Innocence

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Warning: Typo(s), Miss Typo, Alternative Universe.

.

Dedicated for nuniisurya26

.


Jadi, Sayang, hati mana lagi yang akan terluka dengan segala kepalsuan ini?


.

.

.

Mebuki hanya diam. Air mata tidak lagi membasahi kedua belah pipinya yang mengerut karena dimakan usia. Ia hanya menatap lelaki di hadapannya yang sedang berlutut dengan pandangan kosong. Tubuhnya mati rasa.

Di sampingnya, Kizashi juga ikut diam. Keadaan bertambah hening dan hanya ditemani dentingan suara jam yang terasa menambah keheningan yang terjadi.

Uchiha Sasuke menunggu sebuah jawaban. Ia sudah memutuskan ini. Ia mungkin memedulikan kebahagiaannya, tapi bagaimana jika ada orang lain yang akan menderita selamanya hanya karena dirinya?

Ia akan bahagia, tertawa dengan cintanya tapi di sisi lain ada orang lain yang menangis karena dirinya.

Ia tidak akan sanggup merasakannya. Biarlah, biarlah hatinya terluka bersama dengan wanita itu sampai nanti. Sampai dimana hari mereka memutuskan untuk mencari kebahagiaan masing-masing.

Mebuki masih membisu. Helaan napasnya membuat jantung Sasuke semakin berdetak cepat. Ia tidak pernah merasakan ini saat ia melamar Shion dulu. Ah, ia teringat wanita itu lagi.

Seorang dokter dan suster berlari dari arah kanannya. Sasuke berdiri diikuti dengan Mebuki yang memasang wajah sedihnya. Wanita rapuh itu akan menangis sekarang juga ketika melihat dokter itu berlari dengan wajah panik dan seorang suster yang membawa beberapa peralatan medis.

Lama menunggu, hampir satu jam lamanya dokter itu tak kunjung keluar dari ruangan. Napas Sasuke berubah menjadi satu-satu. Ia takut jika terjadi sesuatu. Takut jika wanita itu mengalami pendarahan di organ dalamnya. Ia memang bukan seorang dokter dan ia buta dengan segala penyakit yang ada.

Pintu terbuka, menampilkan dokter bersurai perak yang keluar dengan wajah leganya. Mebuki menangis di pelukan suaminya. Sasuke berdiri bersandar pada dinding lorong dengan wajah datar namun ia tidak bisa menyembunyikan raut leganya. Mebuki berlari ke dalam diikuti Kizashi di belakangnya. Sebelum dokter itu benar-benar pergi, ia menoleh sebentar pada Sasuke. Memberikan senyum misteriusnya dan berlalu pergi.

.

.

Uchiha Mikoto berlari menuju ruangan tempat dimana wanita berambut merah muda itu terbaring lemah. Mikoto tidak bisa menyembunyikan wajah leganya saat mengetahui kalau kondisi wanita itu berangsur-angsur membaik. Dan saat ini, wanita itu sudah sadar dari koma panjangnya.

"Bisakah aku masuk?" Mikoto menoleh pada Kizashi yang duduk diam menunggu sang istri yang tidak mau keluar ruangan. Ia mendongak, menatap netra kelam Mikoto.

"Ya."

Mikoto tersenyum tipis. Ia menarik tangan Sasuke untuk ikut masuk ke dalam. Alisnya berkerut saat mendapati tangan anaknya yang melepas pegangannya perlahan. Sasuke menggeleng kecil, ia mengambil tempat duduk di seberang Kizashi dan diam.

"Sasuke?" panggil Mikoto.

Sasuke mendongak menatap sang Ibu yang memandangnya penuh lirih. Anaknya masih terpukul, masih belum bisa menerima semua yang terjadi dan ia menyadarinya.

"Masuk saja, Ma."

Mikoto masuk setelah mendapat jawaban singkat dari putra bungsunya. Mikoto masuk ke dalam, mendapati wanita bersurai merah muda itu sedang tidur terbaring dengan beberapa alat medis berkekuatan listrik menancap di tubuhnya. Mikoto tidak bisa menyembunyikan wajah lirihnya, ia memegang bahu Mebuki yang bergetar di tempat duduknya.

"Kita bisa melewatinya. Kau, aku, anakmu, anakku, kita semua bisa melewatinya. Percayalah, kami selalu ada di sini untukmu," Mikoto mengelus pelan bahu Mebuki yang semakin bergetar. Mebuki menoleh, menatap Mikoto yang tersenyum menatap putrinya. Wanita cantik itu lalu beralih memandang Mebuki yang sedang menatapnya. "Ia cantik. Putrimu sangat cantik."

Pecahlah tangis Mebuki yang ditahannya sejak tadi. Mikoto bergerak untuk memeluk Mebuki dan tanpa diduga-duga tangan bergetar Mebuki membalas pelukan Mikoto erat. Mikoto menghapus air matanya. Seakan semua penderitaannya, semua ksedihannya tidak akan pernah berlalu dari hidupnya.

.

.

Sudah dua bulan lebih berlalu dan kondisi Sakura sudah lebih baik. Dokter mulai melepas alat bantuan medis di tubuhnya satu-persatu dan Sakura masih tetap harus dirawat di rumah sakit sampai ia benar-benar pulih.

Mikoto menggeleng tak percaya dengan menatap selembar kertas yang ada di tangannya. Ia berkali-kali bergumam tak jelas sebelum iris hitamnya memandang Sasuke yang berdiri di depan jendela, menatap Sakura yang sedang menikmati makan siangnya.

"Kau tahu? Keluarga Haruno membayar hampir seluruh biaya rumah sakitnya diam-diam," desah Mikoto frustrasi. Ia sudah berjanji akan membayar seluruh pengobatan Sakura berapapun biayanya. Namun, ia sendiri tak menyangka kalau keluarga ini begitu keras kepala.

Sasuke melangkah mendekati Ibunya, iris hitamnya melirik pada selembar kertas yang bertuliskan pembayaran administrasi rumah sakit yang bernilai hampir mendekati angka seratus juta.

"Aku akan menyuruh seseorang untuk mencarikan rekening milik keluarga itu. Kita bisa mentransfer uangnya melalui rekening itu."

Mikoto menggeleng lemah. "Mereka akan marah. Itu tindakan kurang ajar, Sasuke."

Sasuke menghela napasnya. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Ponselnya mati total karena empat hari penuh tak ia isi. Ia tidak memikirkan hal itu, selama Perusahaannya ditangani oleh sang Kakak, semuanya akan baik-baik saja.

"Kita akan cari cara lain setelah ini," putus Mikoto. Ia menghela napasnya. Memasukkan kertas itu ke dalam tas hitamnya.

"Aku akan menikahi wanita itu."

Mikoto tersenyum getir. Ia memeluk putranya dalam diam. Ia mengangguk setelah Sasuke meminta restunya. Dalam hati ia selalu berdoa, semoga Sasuke akan bahagia.

.

.

Sakura tersenyum pada suster berambut cokelat pendek yang menunggu dengan sabar dirinya saat makan siang. Suster itu tersenyum manis setelah memberikan Sakura beberapa obat dan ia berlalu pergi, membawa nampan bekas makan siangnya.

Sakura baru saja ingin kembali tidur jika pintu ruangannya tidak dibuka oleh seseorang. Ia menoleh, mendapati laki-laki yang ia taksir umurnya tidak berbeda jauh darinya sedang mendekat ke arahnya.

"Sebenarnya, aku ingin tidur siang, tapi jika kau ingin berbicara, aku akan menundanya." Sakura menarik selimut yang semula terpasang hanya sampai di pinggangnya. Ia kembali duduk setelah kursi di sampingnya berderit.

"Uchiha Sasuke, namamu adalah Uchiha Sasuke."

Sasuke mengangguk pelan.

"Aku Haruno Sakura." Sakura berkata pelan, menyembunyikan suara sedihnya dan menggantikannya dengan suara riang yang dibuat-buat. Ia hancur, sangat hancur, mengetahui semuanya dari bibir Ibunya dan wanita yang mengaku Ibu dari Sasuke. Semuanya sudah jelas, Sasuke ada di sini karena lelaki itu merasa ia harus bertanggung jawab akan dirinya.

"Kau seharusnya kembali ke rumahmu, mengerjakan pekerjaanmu dan lupakan aku. Aku sudah membaik, tak ada yang perlu kau khawatirkan."

Sasuke masih diam di tempat duduknya. Sakura menarik napas, menyadari kalau ia baru saja berbohong. Ia lelah, harus menangis tiap malam ketika tahu bayinya tak bisa diselamatkan, kakinya harus mengalami kelumpuhan sementara dan beberapa luka yang mungkin akan terus membekas selamanya.

"Aku akan menikahimu."

Suara datar Sasuke membuatnya seperti ditarik kembali ke alam sadarnya. Sakura menoleh, mendapati raut wajah Sasuke yang menunduk dalam. Wanita itu berusaha tersenyum, mengabaikan adanya rasa bergejolak di dalam hatinya.

"Tidak."

Kepala Sasuke mendongak, alisnya berkerut tajam.

"Kau tidak akan pernah menikahiku."

"Mengapa?"

Sakura tersenyum manis. Membuat wajah Sasuke yang semula datar menampilkan ekspresi terkejut. "Apa kau masih percaya sebuah ikatan pernikahan setelah apa yang terjadi?"

Sakura melempar pandangannya menatap tabung oksigen yang ada di sisi ranjangnya.

"Aku tahu dirimu selalu melihatku dari balik jendela itu, melihatku dengan tatapan ibamu, tatapan kalau kau menyesal karena telah menabrakku. Tapi, aku tidak pernah menginginkan tatapan itu. Kau punya kebahagiaan sendiri, aku mendengar saat Ibuku menangis di pelukan Ayahku karena dirimu yang meminta restu darinya untuk menikahiku. Apa kau pikir kau bisa melakukannya?"

Sasuke hanya diam. Ia meremas seprai ranjang itu kuat.

"Sasuke, kau punya kebahagiaan sendiri. Mengapa kau harus korbankan itu untukku? Seharusnya kita berjalan seperti kita tidak pernah mengenal sebelumnya. Aku tidak mungkin menikah. Aku benci pernikahan." Sakura tidak bisa menahan tangisnya lebih lama lagi. Sasuke sudah mengetahui semuanya. Bagaimana dirinya sebenarnya. Begitu menyedihkan sampai lelaki itu harus merasa iba padanya. Sakura tidak ingin hidup di atas belasan kasihan dari orang lain.

"Kalau begitu, kita tetap menikah dan tidak akan ada pesta. Jangan menghancurkan keinginanku. Aku tidak punya kebahagiaan, aku tidak punya apa-apa lagi."

Sakura menoleh, menghapus air matanya saat netra kelam Sasuke menatapnya.

"Kau bohong."

Sasuke tersenyum kecil.

"Aku seorang dokter di bidang psikolog, Sasuke, apa yang bisa kau sembunyikan dariku?"

Sasuke tidak bisa menahan senyumnya lebih lama lagi.

"Kita akan tetap menikah. Jangan membantah." Sasuke menarik selimut untuk menutupi tubuh Sakura sampai sebatas dadanya setelah wanita itu berbaring.

Sakura menatap punggung lebar Sasuke yang melangkah menjauhi ruangannya. Lelaki itu menatapnya sebentar sebelum pintu itu menutupnya. Memutuskan pandangan mereka berdua.

Sasuke keluar ruangan. Di sana, sang Ibu sedang duduk menyandar pada sang Kakak yang datang tanpa memberitahunya. Sasuke melangkah mendekati sang Kakak, lalu memeluknya.

"Aku selalu mendoakanmu, Sasuke, apa pun itu."

Dan Sasuke tak pernah mengerti mengapa air mata keluar begitu saja tanpa diperintahkan olehnya.

.

.

Satu bulan kemudian…

"Aku akan mendorongnya, Bibi." Sasuke mengambil pegangan kursi roda itu dari tangan Mebuki yang sedang menyiram tanaman. Lelaki itu tersenyum tipis pada Mebuki yang hanya diam, melihat putrinya sedang bersama laki-laki yang ia kenal sebagai Uchiha Sasuke, pewaris dari sebuah Perusahaan ternama di bidang arsitek peninggalan Ayahnya nanti.

"Jadi, kau mau kemana?"

Sakura menunjuk keluar pagar dengan telunjuknya. Ia sudah dinyatakan sembuh. Meskipun, kedua kakinya masih mengalami kelumpuhan untuk sementara waktu dan memakan waktu sampai tiga bulan sampai ia benar-benar bisa berjalan nanti.

"Bisakah kau pergi dan tidak usah kembali lagi?"

Sasuke menghentikan tangannya untuk mendorong kursi roda Sakura lebih jauh lagi. Ia memundurkan kursi roda itu untuk tidak mendekat pada pagar.

"Secara tidak langsung kau menyuruhku pergi, bukan begitu?"

Sakura menghela napasnya. Ia memang tidak pernah merasa nyaman saat Sasuke mengunjunginya setiap waktu seakan-akan lelaki itu adalah seorang pengangguran. Tapi ia tahu siapa Sasuke. Ia adalah lelaki dengan posisi penting di Perusahaannya dan waktunya tidak akan kosong begitu saja.

"Seharusnya kau memang pergi. Kau punya pekerjaan." Jawab Sakura datar. Ia bisa menebak bagaimana wajah Sasuke yang datar saat ini dan ia membalas lelaki itu dengan suara yang datar.

"Aku libur."

Sakura menghela napas pendeknya. "Kau selalu bilang begitu saat kau berkunjung kemari."

Sasuke tertawa kecil. Ia mendorong kursi roda Sakura untuk memutari halaman rumahnya. Ia tahu, wanita ini punya hobi tersendiri untuk masalah menanam bunga. Maka dari itu, ia tak heran jika rumah wanita ini hampir sepenuhnya dikelilingi bunga berwarna yang begitu memanjakan matanya. Bahkan, Ibunya sendiri bilang kalau ia begitu nyaman berkunjung ke rumah Sakura.

"Aku akan mengantarmu terapi hari ini," Sasuke memutar kursi roda Sakura menuju mobilnya. "Jangan menolakku." Sakura baru saja ingin berteriak atau memukul tangan yang ada di belakangnya itu untuk menghentikan kursi rodanya.

"Terserah."

Sasuke tidak bisa menyembunyikan ekspresi di wajahnya yang selama ini tersembunyi rapat-rapat di sana.

.

.

Sakura memandang kosong layar televisi di depannya. Pikirannya melayang saat-saat bahagianya ketika waktu itu, kekasihnya, melamarnya. Waktu-waktu membahagiaakan seakan Sakura tak pernah ingin waktu berlalu begitu saja. Sampai di mana hari pernikahan mereka sudah ditentukan, gaun pengantin sudah selesai dijahit, undangan sudah disebar dan tempat pernikahan dimana mereka akan mengikat janji suci sudah dipersiapkan. Semuanya begitu indah sampai Sakura selalu menangis ketika mengingatnya. Begitu bahagia, ia seperti wanita paling bahagia di dunia saat itu.

Sampai di mana lelaki itu pergi meninggalkannya menjelang pernikahannya bersama wanita lain yang Sakura tidak tahu kemana ia pergi. Berhari-hari Sakura habiskan untuk mencari kekasihnya, tapi nihil, ia menghilang bagai ditelan bumi. Tidak ada kabar, tidak ada jejak-jejak kepergiannya.

Dirinya merasa tertekan saat mengetahui kalau ia hamil tiga minggu sebelum pernikahannya dimulai. Ia begitu bodoh, begitu menyedihkan. Ia meurutuki dirinya sendiri yang sangat menyedihkan itu.

Sampai Tuhan mengambil bayi malang itu di dalam perutnya saat Sakura benar-benar menyayanginya dan berjanji akan membesarkannya seorang diri sebagai Ibu dan juga Ayah dari calon bayinya. Namun, Tuhan mengambilnya. Ia tahu, Sakura harus diberi cobaan lebih berat lagi.

Dan Sakura mengikhlaskan bayinya pergi. Ia lelah harus terbangun dengan mata memberat karena menangis setiap malamnya. Meminum obat penenang di kala hatinya merasa tertekan dan ia tidak bisa menahannya.

Sakura menghapus air matanya saat Sasuke datang bersama keluarganya. Ia tidak tahu jika Sasuke akan datang secepat ini. Lelaki itu juga tidak bilang akan melamarnya dalam waktu dekat ini. Sakura beranjak dengan mendorong kursi rodanya menjauh dari sana dan Sasuke mengejarnya.

"Sasuke…"

Sasuke menarik kembali kursi roda miliknya dan berhenti tepat di ruang tengah. Di mana para keluarga berkumpul dan menikmati secangkir teh dan kue cokelat panas buatan Ibunya.

"Sakura suka sekali dengan kue cokelat ini," timpal Mebuki yang diiringi senyum. Sakura menoleh pada Ibunya, kesehatan Ibunya sudah berangsur membaik saat Sakura diperbolehkan pulang ke rumah.

"Oh, benarkah?" Sakura menoleh pada sosok lelaki berambut panjang hitam yang tengah memakan kuenya dengan lahap. "Kalau begitu kita sama, Sakura, aku juga menyukainya kue cokelat. Apalagi ini buatan Ibumu." Sakura tersenyum saat lelaki itu memakan kue cokelat terakhirnya dan melirik kue cokelat yang ada di pangkuan Sasuke.

"Dia Uchiha Itachi, kakak dari Sasuke." Mikoto tersenyum pada Sakura setelah memperkenalkan putra sulungnya. Sakura sering melihat Itachi beberapa kali dan ia tidak tahu kalau ia adalah Kakak dari Sasuke. Kemiripan wajah mereka membuat Sakura tidak mengenali Itachi dengan baik.

Sakura memberikan senyumnya pada Itachi. Ia berusaha untuk tidak menangis. Hatinya masih hancur. Ia belum siap jika harus dihadapkan dengan masalah yang sama, sebuah pernikahan.

"Tidak ada pesta." Sasuke berujar tenang. Membuat Mebuki yang sedari tadi berbicara panjang lebar langsung terdiam.

"Tidak ada gaun pengantin," gini giliran Sakura yang berbicara. Ia menatap mata sang Ibu yang memandangnya lirih, kemudian pada keluarga Sasuke yang menatapnya bingung. "Aaa, kita sudah pernah membahas ini."

"Tapi, kau akan terlihat cantik jika memakai gaun pengantin, Sayang." Mikoto berkata pelan.

Sakura menggeleng pelan. Matanya menyipit karena senyumnya. "Aku pernah merasakannya, Bibi, dan kurasa itu tidak ada gunanya lagi."

Mebuki hanya diam. Ia berdeham dan menyentuh lengan Kizashi yang sejak tadi terdiam menatap putrinya.

"Baiklah, pernikahan akan diadakan satu minggu dari sekarang. Tidak ada pesta, tidak ada gaun pengantin. Hanya orang-orang terdekat yang datang dan … ku harap ini akan berjalan baik." Kizashi mulai bersuara. Menyuarakan pikiran putrinya yang sejak tadi tidak banyak berbicara. Sakura menjadi pendiam semenjak kecelakaan yang terjadi. Wanita itu, tidak biasanya menjadi seperti ini. Bahkan ketika lelaki brengsek itu pergi meninggalkannya, Sakura masih bisa tersenyum walaupun hatinya menangis.

"Baiklah. Kami akan mempersiapkan segalanya. Kita akan membahas ini lagi." Fugaku menjawab dengan mantap.

Keluarga Sasuke pergi setelah jamuan makan malam. Mereka adalah keluarga yang baik. Sakura merasakan adanya kehangatan dan kasih sayang yang mereka tunjukkan padanya. Sakura tidak mau berpikir panjang mengenai masalah ini. Mereka akan bercerai dan masalah selesai.

"Kau tahu, Ibu berharap ini adalah pernikahan terakhirmu."

Sakura menghentikan kursi rodanya. Ia menatap sang Ibu yang berdiri tak jauh darinya. Mebuki menghapus air matanya agar Sakura tidak ikut menangis karenanya. Lalu, tubuhnya bergerak mendekati putrinya, memberikan senyum terbaiknya dan memeluknya.

"Aku menyayangimu. Kebahagiaanmu adalah tujuan hidupku."

Sakura menghapus air matanya yang mengalir ketika ia memeluk Ibunya. Bahu Mebuki bergetar dan isakan kecil lolos dari bibirnya. Sakura tidak bisa bertahan lebih lama lagi sebelum air mata mendominasi seluruhnya. Ia tersenyum, berpamitan untuk pergi ke kamarnya dan tidur.

Ia butuh istirahat.

.

.

Sakura memandang gaun pengantinnya lama. Itu adalah gaun pengantin yang ia pesan saat pernikahannya bersama lelaki itu dulu. Ia menyimpan gaun itu rapat-rapat dan bersumpah tidak akan pernah memakainya. Mungkin dibakar akan lebih baik.

"Sakura? Supir sudah siap mengantarmu, Sayang."

Suara Kizashi membuyarkan lamunannya. Sakura segera mendorong kursi rodanya untuk menjauh dari kamarnya. Ia tersenyum saat Kizashi mengambil alih tangannya untuk mendorong kursi roda miliknya.

"Ayah akan menemanimu."

Sakura menggeleng pelan. Ia akan menjalani pengobatan secara berkala untuk penyembuhan kakinya. Dokter mengatakan kalau ia rutin menjalani terapinya, Sakura akan sembuh.

"Aku tidak apa-apa, Ayah. Percayalah, Ayah punya pekerjaan." Sakura berujar pelan membuat Kizashi menghela napasnya sebelum mengangguk. Putrinya masih keras kepala seperti dulu.

"Baiklah."

Sakura memeluk Ayahnya sebentar lalu masuk ke dalam mobil. Ia menatap kosong ke luar jendela selama beberapa saat sebelum mobil membawanya melaju membelah jalanan besar menuju rumah sakit.

.

.

Jalanan kota pada siang hari memang padat. Banyak dari pegawai kantor yang keluar dari kantornya hanya untuk makan siang bersama teman-temannya atau sekedar minum kopi sejenak untuk melupakan pekerjaannya.

Sakura sudah menghubungi dokternya, ia berkata kalau ia akan terlambat setengah jam sampai di sana. Dan dokternya mengerti.

Ia sengaja melewati jalan yang ramai dengan beberapa restaurant mewah dekat pinggir jalan. Lampu merah menyala, mobil yang membawa Sakura segera berhenti untuk mematuhi rambu lalu lintas.

Lalu, netra hijaunya jatuh memandang ke dalam restaurant besar itu. Ia membuka jendelanya, melihat lebih jelas apa yang ditangkap kornea matanya. Di sana, Uchiha Sasuke sedang bersama seorang wanita yang menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang bergetar. Wajah lelaki itu juga terlihat kacau, wajah yang tidak pernah Sakura lihat sebelumnya.

Sasuke pintar menyembunyikan ekspresi yang ada di dalam dirinya. Sasuke tidak pernah menunjukkan wajah sedih, bahagia, atau bahkan senang. Hanya datar dan terkadang tersenyum tipis yang tidak terlalu terlihat. Hanya samar-samar.

Mereka duduk di dekat jendela restaurant. Membuat Sakura lebih jelas melihat yang terjadi di sana. Ia tidak mungkin salah lihat. Penglihatannya masih cukup baik.

Lalu, wanita itu berlari keluar restaurant. Sasuke mengejarnya sampai ke dekat mobil lalu memeluknya. Sakura masih memandang objek berbeda di sana dengan matanya. Tidak adak ekspresi yang ditunjukkannya. Sakura menarik napasnya, menutup kembali kaca mobilnya dan berlalu pergi.

Dirinya kini berubah menjadi perusak kebahagiaan orang lain.

Menyedihkan.

.

.

"Dokter bilang, aku sudah boleh menggunakan tongkat, Bu, tapi kemungkinannya masih kecil. Mereka masih tidak memperbolehkanku memakai tongkat tanpa pengawasan." Sakura menjawab pelan pertanyaan Ibunya. Mebuki mengangguk kecil, lalu ia pergi mengambil sekotak kue keju kesukaannya.

"Ini dari Sasuke. Tadi ia kemari membelikanmu ini." Mebuki tertawa kecil ketika Sasuke menanyakan kue kesukaan putrinya. Sakura tersenyum kecil, menerima kue itu lalu menaruhnya di atas meja.

"Ia tadi mencarimu. Tapi, Ibu bilang kalau kau masih di rumah sakit."

Sakura mengangguk. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua persiapan pernikahannya sudah selesai. Hanya menunggu waktunya tiba. Undangan juga sudah disebar.

"Sakura? Apa kau baik-baik saja?"

Sakura mengangguk. Ia sudah meminum obatnya dan efeknya mulai terasa di tubuhnya.

"Aku ingin tidur. Ibu, bolehkah aku beristirahat?" Sakura menarik selimutnya. Mebuki mengangguk, mematikan lampu kamar putrinya dan mencium keningnya lembut. Sakura memejamkan matanya saat Mebuki menutup pintu kamarnya.

Lalu, tanpa dikomando darinya, air mata itu kembali turun membasahi pipinya dan kembali menemani malam panjangnya.

.

.

Hari pernikahan sudah tiba. Sakura tersenyum kecil pada perias rambut di belakangnya. Sejak tadi, wanita itu mengajaknya berbicara dan Sakura meresponnya dengan jawaban singkat.

"Kau beruntung sekali bisa menikah dengan Uchiha Sasuke yang tampan itu," pekik wanita itu riang. Sakura hanya tersenyum samar. Ia melihat wajah wanita itu senang dari kaca besar di hadapannya.

"Semoga kalian bahagia."

Itu tidak akan terjadi. Semoga.

Sakura dibantu dengan kerabatnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian yang pantas untuk pernikahan. Tidak ada gaun. Sakura memakai sebuah dress panjang yang menutupi hingga mata kakinya. Dress berwarna putih yang dibelikan sang Ibu untuknya.

Sakura sampai saat ini tidak mengerti mengapa kedua orangtuanya mengizinkannya menikahi orang lain hanya karena lelaki itu yang menabraknya. Membuatnya menderita selama beberapa saat aau bahkan selamanya. Tapi, ia tidak bisa berpikir sejauh itu. Mungkinkah Sasuke yang memaksanya?

Sakura masuk ke altar dengan wajah datarnya. Ia tidak tahu harus berekspresi apa saat ini. Sasuke berdiri dengan gagah dengan setelan jas hitamnya. Lelaki itu tidak tersenyum, tidak pula memasang wajah sedih. Sakura akan mengizinkannya jika Sasuke akan pergi berlari dari altar dan menjemput cintanya. Ia akan rela.

Membuat orang lain menderita karena dirinya, itu tidaklah baik. Sakura memaafkan Sasuke. Ia memang kehilangan bayinya, divonis tidak bisa hamil dalam jangka panjang. Sakura menerimanya. Takdirnya seperti itu. Tuhan berkata lain padanya dan mengapa harus orang lain ikut menanggung penderitaannya?

"Pergilah, kalau kau ingin pergi."

Sakura merasakan tubuh Sasuke menegang di sampingnya. Lelaki itu menghela napas panjangnya lalu menggeleng.

Sakura mengernyitkan dahinya. Ia ingin berkata lebih panjang lagi sebelum suara pendeta menghentikannya.

Pendeta mengucapkan kata-kata sakral dari sebuah kitab yang ia bawa. Sakura tidak bisa melihat wajah Sasuke dari tempatnya duduk. Ia melirik di sekitarnya, suasana tampak khidmat dan terasa tenang sampai suara sebuah sepatu membuyarkannya.

Sakura menoleh bersamaan dengan Sasuke yang mengikuti arah pandangnya. Ada seorang wanita beriris perak yang memandang mereka dengan lirih. Wajahnya yang cantik sudah dibasahi air mata. Kedua pipinya basah dengan air mata yang tidak kunjung berhenti dari kedua mata indahnya. Wanita itu memandang Sasuke lama, baru setelah itu dirinya.

Sakura melirik pada Mikoto yang memasang wajah sedih dan hampir menangis. Wanita itu menutup kedua wajahnya dengan tangan Fugaku yang mengelus lembut punggungnya.

Wanita itu menatap Sasuke lama, ia menghapus kedua matanya lalu tersenyum. Bukan senyum kebahagiaan, tapi senyum kepedihan. Sakura mengerti arti senyum itu. Lalu, wanita itu berlari meninggalkan ruangan dengan berlari. Ia masih bisa melihat tubuh wanita itu bergetar dan wajah Sasuke yang menegang. Tatapan matanya menggambarkan kalau lelaki itu juga terluka.

Pendeta melanjutkan ucapannya. Ia tampak tidak memedulikan kondisi yang terjadi. Sakura menghela napasnya, tubuhnya seperti dihantam sebuah batu besar yang berhasil membuat tubuhnya mati rasa.

"Kini, kalian sah menjadi pasangan suami istri."

Sakura tidak bisa memandang Sasuke lebih lama lagi saat lelaki itu mencium keningnya dan bukan bibirnya. Sakura mengerti. Sangat mengerti.

Lalu, riuh tepuk tangan dari para tamu yang hadir terdengar hingga ke seluruh ruangan. Sakura berusaha tersenyum, dan Sasuke, ia juga sedang berusaha.

Mikoto memeluknya dengan wajah haru. Kedua matanya membengkak karena menangis. Sakura tahu apa yang membuat wanita paruh baya itu menangis.

"Aku ikut bahagia, Sayang. Semoga kalian bahagia."

Mikoto memeluk Sakura sekali lagi sebelum beralih ke Sasuke.

Itachi datang dengan senyum lebarnya. Wajah lelaki itu lebih hangat dari wajah Sasuke. Sakura tersenyum saat Itachi memeluknya.

"Aku akan memanggilmu, adik Sakura." Sakura tertawa saat Itachi menggodanya dengan suara cempreng yang dibuat-buat. Lelaki ini sangat tahu bagaimana caranya merubah suasana.

Lalu, sebelum Fugaku bisa menyentuhnya, Sasuke pergi keluar ruangan dengan berlari. Sakura mengikuti tubuh Sasuke yang menjauhi ruangan diikuti dengan pandangan bingung para tamu dan keluarganya.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

A/N:

Ada yang tahu lagunya Avril Lavingne yang Innocence? Dengerin deh, itu inspirasi terbesar fic ini.

Untuk fic ini cuma sampai sepuluh chapter aja kok. Sama kayak Love is Like a Snowflake. Ga banyak-banyak. Kalau bisa, delapan atau tujuh udah tamat. So, ditunggu aja ya :"3

Makasih untuk reviewnyaa! Saya senang bacanya hihihi maaf juga kalau ficnya agak sad gitu, dari awal temanya emang udah sedih gitu :")

Lots of Love

Delevingne