi rasanya lebih nyaman seperti ini, ia tidak perlu menghindari Sasuke sekaligus berusaha mengabaikannya lagi.

Di benaknya terus berputar ucapan Sasuke di mobil. Menyukainya? Apakah itu mungkin?

.

.

.

"Sebenarnya apa yang kau baca itu?" tanya Sakura penasaran ketika keduanya sudah duduk di kelas bisnis di pesawat menuju Bandar Udara Honolulu, Hawaii. Perjalanan mereka langsung dan memakan waktu enam jam lima puluh menit. Mereka akan tiba besok pagi pukul tujuh.

Pria yang ditanya oleh Sakura menoleh dan melirik buku yang selama ini ia baca, "hm, buku tentang arsitek," ujar Sasuke menyerahkan buku bersampul putih itu pada Sakura. Gadis itu menerimanya dan membaca pengarang yang bernama 'Tsunade Senju' di sampulnya. "Dia adalah rekan bisnis yang ingin aku temui besok malam, tapi sulit untuk mengajaknya bekerja sama. Makanya aku membaca buku karangannya untuk sekadar memberikanku topik yang baik ketika berbicara dengannya," jelas pria itu panjang lebar.

Setelah membolak-balik buku itu baik depan-belakang serta luar dalam, Sakura menyerahkannya pada Sasuke, "editornya kacau," ujar Sakura, "layoutnya juga tidak baik."

Alis Sasuke terangkat, "oh ya? Aku pikir itu tidak berpengaruh, meski ada beberapa kesalahan tulisan," ujarnya.

"Sasuke, aku ini editor. Aku paham betul bagaimana keterbacaan teks serta kesalahan sekecil apapun bisa mempengaruhi minat membaca bahkan membeli seseorang terhadap suatu buku," kata gadis itu bangga.

Sasuke mengulum senyum, sepertinya Sakura sudah mendapatkan lagi moodnya, "iya, kau benar," jawab pria itu menyetujui kata istrinya. "Ngomong-ngomong, apa kau sudah mengabari Ino kalau kita sudah boarding?"

"Hmm, sudah sih."

.

.

.

'Ino, Sasuke menyentuhku di mobil. Dia bilang dia menyukaiku. Apa yang harus aku lakukan?'

Yamanaka Ino berusaha keras untuk mencerna ulang pesan singkat yang dikirim sahabatnya sejak beberapa saat lalu. Hal itu membuatnya stress bahkan mengabaikan Sai yang sedari tadi ada di depannya. Keduanya sedang melakukan makan malam bersama di sebuah restoran mewah.

"Ino," panggil Sai menahan kesabarannya, "makananmu sudah dingin," ujar Sai sambil menyodorkan piring berisi makanan favorit Ino di restoran ini, yaitu steak.

Mengabaikan perkataan kekasihnya, gadis bergaun biru itu kemudian membalas pesan singkat Sakura dengan kecepatan tinggi. 'Apa maksudmu? Dia menyentuhmu di bagian mana? Apa dia menciummu? Apa dia bilang dia menyukaimu di saat dia menyentuhmu atau sebelum menyentuhmu?'

"Ino," panggil Sai lagi, membuat gadis itu mengangguk dan memakan makanannya.

"Maaf, ada berita penting," kata Ino, sebenarnya bukan berita tapi bahan gossip. Sai merasa lega ketika Ino akhirnya bisa berpaling ke arahnya, namun setelah ponselnya bergetar lagi, gadis itu mengabaikannya lagi.

'Hampir semuanya di bagian atas. Dia melepas blusku. Aku tidak tahu harus bagaimana tadi jadi aku menangis. Dia bilang di saat dan setelah menyentuhku.'

Ino memekik, membuat Sai terkejut. Wajahnya terlihat gembira sekali dan memanas. Ia segera mengetikkan pesan balasan. 'Lalu, apa kalian melakukannya? Sampai di mana?'

Belum sempat Ino mengirimkan pesan singkat itu, Sai sudah mengambil ponselnya sehingga membuat gadis itu protes. "Apa-apaan sih!?" tanya Ino sebal.

"Ino, aku sudah mengatakannya dua kali," ujar Sai ikut kesal.

"Apa? Makananku akan dingin? Ini aku sedang berusaha memakannya."

Pria berambut hitam itu menghela napas panjang, sepertinya gadisnya tidak mendengarkan sama sekali ucapannya. "Baik, akan kuucapkan sekali lagi ya," kata Sai merendahkan suaranya. "Ino, maukah kau menikah denganku?"

Rahang bawah Ino seakan lepas dari sendinya.

.

.

.

Sudah lewat tengah malam, akhirnya Sasuke berhasil menyelesaikan buku setebal empat ratus tujuh puluh dua halaman itu. Ia menaruh buku karangan seorang arsitek serta pembisnis terkenal yang telah lama tinggal di Amerika itu ke dalam kantung kursi di hadapannya. Ia melirik ke arah Sakura yang sudah terlelap sejak tadi.

Ia mematikan lampu dan memundurkan sandaran kursi untuk ikut tertidur. Sebelumnya, ia sempat melihat wajah Sakura yang begitu manis, tapi mata sembabnya membuat Sasuke terganggu dan merasa bersalah. Apa Sasuke terlalu cepat? Tapi mereka sudah bersama selama seminggu lebih. Sepertinya Sakura sudah tidak terlalu membencinya. Iya, ia merasa kalau tindakannya terlalu dini untuk Sakura. Ia mendecih kesal, harusnya Sasuke bisa menahan diri dan pikiran lelakinya.

Atau mungkin ia terlalu kasar? Sepertinya Sasuke tidak ingat gadis itu kesakitan. Yah, mungkin hanya terlalu cepat.

Pria itu membenahi selimut Sakura dan menyelipkan tangannya untuk menggenggam tangan mungil Sakura. Rasanya menyenangkan, jantungnya berdegup kencang, seperti jatuh cinta untuk pertama kalinya lagi.

.

.

.

Sakura dan Sasuke sampai di hotel yang berlokasi di Honolulu. Kamar mereka sangat luas dan menghadap ke pesisir pantai. Satu-satunya hal yang dilakukan gadis bermata hijau itu langsung terjun ke atas kasur dan merebahkan dirinya selama beberapa saat sebelum membantu Sasuke merapikan pakaian mereka.

"Besok malam kita jalan-jalan," ucap Sasuke ketika keduanya selesai membereskan beberapa pakaian, "malam ini kau ikut aku ke pesta di bawah ya," pesan Sasuke sebelum ia mengambil beberapa pakaian untuk dipakai.

Sakura mengerutkan alisnya, "oh, aku ikut?" tanyanya.

"Iya, aku ingin memperkenalkan istriku," ucap Sasuke santai sebelum masuk ke kamar mandi.

Apa itu aneh merasa gugup ketika suamimu sendiri menyebutkan hal itu? Sakura buru-buru mengisi ulang ponselnya yang sempat kehabisan daya di tengah perbincangannya dengan Ino. Alisnya terangkat terkaget-kaget melihat begitu banyak panggilan masuk dan pesan dari Ino.

Sakura segera menelpon Ino menggunakan aplikasi chat agar tidak butuh roaming atau segala macam. "Halo, Ino, ada apa?" tanya gadis itu sembari duduk di dekat stop kontak. "APA?" Sakura langsung memekik girang sambil melompat kegirangan. "BENARKAH SAI MELAMARMU? ASTAGA! LALU KAU JAWAB APA?"

Pekikan lain diiringi tawa cekikikan membuat Sasuke yang sedang mandi di kamar mandi hanya bisa menggeleng-geleng. Dunia akan terasa sempit jika ada banyak wanita yang suka bergossip dan menyebarkan kabar dengan kecepatan cahaya.

.

.

.

Pria bertubuh jakung dan tegap itu berusaha memasang dengan benar dasi kupu-kupu dengan motif garis diagonal itu pada kemeja putih tulangnya. Namun, sepertinya kemampuan mengikat dasinya jadi berkurang ketika sampai di negeri orang. Atau ia terlalu gugup bertemu calon rekan bisnisnya?

"Apa kau butuh bantuan?" tanya Sakura yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sasuke menoleh sekilas, namun ia menoleh lagi karena terpana.

Gadis berambut merah jambu itu mengenakan gaun oranye pendek yang sangat menawan. Rambut sedangnya digulung dan dipasangkan hiasan rambut yang senada dengan gaun dan tas tangan berwarna hijau.

"Kalau butuh bantuan bilang, jangan diam saja," ujar Sakura kesal, ia menaruh tasnya dan mengambil alih kegiatan Sasuke.

"A-aa, terima kasih," ujar Sasuke sedikit gugup. Pria itu hanya menatap wajah serius Sakura yang dilapisi make up yang sangat pantas untuknya. "Kau terlihat cantik," puji Sasuke sambil melirik ke arah lain.

Alis Sakura terangkat. "hm? Benarkah? Terima kasih," ucap Sakura yang terdengar biasa saja. Ia menarik dasi kupu-kupu yang sudah tersimpul rapi. "Sudah," kata Sakura lagi sembari memperbaiki kerah kemeja Sasuke.

Pria itu segera mengambil jas hitamnya dan berjalan keluar bersama gadis yang mengenakan sepatu hak tinggi berwarna merah tua. Keduanya sempurna.

.

.

.

Pesta yang bertempatan di taman hotel seperti menjadi penyambut kedatangan kedua pasangan baru itu. Haruno Sakura tidak habis pikir bahwa seluruh orang kaya yang mengenakan jas dan gaun ini menyewa satu taman sebuah hotel mahal hanya untuk mengadakan perbincangan bisnis.

Sakura mengedarkan pandangannya dan mendapati seorang perempuan berambut pirang terlihat cantik memakai gaun seksi berwarna hitam. Yang menarik perhatian gadis bersurai merah jambu itu adalah bagian dadanya. Astaga, Sakura bisa membayangkan ukurannya mencapai lima kali lipat dibanding miliknya. Membuat Sakura sedikit tidak percaya diri.

"Ah, itu dia," kata Sasuke sembari menarik tangan Sakura pelan. Keduanya kemudian berjalan mendekati perempuan berambut pirang yang sedang meminum segelas minuman berwarna pekat. Sakura tahu itu alkohol.

Perempuan yang bernama lengkap Tsunade Senju itu menyadari kehadiran kedua manusia yang mendekat ke arahnya. Ia mengenal salah satunya. "Ah, Sasuke," sapanya langsung berjalan mendekati Sasuke dan memeluk pria tinggi itu dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher Sasuke.

Melihat kejadian itu Sakura membelalak dan terkejut, ia langsung melepaskan pegangan tangannya pada lengan suaminya dan sedikit mengalihkan perhatiannya. Ditambah ia begitu terganggu melihat bagaimana gumpalan 'daging' yang begitu menonjol di dada perempuan itu menekan dada Sasuke.

Tsunade melepaskan pelukannya pada sang pria dan melirik ke arah Sakura, "siapa dia?" tanya perempuan itu sinis. Astaga, kenapa ia kenak-kanakkan sekali.

Sakura mendengus kesal dan melirik tajam ke arah Tsunade, "ah, dia istriku," jawab Sasuke menempatkan tangannya pada punggung Sakura, "namanya Sakura."

Mendengar dirinya diperkenalkan, Sakura langsung menunduk dan memaksakan dirinya untuk tersenyum. Tiba-tiba muncul sesosok pria tamban berambut biru pudar di belakang Tsunade, "halo, tuan Sasuke, lama tidak berjumpa," pria itu menunduk hormat pada Sasuke dan Sakura. "Aku dengar kalian juga melakukan bulan madu di sini ya. Istrimu sangatlah cantik, kalian serasi sekali," ujarnya dengan lembut.

Gadis bermata hijau itu tersenyum senang, pria itu sangatlah ramah dan tampan. Apa dia pacar Tsunade?

"Nama saya Dan Kato, saya adalah manajer pribadi nona Tsunade, Anda pasti nona Sakura," ucapnya sembari mengulurkan tangan pada Sakura. Buru-buru Sakura menyambut tangan Dan dan tersenyum.

"Ah, iya," jawab Sakura pelan. Ah, pria itu bukan kekasih Tsunade.

"Dan, bagaimana kau temani Sakura. Aku dan Sasuke ada perbincangan pribadi," ujar Tsunade tiba-tiba, ia merangkul lengan Sasuke dan membawa suami Sakura menjauh dari keduanya.

Sakura menahan dirinya untuk terlihat cemberut. Namun, untuk apa ia cemberut? Sakura segera mengalihkan perhatiannya ke arah Dan. Pria itu terlihat tidak enak. "Maafkan nona Tsunade," katanya sembari menunduk.

Gadis itu segera menggeleng dan menggerakkan tangannya untuk menahan Dan, "ah, bukan masalah, Sasuke adalah rekan bisnisnya," ujar Sakura, meski ingin melirik ke arah Sasuke dan Tsunade lagi, gadis itu segera beranjak menuju ke tempat makanan, "aku akan mengambil makanan," kata gadis itu lagi pada Dan.

Pria bertubuh jakung itu mengangguk mengerti.

.

.

.

Tsunade melirik ke arah perempuan muda yang sedang duduk sendirian di pojok, sesekali mata hijaunya menatap ke arahnya dan Sasuke. Pria di hadapannya itu sepertinya tidak terlalu keberatan ditarik untuk menemaninya, tapi pria itu hanya melihat dirinya sebagai konteks rekan kerja. Oh, tentu saja Tsunade tidak naksir Sasuke, hanya saja menyebalkan melihat istri Sasuke.

Tsunade memicingkan matanya ketika melihat Dan mendekati Sakura dan mengajaknya mengobrol. Apa-apaan pria itu? Bukannya ia harusnya mengawasi dirinya? Ia mencengkram gelas pialanya dan dengan sengaja menumpahkan minumannya ke arah Sasuke.

Laki-laki berjas yang sedang menatap ke arah Sakura dan Dan seketika terkejut dan melangkah mundur ketika merasakan sebuah cairan dingin membasahi kemejanya dan menyentuh kulit dadanya.

"Astaga maafkan aku Sasuke," ujar Tsunade buru-buru mengambil tissue di atas meja di dekat mereka. Ia mengusap-usapkan pada kemeja Sasuke, ia mendekatkan dirinya sendiri ke arah pria itu sehingga mempertipis jarak mereka.

"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," kata Sasuke segera menjauhkan dirinya sendiri dari Tsunade.

Cih, Sasuke jual mahal sekali. Apa ini gara-gara istrinya? Tsunade membantin, "tidak, aku akan membersihkannya," katanya langsung mengambil langkah mendekat lagi untuk menggosokkan tissue ke arah kemeja Sasuke.

Sasuke hendak menahan perempuan itu, tapi gerakan apa saja ia akan membuatnya terlihat buruk.

Sebuah tangan kurus namun kuat menahan pergelangan tangan Tsunade yang tengah memegang tissue dan menggosokkannya ke arah kemeja Sasuke yang tertumpah minumannya. Tsunade dan Sasuke beralih ke arah Sakura yang menatap perempuan yang menyentuh suaminya dengan tatapan memicing.

Pria berambut hitam itu menaikkan alisnya karena terkejut. Ia baru tahu gadisnya bisa membuat wajah seperti itu kepada orang lain.

"Dia bilang dia bisa sendiri kan?" ujar Sakura dingin.

Astaga, posisi Sasuke sekarang seperti seorang perempuan yang diganggu preman dan diselamatkan oleh laki-laki.

TBC


(A/N) Halo semua, maaf karena aku agak sedikit terlambat. Itu karena minggu ini super sibuk dengan kegiatan kuliah, lalu ada project luar kuliah, dan kalian tau apa? Aku iseng buat komik di W-sensor-. Biasanya aku akan update di hari sabtu setelah latihan ballet, tapi aku terlalu capek kemarin jadi aku upload hari ini. Semoga kalian menyukainya dan menantikan bab selanjutnya. Selamat berakhir pekan

Terima kasih untuk kalian yang mereview dan selalu memberikan semangat untuk penulis. Begitu juga yang telah meluangkan waktu membaca, memfollow, atau memfavorite cerita ini. I love you guys! SASUSAKU 4EVA~

Salam hangat, Ruffie-chan