Harmony

Choi Seungcheol

Hong Jisoo

Others SVT Member

Find by your self lah

Kkk

.

.

'Kehidupan Jisoo dan Seungcheol yang makin harmonis.'

.

.

©Sour & Bitter 2016 Present

.

.

(***)

.

"Astaga! Kau ini sudah dewasa, Seungcheol! Memakai dasi saja tidak bisa!" omel Jisoo.

Hubungan Jisoo dan Seungcheol berjalan makin lancar dan saat ini sudah memasuki bulan ke sepuluh sejak mereka menjadi sepasang kekasih dan sepuluh bulan sejak Jisoo menjadi seorang gadis.

Seungcheol tertawa pelan. Hari ini adalah hari di mana Seungcheol mendapatkan gelar sarjananya. Sesuai janjinya, Jisoo menemani kekasih tampannya itu pergi ke acara wisuda. Jisoo sudah tampil cantik dalam balutan tosca dress selutut - yang sengaja dibelikan Seungcheol - dengan rambut ikalnya yang diurai. Tapi Seungcheol masih sempat-sempatnya menggoda kekasih cantiknya dengan berpura-pura tidak bisa memakai dasi.

Saat gadis itu sibuk membenahi dasinya, Seungcheol melingkarkan tangannya dipinggang kecil milik Jisoo. Sengaja membuat Jisoo tidak fokus dan usahanya berhasil. Gadis itu berulang kali membenahi simpulnya yang salah. Selalu gugup jika Seungcheol sudah memandanginya seperti ini. Bukan karena apa hanya saja pemuda itu selalu saja sukses membuat dadanya berdebar-debar dan dirinya salah tingkah karena perlakuan manis Seungcheol.

"Hei, Nyonya Choi.. Pipimu memerah." bisik Seungcheol tepat di telinga sensitifnya.

Jisoo menelan ludahnya pelan dan memalingkan wajahnya. Seungcheol malah asyik meniup-niup telinga gadis itu hingga satu desahan memalukan keluar dari bibir kucing Jisoo. Gadis itu mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena mengeluarkan suara desahan yang membuat kekasih tampannya itu makin bersemangat mengerjainya.

"Ya! Acaranya kurang 30 menit lagi, Seungcheol!" Jisoo mendorong dada Seungcheol sekuat tenaga dan melarikan diri keluar dari kamar mereka. Meninggalkan Seungcheol yang tertawa senang.

.

.

Suasana di aula utama Seoul National University terlihat ramai oleh para wisudawan dan wisudawati. Seungcheol salah satunya. Joshua seharusnya juga mengikuti wisuda itu namun sejak menjadi Jisoo, tidak ada lagi Joshua Hong si Jenius di sana. Gadis itu lebih memilih berhenti kuliah. Toh, tidak ada salahnya.

"Selamat ya, hyung!" kata Mingyu yang dipilih menjadi MC untuk acara wisuda.

Seungcheol menyalami Mingyu dengan senyum merekah. Sebelah lengannya memeluk pinggang Jisoo dengan posesif. Jisoo hanya tersenyum cantik. Senyuman yang mampu membuat semua wisudawan menatapnya dengan pandangan kagum dan memuja. Seungcheol jengah dibuatnya.

"Terima kasih, Mingyu. Hmm.. Aku harus mengamankan gadisku dulu." kata Seungcheol sambil mengedipkan sebelah matanya pada Jisoo.

"Apa-apaan kau ini? Memangnya aku barang sehingga kau harus mengamankanku?" tanya Jisoo dengan wajah masam yang masih saja terlihat cantik di mata Seungcheol.

Mingyu dan Seungcheol terkekeh. Lalu pemuda tampan dengan pakaian toga itu mengajak Jisoo ke bangku tamu undangan. Menempatkan Jisoo di samping kedua orang tuanya yang juga menghadiri acara wisudanya. Kedua orang tua Seungcheol menyambut Jisoo dengan hangat.

"Eomma, jagakan Jisoo untukku. Aku tidak mau ada makhluk hidung belang yang menggoda kekasih cantikku." pesan Seungcheol pada ibunya setelah mencium pipi kedua wanitanya - ibunya dan Jisoo.

Tuan dan Nyonya Choi terkekeh melihat sifat over protective putra mereka. Apalagi pada gadis yang sekarang ber-blushing di antara mereka.

.

.

Seungcheol dan Jisoo kembali ke apartemen mereka setelah merayakan kelulusan Seungcheol dengan makan malam mewah. Pemuda itu merangkul pundak sempit Jisoo yang disampiri jasnya. Tadi gadis itu menggigil kedinginan saat keluar dari restoran dan Seungcheol dengan gentleman memakaikan jasnya pada kekasihnya yang merona karenamenjadi pusat perhatian.

Jisoo masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Meminta izin untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih hangat dan nyaman. Seungcheol mengangguk dan lebih memilih menonton televisi dengan tenang. Mereka belum resmi menjadi sepasang suami istri dan Seungcheol berkomitmen tidak akan berbuat lebih pada Jisoo sebelum mereka sah. Walaupun kerap kali Seungcheol dan Jisoo hampir saja kelepasan karena sama-sama terangsang.

Pintu kamar mereka terbuka dan menampilkan Jisoo yang tampak manis dengan piyama motif bulan bintangnya. Sengcheol tersenyum dan melangkah masuk ke dalam kamar. Gilirannya untuk mengganti baju.

"Mau kubuatkan coklat panas sebelum tidur?" tanya Jisoo saat Seungcheol melewatinya sambil mengacak rambutnya dengan sayang.

"Boleh juga. Jangan terlalu manis, sayang."

Gadis itu mengangguk dan berjalan menuju dapur untuk membuat dua mug coklat panas dan membiarkan Seungcheol berganti pakaian. Diam-diam Jisoo bersyukur memiliki kekasih pengertian seperti Seungcheol.

.

.

Coklat hangat dalam mug sudah tandas. Kedua peminumnya sekarang tengah berpelukan dibalut selimut tebal sambil menghirup aroma satu sama lain. Kebiasaan mereka sejak menjadi sepasang kekasih. Seungcheol memainkan rambut ikal Jisoo sambil bersandar pada kepala ranjang sedangkan Jisoo memainkan jari-jari kekasihnya dengan kepala bersandar di dada tegap Seungcheol.

"Kapan aku bisa menemui orang tuamu, Baby?" tanya Seungcheol.

"Kapanpun. Kenapa?"

Seungcheol diam. Berniat mengerjai gadisnya. Jisoo mendongak dan menatap Seungcheol yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas. Gadis itu mencubit perut six pack pemuda yang menjadi sandarannya. Cubitan kecil nan menyakitkan yang membuat pemuda fresh graduate itu mengaduh kesakitan. Jisoo terkikik dan dihadiahi sebuah kecupan di bibir plumnya. Seungcheol terkekeh melihat Jisoo yang mendelik ke arahnya.

"Kau ini manis sekali." gumam Seungcheol pelan namun masih bisa didengar Jisoo.

Jisoo mengerucutkan bibirnya. "Aku memang manis, salah?"

"Ya." Seungcheol meraih telapak tangan Jisoo dan mengecupnya. "Kau terlalu manis sampai aku harus segera menemui orang tuamu untuk melamar putri cantik mereka agar tidak ada orang lain yang bisa memilikimu."

.

.

Seungcheol berangkat ke Los Angeles ditemani Jisoo seminggu kemudian. Pemuda itu sudah berkeyakinan tinggi akan diterima keluarga Hong saat melamar nanti. Bagaimana tidak? Sebagai fresh graduate yang lulus cumlaude, Seungchel mendapatkan banyak job desk yang seolah menunggu pemuda itu untuk memilih salah satunya. Pilihan Seungcheol jatuh pada sebuah jabatan middle manager di perusahaan tambang yang sudah lama menjadi incarannya. Atas arahan Jisoo juga tentunya. Tapi Seungcheol juga mengambil tawaran jabatan marketing sebuah perusahaan pengelolaan minyak tanpa sepengetahuan Jisoo.

Baru beberapa hari bekerja pemuda itu sudah mendapatkan tuaian pujian dan promosi untuk kenaikan jabatan. Jisoo hanya tersenyum saat Seungcheol pulang dengan wajah berseri-seri dan menggendongnya ke sana ke mari.

"Silahkan masuk, Seungcheol-ah." kata ibu Jisoo ramah.

Jisoo mengantar Seungcheol ke kamar tamu lalu mengajak pemuda itu untuk makan bersama dengan keluarganya. Kebetulan sekali Tuan Hong sedang di rumah karena waktu luang sehingga Seungcheol bisa bicara banyak dengan calon ayah mertuanya. Mereka sedang mengobrol santai di ruang tamu. Tuan Hong memang sudah terpikat dengan sikap Seungcheol. Dan pemuda itu juga pandai mengambil hati kedua orang tua Jisoo.

"Saya berniat melamar Jisoo, paman." kata Seungcheol.

.

.

Pernikahan mereka dijadwalkan dua bulan lagi. Sengaja dilangsungkan bersamaan dengan ulang tahun Seungcheol yang ke-24 tahun. Meskipun masih jauh, Jisoo sudah menarik Seungcheol ke sana ke mari untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Mulai dari wedding organizer, undangan, konsep pernikahan, dan lain sebagainya. Awalnya Seungcheol yang bersemangat soal pernikahan mereka namun Jisoo menjadi lebih bersemangat lagi saat mendata keperluan mereka.

"Aku cantik tidak?" tanya Jisoo sambil memutar tubuhnya yang dibalut gaun putih yang indah.

Seungcheol mengangguk. Sudah lelah bicara. Lagipula itu sudah gaun ke 59 yang dicoba Jisoo dan masih ada lusinan gaun yang akan dicoba gadis itu. Bisa-bisa bibir Seungcheol semakin tebal karena mengomentari gaun-gaun yang dicoba Jisoo.

Ups..

.

.

Pernikahan mereka berlangsung dengan sederhana. Hanya mengundang sanak keluarga, teman dekat, dan beberapa kenalan. Dengan memakai tema garden party, mereka melangsungkan upacara pernikahan mereka di gereja kecil yang ada di kampung halaman Seungcheol yang memiliki padang rumput hijau di belakangnya.

Seungcheol terlihat gagah dan tampan dengan setelan tuxedo mewah yang dipesan langsung pada designer ternama. Pemuda tampan itu sudah berdiri di altar dengan senyum bahagia. Menunggu Jisoo yang belum sampai. Saat sedang merapikan tuxedonya, pintu gereja terbuka. Seungcheol bisa melihat mempelainya tampak cantik dengan gaun putih indah dan membalut tubuhnya dengan pas. Mahkota dari bunga menghiasi rambut ikalnya yang indah. Rangkaian bunga ditangan Jisoo semakin mempercantik tampilan gadis yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya. Seungcheol menelan ludahnya gugup. Jisoo terlampau cantik.

Tuan Hong mengangsurkan tangan putrinya pada Seungcheol dan pemuda itu menggapai lengan Jisoo dengan lembut. Jisoo terkekeh dalam hati saat merasakan tangan Seungcheol yang gemetaran. Gadis itu menggenggam telapak tangan calon suaminya dengan erat. Lalu mereka berdiri berhadapan dengan senyum bahagia di wajah mereka.

.

.

Tanpa perlu dijelaskan lagi karena pernikahan mereka berjalan dengan sangat lancar. Bahkan Seungcheol tidak gugup sama sekali saat Jisoo menggenggam tangannya dengan erat. Seolah mengatakan semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana. Lalu semuanya mengalir tenang seperti aliran air.

Tapi semua kelancaran itu seolah tersandung pada pertanyaan Seokmin.

"Kenapa Johua hyung tidak datang ke acara pernikahn kalian?" tanyanya saat tidak menemukan sosok pemuda yang dulu menjadi sunbaenya.

Semua orang menatapJisoo dan Seungcheol yang diam terpaku di tempat mereka berdiri. Seolah semua kata yang ada diotak tidak dapat tersampaikan. Beruntung ada Nyonya Hong yang dengan tanggapnya menjelaskan pada pemuda bermarga Lee itu. Mengatakan kalau Joshua akan datang setelah urusannya di New York selesai. Jawaban itu diterima bulat-bulat tanpa ada bantahan dari Seokmin.

.

.

Dalam kamar remang-remang yang sengaja didekorasi untuk malam pertama mereka, Seungcheol dan Jisoo saling memagut bibir satu sama lain. Seungcheol yang lebih mendominasi dan Jisoo kelimpungan menyamai ciuman suaminya yang sedang horny. Kedua tangan Seungcheol menjelajahi setiap jengkal tubuh Jisoo yang sudah resmi menjadi istrinya. Semakin bersemangat saat Jisoo melenguh dengan seksinya. Ciuman mereka diputus oleh Seungcheol.

Ia memandang Jisoo yang terengah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lebih terangsang lagi saat menyadari istri manisnya itu memakai lingerie merah yang sangat tipis. Bahkan ia bisa melihat bra dan celana dalam merah menyala yang dipakai Jisoo.

"Kau sangat seksi, Sayang." puji Seungcheol.

Lelaki itu mendorong istrinya ke kasur dalam posisi berbaring. Jisoo berpose seseksi mungkin. Berusaha menggoda suaminya yang sudah sangat terangsang. Seungcheol memposisikan dirinya di atas tubuh kecil istrinya dengan kedua lengan menyangga tubuhnya dengan kedua lengannya. Jemari lentik Jisoo bermain di dada telanjang Seungcheol. Menyentuh abs-abs seksi milik lelaki yang sudah legal menjadi suaminya pagi tadi. Sang suami memejamkan matanya mendapat rangsangan dari istrinya. Lalu membuka matanya dan menatap Jisoo yang juga sedang menatapnya. Satu tangannya membuka kaitan bra yang mengganggu. Melepasnya tanpa melepaskan lingerie tipis itu dari tubuh Jisoo.

"Seksi." bisik Seungcheol dengan suara rendah, menandakan kalau Seungcheol sedang menahan hasratnya untuk segera menyerang istrinya.

"Kau juga." bisik Jisoo tak kalah seksi, tangannya tanpa sengaja menyentuh kejantanan Seungcheol yang sudah ereksi.

"Pelan-pelan saja."

Jisoo merona malu namun tangan nakalnya bergerak mengurut kejantanan suaminya hingga Seungcheol menggeram dan menyerang bibir serta dadanya. Meremas-remas dada Jisoo dengan gemas dan memainkan nipple-nipple yang selama ini selalu menggodanya untuk berbuat di luar batas sebelum menjadi suami Jisoo. Wanita itu menggeliat. Terbuai dengan sentuhan dan ciuman Seungcheol yang memabukkan.

"Euungh.." lenguhan Jisoo terdengar lebih seksi karena terangsang.

Wanita itu menjengit kaget saat satu jari lelakinya menyelinap masuk ke dalam vaginanya yang sudah basah. Melenguh makin keras saat Seungcheol memaju mundurkan jarinya dan menambahkannya menjadi tiga jari. Sodokan pelan itu perlahan menjadi makin cepat dan Jisoo mendesah-desah dengan tubuh menggeliat bagai ular. Apalagi saat jari-jari itu menyentuh titik manisnya.

"Aaaah.. Cheolh.. Aaah.."

Seungcheol mengeluarkan jari-jarinya dan melebarkan paha Jisoo. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk menjamah istrinya. Melepas celana dalam Jisoo d

"Aku tidak akan menyakitimu, Sayang." ucap Seungcheol.

Melihat Jisoo mengangguk, Seungcheol memposisikan dirinya di antara paha Jisoo yang terbuka lebar. Menampakkan vagina berkedutnya yang membuat ereksinya makin menyakitkan dan meminta segera dipuaskan. Lengannya memeluk pinggul ramping Jisoo. Menggesekkan kejantanannya pada vagina Jisoo yang sudah sangat-sangat basah.

"Uuh.. Uuh.. Seungh.. Cholh.." rengek Jisoo saat Seungcheol hanya menggoda vaginanya.

Seungcheol terkekeh dan menekan ujung kejantanannya masuk ke dalam vagina perawan Jisoo.

"A-aaakh! P-pelanh.."

Ini baru saja permulaan. Seungcheol mendiamkan dirinya. Menunggu Jisoo terbiasa dengan miliknya di dalam. Jisoo meremas pundak Seungcheol kuat. Meminta lelakinya untuk kembali bergerak. Seungcheol mengangguk dan menekan kejantanannya makin dalam. Dan wanita itu bisa merasakan sebuah cairan hangat melewati paha dalamnya. Lelaki di atasnya mengecup kening berkeringatnya dan tersenyum.

"Kau berdarah, Sayang." Seungcheol terkekeh.

"Mmh.. Aku tahu, Sayangh.. Hhh.." Jisoo menggerakkan pinggulnya, memberi lampu hijau pada Seungcheol untuk berbuat lebih.

Seungcheol mengangkat pinggul Jisoo hingga kejantanannya benar-benar tertanam sempurna dalam vagina Jisoo yang meremas miliknya dengan sangat kuat. Jisoo memeluk Seungcheol dengan nafas terengah-engah. Menyakitkan pada awalnya namun membuatnya pusing karena nikmat tiada tara. Pinggul lelaki itu mulai bergerak. Maju-mundur dengan pelan. Menghasilkan desahan-desahan seksi yang keluar dari mulut Jisoo yang membengkak.

"A-aaaah.. Aaaah.. Sayangh.." desah Jisoo seraya mengalungkan kedua lengan kurusnya di leher Seungcheol.

Lelaki itu membuat banyak kissmark di seluruh kulit istrinya. Menghiasi kulit putih itu dengan bercak-bercak merah yang sangat kontras dengan warna kulitnya. Gerakan Seungcheol mulai tidak terkendali. Menusuk-nusuk vagina rapat Jisoo hingga menyundul titik manis wanita di bawahnya dengan telak.

"Ooooh.. Di sanaaah.."

Seungcheol kembali menyerang bibir bengkak Jisoo. Melumatnya dan menghisap bibir kucing itu dengan gemas. Melesakkan lidahnya ke dalam mulut wankta itu dan memulai permainan lidah mereka. Jisoo menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dan Seungcheol membalasnya dengan sodokan tajam yang membuat tubuh kecilnya terlonjak-lonjak di atas kasur. Perut Jisoo terasa terbelit dan setelah menerima tiga kali pukulan keras dari kejantanan Seungcheol, wanita itu mengeluarkan cairannya.

Nafas wanita itu terdengar memburu pasca orgasme pertamanya. Seungcheol menghentikan gerakannya. Membiarkan Jisoo menikmati orgasmenya yang terbilang cepat. Wanita itu mengisyaratkan suaminya untuk kembali bergerak. Kali ini si suami mengimbanginya dengan kuluman ringan dipucuk payudaranya. Jisoo menggeliat karena geli dan mengacak rambut Seungcheol dengan liar. Merangsang suaminya untuk bergerak lebih cepat.

Gerakan pinggul lelaki itu semakin cepat. Jisoo pening saat melongok ke bawah dan melihat secara langsung kejantanan Seungcheol yang keluar masuk vaginanya dengan cepat. Wanita itu merapatkan dinding vaginanya dengan kuat dan sengaja. Membuat Seungcheol menggeram tertahan dan menghujamnya dengan gerakan paling cepat yang bisa dilakukannya. Remasan di kedua payudaranya juga semakin kasar namun disukai Jisoo.

"Uuuh.. Cheolh-aaah.."

"Sayangh.. Kau benar-benar nikmat dan sempit.. Datanglah sayang.."

Jisoo melingkarkan kedua kaki jenjangnya ke pinggul Seungcheol yang masih menumbuk sweet spotnya berkali-kali hingga rasanya Jisoo berada dilangit karena terbuai. Sebutir keringat dari wajah Seungcheol jatuh di ujung hidungnya. Jisoo mendongak dan melihat suaminya tengah memejamkan matanya saat ia sengaja memainkan kejantanan Seungcheol dengan mengetatkan vaginanya. Gerakan Seungcheol lebih keras dari sebelumnya dan kejantanan itu membesar dua kali lipat. Jisoo mengejang. Ia hampir sampai lagi hanya karena memikirkan Seungcheol. Keduanya sampai bersamaan dengan meneriakkan nama pasangan masing-masing. Seungcheol berbaring di samping Jisoo tanpa mengeluarkan kejantanannya.

Seungcheol mencium kening Jisoo yang berkeringat dan memeluk tubuh telanjang Jisoo. "Terima kasih, Sayangku."

"Sama-sama." sahut Jisoo lemas, lelah dengan permainan mereka.

"Sayang.."

"Hmm.."

"Permainan kita masih berlanjut kan?"

"A-apa?"

Seungcheol tertawa dan kembali melanjutkan permainan mereka tanpa menunggu persetujuan dari istrinya yang sekarang sedang mendesah-desah keenakan.

.

.

Jisoo kesulitan berjalan keesokan harinya. Wanita itu bersikeras menyiapkan sarapan setelah melayani morning sex dengan suaminya sesuai perjanjian yang mereka buat - dengan kehendak Seungcheol - setelah sesi bercinta mereka semalam. Salahkan Seungcheol yang terlalu mesum karena tidak tahan dengan tubuh telanjangnya saat terbangun tadi. Kalau saja Jisoo tidak berdalih kelaparan mungkin Seungcheol akan melanjutkan sesi bercinta 20 ronde mereka. Semalam Seungcheol mewujudkan mimpi nistanya setahun yang lalu. Bercinta 20 ronde.

Benar-benar 20 ronde yang membuat selangkangan Jisoo mati rasa karena terlalu lama melebarkan pahanya dan juga disodok Seungcheol. Tapi wanita itu benar-benar menikmati permainan kasar Seungcheol yang membuatnya orgasme berkali-kali. Jisoo menggelengkan kepalanya. Menghilangkan pikiran kotornya. Wanita itu meraih gelas di atas meja dan mengisinya dengan air mineral lalu meneguknya.

"Sayang.. Biar aku saja yang memasak. Cara berjalanmu belum benar."

Jisoo tersedak saat Seungcheol melingkarkan tangannya dari belakang saat dirinya sedang minum. Wanita itu mencubit lengan lelaki itu hingga lelaki itu memekik. Meskipun begitu, Seungcheol tetap memeluk tubuh mungil Jisoo dan menyandarkan dagunya di bahu sempit sang istri. Jisoo menghabiskan minumannya dan berusaha melepaskan diri dari Seungcheol.

"Menurut pada suamimu, Nyonya Choi." bisik Seungcheol sambil mengecup telinganya sedangkan tangan nakal itu merambat masuk ke dalam bathrob putih yang membalut tubuh Jisoo. "Atau aku akan melanjutkan ronde selanjutnya."

"Mesum!" pekik Jisoo.

Seungceol sengaja mencubit nipple Jisoo yang sudah menegang karena sentuhannya.

"Aaaah.."

"Kau yang memulai.."

Seringaian tampan sekaligus mesum tampak di wajah Seungcheol. Jisoo bergidik ngeri melihatnya. Oke, mari kita biarkan pengantin baru itu melanjutkan 20 ronde mereka yang selanjutnya.

.

.

Sore itu Seungcheol dan Jisoo menghabiskan waktu dengan memasak makan malam bersama. Jisoo terlalu lelah untuk menyiapkan semuanya sendirian. Seungcheol tidak membiarkannya berhenti mendesah sampai siang terlewati. Mereka baru berhenti jam 3 sore tadi dan mengakhirinya dengan mandi bersama. Namun, Seungcheol hampir saja menyerang Jisoo lagi kalau wanita itu tidak merengek karena lelah. Jadi mereka memasak bersama sekarang. Seungcheol juga tidak tega membiarkan Jisoo menyiapkan makan malam sendirian.

Seungcheol membantu Jisoo mengupas kulit udang dan menguleninya dengan telur. Lalu menggulingkan udang-udang itu di atas tepung. Setelahnya Jisoo yang menggoreng udang-udang itu hingga matang. Setelah itu lelaki itu memotong sayur mayur untuk sup. Kali ini Seungcheol yang menghandle sup. Ia sudah ahli dalam hal masak memasak sup. Entah sup apapun. Bahkan sup buatan Seungcheol lebih enak daripada buatan Jisoo.

"Mm.. Sayang.. Sebenarnya bumbu apa saja yang kau masukkan dalam sup buatanmu?" tanya Jisoo sambil membalik udang goreng di dalam penggorengan.

"Aku memasukkan cinta di dalamnya." jawab Seungcheol seraya mencium pipi Jisoo dengan sayang.

"Aku serius, Choi Seungcheol."

"Aku puluhan rius, Nyonya Choi Jisoo."

Jisoo mengerucutkan bibirnya dan Seungcheol yang gemas mencubit hidung istrinya pelan.

"Astaga, Sayang. Kenapa kau imut sekali? Aku penasaran apakah anak kita bisa seimut dirimu."

"Kurasa mereka akan terlihat imut."

"Menurutmu begitu?" Seungcheol menatap Jisoo.

Jisoo mengangguk dan kembali sibuk dengan masakannya. Menghiraukan Seungcheol yang terus menatapnya dengan penuh minat. Wanita itu melirik sang suami yang terlihat seperti anak kecil.

"Tentu saja. Kau juga imut, Sayang." Jisoo tersenyum. "Karena kita sama-sama imut maka anak kita akan lebih imut lagi."

.

.

"Aku berangkat dulu, Sayang." sang istri membenahi dasinya yang miring. "Aku akan pulang tepat waktu."

Jisoo mengangguk dan tersenyum saat Seungcheol mencium bibirnya dan memberikan sedikit lumatan di bibir tipisnya yang semakin lama semakin manis bagi Seungcheol.

"Hati-hati di jalan." nasehat Jisoo lalu mengecup bibir tebal suaminya. "Dan jangan sekali-kali melirik perempuan lain."

"Tentu istriku yang manis, cantik, dan seksi."

Lengan lelaki itu melingkar sempurna di pinggang langsing istrinya. Menempelkan ujung hidungnya dengan ujung hidung istrinya dan saling tatap lewat tatapan cinta yang dalam. Menyampaikan kekaguman dan rasa cinta yang besar pada pasangan mereka. Bibir mereka kembali bertemu. Kali ini ciuman suami lebih menuntut dan sang istri menyambutnya. Terus berlanjut meski punggung istrinya menabrak tembok. Tidak peduli dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 7.15 AM.

Ciuman mereka semakin panas dan Seungcheol semakin tergoda saat lutut Jisoo sengaja menggesek miliknya yang terbalut celana. Seungcheol memiringkan kepalanya dan semakin memperdalam ciuman mereka. Sepertinya Seungcheol tidak akan pergi bekerja karena sikap menggoda Jisoo yang semakin liar.

.

.

"Euuungh.. Harderh honey.. Oooh.. More deeppheeer.. Aaaah.."

Seungcheol menggenjot lubang surga Jisoo dengan keras dan terus mengenai kumpulan syaraf yang membuat wanita itu melayang. Menenggelamkan miliknya disertai dengan geraman puas karena vagina istrinya begitu rapat membungkus miliknya yang terus menerjang lubang senggama Jisoo. Wanita yang sedang mendesah nikmat itu melebarkan pahanya. Mempermudah suaminya untuk menusuknya makin dalam.

"Aaaah.. Aaaah.. Aaaaaaahhh.. Seungcheolh!" Jisoo sampai terlebih dahulu dan Seungcheol makin mempercepat gerakan pinggulnya.

"Ooooh.. Sayang... Jisooku!" pekik Seungcheol saat meraih puncaknya.

Sperma Seungcheol menyembur di dalam Jisoo hingga meluber karena terlalu banyak. Jisoo mengelus rambut suaminya yang lepek karena keringat. Wanita itu terkekeh karena kepala Seungcheol berada di belahan dadanya. Geli dengan sensasi rambut sang suami yang menggelitik kulitnya. Lelaki itu menenggelamkan wajahnya di antara kedua dadanya dan menjilati putingnya.

"Euungh.. Geli, Sayang.."

Bukannya berhenti si suami malah semakin gencar mengerjai tubuh istrinya yang sensitif. Membalik tubuh istrinya tanpa melepas kontak tubuh mereka dan menghasilkan desahan seksi istrinya dan geraman nikmat darinya karena kejantanannya terasa diperas dengan kuat. Ia mendorong Jisoo hingga menungging dan menyerang istrinya dengan keras dan telak dari belakang.

.

.

Sepasang suami istri itu duduk bersandar dengan nyaman. Dengan selimut tebal yang membungkus tubuh polos mereka dan saling memeluk satu sama lain. Seungcheol tidak berangkat ke kantor setelah Jisoo menghubungi pihak kantornya dengan alasan dengan sakit. Padahal.. Yah kalian tahu apa yang terjadi sesungguhnya.

"Ternyata kau bisa seliar itu hmm.." komentar Seungcheol sambil menciumi pipi istrinya dengan gemas.

Jisoo mengendikkan bahunya cuek dan lebih memilih untuk memainkan jarinya di dada Seungcheol. Membuat gerakan memutar dan menggambar gambaran tidak jelas sambil bergumam. Menyanyikan sebuah lagu entah apa. Tapi samar-samar Seungcheol tahu apa yang dinyanyikan oleh istri cantiknya itu.

"Gabe Bondoc eh?"

Jisoo mengangguk dan masih menggumam. Tapi kali ini lebih jelas karena bibirnya mulai bergerak. Seungcheol selalu senang saat mendengar Jisoo menyanyi. Karena suaranya yang mampu membuat Seungcheol jatuh cinta pada wanita itu berulang kali.

I started play the guitar and love music even more by him

He does music just the way he wants to and it works awesome

I love his work

-Gabe Bondoc, Gentlemen Don't

"Sebuah lagu untukku, Sayang?" tanya Seungcheol saat Jisoo berhenti menyanyi.

"Tentu saja untukmu. Aku tidak mungkin menyanyikannya untuk orang lain. Karena aku hanya mencintaimu."

.

.

Pagi ini memasuki bulan kelima pernikahan Jisoo dan Seungcheol. Mereka semakin harmonis tiap harinya yang membuat orang tua mereka senang karena Jisoo yang selalu bermanja dan juga Seungcheol yang selalu bisa membuat istrinya memerah malu. Belum lagi mereka yang selalu manis saat bersama. Baik di dalam rumah kecil mereka, di luar, dan dimanapun.

Biasanya Seungcheol akan menemukan Jisoo berada di dalam pelukannya setiap kali ia membuka mata. Tapi sekarang ia hanya menemukan ruang kosong di sampingnya. Lelaki itu mengerutkan keningnya dan bangun dari posisi berbaringnya. Namun terkejut saat mendengar suara Jisoo di dalam kamar mandi. Ia segera menyusul Jisoo ke kamar mandi dan mendapati istrinya tengah muntah-muntah di wastafel. Seungcheol mendekati Jisoo dan memijit tengkuk istrinya dengan lembut.

"Kau masuk angin?" tanya Seungcheol khawatir.

Jisoo membasuh bibirnya. "Sepertinya begitu. Badanku juga sakit semua."

Seungcheol membimbing Jisoo kembali ke ranjang mereka dan membaringkannya dengan lembut. Memakaikan selimut hingga ke bawah dagu istrinya dan mengecup bibir Jisoo dengan lembut.

"Akan kubuatkan teh hangat." tawar Seungcheol yang dijawab anggukan pelan dari Jisoo.

Lelaki itu keluar dari kamar dan menuju dapur kecil mereka. Membuat secangkir teh hangat untuk Jisoo. Setelah jadi, Seungcheol ke kamar mereka dengan secangkir teh hangat. Membantu istrinya yang pucat untuk duduk bersandar.

"Pelan-pelan saja, Sayang." Seungcheol membantu Jisoo meminum teh hangat itu.

Jisoo mengangguk dan meminum tehnya perlahan. Tapi dengan cepat Jisoo menjauhkan pinggiran cangkir itu dari bibirnya tanpa berniat untuk meminum teh buatan Seungcheol. Lelaki itu mengerutkan keningnya.

"Kenapa, Sayang?" tanya Seungcheol heran.

"Hambar, Seungcheol! Aku tidak mau minum teh hambar!"

Seungcheol mencicipi teh buatannya. Manis. Tapi entah mengapa Jisoo mengatakannya hambar.

"Akan kutambahkan gula lagi." tawar Seungcheol.

"Tidak perlu!" Jisoo mengerucutkan bibirnya dan melipat lengan di dada.

"Baiklah baiklah.. Lalu istriku yang manis dan cantik ini ingin apa hmm?"

Wajah Jisoo kembali bersinar. Ia manarik lengan Seungcheol lalu memeluknya dengan erat. Mennenggelamkan wajahnya di dada tegap Seungcheol dan menghirup aroma musk maskulin yang menjadi favoritnya sejak lama. Seungcheol terkekeh dan balas memeluk tubuh Jisoo yang terasa pas di tubuhnya. Balik menghirup wangi bunga yang selalu membuat Jisoo seperti putri bunga baginya.

"Temani aku di rumah saja, Seungcheollie."

"Baiklah. Aku akan menemani My Lovely Flowers Queen."

.

.

"Selamat, Tuan Choi! Anda akan segera menjadi seorang ayah."

Seungcheol tidak bisa mempercayai perkataan pria paruh baya berjas putih yang baru saja memeriksa istrinya. Dokter itu menjabat tangan Seungcheol yang masih linglung. Jisoo keluar dari ruang pemeriksaan sambil menatap Seungcheol. Ia mengerutkan keningnya dan melambaikan tangannya di depan wajah suami tampannya.

"Kau kenapa, Sayang?" tanya Jisoo.

Dokter Park yang tadi memeriksa Jisoo kini balik menjabat tangan Jisoo. Mengucapkan selamat berulang kali yang balas dengan ucapan terima kasih tulus dari wanita itu. Melupakan Seungcheol yang masih dalam mode shock.

.

.

Sampai di rumah Seungcheol bahagia bukan main. Ia menggendong Jisoo yang tertawa cantik kemana-mana. Seungcheol sangat bahagia. Bahagia karena di dalam perut Jisoo ada buah hatinya. Tidak, buah hati mereka. Seungcheol memangku istrinya di ruang keluarga dan menciumi pipi Jisoo hingga wanita itu kegelian. Tangan kekarnya mengelus perut Jisoo yang masih rata dengan sayang.

"Anak Appa ada di sini eh?"

"Kau ini.. Tidak mendengar apa yang dikatakan Dokter Park tadi?"

"Aku mendengarnya, hanya saja aku tidak menyangka kalau kau akan hamil secepat ini. Apa karena tingkah nakalmu?" tanya Seungcheol sambil terkekeh.

Jisoo memukul dada Seungcheol dan menyandarkan kepalanya di dada tegap suaminya. Menikmati momen bahagia mereka. Tangan Seungcheol masih mengelus-elus perutnya. Menyalurkan perasaan bahagianya pada janin di rahim Jisoo. Sedangkan Jisoo memejamkan matanya dengan senyum bahagia tercetak jelas di wajahnya.

"Terima kasih, Jisooku Sayang." ucap Seungcheol mesra sambil mengecup bibirnya.

"Sama-sama, Sayangku."

Kehidupan mereka semkin lengkap seiring berjalannya waktu.

.

.

To Be Continued

Siapa yang menunggu sequel ff 'Rock!'? Ini dia sequel yang kalian minta wkwk.. Tapi saya sengaja bikin jadi twoshoot. Karena akan membosankan jika terlalu panjang. Alurnya kecepetan? Iyalah saya bikinnya semalam sampai sore ini no edit dan langsung saya post. Biar tanggungan ff saya gak menumpuk, begitu. Jadi, maafkan typo-typo di sana.

Saya gak nyangka ff 'Rock!' bakalan dapet respon sebaik itu /cry/ terima kasih banyak atas review kalian yang selalu sukses bikin saya bahagia /cheer up/. Saya gak jadi galau kalo baca review kalian berulang-ulang. Oh iya! Lagu yang dinyanyiin Jisoo Eomma itu lagu kesukaan Jisoo Eomma yang mendeskripsikan dia sendiri tapi sengaja saya request in buat Seungcheol Appa /yey/.

Sudahlah.. Saya mau fokus ujian dulu karena besok terakhir ujian. Dan untuk ff SoonHao bakal saya posting minggu depan.

.

.

Danke~

.

.

With Love,

Sour & Bitter feat. 철소푱푱푱