Yaay. . .! Chapter dua sudah update ^-^ Yah, meskipun hanya sedikit review tapi author sudah senang sekali ^w^ Bagaimanapun author memiliki prinsip untuk meneruskan sampai tamat semua fict karya author tanpa harus bergantung pada jumlah review
Special Thanks for:
Taiyou kaze and Everly De Mavis
So, with all of my spirit, author persembahkan. . .
New Prey Or New Love
Setelah menjadi iblis dan menjalani hari-hari membosankan sebagai iblis bersama butler setianya, Sebastian, Ciel memutuskan untuk mencari mangsa gadis mungil dengan jiwanya yang murni dan bersih, mangsa yang sempurna bagi Ciel. Akankah gadis itu benar-benar jatuh pada perangkap Ciel atau. . . justru Ciel yang jatuh pada mangsanya.
Kuroshitsuji always belong Yana Toboso, this Fict belong to me
Author peringatkan sekali lagi: Ciel X OC Rated T semi M
.
.
.
Ciel meletakkan gadis dipangkuannya dengan hati-hati diatas kasur berukuran King size miliknya. Kako masih terlelap ketika Ciel memperhatikannya dengan intens. Ciel merasa tidak nyaman dengan pakaian lusuh yang dikenakan gadis itu. Tidak cocok untuk gadis cantik nan manis seperti dia, apalagi dengan noda darah yang begitu banyak. Dengan pemikiran tersebut, Ciel pun beranjak menuju ke lemari mewahnya. Mengambil sebuah atasan piyama putih polos yang ia rasa sesuai untuk 'tamunya'.
'Saatnya belajar menjadi butler iblis.' Gumam Ciel lalu mulai melepaskan kancing baju yang dikenakan Kako. Awalnya Ciel biasa saja melakukannya. Namun seiring dengan semakin bertambahnya kancing yang terlepas, tubuh molek bagian atas Kako pun terekspos sempurna membuat Ciel mengambil napas berat tiap kali jarinya secara tak sengaja bersentuhan dengan kulit putih merona yang begitu lembut dan menyenangkan untuk disentuh itu. Dan Ciel tidak dapat melepaskan pandangannya dari dada Kako yang terlihat sebagian. Dada yang cukup besar untuk gadis seusia dirinya, berwarna putih, melengkung indah dan terlihat sangat lembut.
'What the hell I am thinking.' Pikir Ciel dengan wajah memerah lalu cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, mengganti pakaian lusuh Kako dengan piyama lalu menyelimuti tubuh gadis itu agar tidak membuat pikirannya tercemari oleh hal-hal mesum yang disukai Sebastian.
"My my Bocchan." Ciel nyaris tersentak demi mendengar suara seseorang yang berada di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan butler setianya, Sebastian. Ciel menoleh, memberi tatapan death glare pada butlernya. Mata biru Ciel kembali ke warna darah sebagaimana iblis. Sebastian terkikik geli melihat sikap tuan mudanya yang menurutnya sangat cute.
"Kau lama, Sebastian." Cibir Ciel yang dibalas Sebastian dengan senyum devilnya yang seperti biasa.
"Saya hanya sedikit bersenang-senang, my lord. Dan saya pikir anda pun bersenang-senang dengannya." Balas Sebastian sembari melirik mangsa baru Ciel yang telah terbungkus selimut.
"Ooh, anda bahkan sudah bisa mengganti pakaiannya." Goda Sebastian sambil menyeringai nakal melihat baju lusuh yang tergeletak di lantai.
"Berisik-" Sembur Ciel namun kemudian terpotong oleh suara tubuh Kako yang menggeliat tidak nyaman.
"Nngghh." Bibir Kako bergumam, mengerang pelan seakan terganggu pada suara-suara berisik yang mengusik tidur tenangnya. Ciel menghela napas, melirik sebentar gadis yang bergelung nyaman dalam selimut putih itu lalu beralih menatap butlernya.
"Biarkan dia istirahat." Ujar Ciel lalu melangkah keluar kamar diikuti Sebastian yang kemudian meniup lilin yang menjadi satu-satunya penerangan di kamar luas itu. Suasana suram tercipta sebagaimana keseluruhan mansion yang minim penerangan. Dua iblis berjalan dalam diam di tengah kegelapan. Iblis muda dengan wajah stoicnya sementara iblis di belakangnya memperlihatkan seringainya ketika melirik sebentar kamar di belakang mereka.
. . . . . . . . . . . .
Sinar matahari mulai menyingsing pelan, menghantarkan sinar hangat yang menembus jendela besar tertutup korden motif flora yang melindungi seorang gadis dari pantulan langsung sinar matahari. Burung-burung gereja bercicit diluar, bergerak lincah di antara dahan dan ranting, menyampaikan dengan gembira bahwa ini adalah pagi yang indah untuk beraktifitas.
Seorang bocah berambut green grayish memasuki sebuah kamar luas, memperhatikan sesuatu yang masih bergelung manja di atas ranjang. Kako belum bangun, tampak begitu menikmati tidurnya. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya ia tidur dengan damai setelah selama ini tidur dalam ketakutan di sebuah ruang yang jauh dari sinar kehidupan.
Perlahan Ciel mendekati ranjang Kako, berusaha tidak membuat suara dari sepatu pantofelnya yang beradu dengan lantai. Ciel memperhatikan selimut yang melorot sebatas pinggang ramping gadis itu, membuat Ciel mengingat kejadian malam kemarin dan itu membuat hormonnya terasa berletupan di dalam dirinya.
Ciel kini mendapati dirinya bergerak merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya tepat disamping Kako yang masih terlelap dengan wajah polos seperti malaikat. Seringai terkembang di bibir Ciel dan mata Ciel berubah menjadi merah keunguan ketika ia merasakan jiwa yang memiliki rasa sangat manis menggoda seluruh inderanya. Jiwa Kako adalah jiwa yang begitu murni, tetap suci meskipun selama ini berada dalam penderitaan kegelapan. Mungkin sama halnya seperti wine berkualitas tinggi yang disimpan dalam gudang bawah tanah agar menghasilkan rasa dan aroma menggiurkan.
'Hanya aku yang boleh mencicipimu.' Pikir Ciel lalu mencondongkan tubuhnya untuk memperoleh posisi yang tepat.
Ciel tidak dapat menahan hasratnya untuk sedikit saja mencicipi makanannya. Ingat, dia adalah tipe tuan muda yang tidak sabar dan selalu mendapatkan keinginannya. Tangan Ciel terulur, menyibakkan sedikit rambut yang menutupi dahi Kako, lalu bergerak turun mengusap pipi putihnya yang merona dan halus kemudian berakhir pada bibir mungilnya yang berwarna merah delima. Ciel menyukainya, menyukai saat kulitnya berkoneksi dengan kulit Kako. Menikmati sensasi dari aroma tubuh gadis itu. Dengan hati-hati Ciel menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher dan bahu Kako, menghirup aroma wangi bunga segar yang tersiram air hujan. Iblis kelabu itu dapat merasakan rasa jiwa yang mengalir dibawah kulit halus Kako. Begitu manis, nikmat, jauh lebih nikmat dari dessert yang dulu Sebastian selalu sediakan sebagai cemilannya.
"Mmmhh." Napas Kako menjadi berat saat dirasakannya hidung Ciel bergerak menggelitiki leher jenjangnya. Mengikuti instingnya, Ciel mengeluarkan lidahnya, menyusuri leher putih itu dan membuat permukaannya basah. Kako merintih dengan mata masih terpejam ketika merasakan sesuatu yang lunak dan basah menyisiri area sekitar leher dan bahunya. Hanya saja matanya masih terlalu berat untuk membuka. Ia masih sangat lelah dan mengantuk.
Ciel menyeringai mendengar rintihan-rintihan kecil yang keluar dari bibir mungil Kako, terdengar seperti sebuah melodi di telinganya. Meskipun Kako belum sadar tetapi tubuhnya memberikan respon bagus pada apa yang dilakukan oleh Ciel.
"My my bocchan." Ciel menghentikan aktifitasnya, menatap jengkel pada butler serba hitam yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum miring.
"Bukan hal yang sopan untuk menyerang gadis yang sedang tertidur, bocchan." Ujar Sebastian kalem sambil tersenyum mesum. Ciel mendecakkan lidah, lalu beringsut turun dari ranjang, merapikan sebentar jas hitamnya yang agak kusut. Sebastian tertawa kecil melihat bocchannya itu lalu melangkah menuju jendela, menyibakkan korden dan mengikatnya di tepi dengan simpul rapi.
"Anda masih harus banyak belajar, Bocchan." Ujar Sebastian kemudian mendekati ranjang Kako.
"It's time to wake up my lady." Ujar Sebastian dengan nada cukup pelan namun bisa ditangkap oleh pendengaran Kako. Kako menggeliat pelan, merasakan panas sinar matahari yang menerpa tubuhnya dari balik kaca jendela yang tidak lagi tertutup gorden. Mata bulat caramelnya mengerjap beberapa kali untuk membiasakan diri dengan sinar yang mengkonfrontir penglihatannya.
"Ngh, di-dimana aku?" Gumam Kako saat ia memperhatikan sekelilingnya. Dihadapannya berdiri dua orang yang tidak dikenalnya. Seorang berpakaian butler serba hitam sedang tersenyum manis padanya dan seorang lagi merupakan seorang bocah berambut kelabu yang usianya hampir sama dengannya sedang melipat tangan di dada, memandangnya dengan datar.
Sebastian tidak langsung menjawab pertanyaan Kako. Butler itu memperhatikan sesuatu yang 'agak menarik' ketika gadis itu bangkit sambil mengucek matanya, tampak seperti anak kucing yang baru bangun tidur. Namun bukan itu yang menarik perhatian Sebastian, melainkan kancing piyama Kako yang tampak ya, berantakan. Kancing pertama dikaitkan pada lubang nomor dua. Kancing nomor dua tidak dikancingkan. Lalu kancing nomor tiga dan seterusnya dikaitkan pada tempat yang benar.
Sebastian melirik Ciel yang membuang muka karena hasil pekerjaannya dalam mengancingkan baju tidak beres. Sementara Kako yang mengetahui dirinya terbangun pada tempat yang sama sekali asing baginya, hanya memperhatikan dua orang dihadapannya dengan tatapan heran.
"Kalian berdua siapa?" Tanya Kako polos, memecah keheningan. Sebastian mengalihkan perhatiannya pada Kako, masih memasang senyum andalannya di bibirnya.
"Kami adalah orang yang menolong anda, sweet young lady. . ." Jelas Sebastian. Kako memiringkan kepalanya, nampak sesuatu mengganggu dalam pikirannya.
"Ugh, apa yang terjadi? Apa semua kejadian menakutkan itu hanya mimpi?" Gumam Kako pada dirinya sendiri sambil memegangi kepalanya yang sedikit pening. Kako masih mengingat betul kilatan peristiwa saat ia diletakkan diatas altar dan pemimpin ritual menancapkan belati ke perutnya. Semestinya sekarang ia telah berada di surga, atau tempat apapun itu selain di bumi. Seharusnya ia sudah mati sekarang.
"Itu bukan mimpi, Kako Misquerlentz. Semua yang kau alami adalah kenyataan." Ujar Ciel sambil menyeringai yang membuat Kako tersentak. Kako mengenal suara itu, itu adalah suara iblis yang ada dalam 'mimpinya'. Iblis berwujud gagak hitam yang menawari kontrak, namun ia tolak karena ia adalah seorang gadis religius yang berpegang teguh pada Tuhan. Dan kini iblis itu kembali muncul di hadapannya dalam wujud seorang bocah berambut kelabu dengan mata merahnya.
"Ka-kau." Bibir Kako bergetar saat Ciel menatapnya dengan intens sambil menyeringai. Genggaman Kako mengerat pada selimut yang melingkari pinggangnya. Mengapa nasibnya sedemikian buruk? Setelah terlepas dari orang-orang berjubah merah yang akan menjadikannya korban, kini ia malah berada di sarang dua iblis yang ia tidak ketahui apa tujuannya.
"Just relax my lady. Tidak ada hal yang perlu anda takutkan." Ujar Sebastian, berusaha menenangkan gadis kecil yang tampak tertekan itu. Tangan Sebastian yang terbungkus sarung tangan putih perlahan mengelus kepala Kako, membelai rambut yang memiliki warna hampir sama dengannya. Kako menggelengkan kepala perlahan, tampak takut untuk menatap mata merah Sebastian. Ciel yang melihatnya hanya menaikkan alis, sedikit surprise dengan perhatian Sebastian tersebut.
"Mungkin anda perlu waktu untuk mandi milady?" Tawar Sebastian. Kako yang mendengar tawaran Sebastian berdiam diri sebentar, tampak memikirkan sesuatu lalu gadis itu mengangguk lemah sebagai jawaban. Ya, Kako rasa, ia perlu waktu untuk mencerna semua hal gila yang secara beruntun terjadi padanya. Dan mungkin, berendam di dalam air akan membuat pikirannya menjadi lebih jernih.
Sebastian tersenyum melihatnya lalu berdiri dengan hormat.
"Kalau begitu saya akan menyiapkan air untuk anda, milady." Ujar Sebastian lalu pergi ke luar ruangan, meninggalkan Kako hanya berdua dengan Ciel yang bersandar di tembok sambil menyilangkan dada di tangan. Suasana menjadi aneh karena tidak ada yang membuka suara dan hanya saling menatap untuk menyelami pikiran masing-masing. Ciel yang menatap datar Kako namun begitu intens, sedangkan Kako menatap Ciel dengan pandangan tidak mengerti mengapa iblis berambut kelabu itu menatapnya seperti itu.
"A-apa?"Tanya Kako kemudian dengan pipi yang memerah.
Tidak ada balasan dari Ciel karena selanjutnya bangsawan muda yang telah menjadi iblis itu lalu melangkah pergi, meninggalkan Kako yang mengerjapkan mata.
….
.
.
"Airnya sudah siap milady." Ujar Sebastian sopan pada seorang gadis yang termangu menatap jendela. Gadis itu sedikit tersentak, lalu mengalihkan pandangannya pada Sebastian.
"Te-terima kasih errr. . . Tuan-" Ujar Kako
"Sebastian Michaelis." Potong Sebastian cepat. Kako mengangguk lalu tersenyum lembut pada butler serba hitam itu sebelum memasuki kamar mandi.
"Untuk seorang iblis sepertimu, kau bisa membodohi semua orang dengan kebaikan palsumu. Apa ada sesuatu yang kau inginkan dari gadis itu, Sebastian Michaelis?" Ujar sebuah suara bernada tajam yang keluar dari bibir Ciel.
"Apakah anda merasa cemburu, Bocchan?" Goda Sebastian sambil menyeringai. Ciel mendecakkan lidah seperti biasa lalu mengeluarkan nada mengancam pada butlernya.
"Dia milikku, Sebastian." Tegas Ciel sambil menggeram pelan.
"Ya, tentu saja Bocchan. Dia hanya sedikit mengingatkan saya pada putri saya." Ujar Sebastian yang membuat kemarahan Ciel mereda seketika.
"Putrimu? Kau pernah memiliki anak?" Tanya Ciel penuh keingintahuan. Sebastian mengangguk lemah sambil memejamkan mata ruby-nya.
"Bagaimanapun, saya pernah menjalani kehidupan bahagia sebagai seorang manusia sebelum menjadi iblis." Ujar Sebastian yang membuat Ciel terdiam.
"Nostalgia, uh?" Cibir Ciel yang disambut tawa kecil dari Sebastian.
"Saya rasa, saya harus mempersiapkan sarapan bagi nona kecil." Ujar Sebastian sambil sedikit membungkuk, kemudian beringsut pergi meninggalkan bocchannya yang masih berdiri bersandar di dinding.
"Kebahagiaan huh, betapa bodoh mengharapkan hal semu seperti itu." Gumam Ciel sarkatis dengan wajah angkuh menatap hamparan langit biru dari balik jendela.
…..
Di dalam kamar mandi, Kako melepaskan bajunya. Gadis itu tampak sedikit heran, baru menyadari bahwa baju lusuhnya sudah berganti dengan piyama putih hangat yang kancingnya dikancingkan secara asal. Tak ingin berpikir macam-macam, Kako mengambil sebuah handuk di dekat wastafel dan melilitkannya pada tubuh polosnya. Saat ia telah selesai dengan handuknya, ia mendengar suara derit pintu yang dibuka. Reflek, Kako pun menoleh ke arah sumber suara, mendapati Ciel berdiri di ambang pintu dengan membawa spon dan sabun cair.
"A-apa yang kau lakukan?" Tanya Kako gugup dengan wajah merona malu. Jari jemari Kako mengerat pada handuknya sementara Ciel mengerjapkan matanya beberapa kali, tampak heran dengan pertanyaan Kako barusan. Bukankah sudah jelas apa yang akan dilakukannnya. Ia akan membantu Kako mandi, sama halnya seperti selama ini Sebastian memandikannya.
"Tentu saja memandikanmu." Ujar Ciel dengan biasa. Dahi Kako berkedut mendengar pernyataan Ciel barusan. Sementara Ciel hanya diam, menunggu Kako melepaskan handuknya.
"Apa kau tidak merasa malu?" Tanya Kako dengan senyum yang dihiasi simpang empat di dahi. Ciel memiringkan kepalanya, tampak lola menangkap maksud Kako sampai kemudian bangsawan muda itu memperhatikan Kako yang hanya mengenakan selembar handuk yang melilit dari dada sampai sebatas paha. Apa ada yang aneh? Pikir Ciel.
"…"
"…"
"…"
"Keluar!" Ujar Kako dengan lantang sambil menunjuk pada pintu.
"W-What?" Ciel mengerjapkan mata beberapa kali, shock karena baru kali ini selama hidupnya ada seseorang yang berani mengusirnya.
"Keluar. . .!" ulang Kako lagi sehingga membuat Ciel akhirnya mengalah. Ia meletakkan spon dan sabun cair yang dibawanya di dekat wastafel sebelum beranjak keluar dengan terlebih dahulu menutup pintu. Di luar kamar mandi, Ciel dapat dengan jelas mendengar suara gerutuan Kako yang mengatainya mesum, pervert, dan julukan-julukan mesum lainnya.
"Ck, apa yang salah?" Gumam Ciel kesal sambil memijit pelipisnya karena tidak mengetahui apa kesalahannya. Bukankah sudah wajar bagi seorang butler iblis untuk memandikan majikannya. Ya, meskipun Ciel belum menjalin kontrak dengan Kako, tetapi bukankah hal yang biasa bagi Ciel untuk berlatih menjadi butler iblis seperti halnya Sebastian yang bertalenta dalam banyak hal.
"Ada apa Bocchan?" Sapa Sebastian yang melihat Ciel kebetulan melintas dihadapannya dengan muka kusut. Sebastian baru saja menata segala hidangan lezat di meja makan yang dilapisi taplak mewah dengan ukiran-ukiran indahnya. Keahliannya sebagai butler sempurna memang tidak terbantahkan jika dilihat dari semua caranya dalam mengerjakan sesuatu secara elegan dan tepat waktu. Ciel menatap butlernya sebentar, matanya menunjukkan bahwa ia sedang suntuk karena suatu hal.
"Apa aku terlihat tidak becus mengerjakan sesuatu Sebastian?" Tanya Ciel yang membuat Sebastian mengedipkan mata mendengarnya.
"Ya, kalau boleh jujur, anda memang kurang ahli untuk melakukan suatu aktifitas sederhana seperti memakai pakaian, memakai sepatu bahkan soal urusan mandi." Jelas Sebastian yang justru menjadikan wajah Ciel semakin masam.
"Tapi anda pun mempunyai kelebihan dalam bidang berpikir. Tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan anda dalam bermain catur atau game strategi lainnya. Selain itu, bukankah kemampuan anda dalam menganalisis kasus sangat hebat sehingga menjadikan anda sebagai Ciel Phantomhive, anjing penjaga ratu." Urai Sebastian yang sama sekali tidak membantu Ciel dalam mengembalikan mood-nya.
"Pantas saja dia menolak kumandikan." Gumam Ciel yang masih bisa terdengar oleh Sebastian. Sebastian tidak dapat menahan tawanya demi mendengar keluh kesah tuannya tersebut. Ciel yang mendengar butlernya menertawainya hanya mampu memberikan tatapan death glare sehingga tawa Sebastian pun berhenti.
"My my, tentu saja dia menolak anda memandikannya Bocchan. Semua gadis akan merasa malu jika seorang laki-laki asing melihat tubuh mereka apalagi menyentuhnya." Ujar Sebastian yang membuat pipi Ciel bersemu merah. Ah, kenapa Ciel tidak memikirkan hal simple semacam itu? Pantas saja Kako tadi mengusirnya plus mengatainya sebagai tukang mesum.
"Apakah kau sudah menyiapkan pakaian untuknya?" Tanya Ciel alih-alih sebagai pengalih perhatian.
"Ah, maafkan saya tuan. Tampaknya di rumah ini tidak ada pakaian yang sesuai untuk gadis sepertinya. Mungkin kita perlu pergi ke kota untuk membeli beberapa potong pakaian untuknya." Ujar Sebastian, Ciel hanya mengangguk mendengarnya.
"Baiklah, kita pergi ke kota." Putus Ciel.
…..
"Bisakah kau memberi alasan tepat kepadaku Sebastian, mengapa aku harus menyamar sebagai perempuan seperti ini?" Ujar Ciel dengan kedut sebal didahinya sambil berjalan diantara kerumunan dengan mengenakan dress berwarna pink yang dulu ia kenakan saat menghadiri pesta di kediaman Viscount Druitt. Sebastian menyeringai kecil mendengar omelan Ciel.
"Bocchan, apakah anda tidak ingat tujuan kita untuk mencari pakaian bagi nona kecil? Apa jadinya jika dua orang pria masuk ke dalam toko pakaian wanita? Tentunya akan terlihat lebih wajar jika seorang wanita yang membeli pakaian dengan didampingi butlernya." Sebastian berargumentasi sehingga membuat Ciel terdiam membenarkan, meski dalam hati ia tetap merasa kesal.
Ciel dan Sebastian memasuki sebuah toko pakaian wanita yang terlihat megah dari luar. Sebenarnya, banyak toko pakaian yang berjejer di daerah itu, hanya saja Ciel memilih salah satu yang menurutnya menjual pakaian dengan bahan dan kualitas tinggi. Bagaimanapun Ciel adalah seorang bangsawan yang cukup berpengetahuan tentang fashion serta ahli dalam memilih pakaian yang sesuai namun tetap berkualitas.
"Selamat siang, nona manis." Sapa seorang perempuan penjaga toko ketika Ciel dan Sebastian memasuki toko. Ciel hanya mengangguk singkat dan nyelonong masuk sementara Sebastian mengikuti langkah Ciel dengan terlebih dulu memamerkan senyuman menawannya yang membuat si penjaga merona seketika.
Ciel memperhatikan ratusan potong baju yang dipajang pada manekin ataupun digantungkan pada rak-rak baju. Semuanya tampak indah dan bagus, membuat Ciel cukup kebingungan juga untuk menentukan baju yang sebaiknya diambil. Sampai kemudian matanya menangkap sebuah gaun biru muda eksotik yang dikombinasikan dengan warna pink yang bawahan roknya dibentuk lipit mengembang dengan gambar aneka bunga musim semi.
'Terlihat kalem namun tetap mempesona.' Pikir Ciel lalu mengambil gaun itu.
"Pilihan yang bagus Bocchan." Ujar Sebastian yang sepertinya tidak didengarkan Ciel karena Ciel masih sibuk memilih sweater. Tangan Ciel bergerak seperti tangan seorang pianis, meraba dan merasakan tekstur kain. Beberapa kali kepalanya menggeleng saat dirasanya kain sweater tidak tepat, agak panas, atau benang rajutannya sedikit kasar. Sementara Sebastian yang melihat kesibukan bocchannya itu, diam-diam tersenyum sehingga membuat semua pengunjung wanita di toko tersebut menghentikan aktifitasnya untuk sekedar cuci mata melihat butler yang so damn hot itu.
Setelah Ciel mendapatkan beberapa potong baju yang terdiri dari gaun, sweater, dan piyama, kini ia beranjak menuju tempat pakaian dalam wanita. Sampai disini, Sebastian tidak ikut masuk. Bagaimanapun dia cukup sadar diri dengan eksistensinya sebagai seorang pria yang tidak boleh seenaknya memasuki tempat yang menampilkan pakaian-pakaian privasi seorang lady.
Ciel tampak bengong melihat aneka pakaian yang disuguhkan. Berbeda dengan yang tadi dimana ia bisa berpikir jernih saat memilih pakaian, sekarang hasratnya seolah yang menuntunnya untuk mengambil pakaian-pakaian minim bahan itu. Ciel berdiri mematung di depan sebuah manekin yang memajang pakaian dalam berwarna gelap transparan dengan dihiasi renda dan pita berwarna pink. Pipinya memerah saat membayangkan Kako dihadapannya memakai pakaian seperti itu, pasti akan tampak sanngaaaat menggoda.
"Pakaian itu cocok untuk anda, nona. Apakah anda akan berbulan madu?" Ujar sebuah suara yang membuat Ciel tersentak. Seorang gadis pelayan menegurnya sambil tersenyum manis, ralat senyum bisnis, Ciel sangat tahu itu.
"Jadi, pakaian ini cocok saat melakukan bulan madu?" Ulang Ciel yang dibalas anggukan semangat sang gadis pelayan. Pipi Ciel memerah saat tanpa bisa dicegah, pikirannya memunculkan imajinasi liar dimana ia dan Kako melakukan "sesuatu" yang biasanya disebut dengan istilah Honeymoon. 'Keep focus, Ciel!' Gerutu Ciel sambil menggelengkan kepala pelan, mengusir imajinasinya.
"Anda akan 'berbulan madu' dengan pria tampan di sana itu kan?" Ujar si gadis pelayan sambil menunjuk Sebastian yang dikerubungi para ladies, kebanyakan tampak sebagai bangsawan. Tentu saja karena ini adalah toko pakaian perempuan yang ternama. Bola mata Ciel melebar mendengar pernyataan gadis tersebut. 'What the hell!' batin Ciel misuh-misuh saat ia dituduh akan melakukan 'itu' dengan butlernya. Hello, Ciel masih lelaki normal. Salahkan saja dress pink dan wig panjang berwarna abu-abu yang dikenakannya yang membuatnya dikira sebagai perempuan betulan.
"Ehemm, saya rasa saya lebih menyukai pakaian yang lebih sederhana namun tetap terlihat modis." Ujar Ciel sambil mendehem berat.
"Ah, begitu , tiap wanita mempunyai selera masing-masing." Ujar si pelayan lalu memberikan privasi kepada Ciel untuk memilih-milih. Cielpun mengambil beberapa potong pakaian dalam plus korset yang sekiranya sesuai dengan ukuran Kako dan tidak terlalu tampak 'wah'. Berikutnya, ia bersama Sebastian menuju ke kasir untuk membayar semua pakaian tersebut.
"Anda membutuhkan waktu cukup lama berada di tempat pakaian dalam wanita, Bocchan." Ujar Ciel saat mereka berjalan kembali ke mansion mereka. Ciel menaikkan alis, tampak kesal sekaligus sedikit merona secara bersamaan.
"It's hard to choose, Sebastian." Ujar Ciel singkat.
Sesampainya di mansion, Ciel mendapati Kako sedang duduk manis di meja makan masih mengenakan piyama putihnya. Semua makanan di meja makan tampak utuh, belum tersentuh sedikitpun sehingga membuat Sebastian menaikkan alis.
"Maaf, young lady, apakah makanan yang saya buat tidak sesuai selera anda?" Tanya Sebastian sopan.
"Tidak. Bukan hanya menunggu kalian berdua." Ujar Kako lalu tersenyum manis. Entah sejak kapan Kako sudah merasa tidak takut lagi pada dua iblis itu.
"Menunggu kami?" ulang Ciel sambil meletakkan kantong coklat berisi belanjaannya mengangguk.
"Ya, bukankah kalian belum makan?" Ujar Kako sambil memiringkan kepala.
"Iblis tidak membutuhkan makanan manusia, Miss Misquerlentz." Jelas Sebastian.
"Karena makanan iblis seperti kami adalah jiwa manusia." Lanjut Ciel lalu menyeringai menatap Kako, membuat Kako sedikit berjengit namun kemudian kembali ke sikap tenangnya.
"Apakah kau merasa takut?" Tanya Ciel seraya memaku tepat bola mata berwarna coklat caramel teduh itu dengan matanya yang berwarna merah berkilat menyala. Kako menggeleng, balas menatap Ciel dengan berani. Sementara Sebastian yang memperhatikan, menyunggingkan senyum penuh ketertarikan.
"Tidak. Kalaupun kau ingin memakan jiwaku, pastinya kau tidak perlu menyelamatkanku." Balas Kako.
"Jangan terlalu berharap, Kako. Karena bisa saja aku menunggu saat yang tepat untuk menyantap jiwamu itu." Ujar Ciel sembari tertawa kecil ala iblis. Kako hanya bergeming, mengalihkan pandangannya sebentar sembari menghela napas.
"Then. . . jika itu yang akan terjadi, apakah aku harus mengeluhkan takdirku?" Ujar Kako tanpa keraguan sedikitpun. Ciel dapat dengan jelas mendengarnya dan itu membuat sesuatu dalam dirinya menggelora. Bau jiwa yang sangat murni . . . Rasa jiwa yang sangat manis . . . menggoda dan memikatnya.
"Baiklah, saya rasa, sekarang adalah waktu bagi milady untuk menyantap sarapannya, Bocchan." Ujar Sebastian, memutus percakapan Kako dengan Bocchannya. Ciel tidak mengeluarkan sepatah katapun, hanya melenggang pergi meninggalkan ruang makan dengan terlebih dahulu menatap Kako dengan tatapan memicing.
"Maafkan ucapan Bocchan saya, milady." Ujar Sebastian seraya menyilangkan tangan kirinya di menatap Sebastian dengan mata bulatnya, "Mengapa anda meminta maaf Tuan Sebastian?" Tanya Kako lugu. Sebastian tertawa kecil melihat wajah lugu gadis satu ini.
"Karena ucapan Bocchan mungkin sedikit melukai perasaan anda, milady. Dan tolong jangan panggil saya tuan. Karena saya hanyalah seorang butler iblis. Cukup panggil saya dengan Sebastian."
Kako mendengarkan Sebastian penuh perhatian meskipun tangannya sibuk memotong sebuah cake lalu menelannya.
"Tidak masalah, Sebastian. Karena entah mengapa, aku merasa akan baik-baik saja."Ujar Kako lalu tertawa ceria.
"Wow, semua makanan ini luar biasa, Sebastian." Puji Kako yang dibalas Sebastian dengan senyum tipis.
"Ah, milady." Pekik Sebastian tiba-tiba.
"Ya?" Kako menghentikan acara makannya dan meletakkan sendok beserta garpu di sisi piring.
"Bocchan membelikan beberapa pakaian untuk anda kenakan." Ujar Sebastian seraya memungut kantong coklat yang berada di atas meja dekat jendela.
"Bocchan sendiri yang memilihnya dan ia memilihnya dengan serius." Urai Sebastian lalu menyerahkan kantong belanjaan yang dibawanya kepada Kako. Kako menerimanya dengan hati-hati, agak bimbang namun tetap mengucapkan terima kasih kepada Sebastian.
"Jangan berterima kasih pada saya, milady." Ucap Sebastian yang membuat Kako tersadar kepada siapa seharusnya ia berterima kasih.
. . . . . . . .
"Ciel?" Ciel menoleh pada sebuah suara feminim lembut yang berada di belakangnya. Tampak Kako memasuki ruangan perpustakaan dimana ia berada sekarang. Mata Ciel membulat melihat Kako tampil dalam balutan gaun berwarna biru yang tadi ia beli. Kako tidak hanya terlihat cantik, tetapi indah atau bahkan . . .sempurna. Segala yang ada pada diri Kako membuat gaun biru itu tampak lebih hidup.
Kako berjalan semakin mendekati Ciel lalu berhenti kurang dari satu meter di depan Ciel. Membuat hati hitam Ciel berdetak lebih cepat, membangkitkan kehidupan yang sebelumnya mati.
"Terima kasih untuk bajunya." Ucap Kako dengan tulus seraya tersenyum kecil pada Ciel yang lebih tinggi beberapa centi darinya.
"Jangan berpikir macam-macam, apalagi mengira aku akan berbuat baik padamu." Ujar Ciel yang sebenarnya sangat jauh dari apa yang ingin dikatakannya. Ciel tidak ingin mengatakan hal itu. Ciel tidak ingin mengatakan sesuatu ataupun melakukan hal yang menakutinya. Tetapi entah kenapa, bibir dan tindakan Ciel tidak bisa diajak berkompromi. Ciel selalu berbuat hal yang membuatnya tampak seperti iblis yang bisa menyakiti siapapun. Apakah ini efek dari menjadi seorang iblis?
Di luar dugaan Ciel, Kako malah mengembungkan pipi chubby-nya, sama sekali tidak merasa takut terhadap gertakan Ciel.
"Tapi kenyataannya kau memang berbuat baik padaku dan aku hanya ingin berterima kasih." Ujar Kako sedikit memberi penekanan pada ucapannya.
"Terserah kau saja." Ucap Ciel seakan tidak peduli dan duduk bersila di atas lantai beralaskan karpet dimana banyak sekali buku dan artikel berceceran mengelilinginya. Kako menghela napas panjang, membiarkan Ciel berkutat dengan kesibukannya sendiri. Sementara gadis itu kemudian beranjak menuju deretan rak buku, tampak tertarik mengamati dan membaca-baca beberapa buku yang kebanyakan berusia tua namun terlihat terawat rapi. Diam-diam, Ciel memperhatikan Kako dari celah-celah buku yang tersusun. Bagaimana gadis itu berjalan pelan dari satu rak buku ke rak yang lain. Rambut panjangnya yang berwarna sehitam malam bergerak lincah seiring dengan gerakan tubuhnya. Wajah manisnya yang terlihat serius membaca, tangan mungilnya yang membolak-balik halaman, serta bibir mungilnya yang berwarna merah delima, membuka menutup saat bergumam membaca bacaan. Ciel tidak tahu mengapa, tetapi ia seakan tidak bisa melepaskan pandangannya dari seorang gadis yang saat ini berada dalam satu ruang dengannya.
"Misquerlentz" Gumam Ciel pelan saat mata merah Ciel menangkap sepotong kliping yang terdapat kata 'Misquerlentz' di dalamnya. Memang, tujuan Ciel ke ruang perpustakaan pribadinya ini adalah karena ia ingin mengetahui siapa Kako sebenarnya. Ciel merasa tidak asing dengan marga Misquerlentz yang dimiliki Kako. Ia merasa familiar dengan kata itu entah dimana ketika ia masih sebagai Queen's Watch Dog.
Kako berada cukup jauh dengan Ciel. Gadis berambut hitam lembut itu duduk dengan tenang di kursi dekat jendela sambil membaca buku karangan Shakespheare sehingga ia tidak tahu apa yang dilakukan Ciel sekarang.
Ciel membaca sepotong artikel tersebut, mencermati sebuah foto hitam putih yang agak buram namun masih bisa diidentifikasi.
'Pembantaian terjadi di kediaman Misquerlentz. William Misquerlentz dan istrinya ditemukan tewas dalam mansion mereka yang terbakar. Sementara putri mereka menghilang tanpa jejak dan belum ditemukan sampai berita ini turun. Mengingatkan pada kejadian serupa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu di kediaman Phantomhive.' Begitu kalimat singkat yang tertera di bawah foto bergambar mansion mewah yang terbakar hebat.
"William Misquerlentz." Gumam Ciel lagi sambil memejamkan mata, mencoba mencari keping memori yang coba diingatnya. 'Ah, aku ingat.' Pikir Ciel kemudian sambil membuka mata dan saat itu, ia melihat Kako yang masih duduk manis sambil menghayati buku ceritanya. Sejenak, raut wajah Ciel berubah sendu. Ia ingat bahwa William Misquerlentz adalah sahabat karib ayahnya dulu. Jika ayahnya bekerja sebagai Queen's Watch dog yang memberantas kejahatan di balik layar atas titah Ratu, maka William adalah orang yang memperjuangkan keadilan secara terang-terangan sebagai hakim yang selalu menghukum setimpal tiap pelaku kejahatan berat.
Meski Ciel tidak pernah bertemu langsung dengan William, semasa ia menggantikan jabatan ayahnya sebagai Queen's Watch dog, tetapi banyak berita baik tentang orang itu. Masyarakat Inggris banyak yang menyukainya, begitu pula dengan keluarganya. Istrinya yang orang Jepang juga mendapat tempat di mata publik sebagai aktivis perjuangan hak-hak kemanusiaan. Keluarga Misquerlentz juga dikenal sebagai keluarga yang sangat religius dan tidak pernah terlibat skandal sehingga semakin menambah citra di kalangan masyarakat. Dan ketika tiba-tiba terdengar berita bahwa keluarga Misquerlentz dibantai dan mansion mereka dibakar, maka gemparlah publik Inggris ketika itu. Apalagi kejadian itu berselang sekitar tiga tahun dari peristiwa yang terjadi di kediaman Phantomhive. Namun anehnya, ketika itu, Ratu tidak meminta Ciel untuk mengusut kasus tersebut, justru memberinya kasus tentang anjing iblis yang meneror sebuah desa terpencil.
'Pantas saja anak mereka seperti dia' Pikir Ciel sambil tersenyum kecil menatap Kako yang tertawa geli pada burung gereja yang hinggap di pangkuannya.
'Dia tidak jauh berbeda denganku. Hanya saja, dia putih dan aku hitam.'
Ciel bangkit dari posisi duduknya, mendekati Kako yang masih tampak bercanda dengan burung kecil di pangkuannya. Burung gereja itu terbang ketika merasakan bayangan gelap yang semakin mendekat. Kako yang menyadari kehadiran seseorang didekatnya, reflek mendongakkan wajah, mendapati Ciel yang sedang menatapnya.
"Ciel?" Ujar Kako yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Ciel. Ciel tersentak sebentar, lalu mengulurkan sebuah kliping berisi potongan Koran usang yang berada di genggamannya pada Kako.
"Aku menemukan ini." Ujar Ciel saat Kako menerima pemberiannya. Kako tertegun sebentar, membaca berita yang memuat tentang masa lalu indahnya yang terbakar habis di dalam lautan api merah. Sepintas, Ciel melihat raut wajah Kako yang berubah murung.
"Aku bahkan hampir lupa wajah mereka." Lirih Kako sambil menyentuh potret kedua orangtuanya dengan ujung jarinya.
"Kau tidak mempunyai tempat untuk pulang?" Tanya Ciel yang dibalas anggukan lemah Kako.
"Kau bisa tinggal disini kalau kau mau dan . . . kalau kau tidak keberatan untuk hidup dengan iblis sepertiku." Ujar Ciel dengan pipi sedikit merona. Apa yang diucapkannya seolah merupakan sebuah kalimat lamaran terhadap gadis didepannya.
Kako tertegun sejenak mendengarkan kalimat Ciel barusan.
"Terima kasih." Ujar Kako tulus sambil tersenyum kecil.
Ciel terdiam sebentar. Tanpa disadari oleh Kako, Ciel sudah menundukkan wajahnya, untuk mensejajarkan dengan posisi Kako yang sedang duduk.
"Tetapi, perlu kuperingatkan bahwa aku bisa menyerangmu kapan pun. Bagaimanapun kau adalah mangsaku." Ujar Ciel begitu pelan, berbisik penuh sensualitas. Bibir Ciel bahkan hampir menyentuh telinga gadis yang begitu dekat dengannya. Dan Kako benar-benar shock ketika merasakan sesuatu yang lunak dan basah menjilati cuping telinganya. Lidah Ciel! Lidah Ciel yang begitu cekatan menghantarkan sensasi geli yang aneh, mengingatkannya pada sesuatu yang ia rasakan ketika terlelap tadi.
Kako menahan napas, wajahnya bersemu merah. Bagaimana mungkin dia membiarkan seseorang memperlakukannya seperti ini?
"Menjauh dariku!" pekik Kako sembari mendorong dada Ciel cukup keras. Ciel tampak terkejut dengan perlawanan yang diberikan oleh Kako. Napas Kako tersengal selama beberapa saat, pipinya memerah sempurna membuat Ciel mendapatkan pemandangan yang menarik. Ia gadis yang mudah panik dan sangat naïf meskipun cukup keras kepala juga, pikir Ciel.
"Jangan kekanakan." Balas Ciel sembari tersenyum mencemooh.
"Aku sudah menolongmu, setidaknya berikan aku sesuatu yang menarik sebagai balasan." Lanjut Ciel tanpa mengurangi seringainya.
"You pervert!" Sentak Kako sambil memandang tajam Ciel. Coklat caramel bertemu merah darah, saling beradu menunjukkan ekspressi masing-masing.
"Tentu saja. aku adalah iblis." Balas Ciel dengan tenang. Kako hanya bungkam, tidak ada gunanya ia berdebat dengan iblis sombong di depannya. Dengan langkah menghentak gadis kecil itu berlalu sambil menggumamkan gerutuan-gerutuan pelan. Ciel mengikuti langkah Kako dengan ekor matanya, seringainya terkembang lebar, "My dear Kako, kau akan menjadi milikku cepat atau lambat." Ujarnya saat melihat siluet tubuh mungil gadis itu menghilang dari balik pintu.
.
.
To Be Continued
Umm. . . kayaknya Ciel Out Of character ya? /(_ _) Aduh, maaf. . . Author bikin Ciel jadi agak mesum. w Tapi rated-nya kan emang semi M. . . hehehe
Terima kasih kepada para readers sekalian yang sudah sudi mampir dan membaca, I just hope you like my story, So would you like to sign a review?
Kritik, saran, maupun flame terbuka lebar
