Hallo minna, Cieru Cherry kembali di sini! (^0^)/
Author minta maaf sekali karena update-nya yang lamaa . . . Jujur, author mengalami writer block dan butuh waktu lama untuk menemukan inspirasi demi kelanjutan fict New Prey or New Love. Selain itu Cieru juga sibuk mengerjakan skripsi dan . . . Huraay for me cuz I've finally graduated with cumlaude status (#^-^#)
Oiya, tak lupa Cieru ucapkan terima kasih banyak buat yang masih setia menunggu kelanjutan fict ini juga yg bersedia mereview, mem-follow, maupun mem-fave. Special Thanks for HikarinRin chan. She gives me the best motivate and I really appreciated it.
Oke, here is the sixth chap, hope you like it, minna :3
.
Kuroshitsuji/black butler
Disclaimer: Kuroshitsuji is originally belong to Yana Toboso
Attention: rated T semi M, karena ada bahasa maupun penggambaran yang agak tidak berkenan
.
.
His Mistress : Being Teased
.
.
Suara denting dan bunyi penggorengan mengisi keheningan di sebuah dapur luas. Seorang pria dalam balutan celana hitam dan vest putih tampak membelakangi pintu yang terbuka. Jemari tangannya cekatan menuangkan adonan, mengiris tipis daging, sayuran, dan aneka rempah, lalu menuangkan bumbu halus ke air mendidih di dalam panci. Aroma masakan mulai menguar dan pria bermata ruby itu masih menyibukkan dirinya untuk menyiapkan dessert pembuka sarapan.
"Dia pasti suka." Ujarnya pada diri sendiri. Sebuah cake vanilla baru saja ia angkat dari oven. Selagi masih hangat, Sebastian menyiramkan saus strawberry secara merata di atasnya, ditambah dengan taburan kismis dan buah cherry sebagai hiasan, maka dessert itupun siap dihidangkan. Butler bersurai jet black itu melirik ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 5.50 pagi.
'Biasanya gadis kecil itu bangun pukul 6.00 pagi. Tapi sepertinya kali ini ia akan sedikit kesiangan.' Pria bersurai jet black itu berpikir dengan pose telunjuk di letakkan di dagu. Hal itu wajar mengingat Kako telah mengalami banyak hal di kediaman para shinigami kemarin malam.
Berbicara soal Kako, Sebastian jadi teringat percakapannya dengan Bocchan-nya setelah mereka berhasil membawa gadis kecil itu pulang.
"Sebastian, aku di sini menanyakan komitmenmu." Ujar Ciel sembari menatap Kako yang terlelap dalam dekapannya. Sebastian diam, menunggu kelanjutan kalimat tuan muda-nya.
"Setelah kau mengetahui siapa Kako yang sebenarnya, apakah kau akan menghalangiku untuk memangsanya?" Pertanyaan iblis muda berambut green grayish itu bersambut dengan kebisuan si butler.
"Tidak, my Lord. Bagaimanapun saya hanya akan mematuhi perintah anda, Bocchan." Kalimat itu diucapkan Sebastian dengan lancar tanpa keraguan, sementara tangan kirinya menyilang di dada kiri sebagai pose hormat.
"Lagipula. . . Bagi saya gadis itu hanyalah seorang manusia biasa. Dan saya adalah seorang iblis yang sudah tidak mempunyai keterikatan dengan dunia ini. Itu berarti tidak ada lagi ikatan antara saya dengannya."
Iblis pelayan itu mengingat ucapannya sendiri dengan jelas. Perintah Bocchan-nya adalah mutlak baginya sehingga Sebastian tidak berhak menghalangi Bocchan-nya untuk menjadikan gadis itu sebagai mangsanya.
"Reinkarnasi Lucia Michaelis." Mata ruby Sebastian sedikit tersentak. Suara Undertaker seolah terngiang kembali di telinganya. Dan kilasan sinematic record itu membuat sang butler iblis mengingat kembali apa yang pernah ia lupakan. Warna-warni yang dulu pernah dilihatnya juga orang-orang yang pernah dikasihinya dimasa lalu. Kehidupannya sebagai seorang manusia biasa bersama istri dan anak perempuannya.
"Tidak." Iblis itu mengeratkan rahangnya. Kepalanya menggeleng, berusaha mengusir memori masa lalunya.
"Gadis itu tidak berarti lagi. Ia bukan anakku. Ia hanya masa lalu-ku yang terkubur." Ujar Sebastian kepada dirinya sendiri. Tangannya mengaduk sop dalam panci sedikit lebih cepat, agak berbeda dengan sikap elegan nan perfeksionis-nya selama ini.
"Ya, Kako Misquerlentz bukan siapa-siapa bagiku. Dia hanya mangsa Bocchan-ku." Siapapun yang mendengar nada bicara Sebastian pasti dapat dengan mudah menebak bahwa iblis itu sendiri tidak yakin akan apa yang diucapkannya. Namun sebagaimana seorang butler yang selalu tunduk pada perintah tuannya, iblis itu lebih memilih kesetiannya. Ia akan selalu mengikuti perintah Bocchan-nya. Bahkan bila itu berarti ia harus melihat gadis kecil itu menjadi makanan pertama bagi Bocchan-nya . . .
Selesai membuat sarapan beserta dessert dan minuman pelengkap, iblis bermata mirah delima itu lalu mengenakan coat-nya kembali dan bersiap menuju kamar Kako Misquerlentz. Angin berhembus perlahan menerbangkan surai hitamnya saat butler berwajah tampan itu menyusuri sepanjang koridor. Sebuah nampan mengkilat ia bawa dengan sikap sempurna, lurus sejajar dengan bahu tegapnya.
Ini sudah memasuki waktu sarapan, yang berarti ia harus membangunkan milady-nya itu. Kaki jenjang Sebastian membawanya semakin dekat dengan tujuannya. Sebuah ruangan yang dari luar terlihat berbeda dari ruangan lainnya. Jika sebagian besar ruangan di kastil megah tersebut tampak suram dan gelap, maka ruangan tersebut tampak lebih "hidup". Selain karena ruangan tersebut memperoleh porsi sinar matahari yang lebih, keberadaan penghuni di dalamnya membuat perbedaan yang besar dengan ruangan lainnya.
Tok, tok, tok! Sebastian mengetuk pelan pintu berplitur putih di hadapannya. Tidak ada jawaban. Namun indera pendengaran Sebastian yang tajam membuatnya mampu menangkap suara dengkuran halus dari balik pintu.
"Nona, permisi saya masuk." Ujar Sebastian lalu memutar knop pintu dan memasuki kamar.
Pemandangan yang menyapa kedua mata rubi-nya bukanlah sesuatu yang diharapkan butler iblis itu. Di sana, di atas kasur ukuran King size yang selimutnya telah kusut dan berantakan, terlihat sepasang mahkluk berbeda jenis tengah berada dalam posisi yang 'intim'. Mereka berdua tidur saling berpelukan, meskipun terlihat jelas bahwa si rambut kelabu lebih mendominasi. Kedua tangan si rambut kelabu tampak nyaman memeluk si surai hitam seperti seorang anak kecil yang memeluk boneka beruang-nya.
"Bocchan?" Kata itu diucapkan Sebastian dengan kaku. Bagaimana mungkin Bocchan-nya yang seorang iblis bisa tertidur nyenyak seperti itu. Seharusnya iblis seperti dirinya tidak membutuhkan tidur atau apapun yang berhubungan dengan kebutuhan seorang manusia.
Dan mata ruby Sebastian semakin melebar saat memperhatikan baju tidur yang dikenakan gadis yang saat ini dijadikan guling oleh Bocchan-nya. Iblis pelayan itu ingat betul bahwa tadi malam setelah mereka berhasil keluar dari kediaman para shinigami, Kako dalam keadaan sudah terlelap dan mengenakan gaun pastel-nya. Itu berarti . . . Bocchan-nya yang sudah menggantikan pakaian Kako, apalagi jika dilihat dari kancing dan pita yang terlihat agak berantakan itu.
Tidak ingin berpikir macam-macam, Sebastian segera meletakkan nampan yang ia bawa. Dengan cekatan, butler iblis itu melangkah menuju ke jendela, membuka tirai, dan mengikat ujung tirai tersebut dengan simpul rapi.
Sinar matahari yang masuk ke ruangan, sesuai dugaan Sebastian berhasil membangunkan Bocchan-nya dari tidur lelapnya. Kepala berwarna green-greyish milik Ciel mulai bergerak-gerak dan pewaris terakhir phantomhive itu menggunakan satu tangannya untuk menutupi matanya yang silau. "Bisa kau tutup tirainya, Sebastian?" Gerutu Ciel, berusaha menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
"Maaf Bocchan, tapi sudah waktunya bagi anda untuk bangun." Tegas Sebastian sembari menahan selimut yang di pegang Bocchan-nya.
Satu alis Ciel terangkat, "Cih, kalau aku tidak mau?" Tantang si iblis muda sembari melirik jahil pada butler-nya. Mata mirah Sebastian menyipit melihat seringaian Bocchan-nya tersebut. Tangan Ciel melepaskan begitu saja selimut yang dipegangnya dan beralih memeluk pinggang Kako dengan erat.
"She's so warm and soft, mmm~" Ujar si iblis kecil lalu membenamkan wajahnya diantara bahu dan leher Kako, menggesek-gesekkan wajahnya di sana. Sebastian terdiam, butler iblis itu sangat tahu bahwa Bocchan-nya ingin memancing reaksinya. Dan tanpa Sebastian sadari, tangannya sedikit mengepal melihat tindakan Bocchan-nya tersebut.
"Jangan bilang kalau hal ini berpengaruh padamu Sebastian. Dia bukan anakmu kan?" Meski butler itu tidak bisa melihat wajah Ciel yang membelakanginya, tetapi Sebastian yakin bahwa Bocchan-nya sekarang tengah tersenyum mengejek padanya.
"Tidak Bocchan." Ujar Sebastian, sementara manik ruby-nya masih menatap apa yang akan dilakukan tuan mudanya.
"Baguslah. Kalau begitu aku bisa melakukan ini." Tanpa merasa ragu sedikitpun, Ciel meletakkan tangannya di paha Kako. Mengelus dengan perlahan kulit mulus yang tertutup kain satin itu.
Grep!
"Heh~" Ciel sepertinya tidak terkejut saat melihat tangannya tengah ditahan oleh butler-nya sendiri. "Jadi kau peduli padanya, Sebastian Michaelis?" Kalimat itu diucapkan si iblis kelabu dengan penuh penekanan.
"Maafkan ketidak sopanan saya Bocchan, tetapi anda tidak bisa memperlakukan mangsa anda seenaknya. Selain itu tidak pantas seorang yang pernah menjadi bangsawan berbuat amoral seperti ini."
"Kau memerintah tuanmu sendiri, eh?" Sindir Ciel.
"Tidak Bocchan, saya hanya melakukan kewajiban saya sebagai seorang butler yang menjaga martabat tuan-nya." Tegas Sebastian.
"Omong kosong. Kau pasti mempedulikan gadis kecilmu."
Kedua iblis itu masih berdebat hingga mengabaikan gadis mungil di tengah mereka yang mulai merasa terganggu oleh suara-suara di dekatnya. Sepasang mata bulat caramel itu mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadarannya secara perlahan. Dan saat gadis manis bersurai hitam itu sudah tersadar sepenuhnya, ia terkejut menyadari posisinya sekarang. Ia berada di atas kasur bersama Ciel, memakai gaun tidur tipis yang kancingnya agak terbuka. Lalu tangan Ciel beberapa inci di atas pahanya, dengan tangan Sebastian yang menahan tangan Ciel.
"KYAAA!"
Dan pekikan nyaring itu menjadi pagi yang berbeda di kastil baru Ciel Phantomhive.
.
.
.
Sebastian baru saja menata piring yang baru selesai ia cuci ke dalam rak ketika telinganya mendengar suara ribut di luar sana disertai dengan langkah-langkah kecil yang sedang berlari.
"Sebas chan! Sebas chan!"
Butler iblis itu menghela napas. Ia yakin bahwa Bocchan-nya sekarang kembali berbuat 'usil' pada gadis mungil itu. Setelah menggerayangi Kako saat tidur, kali ini apa lagi yang dilakukan Bocchan-nya pada mangsanya tersebut?
Dan tak lama kemudian, sesuai perkiraan Sebastian, Kako Misquerlentz berlari memasuki ruangan dapur. Iblis bersurai jet black itu sedikit melebarkan matanya saat melihat gadis kecil bersurai gelap itu berlari ke arahnya dan langsung memeluk pinggangnya.
"Mi-lady?"
"Sebas chan tolong aku. Ciel mau berbuat mesum padaku." Ujar Kako sementara mata bulat caramelnya bergulir resah menatap bergantian ke arah pintu dan butler iblis yang dipeluknya. Namun sebelum Sebastian bisa merespon, suara Bocchan-nya terlebih dulu memutus ucapan butler ber-coat hitam tersebut.
"Kako, kemari!"
Di sana, di samping pintu dapur, Ciel Phantomhive tengah berdiri angkuh dengan membawa beberapa perlengkapan seperti sabun, handuk, spon, dan pakaian dalam. Melihat benda-benda itu saja Sebastian sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan sang iblis bangsawan pada mangsanya.
"Tidak mau! Aku bisa mandi sendiri." Balas Kako sembari mengeratkan pelukannya pada Sebastian. Sementara Ciel mengerutkan alisnya melihat penolakan si gadis mungil.
"Aku tidak peduli. Sebagai iblis-mu aku yang harus melayanimu, termasuk memandikanmu!" Ujar Ciel tak mau kalah, pantofel-nya menghentak lantai dengan tidak sabar.
"Bocchan, maaf jika saya ikut campur. Tetapi anda tidak boleh memaksakan kehendak anda pada milady."
Dahi Ciel berkedut mendengar bantahan Sebastian. Ini bukan pertama kalinya Sebastian membela Kako Misquerlentz. Sepertinya butler itu selalu mencegah dirinya untuk 'bersenang-senang' dengan gadis mangsanya.
"Jangan ikut campur Sebastian, ini adalah perintah!" Tanda faustian di tangan Sebastian menyala, membuat butler iblis itu tersadar bahwa majikannya memberikan perintah mutlak yang harus ia patuhi. Dengan segera Sebastian melepaskan dirinya dari pelukan Kako, meski sebenarnya ada ketidakrelaan dalam dirinya. Iblis pelayan itupun kemudian menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf, "Maafkan saya, milord."
Kako menggigit bibir bawahnya. Gadis itu sangat paham jika Ciel sudah memberi order pada Sebastian, maka iblis bersurai jet black tersebut akan melaksanakannya karena perintah Ciel adalah absolut. Itu berarti . . . Sebastian tidak akan membantunya lagi sekarang.
Si gadis bersurai hitam semakin panik saat melihat seringai Ciel yang ditujukan ke arahnya. Dia harus berbuat sesuatu jika tidak mau iblis kelabu itu memandikannya. Tapi, apa yang bisa dilakukan gadis yang akan dijadikan mangsa seperti dirinya? Oh, tunggu dulu! Manik caramel itu mengerjap ketika sebuah ide terlintas di kepalanya. Bukankah dia adalah mangsa Ciel dan iblis kelabu itu juga sudah berkata akan selalu melayaninya? Berarti seharusnya . . .dia juga bisa memerintah Ciel sebagaimana Ciel memerintah Sebastian, kan?
"Ciel Phantomhive, aku mau mandi sendiri. Ini adalah perintah!"
Kalimat itu diucapkan Kako dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun. Mata coklat madunya menatap lurus pada mata biru Ciel, seolah menantang iblis kelabu itu jika berani menolak perintahnya. Baik Ciel maupun Sebastian tampak terhenyak mendengar kalimat tak terduga yang diucapkan oleh Kako barusan.
Suasana hening selama beberapa detik. Dan gadis bersurai hitam itu kembali melanjutkan kalimat tajamnya, "Ini hanyalah perintah sederhana. Jika kau tidak bisa memenuhinya berarti kau bukan iblis yang pantas untuk melayaniku."
Sebuah seringai iblis perlahan terukir di bibir pucat Ciel Phantomhive. Oh my, entah kenapa rasanya ia sangat menyukai sisi Kako yang berani mengatakan apa adanya dan balik menantangnya. Berbeda sekali dengan para ladies yang biasanya menjaga ucapannya agar terlihat lemah lembut serta anggun. Dan hal itu membuat sesuatu dalam diri Ciel semakin menggeliat untuk memiliki gadis mungil itu.
"Baiklah, kalau memang itu keinginan anda milady." Ujar Ciel seraya menyilangkan tangannya seperti pose yang biasanya dilakukan Sebastian. Selanjutnya, iblis muda itu beralih menatap butlernya yang telah siap menunggu perintahnya. "Sebastian, siapkan air untuk Kako dan segera susul aku ke ruang study."
"Right away, Bocchan. Milady, mari ikuti saya."
Dengan patuh kako mengikuti langkah Sebastian menuju ke arah kamar mandi. Gadis bertubuh mungil itu menghembuskan napas lega dan menatap butler ber-coat hitam yang berjalan di depannya. Tidak masalah jika Sebastian yang menyiapkan air untuknya, karena Kako percaya bahwa Sebastian adalah butler iblis professional yang tidak akan berbuat-macam-macam padanya. Selain itu jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya gadis bermanik caramel itu mengganggap Sebastian sebagai figure seorang ayah. Memikirkan hal tersebut membuat gadis berparas manis itu tersenyum kecil tanpa diketahui oleh yang bersangkutan.
Sementara itu Ciel masih memandangi Kako dari anak tangga tempatnya kini. Mata birunya berubah menjadi merah ketika ia menatap dengan intens gadis yang ia tetapkan sebagai mangsanya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bangsawan iblis itu menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering, dan ia mendesis pelan "Delicious."
.
.
"Bocchan." Seperti yang sudah diperintahkan, Sebastian kini berada di ruang study bersama Bocchan-nya yang sedang menopang dagu di meja. Tatapan mata Ciel tampak bosan ketika ia menatap butler di hadapannya.
"Sekali lagi kau menghalangiku Sebastian."
"Bocchan, saya hanya menjalankan perintah anda. Anda pernah berkata agar saya melayaninya dengan baik seperti halnya saya melayani anda. Itu berarti saya juga harus melindungi kehormatannya dari siapapun, termasuk anda. Karena begitulah kode etik seorang butler iblis." Ciel mendengus mendengar pembelaan Sebastian. Apalagi butlernya itu tersenyum mengejek di akhir kalimatnya.
"Kalau boleh bertanya Bocchan, bukankah di masa lalu gadis itu pun memiliki hubungan yang dekat dengan anda? Mengapa kini anda justru sering berbuat jahat padanya?"
Ciel menyeringai lebar mendengar pertanyaan iblis berpakaian serba hitam itu. Ini saat yang tepat baginya untuk membuat Sebastian menjilat ludahnya sendiri. Mata merah iblis kecil itu berkilat dan ia menjawab dengan gaya arogan, "Aku adalah iblis Sebastian. Masa laluku yang dulu sebagai manusia sudah tidak berarti. Gadis itu juga tidak berarti lagi, bukan begitu Sebastian?"
Apa yang dikatakan Bochan-nya tersebut membuat Sebastian teringat kembali pada ucapannya sendiri. Butler iblis itupun terdiam, sementara Bocchan-nya tersenyum sinis ke arahnya.
"Kau tahu Sebastian, saat aku masih berusia sekitar 7 tahun, keluarga Misquerlentz beberapa kali datang ke kediaman Phantomhive. Putri kecil mereka, Kako Misquerlentz sangat dekat denganku. Kami sering melakukan hal bersama-sama, baik bermain, makan, tidur, bahkan . . . mandi bersama."
Pengakuan bocchan-nya tersebut membuat mata mirah Sebastian sedikit melebar. Dan tentu saja Ciel dengan jeli dapat menangkap perubahan ekspressi dari pelayan setia-nya itu. Rasanya iblis kelabu itu ingin menertawakan ekspressi kaku Sebastian, tetapi iblis bersurai blue navy itu lebih memilih untuk melanjutkan ucapannya.
"Berkaitan dengan apa yang kulakukan pada Kako sekarang itu sebagai balasan karena dia sudah melupakanku. Dan juga . . . aku suka sekali melihat Kako yang panik seperti kelinci. Membuatku ingin sekali menerkamnya seperti ini." Tangan Ciel meraih sebuah miniature kelinci dan serigala yang ada di mejanya, lalu memposisikan si serigala yang siap menerkam tepat di atas si kelinci.
Sebastian yang sedari tadi berdiri di depan meja tuannya, hanya menampilkan wajah monoton tanpa ekspressi. Butler iblis itu tidak ingin jatuh dalam perangkap Bocchan-nya yang ingin memancing reaksinya. Karena itulah, akhirnya iblis tampan tersebut memilih mengalihkan pembicaraan.
"Maaf Bocchan, bolehkah saya minta ijin untuk pergi ke suatu tempat?" Ketika ia mendapat perhatian penuh dari tuan mudanya iblis tampan itu melanjutkan, "Saya ingin menemui Undertaker. Ada yang ingin saya tanyakan padanya."
Si iblis muda mengerutkan alisnya. Mata merahnya memandang butlernya dengan penuh pertimbangan, sebelum akhirnya iblis kelabu itu menyetujui permintaan Sebastian. "Baiklah. Lagipula jika kau tidak ada aku bisa melakukan apapun pada Kako."
Sebastian membungkuk hormat. Iblis berambut jet black itu menampilkan senyum khasnya hingga mata ruby-nya tertutup sempurna. "Saya akan segera kembali secepatnya Bocchan." Ujar butler iblis itu, lalu berangsur meninggalkan ruangan Bocchan-nya
.
"Sebas chan mau pergi kemana?" Sapa sebuah suara diiringi langkah kecil seorang gadis bersurai gelap sepunggung. Butler iblis itu menoleh, mendapati Kako yang mendekat ke arahnya dengan sekumpulan bunga di pelukannya.
"Saya mau pergi sebentar milady. Ada hal yang harus saya lakukan." Jelas Sebastian dengan sopan. "Ngomong-ngomong, apa yang milady lakukan disini?"
"Ah itu . . ." Kako menundukkan pandangannya, menatap pada beberapa tangkai bunga yang baru ia petik dari beberapa petak taman yang ada di halaman. Pipi chubby-nya sedikit merona dan ia menjawab malu-malu, "Aku mau belajar merangkai bunga, seperti yang selama ini Sebas chan lakukan." Ujarnya polos. "Maukah Sebas chan nanti mengajariku?" Tanya Kako sembari tersenyum manis.
"Dengan senang hati milady. Tapi sekarang saya harus pergi dulu."
"Hati-hati Sebas chan." Sebastian masih sempat menoleh sebelum ia melompat melewati pagar pembatas kastil Bocchannya. Ia melihat gadis kecil itu melambai ke arahnya sambil berlari-lari kecil di belakangnya. Dan butler tampan itu tak dapat menahan senyum yang secara samar terukir di bibirnya.
.
.
Pria bersurai perak yang mengenakan jubah hitam itu duduk dengan santai di kursi tuanya. Tangannya menopang dagu tirusnya dan mantan shinigami itu memberikan gesture kepada tamunya untuk duduk.
"Saa . . . Sebas chan, apa yang membuatmu datang kemari, hihihih . . ."
Cahaya lilin temaram dalam ruangan gelap itu mengiluminasikan dua mahkluk bukan manusia yang kini duduk saling berhadapan.
"Ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu." Sang iblis berwajah tampan langsung menyampaikan maksud kedatangannya tanpa basa-basi. Shinigami dengan bekas luka di pipi itu menyeringai. Kuku-kuku panjangnya mengelus sebuah tengkorak yang tergeletak di sisinya lalu ia berujar santai, "Then, spill it out Sebas chan."
"Apakah wajar jika seorang iblis bisa tertidur?"
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Undertaker memasang ekspressi penuh ketertarikan. Di balik surai peraknya, sepasang mata shinigami-nya berkilat membayangkan apa yang sudah terjadi.
"Biar kutebak, apakah iblis yang tertidur ini adalah Ciel Phantomhive~"
Mirah Sebastian memicing, butler iblis itu bertanya dengan waspada "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Sederhana saja. Karena sepertinya Ciel Phantomhive memiliki ketertarikan khusus pada mangsanya, khukhukhu~"
"Maksudmu?"
Bukannya menjawab, mantan shinigami itu malah balik bertanya pada iblis berambut jet black di depannya. "Sebas chan, kira-kira berapa seharusnya usia Ciel Phantomhive sekarang jika dia masih menjadi manusia?"
"16 tahun." Ujar Sebastian. Mengingat bahwa terakhir kali Bocchan-nya itu masih berstatus sebagai manusia saat berusia 13 tahun dan ditambah 3 tahun setelah menjadi iblis.
"16 tahun itu merupakan usia yang cukup bagi seseorang untuk tertarik pada lawan jenisnya bukan~?"
Mata mirah Sebastian berkilat mendengar asumsi ambigu tersebut. "Bocchan adalah seorang iblis. Tidak mungkin iblis memiliki perasaan tertarik seperti manusia." Tukas butler itu.
"Itulah poinnya, hihihihi." Sela undertaker diakhiri dengan kekehan misterius-nya. "Ciel Phantomhive diubah menjadi iblis karena permintaan Alois Trancy dan hal tersebut tidak berlaku mutlak~"
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Sang shinigami memperhatikan bagaimana butler iblis itu mulai mencerna kalimat yang ia ucapkan. Jari-jari panjangnya kembali memainkan 'mainan manusianya' sementara ia kembali menjelaskan, "Ya Sebas chan. Ciel Phantomhive punya kesempatan untuk menjadi manusia lagi jika dia bisa membangkitkan sisi manusiawinya."
"Apakah hal itu mungkin?" Sepertinya si butler iblis masih belum percaya seluruhnya pada informasi yang baru saja ia peroleh.
"My, my Sebas chan. Di dunia ini, jika kau bukan Tuhan, maka kau tidak bisa mengubah seorang manusia menjadi iblis, hihihihi. Hal yang berbeda terjadi padamu karena kau menjadi iblis atas kemauanmu sendiri dan kau pun mengikat kontrak dengan Lucifer."
Pria bersurai perak itu menopang dagunya di atas salah satu artefak tengkoraknya. Seringai lebar masih menghiasi bibirnya. 'Ah, bukankah ini waktu yang tepat untuk menggoda butler iblis itu' Pikir sang mantan shinigami lalu terkekeh pelan.
"Sebas chan, bukankah ini kesempatan yang sangat baik bagimu?"
Sebastian memandang Undertaker dengan tatapan menilai, lalu mantan shinigami itu melanjutkan, "Kau bisa mendapatkan kembali jiwa Ciel Phantomhive dengan memanfaatkan Kako Misquerlentz, hihihi." Kali ini, satu alis Sebastian terangkat mendengar penuturan sang penjaga makam.
"Kau sangat ingin memangsa jiwa Earl Phantomhive bukan? Gunakan saja gadis kecil itu untuk membangkitkan sisi manusiawi Ciel, hm~"
Sebastian terdiam. Bukan perkara sulit untuk menebak kemana arah pembicaraan Undertaker. Jika seandainya yang dikatakan Undertaker benar, maka Bocchan-nya memiliki kesempatan untuk kembali menjadi manusia. Itu artinya. . . Sebastian bisa mendapatkan jiwa Ciel yang sangat lezat itu. Jiwa yang begitu diinginkannya bahkan sampai harus berebut dengan Claud yang juga mengincar jiwa milik Bocchan-nya.
"Mungkin kau bisa menelanjangi Kako Misquerlentz dan mengurungnya di kamar bersama Ciel. Lalu lihat apa yang terjadi keesokan harinya, hihihih. . ."
Apa yang disarankan oleh Undertaker itu entah mengapa menimbulkan ketidak nyamanan dalam diri Sebastian. Dia memang mendambakan jiwa Bocchan-nya. Dan jiwa itu akan menjadi miliknya jika tuan muda-nya itu kembali menjadi seorang manusia. Tetapi, mengorbankan Kako? Menjadikan gadis itu sebagai alat untuk membangkitkan nafsu manusiawi Bocchan-nya?
Dalam pikirannya, butler iblis itu bisa membayangkan bagaimana jika ia menuruti saran sang mantan shinigami. Gambaran tentang seorang gadis kecil bersurai hitam yang mendesah karena dihimpit tubuh polos Bocchan-nya. Astaga, itu merupakan gambaran paling horor dan menjijikkan yang pernah Sebastian bayangkan.
"Tidak." Kata itu meluncur mulus dari bibir pucat sang iblis. Mata rubi-nya berkilat, menyipit tajam dengan jilatan warna ungu di pupilnya.
"Khukhukhu . . tidak perlu sampai seperti itu Sebas chan. Aku hanya menyampaikan pendapat saja." Kelakar si penjaga makam sambil mengibaskan kedua tangannya yang tertutup jubah hitam. Namun siapa yang tahu bahwa sebenarnya sang mantan shinigami itu cukup waspada ketika melihat bayangan Sebastian yang mengeluarkan aura hitam.
Memilih untuk menghiraukan candaan Undertaker, iblis bersurai jet black itupun menormalkan kembali aura gelapnya. Tangannya yang terbungkus sarung tangan putih mengeluarkan jam saku dari coat-nya. Lalu mirahnya kembali beralih pada sang penjaga makam, "Terima kasih banyak atas informasinya. Aku harus segera kembali sekarang." Pamit Sebastian seraya menyilangkan tangannya di dada kiri.
"No problem Sebas chan~ Jika ada apa-apa kau bisa datang lagi kemari, khukhukhu~" Ujar Undertaker sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang tertutupi lengan jubah hitamnya.
Penjaga makam sekaligus mantan shinigami itu memandang kepergian si butler iblis dengan seringai terkembang lebar. Ia sudah menyangka hal ini akan terjadi. "My my Sebas chan, tentu saja kau tidak bisa melawan instingmu sendiri. Meskipun kau berkata tidak mempedulikan gadis kecilmu, tetapi . . . Bahkan binatang buas pun memiliki insting kuat untuk melindungi anaknya bukan, khukhukhu. . ."
.
.
.
Butler iblis itu baru saja memasuki halaman luas dari kastil baru kediaman Bocchan-nya, ketika sebuah pekikan nyaring memanggil namanya.
"Sebas chan!" Sebastian menoleh ke arah sumber suara. Manik ruby-nya sedikit melebar saat menangkap pemandangan yang tersaji tidak jauh darinya. Bocchan-nya dan gadis kecil mangsanya tengah duduk bersama di kursi gazebo taman. Sebuah vas kecil berisi rangkaian bunga ada di samping mereka lalu sebuah papan catur berada di tengah dan kini sedang mereka mainkan.
Oh well, kapan terakhir kalinya Bocchan-nya itu memainkan permainan manusia tersebut? Dan sepertinya baru kali ini Sebastian melihat bocchan-nya itu berada di gazebo dan tidak komplain tentang sinar matahari yang menyilaukan.
"Okaeri, Sebas chan!" Untuk kedua kalinya dalam sehari ini butler iblis tersebut mendapatkan pelukan erat di pinggangnya. Speechless, butler iblis berambut jet black itu hanya mampu menatap puncak kepala gadis mungil yang sedang melingkarkan lengan kecilnya di sekitar pinggangnya. Dan mau tidak mau, kenangan masa lalu yang seharusnya sudah terkubur menyeruak kembali dalam ingatan Sebastian. Iblis itu mengingat kembali, masa-masa dulu dimana putri kecilnya akan selalu berlari menyambutnya dan memberi pelukan hangat.
"Sebastian." Suara Bocchannya tersebut, menyentak iblis tampan itu dari nostalgia-nya.
Sebastian menaikkan sedikit alisnya saat ia melihat Bocchan-nya menyedekapkan kedu tangannya di dada. Raut tuan mudanya itu terlihat tidak suka. Dan iblis itu akhirnya mengerti mengapa Bocchan-nya tersebut bertingkah demikian setelah Ciel memberi kode padanya agar melepaskan pelukan Kako. Ah, Bocchan-nya itu rupanya cemburu. . .
"Milady?" Panggil Sebastian yang membuat Kako melepaskan pelukannya dan mendongakkan wajahnya. "Bocchan tidak melakukan hal yang aneh pada anda, kan?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Sementara Ciel yang mendengar pertanyaan butlernya tersebut hanya mendecakkan lidah.
"Tidak Sebas chan. Kami berdua baru membuat kesepakatan kontrak."
"Kesepakatan kontrak?"
"Um!" Gadis itu menganggukkan kepalanya semangat. Surai panjangnya bergoyang mengikuti gerakannya. "Ciel akan melayaniku dengan menjadi tutor belajar-ku."
" Tutor?"
"Ha'i. Kurasa Ciel sangat cerdas dan ahli dalam berbagai hal seperti sejarah, politik dan ekonomi." Dalam pikirannya terdapat tanda tanya besar dalam diri Sebastian. Sebenarnya kesepakatan kontrak apa yang ditawarkan Bocchan-nya pada Kako? Dari apa yang dijelaskan oleh Kako, sepertinya kesepakatan kontrak antara Kako dengan Bocchannya sangat jauh berbeda dengan kontrak iblis pada umumnya.
Ingin memancing informasi lebih jauh, butler iblis itupun berkata, "Pilihan yang bagus milady. Lalu sebagai gantinya, apa balasan yang harus anda berikan pada Bocchan?"
"Itu. . . Ciel hanya memintaku agar selalu bersamanya."
Sebastian terhenyak mendengarnya. Butler iblis itu berpikir Bocchan-nya akan meminta jiwa Kako sebagai imbalan. Tapi sepertinya ia salah menilai tuan mudanya itu. Meskipun Bocchan-nya mengatakan bahwa dia tidak peduli pada Kako dan akan menjadikan gadis kecil itu sebagai mangsa pertamanya, namun kenyataannya . . . Bocchan-nya itu tidak ingin kehilangan gadis mungilnya. Ciel Phantomhive hanya ingin memiliki Kako Misquerlentz.
.
.
TBC
.
Spoiler next chap:
Ciel, Sebastian dan Kako akan kembali ke kota England karena suatu hal dan tidak disangka mereka bertemu dengan trio idiot dan Tanaka. Saat kembali ke manshion lamanya, kunjungan tak terduga dari Elizabeth middleford membuat keadaan semakin kacau. Apa yang akan terjadi ketika Elizabeth mengetahui Ciel telah kembali dan membawa gadis lain bersamanya?
.
.
Hah, akhirnya bisa update juga :D
Terima kasih buat para reader sekalian yang masih berkenan mampir dan membaca Fict ini. Cieru harap chapter ini cukup menghibur buat para reader sekalian. Kalau misal ada saran, kritik, ngasih semangat (Ngarep), you know what should you do. . .
REVIEW PLEASE?
.
