Harmony

Choi Seungcheol

Hong Jisoo

Others SVT Member

Find by your self lah

Kkk

.

.

'Kehidupan Jisoo dan Seungcheol yang makin harmonis.'

.

.

©Sour & Bitter 2016 Present

.

.

(***)

.

.

Kehamilan Jisoo sudah memasuki bulan kedelapan dan perutnya sudah terlihat buncit. Seungcheol meminta orang tuanya untuk lebih sering menemani Jisoo yang sering kali mengidam aneh-aneh. Tapi selalu saja mengidam Jisoo pada mertuanya berbeda jika dibandingkan dengan mengidamnya saat ada Seungcheol di sampingnya. Jisoo mungkin akan meminta mertuanya menyalakan video-video dance dari berbagai jenis genre sampai Seungcheol datang. Lalu ibu Seungcheol akan menemani menantunya itu sampai tertidur di kamar setelah mendongengi Jisoo tentang masa kecil Seungcheol seperti sekarang.

"Jadi, Seungcheol senakal itu, Eomma?" tanya Jisoo yang sekarang tengah memeluk ibu mertuanya dengan manja.

"Ya begitulah. Tidak ada yang bisa menenangkan Seungcheol yang sudah mulai bertingkah." jawab Ny. Choi sambil terkekeh mengingat tingkah putranya.

"Pasti lucu sekali.." gumam Jisoo.

Wanita itu memejamkan matanya perlahan karena tepukan-tepukan sayang ibu mertuanya. Jisoo menyamankan dirinya dan berkelana dalam mimpi. Ny. Choi menaikkan selimut yang mereka pakai lalu mencium kening menantunya yang terlihat sangat manis jika sedang tidur. Beliau mengelus perut buncit Jisoo dengan sayang.

"Semoga kau lahir dengan sehat dan selamat, Nak." do'a Nyonya Choi. "Buat orang tuamu bahagia. Kakek dan Nenek juga."

.

.

"Seungcheollie~"

Seungcheol baru saja selesai mandi dan disuguhi istrinya yang sudah bertingkah manja seperti biasanya. Lelaki itu memeluk istrinya yang sudah bergelayut manja di lehernya. Kebiasaan baru Jisoo saat sedang bersama dengannya.

"Ada apa, Sayangku?" Seungcheol mencium pelipis Jisoo.

"Aku ingin sesuatu.."

Nah, ini dia yang sejak tadi diantisipasi oleh Seungcheol. Jisoo yang dalam mode mengidamnya. Walaupun sebenarnya Jisoo tidak mengidam yang aneh seperti ibu hamil kebanyakan. Hanya saja Jisoo menjadi lebih manja dan Seungcheol tahu apa yang diinginkan istrinya.

"Istriku yang manis ini ingin digendong hmm.."

"Bukan aku.. Bayi kita yang meminta~"

Seungcheol terkekeh dan menggendong Jisoo ala bridal style. Posisi aman disaat Jisoo sedang hamil tua seperti ini. Jisoo mengalungkan tangannya di leher Seungcheol dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada lembab suaminya yang sedang bertelanjang dada. Menghirup wangi sabun mint kesukaan Seungcheol yang menguar.

"Sayang.." panggil Jisoo.

Seungcheol menunduk, menatap istri digendongannya. "Kau ingin sesuatu, Sayangku?"

"Tidak. Kurasa bayi kita menendang." Jisoo meringis.

"Benar kah?"

Jisoo mengangguk. Seungcheol mendudukkan dirinya di sofa dan memangku Jisoo yang mengelus-elus perut buncitnya. Wanita itu menyamankan posisinya saat suaminya ikut mengelus perutnya.

"Sayang.. Aku ingin bicara dengan anak kita."

"Bicaralah padanya. Dia baru saja bilang kalau dia merindukan Appanya."

Seungcheol terkekeh lagi lalu mendudukkan Jisoo di sofa dengan nyaman. Setelahnya Seungcheol berlutut dan mencium perut buncit Jisoo dengan sayang. Lelaki itu mendekatkan telinganya ke perut Jisoo. Ia menyentuh kedua sisi perut Jisoo lembut.

"Selamat malam, bayi Appa dan Eomma. Maafkan Appa karena sering meninggalkan bayi lucu Appa sendirian dengan Eomma. Kalian pasti sangat kesepian hmm.. Appa sangat mencintai bayi kesayangan Appa ini. Eomma juga." Seungcheol tertawa yang membuat darah Jisoo berdesir. "Appa akan lebih sering di rumah saat bayi manis Appa lahir. Jadi, jangan membuat Eomma kesakitan, oke. Bayi Appa adalah anak penurut dan penyanyang kan? Janji pada Appa. Appa mencintaimu."

Jisoo bersyukur suaminya pengertian seperti Seungcheol.

.

.

Seungcheol terbangun saat Jisoo merintih kesakitan. Seketika itu panik saat Jisoo terlihat kesulitan bernafas. Nafasnya tersengal-sengal.

"Uuuh.. Sepertinya.."

"Sudah saatnya?"

Jisoo mengangguk dan Seungcheol dengan tanggap bangun. Menggendong istrinya yang akan melahirkan. Ibunya mewanti-wanti agar Seungcheol tidak panik saat Jisoo mengalami pembukaan. Nafas Jisoo makin tersengal dan wanita itu mengatur nafasnya sesuai instruksi yang diberikan Seungcheol. Jisoo meremas piyama Seungcheol dengan kuat.

"Atur nafas, Sayang.. Kau perempuan yang hebat.."

Jisoo mengatur nafasnya dengan susah payah. Seungcheol memangku Jisoo sambil menyetir. Terlalu khawatir untuk mendudukkan Jisoo di sampingnya. Beruntung sekali jalanan sepi karena memang masih dini hari.

.

.

Seungcheol menemani Jisoo yang sedang berjuang melahirkan di dalam ruang persalinan. Menggenggam dan menyemangati Jisoo yang sedang bertaruh dengan nyawanya. Jisoo menggenggam tangan besar Seungcheol dengan kuat dan dalam hati berkata pada bayinya. Bertelepati antara ibu dan anak.

'Eomma mohon lahirlah dengan selamat, Sayang. Appa bersama kita. Appa ingin melihatmu, Sayang.'

Suara tangisan bayi memecah keheningan dan kecemasan di dalam ruang persalinan. Seungcheol sudah basah oleh air mata. Bahagia saat mendengar suara bayi mereka yang keras. Ia mencium kening Jisoo yang berkeringat dengan lembut. Mengucapkan ribuan terima kasih karena telah melahirkan anak mereka dengan selamat. Tapi Jisoo merasa ada yang janggal. Perutnya mulas lagi.

"Siapkan persalinan selanjutnya! Masih ada satu bayi lagi!"

.

.

Seungcheol memandangi putra kembar mereka dengan wajah tidak percaya dan bahagia. Tidak percaya bahwa ia memiliki anak kembar dan bahagia karena istri serta anaknya selamat. Keluarga Seungcheol dan Jisoo datang ke rumah sakit setelah persalinan selesai. Karena Seungcheol menunggui Jisoo di dalam hingga ia lupa menghubungi orang tua mereka.

Jisoo tidak sadarkan diri setelah melahirkan putra kedua mereka dan sekarang berada di ruang perawatan. Ditemani para ibu. Sedangkan Seungcheol, ayah, dan ayah mertuanya sedang memandangi dua bayi kembar yang sedang terlelap di dalam boks bayi.

"Lucu. Seperti wajahmu saat lahir dulu,Seungcheol-ah." kata Tuan. Choi.

"Wah.. Satunya mirip dengan Jisoo saat lahir dulu. Ckck.. Kalian sangat berusaha keras rupanya." kekah Tuan Hong sambil menepuk pundak Seungcheol.

.

.

"Lucu sekali.." puji Ny. Hong saat Jisoo sedang menyusui putranya.

Satu putranya yang lain terlihat nyaman digendongan Seungcheol yang berdiri di sampingnya. Ia baru saja selesai menyusui yang ada di dalam gendongan Seungcheol. Seungcheol dengan keras kepalanya tidak membiarkan siapapun menggendong putra kembarnya dan mendapat pukulan menyakitkan dari Ny. Choi di kepalanya. Padahal maksud lelaki itu adalah ia senang sekali menggendong putra-putranya. Tapi lebih senang menggendong Jisoo yang sedang horny. Oke.. Seungcheol mulai berpikiran mesum.

"Jadi.. Kalian akan menamai mereka siapa?" tanya Tuan Hong sambil mencium pipi cucunya yang berada digendongan Seungcheol.

"Aku terserah pada Seungcheol saja." Jisoo tersenyum walaupun wajahnya terlihat lelah.

"Aku sudah menyiapkan nama. Terlintas begitu saja saat istriku melahirkan." kata Seungcheol.

"Jadi siapa namanya?" tanya Ny. Choi.

"Namanya.. Choi.."

Semua orang menunggu bibir Seungcheol terucap dengan antusias. Kecuali Jisoo. Jisoo tahu kalau suaminya itu sedang ingin bermain-main dengan orang tua mereka. Seungcheol mengedipkan sebelah matanya pada Jisoo yang dibalas anggukan oleh wanita itu. Sebuah persekongkolan. Tapi Ny. Choi menggagalkannya dengan mencubit pinggang Seungcheol.

"Sudah katakan saja. Jangan mengerjai kami."

"Baiklah-baiklah.. Namanya.. Choi Soonyoung dan Choi Jihoon." ucap Seungcheol dengan senyum bangga.

"Kenapa namanya berbeda?" tanya Tuan Choi penasaran.

Seungcheol tersenyum dan mencium pipi kedua putranya yang wangi. "Anak kembar tidak selalu sama. Mereka memiliki perbedaan. Jadi akan mudah untuk membedakan mereka nantinya. Kalau nama mereka berbeda karena aku rasa nama yang kuberikan manis sekali seperti aku dan Jisoo. Benar kan, Sayangku?"

"Lalu siapa yang Soonyoung dan siapa yang Jihoon?" Ny. Hong bertanya sambil menatap menantunya.

"Soonyoung kakaknya dan Jihoon adiknya." usul Jisoo yang dijawab anggukan oleh semuanya.

.

.

Umur kedua bayi kembar itu sudah hampir satu tahun. Seungcheol lebih sering meluangkan waktunya di rumah karena pekerjaannya tidak terlalu menuntut. Sering Seungcheol membawa pulang dokumennya untuk dikerjakan di rumah sembari membantu Jisoo mengasuh putra mereka. Malamnya ia akan menguasai Jisoo. Beruntung kedua bayi mereka sangat tenang jika malam menjemput. Sehingga orang tua mereka bisa bergumul di bawah selimut seperti sekarang.

"Aaah.. Lebih dalamh.." desah Jisoo tepat di samping telinga Seungcheol.

"Kau ingin.. Lebih dalam lagi.. Sayangh?"

Jisoo mengangguk dan Seungcheol menekan kejantanannya kuat-kuat. Memukul titik manis Jisoo hingga wanita itu pening karena nikmat. Seungcheol mengulangnya beberapa kali. Tersenyum saat Jisoo klimaks dengan menjeritkan namanya. Lalu kembali menggempur lubang Jisoo yang masih terasa rapat. Ia belum mendapatkan klimaksnya dan berusaha mencapai klimaksnya dengan menggenjot Jisoo yang terhentak-hentak karena Seungcheol mengeluar masukkan kejantanannya dengan kasar.

Seungcheol mengulum puting susu Jisoo yang menjadi lebih kenyal. Menghisapnya hingga Jisoo mengerang dan menekan kepalanya untuk mengulum lebih dalam. Seungcheol memainkan puting lainnya dengan jari terampilnya. Memilin-milin dan mencubitnya. Semakin gencar mengerjai tubuh Jisoo yang penuh dengan bercak-bercak kemerahan saat wanita itu berkontrasi dengan kuat. Menghisap kejantanannya masuk makin dalam.

Seungcheol mengecup bibir Jisoo dan bermain semakin kasar. Ia butuh pelepasannya dengan segera dan Jisoo mampu merangsangnya meski dengan elusan lembut di dadanya. Lengan Seungcheol melingkar di pinggang Jisoo. Menghentak-hentakkan kejantanannya dan menyemburkan spermanya di dalam Jisoo disusul oleh wanita itu.

Nafas keduanya terengah-engah. Seungcheol menggulingkan tubuhnya di samping Jisoo. Memindahkan istrinya menjadi di atas tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Jisoo memejamkan matanya saat merasakan kejantanan Seungcheol di dalamnya masih keras. Belum puas dengan permainan mereka.

"Aku membutuhkan 20 ronde untuk menikmatimu, Sayang.." bisik Seungcheol.

.

.

Seungcheol menemani Soonyoung dan Jihoon bermain di halaman belakang. Jisoo sengaja menggelar tikar lembut untuk tempat bermain kedua buah hatinya. Tersenyum dari dapur saat melihat Soonyoung dan Jihoon menyerang Seungcheol yang berbaring. Tertawa bahagia saat ayah mereka pura-pura mati. Kedua balita itu sudah berumur dua tahun lebih beberapa bulan. Sudah bisa berlari ke sana ke mari dan bicara sepatah dua patah kata dengan aksen cadel.

"Appa.. Appa.." panggil Soonyoung sambil mengguncang dada Seungcheol yang masih pura-pura mati. "Lumah Pampam Okmin Appa!"

Seungcheol tertawa mendengar celotehan Soonyoung. Jihoon bertepuk tangan dengan senyum lebar sambil memeluk Seungcheol yang membawa keduanya dalam sebuah pelukan hangat.

"Soonyoung ingin bertemu dengan Paman Seokmin dan Paman Soonyoung?" tanya Seungcheol sambil menciumi pipi balitanya dengan gemas.

Soonyoung mengangguk. Seungcheol sendiri baru mengetahui kalau Seokmin menikah dengan kakak tingkatnya yang mana kakak tingkat Seokmin itu adalah adik kelasnya. Lebih terkejut lagi saat sadar bahwa nama putranya dan istri Seokmin sama namun berbeda marga. Soonyoung. Choi Soonyoung dan Kwon Soonyoung.

"Appa.." sekarang Jihoon yang memanggil Seungcheol.

"Hmm.."

"Ital Eomma, Appa."

Jika Soonyoung sangat menyukai Seokmin dan istrinya maka berbeda dengan Jihoon yang menyukai permainan gitar ibunya dan suara Seungcheol saat menyanyi berdua. Bukannya Soonyoung tidak suka dengan suara orang tuanya hanya saja bayi itu kelewat bahagia jika sudah bertemu dengan Seokmin dan Soonyoung. Berbeda dengan Jihoon yang akan berlari pada ayah dan ibunya saat Seokmin berusaha menggendong balita itu.

"Sebentar lagi. Setelah Eomma memasak Eomma akan bermain gitar untuk Jihoonnie hmm.."

Jihoon mengangguk dan memeluk Seungcheol sedangkan Soonyoung sudah sibuk dengan mainan-mainan mereka yang berserakan.

.

.

Jisoo memetik gitarnya dengan awalan yang lembut. Jihoon tertawa senang saat ibunya mulai memainkan gitar. Ia melompat-lompat sambil bertepuk tangan di samping ibunya yang tersenyum dan mengecup pipinya dengan sayang. Seungcheol memangku Soonyoung yang memandang ibunya dengan takjub. Jihoon terduduk setelah lelah melompat dan Jisoo memangku balita lucu itu.

"Ital!" pekik Jihoon sambil memeluk gitar yang terlalu besar untuk tubuh mungilnya.

Jisoo terkekeh dan memeluk Jihoon yang memetik gitar dengan asal. Balita itu tertawa senang lalu memetik asal-asalan berulang kali. Menghasilkan nada aneh dan kedua orang tuanya tertawa.

"Uri Jihoonie pintar sekali." puji Jisoo sambil mencium pipi balita itu berulang kali.

"Yong! Eomma! Yong!" Soonyoung berteriak dan berlari pada ibunya.

Seungcheol tertawa melihat Soonyoung berusaha masuk pada pelukan Jisoo. Jihoon memekik tidak suka dan memukul kepala saudaranya dengan tangan kecilnya. Jisoo terkekeh dan memeluk kedua putranya yang masih belum berhenti bertengkar. Kedua anak itu masih saling pukul tidak suka dan berakhir dengan tangisan Soonyoung. Jihoon baru saja memukul kepala kakaknya dengan keras. Dengan tanggap Seungcheol mengambil Jihoon dan Jisoo menenangkan Soonyoung yang memeluknya dengan erat.

.

.

Jadwal keluarga kecil Seungcheol adalah berbelanja bersama pada hari Minggu. Jisoo menggendong Soonyoung dan Seungcheol menggendong Jihoon. Kedua anak itu memandang pasar dengan takjub. Mereka pertama kalinya datang ke pasar tradisional seperti sekarang.

Jihoon berjengit kaget saat melihat ikan yang menggelepar di lantai. Ia memeluk Seungcheol yang terkekeh. Menyembunyikan wajahnya tapi diam-diam melihat ikan-ikan yang menggelepar. Soonyoung menyentuh-nyentuh ikan yang dipilih Jisoo dengan telunjuknya. Bergidik saat sisik ikan itu menyentuh kulitnya.

"Kan Eomma." Soonyoung tersenyum lebar sambil bertepuk tangan.

"Ya. Nanti eomma buatkan sup ikan untuk Soonyoung dan Jihoon." jawab Jisoo.

.

.

Seungcheol mulai sibuk dengan pekerjaannya dan jarang sekali pulang. Bahkan frekuensi keberadaan Seungcheol bisa dihitung dengan jari. Jisoo memakluminya dan masih sering menghubungi suaminya. Mengingatkan untuk makan, tidak terlalu banyak meminum kopi, istirahat sejenak, dan lainnya. Sejak kesibukan Seungcheol meningkat, Jihoon dan Soonyoung selalu menunggu ayah mereka pulang di ruang tamu hingga tertidur di sofa ditemani Jisoo tentunya.

Seperti saat ini, Jihoon dan Soonyoung sedang duduk di ruang tamu dengan tenang. Di depan mereka ada sekotak biskuit bayi. Tangan-tangan mungil mereka sibuk memasukkan biskuit yang sengaja dipotong kecil-kecil oleh Jisoo agar keduanya bisa memakannya dengan mudah. Mata kedua balita itu tidak lepas dari pintu. Menanti kedatangan ayah mereka yang selalu pergi sebelum mereka bangun dan pulang setelah mereka memejamkan mata.

Jisoo melirik jam yang ada di dinding. Sudah pukul 11.34 PM dan Seungcheol belum juga pulang. Lalu wanita itu melirik Jihoon dan Soonyoung yang menguap bersamaan. Wanita itu tersenyum lalu menggendong keduanya. Meninabobokan kedua balita itu dengan mengayun-ayunkannya dengan pelan. Jihoon memeluk leher Jisoo sedangkan kepala Soonyoung sudah terkulai di pundaknya. Jisoo membawa keduanya ke kamar dan menidurkan keduanya di ranjang kecil milik kedua bayi itu.

"Selamat tidur dan mimpi indah malaikat-malaikat eomma." ucap Jisoo sambil mengecup pipi kedua putranya.

Wanita itu kembali ke ruang tamu. Membereskan kotak biskuit, mainan, dan botol susu yang tergeletak di lantai. Setelah beres ia duduk di sofa dan kembali menunggu Seungcheol pulang.

.

.

Keesokkan paginya Jisoo terbangun dan mendapati dirinya masih ada di sofa. Lehernya sakit sekali karena semalam ia tertidur dengan posisi duduk. Ia melihat jam. Sudah pukul 06.00 AM dan Seungcheol tampaknya belum pulang. Jisoo meraih ponselnya yang ada di atas meja. Ada sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Setelah membuka pesan itu, ponsel di tangan Jisoo terjatuh.

Jisoo mengawali harinya dengan terisak.

.

.

"Jisoo-ya? Kau kenapa?" tanya Ny. Choi saat mendapati Jisoo dengan wajah sembab di depan pintu rumahnya.

"Eomma~" Jisoo menangis lagi lalu memeluk ibu mertuanya dengan erat.

Ny. Choi mengernyit bingung. Ia memandang Soonyoung dan Jihoon yang ada digendongan Jisoo. Niatnya akan bertanya pada dua balita itu tapi sadar kalau kedua cucu lucu, imut, manisnya itu tidak akan bisa menjawab pertanyaannya. Tuan Choi yang kebetulan ada di rumah memandang istri dan menantunya yang saling berpelukan di depan pintu.

"Ada apa ini?" Tuan Choi memandang istrinya dan Jisoo bergantian. "Jisoo? Kenapa kau menangis?"

"Appa.."

Nyonya Choi menggendong Jihoon sedangkan Tuan Choi menggendong Soonyoung. Mereka menatap Jisoo yang basah oleh air mata. Menebak-nebak apa yang terjadi pada menantu mereka hingga menangis seperti sekarang.

"Dimana Seungcheol?" tanya Nyonya Choi saat menyadari menantunya datang sendirian.

Tangis Jisoo semakin keras.

.

.

"Kami tidak sedang bertengkar, Appa. Iya kan sayang?" Seungcheol menghadap Jisoo yang ada di sampingnya.

Sayang seribu kali sayang Jisoo malah membelakanginya. Wanita itu lebih senang meladeni Soonyoung dan Jihoon yang berceloteh riang. Kedua anaknya juga tidak mau digendong oleh Seungcheol. Buktinya saja tadi saat Seungcheol menghampiri Soonyoung dan akan menggendongnya, balita itu malah memekik tidak suka dan berlari menuju ibunya. Begitu juga dengan Jihoon yang tiba-tiba menangis saat Seungcheol berhasil menangkap putra mungilnya yang hampir berlari meninggalkannya.

"Lalu kalau tidak bertengkar kenapa istrimu tidak mau dekat-dekat denganmu. Anakmu juga. Mereka seolah tidak mengenalmu begitu." kata Tuan Choi sambil menatap Seungcheol tajam.

"A-aku.."

Jisoo menggendong Jihoon di depan dan Soonyoung di punggungnya lalu berlalu dari ruang keluarga menuju kamar Seungcheol. Meninggalkan Seungcheol yang kebingungan. Inginnya, lelaki itu mengikuti istri cantiknya ke kamar dan meminta penjelasan tapi sepertinya hal itu tidak mungkin untuk dilakukan sekarang.

"Awas saja kalau Jisoo minta diceraikan. Eomma tidak akan pernah mau melihatmu lagi." kata Nyonya Choi sambil melipat lengannya.

"A-apa?"

"Dasar bodoh. Apa yang kau lakukan sampai istrimu menangis seperti itu?" kali ini Tuan Hong yang bertanya.

"Aku tidak melakukan apa-apa."

"Atau kau melupakan sesuatu?"

Seungcheol mengerutkan keningnya. Semalam ia memang tidak pulang namun sudah mengirimi Jisoo pesan. Tapi memang tidak memakai ponselnya, tapi ponsel milik Nana. Sekretarisnya. Ia menyuruh Nana mengirim pesan pada Jisoo karena ponselnya mati. Sebuah bohlam muncul di atas kepala Seungcheol.

"Sayang!"

Seungcheol menyusul istrinya dan mengabaikan orang tuanya.

.

.

"Aku mau tidur, Choi Seungcheol!" ia mengibaskan tangan Seungcheol yang menariknya untuk bangun.

Seungcheol memeluk pinggang ramping Jisoo dengan erat. Sedangkan Jisoo berusaha melepaskan pelukan Seungcheol dengan tenaganya yang jelas kalah telak. Pelaki itu mengecup bibir istrinya berulang kali walaupun Jisoo berdecih tidak suka.

"Ada apa hmm.." tanya Seungcheol sambil mengecup bibir kucing Jisoo.

"..."

"Ngomong-ngomong margamu sekarang menjadi Choi juga kan?" Jisoo mendelik tidak suka namun dibalas dengan kekehan oleh Seungcheol. "Ada apa, Jisooku sayang?"

"Dasar Paman-Paman Genit!"

Seungcheol kembali terkekeh mendengar olokan Jisoo. Ia malah sempat-sempatnya mencuri sebuah ciuman di bibir Jisoo. Awalnya hanya mengecup tapi lantas memagut bibir Jisoo hingga wanita itu melenguh. Cukup lama, akhirnya Jisoo mendorong dada Seungcheol karena tidak bisa bernafas dengan normal. Jisoo meraup udara segar sebanyak-banyaknya sedangkan Seungcheol memulai aksi nakal lainnya. Mencium leher dan pundaknya lalu meninggalkan bercak-bercak kemerahan di sana.

"STOP!" bentak Jisoo sambil melepaskan diri dari suaminya.

"Kau ini kenapa, Sooie?"

"Tidak sadar dengan kesalahanmu sendiri?"

"Aku tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahuku."

Jisoo melipat lengannya dan menatap Seungcheol dengan tajam. Bahkan mata kucing yang selalu dipuja-puja Seungcheol itu terlihat begitu manis saat Jisoo sedang menatapnya dengan tatapan manis seperti itu. Jisoo belum angkat suara dan Seungcheol mengangkat sebelah alisnya. Menunggu sampai Jisoo bicara. Tapi bukannya bicara Jisoo malah melesat ke atas kasur dan memeluk Jihoon dan Soonyoung yang tidur di sana. Seungcheol melongo melihatnya. Istrinya ini aneh sekali.

"Keluar sana! Aku mual melihatmu terlalu lama!"

.

.

"Appa Appa.." Jihoon menarik celana Seungcheol dengan tangan mungilnya.

Seungcheol yang kebetulan sedang minum segera meletakkan gelasnya dan menggendong Jihoon yang mengulurkan tangannya minta digendong. Seungcheol menciumi pipi pipi gembul Jihoon hingga balita itu terkikik geli.

"Appa.." panggil Jihoon sambil menatap Seungcheol.

"Ada apa, Jihoonie yang manis?"

Jihoon memainkan jarinya yang terlihat begitu besar digenggaman balita itu. "Eomma.."

"Kenapa dengan eomma?"

"Eomma angis Appa."

Seungcheol mengerutkan keningnya bingung. Tidak paham dengan bahasa planet yang baru saja diucapkan Jihoon padanya. Lalu Jihoon menunjuk kamarnya di atas.

"Eomma Appa..."

Entah paham atau tidak yang pasti Seungcheol dengan cepat melangkah menuju kamar yang ditunjuk Jihoon. Di dalam kamar ada Jisoo yang sedang meremas perutnya dan Soonyoung yang hanya memandangi ibunya dengan bingung. Seketika Seungcheol dilanda kekhawatiran dan kepanikan. Ia mendudukkan Jihoon di samping Soonyoung.

"Sayang? Kau sakit?"

Jisoo menggeleng dan menangis. Jelas malah membuat Seungcheol kalang kabut melihatnya. Detik selanjutnya Seungcheol merasa de javu dengan keadaan itu. Seungcheol segera duduk dan memangku Jisoo yang semakin terisak.

"Kau datang bulan?" bisik Seungcheol pelan.

"Tidak.."

"Sepertinya kau sedang kedatangan tamu, Sayang."

"Sok tahu!"

"Tiga tahun yang lalu kau juga seperti ini, Sayang. Tiba-tiba menangis di depan kamarku."

Jisoo tiba-tiba tertawa - walaupun di kelopak matanya masih ada butiran air mata. Seungcheol mengecup pipi Jisoo dengan lembut. Sedangkan kedua putra mereka malah asyik saling dorong dan tertawa-tawa. Melupakan kedua orang tua mereka yang masih berlovey-dovey.

"Aku akan membelikan pembalut untukmu dulu." kata Seungcheol sambil tersenyum.

"Aku sudah ada persediaan, Cheol-ah. Tidak perlu dibelikan lagi."

Seungcheol mengangguk lalu membiarkan istrinya pergi ke kamar mandi. Ia lebih memilih untuk bermain dengan Jihoon dan Soonyoung yang sangat jarang ditemuinya akhir-akhir ini. Rasa-rasanya sudah sangat lama sekali Seungcheol tidak melihat dan mendengar gelak tawa kedua putra kesayangannya itu. Soonyoung tiba-tiba memeluk Seungcheol dan membenamkan wajahnya di leher ayahnya sambil tertawa. Menghalau tangan Jihoon yang berusaha meraih kaosnya.

"Appa!" pekik Soonyoung saat Jihoon berhasil menarik kaosnya sambil tertawa.

Melihat tawa keduanya yang berderai Seungcheol ikut tersenyum. Ia sangat merindukan keluarga kecilnya.

.

.

Seungcheol akhirnya mengerti kenapa Jisoo menjadi pemarah hanya karena pesan singkat yang dikirimnya lewat ponsel sekretarisnya kemarin malam. Selain sudah sering tidak pulang ke rumah, Jisoo rupanya sedang dilanda rindu berat pada Seungcheol. Bisa dilihat dengan sikap Jisoo yang lebih manja daripada kedua anak mereka. Jisoo menempel pada Seungcheol seperti perangko dan akan melancarkan aksi cemberutnya jika Seungcheol berusaha melepaskan diri.

Jisoo entah kenapa betah sekali dipeluk dan dicium-cium oleh Seungcheol lama-lama. Biasanya Jisoo akan menghindar jika Seungcheol sudah memeluk dan menciumnya terlalu lama. Ia kelihatan nyaman-nyaman saja. Bahkan balas memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada Seungcheol. Mereka berdua duduk di atas kasur sedangkan Jihoon dan Soonyoung bermain dengan kakek dan nenek mereka di dapur.

"Sayang.." panggil Jisoo.

"Kenapa?"

".."

"Kenapa, Sayang?"

"Mm.. Bisa tidak kau mengambil cuti sehari saja?"

"Memangnya kenapa?"

Jisoo mengerucutkan bibirnya dan Seungcheol terlalu gemas untuk tidak mengecup bibir Jisoo. Setelah mencuri sebuah kecupan Seungcheol mendapatkan cubitan di pinggangnya dan deathglare dari Jisoo. Kekehan keluar dari bibir Seungcheol dan Jisoo membalikkan badannya. Membelakangi Seungcheol yang memeluknya dari belakang.

"Hei.." panggil Seungcheol.

".."

"Ada yang ingin kutanyakan. Sebenarnya ingin kutanyakan sejak dulu."

"Apa?"

Jisoo membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Seungcheol.

"Apa yang menyebabkan kau berubah menjadi wanita? Jangan salah paham. Aku hanya penasaran setengah mati."

.

.

Joshua baru saja keluar dari kelas saat berpapasan dengan Jeonghan, temannya dari kelas sebelah. Pemuda berambut panjang itu menarik Joshua yang melongo kebingungan ke kantin dan mendudukkan pemuda Amerika itu di depannya. Joshua mengernyitkan keningnya saat Jeonghan kelihatan sangat bersemangat seperti itu.

"Ada apa?" tanya Joshua.

"Sudah menyatakan cintamu pada Seungcheol belum?!"

Joshua memutar matanya jengah. Selalu saja pertanyaan yang sama dan Joshua sudah bosan dengan pertanyaan yang sama sejak ia mengenal Jeonghan. Pemuda berambut panjang itu gemas dan mencubit pipi Joshua yang tembam. Joshua meringis kesakitan karena cubitan Jeonghan cukup kuat.

"YA! SAKIT, BODOH!" pekik Joshua sambil melepaskan tangan Jeonghan dari pipinya.

"Haha.. Maafkan aku." kata Jeonghan sok kalem. "Sampai kapan kau akan menyimpan perasaanmu pada Seungcheol? Nanti kau menyesal kalau tidak segera menyatakannya."

"Sampai aku berubah menjadi perempuan, Yoon Jeonghan! Astaga?! Kau akan bertanya seperti itu sampai kapan?!"

"Aku akan bertanya seperti ini sampai kau menjadi perempuan. Hei hei. Aku ini malaikat dan semua ucapanku terbukti selalu terjadi. Haha.. Aku akan menunggu kau menyatakan cintamu setelah menjadi perempuan, Joshua Hong!"

.

.

"Hanya karena kata-kata Jeonghan? Yoon Jeonghan yang mana?" tanya Seungcheol sambil menatap Jisoo.

"Dia pernah ke apartemen sebelumnya. Kau yang menyediakan makanan untuk kami."

Seungcheol tampak berpikir. Mereka tidak pernah kedatangan tamu kecuali teman-temannya - Seungcheol maksudku - dan adik kelas mereka. Selebihnya hanya keluarga mereka. Seungcheol jelas kenal dengan semua teman Jisoo tapi tidak kenal sama sekali dengan yang bernama Yoon Jeonghan. Mungkin tahu orangnya tapi tidak kenal dengan namanya. Teman Jisoo terlalu banyak karena Jisoo termasuk tipe yang murah hati dan mudah bergaul dengan orang lain.

"Ingat tidak?" tanya Jisoo.

Melihat Seungcheol menggeleng Jisoo membuka galeri ponselnya. Mencari fotonya dengan Jeonghan dulu. Jisoo mengernyit. Tidak menemukan fotonya dengan Jeonghan. Padahal Jisoo ingat sekali kalau dulu Jeonghan suka sekali selfie-selfie dengan ponselnya. Sekarang ia bahkan tidak bisa menemukan satupun dari foto Jeonghan di galerinya.

"Ada tidak? Seingatku kau tidak pernah membawa teman bernama Yoon Jeonghan ke rumah. Jangan mengada-ada, Sayangku Cintaku." kata Seungcheol sambil mencubit pipi Jisoo pelan.

"Tapi dia dulu dia pernah berfoto di ponselku. Aku tidak pernah mengada-ada, Seungcheol."

"Buktinya saja tidak ada. Bagaimana aku bisa percaya hmm.."

"Ya sudah! Terserah!"

Seungcheol terkekeh. Tapi sungguh ia bahagia dengan keluarganya. Keluarga kecil yang sudah lama didambakan oleh Seungcheol. Memperistri Hong Jisoo. Memiliki anak-anak yang lucu. Dan hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Diam-diam Seungcheol berterima kasih pada Tuhan karena Jisoo menjadi wanita. Hidupnya tidak lebih indah selain keinginannya terkabul. Menikahi Jisoo versi perempuan.

.

.

END

Akhirnya.. Finally haha /laugh/ kelar juga tanggungan saya terhadap ff ini. Ternyata.. Jisoo jadi cewek karena.. Udah tau jawabannya kan? Maaf saya terlalu lama update karena saya lagi siap-siap buat mengurus beasiswa ke luar negeri. Super sibuk dan saya menyempatkan membuat draft-draft ff dengan couple-couple favorit saya. Totalnya udah 25 draft. Ada JiHan, CheolSoo, Meanie, SoonHao, SoonSeok, SoonWoo, JunHao, SoonHao, GyuHao, dan VerKwan.

Maaf atas typo dan keterlambatannya. SIMPATI gak bisa buat buka ffn dan saya hanya mengandalkan wifi pas ada kuliah. Sekian.

.

.

OMAKE

"Yoon Jeonghan! Selamat atas keberhasilanmu menyatukan Choi Seungcheol dan Hong Jisoo! Mulai sekarang kau naik jabatan menjadi pengawas para malaikat cinta." seorang kakek menepuk pundak sosok berambut panjang dengan senyum malaikat.

"Terima kasih Ketua."

"Sekarang kau Ketuanya, Jeonghan. Ketua Yoon."

Keduanya tertawa. Jeonghan memandangi bola kristal yang ada di cawan di depan mereka. Di san terpampang pemandangan keluarga Jisoo dan Seungcheol yang sedang menghabiskan liburan mereka di sebuah taman bermain.

'Syukurlah kalian bisa bahagia. Walaupun kau berubah menjadi wanita, Hong Jisoo. Teruslah berbahagia! Aku akan menjaga cinta kalian agar selalu langgeng! Karena aku malaikat cinta kalian!'