Sukie Suu Foxie as Suguri Fuyuka.

White Azalea as Fei Leana

Yola Shika—Ino as Akio Yora

Floo Kim88 as Floo

Syalala Lala as Rara


Tsukyuu Floo Kitsune Present

Cupid Love?

Disclaimer : Masashi Kishimoto own all character of Naruto.

Genre : Semi—canon, Fantasy, Drama, Friendship, Humor?.

Warning : Typos, Ooc, and Oc.

Happy Reading.

.

.

.

Tsukyuu Floo Kitsune

"Yora, apa yang kau lakukan?" Fei menatap Yora penuh peringatan.

"Aku hanya membuatnya tidur kembali kok." Yora berkata dengan nada santainya dan kemudian meletakan tubuh Ino keatas kasurnya, sayapnya kembali menghilang.

"Tadi Floo membiarkan jendelanya terbuka dan ia terbangun. Lain kali kau jangan membiarkan hal seperti itu terulang lagi, Floo."

"Aku tau."

"Kenapa kau melakukannya? Aku kan belum puas berbincang dengannya!" Rara menatap Yora dengan kesal.

"Kenapa kau fasih sekali bicara menggunakan bahasa mereka Ra?" Fei bertanya keheranan.

"Tentu saja karna kemampuanku sudah lebih berkembang! Sekarang aku bisa menangkap informasi dengan mudah."

"Terserah sajalah, aku ingin istirahat," ujar Yora kemudian.

"Kulihat ada dua kamar kosong tadi, aku akan tidur bersama Yora, Kau dengan Floo." Fei berujar mengusulkan.

"Tidak. Biar aku saja dengan Rara," potong Yora kemudian. "Aku tak menjamin mereka akan berada didalam ruangan dan beristirahat. Rara pasti akan segera menyeret Floo dan berlari kesatu rumah dan rumah lainnya."

Rara mengembungkan pipinya karna pikirannya dapat ditebak oleh Yora dengan mudah.

"Sudah, sudah!" Fei berkata menengahi. "Kita harus menyiapkan diri untuk besok."

Rara menyeringai senang. "Tentu saja," katanya sembari tersenyum lebar dan membuat Floo meliriknya.

"Jangan macam–macam," peringatnya dan di balas kekehan manis dari Rara.

"Ooohh aku sangat mencintaimu neechan~" pekiknya dan hendak memeluk Floo saat sosok itu sudah menghilang bersama angin.

"Aissh! Aku membenci kekuatan teleport yang di turunkan padanya!"

Fei hanya bisa menahan napasnya dan akhirnya mengerti kenapa Suguri tak mengizinkan dua anak berbeda karakter ini bersama tanpa pengawasan.

Ia tak yakin besok tak ada kehebohan karna keduanya.

Ya, semoga saja Fei. Semoga!

Tsukyuu Floo Kitsune

Ino mengerjapkan kelopak matanya yang makin terasa memberat, sinar matahari yang menembusi ventilasi jendelanya membuat celah untuk bisa menyinari wajah ayunya.

"Ugh. . ." Ino meringis sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit, eh kenapa sakit? Memangnya tadi malam ia kurang tidur? ah rasanya ia melupakan sesuatu . . . Apa ya?

Rasanya ia bermimpi semalam, ya, ia bermimpi aneh.

Fyuuh, untung hanya mimpi.

Ino merapatkan gelungan selimut tebalnya, kembali membungkus seluruh tubuhnya dan mencoba untuk terlelap dengan nyaman saat sesuatu—atau lebih tepatnya seseorang—yang terasa berat malah menimpa tubuhnya tanpa berperimanusiaan.

Bugh!

"NEEECHAAANNN~" Selanjutnya diikuti suara alto yang terasa sangat dekat dengan gendang telinganya dan saat itulah. . .Ino terkesiap dengan mata yang membola ngeri.

"UUWAAAAAAAAAA!" Ino memberontak dengan brutal, bergerak ke kanan dan kekiri dengan sekuat tenaga.

"LLEEEPPPASSKAN AKUUU! MENJAUHHH DARIKUU! HUWAAAA TOOOLLLOONGGG! AKU TAK BISA BERNAAPASSS! AAAAAAAAGHHH!"

"Ehh?" Rara bangkit berdiri dan mengamati objek bergerak yang terbungkus dalam selimut tebal itu.

Kanan.

Kiri.

Kanan.

Kiri.

Kanan.

Kiri.

Kiri.

Mungkin karna Ino yang terlalu panik hingga ia tak berpikir cukup mendorong kepalanya sedikit ke atas maka ia bisa menyelamatkan paru-parunya yang tengah sekarat tanpa oksigen.

"HUUUWAAAAAA!"

WUSH!

Bruk!

BUGH!

Rara segera menyambar selimut itu dan menariknya kasar karna ikut panik hingga membuat Ino ikut tertarik dan berakhir jatuh berdebam dengan tidak elitnya diatas lantai.

Ino meringis nyeri dan memegangi bokongnya.

"A—aadaduhuh,"

"Neechan—uumm—Ino—hime? Ya, Hime tak apa?" Rara kini bertanya dan Ino kembali tersadar.

"KAU!" pekiknya.

"EEHH IYA?" Rara balas memekik karna terkejut dengan nada suara Ino—dan kemudian ia memiringkan wajahnya bergaya innocent."Kenapa?"

Uuh imut sekali.

Ino memuji makhluk cantik ini di dalam hatinya. "Kau siapa?"

Rara mengerjapkan kedua kelopak matanya sebelum akhirnya menepuk dada kirinya. "Aku Rara—Nymph yang kini dalam masa uji coba," katanya sembari tersenyum manis. "Kami bertugas memberi Hime banyak kebahagiaan."

"Kebahagiaan? Uji coba?" beo Ino dengan alis tertaut. Entah kenapa ia mendapatkan firasat buruk. "Uji coba kebahagiaan?"

"Ya, uji coba untuk menjadi Nymph sejati!"

"Maksudnya?"

"Hmm singkatnya kami tak berbahaya. Jadi Neechan tak perlu—aah, maafkan kelancanganku, Hime tak perlu ta—HHUUUUUWAAAA," Rara dan Ino berteriak nyaring secara bersamaan saat seseorang tanpa di undang sudah berada disisi Rara dalam secon milidetik.

"Floo!" protes Rara saat sosok bermata hijau gelap itu malah hanya mendengus.

"Jangan muncul tiba-tiba seperti itu!"

"Baiklah," balas Floo merasa tak bersalah. Ia menatap Ino yang balik menatapnya agak takut.

"A—apa?" tanya Ino saat mendapati tatapan intens sosok berambut pirang itu.

"Ayo sarapan," ajaknya sembari tersenyum tipis.

Uh oh, ia tak seseram kelihatannya sepertinya.

"Baiklah, a-aku mandi dulu."

"Tidak! Tidak perlu!" sergah Rara langsung. "Biarkan aku—menunjukkan kemampuanku!" Ia tertawa manis.

"Kau yakin?" pertanyaan Floo di balas delikan tajam dari Rara.

"Ugh kau memang jarang bicara, tapi kenapa sekali bicara sangat menyakitkan?" Ia memasang wajah sedih yang tentu saja di buat–buat.

"Baiklah." Floo mengangkat bahu dan berjalan menuju jendela kamar Ino, membukanya tanpa perlu ia sentuh dan kini sosok itu duduk dengan nyaman di sana.

"Well!" Rara berujar semangat. "Mari kita coba!"

Klik.

Rara menjentikkan jarinya dan beberapa butir cahayapun terbang melalui celah jarinya mendekati Ino.

Dekat.

Dekat.

Dekat.

Dekat.

Ino mendelikan matanya. "A—apa ini?"

"Tenang saja," kata Rara dengan nada yakin.

Dekat.

Butiran itu terbang mengelilingi Ino dengan cepat dan perlahan membentuk sebuah tali-tali tipis yang saling terhubung dan berputar. Dan dengan perlahan juga tubuh Ino terangkat dari lantai.

"Kau ya—yakin ini aman?" Ino bertanya dengan ekspresi meringis kesal saat matanya terasa silau oleh cahaya menenangkan yang membuatnya merasa damai.

PYYAAASHHH!

Butiran itu terpecah, berubah menjadi debu-debu tipis menyisakan sosok Ino yang baru dengan sebuah gaun berwarna ungu yang sangat—norak.

Loh? Apa tadi katanya.

Ino membuka matanya dan menolehkan kepalanya ke bawah. Ada sepasang sepatu tinggi berwarna ungu muda menghiasi kaki jenjangnya, lalu ia mengamati baju yang saat ini ia kenakan dan terlihat seperti gaun malam.

A—APA? Ga—gaun?

Ia mengangkat sedikit ujung baju–nya dan benar saja bahwa itu adalah potongan kain yang di sulap sedemikan rupa dengan indahnya tanpa lengan, dan dilapisi oleh kain—menyerupai syal?— yang dibentuk hanya sebatas lengan atas dan pundak yang terbuat dari bahan lembut yang sangat pas di tubuhnya.

Oh, Ino meraba rambutnya yang terurai dan terasa makin panjang dan juga ber—bergelombang?

Ino kemudian menolehkan wajahnya pada cemin yang berada di samping lemari bajunya di seberang sana dan terbelalak mendapati cara berpakaiannya yang seperti putri para tuan tanah yang merupakan gadis-gadis manja pandai bersolek yang sama sekali jauh dari imagenya.

Ewh~

"APA—APAAN INI?"

Ia bukannya tak suka dengan hal-hal semacam ini, tapi demi kaos kaki bau Naruto yang tak pernah di cuci selama seminggu! Apa ia harus berpenampilan seperti ini saat hendak pergi ke Rumah sakit dan Akademi? Hell ya! Big no!

"Eh? Hehehehehe . . . aku juga tak yakin kenapa, tapi rasanya ini sudah mode paling santai yang ada dalam pikiranku," ujar Rara sembari tertawa canggung, Floo memutar bola matanya imajinatif.

"Kembalikan penampilanku!" sembur Ino sembari berkacak pinggang.

Rara menggaruk pipinya dengan ujung jari telunjuk. "Ugh, aku tak yakin," ucapnya dengan nada lambat-lambat.

"Kenapa?" desak Ino tak terima.

"Aku lupa bilang ya Nee?" Rara mengigit bibirnya. "Aku dan Floo 'kan hanya . . . calon Nymph." cengirnya tanpa dosa dan sukses membuat Ino meradang seketika.

"AAAAPPAAA?"

Tsukyuu Floo Kitsune

Jadi disinilah mereka, dengan Ino yang duduk diatas sofa tunggal ruang tengahnya yang masih dengan penampilan—Oh God! She hate it!—dan empat sosok yang duduk berdampingan dengan posisi Rara—Floo—Fei—dan Yora— di atas sofa panjang didepannya.

Ino—meskipun merasa tak nyaman—ia berpura-pura terlihat tidak takut pada makhluk-makhluk di hadapannya kini.

"Jadi, apa aku harus begini terus?"

Rara meringis saat mendapati tatapan mematikan milik Yora. Rara adalah calon Nymph yang di bimbing oleh Yora, sedangkan pebimbing Floo sendiri adalah Fei.

"Yah, bisa di katakan kekuatan sihirnya Rara belum sempurna—maksudku sudah sempurna," Fei segera meralat ucapannya saat mendapati kernyitan di dahi Ino. "Tapi kadang kekuatannya tak merespon apa yang ada di pikirannya yang sebenarnya."

"Itu tidak benar!" bela Rara tak terima.

"Diam Ra!" Yora menegur sosok nymph bermata hitam yang kini menyimpan wajahnya dibalik bahu dan lengan Floo.

"Ughh Floo~" rengeknya.

"Aku tak peduli soal itu. Kembalikan penampilanku sekarang juga!" Ino berkata dengan nada sinisnya.

Fei menghembuskan napasnya. "Jadi begini, ada peraturan khusus di antara kaum kami. Hanya sosok yang memberi mantra yang bisa membatalkan mantra, jadi kesimpulannya . . . hanya Rara yang bisa membatalkan mantranya sendiri," ujarnya sembari melirik pada sosok Rara. "Sayangnya ia belum menguasai kekuatan itu."

Ino mengerang kecewa, ia menggerutu sebal sebelum mengumpat dan merutuki nasib—yang entah baik atau buruk yang terjadi padanya sekarang.

"Tapi Yora cukup mampu melakukannya!" bela Rara sembari mengembungkan pipinya.

"Sayangnya ia tidak mau." Floo menyahuti dengan nada dinginnya dan kembali membuat Ino memijit keningnya yang berdenyut.

"Kenapa tak mau?" protes Ino tak suka.

"Aku bukan orang yang suka membuang-buang sihirku untuk kejadian sepele." balas Yora mutlak.

"Hei! Adikmu itulah yang menyebabkan penampilanku seperti ini!" Ino menunjuk Rara dengan tidak sopannya.

Yora mendengus dan kemudian berkata," mulai dari sekarang aku melarang kau memakai kekuatanmu untuk sementara Ra."

"A—apa?" Rara berkata dengan nada terkejut.

"Kau berlebihan Yora!" sanggah Fei.

"Parenthesis!" Sekejap saja ada butiran berwarna hitam yang sebelumnya sudah pernah Ino lihat keluar dari tangan Yora dan kemudian menyebar lalu berhenti tepat di wajah Rara, menyentuh dahinya dan membentuk sebuah lukisan aneh yang kini tertera di keningnya.

"Aaaaaaaarrrrghhh!" Rara meringis sakit sembari memegangi kepalanya.

"YORA!"

"Aku mentornya Fei!" desis Yora berbahaya. "Aku tidak selembek kamu yang selalu memberi Floo kebebasan."

Sebenarnya bukan Fei yang terlalu memberi Floo kebebasan, hanya saja Floolah yang sangat jarang mencari masalah. Rara jadi sebal kenapa mentornya itu Yora bukan Fei? Kalau mentornya Fei 'kan sudah dapat di pastikan kalau Rara akan mencoba berbagai mantra tanpa larangan ini itu, sedangkan Yora pasti akan sangat berbahagia karna tak perlu bersusah payah mengatur ini itu untuk sosok sepasif Floo.

Ino bergerak tak nyaman di tempatnya duduk sekarang, memperhatikan reaksi diantara ke empat makhluk—yang mengaku—peri itu. Jujur saja ia masih tak percaya dengan perkataan keempatnya.

"Aku bisa mendengar apa yang kau keluhkan Ra." Fei meringis sembari menatap Rara. Rara membolakan matanya dan segera membentuk tanda X di depan bibirnya. Lalu pandangan Fei jatuh pada Ino.

"Dan tanpa mengurangi kesopananku, aku minta maaf karna tak sengaja mendengar apa yang kau risaukan Hime."

Ouch! Seorang peri yang bisa mengendalikan ruang—Ino melirik Floo, Peri yang bisa mengendalikan kekutan sihir —Ino menatap Rara, dan ditambah pengendali pikiran—aquamarinenya berpindah pada Fei, dan terakhir—

"Yora satu-satunya yang bisa memanipulasi dan mengendalikan perubahan dan pengabungan energi," tanggap Fei cepat. "Ia mengekang kekuatan siapapun yang melanggar batasan."

Yah, lengkaplah penderitaanmu Ino!

"Jadi sebenarnya kekuatan kalian itu apa?" sergah Ino.

"Kekuatan kami sama, bisa mengendalikan sihir. Tapi ada kekuatan khusus yang membedakan satu sama lain. Kami semua bisa teleport dengan cepat meskipun Floo adalah teleporters terbaik di antara kami, tapi kekuatannya yang sebenarnya adalah—"

PATS!

Ino melotot horor saat segelas jus jeruk melayang ke depan wajanya.

"APA INI?"

"—menggerakan benda," sahut Floo sembari mengembalikan jus jeruk itu pada tempatnya kembali.

"Oh oke."

Ino berpikir bagaimana nantinya jika ia harus tinggal dengan seseorang yang bisa melayangkan semua benda? Bisa mati muda dia terserang spot jantung tiba-tiba saat melihat barang-barang yang terus menerus melayang sendiri!

"Kau?"

"Aku mengendalikan pikiran dan memanipulasi syaraf."

"Aku mengendalikan semua elemen. Entah apakah itu air, angin, api, bahkan tanah," kata Rara kalem saat Ino menatapinya dengan tatapan memicing tajam.

"Kupikir Fei sudah menjelaskan tentangku dengan rinci," jawab Yora.

"Ya aku sudah tahu dan bisakah kau segera mengubahku kembali secepatnya?" balas Ino sembari mendelik tajam.

Yora mendengus dan kemudian membuat gerakan dengan tangannya.

"Ini menandakan kau telah melakukan perjanjian dengan kaum kami."

POOFFTH!

Ino mengangakan bibirnya tak percaya. Ia sudah kembali menjadi 'Ino' yang biasanya tapi tadi kalau ia tak salah dengar . . . Ada sesuatu yang baru saja terlewatkan.

"AAAPPAA?" Oh! Ia yakin sebentar lagi suaranya akan hilang tertelan udara karna kelakuan empat sosok di hadapannya. "Kapan aku menyetujui hal seperti itu ha?"

"Yora hanya akan menggunakan sihir karna keadaan mendesak atau—" Rara meringis. "Karna negosiasi yang menguntungkannya."

What the?

Yak! Entah apakah keberuntungan atau kesialan yang akan menyertaimu nak!

Tsukyuu Floo Kitsune

Ino memangkas daun-daun kering bunganya dengan gerakan sadis, sesekali matanya melirik pada sosok cantik yang tengah melantunkan nada-nada merdu dari bahasa asing sembari memainkan kelopak bunga-bunganya.

"Berisik!" hardiknya berkacak pinggang. Rara yang baru saja akan memulai nyanyian kembali langsung bungkam tak bersuara. Ia menghela napasnya dan kemudian jemarinya memain-mainkan kelopak bunga yang ada.

Huh, ia tak akan sebosan ini kalau kekuatannya tak di kunci oleh Yora, ah, malang sekali nasibku.

Rara meratapi nasibnya sekarang. Ia melirik pada Floo yang asyik duduk di dahan pohon yang berada tepat di depan toko bunga Yamanaka sembari memutar-mutarkan beberapa helai daun yang berada di tangannya.

"Floo lakukan sesuatu yang menarik donk!" Pekikan Rara mengalihkan antensi sosok itu. Floo mengulas sebuah senyuman manis dan dengan isyarat menepuk sisi dahan kosong di tempatnya duduk.

Hup!

Dalam sekali lompatan Rara sudah ada di sampingnya, ia menyeringai senang mendapati sesuatu yang sejak tadi di perhatikan oleh Floo.

Shyaaat!

Sebuah busur panah besar dengan ukiran rumit dari cahaya muncul di tangan Floo, lengkap dengan anak panah yang siap melesat pada sosok berambut coklat yang sedang berjalan bersama anjing besar berwarna putih besar.

"Woah, rasanya aku pernah melihat mereka!" seru Rara bersemangat. Floo menyipitkan matanya mencari sudut yang tepat.

"Guk! GUK! GUK!"

"Ada apa Akamaru?" sosok berkepala coklat itu berhenti dan menepuk kelapa anjingnya—sesekali mengusapnya sayang.

"Kiba." Ino memanggil pemuda itu sembari menatap Akamaru yang masih menyalak ke arah—pohon. Mata Ino ikut bergerak ke atas saat ia menemukan dua orang sosok—mengaku peri—itu tengah berada di sana, dengan sebuah anak panah yang terbidik ke arah mereka.

He? Apa? PA—PANAH? PANAH?

Yang benar saja!

"HEEEII—"

Wuuussshh!

Anak panah itu melewati leher Ino dengan kecepatan angin, membuat sang gadis melongo terkejut dan kemudian suara dengkingan terdengar. Ino membalikan badannya dan melihat Akamaru yang berdengking kecil dengan telinga yang terlihat ke belakang.

"Yah!" suara Rara terdengar berdecak di ikuti gumaman Floo yang tak bisa di tangkap Ino dengan baik.

"Ak—akamaru kenapa Kiba?" tanya Ino takut-takut. Kiba menggeleng pelan dan berjongkok di sisi Akamaru yang masih berdengking ketakutan.

"Entahlah Ino, apa kau bisa memeriksanya?" Ino menggaruk tengkuknya dan kemudian berpikir bahwa dua makhluk di dalam rumahnya yang merupakan tutor dari dua makhluk yang sedang bertengger di dahan pohon di atas sana akan lebih tau masalah ini, jadi ia memutuskan untuk memanggil keduanya atau salah satu dari mereka atau siapapun yang lebih waras lah!

"Tunggu sebentar ya! Aku akan segera kemb—UUUUUUWAAAAAAAAAAAAAA!"

BRUK!

"Aishh!" Ino mengerang saat berat sesuatu terasa menindih tubuhnya dan ketika ia membuka mata tampaklah Akamaru yang sudah berada di atas tubuhnya dan . . .

Slurp!

Meneteskan liur di wajahnya.

EWH~

"KI—KIBAAA!" Pekik Ino horror saat anjing besar itu menjilati pipi dan semua bagian yang bisa ia capai dengan lidah basahnya.

"Jauhkan anjingmu dariku!"

"Wooo~ aku tak tau kalau Akamaru punya perasaan yang terpendam padamu Ino." Kiba tergelak sembari menggeleng ke kanan dan kiri dengan tawa cempreng yang mengudara.

"INI BERAT BODOH! SIALAN KAU!" Ino mencoba mendorong moncong Akamaru yang masih saja menjilatinya.

"AKH! LIURR! UWAAA! JAUHKAN MAKHLUK HINA INI DARIKUU!"

Kiba melotot mendengar ucapan lantang Ino. Ia mendengus sebal dan kemudian mengulurkan tangannya menepuk kepala Akamaru.

"BAGUS AKAMARU! JILAT DI SITU! IYA DI SITU! SITU LAGI! SITU! GIGIT AKAMARU GIGIT!"

"WOOFTH! WOOFTHH!"

"UWAAAAAAAA TIIIDDDDDDAAAAAKKKK!"

Pagi yang menyebalkan eh?

Tsukyuu Floo Kitsune

WUUSSH!

Debu yang bertebaran mulai menipis terbawa angin, lalu siluet dua sosok berbeda karakter itu muncul dari sana, diatas ukiran patung kepala hokage.

Rara tergelak sembari tersenyum geli, ia menutup mata dan menghirup udara segar yang tersedia, di sisinya Floo melakukan hal yang sama—menikmati pancaran matahari jatuh padanya.

"Kau sengaja ya?" tanya Rara sembari tertawa lepas. Floo meliriknya dan menatapnya dengan tatapan tak berarti.

"Apa maksudmu?" Ia melemparkan senyuman misterius.

"Dasar! Kau memperingatiku untuk tidak bermain-main tapi kau sendiri melakukan hal yang sama!" Rara menyunggingkan senyuman kecilnya. "Kita tak punya banyak waktu Floo, Suguri—sama pasti akan marah kalau kita bermain-main."

"Aku tak bermain-main."

Floo menampilkan seringainya, lalu busur panah kembali muncul di tangannya dengan kecepatan cahaya. Ia membidik rombongan yang baru saja terlihat di depan mata keduanya, seorang pemuda berjubah dan memakai hoodie beserta dua orang lainnya yang berada di belakang pemuda tersebut.

"Itu..."

"Sabaku No Gaara."

Ssssyaaaaat!

Satu anak panah kembali di lesatkan dengan mudahnya menembus udara, mengunci keberadaan sosok berambut merah tersebut.

"Tapi Hime tak ada di sini Floo, jadi percuma 'kan?"

"Tidak," Jawabnya singkat. Ia meletakan jari telunjuknya di kening Rara, tepat di inti ukiran rumit yang merupakan segel kekuatannya.

"Apa yang—"

"Fokus, rasakan kekuatanmu."

Rara terdiam namun akhirnya memilih menuruti perkataan Floo, ia bisa merasakan bagaimana aliran berputar di seluruh tubuhnya, bergerak spiral dan terus naik ke atas.

Rara merakasan aura di sekitanya makin memanas saat titik di keningnya terasa lebih menyakitkan, seperti sesuatu yang di paksa di tarik keluar. Semua yang dapat dirasakan oleh Rara hanya ruang yang terlihat berwarna putih.

PATS!

Rara menbuka matanya tekejut, ia meraba keningnya dan secara konstan ukiran tato yang tadinya berkumpul di keningnya tertarik perlahan dan terbuka dengan pelan.

"Ini. . ."

"Hanya sebentar tapi ku rasa cukup." Floo tersenyum tipis, ia memijit pangkal hidungnya saat pening menyerangnya.

"Arggghh!" Suara maskulin seseorang terdengar, Floo dan Rara mengalihkan pandangan mereka pada sosok berambut merah yang berlutut di atas tanah sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.

"Gaara!" Temari memegangi pundak sang Kazekage dengan panik. Kankurou yang juga berada di sisinya menatap khawatir dan cemas padanya karna Gaara tiba-tiba jatuh berlutut di atas tanah sembari memegangi dadanya.

Rara menoleh pada Floo yang tersenyum miring, dan keduanya mengerling karna apa yang mereka pikirkan adalah sama.

Oh, tentu saja.

Ssyuuuuttt!

Tap!

Rara melompat turun dan tiba di atas tanah dengan tampilan seorang Yamanaka Ino.

Ia menyeringai kemudian mengibaskan rambut pirangnya dengan bergaya, menatap objek yang masih memegangi dada dengan napas terputus-putus.

Yak! Benar sekali!

Floo dan Rara adalah biang kekacauan dan Suguri sangat tau akan hal tersebut. - -a

.

.

.

Bersambung


Yah, chapternya makin awkward hahahhahaha ? ゚リツ? ゚ヤᆱ

Oke guys, selamat menikmati.

Samarinda 17 April 2016.

Salam kecup,

Tsukyuu Floo Kitsune.