Summary: Hidup Sakura sengsara. Ia merangkap tiga pekerjaan sekaligus. Itu semua untuk biaya pengobatan ayahnya yang sakit parah. Tiba-tiba pria itu datang lagi ke dalam kehidupanya dan menawarkan kesempatan yang bak buah Simalakama. "Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Our New Chapter
"Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
.
.
.
Bab IX
Promise Me
"Dia bilang dia bisa sendiri kan?" ujar Sakura dingin.
Beberapa pasang mata menatap kedua perempuan yang sepertinya akan terlibat ke dalam pertikaian sengit. Hal tersebut membuat Tsunade merasa sedikit malu dan buru-buru menarik tangannya untuk lepas dari cengkraman Sakura, meski ia membutuhkan tenaga ekstra untuk itu.
"Apa-apaan kau?" kata perempuan berambut pirang itu sembari mendelik, ia segera menumpahkan sisa minumannya ke arah Sakura. Membuat gadis bersurai merah jambu itu memekik dan melangkah mundur, tapi punggungnya segera ditahan oleh Dan yang menatap Tsunade dengan tatapan marah.
"Nona Tsunade apa maksudnya itu?" tegur Dan.
Kesal melihat respon Dan yang berbalik memarahinya, Tsunade kemudian berpaling Lagi pada Sasuke yang masih tidak tahu harus berkata atau berbuat apa saking cepatnya kejadian yang terjadi. Seketika pria muda itu langsung panik ketika Uchiha Sakura melompat dari posisinya dan mencengkram leher Tsunade dengan lengan kanannya dan menguncinya dengan lengan kirinya.
"Dasar perempuan menyebalkan!" teriak Sakura.
Tsunade yang dicengkram memekik namun ia tidak tinggal diam, ia menggapai-gapai kepala gadis di belakangnya dan mengacak serta menjambak rambutnya. "Lepaskan kau dada rata!"
"Apa kau bilang? Dadaku tidak rata, dadamu saja yang overdosis! AKH!" pekik Sakura ditengah hinaannya ketika merasakan beberapa helai rambutnya tercabut paksa dari akarnya, membuat ia menguatkan kunciannya pada Tsunade.
.
.
.
"Apa-apaan tindakan Anda tadi?" Dan berjalan di belakang majikannya yang terlihat sangat kesal setelah pertengkaran hebohnya dengan istri calon rekan kerjanya menjadi tontonan banyak orang. Ditambah setelah kejadian itu, pria bersurai biru langit itu buru-buru meminta maaf kepada Sakura dan Sasuke untuk tindakan yang diperbuat Tsunade. Tidak hanya itu, Dan juga memohon maaf kepada seluruh tamu yang ada di pesta tadi. Membuatnya terlihat seperti tukang onar.
"Kau lihat dia yang mulai duluan!" Tsunade berbalik dan menghentikan langkahnya membuat Dan melakukan hal yang sama.
"Nona, apakah nona berusaha merayu suami orang di hadapan istrinya sendiri?"
Perkataan itu seperti menohok langsung ke batin Tsunade. "Apa katamu? Oh, jadi menurutmu aku yang salah?"
"Nona, berhenti membuat diri nona terlihat seperti anak-anak."
"Berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikkan seperti itu. Menurutmu salah siapa aku jadi seperti anak-anak, Dan?" air mata mengalir dari mata Tsunade. Ia segera melangkah melintasi lorong koridor hotel menuju kamarnya, meninggalkan Dan berdiri menatap punggungnya yang semakin menjauh dan menghilang.
.
.
.
Sakura berjalan cepat meninggalkan pesta setelah perkelahiannya dengan Tsunade akhirnya berhasil dihentikan oleh suaminya dan manajer perempuan tadi. Ia tadi benar-benar marah tadi, tapi sekarang ia bahkan tidak mau menatap siapapun. Tak terkecuali suaminya yang sedang mengekorinya.
"Jangan mengikutiku!" pekik Sakura pada Sasuke, ia bahkan tidak menoleh ke belakang. Ia takut melihat reaksi yang diberikan Sasuke padanya.
Sebenarnya gadis itu sudah berputar-putar di sekitar taman sejak tadi, membuat Sasuke yang sempat khawatir menjadi sedikit terhibur. Ah, istrinya pasti sedang malu.
Ia segera menangkap Sakura yang nyaris tersandung karena sepatu hanya tersangkut pada rongga yang ada di pijakan di sekeliling kolam air mancur.
"Hei, apa kau masih marah?" tanya Sasuke menahan senyumannya karena tindakan Sakura terlihat benar-benar imut di matanya.
Perempuan yang memakai gaun oranye itu melepaskan pegangan Sasuke padanya dan segera menjauh. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan melemparnya ke dekat kolam. Ia menghela napas dan duduk di sisi kolam.
"Rencanamu untuk bekerja sama dengan dia pasti hancur gara-gara aku," ucap Sakura sambil menatap ke arah tangannya yang bertautan gelisah.
Uchiha Sasuke menaikkan alisnya. Itukah yang dipikirkan gadisnya? Sebenarnya ia lebih mengkhawatirkan penampilan Sakura sekarang. Rambutnya acak-acakan, make upnya berantakan, ditambah lagi gaunnya yang indah itu terdapat noda bekas siraman Tsunade.
Ia menarik napas panjang, kemudian pria itu mengambil posisi di sebelah istrinya. "Kau tidak usah pikirkan itu, ayo perbaiki rambutmu," ujar Sasuke menatap lembut ke arah Sakura yang kini berpaling padanya.
Sakura mengangguk, ia segera membenahi rambutnya seadanya dengan kesepuluh jarinya. Sasuke meronggoh saku jasnya dan menemukan sapu tangan di sana, segera setelah Sakura selesai ia menahan wajah Sakura dan membersihkan beberapa noda maskara yang luntur di mata gadis itu.
Wajah Sakura merona. Ia tidak tahu Sasuke bisa menjadi selembut itu. Membuatnya sedikit kikuk dan merinding. Setelah selesai Sasuke tidak melepaskan genggaman sebelah tangannya pada Sakura, tapi ia malah beralih menyelipkan beberapa helai rambut yang tidak terikat ke telinga Sakura.
"Apa kau cemburu tadi?" tanya Sasuke.
Rona di wajah Sakura semakin jelas, matanya membelalak dan menunjukkan kebingungan. "Te-tentu saja tidak," kata Sakura gelagapan dan mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya.
Sasuke tertawa pelan, ia sepertinya harus lebih sering menggoda Sakura karena wajah malunya terlihat benar-benar menawan. "Tapi, tadi kau keren sekali," goda Sasuke lagi. "Kau menahannya dengan satu tangan dan melompat seperti ninja."
"Berhenti membicarakan yang tadi," protes Sakura dengan wajah merah padan dan membuang muka.
"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?"
Tangan kiri Sasuke menggapai tangan kanan Sakura yang ada di pangkuannya, sehingga membuat Sakura tersentak dan menoleh ke sebelah. Tepat saat itu juga Sasuke mencondongkan tubuhnya ke kiri sehingga bibir mereka bertemu.
Tanpa sadar, gadis itu juga memejamkan matanya. Membiarkan perlahan-lahan bibir lembut Sasuke menekan ke arahnya. Genggaman Sasuke semakin kuat ketika ia pun membalas ciuman Sasuke sehingga membuat momen di sekitar mereka menjadi hangat dan manis.
Sakura sedikit kecewa ketika bibir Sasuke menjauh sehingga membuat oksigen hangat yang sebelumnya mengitari daerah jangkauan pernapasannya berubah menjadi dingin. Sakura membuka mata dan hal yang ia lihat adalah bagaimana gelapnya warna pupil Sasuke.
"Terima kasih," ujarnya sembari tersenyum malu. Ada sedikit semburat merah pada pipi pria itu. Ternyata pria itu bisa berekspresi seperti itu juga. "Ah, aku akan mengambilkan sesuatu untukmu, tunggulah sebentar," kata Sasuke setelah keduanya terdiam untuk waktu yang singkat.
Tidak lama setelah pria itu pergi, Sakura langsung meruntuki apa yang telah ia perbuat. Bagaimana bisa ia membalas ciuman Sasuke. Apa dia bodoh? Semakin ia terlihat seperti itu, semakin ia tenggelam dalam permainan Sasuke.
Sasuke kembali membawakan sepasang sandal dari hotel kemudian menaruhnya di depan kaki telanjang Sakura. Ia pun mengambil sepatu hak tinggi istrinya dan memegangnya dengan tangan kiri. Kemudian ia mengulurkan tangan kanannya pada Sakura.
Gadis itu bangkit dan menerima uluran tangan prianya sembari memakai sandal yang dibawakan untuknya. Keduanya berjalan, beriringan.
.
.
.
Wajahnya cemberut, perlahan-lahan ia berjalan ke arah ranjang dan menyelinap ke dalam selimut. Ia bahkan tidak bernapas agar laki-laki yang sedang sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya dan memunggunginya itu tidak sadar akan kehadirannya. Namun, Sasuke berbalik dan mendapati Sakura yang seperti tertangkap kedapatan mencuri.
"Kau sudah selesai mandi?" tanya Sasuke menaruh ponselnya dan terduduk. Astaga, ini akan terasa sangat canggung.
Sakura melirik ke arah lain dan mengangguk, "hm," gumamnya langsung merebahkan dirinya. Tiba-tiba Sasuke mencondongkan dirinya ke atas Sakura. Gadis itu menahan napas lagi. Buru-buru ia mengutuki dirinya ketika Sasuke hanya meredupkan lampu di sisi ranjang Sakura.
Pria itu ikut merebahkan dirinya di sebelah Sakura, ia memperbaiki posisi selimutnya. "Tadi ayah menanyakan kabar kita, dia bilang mereka akan menunggu kita kembali," kata Sasuke menoleh ke arah Sakura yang tidur terlentang.
"Ah, aku sudah merindukan mereka," ucap Sakura.
"Aku juga," bisik Sasuke, "sudahlah, ayo tidur. Selamat malam."
"Selamat malam."
.
.
.
Sasuke merasa ada pergerakan di sebelahnya ketika ia sudah berselancar di dunia mimpi. Ia tersadar dan melirik ke arah Sakura yang sedang terduduk. Ia terlihat sibuk dan mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Sasuke membelalak. Apa Sakura melepaskan branya?
"Sakura," panggil Sasuke dengan suara parau memenepuk pundak Sakura, tapi gadis itu nampaknya hanya setengah tersadar dan langsung tertidur lagi. Tapi, kali ini gadis itu merengkuhnya.
Apakah ini adalah sindrom yang Sakura ceritakan waktu itu? Sasuke nyaris tertawa tapi ia menahannya. Ia membalas pelukan Sakura dan mengusap pelan bahu istrinya. Meskipun sesuatu di balik piama sang istri membuatnya sedikit tidak nyaman karena menyentuh sisi kiri tubuhnya.
"Tahan Sasuke, tahan," mantranya pada diri sendiri.
.
.
.
Gadis yang memakai baju kaos putih dan celana pendek selutut itu mengoleskan beberapa concelaer pada lehernya yang terdapat bekas kemerahan yang masih nampak sedikit. Setelah itu ia mengikat rambutnya di belakang kepalanya kemudian berjalan keluar kamar mandi.
Pria yang mengenakan pakaian santai itu terduduk di atas kasur sambil bersandar pada tumpukan bantal yang ada di punggungnya. "Sudah? Ayo sarapan," kata Sasuke mematikan TV ketika melihat Sakura keluar dari kamar mandi.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Sakura sehingga membuat gadis itu beralih cukup lama ke arah layar ponselnya. Ia tersenyum sendiri dan mengetikkan pesan balasan untuk sang pengirim. Ekspresinya begitu gembira dan terfokus sehingga tidak menyadari Sasuke yang sudah mematikan TV sekarang berdiri di belakangnya dan mengintip apa yang ada di sana.
"Kau akrab sekali dengan Gaara?" tanya Sasuke, lebih tepatnya ia menghakimi.
Sakura tersentak dan buru-buru menempelkan layar ponselnya ke arah tubunya. "Tentu saja, kita sudah bersama sejak kuliah," kata Sakura memberikan pembelaan.
"Oh, jadi apa katanya? Apa dia tidak memberiku salam atau semacamnya?" tanya Sasuke sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya menyebalkan.
"Tidak, hanya urusan kantor," Sakura menjawab pertanyaan Sasuke, ia seperti enggan meladeni pria itu.
"Sampai tersenyum seperti itu?"
"Kenapa kau jadi cerewet sih? Apa ada yang salah dengan otakmu?"
"Sakura, kau mengalihkan pembicaraan."
"Sudahlah, ayo sarapan," tutup gadis itu segera berjalan ke arah pintu kamar hotel. Sasuke menghela napas kemudian membiarkan pesan dari Gaara menghantui pikirannya sepanjang jalan menuju ruang makan.
.
.
.
"Aku benar-benar minta maaf atas tindakanku kemarin," kata Tsunade kepada Sakura dan juga Sasuke. Meski ada senyuman yang terlihat tulus terpatri di bibir berlipsticknya, Sakura masih mencurigai perempuan itu. "Ah, ini," Tsunade mengambil kantung yang dipegang Dan, kemudian memberikannya pada Sakura. "Ini oleh-oleh dari Amerika, aku harap kau menyukainya."
Sakura tersentak dan segera menerimanya. Ia hanya tersenyum tipis. Tentu saja ia masih sedikit canggung dengan apa yang terjadi.
"Oh ya, Sasuke, aku sudah memikirkan tawaranmu kemarin. Bagaimana kalau kau diskusikan proposalnya denganku setelah jam makan siang?" tanya Tsunade.
Pria yang sedari tadi berdiri di sebelah Sakura segera teralihkan, "tentu saja bisa. Terima kasih," kata Sasuke sembari tersenyum. Ia melirik Sakura yang terlihat merasa sedikit lega karena tindakannya kemarin tidak membuat Sasuke kehilangan kesempatannya.
"Baik, kalian nikmatilah sarapan kalian, aku pamit duluan," ujar Tsunade kemudian berlalu.
Setelah perempuan itu pergi, Sasuke melirik Sakura yang kini mengintip pada kantung yang diberikan Tsunade padanya. "Dasar wanita kurang ajar," bisik Sakura kesal. Bingung dengan reaksi istrinya, pria berambut gelap itu ikut juga mengintip ke dalam sana dan langsung menahan tawa. Tentu saja itu adalah sepasang pakaian dalam untuk perempuan dan er-alat pengaman untuk berhubungan intim.
.
.
.
"Aku akan pergi untuk mengurus pekerjaanku dulu, kita akan jalan-jalan nanti malam. Kita janjian jam tujuh di lobby, oke?" pesan Sasuke pada Sakura yang kini sedang merebahkan dirinya di atas ranjang sesaat setelah keduanya tiba dari sarapan.
"Hm, oke," kata Sakura berusaha terlihat tidak terlalu senang akan ajakan pria yang sedang mencari baju formal di dalam kopernya. Setelah ia mendapatkannya, Sasuke segera mengganti pakaiannya.
"Apa rencanamu selama aku pergi?" tanya Sasuke sembari mengancingkan kemeja berwarna biru muda, ia menatap Sakura.
"Entahlah, mungkin aku akan menghubungi ayah dan Ino, lalu berkeliling hotel," jawab gadis itu. Ia bangkit kemudian berjalan untuk mengambil air. Ia menimang-nimang, apa rencananya terdengar begitu membosankan?
"Baguslah, aku tidak mau kau bosan selama menungguku. Kau bisa pesan makan siang melalui room service."
Belum sempat Sakura membalas perkataan Sasuke, ponselnya bergetar dan menunjukkan ada panggilan masuk. Gadis itu segera mengangkatnya setelah ia melihat nama yang tertera di sana.
"Ya, Gaara, ada apa?" tanya Sakura. Nama yang diucapkan dari bibir gadis itu membuat Sasuke memicingkan mata sedikit. "Apa? Bagaimana bisa hilang?" wajah Sakura langsung berubah menjadi panik, "ah tunggu, sepertinya aku masih memiliki datanya di email. Akan segera ku kirimkan padamu," ujarnya lagi. Sakura menutup sambungannya, ia segera mengutak-atik ponselnya untuk mencari sesuatu di dalam sana.
"Ada apa?" tanya Sasuke melihat Sakura yang terlihat kesal.
"Bukan apa-apa. Gaara hanya kehilangan print out editanku. Aku hanya perlu mengirimkannya ulang," kata Sakura. Ia menghela napas. "Kau tahu, editan yang hilang bukan hanya satu, tapi ada dua puluh. Dia harus memeriksa ulang dua puluh artikel lagi," ceritanya.
"Ah, dia atasan yang buruk," komentar pria yang kini tengah memasangkan dasi pada kerah kemejanya. Ada rasa kepuasan tersendiri bagi Sasuke memberikan kata-kata itu pada Sakura.
"Ya, tapi dia sudah berusaha keras dan terdengar menyesal. Aku mungkin harus membantunya," kata Sakura terlihat lega ketika ia menemukan file yang ia cari.
"Hn, jangan terlalu dipikirkan. Ini hari liburmu kan?" kata Sasuke, ia mendekati Sakura dan memberikan istrinya kecupan singkat di pipi ketika gadis itu tidak fokus padanya. "Aku pergi."
Sakura mematung. Apa-apaan barusan?
.
.
.
Langit sudah berubah warna menjadi warna yang gelap. Perlahan gadis yang sudah menunggu sejak tadi itu melirik jam pada ponselnya. Ini sudah satu jam dari waktu yang dijanjikan orang itu, tapi sosoknya bahkan tidak melintas sedikit pun di lobby hotel.
Sakura menghela napas. Ia kemudian menuliskan pesan kepada Sasuke untuk kesekian kalinya, menanyakan di mana keberadaannya sekarang karena Sakura terlihat seperti orang bodoh mondar-mandir di lobby.
Apa jangan-jangan pria itu menunggunya di kamar? Tidak mungkin. Setelah pergi, pria itu sempat memberikannya pesan singkat bahwa mereka bertemu di lobby karena Sasuke malas kembali ke kamar. Lalu di mana ia sekarang?
Sudah! Sakura tidak mau menunggu lagi. Ia akan kembali saja ke kamarnya dan melakukan sesuatu yang lebih berguna dibandingkan menunggu seseorang yang bahkan tidak membalas pesan singkatnya. Bukan hanya seseorang, tapi suaminya!
Gadis yang kini mengikat rambutnya menjadi satu di belakang kepalanya itu, segera melangkahkan kakinya menuju lift terdekat yang bisa dijangkaunya. Masa bodoh dengan acara jalan-jalan, moodnya benar-benar hilang sekarang.
Ia benar-benar tidak mau berbicara dengan Sasuke, itu pun kalau mereka bertemu-
Sakura terdiam ketika melihat pintu lift terbuka. Menampakkan sosok yang ia kenal. Bukan, dua orang ada di sana. Ia yakin kalau yang membelakanginya sekarang adalah Sasuke, sementara perempuan yang menaruh tangannya di pundak suaminya adalah Tsunade. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Tsunade sementara tangan perempuan berambut pirang itu terlihat menarik pria itu mendekat.
Sakura sudah lama menghilang ketika keduanya baru menyadari bahwa pintu lift telah terbuka.
TBC
(A/N) Halo! Aku minta maaf karena updatenya lamaaaa banget. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang tak lain adalah UAS (astaga cepet banget ya kemarin rasanya baru UTS, maklum semester pendek), dan kebetulan aku pindahan dadakan jadi sama sekali nggak nyentuh fanfic ini dari sekian lama. Tapi, aku sudah cantumin di bio kalau aku akan hiatus sampai tanggal 14 maret, tapi kebetulan besok adalah hari pengumpulan tugas terakhir dan nampaknya tugasku sudah selesai jadi aku update sekarang deh.
Well, aku harap kalian suka ya bab ini! I'll see you guys soon!
Salam hangat, Ruffie-chan
