Bittersweet

By : HunHannie

Main Cast : Luhan and Sehun

Other cast : (Chapter ini gak ada cast lain.)

Rated : Masih T

WARNING : Ini FF BoysLove, typo yang bertebaran, plot cerita yang tidak nyamput sama judul, cerita yang membosankan, dan yang lainnya.

Author note : Maaf updatenya lama, maaf juga gak bisa balas riview, maaf juga kalau chapter ini gak nyambung, dan beribu-ribu maaf lainnya dari author, tapi juga beribu-ribu terimakasih untuk reader!

...

*HUNHAN*

Sore itu, hujan deras mengguyur kota Seoul dengan derasnya, termasuk daerah dimana sekolah Luhan berada. Hujan bahkan lebih deras disana. Angin berhembus kencang dan banyak petir yang menyambar saling menyahut.

"Err... Hujannya deras sekali." Luhan berkata seraya menggosok kedua telapak tangannya lalu menempelkan kedua telapak tangan itu dikedua pipinya yang sedikit memerah, bermaksud untuk membuat tubuhnya lebih hangat.

Luhan melirik ke kiri dan ke kanan dan tidak menemukan siapa-siapa. Desahan panjangpun meluncur mulus dari bibirnya.

Teman-teman Luhan sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Mungkin kalau Luhan tidak menuruti permintaan Baekhyun yang ingin belajar bersama dengannya di perpustakaan, Luhan pasti sudah duduk nyaman dirumahnya dengan semangkuk ramen hangat kesukaannya.

Dan sialnya, sahabatnya itu malah meninggalkan Luhan sendirian dengan pergi bersama pacarnya yang bersekolah disekolah yang berbeda. Kalau tidak salah, namanya itu adalah Park Chanyeol. Ah! Persetan dengan nama pacarnya Baekhyun. Luhan harus memikirkan cara lain agar bisa pulang tanpa harus repot-repot berbasa-basah ria dengan petir yang siap kapan saja menyambar tubuhnya. Hei! Luhan tidak mau mati muda, terlebih mati karena tersambar petir. Itu pasti akan sangat menyakitkan.

Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin Luhan bisa meminta Kris menjemputnya dan ia tidak usah repot-repot kehujanan karena mobil sport merah milik Kris. Tapi sayangnya Luhan masih ngambek pada Kris. Dan Luhan termasuk orang yang menjunjung tinggi harga diri. Mau ditaruh dimana kalau Luhan yang ngambek tapi ia sendiri yang datang pada Kris. Itu pasti akan membuat kakaknya itu tertawa mengejeknya.

"Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Aku ingin pulang..." Kata Luhan lirih. Sungguh Luhan tidak bohong. Luhan benar-benar ingin pulang, Karena sejak tadi, tubuhnya sudah menggigil kedinginan dan perutnya juga sudah keroncongan.

Tap tap tap

Suara derap langkah samar membuat tubuh Luhan menengang takut. Pikiran-pikiran tentang hantu sekolahpun berseliweran dikepalanya. Setelah hujan sekarang hantu. Hari ini benar-benar hari sial bagi Luhan.

Tap tap tap

Suara itu semakin mendekat. Luhan sudah mulai meringkuk disudut ruangan. Tubuhnya bergetar ketakutan. Kalau boleh memilih, Luhan lebih baik berhadapan dengan harimau dari pada dengan hantu. Sumpah! Demi apapun Luhan takut sekali pada hantu.

"Eh?"

Suara seseorang membuat Luhan mengedipkan matanya beberapa kali. Setelah itu iapun mendongkakkan wajahnya dan mendapati seorang namja dengan pakaian kasual yang terlihat sedikit basah.

"Se-sehun-ah?" Luhan mencoba memastikan kalau namja yang baru saja ditemuinya itu memang benar-benar Sehun. Luhan takut itu bukan Sehun yang asli. Bisa saja itu hantu yang menyamar menjadi orang yang selama ini menjadi cinta pertamanya.

"Lu-Luhan-ssi?" Sehun menyahut panggilan Luhan. Gelagatnya anehnya membuat Luhan memiringkan kepalanya karena bingung. Bagaimana tidak aneh? saat ini tubuh Sehun bergerak-gerak aneh seperti sedang ketakutan. Hei! Bukankah tadi Luhan yang ketakutan? Tapi kenapa sekarang malah namja itu yang ketakutan? Apa Sehun juga memikirkan hal yang sama seperti apa yang dipikirkan oleh Luhan?

"Syukurlah! Akhirnya ada orang yang bisa kumintai tolong." Luhan berseru bahagia. Ia menyempirkan tas dipunggungnya dan menghampiri Sehun yang malah melangkah mundur.

"Ke-kenapa kau bisa ada disini, Luhan-ssi?" Tanya Sehun dengan suara yang gagap.

"Aku... aku tadi habis belajar bersama dengan Baekhyun. Tapi dia meninggalkan aku dan aku terlalu asik membaca di perpustakaan. Dan akhirnya aku tidak bisa pulang karena hujan." Jawab Luhan dengan jujur.

Sehun tampak bersikap biasa lagi. Ia sudah mencoba untuk mengatur detak jantungnya yang lagi-lagi berdetak kencang juga kegugupannya saat bersama Luhan. Kakinyapun ia langkahkan mendekati Luhan yang masih berjarak beberapa langkah darinya.

"Luhan-ssi, kalau kau mau, aku akan mengantarmu pulang." Kata Sehun setelah berdiri tepat didepan Luhan. Meski rasa gugupnya sudah hilang, tetap saja Sehun masih belum bisa menatap langsung mata serupa mata rusa milk Luhan yang selalu bisa membuatnya terpesona.

"Benarkah?" Luhan bertanya dengan binar senang dikedua matanya.

Sehun mengangguk sebagai jawaban.

"Terimakasih, Sehun-ah." Luhan berterimakasih seraya meremas baju bagian depan yang dipakai Sehun.

Sehun terkejut dengan sentuhan tiba-tiba dari Luhan. Ia ingin tangan itu lepas dari tubuhnya kalau saja tidak merasakan kalau remasan Luhan dibajunya terasa bergetar.

"Luhan-ssi? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sehun sedikit panik. Ketika Sehun mencoba untuk menatap Luhan, ia melihat kalau wajah yang biasa seputih susu itu terdapat rona merah yang sangat kentara. Mata indah Luhan juga terlihat sayu, dan Sehun bisa merasakan dengan jelas kalau nafas Luhan tersendat-sendat.

"Aku tidak apa-apa." Luhan menyahut perkataan Sehun. Namun remasan dibaju Sehun terlepas dan tubuhnya merosot tiba-tiba. Jika saja Sehun yang entah sejak kapan punya refleks yang cepat tidak menangkap tubuh itu, tubuh ringkih Luhan akan membentur lantai.

"Astaga! Kau demam."

Sehun terlihat panik. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau mendapati temannya sendiri tiba-tiba demam parah dan akan pingsan.

"Aku tidak apa-apa." Luhan masih berusaha terlihat kuat. Padahal kenyataannya kepalanya sangat pusing dan matanya sudah sangat berat. Luhan hanya tidak ingin terlihat manja didepan Sehun.

"Apanya yang tidak apa-apa? Kau jelas-jelas demam dan suhu tubuhmu tinggi sekali."

Luhan tersenyum tipis. Rasanya senang sekali melihat Sehun khawatir padanya.

"Eh... Sehun-ah, apa yang kau lakukan?!" Luhan terpekik kaget saat Sehun tiba-tiba mengangkat tubuhnya hingga ia sukses berada dalam gendongan pemuda itu.

"Aku akan membawamu ke rumah sakit." Kata Sehun terdengar sangat manly.

Luhan menatap Sehun sekilas kemudian menggeleng pelan. "Aku tidak mau ke rumah sakit. Bau obat disana membuatku mual, Sehun-ah." Ungkapnya dengan suara pelan.

"Lalu kemana aku harus membawamu kalau bukan ke rumah sakit? Bukankah orang sakit itu harus dibawa ke rumah sakit." Balas Sehun dengan polos.

Luhan tertawa ditengah rasa sakit yang mendera kepalanya. "Aku hanya demam, tidak perlu dibawa ke rumah sakit."

"Lalu aku harus membawamu kemana? Bagaimana kalau ke rumahmu saja? keluargamu pasti khawatir."

Luhan menggeleng lagi. "Jangan ke rumah sakit ataupun ke rumahku. Aku sedang marahan dengan Kris."

Sehun merasa hatinya ditusuk tombak. Jadi selama ini Luhan tinggal bersama Kris? apakah hubungan mereka sudah sejauh itu? pikirnya begitu sedih.

"Baiklah. Kalau dibawa ke rumahku, apa kau tidak keberatan?" tanyanya sembari berusaha menahan denyut sakit dihatinya. Sehun patah hati, entah sudah yang keberapa kali.

Luhan semakin memerah mendengar kalimat barusan. Binar senang jelas terlihat dimatanya.

"Benarkah? Apa aku tidak merepotkan?" Tanya Luhan.

"Tidak. Kau tidak akan merepotkan aku." –Lagipula apa sih yang tidak untukmu, Luhan?

Karena terlalu senang, tanpa sadar Luhan memeluk leher Sehun begitu erat hingga membuat Sehun merasa akan pingsan.

"Err- Luhan-ssi, apakah kita bisa berangkat sekarang? Rasanya tanganku mati rasa karena menggendongmu terlalu lama." Ucap Sehun berpura-pura kerepotan. Padahal kenyataannya ia berusaha mempertahankan kesadarannya dan tidak pingsan lagi seperti kemarin. Kemarin itu kejadian yang sangat memalukan, dan Sehun bersumpah tidak akan pernah pingsan lagi hanya karena kegugupannya yang disebabkan oleh Luhan yang teralu dekat dengannya.

"Maaf, maafkan aku. Lagipula aku bisa jalan sendiri. Kau tidak usah menggendongku seperti ini, aku membuatmu kerepotan." Kata Luhan. Nada sudaranya sedikit kecewa.

"Tidak, aku tidak kerepotan. Demammu semakin tinggi, Luhan-ssi, lebih baik kita bergegas."

Sehun benar. Luhan terlalu asik berbicara dengan Sehun hingga tidak menyadari kalau suhu tubuhnya semakin tinggi dan pusing dikepalanya juga semakin sakit. Tapi Luhan tidak perlu khawatir karena ada Sehun yang menjaganya sekarang.

"Ba-baiklah. Tapi kalau kau tidak kuat, kau bisa menurunkan aku." Sahut Luhan.

Rasanya nyaman sekali disini. Pikir Luhan seraya menenggelamkan kepalanya didada Sehun.

Astaga! Kalau terus seperti ini Sehun akan benar-benar mati muda karena gugup. Padahal tadi ia baru saja patah hati, tapi melihat wajah damai Luhan yang tertidur dalam gendongannya membuat rasa sakit yang tadi melanda hatinya menghilang.

"Aku akan selalu berusaha menjagamu, Luhan-ah. Kau orang yang kucintai. Apapun akan aku lakukan untukmu." Bisik Sehun setelah yakin kalau Luhan sudah tertidur pulas. Sehun tidak mungkin membisikkan hal itu saat Luhan masih terjaga. Bisa-bisa Luhan mengadukan hal iu pada Kris dan Sehun pasti akan hancur digiling oleh Kris.

Langkah demi langkah Sehun lalui dalam keheningan bersama Luhan dalam gendongannya. Raut bahagia jelas terlihat diwajahnya.

Bisa dikenal oleh Luhan adalah sesuatu yang sangat ia inginkan sejak dulu. Apalagi sekarang Sehun sudah bisa berinteraksi dengan Luhan. dulu ia hanya bisa melihatnya dari jauh, tapi sekarang ia sudah bisa berdekatan ataupun menyentuh orang yang dicintainya. Meski hanya dalam kesempatan yang tidak disengaja, tapi Sehun sudah sangat senang.

Dengan sangat hati-hati, Sehun membaringkan Luhan dikursi penumpang dimobilnya. Menyelimuti tubuh itu dengan jaketnya kemudian mencuri ciuman dikeningnya.

"Kita akan segera sampai dirumahku. Aku mohon bertahan, ya, Luhan-ah." Bisiknya setelah ciuman lembut dikening Luhan. Kemudian duduk dikursi kemudi mobilnya dan mulai membelah hujan dalam keheningan.

*HUNHAN*

Angin pagi yang masuk melalui celah jendela yang terbuka membuat tubuh itu menggeliat tidak nyaman. Tangan yang ramping itu kemudian mencarik selimut agar menutupi tubuhnya hingga leher kemudian melanjutkan tidurnya lagi. Tapi sinar mentari yang masuk bersama angin membuat kelopak matanya mengerjap beberapa kali hingga terbuka sepenuhnya. Mata cokelat terang digosok beberapa kali oleh sang empunya, hingga mata itu menangkap suasana kamar yang sama sekali tidak dikenalinya.

"Aku dimana?" Luhan bertanya pada dirinya sendiri. Matanya bergulir kesana kemari, mencoba menemukan sesuatu yang bisa dikenalinya. Namun nihil, pemuda itu sama sekali tidak menemukan sesuatu itu.

Kamar yang bernuansa biru muda dengan sebuah meja belajar yang terdapat beberapa buku, satu lemari besar, tv yang lumayan besar juga satu set rak yang isinya beberapa DVD itu membuat Luhan mengernyit.

"Aku dimana?" Tanyanya lagi.

PUK

Sesuatu yang jatuh dari atas kepalanya membuat Luhan kaget. Ia mendapati sebuah handuk putih yang dilipat beberapa kali. Kemudian Luhan menyentuh handuk dan semakin mengernyit bingung saat tahu kalau handuk itu sedikit basah.

"Benar juga..." Wajahnya memerah.

"Semalam aku demam dan bertemu dengan Sehun." Katanya semakin memerah.

Luhan baru ingat kalau semalam ia bertemu dengan Sehun dan Luhan yakin kalau namja itu membawanya ke rumah Sehun. Dan Luhan juga yakin kalau kamar ini adalah kamar Sehun.

"Apa aku benar-benar dikamar Sehun?" Tanyanya lagi-lagi pada diri sendiri. Senyum lebar langsung terpampang diwajahnya saat mendapati sebuah bingkai foto yang lumayan besar terpasang rapi di dinding yang berada didinding didepannya. Foto itu berisikan seorang anak kecil dengan senyum manis yang Luhan yakini kalau itu Sehun.

"Dia lucu, ya?" Gumamnya.

Luhanpun menyibak selimutnya dan memutuskan untuk beranjak dari kasur yang tadi ditempatinya. Saat kakinya sudah menapak lantai, tubuh Luhan sedikit limbung karena tiba-tiba merasakan pusing dikepalanya. Ternyata Luhan belum sepenuhnya sembuh.

Iapun memutuskan untuk merapikan tempat tidur itu, namun berhenti karena baru menyadari kalau ia memakai sebuah piyama biru yang sangat longgar ditubuhnya.

"Astaga!" Pekiknya panik. "Apa Sehun yang menggantikan bajuku dengan baju ini? Sehun pasti melihat tubuhku. Ya Tuhan! Aku malu." Ucapnya sedikit heboh dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajah merahnya.

"Tidak tidak! Jangan berpikiran jorok. Sehun sudah baik menolongmu, kau harus membalas budinya, Luhan." Katanya pada diri sendiri. Luhanpun meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia merapikan ranjang Sehun yang sedikit berantakan kemudian membenarkan celananya yang sedikit merosot saking longgarnya.

"Kamarnya sangat rapi untuk ukuran seorang pemuda." Gumam Luhan seraya meneliti isi kamar Sehun yang memang sangat rapi. Kalau dingingat-ingat, kamar Sehun dan kamar Kris jauh sekali bedanya. Setiap hari kamar Kris itu selalu terlihat seperti kapal pecah, dan Luhan pasti akan menghabiskan waktu satu hari hanya karena membereskan kamar kakaknya itu. Eh? Kenapa Luhan jadi membeda-bedakan kamar Sehun dan kamar Kris?

Luhanpun memutuskan untuk melupakan hal itu kemudian memasuki kamar mandi yang menyatu dengan kamar Sehun. Ia berniat membasuh mukanya agar lebih terlihat segar dan menarik jika nanti Luhan bertemu Sehun.

Setelah dirasa sudah rapi, Luhanpun memuskan untuk keluar kamar dan berniat menemui Sehun. Tapi sebelum itu, Luhan mengeratkan tali celananya agar tidak merosot didepan Sehun. Hei! Luhan pasti akan mati berdiri kalau hal itu terjadi.

"Jadi sebuah apartemen, ya?" Gumam Luhan seraya meneliti setiap sudut ruangan yang baru dimasukinya. "Apartemennya mewah sekali. Apa Sehun itu orang kaya?" tambanya.

Luhan cukup kagum melihat betapa mewahnya apartemen Sehun ini. Semua barang-barangnya terlihat mewah. Mungkin rumahnya juga tak kalah mewah dari ini, tapi cukup membuatnya kaget, mengingat Sehun yang terkesan sederhana disekolah, apalagi Sehun mempunyai pekerjaan paruh waktu yang bisa membuat semua orang salah paham dengan kondisi keuangannya.

Luhan tersenyum. "Sehun memang orang baik yang tidak sombong." Kata Luhan seraya terus melangkah hingga matanya menangkap seseorang yang tengah berdiri dibalkon.

"Apa itu Sehun, ya?" tanyanya.

Luhan memutuskan untuk menghampiri seseorang itu.

"Sehun-ah?" Tanya Luhan tepat setelah ia berdiri diambang pintu balkon yang terbuka.

Orang dihadapan Luhan sedikit terlonjak dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap Luhan.

"Lu-Luhan-ssi? Kau sudah bangun?" Tanya orang itu yang ternyata memang Sehun.

Luhan mengangguk kemudian membungkuk dalam pada Sehun. "Terimakasih banyak sudah merawatku. Aku pasti akan melakukan apapun agar bisa membalas kebaikanmu." Ujarnya.

Sehun kegat setengah mati hingga refleks tangannya menyentuh bahu Luhan dan menegakkan tubuh Luhan. Namun setelah sadar, ia langsung melepaskan tangannya dan mengalihkan wajahnya.

"Ja-jangan seperti itu. sesama manusiakan harus saling tolong-menlong." Ucapnya tanpa menatap Luhan.

"Pokoknya terimakasih banyak, Sehun-ah!" Luhan tersenyum sangat manis hingga matanya tidak kelihatan.

Sehun yang peasaran memutuskan untuk menatap Luhan dan langsung merona saat melihat senyuman itu. Manis sekali! Pekik Sehun dalam hati.

"Sama-sama, Luhan-ssi." Balas Sehun seraya berusaha menghilangkan kegugupannya.

"Sehun-ah, kenapa kau selalu memanggilku dengan panggilan 'Luhan-ssi'? bukankah lebih nyaman kalau kau memanggilku dengan panggilan 'Luhan-ah' atau apapun yang kau inginkan selain panggilan Luhan-ssi itu?" Luhan sedang berusaha membelah keheningan yang melanda mereka.

Sehun terdiam kemudian membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

"Aku hanya berpikir kalau aku dan kau tidak seakrab itu untuk aku memanggilmu dengan panggilan 'Luhan-ah'" Jawab Sehun dengan jujur.

Sehun memang merasa kalau ia dan Luhan itu belum sepenuhnya berteman. Jadi Sehun sangsi untuk memanggil Luhan dengan sebutan yang Luhan inginkan.

Luhan cemberut mendengar jawaban Sehun barusa. Ia mendekat satu langkah ke Sehun.

"Jadi kau berpikir kalau kita belum akrab? Memangnya kenapa kau repot-repot merawatku yang sakit kalau kita belum akrab? Kita adalah teman yang sangat akrab Sehun!" Ujar Luhan sedikit kesal.

"Entahlah. Mungkin itu hanya refleks." Jawab Sehun asal.

Luhan menghentakkan sebelah kakinya. "Aku sudah tidak tahan lagi!" Serunya.

Sehun mengernyit bingung melihat perubahan sikap Luhan. Tapi ia mencoba untuk tetap bersikap santai meski Luhan melangkah cepat kearahnya.

"Kau tahu Sehun-ah? Selama ini aku sangat ingin bisa akrab denganmu. Menjadi teman dekatmu yang bisa melakukan banyak hal bersama." Kata Luhan setelah berada dekat dengan Sehun. Kedua tangannya meremas pelan bagian depan baju Sehun.

Sehun menatap Luhan dengan tatapan penuh tanyanya. Hei! Bukankah Sehun yang seharusnya mengatakan semua itu? kenapa malah Luhan yang justru mengatakan hal itu?

"Aku ingin sekali bersamamu, Sehun-ah. Sudah cukup selama ini aku menahan diri. Aku mencintaimu. Sungguh, aku sangat mencintaimu." Luhan mengucapkan kalimat itu dengan kepala yang menunduk dalam tanpa menyadari raut kaget dari wajah Sehun.

Ini pasti mimpi. Ya! Ini PASTI MIMPI!

Kalau ini didunia nyata, Luhan pasti akan menamparnya karena tahu kalau Sehun telah melihat tubuhnya saat menggantikan baju Luhan kemarin. Lalu Luhan akan mengadu pada Kris dan meminta Kris menghajar Sehun habis-habisan.

Kalau benar ini mimpi, Sehun berharap tidak akan pernah bangun lagi dan menikmati mimpinya ini. Ini benar-benar hal yang diinginkan Sehun. Jadi, Sehun memohon agar tidak akan pernah bangun lagi dan memutuskan untuk hidup bahagia bersama Luhan.

"Maaf... maaf kalau membuatmu jijik, Sehun-ah. Tapi aku benar-benar mencintaimu." Ungkap Luhan lagi. Kalimat-kalimat yang penuh dengan kata cinta terus Luhan ucapkan, namun tidak mendapatkan respon apapun dari namja didepannya ini, hingga Luhan kesal dan memutuskan untuk mengecup bibir tipis milik Sehun. Mengecupnya lama hingga sang empunya bibir melepaskan tautan mereka.

Ini bukan mimpi! Bibir Luhan benar-benar nyata dibibir Sehun! Sehun yakin ini bukan mimpi. Tapi kalau ini bukan mimpi, kenapa semua ini terjadi? Jika ini dikehidupan nyata, Luhan tidak mungkin menyatakan cinta padanya. Oh! Apakah Tuhan sedang mempermainkannya?

"Aku... aku tidak percaya..." Sehun tergagap.

Luhan menangis melihat tatapan Sehun yang seolah ingin membunuhnya.

"Maaf... maafkan aku. Aku tahu ini akan terjadi, harusnya aku tidak mengatakan hal yang membuatmu jijik. Aku... aku pergi saja..."

Luhan berbalik, niatnya ingin pergi meninggalkan Sehun, namun tangannya justru dicekal sehingga ia tidak bisa pergi. Luhanpun menengok dan mendapati Sehun tengah menatapnya dengan pandangan penuh selidik.

"Katakan... katakan hal itu lagi." Ucap Sehun pada Luhan.

Luhan sedikit kaget, namun tetap mengulang perkataan yang tadi diucapkannya.

"Tidak. Bukan yang itu. Katakan kalimat yang paling awal." Kata Sehun lagi. Kali ini terdengar seperti sebuah perintah yang membuat Luhan langsung memutar otak untuk mengingat-ingat kalimat yang ingin didengar oleh Sehun.

"Aku... aku mencintaimu?" Ucap Luhan sedikit ragu.

Sehun tersenyum setelah mendengar kalimat itu meluncur mulus dibibir Luhan. Kemudian menarik tubuh yang lebih kecil darinya itu kedalam pelukkanya. Mendekap erat tubuh itu hingga tidak menyadari kalau Luhan tidak bisa bernafas.

"Aku tidak peduli ini mimpi atau bukan. Tapi aku juga mencintaimu, Luhan-ah." Bisik Sehun tepat disisi telinga Luhan.

Luhan yang sedang memberontak, langsung menghentikan aksinya dan berusaha menatap mata Sehun. "Sungguh?" Tanya Luhan.

Sehun mengangguk, kemudian membiarkan Luhan membenamkan kepalanya didada Sehun.

Luhan merasa sangat senang mendengar Sehun ternyata membalas cintanya. Luhan pikir Sehun akan jijik padanya karena tahu ada seorang namja yang mencintainya. Tapi Luhan juga kaget karena Sehun bisa membalas cintanya.

Luhan tidak peduli. Asalkan Sehun membalas cintanya, Luhan sudah sangat bahagia. tapi tunggu, kalau tidak salah Sehun berkata 'Aku tidak peduli ini mimpi atau bukan. Bla bla bla.' Apakah Sehun berpikir kalau ia sedang bermimpi? Luhan tidak tahu Sehun bisa berpikiran bodoh seperti itu? atau Sehun itu memang bodoh?

"Tunggu, Sehun-ah." Luhan memberikan sedikit jarak antara tubuhnya dengan tubuh Sehun. "Apa kau berpikir kalau kau itu sedang bermimpi?" Tanya Luhan dan langsung dihadiahi anggukan plus wajah polos dari Sehun.

"Yup! Kalau ini bukan mimpi, tidak mungkin kau menyatakan cinta padaku." Jawab Sehun.

PLAK

Tamparan keras Sehun rasakan dipipinya. Dapat terasa dengan jelas rasa sakit dari bekas tamparan yang diberikan Luhan.

"Apa yang-"

"Apa kau masih merasa ini mimpi?"

Sehun terdiam kemudian melotot tak percaya.

"ASTAGA! Jadi ini bukan mimpi? Apa yang harus kulakukan? Ya Tuhan! Aku malu!"

Detik berikutnya Sehun pingsan karena tidak bisa menahan syok yang menimpa mentalnya.

TBC or END?

Pilihan yang harus reader pilih :

A. Cukup dengan chapter ini, yang endingnya gak jelas.

B. Lanjut dengan NC dichapter depan

C. Lanjut dengan isi cerita yang gak jelas lagi tapi tetep HunHan

Oke, cukup sekian dari, saya. Semoga para reader semua cukup terhibur. Dan saya berharap, reader dapat menyempatkan diri untuk ngeriview FF ku ini. Good bye bye!