la historia

disclaimer
hetalia series © himaruya hidekazu
fanfiction © pindanglicious

saya tidak mengambil sedikit pun keuntungan dari pembuatan karya ini karena sesungguhnya saya hanya menulis atas dasar menambah asupan dan amunisi, bukan untuk memperkaya diri.

warning: historical (i tried. like omg). rating T+ for some reasons . may contains irrelevant information about the history so please forgive me (duh) . drabble collection . using human names (arthur kirkland: england/britain/uk; antonio fernandez carriedo: spain; francis bonnefoy: france)

sum: arthur, antonio, dan goresan tinta sejarah di atas tanah.


dazzling dawn;


Hujan keping salju di langit malam mulai meredam ketika sepasang boots hitam itu tersaruk di antara gumpalan-gumpalan berwarna putih kusam. Bercampur genang darah, beku lagi asam. Pertempuran tak pernah usai mengotori semesta alam.

Antonio menerawangnya; dirgantara kelam, tanpa hias pancaran kelimau purnama yang temaram. Biner hijaunya hanya menangkap percik jingga di ufuk tenggara; dia menerka, itu tembakan meriam.

Telapak tangannya terkepal. Antonio menyumpah serapahi Francis dan dirinya. Dia kehilangan Madrid. Dia membiarkan dirinya terinjak kaki nestapa Napoleon. Mungkin kekalahan adalah hal yang lazim dalam putaran roda kehidupan, tapi dia tak mau menerimanya. Dia ingin menang. Selalu. Dia ingin menghabisi Francis—seperti ketika dia menyungkurkannya di pertempuran Zaragoza, Gerona, Valencia, dan Valmaseda. Antonio tidak mau turun dari panggung di mana semua lampu sorot tertuju padanya dari segala arah.

"Sir Moore—tidak. Aku. Aku akan mengoyak urat nadi si bajingan France untukmu,"

Kontemplasi temporer itu terhenti ketika sebuah tangan hangat menyambut punggungnya. Menahan berat tubuh lelah yang nyaris terhempas ke atas tanah. Antonio menahan napas, berusaha menolehkan kepalanya yang mati rasa untuk melihat siapa yang ada. Samar, berbayang. Namun dia hapal siapa sosok gerangan pemilik suara.

Ah, Inggris Raya.

Entitas itu diburamkan jelaga. Tangan beku Antonio berusaha menggapainya, dan Arthur menggenggamnya erat, menautkan jemarinya dengan jari-jari dingin sang negeri latin. Dia menggigit bibir bawah.

"I-Inglaterra," desis Antonio tremor, berusaha mengambil pasokan oksigen dengan napasnya yang tersengal. "Napoleon sudah merampas Madrid. Kau tidak akan bisa berkutik," desahnya berbalut ironi, menyorot kosong pada lensa peridot senada dengannya tersebut.

Arthur terpekur dalam satu periode kedipan mata. Lelaki itu membiarkan sang kawan menyandarkan kepala pada dada bidangnya yang tertutup mantel pickory tebal.

"Aku tahu." Dia berkata, intonasinya datar. Personifikasi Inggris Raya itu menyipitkan dua netranya yang setajam mata pedang. "France. Dia membuatmu sampai babak belur begini, hm?" tanyanya, mengintimasi.

Kening Antonio berkerut. Personifikasi negeri Spanyol itu meludahkan kekesalannya dengan sentakan. "Dingin. Aku tidak tahan musim dingin, brengsek! Bukan berarti aku kalah dari Francia!" dia mengutuk tak berdaya. Lawan bicaranya terkekeh durjana.

"Baiklah, baiklah. Kau seram, Spain, seram, sungguh. Jangan menatapku dengan pandangan galak itu. I'm your ally, mate,"

Arthur tak mau mengomentari Antonio yang tengah bermasam muka. Dia tidak mau banyak bertanya kemanakah seringai konyolnya yang lebar seperti biasa. Tidak masalah. Antonio bisa menjadi Antonio yang sebenarnya hanya untuk Arthur. Yang tidak selalu mengumbar senyum dan memasang kedok ceria; yang selalu menyembunyikan rintihan hatinya.

'Tidak untuk France.'

Dia meneguk saliva sebelum melepas mantelnya, untuk kemudian memberikannya pada sang kawan. Antonio menaikkan sebelah alis, tetapi Arthur keras kepala memakaikan pakaian tebal itu di tubuhnya yang hanya berbalut seragam tipis. Antonio mendecih kesal, namun tak dapat menahan tarikan sudut bibirnya. Entah itu senang atau hal lain yang menyeruak dalam dadanya.

Hijau biner Arthur menyorotkan segalanya. Tendensi dan determinasi. Hasrat ingin menghabisi. Nun jauh—jauh—dalam hati, Antonio ingin melawannya sekali lagi. Berhadapan dengan sosok tersebut di medan pertempuran lain kali.

"Hei, Spain. Ingin aku memapahmu sampai markas? Mau digendong pun tidak masalah, omong-omong," kemudian si ksatria pirang melanjutkan dialognya kembali, mengumbar simpati dan atensi.

Antonio berusaha bangun dari sandarannya dengan gerakan patah-patah. Dia mengeratkan mantel itu di tubuh bagian atasnya, lalu mendorong pelan bahu tegap milik aliansinya. "Aku masih bisa berjalan, Inglaterra." Lantunnya parau.

Inggris Raya mengernyitkan dahi, berceletuk; "Dengan langkahmu yang menyedihkan? Oh, tentu."

"Tutup mulut sampah sarkastismu." Antonio mendesis jengkel. Tumitnya dihentak keras pada punggung kaki sang briton; hasilnya Arthur mengerang sakit. "Arthur, aku hanya memperingatimu. Cuma itu," setelahnya si tuan pemilik rambut brunet itu berbisik. Dua hijau mereka saling bertatapan.

Arthur mengerti. Akan kondisi mereka selama perang ini berjalan. Pendulum belum akan berhenti kalau dia tidak beraksi.

"Aku tak bisa berlama-lama menemanimu tidur di markas, Anthony. Aku akan bergegas ke Sahaǵun dini hari nanti."

Dia tidak berkata sepatah morfem lagi setelah dialog finalnya, selain mengalungkan lengan kanan rekannya, memapahnya keluar dari tempat beku itu. Tujuannya sekarang adalah markas dan matras, atau suplai makanan untuk mereka berdua.

Antonio bergeming, barangkali merenungi strategi medan pertempuran selanjutnya—atau mungkin melamuni sosok Inglaterra yang detik ini juga ada bersamanya. Dia menutup kelopak matanya yang terasa berat, menunggu apa yang akan terjadi ketika hari silih berganti.

.

[Kemudian esoknya dia mendengar kabar; Inggris Raya mengalahkan dua resimen kavaleri milik Perancis di Sahaǵun. Antonio tidak bisa tidak mengumbar senyum kejamnya.]


suffocated;


"Ada banyak hal yang ingin kuberi tahu padamu,"

Arthur merasakan tungkai kakinya melemah ketika rantai kalimat itu mengudara. Gravitasi bumi menarik lututnya jatuh di atas tanah. Elvina mengingkarinya; mungkin balasan dari alam karena dia mengkhianati Antonio.

Francis memandangnya dingin. Ujung pedang sabre miliknya teracung ke arah dagu lancip sang briton. Arthur meludahinya. Tepi lidah lelaki itu bersiap untuk melempar sejuta caci maki setelah musuhnya berhenti mengoceh.

"Aku mengejarmu, Angleterre. Mau mundur dari pertempuran? Aku selalu memata-mataimu," sindir representasi Perancis, angkuh dan berkelas; seperti bagaimana dia biasanya, tak menghiraukan raut wajah membunuh musuh bebuyutannya. Francis menghela napas panjang. Dia masih ingin memojokkan Arthur lebih dari ini.

"Dan kau, berniat memberikan pertolongan darurat untuk Espagne? Hmm, dia akan berterima kasih pada Moore, kurasa—kalau kau tidak mengkhianatinya sekarang." Pria berambut pirang pasir sebahu itu mengulas seringai. Kirkland membalasnya dengan decihan.

Dia tidak tahu apa yang dilakukan Antonio sekarang. Dia lebih memilih mematuhi titah Sir Moore untuk mundur ke Corunna. Barangkali karena Moore mengiming-iminginya; 'Tidak, England. Aku tidak berniat meninggalkan Spain. Ini yang terbaik untuk kita semua! Mundur dari sini dan bergegas ke Corunna!'

Arthur meringis, memegangi luka sobekan melintang di sepanjang bahunya. Ngilu, tepisan angin beku menghantam jaringan tubuhnya yang rusak. Tangan kanannya merogoh sarung pedang dengan susah payah sebelum Francis berhasil mengelabuinya.

"Apa maksud dari semua ini, France? Kau masih dendam atas kekalahan resimen kavalerimu di Sahaģun? Kau boleh mengadu pada Soult detik ini juga," tantangnya mengompori. Tuan berambut pirang itu tergelak, memamerkan kemenangannya di Sahaģun kepada dunia; kepada musuh besarnya.

Francis mendecak kesal, menelan bulat-bulat ejekan sinis si raja sarkasme sejagat. Gigi-giginya beradu sebelum pedang sabre itu diayunkan ke arah leher berkulit pucat sang Britania.

'TRANG!'

Bunyi tumbukan tidak lenting dua logam menggema; memecah bentang langit kelabu Elvina yang daratannya nyaris porak poranda. Arthur menangkis hunusan pedang itu dengan rapier setengah beku miliknya. Mereka sama-sama menggigit bibir bawah dengan tubuh bergetar, saling memertahankan dominasi.

"Kuakui kaupunya refleks yang bagus meski dalam kondisi tidak menguntungkan, Monsieur Bretagne," puji sang personifikasi Perancis di tengah pertikaian, seraya menghindari tikaman yang dilayangkan sang lawan dari arah depan.

"Tapi kau adalah pahlawan kecil yang malang, Angleterre! Non, non! Kau masih belum bisa bersanding dengan mereka di panggung dunia!" Francis berseru sekali lagi, mengayun bilah pedangnya penuh ambisi, menggelegarkan tawa ironi ke atas langit.

Arthur memilih untuk mundur dan berkelit. Luka sayatan di bahunya jauh lebih parah dibandingkan lebam-lebam di sekujur tubuh Francis. Dia tak bisa bergerak leluasa, namun harga dirinya terlalu tinggi untuk mendeklarasikan kekalahan. Dia keras kepala memertahankan ego, memaksa dirinya untuk memenangkan adu pedang ini.

"Katakan itu setelah kau bisa menghabisiku—atau Spain maupun Portugal—seutuhnya!" Britania Raya menantang dengan segenap keberanian dan keangkuhannya. Dia melayangkan kakinya susah payah dan berhasil menendang abdomen musuhnya. Francis terpental, tapi belum sempat tersungkur ke tanah.

Arthur berdiri dalam radius dua meter di hadapan sang lawan dengan napas memburu dan Francis masih terkekeh padanya, mengejek serendah-rendahnya.

"Kau menyedihkan. Sungguh,"

Representasi negeri Perancis itu kembali menegakkan tubuhnya setelah melemaskan persendiannya yang sempat menegang. Dia melempar sabre kebanggaannya ke atas tumpukan salju yang kusam dibanjiri darah. Kelopak matanya terkatup. "Apa yang akan kaulakukan kalau Espagne benar-benar jatuh ke tanganku? Beraksi heroik seperti pangeran berkuda yang hendak menyelamatkan putri impiannya? Atau menangis seperti anak yang kehilangan ayahnya?"

Pemilik rambut pirang pendek mengernyitkan kening. Gigi-giginya bergemelutuk.

"Bangun, France! Lihat kenyataan dan jangan berkhayal untuk menaklukan Spain hanya dalam sekali hunusan pedang!" bantahnya geram, disambung desisan dingin menusuk andalan mulut pedasnya. "Jangan meremehkannya,"

Francis berjengit.

Arthur tidak hanya satu kali bertikai dengan Antonio. Dia menerima banyak kekalahan. Bukan hanya perang armada yang ramai dibicarakan sejuta umat, bukan hanya perang Anglo-Spanish. Arthur tidak akan pernah melupakan Perang Telinga Jenkins; Cartagena, La Guaira, atau yang lainnya. Arthur mengakuinya; mengakui kekuatan Antonio sebagai salah satu dari jajaran imperium paling kuat di tanah Eropa. Harusnya Francis tidak asal bicara.

"Hahahaha. Apa itu artinya? Peringatan buatku untuk tidak menyentuh aliansi kesayanganmu?" lelaki berambut gondrong itu terbahak. Dia berjalan mendekati tuan sarkastis yang hari ini kembali menjadi musuhnya. "Atau kaupunya maksud lain, misalnya? Untuk menginvasi Espagne setelah aku tersingkir dari tanah ini? Ahh Angleterre~ sejujurnya aku suka pemikiran licikmu," dialognya berlanjut dramatis. Francis berniat menarik kerah baju Arthur sebelum dia melayangkan tinju di wajah masam nation itu, tetapi Arthur yang melakukannya duluan.

Inggris Raya memukul dagu si frenchman dengan brutal. Perancis nyaris kehilangan kesabaran, kalau lawannya tidak memojokkannya dan balas mengacungkan ujung mata pedang di depan dagunya.

"Francis. Premismu yang pertama itu benar," Arthur berujar, seulas seringai iblis menghiasi wajah tampannya. Dia mencengkeram kasar kerah baju Francis agar lelaki itu bisa melihat sorot mata hijaunya yang membunuh. "Jangan berani-berani menyentuh Antonio dengan tangan bejadmu."

Francis membulatkan matanya sejenak, kemudian membalas seringai itu dengan tarikan sudut bibir yang lebih kejam. "Aku sudah menduganya. Lama sekali,"

Arthur menyipitkan matanya sebelum dia kembali bermonolog akhir.

"Enyahlah dari sini, France. Aku tak akan membiarkan Spain jatuh lagi ke tanganmu."


end


history talking

um jadi ini dua-duanya adalah bagian dari perang peninsular tahun 1800an yang melibatkan perancis, inggris raya, spanyol, sama portugis. tapi di sini yang saya sorot relasi anglo-spanish-nya aja ya /nyet

#1 dazzling dawn: pertempuran di sahagun. di sini inggris ngalahin pasukan kavaleri perancis pas subuh-subuh. tau ga sih tujuan inggris di sini itu buat ngebantuin spanyol yang dikalahin perancis. sekali lagi ya. ngebantuin /udahwoy ceritanya letjend john moore dari inggris ini menuju ke jantung barat laut spanyol, tujuannya buat nolongin spanyol yang saat itu lagi krisis banget karena udah dikalahin perancis. madrid jatuh ke tangan napoleon. omong-omong, coba baca deh biografinya sir john moore. it's quite ... interesting, if i could say ;)

#2 suffocated: bicara tentang ... battle of corunna. jadi istilahnya inggris harus retreat ke corunna (atas perintah sir moore) dan katanya retreat ini tuh disasterous banget. saya juga baca sih banyak pasukan inggris yang mabok-mabokan jadi ya gimana ga krisis, plus waktu itu cuaca dinginnya gila-gilaan juga /maksudnyaapa /inibukancocoklogiwoy

nah, yaudah tuh. di corunna ini ya britania tawur lagi sama perancis. dan di sini letjend moore gugur. btw lagi, elvina yang saya sebut di atas adalah nama desa yang dijadiin tkp tawuran(?)

ada yang bilang retreat to corunna ini ... inggris mengkhianati spanyol :"") the british seemed to be abandoning spanish. adaw. tapi sir john moore bilang, dia gak mau meninggalkan aliansinya walau akhirnya tetep harus mundur dari medan sebelumnya ke corunna gara-gara pasukan spanyol dikalahin napoleon, dan menyebabkan tentara inggris buat ninggalin pantai, mengikuti upaya gagalnya sir john moore buat nyerang antek-anteknya marshal soult dan mengalihkan tentara perancis. pokoknya ini chaotic retreat.

author's note

sebenernya masih ada bagian dari peninsular war yang lain yang pengen banget saya certain :") but these two parts are enough for this chapter kayaknya /yha

ada banyak part di peninsular war. dan jangan lupa kalo portugis juga terlibat banget di perang ini. inggris-spanyol-portugis pernah gantian menang dan kalah vs perancis di beberapa medan tempur walau hasil akhirnya emang perancis yang kalah.

well segitu aja cuap-cuap saya. mohon maaf kalau banyak kesalahan dan inakurasi sejarah :" terima kasih untuk yang sudah mau baca. all hail engspa!