His Mistress, Kidnapped!

Hai cieru cherry datang lagi *(^0^)* Chapter 4 is Up! Oya, sekilas info (Ehem, ehem) chapter keempat ini mungkin lebih panjang dari chapter-chapter sebelumnya, dan mungkin juga lebih Ge-je dan semakin OOC. Jadi, buat para readers disarankan sabar membaca aja ya. . . Just enjoy the story, Okay? ^-^

Bila ada salah ketik, miss typo dan semacamnya author minta maaf karena 'agak malas' mengeceknya, hehe. Anyway guys. . . Let me reply your review first. Cuz, I really appreciate it! (^-^)b

Special Thanks for :

Hai cieru cherry datang lagi *(^0^)* Chapter 4 is Up! Oya, sekilas info (Ehem, ehem) chapter keempat ini mungkin lebih panjang dari chapter-chapter sebelumnya, dan mungkin juga lebih Ge-je dan semakin OOC. Jadi, buat para readers disarankan sabar membaca aja ya. . . Just enjoy the story, Okay? ^-^

Bila ada salah ketik, miss typo dan semacamnya author minta maaf karena 'agak malas' mengeceknya, hehe. Anyway guys. . . Let me reply your review first. Cuz, I really appreciate it! (^-^)b

Special Thanks for:

Kagamine MiCha : Terima kasih untuk reviewnya ^-^ cieru bingung mau balas kayak gimana tapi ya jawab pertanyaan Mikan aja lah. Iya, Kako memang reinkarnasi anaknya Sebas. . di chapter 5 nanti dimunculin kok asal-usulnya. Ok, sekali lagi terima kasih karena sudah mereview dan mengikuti kelanjutan fict ini :D

Akihiro Gumilenovo : Wah, terima kasih banyak sudah menyukai fict aneh bin ajaib ini. :D Waduh, jangan salahin Ciel donk kalau jadi semi mesum kayak gitu. Ini nie yang mesti disalahkan, author seledeng dengan name pen cieru cherry, wkwkwkw . . .

G .Nara : Yang penasaran sama hubungan Kako and Sebby, sabar dulu ya, nungggu chapter ke 5, hehehe. Psst. . . Fict ini masih boleh dilanjut rated T semi M ya? (hehehe, senyum nista, merencanakan scenario kemesuman Ciel digaplok Ciel ) Arigatou buat reviewnya ^-^

Lucatha : Maaf, maafin author tak tahu diri ini yang seenaknya merubah Ciel jadi rada-rada mesum. Aduh, author jadi serba salah nih. . . Apa tingkat kemesuman Ciel udah di atas Sebby ya? Thanks udah review :

RhaaXSebastian : Thanks a lot buat reviewnya :D Bikin author merasa comfortable. Eh, tapi beneran nih ceritanya bagus? Perasaan cerita ini OOC sekali ,

Cuap-cuap session end. . . So, readers let me presented fourth chapter of. . .

New Prey Or New Love

Warning: Ciel x Oc.

Rated T semi M. Perhatian! T semi M

Disclaimer: Kuroshitsuji is belong to Yana Toboso only

.

.

.

Pagi yang berkabut. Matahari cukup tinggi tetapi sinarnya samar karena terhalang oleh kabut yang menghantarkan hawa dingin menyusup kulit. Tetumbuhan dan pohon-pohon basah, sisa gerimis yang turun beberapa menit yang lalu. London memang seperti itu, baik di kota maupun di bukit terpencil cuacanya hampir sama. Matahari hanya bersinar beberapa jam, setelahnya mendung membuat langit berwarna kusam. Terkecuali di musim panas dimana matahari bisa bersinar selama delapan jam penuh, itupun kalau langit sedang berbaik hati tidak mengundang awan kelabu untuk datang.

Tetapi bagaimanapun hidup di kota akan jauh lebih menyenangkan. Jika kau berada di kota, kau masih bisa menemukan semacam hiburan. Bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, kedai penjual makanan ataupun gerai-gerai yang memajang aneka benda menarik seperti mainan, baju, dan lain sebagainya. Kau juga bisa berinteraksi dengan manusia lain dan hidup secara wajar di tengah hiruk pikuk kota. Tetapi jika di tempat terpencil semacam bukit dekat ngarai begini, apalagi tinggal bersama dua orang iblis, menjalani kehidupan secara normal serasa bagai mimpi. Itulah yang Kako pikirkan sekarang.

Jari-jemari gadis berambut sehitam malam itu menangkup buku bacaan yang berada di atas wajahnya. Ia sangat tahu bahwa membaca buku dengan cara tiduran bukanlah posisi membaca yang benar, hanya saja gadis itu sedang merasa bosan. Bola mata coklat caramel itu berputar menatap sekitarnya, mengamati pepohonan perdu dan pinus yang memagari kastil besar milik iblis yang membawanya kemari juga tatanan taman luas yang mengelilingi gazebo tempatnya berada sekarang.

Begitu sepi. . . sangat sepi hingga ia hanya bisa mendengarkan suara desau angin lirih diantara dedaunan pohon pinus, juga samar-samar lolongan anjing hutan. Well, sudah sekitar seminggu suara-suara alam itu begitu akrab dengan telinganya yang berarti juga sudah seminggu ia terkurung di kastil megah nan suram milik iblis bernama Ciel dan Kako sama sekali belum menjejakkan kakinya ke dunia luar.

Apa boleh buat, ia sebenarnya ingin pergi tetapi ia takut jika keluar dari kastil besar tersebut ia akan tersesat di hutan gelap disana dan lebih buruknya ia akan bertemu anjing hutan atau para penghuni hutan lainnya. Selain itu, Kako juga terlalu segan untuk mengutarakan keinginannya tersebut pada Ciel ataupun Sebastian. Hubungannya dengan Ciel begitu aneh dan mendingin beberapa hari terakhir sejak insiden kedatangan Grell. Benar, sejak saat itu Ciel memang tidak pernah 'menyentuhnya' tetapi juga tidak pernah berinteraksi dengannya. Ah, Kako benar-benar tidak mengerti jalan pikir iblis bernama Ciel, mengapa membawanya ke tempat terpencil begini jika untuk menelantarkannya?

Berkeluh kesah pada Sebastian sepertinya juga percuma karena Sebastian adalah iblis profesional yang pastinya sama sekali tidak akan tersentuh untuk membantu gadis biasa seperti dirinya. Meskipun Sebastian melayaninya dengan baik, seperti menyediakan sarapan dan dessert yang sangat lezat tetapi itu semua atas perintah Ciel. Intinya, Sebastian hanya akan mematuhi Ciel karena mereka terikat kontrak selamanya. Setidaknya itu yang Kako pelajari setelah beberapa hari tinggal bersama dua iblis tersebut.

o~o0I0o~o

"Apa yang anda perhatikan Bocchan?" Ujar seorang lelaki tegap berpakaian butler serba hitam pada pemuda lebih pendek berambut kelabu yang sama sekali tidak bosan memandangi jendela ruang pribadinya. Sebastian menyeringai. Tanpa diberitahu pun, iblis tampan itu bisa melihat dengan jelas tubuh mungil yang tersembunyi di bawah naungan gazebo taman. Rupanya sedari tadi Ciel memperhatikan mangsanya sementara gadis yang diperhatikan sama sekali tidak menyadari apapun.

"Apa yang akan anda lakukan? Sudah beberapa hari ini anda mendiamkannya dan tidak melakukan interaksi apapun terhadapnya. Apa terjadi sesuatu, Bocchan?" Sebastian mencoba bertanya sesopan mungkin. Iblis yang menjadi majikannya hanya terdiam, tampak terganggu dengan pertanyaan butler setianya. Seandainya saja posisi Sebastian tidak membelakangi Ciel sekarang, ia mungkin bisa melihat gurat merah muda yang begitu kontras dengan pipi pucat tuan mudanya tersebut.

Aihh, Ciel jadi teringat kembali 'pergumulan panasnya' dengan Kako sekitar seminggu yang lalu. Bagaimana gadis itu berada di bawah tubuhnya dengan wajah manisnya yang bersemu merah. Tatapan matanya memohon memandang Ciel, sementara tubuh mungilnya sedikit gemetar, efek dari invasi lidah Ciel di leher putihnya yang meninggalkan saliva serta ruam merah samar. Manis. Rasa manis yang sayangnya berakhir dengan kejadian pahit yang membuat hubungan Ciel dengan Kako merenggang.

Oh, shit! Ciel masih mengingat dengan jelas kalimat terakhir Kako. Bagaimana gadis itu begitu berani mengatainya mesum dan yang terburuk gadis itu bahkan memilih lebih baik mati daripada menjadi mangsa sekaligus 'mainan' Ciel. Dan entah kenapa hal tersebut membuat Ciel sangat marah juga frustasi. Gadis itu benar-benar memancing emosinya karena sejujurnya Ciel ingin memiliki gadis itu hanya untuk dirinya dan sama sekali tidak berniat membunuhnya. Jika saja si bangsawan berambut blue navy itu tidak memiliki kontrol emosi yang baik, pastinya ia tidak akan segan melumat bibir mungil nan manis berwarna merah delima milik Kako untuk membungkam kalimat 'pedas' yang diucapkan gadis itu.

Ciel menghela napas, melirik sedikit butler di belakangnya dengan satu alis memicing. "Bukan kebiasaanmu untuk mencampuri urusan orang lain, Sebastian."

"Ah, maafkan ketidak sopanan saya Bocchan." Sebastian membungkukkan badannya dengan tangan kanan yang menyilang di dada kirinya. Ciel mendengus.

"Kau mulai bertingkah aneh beberapa hari ini." Lanjut Ciel yang membuat Sebastian sedikit tersentak dengan Ruby-nya yang melebar.

"Menawarinya dessert dan camilan di siang hari meskipun di pagi hari ia sudah mendapatkannya bersama sarapannya. Padahal dulu kau sering menolak saat kuminta membuatkan camilanku di siang hari dengan alasan menjaga pola makan serta kandungan nutrisi dan bla bla bla. . ." Mulut Ciel mengoceh sementara mata merahnya tak lepas menatap mata ruby dari seseorang yang jauh lebih tinggi darinya.

"Katakan Sebastian, kau pikir siapa tuanmu?" Suara Ciel menggeram. Kedua lengan kurusnya bersilang di dadanya yang membusung angkuh. Pandangannya tak bergerak kemanapun selain cerulean ruby milik Sebastian. Sementara Sebastian sendiri tampak tidak mengerti kemana arah pembicaraan Ciel. Bukannya Sebastian memperhatikan Kako juga atas perintah tuan mudanya itu? Meski Sebastian akui bahwa ia sendiri juga terkadang sedikit memberi perhatian lebih pada gadis incaran Ciel. Ah, sepertinya itu merupakan efek ucapan terakhir Grell yang mengait-ngaitkannya dengan masa lalunya. Berpikir bahwa Kako merupakan reinkarnasi dari seseorang yang pernah terikat dengannya dimasa lampau, Sebastian bahkan begitu baik menawarkan dirinya menemani gadis itu saat sendirian atau membuatkannya camilan secara sukarela.

"Well, tentu saja anda, My Lord. Tapi Bocchan. . . Bukankah anda sendiri yang memerintahkan saya untuk melayaninya dengan baik?" Sebastian balik bertanya dengan raut sedikit bingung dan itu justru membuat Ciel semakin menyalak marah.

"Oh, yeah, aku memang memerintahkannya! Tapi, aku sudah sering memperhatikanmu! Sepertinya kau sedang berusaha mendekatinya atau mungkin mengincarnya barangkali?!" Sebastian terkejut dengan pernyataan Ciel barusan. Kentara sekali bahwa tuan mudanya itu menunjukkan sikap overprotektif-nya pada mangsanya atau bahkan cemburu? Ah, Bocchan-nya itu benar-benar menggemaskan saat jealous. Memikirkan hal tersebut ujung bibir Sebastian tertarik membentuk seringai kecil.

Memang jiwa milik Kako memiliki citarasa manis lembut yang mengundang. Jika diibaratkan dengan makanan manusia, mungkin sama dengan dessert chake dengan lelehan krimnya yang meleleh serta aroma manis menguar yang begitu menggoda. Tentu iblis sekaliber Sebastian tidak bisa memungkiri hal tersebut. Tetapi demi apapun ia tidak akan mengkhianati majikannya. Toh lagipula ia lebih menyukai jiwa yang lebih Spicy dengan aneka rasa yang saling berbaur seperti jiwa Ciel dulu. Sementara Ciel, oh tentu Sebastian sangat mengetahui favorit Ciel. Apalagi kalau bukan tentang chake, chocholate, krim dan semua makanan yang memiliki hubungan dengan kata manis. Itu sebabnya Ciel sangat menginginkan jiwa Kako. Rasa jiwa Kako adalah pemuas yang tepat bagi iblis semacam Bocchan-nya itu.

"My, my, apakah itu artinya anda cemburu, Bocchan?" Goda Sebastian. Ciel mendecakkan lidah, sama sekali tidak berusaha menyangkal pertanyaan butlernya. Kedua tangannya kini berkacak pinggang di pinggangnya yang terbilang ramping, "Jangan coba merebut milikku, Sebastian! Ini perintah!"

"Yes, My Lord." Ujar Sebastian, bertumpu pada lututnya sembari menyilangkan tangannya.

"Baru kali ini saya melihat anda begitu posessif, Bocchan." Ujar Sebastian sembari mengangkat wajahnya, memperlihatkan senyum menggodanya. Sementara Ciel memandangnya jengah, namun tidak berusaha membalas atau berkelit dari ucapan Sebastian. Tubuh Ciel kembali berbalik menghadap jendela, memperhatikan intens tiap gerakan kecil dari seorang gadis yang berada di gazebo tamannya. Melihat reaksi Bocchannya tersebut, alis Sebastian sedikit naik. Iblis berpakaian coat hitam itu meletakkan telunjuknya di dagu, tampak memikirkan sesuatu hingga sebuah seringai lebar menghiasi bibir pucatnya.

"Sepertinya ia sedang bosan, bocchan." Ujar Sebastian sambil beringsut mendekati majikannya.

"Whew." Balas Ciel yang berarti 'aku juga tahu, bodoh.'

Tanpa Ciel sadari, Sebastian sudah berdiri sangat dekat dengannya. Butlernya itu membungkuk dalam, bertemu pandang dengan wajah Ciel yang tampak terganggu dengan posisi absurd Sebastian.

"Maafkan ketidak sopanan saya, Bocchan." Sebastian memberi jeda, meletakkan satu tangannya disisi Ciel.

"Mengajak seorang lady untuk jalan-jalan merupakan salah satu bukti bahwa bangsawan tersebut merupakan gentleman yang mempunyai derajat tinggi." Ujar Sebastian dengan tatapan mendoktrin sekaligus menjatuhkan mental Ciel.

"Dan bahkan jika anda adalah seorang iblis, merupakan kewajiban bagi anda untuk melayani seseorang yang anda tetapkan sebagai mangsa sampai pada batas waktu anda mengambil jiwanya. Dan pastikan anda melayaninya dengan istimewa, mengerahkan seluruh kemampuan anda. Itu jika anda memang seorang iblis yang . . .Terhormat." Wajah Ciel semakin pucat pasi. Kata-kata maupun wajah Sebastian yang kian mendekat semakin menohok dirinya.

"Okay. Fine." Gerutu Ciel pada akhirnya. "Cepat jauhkan wajah mesummu dariku!" Erang Ciel, terdengar seperti anak kecil yang meledak-ledak. Sebastian tersenyum penuh arti seraya menarik mundur tubuhnya. Yah, kita lihat saja apa yang akan dilakukan bangsawan Phantomhive ini. . .

o~o0I0o~o

Kako meletakkan satu tangannya di dekat wajahnya. Kepalanya terkulai miring menatap bunga dandelion yang tumbuh bersama rumput-rumput kecil di sekitar tempatnya sekarang. Beberapa buku yang sudah dibacanya ia tumpuk di sampingnyaya, tanpa niatan untuk membukanya lagi. Lelah, Kako hampir memejamkan matanya jika saja matanya yang masih terbuka setengah itu tidak menangkap kaki kurus pucat yang berdiri beberapa meter di hadapannya.

"Ikut denganku."

Kako mengerjapkan matanya beberapa kali. Seseorang di hadapannya sudah memasang pose arogan dengan tangan yang terulur beberapa centi dari wajahnya. Gadis bersurai malam itu masih terdiam di tempatnya. Raut kebingungan jelas terpancar pada wajahnya yang menatap Ciel bergantian dengan tangan Ciel yang masih setia menunggu uluran tangannya. Kenapa tiba-tiba Ciel datang dan langsung mengajaknya pergi? Apa Ciel baik-baik saja? Batin Kako menerka-nerka.

Melihat Kako yang hanya terdiam dengan wajah kebingungan yang menggemaskan, membuat Ciel mendecakkan lidahnya, apalagi tangannya yang menggantung di udara sudah merasa kram. Hell, sekali lagi Ciel bukan tipikal orang sabar! Dan perlu dicatat, ia lebih suka melakukan sesuatu dengan gaya arogannya. Jadi, tanpa membuang waktu, iblis berambut blue navi itu mendekati Kako dan melakukan hal yang tidak diduga sama sekali.

"Eh?!" Pekikan Kako tertahan ketika Ciel menyelipkan tangannya diantara bawah lutut dan punggungnya. Lalu tanpa kesulitan apapun mengangkat tubuh mungil gadis itu dengan bridal style. Bridal style yang mendadak membuat Kako tidak siap, sehingga gadis itu reflek melingkarkan tangannya ke leher si iblis muda agar tidak terjatuh. Pipi Kako bersemu merah karena posisinya sekarang mengingatkannya pada peristiwa beberapa hari lalu, saat Ciel membawanya ke dalam kamar. Mata bulat Kako melebar menyadari pemikiran tersebut. Apa jangan-jangan Ciel mau melakukan 'itu' lagi?! Atau. . . bahkan lebih dari 'itu'?!

Terlambat bagi Kako untuk kabur. Gadis itu sudah berada dalam pangkuan Ciel dan Ciel telah melompat di udara, dengan mudahnya melewati pagar tinggi kastil. Tentunya hal yang biasa bagi seorang Ciel yang sudah menjadi iblis untuk melakukan hal tersebut. Kaki si iblis blue navy dengan lincah bergerak membelah ke dalam hutan yang menjadi pelindung area tempat tinggalnya, dari satu cabang ke cabang pohon yang lain.

"Umm. . .Ci-Ciel?" Panggil Kako dengan tak menjawab, hanya menurunkan pandangan mata birunya.

"A-apa kau. . ." Kako memberi jeda sejenak, menimbang-nimbang untuk melanjutkan kalimatnya. "Mau memakanku di hutan ini?" Cicit Kako.

"Apa aku terlihat ingin memakanmu?" Ujar Ciel dengan wajah datarnya. Kako menatap Ciel ragu, mencermati gurat ekspressi di wajah Ciel kemudian menggeleng.

"Perhatikan sekelilingmu." Ujar Ciel dengan nada suaranya yang melunak. Kako tertegun sebentar, ada rona peach samar di pipi chubbynya ketika memperhatikan sepasang manik biru samudera menatapnya penuh perhatian. Cepat-cepat dialihkannya wajahnya, kemanapun selain wajah porcelain milik iblis yang menggendongnya.

Mata sejernih madu itu perlahan melebar ketika ia memandangi objek-objek di sekitarnya. Sinar tipis matahari tampak membelah membentuk garis-garis lurus di antara rerimbunan pepohonan yang basah. Sisi gelap hutan begitu kontras dengan pucuk-pucuk daun muda yang beruntung tersirami cahaya matahari. Burung-burung liar bertengger di antara sela-sela dahan, terdengar samar-samar cicitannya. Sekawanan rusa tampak menyegarkan diri mereka dengan bermain di pinggiran danau. Binatang-binatang kecil seperti kelinci dan armadillo mengintip keluar dari lubangnya. Sebuah potret kehidupan yang masih alami, berbaur dengan suara alam yang menggemerisikkan dedaunan. Tanpa sadar Kako mengeratkan pelukannya. Bibir mungilnya menyunggingkan senyum tipis yang cerah.

Diam-diam Ciel memperhatikan wajah polos Kako. Mata bulat berwarna caramel itu berkilat dengan sinar kehidupannya. Bibir ranum itu merekah indah sambil tersenyum. Lengan kurus gadis itu mengerat memeluk Ciel tanpa disadarinya, membuat darah Ciel berdesir secara tidak wajar. Apalagi, wangi lavender bercampur aroma herbal olive oil menguar lembut dari tubuh gadis bersurai sehitam malam itu. Ciel tidak tahu mengapa, hanya karena memandangi 'malaikat' mungil ini tampak bahagia, perasaan –entah apa itu- terasa menyusup hangat dalam dirinya.

Sepertinya, 'jalan-jalan sebentar' yang direncanakan oleh Ciel akan memakan waktu. . . sedikit lebih lama.

o~o0I0o~o

.

.

Dan disinilah ternyata Ciel membawa Kako. Sebuah tempat yang diangan-angankan Kako ketika ia menyendiri di gazebo. Tempat yang penuh dengan hiruk pikuk manusia juga bangunan tinggi yang berjejer di sepanjang jalan, menunjukkan peradabannya. London City.

Ciel memperhatikan gadis di sebelahnya. Bagaimana mata senada dengan warna madu itu membulat dengan kilau ketakjuban melihat kanan kiri jalan. Kako merasa senang, Ciel sangat tahu itu. Tangan mungil gadis itu meremas tangan Ciel cukup erat setiap kali mata caramelnya menangkap suatu objek yang disukainya. Orang-orang ramai berkumpul dan berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing, sibuk melihat-lihat ataupun memilih barang yang mereka suka. Gerai-gerai berjejer menawarkan permainan, pakaian, maupun aneka jajanan. Para penjaja menawarkan dagangannya dengan semangat ketika para pembeli mengerubungi kiosnya. Aroma masakan yang menggiurkan tersebar kemana-mana, menyengat dan menggoda hidung.

Bagi Ciel, aroma tersebut sama sekali tak menarik minatnya karena ia tidak membutuhkan makanan manusia. Namun bagi Kako, aroma tersebut seakan memanggilnya untuk mendekat dan mencicipi barang satu dua makanan. Beberapa kali kaki gadis berambut hitam lurus itu hendak bergerak mengikuti insting rasa kagumnya tetapi kemudian gadis itu urung dan memilih mengikuti langkah Ciel. Bagaimanapun ia tidak memiliki uang sama sekali, apalagi ia berjalan bersama Ciel yang sepertinya tidak tertarik dengan apa-apa yang ada disekitar mereka. Ya meski Cuma berjalan-jalan di keramaian kota, Kako sudah cukup puas karena setidaknya ini jauh lebih menyenangkan dibanding berdiam diri di kastil yang suram.

Dari ekor matanya, Ciel melirik Kako yang masih sibuk menoleh ke kanan ke kiri. Tidak seperti gadis kebanyakan, gadis di sampingnya itu tidak berisik juga tidak menuntut. Jika saja Ciel berjalan bersama Lizzie sekarang, pastinya Lizzie sudah menyeretnya masuk ke salah satu gerai lalu merepotkannya karena ada banyak barang yang dibeli tunangannya tersebut.

"Kakak, mau beli permen?" Seorang anak kecil berpakaian kumuh dengan beberapa bungkus permen di tangannya sukses menghentikan langkah kaki Ciel dan Kako. Kako melirik Ciel yang memasang wajah angkuh khas bangsawan. Sepertinya iblis muda itu terganggu dengan kehadiran anak kecil di depan mereka. Apalagi alis Ciel sudah menukik satu dengan pandangan jengah.

"Maaf, kami sedang buru-buru." Ujar Kako dengan suara dan senyumnya yang lembut. Dalam hati Kako berdo'a agar anak kecil tak berdosa tersebut cepat menyingkir sebelum Ciel mendepaknya dari hadapan mereka. Namun suara Ciel membuat Kako membulatkan manik hazel coklatnya.

"Pilih mana yang kau suka." Ujar Ciel dengan wajah datar, yang pastinya ditujukan pada gadis yang menemaninya.

"Eh?" Hanya itu yang keluar dari bibir mungil Kako setelah apa yang diucapkan Ciel. Namun demi melihat wajah Ciel yang sepertinya tidak mau dibantah, Kako pun merundukkan badannya untuk bisa memilih deretan permen yang disodorkan anak kecil yang jauh lebih pendek darinya.

". . . Emm, strawberry." Putus Kako kemudian mengambil setangkai permen lollipop dengan warna merah jambu. Si anak kecil tersenyum lebar karena pembeli pertamanya adalah seorang nona muda bangsawan yang cantik dan baik hati. Jauh berbeda dengan para bangsawan yang sering menatap orang miskin seperti dirinya dengan pandangan jijik dan terganggu.

"Hanya satu?" Tanya Ciel yang membuat Kako memasang wajah kebingungan.

"Ya, ini sudah cukup." Ujar Kako agak kikuk. Ciel menghela napas lalu mengalihkan pandangannya pada bocah kecil yang masih berada di hadapannya. Dengan tenangnya bangsawan muda itu merogoh sesuatu dari sakunya lalu menyerahkannya pada si penjual.

"Ini." Ujar Ciel seraya menyerahkan sekantung uang terbungkus kain gelap yang diikat.

"Tu-tuan, I-ini terlalu banyak." Pekik si bocah kecil yang tidak digubris oleh Ciel.

"Tak masalah, ambil saja." Ujar Ciel dengan cueknya lalu menyeret Kako pergi.

"Terima kasih banyak tuan, terima kasih banyak nona." Teriak si bocah dengan senyum lebarnya. Kako menoleh sejenak seraya melambaikan tangan perpisahan pada penjual miskin yang juga melambaikan tangannya.

"Thank you Ciel." Ucap Kako dengan mungilnya tersenyum penuh rasa terima kasih pada iblis di sampingnya.

"Hn."

Keduanya melanjutkan perjalanan dalam keheningan. Sama sekali tak merasa enggan untuk melepaskan tangan. Bola mata Kako masih sibuk bergerak berkeliling, menyusuri bagian-bagian Kota yang ditinggalkannya bertahun-tahun lalu. Sudah berapa lama ia tidak menikmati suasana seperti ini? Setahun berada di tempat penjualan anak ditambah dua tahun di penjara bawah tanah yang mempekerjakan dan menyiksa anak-anak kurang beruntung seperti dirinya. Saat itu, ia terbiasa bernapas di bawah ketakutan, tidur dalam keadaan gelisah dan terbangun karena teriakan. Semua hal traumatic yang baginya seperti berada di neraka. Hingga membuatnya berpikir bahwa ia tidak akan pernah lagi melihat cahaya. . .

Kako menunduk sedikit, memperhatikan tangannya yang masih digenggam oleh Ciel. Tangan Ciel memang dingin tetapi menyejukkan. Bibir gadis itu menyunggingkan senyum tipis. Tangan ini. . . Tangan yang dingin ini. . . berkali-kali menggapai dirinya. Menariknya keluar dari tempat terkutuk itu, membawanya pada kehidupan, menolongnya ketika ia yakin kematian datang untuk mengoyak tubuh kecilnya. Bahkan meski kenyataannya Ciel adalah iblis sekalipun tetapi . . . Kenyataanpun memperlihatkan bahwa Ciel yang membawakannya cahaya kehidupan.

Hangat. Ciel tidak pernah merasakan rasa hangat yang seperti ini. Hanya karena menggenggam sebuah tangal mungil yang sedikit lebih mungil dari tangannya, iblis bersurai green greyish itu mengingat kembali kehangatan yang dulu pernah dicecapnya. Ketika musim panas dimana ia berkumpul dengan keluarganya. Dikelilingi orang-orang terkasih ketika ia masih bisa tersenyum sebagaimana seorang anak yang bahagia. Ini aneh. Seharusnya, Ciel sudah tidak bisa merasakan hal seperti ini. Hatinya sudah mati, bahkan sebelum ia menjadi iblis. Ya, mestinya hatinya sudah mati sejak ia menjalin kontrak dengan Sebastian dan memutuskan hidup dalam kegelapan untuk membalaskan dendamnya. Tetapi. . . Kenapa sekarang ia merasa hati hitamnya menghangat?

Ciel memperhatikan sekitarnya sebagai pengalih rasa hangat yang mengusiknya. Beberapa pasang mata terlihat menatapnya juga gadis yang saat ini bersamanya. Sebagian ladies tersenyum sembari berbisik pada rekannya, bahkan ada yang menunjuk-nunjuk pada pasangan imut yang sedang berjalan beriringan tersebut.

"Hihihi. . . masih kecil ternyata sudah pacaran ya?"

"Pasangan imut yang serasi. Manisnya. . ."

"Oh my, keduanya sangat imut. Aku mau anakku kelak seperti mereka."

Meski begitu Ciel juga mengeluarkan death glare-nya pada para laki-laki di sepanjang bar dan kedai yang ikut membelalakkan mata memelototi Ciel, terutama. . . Kako. Tangan Ciel terkepal erat. Gemas sekali rasanya ingin mencongkel mata-mata jelalatan itu dari rongganya. Bagaimana tidak, sebagian dari mereka menatap gadisnya dengan pandangan ingin menerkam. Sebagian lagi menatap Ciel dan Kako dengan bayangan pundi-pundi emas jika bisa menjual keduanya. Dan sebagian lagi. . . Ini yang paling membuat Ciel geram bukan main, mereka melotot seakan sedang melucuti satu per satu pakaian Ciel dan Kako. Yang memelototi Ciel pastinya kaum pedofil pecinta sesama jenis sedangkan yang memelototi Kako tentunya pria-pria hidung belang yang juga merangkap sebagai pedofil. Grrrhh. . .

Berbeda dengan Ciel, Kako bahkan tidak tahu sama sekali jika ia menjadi obyek tontonan. Matanya yang bulat caramel itu menatap lurus jalanan di depannya sementara bunyi 'cap-cap' pelan terdengar dari mulutnya yang mengulum permen, sesekali menggigit potongan kecil dari benda bulat bertekstur lunak dan berwarna pink itu. Benar-benar seperti anak kecil yang diajak ibunya jalan-jalan. Tapi hei, ia tidak sedang berjalan bersama ibunya melainkan dengan iblis Ciel yang diam-diam memperhatikannya dengan intens.

Seringai terlihat jelas di bibir Ciel ketika ia menangkap pemandangan yang menarik baginya. Bibir ranum Kako yang basah dan lembab oleh saliva-nya sendiri terlihat begitu kenyal, seksi dan lembut. Lidah gadis itu bergerak malu-malu menjilat serta mencecap rasa strawberry dari permennya. Oh, dimata Ciel, lidah basah berwarna merah agak pink itu bergerak pelan dengan sangat sensualnya. Maju mundur dengan ritme yang begitu menggoda.

"Ciel, mau?" Imajinasi liar Ciel sirna dalam sekejap ketika sebuah lollipop rasa strawberry terulur di depan mulutnya. Ciel mengangkat satu alisnya, tampak tidak suka dengan benda yang ditawarkan padanya.

"Ah, maaf. Ku-kukira kau mau mencoba permen ini. Ha-habisnya kau melihatku dari tadi." Ujar Kako agak salah tingkah. Tangan mungilnya dengan cepat menarik permennya dari hadapan Ciel, baru teringat bahwa seorang iblis tidak menyukai makanan manusia.

Ciel mendesah. Tentu saja Kako salah paham mengira Ciel tertarik dengan lollipop-nya karena Ciel terus memandangi cara gadis itu saat menjilati benda merah jambu tersebut. Seraya memutar bola matanya ke arah lain, secara tidak sengaja Ciel mendapati sebuah toko cukup besar yang menarik perhatiannya.

"Ada apa, Ciel?" Tanya Kako ketika tiba-tiba Ciel menghentikan langkahnya.

"Tunggu disini sebentar." Kako mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian menganggukkan kepala sebagai jawaban, meski sebenarnya raut kebingungan terlihat di wajahnya.

"Jangan pergi kemanapun. Tunggu sampai aku kembali." Kako kembali mengiyakan.

"Dan. . . Jangan berbicara dengan siapapun terutama kepada pria. Got it?" Kako tercengang dengan kalimat terakhir Ciel. Jujur, itu sedikit aneh apalagi sepertinya kalimat Ciel tersebut lebih terdengar sebagai ultimatum yang wajib dipatuhi. Bagaimana jika ada seseorang yang menyapanya? Apa ia tidak boleh balas menyapa? Bukankah itu tidak sopan dan terkesan arogan?

"Eh, kenapa?" Kako tak bisa menyembunyikan rasa herannya dan pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Si iblis kelabu mendecakkan lidah lalu memandang tajam sepasang hazel di hadapannya, membuat gadis bermanik hazel itu sedikit berjengit takut.

"Nonsense." Balas Ciel sarkatis. Kako kembali mengangguk dengan lemah.

"Kau . . . benar-benar akan kembali kan?" Tanya Kako sembari menggigit bibir bawahnya. Dari nada bicaranya yang terdengar agak takut sekaligus gugup, kentara sekali bahwa sebenarnya gadis itu takut ditinggal sendirian. Ya, dilihat seperti apapun usia Kako memang masih terbilang anak-anak, belum genap 13 tahun. Semua anak kecil pasti merasa takut jika ditinggal sendirian. Apalagi di sebuah Kota besar yang penuh dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. Lagipula. . . Gadis itu sudah sering melihat orang-orang yang disayanginya pergi lalu tidak pernah kembali. Hei, apa itu berarti. . . Ciel sudah masuk dalam daftar orang-orang yang disayanginya?

"Aku pasti akan kembali, bukankah aku sudah mengatakannya? Aku janji tidak akan lama." Balas Ciel, meskipun terkesan datar namun terdengar berupaya meyakinkan gadis dihadapannya. Kako memandangi Ciel sebentar sebelum tersenyum lemah sebagai jawaban.

Setelah yakin bahwa gadis bersurai hitam itu baik-baik saja, Ciel mulai berjalan menjauh. Sebentar-sebentar iblis muda itu menoleh ke belakang, memastikan Kako tidak berpindah seinchi pun dari tempatnya. Kako hanya bisa mengikuti punggung Ciel yang kemudian menghilang tertelan pintu masuk sebuah toko mainan. Gadis manis itu sedikit heran juga mengapa Ciel memasuki toko besar bertuliskan Funtom Toy Branch. Bukannya iblis tidak tertarik dengan barang-barang manusia? Tetapi bagaimanapun Kako sama sekali tidak keberatan untuk menunggu hingga Ciel kembali. Sembari mengulum permennya yang tersisa separuh, gadis tersebut memilih menepi di pinggir jalan dan mengamati suasana kota London.

Museum dan gereja tua tampak terawat dengan baik. Burung-burung merpati hinggap di atap-atap bangunan, kebanyakan memilih singgah di atap gereja dekat lonceng. Orang-orang berlalu lalang di jalan pedestrian sementara kereta-kereta kuda hilir mudik mengangkut penumpang maupun barang dagangan. Asyik mengamati sekelilingnya, Kako tidak menyadari kedatangan seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya atau mungkin Kako memang tidak bisa merasakan hawa keberadaan orang tersebut.

"Kako Misquerlentz?" Mata bulat Kako bergelinyir menuju ke sumber suara yang memanggilnya. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali memandangi sosok pria yang sama sekali asing baginya. Pria berjas gelap dan tampak rapi. Rambut hitam klimis serta kacamata yang membingkai mata berwarna hijau gelap yang dilingkari warna kuning kusam.

'Jangan berbicara dengan siapapun terutama kepada pria.' Pesan terakhir Ciel sebelum meninggalkannya terngiang-ngiang dalam otak Kako. Sedikit ragu gadis itu menoleh ke arah toko yang dimasuki Ciel dan tidak mendapati sosok Ciel pada kaca besar transparan yang menampilkan sebagian indoor toko Funthom Toy.

Kako menghela napas. Sepasang manik berwarna madu itu bergelinyir kembali menatap pria asing yang berdiri menjulang di depannya. 'Sepertinya dia bukan orang jahat'.

"Y-Ya. Mmm. . . Anda siapa?" Tanya Kako berusaha sesopan mungkin meski agak gugup. Dan itu berarti Kako melanggar ultimatum Ciel karena gadis itu berpikir bahwa Ciel tidak akan mengetahuinya. Lagipula sisi baik Kako mengatakan bahwa sangat tidak sopan untuk mengacuhkan seseorang yang menyapanya dan sepertinya mengenalnya.

Wajah pria di hadapannya sangat datar, tidak terukir suatu gurat ekspressi apapun sehingga Kako tidak dapat mengerti apa yang dipikirkan si pria berkaca mata. Namun, Kako menyadari bahwa ia merasa familiar dengan warna mata si pria asing. Memangnya ada berapa orang di dunia ini yang memiliki iris hijau berselaput kuning seperti itu?

"William T. Spears." Ujar orang tersebut seraya mengulurkan tangan pada gadis mungil di depannya. Meski agak ragu Kako menerima uluran tangan tersebut, sama sekali tak menyadari adanya kilat aneh pada mata pria asing itu.

.

.

.

Ciel keluar dari toko mainan besar yang merupakan salah satu anak cabang perusahaan miliknya dulu. Perusahaan Funtom Company yang kini tidak ia ketahui kelanjutan nasibnya dan ia sama sekali tidak peduli untuk itu. Sesuatu yang cukup besar berada di pelukan tangan Ciel ketika rambut green greyish-nya menyembul keluar dari pintu. Sesuatu yang tampak tidak cocok dibawa oleh seorang bergender laki-laki seperti dirinya. Sebuah boneka kelinci dengan bulu abu-abunya yang lembut. 'Sepertinya si tua Tanaka itu mengembangkan riset bulu sintesis pada Funtom Toy.' Pikir Ciel sembari memperhatikan boneka di pangkuannya yang nantinya akan menjadi surprise untuk gadis yang sedang menunggunya.

Mata samudera Ciel bergerak berkeliling, mencari-cari sosok yang baru sekitar lima menit yang lalu ditinggalkannya. Bukankah ia sudah berpesan agar gadis itu tetap berada di tempatnya. Kenapa sekarang ia sama sekali tidak melihat ataupun menangkap hawa keberadaan gadis itu sama sekali?

Ini aneh. Agak bergegas, Ciel menuju ke tepi jalan. Pandangannya berkeliling dengan cepat. Barangkali ia bisa menangkap siluet gadis berambut gelap tersebut. Sayang bagi Ciel karena ia benar-benar tidak menemukan orang yang ia cari berada di sekitar daerah tersebut. Hanya orang-orang yang bergerak dari berbagai arah yang memenuhi bola matanya yang perlahan berubah menjadi merah tua. 'Dimana dia?' Geram Ciel sambil tetap menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

'Plek, Krek.' Ciel sedikit berjengit ketika sepatu boot-nya menginjak sesuatu. 'Shit!' Umpat Ciel ketika ia merasakan benda yang terasa lengket dan agak berlendir berada di dasar sepatunya sehingga agak menyulitkannya untuk melangkah. Dengan dengusan kesal, iblis muda tersebut mengangkat kakinya. Ada benda yang telah gepeng terinjak sepatunya. Benda berwarna merah muda itu tampak kotor dengan beberapa debu yang menempel. Jari Ciel terulur mengambil permen lollipop yang sudah tak berbentuk lagi, diendusnya perlahan. Ada aroma Kako yang tersisa disana. Juga. . . aroma lain yang membuat wajah Ciel berubah menjadi horror dan seluruh tubuhnya menegang seketika. Aroma yang Ciel ketahui sebagai aroma kematian. Dewa kematian, Hell!

"Sebastian, cepatlah kemari."Gumam Ciel sembari membuka penutup matanya sehingga terlihat tanda Faustian yang bercahaya.

. . . . . . .

"Wah, wah, Will. . . akhirnya kau datang juga!" Pekik seorang Reaper berambut merah panjang sembari berlari menyambut supervisornya tersebut.

"Ugh!" Langkah Grell terhenti dengan pasti setelah death schyte milik William menghunus beberapa centi dari wajahnya. Grell tertawa kikuk lalu mengambil langkah mundur dengan wajah pucat. Tatapan dingin William selalu mampu membuat reaper merah itu sedikit bersikap tenang.

"Apa yang kau bawa itu?" Tanya Grell sembari mengerucutkan bibirnya. William melirik sepintas gadis pingsan yang bergelanyut di bahu kirinya. Rambut panjang berwarna hitam milik si gadis tentu membuat semua orang tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sembari membetulkan letak kacamatanya dengan death schyte-nya pria berwajah stoic itu menjawab sembari berjalan.

"Dia roh yang tersesat. Mestinya dia sudah mati lebih dari seminggu yang lalu. Sepertinya ada iblis yang membuatnya terlepas dari kematian. Tetapi anehnya tidak ada tanda kontrak pada gadis ini."

"Lalu apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanya Grell sembari mengekori seniornya tersebut.

"Tentu saja mengembalikannya pada tempat yang seharusnya." Jelas William tanpa menoleh.

"Tempat dimana roh-roh manusia yang telah mati berkumpul." Lanjutan kalimat supervisornya membuat Grell tercenung sebentar sebelum akhirnya shinigami merah itu memekik kegirangan.

"Yeah, akhirnya kita bisa menonton Cinematic Record bersama!"

TBC

Oke chapter 4 sudah tuntas. ^-^ Terima kasih banyak buat para pembaca yang sudah berkenan mampir dan membaca fict ini. Nyaa! Sekedar info lagi (ehem, ehem) cieru mau menominasikan fict ini di ajang Indonesian Fanfiction Awards 2013 (AFI 2013) untuk kategori random kuroshitsuji. ^-^ Mohon dukungannya ya. . . (Tapi cieru nggak maksa kok, sesuai hati nurani aja). Cuz guys, I hope you like my story, that's all what I need. . . (^0^) *

Yosh, sekian saja dari cieru cherry. Agar cieru lebih semangat, berkenankah para pembaca meninggalkan jejak review sekalian? Kritik, saran, flame, atau apapun terbuka lebar.

Special thanks from author Cuplikan next chapter

"Tapi mengapa mereka mengincarnya?" Dengus Ciel dengan kilat kemarahan di mata merahnya.

"Well, anda tentu ingat Bocchan, bahwa anda sudah menolongnya dari kematian." Ujar Sebastian

"Ya, lalu apa masalahnya?" Tukas Ciel cepat.

"Jika tugas iblis adalah mencuri dan menyesatkan jiwa manusia maka tugas shinigami adalah menempatkan jiwa manusia pada tempat yang seharusnya." Ciel mendengarkan dengan serius setiap ucapan Sebastian.

"Gadis itu seharusnya sudah mati, bukan begitu Bocchan?" Ciel terdiam, dalam hati membenarkan pernyataan butlernya. Tetapi, iblis muda itu jauh lebih keras kepala untuk menolak kenyataan tersebut.

"Anda sudah mencuri jiwanya dari para dewa kematian sejak anda menyelamatkannya dari kematian. Namun, anda melakukan hal yang tidak pernah dilakukan oleh seorang iblis sebelumnya." Sampai disini Sebastian memberi jeda.

"Alasan mengapa seorang iblis membubuhkan tanda kontrak pada mangsanya, selain sebagai bukti keterikatan juga sebagai kepemilikan. Sehingga tidak ada mahkluk lain yang boleh memiliki jiwa mangsa tersebut selain iblis yang menandainya. Itulah mengapa dewa kematian pun tidak bisa mengambil jiwa manusia yang terikat kontrak. Tetapi pada kasus ini. . ." Sebastian menggantung kalimatnya, melirik raut muka tuan mudanya yang menunduk dengan pandangan kosong.

"Aku tidak mengikat kontrak dengannya. . ." Lirih Ciel.