Chapter 5:
His Mistress, Had Long Sad Memory
Buat yang nungguin Fic ini author minta maaf sebelumnya karena update-nya yang sangaaat lama. . . Well ada banyak hal yang menyita perhatian author karena author sekarang sedang memasuki semester klimaks jadi . . . banyak sibuknya. Dan Cieru juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena masih ada readers yang mau menunggu kelanjutan Fic ini. Hontou ni arigatou. . .
Terus sedikit curcol juga. Sebenarnya tiap mau update itu author sudah mengoreksi ulang fict-nya, tetapi entah kenapa masih banyak miss typo bahkan parahnya ada beberapa kata yang hilang. Cieru bingung ini ada apa dengan Fanfiction-nya, kenapa sering terjadi hilang kata. Jadi kalau misal pembaca menemukan ada kalimat yang kurang nyambung. . . Author minta maaf sekali .
Disclaimer: Kuroshitsuji forever belong to Yana Toboso
Pairing: Ciel x OC
Rated: T semi M
Warning: Gaje, miss typo bertebaran, OOC, dll
Don't like don't read. . .
Would like to continue, just happy reading then ^-^
.
.
.
Sepasang cerulean berwarna merah darah bersitatap lurus dengan sepasang ruby di hadapannya. Sang pemilik mata sewarna darah itu menelusupkan tangan mungilnya diantara helai rambut kelabunya. Raut stoic tetap terpasang angkuh di wajah sang iblis muda, namun iblis yang lebih tua tentu tahu bahwa tuan muda-nya sedang mengalami sedikit 'dilema'. Terbukti dari dengusan kesal ataupun gerakan dari jemari yang mengetuk-ngetuk tidak sabar.
"Jadi, kemana kita akan mencarinya?" Si iblis muda membuka percakapan sembari menyedekapkan tangannya. Mata merahnya berkilat dalam kegelapan. Sementara bunyi tapak kuda menjadi pengisi keheningan di ruangan kecil nan gelap itu.
"Mengenai itu kita akan menemui seseorang Bocchan. Seseorang yang selalu bisa memberi kita informasi apapun." Jelas sang iblis pelayan dengan seringainya. Ciel mendesah. Bukan hal sulit bagi otak jeniusnya untuk menerka siapa 'seseorang' yang dimaksud oleh butlernya itu. Sudah cukup lama mereka tidak mengontak atau meminta tolong pada orang tersebut. Mungkin sekitar tiga tahun, semenjak gelar manusia Ciel sebagai bangsawan berganti menjadi seorang iblis.
"Undertaker, huh?"
"Ya, Bocchan. Bagaimanapun dia adalah mantan shinigami yang masih mempunyai konektivitas dengan para shinigami itu. Saya rasa dia pasti tahu dimana para shinigami itu membawa mangsa anda dan bagaimana cara untuk kesana."
Ciel mendengarkan penjelasan butlernya dengan ekspressi monoton. Kepalanya yang berbingkai surai berwarna green greyish bersandar pada bantalan kursi. Tangan kurusnya menopang dagu dan warna matanya kian menggelap, memaku mata rubi dihadapannya.
"Mengapa mereka mengincarnya?" Pertanyaan Ciel yang tiba-tiba itu sedikit menyentak Sebastian. Si iblis yang lebih tua bungkam sejenak, lalu memandang lurus Bocchan-nya.
"Well, anda tentu ingat Bocchan bahwa anda sudah menolongnya dari kematian." Ujar Sebastian hati-hati.
"Ya, lalu apa masalahnya?" Tukas Ciel.
Sebastian menatap dalam pada mata Bocchannya dengan tanpa ekspressi, "Jika tugas iblis adalah mencuri dan menyesatkan jiwa manusia maka tugas shinigami adalah menempatkan jiwa manusia pada tempat yang seharusnya." Ciel mendengarkan dengan serius setiap ucapan butlernya.
"Gadis itu . . ." Sampai disini Sebastian berhati-hati dalam melanjutkan kalimatnya "Seharusnya sudah mati, bukan begitu Bocchan?" Ciel terdiam. Sekelebatan memori terlintas di dalam kepalanya. Memutar saat pertama kali ia bertemu Kako Mizquerlentz. Altar yang dipenuhi manusia berjubah merah, darah segar sebagai simbol persembahan, gadis kecil yang direbahkan dengan paksa, lalu. . . Kilatan pisau yang mencabik tubuh kecilnya. Menghantarkan korban persembahan itu ke alam bawah sadar dekat kematian, dan disanalah Ciel mencoba merayunya sebagai iblis. Namun gadis itu menolaknya dan lebih memilih kematian.
Seharusnya Ciel sudah mengetahuinya. Gadis itu, Kako Misquerlentz sebenarnya telah terputus dari kehidupan. Tetapi, rupanya Ciel jauh lebih keras kepala untuk menolak kenyataan tersebut.
"Anda sudah mencuri jiwanya dari para shinigami sejak anda menyelamatkannya dari kematian. Namun, anda melakukan hal yang tidak pernah dilakukan oleh seorang iblis sebelumnya." Sampai disini Sebastian memberi jeda.
"Alasan mengapa seorang iblis membubuhkan tanda kontrak pada mangsanya, selain sebagai bukti keterikatan juga sebagai kepemilikan. Sehingga tidak ada mahkluk lain yang boleh memiliki jiwa mangsa tersebut selain iblis yang menandainya. Itulah mengapa dewa kematian pun tidak bisa mengambil jiwa manusia yang terikat kontrak, sama seperti anda dulu. Tetapi pada kasus ini. . ." Sebastian menggantung kalimatnya, melirik raut muka tuan mudanya yang menunduk dengan pandangan kosong.
"Aku tidak mengikat kontrak dengannya. . ." Lirih Ciel, mengalihkan perhatiannya pada selambu di sampingnya yang tertiup angin bersama rerontokkan daun.
.
.
"Hihihi, mereka sudah dekat. Bangsawan iblis dan butlernya, sudah lama sekali aku tak bertemu mereka. Jadi, kejutan apa yang harus kupersiapkan untuk menyambut tamu lamaku, khukhukhu~" Pria berjubah serba gelap dengan surai perak itu terkikik geli. Kemudian seringainya terkembang ketika ia memperhatikan sekelilingnya. Peti mati, tubuh mayat dan sebagian organ yang diawetkan, serta hal-hal mistis menakutkan lainnya yang membuat tempat tinggal tersebut sesuai dengan kepribadian penghuninya.
.
.
Sebastian menyibakkan sedikit korden disisinya. Sepasang ruby-nya memicing menatap keramaian lalu lalang manusia diantara padatnya bangunan. Diantara sekumpulan hiruk pikuk itu mata awas Sebastian bisa melihat suatu bangunan kecil yang cukup berbeda dari bangunan-bangunan besar di sekitarnya. Bangunan sederhana di tepi jalan dengan papan nama mencolok karena lambang tengkoraknya. Kediaman sang tukang kubur sekaligus mantan senior shinigami. Undertaker.
Beralih menatap Bocchan-nya yang masih setia dengan pose bersedekap, tiba-tiba terlintas ide jahil di benak pelayan iblis itu. Kebiasaannya menggoda dan mengeksplorasi pemikiran Bocchannya merupakan hal yang sangat disukainya sejak dulu.
"Jadi, apakah anda akan tetap menginginkan gadis itu, Bocchan? Meski anda tahu ada banyak mangsa di luar sana? Yang mungkin tidak kalah lezat, hm~"
Ciel memejamkan mata merahnya sebentar. Ketika sepasang mata itu membuka kembali, yang Sebastian lihat adalah sepasang iris berbentuk pupil tajam dan menyala dengan jilatan warna merah keunguan.
"Don't make fun of me, Sebastian. Aku, Ciel Phantomhive, selalu mendapatkan apa yang kuinginkan." Ujar Ciel dengan nada dingin yang menekan. Sebastian hanya memamerkan smirk-nya. Seandainya Ciel masihlah seorang manusia, tentu butler iblis itu bisa merasakan seberapa lezat jiwa yang menghidupi tubuh Ciel Phantomhive. Jiwa yang bergelut dalam kejamnya kegelapan, menghasilkan aneka cita rasa lezat yang selalu membuat Sebastian menjilat bibirnya.
"Dia milikku Sebastian. Dan selalu akan menjadi milikku. Nothing can take her away from me."
"Yes my lord."
Selanjutnya, suara pekikan kuda menyadarkan kedua iblis itu pada tujuan mereka. Kereta yang mereka tumpangi bergoyang sebentar. Sang kusir telah menarik kencang kemudinya hingga kereta pun berhenti. Kedua penumpang yang terlihat sebagai bangsawan muda dan butler-nya itu segera turun, tepat di pintu sebuah bangunan yang memiliki lambang tengkorak besar. Sebuah bangunan yang tampak tidak terawat dan terlihat cukup menyeramkan, terutama ketika senja telah menjelang dan menimbulkan bayang-bayang gelap di sekitarnya.
"Silahkan Bocchan." Ujar Sebastian dengan senyum khasnya saat membukakan pintu untuk mempersilahkan Bocchan-nya masuk. Ciel mendengus sebentar, lalu memasuki ruang gelap tersebut tanpa ragu.
"Undertaker." Sang iblis muda berdiri dengan angkuh. Pandangannya beredar di seluruh penjuru ruangan minim cahaya itu. Hm, sama sekali tidak ada perubahan di 'kediaman pribadi' sang tukang kubur. Tetap pengap, kecil, suram, dan dipenuhi berbagai macam peti mati maupun artefak yang berhubungan dengan mayat. Sementara dibelakangnya, butler setianya berdiri dengan sopan setelah menutup pintu terlebih dulu.
"My my my, Ciel Phantomhive dan butler setianya Sebastian Michaelis, apa yang membuat dua iblis menemui seorang penjaga kuburan sepertiku, hm?" Suara yang terdengar bermain-main menggema di ruangan suram itu. Bagi orang biasa, suara tersebut tentu sanggup meremangkan bulu kuduk. Namun tidak bagi kedua makhluk bukan manusia ini.
Si iblis berambut kelabu mulai tampak bosan. Pandangannya telah mengedar ke segala penjuru, namun orang yang dicarinya belum juga menampakkan diri. Hanya terdengar tawa cekikikan khas hantu perempuan yang merupakan tawa sang tuan rumah.
"Apakah hanya karena kehilangan seekor kelinci kecil~?" Terdengar sesuatu bergeser disusul suara deritan. Seorang berjubah hitam memainkan jarinya dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ciel memasang wajah jengah. Sama sekali tak terkejut ketika sebuah pintu peti mati bergeser, menunjukkan si empu-nya ruangan tengah terkikik sembari membelai salah satu bagian tubuh manusia yang sepertinya telah diawetkan.
"Langsung ke intinya saja Undertaker. Dimana dia?" Ujar Ciel dengan tegas. Dari balik surai peraknya, Undertaker bisa melihat keseriusan sang iblis muda. Namun si penjaga kubur sama sekali tak takut pada mata merah yang memakunya tajam, malah tatapan Ciel itu membuatnya merasa. . . excited.
"Hm. . . Bukankah ada sesuatu yang kau lupakan, bangsawan muda?" Si Tuan Rumah memamerkan seringainya, sementara jari-jarinya yang panjang tidak berhenti mengelus 'mumi' kesayangannya.
"Undertaker ini tidak mau melakukan sesuatu dengan gratis. Tetapi dia juga tidak membutuhkan uang atau hadiah apapun." Lanjut si tukang kubur lalu terkikik. Si iblis muda memasang wajah masam, mengerti betul apa yang diinginkan oleh mantan shinigami tersebut. Sebuah joke (lelucon) atau apapun yang bisa membuat shinigami perak itu tertawa. Dan maaf saja, Ciel Phantomhive bukanlah seorang badut yang akan memasang ekspressi atau melakukan gerakan konyol untuk mengundang tawa penonton-nya.
"Sebastian."
"Saya mengerti, Bocchan." Ucap butler hitam tersebut lalu berdiri di depan Bocchan-nya.
"Maaf Bocchan, bisakah anda keluar sebentar. Ini tidak akan lama dan. . ." Sebastian menghentikan kalimatnya sejenak, menoleh tajam pada tuan mudanya. "Apapun yang terjadi jangan pernah mengintip." Tekan si butler sembari mengangkat tangan berkuku hitam yang dihiasi oleh lambang Faustian miliknya .
"Aku tahu." Balas Ciel acuh. Iblis muda itu lalu melangkah keluar. Sebelum ia menutup pintu, Ciel sempat berbalik menatap butler serba hitamnya. Sebastian yang berdiri elegan dengan Undertaker yang masih menyeringai.
"Jangan buat aku menunggu lama, Sebastian."
Seringai terkembang di bibir pucat pelayannya. Mata rubi-nya berkilat dalam kegelapan. "Yes my Lord."
"My my my. . . Sekarang mari kita lihat apa yang akan kau lakukan, Sebas-chan~" Hanya kalimat itu yang sempat terdengar sebelum ruangan pengap itu benar-benar tertutup dari dunia luar.
.
.
.
SING. . .
Hanya beberapa detik Ciel berdiri di luar kediaman Undertaker, lalu selanjutnya. . .
"BUAHAAHAHAHAHAH! HAHAHAHA! Aku bisa melihat dewi aprodhite sedang bugil di tengah Atlantis!" Terdengar gelak tawa membahana yang mampu menggetarkan pondasi rumah si tukang kubur. Ikon tengkorak besar kebanggaan Undertaker terguncang, bergeser miring dan nyaris terlepas dari tiang penyangga akibat ledakan tawa sang pemilik.
"Silahkan masuk Bocchan, sepertinya dia sudah siap memberi informasi." Dengan senyum khas-nya, sang butler iblis membukakan pintu dan mempersilahkan Bocchan-nya masuk. Ciel mengangguk, menampilkan wajah datarnya saat ia kembali memasuki ruangan sang mantan shinigami. Iblis kecil itu mendapati sang penjaga kubur yang tertelungkup di atas meja dengan bahu bergetar. Wajahnya yang tidak tertutup surai perak menyiratkan kepuasan dan terdapat liur di dekat pipi berhias bekas luka itu.
"Dimana Kako Mizquerlentz?" Tanya Ciel to the point. Yang ditanyai menggumam sebentar, berusaha menahan tawanya yang masih ingin keluar. Well, Entah apa yang diperbuat sang butler iblis-nya hingga membuat mantan shinigami itu tertawa keras sambil gegulingan di meja.
"Ahahaha, pfft. . . Di rak, buku sampul hitam-ahaha, pen berwarna pink." Ujar Undertaker yang masih tersengal dengan tawanya.
Sebastian bergerak cepat, segera bergegas menuju ke satu-satunya rak di ruangan itu lalu mengumpulkan semua yang disebutkan oleh sang tuan rumah. Setelah terkumpul, diletakkannya benda-benda tersebut di atas meja yang kini menjadi pusat perhatian ketiga makhluk di ruangan pengap itu.
"Cinematic Record?" Ujar Ciel dan Sebastian bersamaan ketika mencermati buku bersampul hitam itu.
"Hihihi. . . itu Cinematic Record milik Lucia."
"Lucia? Siapa Lucia?" Si iblis muda tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Tentu saja bagi Ciel hal tersebut sangat aneh. Ketika ia ingin mencari dimana Kako berada, Undertaker malah memberinya sinematic record orang yang tidak dikenalnya. Lalu apa hubungannya?
"My, my, my, Ciel Phantomhive, ada beberapa kode etik yang harus dipatuhi oleh shinigami. Tidak semua informasi boleh diberikan pada pihak lain, apalagi kepada iblis seperti kalian, khukhukhu~"
"Tetapi, hanya dengan Cinematic Record itu kalian bisa pergi ke tempat Kako Mizquerlentz." Kali ini sang mantan shinigami mengatakannya dengan nada serius. Seringainya terukir lebar menonjolkan bekas lukanya. Dan kedua iblis di hadapannya tahu benar bahwa mengikuti instruksi sang mantan reaper adalah satu-satunya cara untuk menemukan mangsa Ciel.
"Pergilah ke gereja di mana kalian dulu bertemu dengan Angela. Khukhukhu. . . Sama seperti sebelumnya, altar gereja itu adalah gerbang menuju alam Sinematic Record."
Si iblis muda memicing. Ada gurat tidak suka mendengar tempat itu disebutkan. Memori tentang bagaimana ia dulu bertemu Angela, jiwanya yang akan disucikan dengan Sinematic Record, serta memori lain yang menguar tentang masa kecilnya yang terbakar.
Tetapi hal yang paling membuat Ciel tidak nyaman adalah kenyataan bahwa gadis mungilnya ada disana. Bagaimanapun, alam Sinematic Record sama saja dengan gerbang kematian. Itu artinya, Kako Misquerlentz. . .
"Kita pergi, Sebastian." Perintah Ciel dengan nada tidak mau dibantah.
"My, my, my, sepertinya iblis muda ini tidak sabaran sekali." Goda Undertaker melihat tamu kecilnya itu telah berbalik menuju ke pintu keluar, diikuti dengan butler setianya yang mengekor di belakang tuan mudanya. Sang pelayan kemudian menarik knop pintu dengan elegan, mempersilahkan milord-nya untuk keluar terlebih dahulu.
Sementara Undertaker yang melihat dua tamunya akan pergi hanya menyunggingkan seringai misteriusnya. Si iblis dengan setelan coat hitam menjadi perhatian utama mantan shinigami itu. Sebelum Sebastian membuat gerakan untuk menutup pintu ruangannya, sang penjaga makam lebih dulu membuka suara.
"Sebastian ~ bagaimana jika seandainya kau menemukan apa yang pernah kau lupakan~?"
Sebastian tampak tersentak mendengar pertanyaan tak terduga tersebut. Si iblis hitam menoleh, mata ruby-nya menatap lekat sang penjaga kubur yang masih mempertahankan seringai di bibir pucatnya.
"Kuberitahu ini padamu agar kau mempersiapkan diri. Reinkarnasi merupakan sesuatu yang jarang terjadi. Bisa merupakan suatu keajaiban tapi bisa juga. . . suatu karma, hihihihi"
.
.
"Grell, apa semuanya sudah siap?" Seorang pria berambut hitam klimis membetulkan posisi kacamatanya. Matanya lurus menatap datar pada salah satu rekannya yang serba merah itu.
"Eh, uh. . . Sebentar lagi akan selesai hm. . ." Ujar Grell seraya mengerlingkan bulu matanya kepada sang supervisor. Tidak mendapatkan reaksi apapun dari reaper atasannya, reaper bersurai merah itu mengerucutkan bibirnya dengan pipi cemberut.
"Um, aku tidak menyangka kalau gadis ini adalah roh yang tersesat." Grell membuka pembicaraan, alih-alih agar supervisornya itu tidak terus men-deathglare pekerjaannya yang lelet.
"Ups, gambarnya salah." Sedikit kikuk reaper merah itu menghapus alur aneh yang dibuatnya di sekitar tubuh si gadis kecil.
"Kerjakan dengan benar, Grell. Kalau sampai salah. . ." William tidak perlu melanjutkan kalimatnya karena bawahannya itu sudah mengangguk antusias dengan wajah pucat pasi menatap death scythe milik sang senior.
Reaper serba merah itu kembali melanjutkan tugasnya dengan tekun, meski sebenarnya Grell sedikit frustasi karena tatapan tajam dari atasaanya itu. Sesekali jemari tirusnya mencelupkan pena ke dalam tinta, mengangkatnya, lalu mulai menggambar gurat abnormal beserta noktah aneh yang hanya diketahui oleh para reaper.
"Yaak, selesai . . .!" Pekik Grell setelah beberapa saat. Reaper merah itu lalu melakukan salto dan melompat-lompat senang seperti seekor kanguru. Dan seolah melupakan kehadiran William, Grell justru berdiri dengan berkacak pinggang. Mata hijau kusamnya melirik sinis pada gadis kecil yang terbaring di dekat kakinya. Seringai kepuasan terkembang lebar melihat lambang ritual pencabutan roh yang tergambar sempurna melingkupi tubuh calon korban eksekusi tersebut.
'Ya Sebby, gadis kecilmu akan segera dieksekusi. Kau harus datang Sebby sayang karena aku sudah siap untuk menyambutmu dengan seluruh cintaku. . .' Inner Grell meraung semangat membayangkan Sebastian yang datang secara tak terduga lalu jatuh dalam pelukannya. 'Oh, my sebby. . .'
"Grell, Sinematic Recordnya." Perintah datar William sukses menghancurkan imajinasi liar si reaper merah. Dengan bibir mengerucut, Grell menyerahkan sebuah buku hitam pada supervisornya.
Sang reaper yang lebih senior kemudian berdiri tegak. Melangkah tegap mendekati gadis kecil yang terbaring pada sebuah lambang kematian. Buku hitam di tangannya di julurkan, tepat di atas kepala si gadis. Buku berisi berbagai memori itu secara misterius terbuka dengan sendirinya, menguraikan lembar-lembar hingga menyisakan lembar terakhir.
"Kako Mizquerlentz meninggal pada pertengahan malam bulan merah karena kehabisan darah setelah menjadi korban ritual. Tetapi seorang iblis menyelamatkannya hingga ia terlepas dari kematian yang seharusnya terjadi." William membaca goresan kalimat yang merupakan akhir dari buku hitam tersebut. Selanjutnya reaper senior itu mengeluarkan pena dari sakunya, menggoreskan beberapa kalimat dan mulai membacanya kembali.
"Hari ini, Kako Mizquerlentz akan menerima takdirnya kembali yaitu. . . kematian."
Seolah merupakan mantra kutukan, lambang hitam di sekitar tubuh Kako menggeliat, bergerak liar menumbuhkan sulur-sulur yang seolah siap mencabik. Tak berhenti sampai disitu, sulur-sulur itu kemudian bergerak saling meremat, memadat, mencakar membentuk wujud baru yang berkobar. Kerangka tengkorak terbentuk diselimuti kobaran api hitam. Dan sebuah sabit sepanjang mata kaki tumbuh di tulang tangan kanannya diikuti rangkaian rantai yang membelit.
"Kako . . .!"
Alis William mengerut dalam ketika dilihatnya seorang iblis bersurai kelabu muncul dari portal di atas langit-langit.
"Kyaa! Sebastian! Akhirnya kau datang juga ke tempatku! Apa kau begitu rindunya ingin bertemu denganku?! Kyaaa!" Grell segera meloncat menyambut iblis hitam yang menyusul setelah Bocchan-nya. Death scthye-nya meroar nyaring mengarah ke arah Sebastian sehingga butler iblis itu terpaksa harus menghindar, yang mengakibatkannya berada cukup jauh dari Ciel.
"Bocchan jangan gegabah." Sebastian berusaha memperingatkan tetapi raungan suara gergaji yang begitu dekat membuatnya menyadari posisinya sekarang.
"Ckckck Sebby. . . Tidak boleh berbicara dengan orang lain. Karena kau hanya akan sibuk denganku."
Rrrooarrrr. . .! Zzraaattt!
Deritan besi yang saling beradu menimbulkan bunyi memekik. Gergaji Grell terus menekan, berusaha membelah sepasang pisau yang menghalanginya dari iblis super hot yang digilainya. Dahi Sebastian berkerut, menyadari sepenuhnya bahwa pisau dapur bukanlah senjata yang tepat untuk berhadapan dengan sebuah gergaji milik seorang reaper. Tetapi dalam kondisi terburu dan tanpa persiapan, hanya sekotak pisau dapur itulah yang sempat ia bawa sebagai upaya defense.
Sementara agak jauh darinya Ciel sedang berhadapan dengan William T. spears.
"Iblis, tidak akan kubiarkan kau mengganggu acaraku." Ucap William dengan wajah datar seraya membetulkan kacamatanya menggunakan death schyte-nya yang berbentuk galah. 'Senior Undertakar selalu saja membantu iblis rendah seperti mereka.' dengus sang reaper yang menjabat sebagai supervisor itu sebelum mengarahkan death schyte-nya kepada sang iblis muda. Ciel dengan lihai menghindari death scythe memanjang yang kini menancap dan menimbulkan retakan tepat di lantai yang tadi diinjaknya.
"Cih." Kali ini Ciel balas menyerang. Dengan sayap hitamnya, iblis muda itu berusaha sebisa mungkin menghindar dari berbagai tusukan yang dilancarkan reaper yang menjadi lawannya. Kuku-kuku hitam Ciel memanjang dan otot tangannya berkedut mempersiapkan cakaran untuk William, namun sebuah jilatan nyeri menyerang bahu dan sayapnya yang tergores senjata milik sang reaper.
"Ugh!" Tubuh Ciel jatuh terpelanting ke lantai setelah ia tidak bisa mengendalikan sayapnya.
"Bocchan!" Sebastian segera mendorong mundur death schyte milik Grell, membuat reaper merah itu terpaksa mundur. Selanjutnya, butler iblis itu mengambil kesempatan untuk melemparkan beberapa pisaunya ke arah sang reaper sebelum menyusul ke tempat Bocchan-nya.
William menaikkan kaca matanya. Mata hijau kusamnya menatap jengah pada dua iblis pengganggu itu, lalu beralih menuju ke altar dimana makhluk hitam yang bertindak sebagai eksekutor telah mengangkat sabitnya hingga menimbulkan bunyi gemerincing pada rantai yang menyertainya.
Zrasssh!
Sabit panjang itu tepat menghujam tubuh Kako tanpa ampun. Namun anehnya tidak ada luka atau cipratan darah apapun karena senjata dari tengkorak hitam itu hanya menembus raga korbannya, mengeluarkan dengan paksa suatu dzat putih transparan dari tubuh Kako.
"Tidak ada yang bisa kalian lakukan sekarang." Ujar William datar sembari tetap menjaga pandangannya pada tengkorak hitam yang kemudian berubah wujud kembali menjadi sulur-sulur yang meronta lalu lenyap seperti asap. Meninggalkan raga Kako yang kini melayang tanpa daya dengan gulungan film hitam putih yang keluar dari tubuhnya, menampilkan berbagai macam kenangan dari gadis kecil itu.
"Brengsek !" Pekik Ciel sembari bersiap melompat untuk menggapai tubuh Kako di langit-langit sana, tetapi sebuah lengan kuat menahan tubuh kecilnya untuk tidak bergerak.
"Apa-apaan kau Sebastian?! Lepaskan!" Maki Ciel ketika menyadari bahwa lengan kokoh yang menghalanginya saat ini adalah lengan butlernya. Mirah Sebastian memandang mata merah Ciel dengan tajam.
"Terlambat Bocchan. Kita tidak bisa melakukan apapun. Ini diluar kekuatan kita. Kita tidak bisa menghentikan alur Cinematic Record tersebut kecualiā¦gadis itu sendiri yang menghentikannya." Jelas Sebastian.
Ya, benar. Ciel pun pernah mengalami hal tersebut ketika bertemu dengan Angela yang menggunakan Cinematic Record untuk menyucikan jiwanya. Namun karena hasrat dendam dan kebencian begitu kuat telah tertanam di dalam diri Ciel, sehingga ia mempunyai alasan untuk terus melanjutkan hidupnya meski dalam kubangan kejahatan sekalipun. Dan hal itu secara efektif memutus alur Sinematic record buatan Angela. Ia, Ciel Phantomhive yang memutus alur Sinematic Record-nya sendiri, bukan Sebastian, bukan siapapun.
Menyadari hal tersebut membuat Ciel menggertakkan giginya. Wajahnya mendongak, menatap nanar pada tubuh mungil di atas sana. 'Gadis itu tidak akan mampu menghentikannya. Hatinya terlalu bersih dan dia tidak mempunyai alasan untuk hidup lagi.'
"Kakoo. . .!"
Seolah menjawab teriakan lantang Ciel, Sinematic Record semakin melesak keluar dari tubuh kecil si gadis. Berputar cepat seperti gulungan film, merangkai rangkaian peristiwa masa lalu milik Kako Mizquerlentz yang berada di ujung kematiannya.
"Yaay, filmnya sudah mulai kelihatan." Ujar Grell sambil tersenyum antusias, berbeda dengan Ciel yang nampak khawatir dengan Sebastian di sampingnya.
Hal pertama yang muncul dari gulungan film hitam putih adalah sesosok pria tingggi dengan rambut jet black hitam, kulit sepucat kapur sirih, juga wajah rupawan yang membuat Grell terpana sekaligus mimisan melihatnya. Itu adalah sosok Sebastian, bagaimana mungkin?! Sebastian dengan sosok manusia biasa mengenakan baju bangsawan era kerajaan masa renaissence. Rambut hitamnya lebih panjang hingga melebihi tengkuk dan diikat rapi.
"Oi, Sebby, mengapa kau bisa berada di Cinematic Record gadis kecil itu?!" Tanya Grell, meraung-raung dengan gayanya yang lebay. Sebastian tampak tidak mempedulikan suara berisik si shinigami merah. Seluruh perhatiannya hanya terpusat pada negative film yang beterbaran. Ciel pun tampak terkejut, tidak menyangka bahwa ada seseorang yang menyerupai butlernya dalam wujud manusia.
Pria berwujud Sebastian itu turun dari kudanya, tersenyum tipis ketika melihat seorang wanita cantik bersurai pirang keemasan berjalan mendekat bersama seorang gadis kecil berambut hitam. Dan uniknya gadis kecil itu persis sama dengan Kako. Rambut hitamnya, sepasang mata caramel bulat, tubuh mungil, dan wajah manis menggemaskan.
"Selamat datang." Ujar si wanita pirang seraya tersenyum ramah.
"Daddy! I miss you!" Si bocah perempuan memekik, menjulurkan kedua tangan kecilnya yang segera direngkuh sang ayah dalam sebuah pelukan hangat.
"I miss you too, Lucia." Ucap sang ayah lalu memandang lekat putrinya. "Hm, entah kenapa daddy merasa Lucia tidak bertambah besar?" Komentar sang ayah seraya menatap mata bulat anaknya. Si gadis kecil mengerucutkan bibirnya. Membuat pipinya yang menggemaskan terlihat makin gembul.
"Kalau aku lebih berat nanti Daddy akan kesulitan menggendongku." Protes gadis imut itu lalu membenamkan wajahnya diantara celah leher ayahnya, menghirup aroma sang ayah yang begitu disukainya ketika baru pulang.
"My my, Lucia sayang. Daddy baru pulang dan kau sudah bermanja-manja seperti itu." Komentar si wanita berambut pirang dengan senyum teduhnya lalu mengambil alih tubuh anak perempuannya dari sang suami.
"Ingat, setelah ini kita akan bepergian bersama. Jadi biarkan daddy istirahat sebentar okay." Ucap si ibu seraya membelai putrinya pelan. Si gadis kecil mengangguk patuh lalu membenamkan wajahnya di dada sang ibu, tampak menikmati kehangatan yang ditawarkan kedua orangtuanya. Ibunya yang memeluknya dan ayahnya yang menggenggam tangannya memberi perlindungan.
"Aku merindukanmu, hm." Pria dengan sosok Sebastian berbisik mesra di telinga sang istri, mengambil kesempatan saat anak mereka tidak memperhatikan.
"Aku tahu." Ucap wanita bermata teduh itu lalu memberi kecupan singkat di bibir suaminya.
"Tidak, kau tidak tahu."Mata caramel wanita berambut keemasan itu kemudian membeliak lebar. Bukan, bukan karena perkataan suaminya barusan. Melainkan karena ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang perlahan turun dan mengelus tubuh bagian belakangnya. Ketika ia menoleh ke arah suaminya, suami tampannya itu menyeringai mesum dan tetap membelai-belai bagian tubuh istrinya yang merupakan favoritnya.
"P-pervert!"
"Oh Sebby! Tega sekali kau bermesraan dengan wanita lain selain aku, Grrrr . . . ! " Raungan Grell sungguh merusak suasana hening yang tercipta sejak perputaran Sinematic Record milik Kako. Sebastian menghadiahi reaper merah itu death glare mematikan dan William mengambil langkah efektif dengan mengacungkan death schyte-nya.
"Ma-Maafkan aku." Lirih Grell dengan keringat bercucuran.
Setelahnya, sinematic record berputar cepat. Mengganti scene kehangatan sebuah keluarga kecil di musim semi menjadi scene suram yang mencekam. Segala warna cerah berubah menjadi hitam dan putih. Putih merupakan salju yang beterbaran dan menggunduk di atas tanah sedangkan hitam merupakan bayang-bayang yang tertimpa kegelapan malam.
"Ma-mama?" Papa?" Seorang gadis berambut hitam tampak tertelungkup di tanah bersalju sembari memanggil-manggil kedua orang tuanya. Darah segar merembes dari luka memanjang di keningnya. Gaun bangsawan yang dikenakannya robek di beberapa bagian dan hampir sekujur tubuhnya dihiasi dengan luka lecet yang mengalirkan warna merah. Onggokan serpihan kayu berserakan serta sebuah roda dengan ruas-ruasnya yang telah patah, menunjukkan seberapa hebat kereta kuda yang ditumpanginya bersama kedua orang tuanya menghantam sebatang pohon oak raksasa.
Mata caramel-nya yang terbuka separuh menangkap sosok dua orang yang berdiri cukup jauh darinya. Seorang adalah wanita berambut pirang yang sangat dikenalnya sebagai ibunya dan seorang lagi. . . berambut panjang berwarna putih silver tengah mencekik leher ibunya yang dalam kondisi tidak berdaya.
"Sebenarnya aku sangat mencintaimu. Aku terus melihatmu dari balik langit. . . Memandangi wajahmu yang bersinar itu. kau bahkan lebih cantik daripada malaikat di surga. Benar, manusia yang memiliki hati suci lebih sempurna dibanding malaikat. Bagitu pula sebaliknya, manusia yang memiliki hati kotor bahkan lebih rendah daripada iblis." Ujar si pria berambut perak sembari mengalihkan pandangannya sebentar pada sosok pria berambut hitam jet black yang bermandikan darah di bagian perutnya.
Pria bermandikan darah yang tak lain merupakan Sebastian versi manusia terlihat kepayahan. Darah mengucur banyak meninggalkan tubuh lemahnya. Napasnya kembang kempis, menciptakan uap-uap putih ketika bersinggungan dengan dinginya udara yang menderu bersama bulir salju yang kian menutupi tanah di sekitarnya, menciptakan hawa kematian. Dari mata azurenya yang bersikeras untuk tetap terbuka, ia melihat Istrinya ada di pertengahan hidup dan mati di tangan makhluk sinting itu.
Sebelumnya, Sebastian sama sekali tidak mempercayai adanya malaikat, iblis, atau mahkluk ghaib apapun. Tetapi ketika seorang mahkluk berwujud manusia bersayap putih yang entah datang dari mana tiba-tiba menembakkan bulu-bulunya ke kereta kuda yang mengangkut keluarganya, Sebastian kini yakin bahwa makhluk mitos itu memang ada. Tetapi apa motif makhluk itu untuk menyerang keluarganya?
"Lepaskan dia, brengsek!" Pekik Sebastian nyaring, menumpahkan sisa-sisa tenaganya untuk berteriak sekuatnya. Malaikat itu tersenyum sembari mendecih, mencemooh pada Sebastian yang berikutnya megap-megap karena jantung pria itu terasa memukul-mukul hendak mencuat dari rongganya.
"Lihat, apa bagusnya mahkluk itu? Ia seperti iblis dan kau seperti malaikat. Ia hitam dan kau putih. Tapi kau menikahinya, merelakan dirimu untuk ternoda oleh darah kotornya." Ejek sang malaikat sembari menatap sinis pada Sebastian yang berusaha menyeret tubuhnya.
"K-Kau tahu?" Wanita itu berujar meski susah payah. Suaranya telah mencapai pangkal tenggorokannya yang mulai mengering. Kakinya tak lagi menyentuh tanah dan sudah tidak mempunyai daya lagi untuk menendang-nendang seperti tadi.
"Setiap orang mempunyai kesempatan kedua untuk berubah. D-Dan tidak ada ma-manusia yang se-sempurna. Ti-dak ada." Wanita itu menggerang sebentar, berusaha menggapai-gapai oksigen seperti ikan di tanah kering.
Sementara si malaikat mendengar kalimatnya sembari memicing. Berani-beraninya dia, yang sudah hampir kehilangan nyawa itu menceramahi seorang malaikat.
"Ti-tidak ada hitam yang terus berjalan pada ke-kegelapan dan ti-dak a-da pu-putih terus berada pada sinarnya. Me-mereka berdampingan." Lanjutnya sembari tersenyum lemah dengan bibirnya yang berdarah di ujungnya. Matanya tertutup perlahan, namun wajahnya tetap sama, damai menghanyutkan.
"Ibu!" Si gadis kecil berteriak ketika dilihatnya tubuh ibunya yang di hempaskan dengan kasar hingga membanting tanah beralas salju tebal, tepat di depan ayahnya. Mata Sebastian membeliak marah. Belum pernah ia semurka ini. ia yang dulunya merupakan punggawa raja yang paling ditakuti musuh-musuhnya. Ia yang dulunya berdiri kokoh menatap tubuh-tubuh tanpa nyawa yang telah dihabisinya seorang diri. Kemana semua kekuatannya itu? Kenapa hawa membunuh itu hanya berada di sini, meletup-letup di hatinya dan sama sekali tak berkompromi dengan raga sial-nya yang seakan mati rasa?
Ia bahkan tak bisa bergerak untuk sekedar mendekati tubuh istrinya yang tertelungkup di depannya dan masih menghembuskan napas kecil kehidupan. Ia tak bisa melakukan apa-apa ketika anak perempuannya berteriak ketakutan memanggil-manggilnya.
"How ironis." Demi segala ketakutannya, Sebastian melihat pria berwujud malaikat dengan sayap putih terbentang itu berjalan mendekat dengan wajah tenangnya. Tangannya yang terbungkus sapu tangan putih menarik gagang pedang dari sarungnya, memperlihatkan kilau bulan purnama yang indah tetapi juga dingin menakutkan.
"Se-Sebastian." Panggil istrinya sembari bersusah payah menyeret tubuh kaku-nya untuk mendekat pada suaminya yang bersimbah darah.
"Sy-Syrena. Syrena. . . Ma-maaf. Maafkan aku." Bibir Sebastian bergetar saat mengucapkannya. Ia tidak tahu mengapa ia harus meminta maaf di saat seperti ini. Mungkin karena dulu sebelum mereka menikah ia sering menyakiti wanita yang dicintainya itu. Benar, Sebastian sering menyakitinya. Istrinya yang seperti malaikat bersuamikan pria brengsek macam iblis sepertinya.
"Kau tahu alasan mengapa aku memilihmu meski orang-orang berkata kita sangat berbeda. Seperti bumi dan langit, hitam dan putih ataupun iblis dengan malaikat?" Sebastian menggeleng pelan, sementara istrinya hanya tersenyum lemah menanggapinya.
"Itu. . . Karena aku mencintaimu." Jawaban yang sederhana dan jujur, mengiris hati Sebastian yang mendengarnya. Tangan istrinya perlahan terjulur menyentuh pipi pucat suaminya. Mata teduh berwarna coklat madu itu berkaca-kaca, hingga mengalir air bening di sudutnya.
"Sebastian aku masih ingin terus bersamamu, bersama anak kita, apa itu terlalu egois?"
Egois? Tidak! Istrinya bukan orang egois! Sama sekali bukan! Wanita itu selalu mengesampingkan dirinya sendiri, mengacuhkan keinginan hati nuraninya. Sebelum mereka menikah karena politik kerajaan, berapa kali ia memberi kesempatan kedua pada Sebastian untuk merubah sikap brengseknya? Berapa kali wanita itu tak melawan ketika Sebastian yang temperamental memukulinya sebagai pelampiasan? Dan berapa banyak Sebastian membuat hati perempuan berambut keemasan itu teriris-iris demi mendapati Sebastian pulang dalam keadaan mabuk dan tercium parfum perempuan murahan?
Sebanyak apapun Sebastian menyakiti Syrena, wanita itu tetap bertahan disisinya. Tetap merawat luka-lukanya sehabis bertarung meski Sebastian acapkali menepis tangannya. Wanita itu selalu menyambutnya hangat, memasakkan makanan kesukaannya juga membuat kediaman besarnya yang suram menjadi hangat. Kelembutannya mengimbangi kekasaran Sebastian. Dan hal tersebut berlangsung terus-menerus hingga akhirnya perasaan cinta itu muncul di hati hitam Sebastian. Cinta itu berkembang yang akhirnya membuahkan seorang gadis kecil sebagai buah cinta mereka.
Dan sekarang istrinya bertanya apakah ia egois? Apakah ia egois jika ia hanya ingin hidup lebih lama bersama suami dan anaknya yang ia cintai dengan sepenuh hati?
Tidak. Sebastian ingin menyampaikan itu. Tetapi bibir pucatnya kehilangan kemampuan untuk berbicara, sekejap, saat pedang keperakan itu menghujam punggung istrinya, memuncratkan cairan merah dari tusukan tersebut. Liquid merah itu membasahi warna putih di sekelilingnya juga menodai sebagian wajah rupawan Sebastian yang menunjukkan raut horor. Syrena . . . Syrena-nya sudah tak bergerak sama sekali. . . Tepat dihadapannya. Dan Sebastian sangat tahu bahwa istrinya sudah meninggal sekejap itu.
"Sekali lagi." Raut ngeri pada wajah Sebastian semakin bertambah ketika si pria putih sudah mencengkram leher anak perempuannya. Kepala Sebastian menggeleng cepat, memohon agar ia tidak melihat lagi orang-orang yang dikasihinya terbunuh di hadapannya.
"K-Kenapa? Kau malaikat kan? Me-ngapa kau, hegh. . . melakukan ini? Apakah kau mau mengkhianati Tuhan-Mu? Si malaikat terkekeh sadis mendengar penuturan polos gadis berambut sehitam malam yang kini akan segera menyusul nasib ibunya itu.
"Sayang sekali manis. Aku memang malaikat tetapi aku adalah Fallen angel. Angel yang rela terbuang demi menyucikan dunia kotor ini dari manusia-manusia kotor seperti . . . ayahmu" Sang mahkluk bersayap putih memberi jeda, melirik sebentar pada Sebastian dengan pandangan menghina.
"Kau menjijikkan! Ayahku jutaan kali lebih baik dibanding-!"
CRASSH!
"Lucia. . !" Sebastian memekik. Darah kembali mengucur di hadapannya. Azure-nya menatap nanar tubuh anak perempuannya yang teronggok di dekat ibunya, juga di dekatnya. Samar-samar, Sebastian masih bisa mendengar desah napas lemah milik anaknya yang terputus-putus. Anaknya sekarat sama seperti dirinya. Mereka akan segera menyusul istrinya seiring dengan menguarnya suatu untaian aneh bergambar kilasan-kilasan memori hitam putih.
Tidak, demi apapun Sebastian tidak ingin mati sekarang! Kebencian dan dendam mengonsumsi jiwanya seluruhnya. Hatinya nyeri, terluka oleh luka kehilangan. Ia tidak akan menerima begitu saja bahwa istri dan anaknya direnggut darinya. Ia tak bisa menerima keluarga kecilnya diluluh-lantakkan di depan matanya. Ya, Meski melawan takdir Tuhan sekalipun ia tidak peduli. Ia akan membalaskan dendam ini. Rasa sakit, kebencian, luka dan penderitaan ini akan terus ia bawa. Meski dengan begitu ia mesti merelakan dirinya terpendam dalam kegelapan selamanya.
"Iblis. . . Seandainya aku adalah iblis. . . " Kata-kata terakhir itu terucap sebelum orb azure-nya menutup sempurna.
Lalu tiba-tiba seluruhnya gelap bagi Sebastian. Tak ada apapun selain kegelapan di sekelilingnya. Pria berambut jet black itu berdiri seorang diri, tanpa ekspressi apapun. Orb birunya yang dulu tampak jernih dan tegas kini hanya menyisakan warna redup yang kelam.
"My, my, seorang manusia yang ingin menjadi iblis. Sungguh menarik." Ucap sebuah suara di antara kegelapan.
"Aku Lucifer." Ujar suara itu lagi.
"Lucifer?" Bibir pucat Sebastian bergumam dengan wajah datar.
"Hm~ aku raja para iblis. Dan aku bisa menjadikanmu sebagai salah satu iblis jika kau mau~" Selanjutnya suara yang memperkenalkan diri sebagai Lucifer itu berganti menjadi tawa menakutkan khas iblis. Tawa itu terdengar sebagai tumpahan kepuasan. Kepuasan iblis ketika seorang manusia jatuh pada perangkap sesatnya.
"Jadikan aku iblis." Ucap Sebastian singkat, tanpa ekspressi apapun.
"Syarat jika kau ingin menjadi iblis~ kau akan hidup selamanya dalam kegelapan dan~ bagian menariknya kau hanya akan mengonsumsi jiwa manusia sebagai makananmu."
"Lalu~ kau juga akan kehilangan ingatanmu sebagai manusia. Ingatan dan kenangan tak kau butuhkan karena~ iblis tak mempunyai hati dan tak memiliki rasa apapun."
"Aku setuju." Cukup dengan dua kata itu dan tawa cekikikan Lucifer kembali meledak. Bulu-bulu hitam beterbaran, dan warna merah mulai menelan warna biru di mata pria yang menolak kematian itu.
"Kontrak seal~"
Apa yang terjadi di dalam inner Sebastian mulai menunjukkan reaksinya pada tubuh manusia-nya yang sekarat. Kegelapan menguar membungkus tubuhnya bahkan menggerogoti negative film yang semestinya terus berjalan.
"Di-Dia. . ." Pekik seorang shinigami muda dengan rambut klimis berwarna hitam.
"Dia menentang takdir kematiannya." Gumam senior si shinigami muda yang memiliki rambut perak panjang mencuat.
"Apa yang harus kita lakukan senior? Sebentar lagi ia akan bangkit sebagai iblis."
Bukannya menjawab pertanyaan juniornya, shinigami dengan bekas luka di pipi itu justru berjalan mendekat. Seringai di wajahnya melebar ketika genggaman pada death scyte-nya yang berbentuk sabit itu mengerat.
Crash!
Dan untaian film hitam putih itupun terputus, melambai-lambai di udara, sebelum akhirnya digenggam oleh sang shinigami senior.
"Apa yang anda lakukan?" Sekali lagi, shinigami berambut perak itu tidak mempedulikan pertanyaan shinigami muda berambut hitam klimis yang mengekori tiap langkahnya.
Sraak, sraak, sreet!
"Senior, kenapa anda mengikat sinematic orang tersebut pada sinematic anak perempuannya?"
"Karena itu tugas shinigami. Kode etik shinigami pasal satu, tugas shinigami adalah mengumpulkan Sinematic Record dari makhluk hidup dengan cara apapun dan bagaimanapun."
Beralih sebentar memandang ke tubuh pria berambut jet black itu, sang senior menambahkan,
" Orang ini menentang takdir kematiannya yang berarti bisa menghapus seluruh sinematic record-nya. Tetapi, selagi masih ada sinematic record yang tersisa maka kita harus menyelamatkan sinematic record tersebut. Dan sepertinya keberuntungan berpihak pada kita, hihihi . . . Sinematic record dari dua orang yang memiliki hubungan darah bisa dijadikan satu ketika terjadi suatu kondisi yang dapat mengakibatkan terhapusnya sinematic record salah seorang dari dua pihak yang memiliki hubungan darah itu."
"Tapi senior, apakah penyatuan sinematic record itu tidak akan menimbulkan suatu implikasi kelak?" Pertanyaan dari juniornya, membuat sang senior terdiam sejenak. Lalu wajahnya yang sebagian tertutupi poni berwarna perak itu mendongak menatap langit malam.
"Ya, kita lihat saja apa yang akan terjadi di masa depan."
Lalu semuanya menjadi silau dan putih. . .
Berikutnya, deretan sinematic record kembali bergulir cepat menampilkan gambaran lain. Kilasan gambar tentang sepasang suami istri yang menggendong bayi perempuan imut bersurai hitam dengan mata coklat besar.
"Lihatlah, dia begitu manis dan rapuh." Sepasang suami istri bangsawan menatap bahagia pada buah hati mereka, seorang bayi perempuan yang terlelap nyaman dalam kain biru lembut.
"Langit biru musim panas. Hm. . . Kako. Ya, namanya adalah Kako Mizquerlentz." Ujar sang istri sembari menatap jendela di sampingnya, dimana langit biru metallic menyala terang seolah menyambut kelahiran bayinya.
"Kako, kenalkan ini Ciel panthomhive. Ciel ini Kako chan."
"Sa-salam kenal. Do-douzo yoroshiku." Cicit Kako kecil yang berada pada kisaran umur empat tahunan, dengan wajah malu-malu dan suara yang terdengar masih cadel.
"Apakah kau keturunan Jepang? Kau imut sekali." Ucap seorang bocah laki-laki berumur 7 tahun yang memiliki rambut green grayish dan senyum cerah mengembang.
"Kita akan selalu bersama. Aku janji." Bocah berambut kelabu itu mengangkat jari kelingking kanannya. Punggungnya terasa pegal karena hampir setengah jam menggendong Kako yang kakinya terkilir, namun ia tetap menyunggingkan senyuman saat mengucapkan janji itu.
"Pwomise." Dan gadis mungil itu mengaitkan jari kelingkingnya, tersenyum manis, lalu menyembunyikan wajah imutnya yang semerah tomat ke ceruk leher Ciel.
"Why? Why daddy?!"
"Please Kako lupakanlah Ciel. Lupakanlah keluarga panthomhive. Ayah tidak bisa memberitahumu alasannya tetapi ini demi kebaikan kita semua."
"Ta-tapi. . . Kami sudah berjanji. . ." Isak Kako dengan bahu mungilnya yang bergetar menahan tangis.
Gadis kecil bersurai gelap itu menempelkan tubuhnya ke pintu. Telinganya menangkap suara-suara di balik pintu dimana kedua orang tuanya bercakap-cakap. "Aku merasa politik hitam ini akan segera menghabisi kita. Aku khawatir pada keluarga Panthomhive dan akupun merasa khawatir akan keselamatan keluarga kita." Mata bulat caramel milik si gadis membulat lebar. Ia tidak mengerti sepenuhnya apa maksud ucapan ayahnya itu tetapi ia tahu satu hal bahwa apapun itu merupakan hal yang buruk.
"Mommy! Daddy!"
Merah. Api merah menjilat ganas. Panas yang membakar menghanguskan segalanya, di depan mata bulat caramel yang berair itu.
Putaran sinematic record itu tiba-tiba terhenti. Membuat semua pasang mata tersentak sesaat, sebelum menyadari apa yang telah terjadi. Negatif film yang semestinya menyeruak keluar kini mulai tertarik mundur secara teratur, kembali menuju tubuh mungil pemiliknya. Dan itu berarti . . . Kako Mizquerlent telah menolak kematiannya dengan kemauannya sendiri.
"Just take your death, little Princess ..!" Grell telah melompat di udara dengan death schtye-nya yang teracung tinggi, seolah penuh nafsu untuk segera menghujamkan gergaji andalannya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu, Grell." Desisan tajam terdengar bersamaan dengan kilau sepasang ruby yang tampak menyala. Dentingan suara besi yang beradu kembali terdengar. Menjadi backsound di seluruh penjuru ruangan itu.
Sementara sebuah galah berujung runcing menerobos celah dari pertarungan antara shinigami merah dengan sang iblis hitam. Sasaran ujung scyte itu tidak lain adalah si gadis kecil yang masih dalam kondisi tidak sadarkan diri dan berusaha menyerap kembali sinematic record-nya.
CRAASH!
Cairan merah menetes di lantai menimbulkan noktah-noktah bulat. Lalu sehelai bulu hitam yang tampak kusut perlahan mendarat di dekat darah yang masih mengering itu.
Di atas sana, seorang iblis berambut kelabu menahan ringisan pada luka di pundaknya. Sayap hitamnya tampak berantakan dan beberapa helai bulu berjatuhan. Mengindahkan liquid merah yang membasahi jas hitam dan sebagian sayapnya, mata merahnya beralih menatap wajah damai gadis yang ada dalam rengkuhannya. Kelopak mata berbulu lentik itu perlahan terbuka, menampilkan sepasang orb berwarna caramel yang terlihat begitu innocent.
"Ciel. . . " Panggilnya lemah. Ciel memiringkan kepalanya, bibirnya menyeringai kecil pada mangsa mungilnya. "Akhirnya kamu bangun juga, putri tidur."
Gadis yang baru mendapatkan kesadarannya itu mengindahkan ucapan Ciel. Mata caramelnya justru terfokus pada pundak dan bahu sang iblis yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Ciel . . Darah ." Mata Kako menatap pedih pada liquid merah yang belum sepenuhnya mengering itu. "Are you hurt.? Are you okay ?" Ujar kako yang terdengar seperti bisikan.
"Ini bukan apa-apa." Ujar Ciel dengan suara datar lalu mendarat cukup jauh dari jangkauan para reaper. Mata merahnya memicing menatap reaper berambut klimis disana yang tampak emotionless dan tidak berusaha menyerang.
"Sudah cukup. Hentikan semua ini." Suara monotone William T. Spears membuat seluruh perhatian mengarah padanya. Reaper itu membetulkan letak kacamatanya lalu melirik sebentar pada rekan merahnya, memberi kode untuk menghentikan penyerangan.
Sebastian yang melihat gesture itu mengerutkan dahi. Iblis tampan itu memang ikut menghentikan serangan tetapi sorot mata rubi-nya awas menatap setiap gerakan dari William. Barangkali reaper klimis itu berbuat mencurigakan lalu memberi serangan tidak terduga ?
Dengan wajah datar dan tatapan lurus, senior shinigami itu berjalan menimbulkan bunyi derap langkah dalam keheningan. Tujuan sang reaper tidak lain adalah iblis bersurai kelabu dan gadis kecil yang masih dalam gendongannya. Mata merah Ciel memicing, melihat reaper itu semakin dekat. Apalagi Kako juga mencengkramkan tangan mungilnya pada jas Ciel, seolah merasa tidak nyaman. Tetapi meski dilihat bagaimanapun, William sama sekali tidak menunjukkan gelagat berbahaya kecuali ekspressi emotionless yang merupakan ciri khasnya.
"Benar-benar memalukan sekali untuk melakukan hal ini lagi." Desis William yang kini berdiri hanya sekitar dua meter dari Ciel. Iblis kecil itu hanya menatap sang reaper dengan pandangan jengah ketika reaper berambut klimis itu menundukkan kepalanya dalam di hadapan Kako.
"Aku minta maaf atas apa yang kulakukan." Ujar William tanpa ekspressi apapun lalu dengan cepat menegakkan tubuhnya kembali, mengindahkan Kako yang mengerjap kebingungan.
"Ini adalah reaper card, sebagai bukti permintaan maaf kami." Death scythe berujung runcing itu terulur pada Kako dengan sebuah kartu hitam yang terjepit. Agak ragu gadis itu menerimanya. Dan ketika kartu hitam tersebut berada di telapak tangan mungilnya, secara ajaib kartu tersebut masuk ke dalam kulitnya dan meninggalkan lambang tengkorak hitam dikelilingi ornament rumit.
"Apa yang kau lakukan?" Desis Ciel sambil menggeram tertahan. William menatap Ciel dengan wajah datarnya. Seraya membetulkan kaca matanya, shinigami senior itu menjelaskan,
"Dengan kartu itu kau bisa meminta satu pertolongan pada para reaper."
"T-tapi tuan kurasa aku tidak memerlukannya." Cicit Kako
"Itu benar Will. . .! Kenapa kau memberikan reaper card pada gadis kecil tidak berguna itu?! Pekik Grell yang melihat semua kejadian itu dengan wajah shock dan berurai air mata. Bagaimana tidak? Seniornya tiba-tiba menghentikan penyerangan lalu menundukkan kepala pada seorang gadis kecil. Seorang manusia. Dan yang lebih mengejutkan adalah reaper card yang diberikan kepada gadis cilik sebagai permintaan maaf. For what ?!
"Diamlah Grell. Gadis ini memang ditakdirkan untuk hidup. Tapi kita telah melanggar takdir tersebut."
"T-Tapi, aku masih belum mengerti. Gadis itu roh yang tersesat kan Will, jadi kita tidak melanggar apapun bukan?" Tanya Grell sembari mengerucutkan bibirnya. Yeah, harus diakui bahwa Grell memang tidak begitu hapal tentang peraturan shinigami.
"Sederhana saja, khukhukhu. . ." Suara lain tiba-tiba muncul di tengah ruangan itu. Seorang berambut perak dengan bekas luka di pipi terlihat santai bersandar di salah satu pilar.
"Jika seorang makhluk hidup mengalami kematian namun ternyata ia selamat dari kematian, maka ia dianggap sebagai jiwa yang harus dikembalikan. Dan jika jiwa tersebut telah melalui ritual pengembalian, maka itu dianggap sebagai mati suri. Namun jika tahap itu masih belum mampu untuk mengembalikan jiwa tersebut, maka. . . jiwa tersebut ditakdirkan untuk hidup kembali di dunia hihihi~"
"Undertaker." Ujar Ciel dengan wajah monoton menatap sang penjaga makam bersurai perak itu.
"My my, imut sekali mangsa pertamamu itu, Earl. . . Manis dan menggoda." Komentar Undertaker yang entah mengapa membuat pipi Ciel sedikit memerah. Kako yang melihat pria bersurai perak itu hanya mengangkat sedikit alisnya. Ekspressi kebingungan jelas tergambar di wajahnya karena ia menyadari bahwa ia berada di tempat yang asing bersama beberapa orang yang belum dikenalnya, kecuali Ciel dan Sebastian tentunya.
"Ano, Ciel apa yang terjadi?"
"Khukhukhu, kau baru saja dihidupkan kembali Kako Misquerlentz. Atau boleh kubilang . . ." Undertaker menggantung kalimatnya, melirik sekilas pada Sebastian yang sedari tadi berdiam diri.
"Reinkarnasi Lucia Michaelis." Sambung Undertaker seraya memamerkan smirk-nya.
"Di-Dihidupkan kembali?" Ulang Kako seolah tidak percaya.
"My my, sepertinya kau harus menjelaskannya nanti pada mangsamu Earl, hihihi. . . " Setelah mengatakan itu, Undertaker kemudian mengeluarkan sebuah buku bersampul hitam serta sebuah pena berwarna merah muda.
"Khukhukhu, Saatnya bagi kalian untuk kembali." Ujar sang mantan shinigami sambil menuliskan sesuatu di buku hitam tersebut dengan pena pink-nya. Sebuah portal tiba-tiba muncul dan Ciel sudah melangkah bersama dengan gadis yang masih berada dalam dekapannya.
"Kita kembali, Sebastian."
"Yes, My Lord." Ujar Sebastian sembari menyilangkan tangan kirinya, lalu mengikuti Bocchan-nya menuju ke portal.
"Uhg Sebby ! don't leave me alone, my Loovee !" Isak Grell dengan gaya super lebay-nya.
Sementara Undertaker yang melihat kedua iblis itu lenyap dalam portal masih tetap menyunggingkan smirk-nya. Poni panjangnya yang menutup mata membuat siapapun tidak bisa melihat kilat misterius di matanya. Kuku-kuku panjangnya menyentuh bibir pucatnya dan mantan shinigami itu mendesis lirih
"Kamu pasti akan menemuiku lagi Sebas chan, hihihi. . ."
.
.
.
TBC
Yeah, author tahu bahwa chapter ini mungkin agak membingungkan para reader (atau mungkin ini chapter paling geje?) ','a
Author berharap para reader masih bisa menikmati chapter ini, meskipun feel-nya rada ngak berasa gara-gara Flashback memori Kako yang mungkin terlalu kepanjangan. Jadi, kalau misal ada keluh kesah, saran perbaikan, ataupun pertanyaan bisa langsung PM atau sign tombol review-nya ya , hehehe . . .
Tapi di chapter berikutnya, ceritanya mungkin sudah kembali ke kehidupan normal kok guys. . . Dan kayaknya Ciel juga akan kembali menggoda Kako lagi, ahahahah. . . Kira-Kira bagaimana reaksi Sebastian ya melihat anaknya (meskipun reinkarnasi) digoda sama Bocchan-nya? Hm~
Oke, akhir kata Cieru ucapkan terima kasih banyak buat para reader yang sudah mampir dan membaca Fanfic ini. Arigatou gozaimashita.
RnR Pleasee. . .
. . . .
