His Mistress, Meet The Reaper

Chap 3 update! ^-^

Special Thanks for :

Chersygunawan, pulchra1arcanum2

G. Nara: Kyaaa! Senangnya. . . senangnya, ada yang terhibur dengan fict author (^0^) Ugh. . ! Jujur pertama kali publish, author tidak yakin fict ini bakal berhasil karena mungkin terlalu OOC dan author sudah mempersiapkan mental menerima segala flame. Tapi yeah, thank you guys with your review. Its keep me feel comfortable. Really thank you. . . ;)

Kagamine MiCha : Waaahh! Maaf, maaf! Author nggak tahu kalau efek Ciel yang menjadi mesum membuat kamu cengar-cengir seharian. Waduh kalau ortu-mu sampai tahu fict ini, bisa-bisa author di tabok nih gara-gara mencemari pikiran anaknya yang imut dan lucu dengan hal-hal berbau porn. Wah. . . maafkan author sledeng ini! Tapi, terima kasih buat ^-^

Everly De Mavis: Terima kasih untuk sarannya ^-^ Hehe. . . , rated M ya? (author mem-blush)

Sebenarnya author agak bingung menentukan Rated-nya. Apa kira-kira fict ini masih boleh berada di Rated T atau sudah harus ditendang ke rated M -_-a Gimana ya? Perasaan fict ini masih aman-aman saja lagipula sudah author beri peringatan T semi M. Sekali lagi, hanya semi M. Jadi nggak sampai yang melakukan piiip. Ah, tapi mungkin ada sih sedikit piiip tapi Cuma sedikit. SEDIKIT. PiiP

Lagian kan Ciel masih kecil, 13 tahun. Kako bahkan belum genap 13 tahun jadi nggak boleh aneh-aneh ya? Eh, tapi kalau seumpama Tongue kiss itu udah termasuk rated M nggak sih? Arghhh! Author bingung *(0)*

Ya, daripada lama-lama dengerin keluh kesah author langsung saja. . .

New Prey Or New Love

Warning: Ciel x oc.

Rated T semi M. Perhatian! T semi M

Disclaimer: Kuroshitsuji Yana Toboso only

.

.

.

Terdengar langkah menghentak seorang gadis berambut hitam panjang melewati sepanjang koridor. Meski bibirnya cemberut menandakan bahwa ia sedang kesal, tetapi sama sekali tidak menghapus image manis dan cantik pada wajahnya yang segar. 'Memangnya dia pikir dia siapa?! Kurang ajar sekali menyentuhku seenaknya!' Geramnya dalam hati. Masih segar dalam ingatannya bagaimana ketika lidah Ciel yang begitu basah mengulum telinganya. Dan jangan lupakan pula kejadian tadi pagi yang Kako sangat yakin bahwa Ciel juga 'mencari kesempatan' saat ia tertidur.

Sementara bibir mungil Kako terus menggumamkan gerutuan, tiba-tiba matanya yang menatap lantai koridor menangkap sebuah bayangan yang semakin membesar dan seolah menuju ke arahnya. Kako terkesiap, kepalanya meneleng ke samping. Dan gadis itu merasa tidak yakin dengan penglihatannya sendiri.

Merah, warna merah memenuhi kornea mata gadis itu. Mantel merah yang melambai juga helai-helai rambut panjang berwarna merah tua berkibar di angkasa. Mata beriris hijau dengan lingkaran kekuningan di bingkai kacamata nyentrik itu menatap langsung pada sepasang orb caramel yang memperhatikannya dengan raut polos. Seringai lebar di perlihatkan mahkluk merah itu hingga gigi-gigi runcingnya terekspos menakutkan.

Kemudian, mahkluk merah itu melompat dan mendarat dengan elegan pada pagar tepian koridor. Tepat di depan Kako.

"Siapa kau?" Tanya Kako masih dengan nada yang menunjukkan kekesalan setelah kejadian dengan Ciel tadi. Mahkluk merah di hadapannya mengedipkan matanya berkali-kali, mengamati mahkluk mungil di hadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kako yang dilihati seperti itu merasa risih terutama ketika orang berbalut mantel merah yang tidak ia ketahui dengan pasti apa gendernya itu kini menyeringai sinis menatapnya. Lidah panjang makhluk asing berwarna merah itu terlihat jelas ketika ia menjilat bibirnya seperti seekor predator, membuat Kako sedikit bergidik.

"Justru aku yang harus bertanya seperti itu gadis kecil." Ujar Grell dengan tatapan mata meremehkan. Mata bulat Kako memicing, sedikit merasa waspada dengan orang aneh di depannya.

"Oh ya, namaku Grell Sutcliff, kekasih Sebastian." Ujar Grel yang berubah 180 derajat menjadi centil sembari menunjukkan pose lebainya. Kako yang mendengar hal 'tabu' tersebut langsung membatu dan merasa merinding.

"Ke-kekasih Sebastian ?" Ulang Kako sembari meneguk ludah.

"Yup!" Grell memasang pose andalannya. Tangan berbentuk V di dekatkan pada bibirnya yang tersenyum mengerikan karena gigi-giginya yang seperti hiu terlihat jelas.

"Lalu gadis kecil. . ." Grell menggantung kalimatnya, melompat turun dari pagar balkon dan berjalan pelan mendekati gadis beriris coklat jernih itu. Kako beringsut mundur, ia bisa merasakan aura bahaya dari mahkluk yang memperkenalkan dirinya sebagai Grell tersebut.

"Katakan padaku bahwa. . . kau bukan anak Sebastian, Hm?" Grell memojokkan Kako pada dinding koridor, menangkap dagu gadis itu dan memaksanya untuk menatap mata Grell yang cukup aneh. Warna mata hijau kusam dikelilingi kuning tua.

"A-aku. . ." Suara Kako tercekat. Tangan Grell yang panjang mencekik lehernya cukup erat, namun masih bisa membuatnya mengambil napas meski hanya sedikit.

"Katakan bahwa Sebastian tidak meniduri wanita lain dan kau bukan anak hasil hubungan terlarang macam itu." Ujar Grell pelan namun menekan, sama halnya tekanan pada leher Kako. Gadis mungil itu ingin berteriak tetapi tidak bisa. Tangan Grell mencegah tenggorokannya untuk mengeluarkan suara. Hanya erangan kesakitan yang keluar dari bibirnya. 'Dia gila.' Pikir Kako sembari berusaha melepaskan cengkraman Grell dari lehernya.

Tubuh mungil Kako terangkat ke atas membuatnya semakin sulit mendapat pasokan oksigen. Kaki kurusnya menendang-nendang, mengenai Grell namun tidak memberi efek apapun. Grell menyeringai puas melihat mahkluk tak berdaya di tangannya. Ia memang sudah berjanji pada William untuk tidak membunuh mahkluk hidup setelah insiden peristiwa madam Red. Tetapi sekarang ia tidak bisa menahan keinginan itu demi melihat seorang anak yang sepintas memiliki kemiripan dengan Sebastian, iblis super hot yang merupakan pria idamannya.

"Aku akan merasa sangat terhormat untuk membunuhmu, manis." Bisik Grell di dekat Kako yang matanya tertutup setengah. Dalam hati, Grell memuji keuletan gadis kecil itu untuk terus berontak. Tangan-tangan mungilnya mencengkram tangan Grell, berusaha mempertahankan napas kehidupannya. Shinigami merah itu mendecih saat dirasakannya kuku-kuku Kako yang cukup panjang menghujam pada kulitnya.

"You should Go Hell. . .!" Dengan pekikan tersebut, Grell menghempaskan tubuh Kako ke luar balkon tingkat tiga. Sejenak, Kako merasa melayang. Tentu saja karena saat ini ia berada di udara, terhempas tanpa bisa terbang dan tanpa kuasa apapun untuk menolak hukum gravitasi. Sementara Grell meloncat beberapa meter di atasnya dengan sebuah mesin gergaji yang entah sejak kapan berada di tangannya.

"Rest in peace!" Grell berteriak penuh semangat sembari mengayunkan gergaji yang merupakan death schyte-nya. Bunyi mesin pembunuh terdengar mengerikan seiring dengan beradunya roda gerigi yang berputar kencang siap menebas apapun. Kako memejamkan matanya, merasakan kematian kembali memanggilnya untuk ke sekian kali.

"Bbbrrruuuaakkk. . .! Bunyi berisik mesin gergaji yang menakutkan berganti dengan suara keras sesuatu yang seolah bertubrukan. Kako membuka matanya, terkejut saat melihat siluet pria tinggi dengan jas hitamnya sukses menendang Grell jatuh tersungkur keatap. Sedangkan sang pria yang tak lain adalah Sebastian mendarat dengan elegannya beberapa meter dari tempat jatuhnya sang shinigami merah.

Sekilas, Kako melihat Sebastian menyeringai ke arahnya. Seringaian Sebastian tersebut membuat Kako tersadar bahwa ia masih tetap melayang di udara dan mungkin sebentar lagi akan menghantam tanah dengan keras. Apakah Sebastian membiarkannya untuk mati?

Grep!

Kako tak merasakan suatu kesakitan apapun. Sepasang lengan merengkuh tubuhnya, tepat beberapa meter sebelum tubuh mungilnya berbenturan dengan bumi akibat gaya gravitasi. Kako mengerjapkan mata caramelnya beberapa kali, mendapati wajah tanpa emosi milik Ciel yang tengah menatapnya.

"Ci-Ciel?" Ujar Kako dengan suaranya yang bergetar.

"Tubuhmu gemetaran." Ujar Ciel lalu mengangkat tubuh Kako sedikit naik, memposisikan Kako senyaman mungkin hingga kepala gadis itu bersandar pada dada bidangnya. Kako hanya diam, sementara Ciel mulai membawanya berjalan.

"Ba-bagaimana dengan Sebastian?" Tanya Kako kemudian seraya menggerakkan bola matanya, menangkap siluet dua orang yang sedang bertarung di atas atap.

"Tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang Sebastian." Jawab Ciel begitu tenang lalu meloncat dengan mudahnya menuju balkon tingkat dua.

"A-apa? Bagaimana kau bisa setega itu? Ba-bagaimana jika mahkluk merah itu membunuh Sebastian?" Tanya Kako beruntun dan terdengar seperti sedang mengomeli Ciel meskipun tubuhnya masih lemah. Kening Ciel mencetak simpang empat. Sudah cukup baginya bersabar menghadapi sikap Kako yang terlalu sentimentil.

"Oh, diamlah! Berhentilah mengkhawatirkan orang lain dan khawatirkan dirimu sendiri!" Bentak Ciel yang sukses membuat Kako bungkam. Bagaimanapun, Kako dapat mendengar nada cemas dari suara Ciel. Apakah Ciel mencemaskannya?

"Jika kau bertanya lagi. . ." Ciel memberi jeda kalimatnya, memikirkan hukuman terbaik untuk membuat gadis di pangkuannya tidak berisik.

"Aku akan menciummu." Ciel menyeringai mengetahui ancamannya ampuh membuat Kako terdiam dan tampak panik dengan wajah memerah. Tanpa kesulitan apapun iblis muda itu lalu menyusuri lorong-lorong koridor dengan Kako berada di pangkuannya.

"Kau mau membawaku kemana?" Tanya Kako karena sedari tadi Ciel belum juga menurunkannya, membawa tubuhnya melewati lorong-lorong koridor yang sunyi.

"Kau benar-benar ingin kucium ya?" Balas Ciel dengan nada sarkatis. Sebenarnya Ciel tidak keberatan juga untuk melakukan apa yang diucapkannya. Tetapi ia sangat tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk berbuat hal tidak 'senonoh' semacam itu.

"Ta-tapi.. ." Kako hendak melanjutkan kalimatnya tetapi terputus karena Ciel menatapnya intens dengan tatapan 'diam dan menurut saja, atau kucium'. Kako sedikit berjengit takut dan gadis itu hanya bisa pasrah dengan wajah sedikit menunduk, mengamati posisinya saat ini. Tangan Ciel yang kokoh menopang punggungnya dan juga bawah lututnya. Dada bidang Ciel yang begitu dekat dengan wajahnya, menghantarkan aroma citrus meskipun Kako yakin tidak ada detak kehidupan di dalamnya. Sedikit ragu, Kako mendongakkan wajahnya, mengamati wajah Ciel yang mulus seperti porcelain. Mata bulatnya yang biru. Biru itu berbeda dengan warna mata lainnya. Biru itu gelap namun mempesona, seakan Kako terseret pada samudera terdalam yang indah namun menyesatkan. Lalu, bulu mata yang lentik dan panjang, hidung yang sedikit mancung juga bibir agak pucat namun tampak memikat.

"Kau bisa menyukaiku jika terus menatapku begitu." Ujar Ciel dengan wajah stoicnya. Kako yang ketahuan sedang memperhatikan Ciel diam-diam, tampak salah tingkah dan gadis itu pun menundukkan wajahnya. Ah, Apakah Kako tidak tahu bahwa Ciel sedari tadi juga menatapnya lama? Bau wangi lembut lavender dari tubuh Kako begitu akrab di indera penciuman Ciel. Panas tubuh Kako yang menghantarkan hangat pada tubuh dingin Ciel sehingga Ciel betah berlama-lama membawa gadis itu mendekat ke tubuhnya. Wajah Kako yang begitu manis, imut dan. . . polos ditambah dengan mata bulat besar berwarna coklat caramel. Hidung Kako yang kecil dengan bibir yang mungil pula. Bibir mungil yang terlihat penuh, sangat lembut, dan merekah merah delima. Perfect.

"Kau. . . lebih cocok sebagai perempuan." Gumam Kako yang jelas-jelas ditujukan pada Ciel. Ciel mengernyitkan alisnya mendengar ungkapan polos Kako barusan, itu agak melukai harga dirinya sebagai laki-laki. Meskipun ia adalah seorang iblis yang tidak mempermasalahkan urusan gender tetapi ia sepenuhnya berwujud sebagai seorang laki-laki.

"Kau ingin bukti bahwa aku ini seorang lelaki, hm?"

Mata caramel Kako membulat sempurna. Kekhawatiran gadis itu semakin menjadi karena Ciel kini membawanya masuk ke dalam kamar. Apa yang ingin Ciel lakukan padanya?

"Ahk!" Pekik Kako ketika Ciel melemparkannya ke atas ranjang.

"Sakiitt. . ." Rintih Kako saat ia merasakan punggungnya membentur ranjang cukup keras, namun rintihan itu tidak lama karena berikutnya Kako di kejutkan dengan tubuh Ciel yang sudah berada di atas tubuhnya.

"A-apa yang mau kau lakukan?" Tanya Kako, tampak frustasi. Ciel hanya menyeringai, "Diam dan nikmati saja." Lidah Kako terasa kelu. Ciel menatapnya seperti serigala lapar yang menatap seekor anak domba buruannya. Kako berusaha bangkit tetapi Ciel mencengkram erat pundaknya, memaksanya untuk tetap berada di posisinya.

"Whooaahh! Apa yang kau lakukan?!"

"Hh-hentikan. . .!"

"Ahhh. . .!"

"Ci-Cciieelll. . . a-aku thiidaak tahaann. . .!"

"Nngggghhhh. . . Aaaahhhhkkk. . .!"

Suara-suara jeritan yang meminta untuk berhenti serta desahan napas memenuhi kamar luas dengan desain klasik tersebut. Atmospere terasa panas, sama panasnya dengan pergumulan dua mahkluk yang berada di atas ranjang Kingsize.

Ciel menghentikan aktivitasnya sejenak. Simpang empat tercetak didahinya yang berkedut karena Kako terus-terusan memberontak hingga menyulitkannya. Apalagi Kako tidak berhenti untuk menjerit, seolah gadis itu sedang disiksa lahir batin oleh seorang pedofil yang 'memangsanya'

"Kekanakan." Desis Ciel yang disambut deathglare oleh Kako.

"Kau membuatku basah!" tuding Kako tak mau kalah. Ciel menggeleng-gelengkan kepalanya, pusing menghadapi tingkah gadis yang masih ia tahan di bawah tubuhnya.

"Seharusnya kau berterima kasih karena aku menyembuhkannya!" Geram Ciel seraya mengamati leher Kako yang masih menyisakan sedikit memar kemerahan akibat cekikan Grell tadi. Itu jauh lebih baik daripada sebelumnya dimana bekas cekikan itu begitu jelas tercetak mengelilingi leher Kako seluruhnya.

"Kau ingin aku berterima kasih setelah kau melecehkanku?!" Jerit Kako yang membuat Ciel menatap gadis itu jengah.

"Melecehkan? Itu menyembuhkan." Bela Ciel setelah mengatur napasnya sejenak. Well, menghadapi Kako benar-benar menguras kesabarannya dan ia bukan tipikal orang sabar.

"K-Kau menjilati leherku dan itu pelecehan!" Ini sudah kedua kalinya Ciel menikmati lehernya dan itu membuatnya marah sekaligus malu.

Ciel diam sejenak. Wajahnya yang stoic memperhatikan pipi Kako yang bersemu merah dengan desah napasnya yang mulai teratur. Ciel sangat tahu bahwa Kako tipe gadis pemalu, terlihat dari tingkah kikuknya yang memiringkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan Ciel.

"Aku tahu kau menyukainya." Ujar Ciel sembari menyeringai. Kako terlihat gelagapan, Tanpa persetujuan Kako, Ciel kembali menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher gadis itu. Meskipun Kako berontak dan berusaha mendorong Ciel sekuat tenaga, tetapi Ciel lebih kuat mendesak tubuh Kako agar tidak bergerak kemanapun.

"Sedikit lagi." Ujar Ciel sembari menggerakkan lidahnya untuk menjilati sisa-sisa luka di leher Kako. Gadis bersurai gelap itu mengerang pelan sembari menggigit bibir bawahnya. Matanya terpejam erat, terlalu malu untuk melihat apa yang Ciel lakukan saat ini. Lidah Ciel bergerak dengan cekatan, maju mundur memberikan lapisan saliva pada leher Kako yang berwarna putih susu.

"Ci-Ciel. . SShh-sudah." Rintih Kako tanpa bisa menahan desahannya. Desahan dan napas berat Kako seakan melodi merdu yang mengalun di telinga Ciel, membuat Ciel terlalu sayang untuk menghentikannya meskipun leher Kako telah kembali seperti semula. Lidah Ciel masih menari-nari pada leher jenjang milik Kako, memberikan jejak-jejak saliva serta mencecap rasa nikmat yang bisa ia peroleh. Wangi lavender yang merupakan aroma khas tubuh Kako juga panas tubuhnya memberikan sensasi aneh yang begitu nikmat bagi Ciel. Uh. . . Ciel benar-benar ingin 'memakan' gadis ini. Apalagi Ciel bisa merasakan aliran darah pada urat pembuluh di leher Kako. Ciel memang bukan vampire penghisap darah tetapi dari aliran darah tersebut, Ciel bisa merasakan seberapa nikmat jiwa yang mengaliri kehidupan Kako.

Menyadari bahwa ia sudah terlalu keasyikan menikmati 'mangsanya' cukup lama, Ciel menarik wajahnya dari perpotongan leher dan bahu Kako. Gadis itu berusaha mengatur napasnya yang naik turun dengan cepat. Wajahnya merah padam lebih seperti strawberry ranum siap petik namun raut kekesalan jelas terlihat dari pancaran matanya.

"Mesum." Desis Kako sembari mengusap kasar lehernya sehingga telapak tangannya bisa merasakan cairan lengket yang ditinggalkan Ciel di sana.

Mata Ciel membola mendengar ucapan Kako barusan. Nah, lihat. . . betapa tidak tahu dirinya gadis ini. Setelah Ciel berusaha 'menyembuhkannya' ia justru meneriaki Ciel mesum. Meskipun yeah, Ciel akui bahwa ia sedikit mesum tapi harga dirinya sebagai seorang bangsawan bermartabat setinggi langit tentu menolak hal itu mentah-mentah.

"Ck, kau benar-benar membuatku marah, Kako Misquerlentz." Geram Ciel sembari mencengkram kasar kedua bahu Kako yang membuat si gadis meringis kesakitan.

"Mengapa kau melakukan ini padaku?" Ujar Kako kemudian yang membuat Ciel mengangkat alisnya. Cengkraman tangannya pada Kako sedikit mengendur ketika ia melihat mata bulat Kako mulai berkaca-kaca. Ada sesuatu yang terasa mencubit hatinya. Sial! Mengapa ia merasakan hal brengsek semacam ini?!

"Mengapa kau menolongku dari kematian dan memberikanku tempat untuk tinggal tetapi kau juga memperlakukanku seperti mainan yang bisa kau perlakukan seenaknya?" Tanya Kako dengan nada bergetar. Ada kepahitan yang terdengar dari suaranya yang bercampur isakan. Ciel memandang lurus mata Kako yang juga menatapnya dalam. Hei, Kako memang mainannya. Gadis itu Cuma mangsanya yang bisa ia perlakukan sesuka hati, bukan? Jadi mengapa Ciel masih merasakan perasaan 'agak bersalah' yang sekarang terasa menohok dirinya.

". . . Lebih baik kau membunuhku saja." Ujar Kako kemudian tanpa ragu. What the hell she say? Seketika mata merah Ciel membola. Apa yang diucapkan Kako memang benar. Akan lebih mudah jika Ciel membunuhnya lalu menikmati rasa jiwanya, bukankah ia lapar? Aneh, Ciel akhirnya menyadarinya, merasa bodoh juga mengapa ia bersusah payah menjadikan Kako miliknya. Apa karena ia terlalu sayang untuk memakan gadis itu? Seperti halnya anak kecil yang melihat bentuk makanannya begitu menarik hingga tidak sanggup untuk mengambil barang secuil saja makananya. Gah. .! iblis tidak mungkin memiliki rasa sayang. Kalau begitu yang dirasakannya sekarang apa? !

Tetapi, jika diputar kembali dari awal, Ciel sudah menolong Kako secara Cuma-Cuma tanpa ikatan kontrak. Ia tidak segera membunuh gadis itu dan memilih membiarkannya tinggal bersamanya. Ia bahkan memerintahkan Sebastian untuk melayani gadis itu sebagaimana Sebastian melayani Ciel. Ada yang salah. Seorang mangsa tidak akan diperlakukan seperti itu.

Sembari meremat rambut green greyish-nya dengan frustasi, Ciel bangkit dan berjalan menjauh dari tubuh Kako, meninggalkan Kako yang masih terengah di atas ranjang. Mata berwarna madu milik Kako menatap punggung Ciel yang berjalan menjauh ke luar ruangan. Tidak ada yang dikatakan iblis muda itu, namun Kako merasa sedikit lega karena Ciel membebaskannya untuk sekarang.

Ada satu hal yang saat ini dipahami Kako. Ciel sedang kebingungan terhadap dirinya sendiri dan Kako tidak tahu alasan apa yang membuat si iblis berambut kelabu itu tampak depresi. Dan entah mengapa, gadis kecil itu merasa sedih melihatnya. Ada keinginan kuat untuk menolong Ciel dari kegelapannya. Tapi apakah itu mungkin? Bisa jadi justru dialah yang terseret dalam kegelapan bahkan sebelum ia bisa menggapai tangan Ciel. Lagipula, ia hanya manusia biasa sedangkan Ciel. . . Ciel adalah iblis yang bisa kapan saja memakannya.

Sementara itu di atap kastil. . .

Dua orang berdiri pada masing-masing ujung kastil yang agak berjauhan namun berhadap-hadapan. Angin bertiup cukup kencang tetapi tak menggoyahkan mereka sama sekali, hanya sekedar menerbangkan helai-helai rambut juga setelan baju yang mereka kenakan. Sang shinigami menjilat bibirnya, menatap si iblis yang begitu cool dengan seringai iblisnya.

"Aihhh. . . Sebas chan. Kau selalu bisa membuatku merasakan getaran-getaran yang merangsangku." Ujar Grell begitu genit dan mendramatisir sembari mengerlingkan mata yang membuat Sebastian speechless mendadak dengan raut horror.

"Aku tidak keberatan untuk mengandung bayimu." Lanjut Grell yang kali ini sukses membuat iblis super tampan itu ingin muntah.

"Well, sebagai seorang iblis aku sama sekali tidak tertarik dengan hal romantis seperti itu." Jawab Sebastian dengan senyum yang membuat rubinya tertelan sempurna.

"Aku hanya tertarik pada jiwa manusia yang penuh cita rasa." Kali ini Sebastian bergerak maju menggunakan lompatan kaki jenjangnya sembari melayangkan tinju pada makhluk merah di hadapannya. Meski agak tidak siap, Grell bisa mengelak dari serangan Sebastian dengan sebuah gerakan salto ke belakang. Seringai lebar masih terpasang di bibir Grell yang memperlihatkan gigi-gigi runcing menakutkan.

"Jangan bohong, Sebas chan. Lalu gadis kecil berambut hitam itu, apakah dia bukan anakmu? Itu berarti kau melakukan hal 'itu' tanpa sepengetahuanku. Oh, sebby. . . kau melukai hati kecilku yang rapuh." Sang shinigami meraung-raung dengan gaya melankolisnya. Grell masih berada di udara dengan rambut merahnya yang terombang-ambing tersapu angin. Berikutnya, sang dewa kematian balas menyerang sang butler dengan gergaji mesin andalannya.

'RROOOAARR. . .' Bunyi memekakkan telinga dari mesin pembunuh Grell dengan tangkas dapat ditahan Sebastian dengan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan. Dengan sebuah gerakan cepat, Sebastian mendorong mundur gergaji mesin tersebut bersamaan sambil melompat menjauh, bersiap melakukan balasan.

"Sayang sekali gadis itu bukan anakku. Dia adalah mangsa tuanku." Sebastian menyeringai sinis lalu menerjang ke arah sang shinigami dengan tendangan horizontal yang ternyata bisa dihindari Grell sembari meloncat mundur.

"Eh, benarkah?" Tanya Grell sambil memiringkan kepalanya dan bibirnya membentuk angka 3.

"Tapi aku merasakan dia memiliki rasa yang agak sama denganmu. Tapi rasa itu adalah rasa manusia biasa bukan iblis." Jelas Grell. Mata ruby Sebastian memicing.

"Apa maksudmu?"

"Yah, barangkali ia pernah hidup jauh di masa sebelumnya dan memiliki suatu hubungan denganmu. Lalu mengalami reinkarnasi." Jawab Grell mengangkat bahunya. Terdengar bahwa Grell hanya menjawabnya asal namun sepertinya ada kebenaran dalam kalimatnya.

Si Iblis hitam membisu. Seiring dengan angin yang membelai lembut helai rambut sewarna tinta itu, memori masa lalu kembali memanggilnya.

Dulu. . . dulu sekali . . . ia pernah memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan. Bayang-bayang mereka masih kabur bagi Sebastian, meski sekeras apapun iblis itu berusaha mengumpulkan puing-puing kenangan orang-orang yang pernah disayanginya. Mata coklat jernih yang teduh selalu menjadi hal pertama yang ia ingat, kemudian rambut lembut berwarna pirang keemasan. Wajah itu masih terlalu silau, wajah damai istrinya yang menatapnya. Sebastian sudah lupa seperti apa raut istrinya juga anaknya yang ia yakini mewarisi rambut hitam miliknya. Juga. . . bagaimana keduanya meninggal. . . ia lupa sama sekali.

"Grell." Sebuah suara menginterupsi dua orang yang masih berdiam di posisinya. Wajah Grell kontan memucat. Kepalanya terasa begitu berat untuk menoleh ke arah orang yang memanggilnya.

Delima Sebastian melirik ke arah sumber suara dan mendapati dewa kematian lain yang tampak membetulkan letak kacamatanya. Death schyte memanjang seperti galah dengan ujungnya yang menyerupai pemotong tanaman bersandar manis di lengan kiri si shinigami yang baru muncul, sementara tangan kanannya membawa sebuah buku entah apa itu.

"Grell, kau kembali lalai dalam bertugas. Melanggar aturan shinigami untuk tidak menyakiti mahkluk yang masih memiliki kehidupan dan. . . kau diam-diam kemari hanya untuk bertemu. . . iblis macam dia." Jelas William dengan raut tanpa ekspressi sembari membolak-balik buku hitam di tangannya yang kemungkinan besar merupakan buku etiket seorang dewa kematian. Mengakhiri ucapannya, William melirik Sebastian dengan pandangan jijik dan tidak suka. Sementara Sebastian balas memberi shinigami senior itu dengan senyum andalannya yang bermaksud untuk mencemooh William.

"Eh, W-Will. . . I-itu bisa kujelaskan." Ratap Grell sedikit ketakutan ketika merasakan hawa menakutkan dari seniornya yang berjalan mendekatinya. Dari raut non ekspressi milik William, kentara sekali bahwa ia sedang tidak berada pada mood yang baik. Tidak ada alasan apapun bagi seorang shinigami untuk melanggar apa yang telah ditetapkan di buku yang masih setia berada di tangannya.

GLEKH! Grell menelan ludahnya susah payah. William pasti akan memberikan hukuman berat yang melelahkan baginya setelah ini. Seperti misalnya memotongi Cinematic Record dari ratusan korban medan perang hanya dengan menggunakan death schyte gunting kecil. Oh No. .! Bagaimana nasib kuku Grell yang baru beberapa hari lalu ia manicure dengan bantuan Undertaker?! No!

Dan detik berikutnya, shinigami itu hanya bisa pasrah saat William menyeret jubah merah panjangnya untuk segera pergi. Setidaknya itu jauh lebih baik dibanding ketika Will menginjak tubuhnya yang babak belur lalu menarik rambutnya ketika insiden kematian madam Red.

"Good bye, my love Sebby. . ." Jerit Grell dengan gaya puppy eyes-nya sembari memonyongkan bibirnya memberi kiss bye pada Sebastian yang membatu karena merinding.

'BUAGH' Sebuah jitakan keras di kepala merah Grell membuat Shinigami itu mengaduh kesakitan lalu tersenyum kikuk pada William yang masih meyeretnya. Sebastian hanya memandangi kepergian dua dewa kematian itu sambil menghela napas panjang. Sedikit banyak, ucapan terakhir Grell tadi mulai mengusik pikirannya kembali.

Memang benar jika Sebastian dulu pernah menjalani kehidupan normal sebagai manusia. Tapi, ia benar-benar tidak mempunyai gambaran apapun tentang bagaimana kehidupannya dulu bersama istri dan anaknya yang . . . ia pun lupa seperti apa mereka. Ya, dia tidak mempunyai kenangan sebagai manusia. Kenangan. . . Cinematic Record? Tunggu dulu, harusnya ia punya tetapi kenapa ia tak memilikinya? Tentu saja, semua orang memiliki Cinematic Record begitu juga Sebastian ketika ia masih menjadi manusia. Tetapi kenapa sepertinya Cinematic Record-nya itu. . . hilang? Wajah Sebastian sedikit tersentak ketika pemikiran-pemikiran itu mulai berkembang liar di kepalanya.

Dan semua hal yang dipikirkan Sebastian pun terhenti ketika dilihatnya William yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Reaper berkedudukan tinggi itu berhenti sejenak, terlihat seperti mengendus-endus udara. Ada bau familiar yang ditangkap penciuman dewa kematian seperti dirinya.

"Aku tidak tahu jika kau bisa bersikap seperti seekor anjing." Sindir Sebastian dengan seringai mengejeknya. William tidak ambil pusing untuk meladeni omongan iblis berambut hitam itu. Matanya yang dibingkai kacamata hitam kuno melirik sepintas Sebastian sebelum menghilang bersama dengan Grell.

'Bau roh yang tersesat.' Pikir William sembari menyeringai tipis yang tidak diketahui oleh siapapun. Ya, aroma itulah tadi yang sempat tercium indera penciumannya yang sensitive. 'Ini akan menarik. Setidaknya bisa untuk promosi jabatan.' Pikir shinigami senior itu dengan berbagai macam spekulasi rencana yang disusun di otaknya.

TBC

Well, (-_-)a uumm. . . bagaimana pendapat para reader? Apakah chapter 3 ini semakin OOC atau Ge-Je? /( w) aduuhh. . . maaf kalau author bikin seenaknya masa lalu Sebastian yang punya anak dan istri. Wkwkwkw. . . Serius! author juga heran dapat ide darimana. Habisnya Sebastian kayaknya masa lalunya nggak pernah keliatan deh di anime maupun di manga-nya jadi. . . author obrak-abrik aja masa lalunya , heheheh * (Blethak! Ditendang Sebastian. RRoooarr. . . Grell ikutan ngamuk. Hii . . . author kabur)

Oya, Terima kasih banyak kepada para readers yang kebetulan lewat and sudi membaca fict luar biasa geje ini. Arigatou gozaimashita kepada para reviewer, para follower, dan yang udah berkenan mem-fave ^-^

Your Review/ your follow/ your favorite is my spirit to keep writing

Berkenan meninggalkan jejak review ^w^