Bittersweet

By : HunHannie

Main Cast : Luhan and Sehun

Other cast : (Chapter ini gak ada cast lain.)

Rated : M

WARNING : Ini FF BoysLove, typo yang bertebaran, plot cerita yang tidak nyambung sama judul, cerita yang membosankan, dan yang lainnya.

Author note : Aku kembali kawan-kawan! Setelah hampir setahun menghilang tanpa kabar. Maaf membuat kalian menunggu begitu lama, ah, mungkin maaf saja tidak cukup. Penyakit WB saya yang selalu kumat setelah update benar-benar menyusahkan tapi ya emang dasar saya yang gak terlalu berbakat tapi ngotot pengen buat fanfic TT. But, yeah, ini cahpter tiganya. Semoga kalian menikmati chpater ini.

...

...

...

HunHan

...

...

...

Sehun membuka matanya saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh kulit pipinya. Iapun menoleh dan mendapati sesorang tengah tertidur disampingnya dengan wajah yang dekat sekali dengan wajahnya.

Sehun terlonjak kaget, namun tidak sampai membangunkan seseorang itu. Tangannya mengelus pelan dadanya yang terasa akan meledak karena kaget. Senyum manispun terukir dibibirnya saat tahu siapa pemilik rambut yang sudah membuatnya terbangun.

"Luhan," gumamnya pelan.

Ingatannya berkelana ke kejadian tadi pagi. Kejadian yang selalu ia mimpikan namun tidak begitu ingin menjadi kenyataan. Sehun sadar, Luhan terlalu sempurna untuk dirinya. Tapi, pagi tadi Luhan yang sempurna itu menyatakan cinta padanya. Dan untuk sesaat Sehun merasa sedang bermimpi, namun kenyataannya Sehun benar-benar mengalami hal itu. Saat itulah Sehun malah pingsan dan membiarkan dirinya terlihat semakin bodoh dimata Luhan.

"Aish! dasar bodoh!" Umpat Sehun pada dirinya sendiri dengan tangan yang memukul pelan kepalanya.

"Sehun-ah?"

Sebuah suara lembut membuat Sehun menghentikan aksinya dan mendapati Luhan yang sudah terbangun tengah mengucek sebelah matanya dengan bibir cemberut. Manis! Pikir Sehun dengan wajah yang memerah.

"Se-selamat siang, Luhan-ssi," Sehun menyapa Luhan dengan nada gugupnya.

Bibir Luhan semakin cemberut saat mendengar Sehun masih memanggilnya dengan sebutan 'Luhan-ssi', padahal tadi pagi, Luhan sudah menengaskan kalau Sehun harus berhenti memanggilnya dengan sebutan itu.

"Errr... Lu-Luhan-ssi? Kenapa ekspresimu seperti itu?" Tanya Sehun saat menyadari kalau ekspresi Luhan aneh meski terlihat sangat menggemaskan dimata Sehun.

"Sehun-ah! Sudah kubilang berhenti memanggilku dengan panggilan formal." Kata Luhan nyaris sama dengan rengekan.

"I-itu... anu..." Sehun bingung harus berkata apa. Suasananya semakin canggung, dan pemuda itu tidak tahu harus melakukan apa. Sehun benar-benar gugup dan malu. Ayolah, meski mereka sudah menjadi sepasang kekasih-kalau boleh dibilang begitu-, Sehun masih merasa semua itu mimpi.

"Tidak apa kalau Sehunnie tidak bisa. Aku tidak akan memaksa lagi."

Suara Luhan membuat Sehun terpaku. Jujur saja, sekian banyak ekspresi Luhan yang pernah Sehun lihat, ia baru melihat ekspresinya yang ini. Ekspresi Luhan kali ini terlihat didominasi oleh kekecewaan, namun juga terdapat secercah kebahagian(?).

"Maaf, aku hanya merasa sangat kaget. Melihatmu didepanku, apalagi mengingatmu mengatakan kalau kau mencintaiku. Itu semua... serasa mimpi," ucap Sehun yang akhirnya mengatakan isi hatinya.

Luhan terdiam, namun sedetik kemudian senyum manis terlukis diwajahnya. "Jadi... apa karena itu Sehunnie pingsan?" Tanya Luhan. Nadanya terdengar jahil namun begitu manis.

Sehun yang merasa ketahuan hanya mengangguk malu kemudian mengalihkan pandangannya. Rasanya, kalau berlama-lama menatap wajah Luhan, Sehun mungkin akan pingsan lagi. Sudah cukup hal memalukan itu menimpa dirinya. Ia tidak mau terus menumpuk kesan buruk didepan Luhan.

"Hei, Kenapa memalingkan wajah?" Belaian lembut Luhan menyapu rahang tegas milik Sehun. Memaksa agar sang empunya balas menatap matanya.

Sehun terdiam saat kedua maniknya bertemu pandang dengan manik mata Luhan yang kini berbinar penuh kebahagiaan. Lidahnya serasa kelu. Sehun tidak bisa berkata apapun selain tetap menatap mata indah yang selalu dikaguminya itu. Seolah terdapat magnet yang sangat kuat yang menarik dirinya agar semakin tenggelam dalam binar cokelat itu. Detak jantung yang seharusnya normal itu, kini berdetak semakin cepat, layaknya detak jantung orang yang baru saja lari marathon bermil-mil jauhnya.

"Apa perlu aku mengatakannya lagi? Mengatakan kalau aku begitu mencintaimu, Sehun-ah," ucap Luhan yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Sehun.

Sehun melongo, tentu saja.

"Ti-tidak usah," balas Sehun seraya mendorong Luhan dengan lembut.

"A-aku percaya padamu," kata Sehun setelah Luhan sudah duduk dengan tenang disampingnya.

Mereka berdua terdiam cukup lama dan menciptakan keheningan panjang hingga deheman Sehun menghancurkan keheningan itu.

"Ada apa?" Luhan bertanya seraya memandangi Sehun yang menyandarkan punggungnya disandaran sofa.

"Aku... aku... yah—" Sehun terlihat gugup. pemuda itu menggaruk pipinya yang tidak gatal kemudian menegakkan tubuhnya dan menatap Luhan yang terlihat mengernyitkan keningnya. Nampaknya Luhan tengah kebingungan.

"Jangan membuatku penasaran," sahut Luhan.

Sehun meremas tangannya dan Luhan cemberut karena tidak mendapat respon dari Sehun.

"Aku... Aku merasa kau mencintai orang yang salah," kata Sehun, nyaris terdengar seperti bisikkan.

Dahi Luhan mengernyit lagi, ia merasa tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh pemuda didepannya.

"Apa maksudmu, Sehun-ah?" Tanya Luhan.

Sehun meraih pundak Luhan, kemudian meremas lembut pundak yang terasa kecil ditangannya. Entah kenapa, yang jelas sekarang Sehun sudah lebih berani untuk menyentuh Luhan tanpa harus dikuasai kegugupan yang bisa membuatnya pingsan.

"Aku bukan orang yang tepat untukmu. Lagipula..." Sehun menggantung kalimatnya. Ia terlihat berpikir keras kemudian menarik nafas dalam dan mengeluarkan nafasnya dengan kasar.

"Lagipula aku tidak mau Kris salah paham padaku," katanya seraya menarik kedua tangannya dari pundak Luhan.

"Hah?" Luhan memiringkan kepalanya, "apa maksudmu dengan 'Kau yang tidak mau Kris salah paham padamu'?" Tanya Luhan yang merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan Sehun.

"Yah... semua orang tahu kalau Kau dan Kris memiliki hubungan yang lebih daripada teman. Semacam sepasang kekasih." Jawab Sehun terdengar sangat polos.

"Hahahaha!" Tawa Luhan meledak seketika saat mendengar jawaban Sehun yang terdengar bodoh ditelinganya.

Mendengar Sehun yang bilang kalau Ia dan Kris memiliki hubungan yang lebih daripada teman membuat Luhan tertawa keras. Yang benar saja? jadi selama ini orang-orang termasuk Sehun mengira Ia dan Kris memiliki hubungan spesial? Hei! Hubungan mereka memang spesial karena mereka adalah kakak beradik, tapi tidak heran juga sih, karena setiap hari Kris selalu protektif padanya dan wajar jika orang-orang salah mengartikan hubungan mereka karena mereka memang menyembunyikan fakta penting itu. Tapi tetap saja, hal itu terdengar sangat lucu ditelinga Luhan.

"Err... Luhan-ssi? Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Sehun yang merasa bingung dengan tingkah Luhan yang tertawa tanpa sebab.

"Ah... maaf," sahut Luhan seraya mengelap setetes air mata yang keluar karena tertawa berlebihan. Sedetik kemudian Luhan merutuki kebodohannya yang bertingkah aneh didepan Sehun. Bagus! Sekarang Sehun pasti menganggapnya sudah gila karena tertawa tanpa sebab.

"Tidak apa-apa." Kata Sehun.

Sehun memutuskan untuk diam, namun Luhan sebaliknya. Pemuda itu malah mengubah posisi duduknya hingga benar-benar dekat dengan Sehun.

"Kau salah paham, Sehun-ah," ujar Luhan.

Sehun menoleh, menatap Luhan yang juga balas menatapnya.

"A-apa maksudmu, Luhan-ssi?" Tanya Sehun yang tidak mengerti dengan kalimat Luhan barusan.

"Maksudku, aku dan Kris tidak memiliki hubungan seperti sepasang kekasih," jawab Luhan seraya tersenyum manis.

"Benarkah?"

"Emm!" Luhan mengangguk.

Sehun terdiam seraya mencoba menemukan kebohongan dikedua netra Luhan. Namun sayang, pemuda itu malah menemukan kejujuran, bukan kebohongan yang ia harapkan. Meski tidak dapat dipungkiri kalau saat ini Sehun merasa sangat senang mendengar fakta itu.

"Jadi... sekarang... apa kita benar-benar sudah menjadi sepasang kekasih?" Tanya Sehun yang sebenarnya tidak nyambung dengan topik pembicaraan. Tapi persetan dengan hal itu. Sehun hanya ingin mengubah topik pembicaraan tentang Kris yang selalu membuat ia kesal dan cemburu.

"Iya, kita sudah menjadi sepasang kekasih," jawab Luhan riang.

Sehun tersenyum, meski dalam hati ia masih tidak percaya pada fakta kalau ia dan Luhan sudah memiliki hubungan seperti itu. Hal ini sangat jauh dari apa yang ia bayangkan.

"Aku tidak sedang bermimpi, kan?" Tanya Sehun lagi.

Cup

Kecupan kecil Luhan layangkan dipipi Sehun. "Apa kau masih merasa sedang bermimpi?" Tanya Luhan yang tidak sadar telah membuat kegugupan Sehun muncul lagi.

"A-aku... aku..."

Wajah Sehun memerah sempurna. Beberapa kali ia memalingkan wajahnya agar tidak menatap langsung mata Luhan. Ya Tuhan! Aku sangat gugup! pekik Sehun dalam hati.

"Dasar." Luhan bergumam kemudian meraih kedua pipi Sehun dan memaksa agar wajah itu hanya terarahkan padanya.

"Jangan gugup, Sehun-ah," kata Luhan, "semua ini nyata dan kau harus percaya padaku," ucap Luhan yang terdengar sangat manly.

Hei! Apa sekarang Sehun yang jadi uke? Kenapa Luhan justru terdengar sangat keseme-an? Oke. Lupakan kata hati author ini.

Sehun pun meraih kedua tangan Luhan yang berada dimasing-masing pipinya. Ia memejamkan matanya dan merasakan kehangatan yang menjalari kedua pipinya serta kelembutan permukaan kulit Luhan dibawah telapak tangannya. Semuanya terasa sangat nyata. Batin Sehun yang masih tidak percaya.

"Luhan-ah... kau tahu? Selama ini aku memang berharap bisa dekat denganmu tapi tidak sampai berharap menjadi kekasihmu," ucap Sehun seraya melepaskan tangan Luhan yang menempel dipipinya.

"A-apa... apa kau tidak senang?" Tanya Luhan ragu. Rasa sakit tiba-tiba muncul dihatinya saat memikirkan kalau ternyata Sehun tidak suka padanya dan menganggap semua ini hanya lelucuan.

"Justru aku sangat senang, Luhan-ah," jawab Sehun seraya tersenyum.

"Tapi... apa jika kau senang... itu berarti kau juga menyukaiku?"

Sehun menggeleng, "tidak," katanya.

"Aku tidak menyukaimu, tapi aku mencintaimu," tambah Sehun tanpa nada gugup yang selalu ia keluarkan saat berbicara dengan Luhan.

"Be-benarkah?"

Sehun memberikan anggukkan pasti sebagai jawaban atas pertanyaan Luhan. Dan tanpa sadar, Luhan memeluk Sehun dengan sangat erat seraya menggumamkan kata terimakasih berkali-kali.

Sehun yang mendapatkan pelukan tiba-tiba hanya diam dengan tubuh yang mematung dan wajah yang memerah. Nampaknya seme baru dari Luhan itu lagi-lagi akan pingsan.

"E-eh... Sehun-ah? Kau tidak apa-apa?" Luhan yang sadar kalau Sehun hanya diam tanpa membalas pelukannyapun langsung bertanya seraya melepaskan pelukkannya dengan mata yang menatap khawatir kekasihnya.

Sehun tidak menjawab. Ia berusaha menghilangkan rasa gugupnya agar tidak pingsan lagi didepan Luhan dengan cara tersenyum lebar yang jelas terlihat tidak natural.

"Errr... aku hanya belum terbiasa saja," katanya seraya menggaruk tengkuknya dengan gerakan patah-patah.

Luhan terkikik. Ia memaklumi sifat dari sang kekasih. Meski ia terbilang baru dekat dengan Sehun, tapi Luhan tahu mengenai semua hal tentang Sehun. Seperti sifatnya, makanan kesukaannya, pelajaran favoritnya dan banyak hal lagi yang Luhan tahu mengenai Sehun. Luhan itu bisa dibilang secret admire nya Sehun.

Setelah itu, tak ada yang memulai pembicaraan. Luhan dan Sehun hanya terdiam hingga suara perut keroncongan milik Luhan membuat Sehun menoleh ke arah suara itu.

"K-kau lapar, Luhan-ah?" Tanya Sehun yang melihat gelagat Luhan.

Luhan yang wajahnya memerah hanya mengangguk dengan tangan yang memegang perutnya.

"I-iya..." Sahutnya tanpa melihat Sehun.

Sehun terkikik pelan di tempatnya. Pemuda itupun meraih tangan Luhan dan menuntun Luhan agar duduk dimeja makan.

"Tunggulah disini," perintah Sehun pada Luhan yang hanya menurutinya dengan senang hati.

"Apa kau akan memasak untukku?" Tanya Luhan saat Sehun sudah sampai didapur dan mulai membuka lemari es.

"Iya. Aku memang tidak terlalu ahli, tapi masakanku masih layak untuk dimakan," jawab Sehun seraya tersenyum ke arah Luhan.

Luhan memerah lagi, padahal tadi saja wajahnya masih memerah.

"Aku bantu, ya?"

"Jangan! Kau duduk saja disana, Luhan-ah. Aku tidak akan lama."

Kemudian suara-suara khas bahan-bahan makanan yang sedang dimasakpun terdengar dari dapur sederhana Sehun. Sementara Luhan hanya menatap Sehun yang sedang memasak sembari bertopang dagu dan mata yang berbinar-binar.

Sehun sangat keren! Jeritnya dalam hati tanpa repot-repot untuk mengeluarkannya.

Sekitar limabelas menit Luhan menunggu, Sehun pun keluar dari dapur dengan tangan membawa piring yang dipenuhi oleh nasi goreng kimchi.

"Wah!" Luhan berseru kagum.

Sehun hanya tersenyum biasa padahal kenyataannya pemuda itu sangat gugup hingga kedua tangannya bergetar.

"Kelihatannya enak!" Luhan berujar saat satu piring nasi goreng sudah ada dihadapannya.

"Semoga saja," sahut Sehun seadanya. Ia menyodorkan sendok kepada Luhan dan langsung disambut dengan antusias olehnya.

"Terimakasih, Sehunnie!"

#SKIP TIME

"Kau tidak pulang, Lu?" Tanya Sehun sesaat setelah Luhan mendudukan dirinya disamping tempat ia duduk.

Luhan hanya menatap Sehun sekilas lalu menggeleng dengan pipi yang dikembungkan.

Sehun menusuk pelan pipi Luhan yang sedang dikembungkan, membuat sang empunya menoleh.

"Ada apa?" Tanya Luhan. Nada bicaranya terdengar sedikit kesal karena perlakuan Sehun barusan.

Sehun mendengus geli. "Kau lucu." Ujarnya kemudian.

Wajah Luhan berubah merah. "Te-tentu saja." Sahutnya.

Diam-diam, Sehun menjulurkan tangannya kebelakang punggung Luhan yang menempel disandaran sofa kemudian langsung meraih pundak kecil itu agar berada dalam pelukannya.

"Se-Sehun?"

Sehun hanya tersenyum biasa saja saat Luhan menatapnya. Tanpa disadarinya, wajah Luhan mendekat pada wajahnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.

"Lu-Luhan?"

"Se-Sehun... aku ingin... menciummu."

Kata terakhir yang Luhan ucapkan membuat wajah Sehun memerah dan gugup kembali menyerangnya. Sehun tidak tahu harus berbuat apa, tapi instingnya mengatakan kalau ia harus mengangguk dan membiarkan Luhan melakukan apa yang diinginkannya.

CHU~

Satu kecupan ringan Luhan layangkan pada bibir Sehun kemudian langsung menjauhkan dirinya dari Sehun dengan wajah yang dipalingkan karena malu.

Aku malu! Sehun pasti akan mengganggap aku terlalu agresif! –Batin Luhan dengan wajah yang merona.

Pemuda itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bermaksud agar Sehun tidak melihat betapa jeleknya ia sekarang ini.

"Hei, yang tadi itu manis sekali."

Luhan merasakan belaian dikedua pipinya dan mendapati Sehun tengah tersenyum padanya sembari membuat wajahnya kembali menghadap Sehun.

"Manis? Tentu saja! aku ini memang manis!"

Dalam hati Luhan merutuk lagi. Rasa malu dan gugupnya membuat lidahnya kelu sampai tidak bisa mengatakan kalimat lain selain kalimat bodoh yang barusan ia katakan.

"Kau memang manis, tapi bukan itu yang kumaksudkan."

Ucapan Sehun barusan membuat Luhan kebingungan. Ia tidak tahu kata manis yang dimaksudkan oleh Sehun.

"Aku tidak mengerti." Sahut Luhan dengan jujur sembari menggaruk kepalanya karena bingung.

Ya ampun! Mimpi apa aku semalam? Kenapa hari ini aku disuguhi pemandangan indah seperti ini? Apa dunia sudah mulai kacau? Oke. Hiraukan saja pergolakan batin Sehun barusan.

"Maksudku, rasa bibirmu sangat manis, Luhan." ungkap Sehun yang berhasil membuat wajah Luhan semakin merah padam.

Sangat jelas sekali kalau Luhan tengah merasa malu. Sejujurnya, Sehun juga merasakan hal yang sama. Ia sangat gugup, sumpah! Pemuda itu hanya sedang berusaha mengekstrak rasa gugupnya menjadi semangat yang membara(?).

"Ka-kau pasti sedang bercanda," gugup Luhan, "aku bahkan tidak sedang memakan permen," lanjutnya dengan wajah polos.

Sehun terkekeh keren(?).

"Itu bukan rasa manis yang dihasilkan karena permen, Lu. Itu rasa manis alami bibirmu."

Luhan mengerti sekarang.

"Kalau begitu, apa kau mau mecicipi rasa manis bibirku lagi?"

Tawaran yang barusan Luhan layangkan pada Sehun agaknya sedikit membuat pemuda itu terkejut. Ia bisa melihat dengan jelas kalau Luhan berubah. Dari yang polos menjadi terlihat sangat agresif. Tapi tidak masalah. Toh Sehun akan selalu mencintai Luhan walau bagaimanapun sifatnya.

Sementara Luhan yang baru saja sadar kalau dirinya sedang masuk ke dalam mulut singa hanya merutuki lidahnya yang bisa-bisanya mengatakan hal yang bodoh dan terdengar agresif.

Mati aku! Teriak Luhan dalam hati.

Tanda bahaya sudah mengaum sejak tadi karena singa kelaparan tengah meneteskan lirunya siap untuk menerkam mangsa(?). Luhan sedikit menjauh dari Sehun yang sebenarnya terlihat biasa saja. Itu hanya imajinasinya yang terlalu liar.

"Lu-Luhan-ah? Kau tidak apa-apa?" Sehun mengernyit khawatir saat melihat ekspresi Luhan yang ketakutan. Ia menggeser tubuhnya agar lebih jauh dari Luhan. Kekasih barunya terlihat sangat ketakutan, tidak mungkin Sehun bisa melanjutkan aksinya kalau Luhan seperti itu.

"A-aku tidak apa-apa," balas Luhan cepat, meski tidak bisa menutupi kegugupannya.

"Tapi kau terlihat ketakutan," sahut Sehun.

Luhan menggeleng cepat. Memang ia agak takut. Tapi bukankah ia sendiri yang memulainya?

"Aku hanya sedikit kaget," kilah Luhan sembari merapatkan tubuhnya pada tubuh Sehun.

Getaran asing Luhan rasakan saat kulitnya beradu dengan kulit Sehun. Sementara Sehun menelan ludahnya paksa saat melihat betapa indahnya Luhan saat ini.

Luhan yang malu-malu terlihat sangat indah dimata Sehun.

"Luhan... aku tahu ini terlalu terburu-buru. Tapi aku tidak bisa menahannya..." Ujar Sehun seraya menyudutkan Luhan hingga kepala pemuda itu menabrak pinggiran sofa yang terbalut kain beludru lembut.

"Lakukan, Hun... jadikan aku milikmu."

Bagai mendapatkan jackpot, hati Sehun berpesta ria mendapatkan tanda lampu hijau dari Luhan. Meski sebenarnya ia merasa tidak enak pada Luhan. Hei, mereka baru saja menjadi sepasang kekasih, dan pergi kemana sikap Sehun yang penuh kegugupan itu?

Masa bodoh dengan hal itu, Sehun hanya mengikuti nafsunya yang sudah diubun-ubun.

"Anghh..."

Lenguhan lembut Luhan terus mengalun merdu ditelinga Sehun. Tanganya yang sudah mulai menjelajah tubuh mungil dibawahnya. Sementara bibirnya mengecupi kulit putih nan lembut milik Luhan. Memberikan tanda kemerahan yang sangat kontras dengan kulitnya.

"Ah! Sehunhhh..." desah Luhan saat mulut Sehun sudah mulai mengulum puting susunya yang menegang.

"Bilang padaku kalau kau merasa sakit."

Luhan mengangguk malu. Wajahnya semakin memerah saat mendapati tubuhnya sudah dilucuti tanpa sadar.

Sementara Sehun meraba lubang kecil berkerut milik Luhan. Ia mengarahkan jari tengahnya kelubang itu, kemudian mencoba mengajak Luhan berciuman agar Luhan terbuai dari rasa sakitnya.

"Mmhh..." desahan kecil yang tertahan oleh bibir Sehun terdengar oleh telinganya.

"Ah!" Luhan tanpa sadar meremas kuat pundak Sehun ketika jari tengah milik Sehun mulai masuk ke lubangnya.

"Nghhh~"

Ditengah desahannya, Luhan semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Sehun. Seolah memberikan ruang yang lebih luas untuk Sehun melakukan penetrasi.

"Lu... sakitkah?" Sehun berbisik pelan seraya mengecupi leher jenjang Luhan yang sudah diwarnai tanda kepemilikannya.

Luhan menenggelamkan kepalanya diperpotongan leher Sehun dan mengangguk kecil.

"Maaf..." Sehun berbisik lagi, "kalau begitu kita berhenti saja?" tambahnya sembari menarik jari tengahnya dari lubang berkerut Luhan.

Luhan meremas pundak Sehun dan menggeleng. Pemuda itu mendorong tangan Sehun yang tadi hendak menjauh dari belakang tubuhnya.

"Jangan berhenti, Hun... teruskan," katanya pelan.

Sehun sedikit menjauhkan badannya dari Luhan. Ia memutuskan untuk memberikan sedikit jarak agar ia bisa melihat wajah Luhan dan memastikan kalau kekasihnya itu tidak apa-apa.

"Lu, tapi kau kesakitan," ujar Sehun kemudian menggeser tubuhnya sedikit lebih jauh dari Luhan. Namun berhasil ditahan oleh Luhan.

"Aku tidak apa-apa, Hun," Sahut Luhan ditengah deru nafasnya yang semakin memburu.

Sehun tersenyum. Kemudian memangku tubuh Luhan dan membiarkan kekasihnya itu menduduki tubuhnya. Tangannya meremas bokong Luhan yang terasa kenyal, terkadang Sehun mengusap dua bongkahan lembut itu pelan, lalu mulai memasukan jari tenganya kedalam lubang milik Luhan yang mulai basah.

"Ah!" Luhan memekik tiba-tiba. Tangannya yang bergetar meremas pundak Sehun dengan kuat. Sengatan yang aneh membuat kepalanya pening.

"Sehunhh... disana... ugh!"

Sehun menambah satu jarinya dan tersenyum senang saat melihat Luhan mendesah keenakan. Ia memaju-mundurkan dua jarinya dan membiarkan Luhan mengisi telinganya dengan desahan merdu.

"Ugh... akh! Sehun... Sehun..."

Luhan klimaks. Nafasnya terengah-engah dan tubuhnya melemas diatas tubuh Sehun yang bersandar disandaran sofa.

"Kau suka?"

Luhan menangguk.

"Kita pindah ke kamar, ya?" Tanya Sehun setelah melihat Luhan yang tidak lagi terengah-engah.

Luhan mengerjap imut. Iapun mengangguk kecil dan membiarkan Sehun menggendong tubuhnya menuju kamar yang terletak tidak jauh dari tempatnya tadi.

Sehun menghempas pelan tubuh telanjang Luhan diatas kasurnya yang berseprai putih kemudian langsung menindih tubuh kecil kekasihnya seraya mengecupi kulit putih Luhan yang sudah donodai oleh kissmark buatannya.

"Arghh! Hun... ugh..." Luhan mendesah lagi. Tangannya meremas rambut Sehun yang kini sedang bermain diantara puting dan tulang selangkanya.

"Emmmhh..."

Sehun melepas pakaian yang sejak tadi melekat ditubuhnya. Melepaskan kemeja biru tuanya kemudian melepaskan celana bahannya yang sejak tadi terasa sesak.

"Luhan... aku masuk, ya?"

Luhan terpekik kaget saat merasakan Sehun mengangkat sebelah kakinya untuk kemudian disandarkan dibahu lebar Sehun. Matanya mengerjap polos saat melihat kejantanan Sehun yang sudah siap didepan lubangnya yang licin.

"Pelan-pelan, Hun..." ucap Luhan yang merasa tidak yakin kalau benda diantara selangkangan Sehun akan masuk kedalam lubangnya yang kecil.

"Aku akan memasukannya dengan lembut."

Luhan merona saat Sehun memberikan kecupan singkat dibibirnya. Ia memutuskan untuk meraih pundak Sehun dan melingkarkan tangannya dengan erat. Membiarkan Sehun melanjutkan kegiatannya tadi.

"Akh!" Luhan tanpa sada memekik keras saat ujung kejantanan Sehun sudah masuk ke lubangnya.

Sehun yang melihat kekasihnya kesakitan langsung meraih bibir Luhan untuk membuat Luhan melupakan sejenak rasa sakitnya. Mencium lama bibir tipis itu dengan beberapa hisapan dan jilatan yang berhasil membuat Luhan terbuai.

"Ahh... Sehunhhh... lagi.."

Tubuh Luhan tersentak saat Sehun mulai memaju-mundurkan kejantannya yang sudah masuk kedalam lubang Luhan. Desahan kecil yang menggoda juga tanpa sadar lolos dari bibir Sehun. Saling menyahut dengan desahan Luhan yang semakin keras.

"Nghhh... Arghhh...

"Uhh... Lu... kau sempit..."

"Akh! Sehunhh... lebih dalam lagih..."

"Ugh! Aku mau keluar—"

Sehun menusuk dalam lubang Luhan saat ia klimaks, membiarkan cairan cintanya memenuhi diri Luhan. Dan Luhan klimaks keduanya membasahi perut Sehun.

"Terimakasih..." Sehun mengecup kening Luhan yang basah oleh keringat. Pemuda itu memutuskan untuk berbaring disamping Luhan setelah mengeluarkan kejantanannya dari lubang Luhan yang sekarang basah oleh cairannya.

Luhan melirik Sehun yang tengah mengamatinya disamping tubuhnya yang masih bergetar karena kelelahan. Memberikan senyuman manis yang selalu bisa membuat Sehun jatuh cinta padanya.

"Se-Sehun... mau ronde kedua?"

Detik berikutnya, Sehun tidak pingsan. Pemuda itu menyeringai kecil dan kembali menindih tubuh Luhan. Memulai ronde kedua yang ditawarkan oleh kekasih manisnya itu.

TBC

BTW, NC nya garing ya? tapi yang penting saya sudah nepatin janji buat NC dichapter ini.

Silahkan ungkapkan unek-unek kalian di kotak review! Berikan komentar dan kritik(yang membangun) untuk saya, agar saya bisa membuat tulisan yang lebih bagus dan berkualitas. Sampai jumpa di chapter berikutnya!