Innocence

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Warning: Typo(s), Miss Typo, Alternative Universe.

.

Dedicated for nuniisurya26

.


Jadi, Sayang, hati mana lagi yang akan terluka dengan segala kepalsuan ini?


.

.

.

Suasana langsung berubah hening seketika saat Sasuke pergi dari altar menuju ruangan lain. Sakura bisa menyimpulkannya, ia pergi menyusul wanita itu.

Fugaku berdeham untuk mengatasi kecanggungan ini. Lalu, musik yang tadinya dimainkan kini kembali berbunyi. Para tamu seakan melupakan kejadian yang baru saja terjadi dan mulai kembali menikmati acara.

Itachi mengambil inisiatif untuk mengejar Sasuke. Mebuki hanya diam memandangi kepergian dua lelaki itu. Ia tahu jika ia ada di posisi anak itu. Ia juga akan terluka.

Tapi kini putrinya yang terluka. Dan ia terlalu egois untuk memikirkan perasaan orang lain. Siapa yang lebih menderita dari anaknya saat ini?

Itachi menyusul Sasuke yang pergi menuju taman belakang rumah. Wajah lelaki itu hancur. Sasuke memang terlalu pintar menyembunyikan segalanya, tapi tidak dengannya.

Itachi bergerak menyentuh bahu adiknya. Sasuke menatapnya lirih. Lelaki itu ingin menangis, tapi tak bisa.

"Seharusnya kau bahagia dan tersenyum bukan? Kenapa kau ingin menangis?" Itachi berusaha membuat suara meledek yang mungkin bisa membuat Sasuke merasa jengkel atau kesal padanya.

Sasuke mendengus. Ia memalingkan mukanya ke arah lain. Asalkan tidak menatap iris kelam sang Kakak yang berkilat jahil memandangnya.

"Seharusnya aku bahagia…" lirihnya. Itachi menoleh, mendapati Sasuke yang memandang air mancur itu kosong. "Seharusnya aku bahagia.."

Itachi tersenyum, mengenang masa-masa saat dia bersama Hana dahulu. Hana, tunangannya yang tewas dalam kecelakaan mobil lima tahun yang lalu. Yang begitu membekas di hatinya. Membuat hatinya yang terang benderang harus terpenjara di dalam kegelapan yang menakutkan. Ia tidak begitu memikirkan soal wanita. Dan kedua orangtuanya mengerti. Ia tidak bisa mencintai orang lain lagi selain Hana.

"Hana hidupku, dan selamanya akan seperti itu," Itachi menarik napas dalam-dalam saat memori kebersamaannya bersama Hana menyeruak masuk di kepalanya. "Tapi itu sudah berlalu. Mungkin aku bisa mencari pengganti Hana, tapi aku tidak bisa. Aku tidak menginginkan wanita lain selain dirinya."

"Aku juga."

Itachi menggeleng rendah. Ia tahu, suara Sasuke begitu berat menjawabnya.

"Kau bisa. Kau akan menyadari adanya magnet yang membuatmu tertarik pada Sakura nanti. Tidak sekarang. Semua butuh waktu."

Sasuke mendesah.

"Aku mengerti, Sasuke, tidak semuanya akan berjalan baik. Tapi, percayalah, jika kalian bersama-sama menjalaninya, itu akan terasa lebih mudah."

Itachi menarik tangan Sasuke untuk kembali masuk ke dalam ruangan. Para tamu sudah menunggunya untuk jamuan makan malam yang besar. Kedua orangtuanya juga sudah menunggu. Ia tidak ingin membuang waktu mereka lebih lama lagi.

.

.

Tidak ada bulan madu, tidak ada liburan untuk sepasang suami istri yang baru saja menikah. Tidak ada.

Sakura menyadarinya. Ia tidak butuh bulan madu, ia tidak butuh liburan, atau sekedar menghabiskan waktu bersama suaminya. Tidak. Ini semua tidak ada gunanya. Yang pasti, ia menjalaninya selama beberapa lama dan setelah itu mereka akan kembali ke kehidupannya masing-masing.

Sasuke membuka jas hitamnya. Ia sempat melirik Sakura yang duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong. Ini rumah Sasuke, rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya bersama istrinya, dan Sakura mengikutinya.

Ia sebenarnya punya rumah sendiri. Rumah itu, rumah yang dibangunnya dari hasil jerih payahnya selama tiga tahun menjadi dokter kejiwaan di rumah sakit. Tapi, kini rumah itu kosong. Dan kedua orangtuanya berjanji akan mengurus rumahnya agar tetap terlihat bersih dan nyaman jika Sakura hendak berkunjung ke sana.

"Apa ini rumahmu?"

Sasuke melepas kemejanya, ia tampak tidak terganggu dengan kehadiran Sakura yang memalingkan muka dengan wajah memerah.

"Ya. Apa kau ingin berkeliling untuk melihatnya?" tawar Sasuke.

Sakura menggeleng kecil. Ia terkekeh saat menyadari Sasuke masih menatapnya di saat lelaki itu masih bertelanjang dada.

Sakura masih memerah malu, ia sudah memalingkan wajahnya pada objek lain tapi tubuh Sasuke yang begitu indah membuatnya kembali berpaling pada lelaki itu.

Ia berdeham, menyadari tatapan Sasuke yang kemudian menggeleng kecil dan mengambil kaosnya.

"Sekarang, saatnya kau keluar sebentar, aku ingin mengganti pakaianku." Sakura mendorong tubuh Sasuke dari kamar mereka. Lelaki itu ingin protes dan Sakura menajamkan matanya.

"Tidak ada bantahan."

"Aku ingin membantumu."

"Tidak." Sakura masih bersikeras untuk mengganti pakaiannya sendiri. Ia benar-benar tidak bisa jika harus bersama Sasuke di kamar. Berdua hanya dengannya. Dan jika tangan Sasuke menyentuh tubuhnya, itu akan bereaksi di dirinya. Ia tidak akan mengambil resiko itu.

Sasuke mengangkat tangannya. Lelaki itu menyerah dengan Sakura yang keras kepala menantangnya.

Lama, sepuluh hingga dua puluh menit Sakura tak kunjung keluar kamar. Sasuke takut jika terjadi apa-apa dengan wanita itu. Ia tidak akan mengambil resiko jika Sakura terjatuh dari kursi rodanya atau wanita itu kesulitan mengganti pakaiannya.

Sasuke mengetuk pintu kamar mereka. Ia membukanya karena tak ada jawaban dari dalam sana. Ia mengintip ke dalam, mendapati Sakura yang terbaring di atas ranjang dan memejamkan matanya.

"Kau tak ingin makan sesuatu?"

Sakura menggeleng kecil dengan kedua matanya yang terpejam. Ia hanya butuh istirahat. Tubuhnya terasa pegal-pegal di setiap sisinya. Ia harus bangun pagi keesokan harinya.

Ranjangnya berderit sebentar dan tubuh Sasuke yang besar mengisi kekosongan tempat di sisinya. Sakura mengintip kecil dari balik bahunya. Sasuke berbaring memunggunginya. Lelaki itu tidak mengucapkan kata-kata lagi sampai selanjutnya dengkuran halus terdengar di telinga Sakura.

Sasuke sudah jatuh tertidur dan ia menyusulnya bersama ke dalam mimpi.

.

.

"Apa kita benar-benar memiliki seorang pembantu?" tanya Sakura saat mereka sedang sarapan bersama. Sasuke menghentikan suapan sendoknya. Ia menatap Sakura sekilas dan menggangguk.

Sakura berpikir jika ia menikah nanti, ia tidak akan memakai jasa seorang pembantu untuk mengurusi kebutuhannya sehari-hari. Selama ia bisa melakukannya seorang diri, ia akan melakukannya. Dan saat Sasuke memakai jasa seorang pembantu, entah mengapa ia sedikit tidak suka.

"Jika aku sembuh nanti, kita tidak memerlukan jasa pembantu lagi," ujar Sakura. Sasuke menghentikan kegiatan makannya. Ia menatap Sakura yang tampak menikmati acara makan paginya.

"Baiklah."

Sakura tersenyum sembari menunduk. Ia tidak menyangka kalau Sasuke akan cepat menurutinya. Mungkin lelaki itu terbiasa dengan jasa seorang pembantu di kehidupannya, tetapi tidak dengannya.

"Apa kau akan ke rumah sakit lagi?" tanya Sasuke.

"Huum. Mungkin akan lama." Sakura berkata sembari menuang minumannya.

"Perlu kuantar?"

Sakura menggeleng kecil. Ia tersenyum miring mengetahui pekerjaan Sasuke yang begitu banyak. "Tidak. Aku akan naik taksi."

Dahi Sasuke berkerut, "Taksi?" Sakura mengangguk mantap. Lalu, alis Sasuke terangkat naik, tampak tidak setuju dengan jawabannya. "Tidak perlu, aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu. Aku akan membawa mobil sendiri ke kantor."

Sakura menimang-nimang sebentar. Ia kemudian mengangguk. Sasuke mengambil ponselnya yang bergetar di saku celananya. Lelaki itu berdiri dan bergegas pergi ke arah tangga dan memasuki ruangannya. Sakura tahu, itu ruangan kerja khusus miliknya.

Lalu, wanita cantik berbaju hitam dengan memakai apron datang. Merapikan sisa-sisa sarapan mereka. Sakura tersenyum kecil. Memandangi sosok Sasuke yang hilang di balik pintu kayu itu. Tatapannya tampak melunak dan kemudian ia pergi.

.

.

"Selamat untuk pernikahanmu." Dokter bersurai perak itu tersenyum sembari menulis sesuatu di atas kertas itu. Sakura mengernyit sebentar, lalu kemudian ia tersenyum.

"Terima kasih. Bagaimana kau bisa tahu?"

Dokter itu tersenyum misterius. Ia melepas kacamatanya. "Aku kenal dekat dengan keluarga Uchiha. Jadi, ya, aku mengetahuinya."

Sakura hanya mengangguk. Ia melirik pada tongkat penyangga bagi pasien penderita kelumpuhan ringan sepertinya. Ia menatap dokter itu dalam-dalam. "Apa aku bisa menggunakan tongkat itu?"

Dokter itu mengangguk. Ia memakai kacamatanya lagi dan menatap Sakura. "Tentu. Kaki kananmu lebih cepat sembuh ketimbang kaki kirimu. Mungkin, dengan perlahan, kaki kirimu akan mengikutinya. Kau sudah bisa menggerakkan kaki kananmu, Sakura. Kau bisa memakainya jika kau ingin. Tapi berhati-hati lah."

Sakura tersenyum lirih. Ia sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih. Dokter Kabuto benar-benar membantunya. Ia sabar menghadapi Sakura yang terkadang menyerah menerima nasibnya. Tapi, takdir mempunyai jalannya sendiri. Sakura akan sembuh.

"Dan kursi roda tidak diperlukan lagi?"

Dokter Kabuto menggeleng. "Masih. Tapi, lebih baik kau belajar untuk menggunakan kaki kananmu agar ia kembali terbiasa, Sakura. Proses penyembuhan akan berjalan baik nantinya."

"Aku mengerti."

Dokter Kabuto menuntun Sakura untuk kembali ke mobilnya. Wanita itu bersikeras untuk memakai tongkat barunya. Kemauan gigih Sakura untuk terus berjalan membuatnya tersenyum.

"Terima kasih." Sakura tersenyum saat supirnya menutup pintu untuknya dan Dokter Kabuto mengantarnya sampai ke halaman parkir. Dokter itu mengangguk dan tersenyum hingga mobil hitam itu melesat pergi menjauhi halaman rumah sakit.

.

.

Mikoto dan Itachi datang berkunjung. Sakura merasa dirinya akan mati kesepian jika ia tidak bisa melakukan apa pun selain menonton, membaca, dan begitu seterusnya.

"Selamat siang!" Mikoto berujar riang sembari membawakan kue keju berlapis cokelat kesukaan Sakura. Wanita itu tersenyum lebar saat Itachi mengambil piring dan menghidangkannya tepat di depan Sakura.

"Kau lapar? Apa kau sudah makan siang?" tanya Itachi.

Sakura mengangguk kecil. "Aku membeli makanan Cina tadi saat aku kembali dari rumah sakit."

Itachi mengangguk. Kemudian iris kelamnya memutari ruangan. Tampak berbeda dari sebelumnya. Sasuke sudah banyak merubah tata letak benda-bendanya.

"Aku ingin berkeliling. Sudah lama aku tidak mengunjungi rumah adikku."

Sakura tersenyum, ia mengangguk dan membiarkan Itachi berkeliling rumahnya. Lelaki itu tampak antusias melihat isi ruangan. Sakura menangkap kilatan iris kelam Itachi yang menatap kagum ruangannya.

Mikoto tersenyum saat putra pertamanya pergi menaiki tangga. Ia tentunya hapal betul bagaimana rumah anak bungsunya. Sasuke membangun rumah ini dengan tangan terampilnya dan Mikoto mengetahuinya.

"Itachi baru kembali dari Roma setelah tiga tahun lamanya, Sakura. Ia akan tinggal di sini, di Tokyo bersama kami."

Sakura mengangkat alisnya. "Roma?"

Mikoto mengangguk. Ia menatap tongkat yang ada di sisi tubuh Sakura. Wajahnya berbinar senang. Sakura menangkap pandangan mata Mikoto padanya. Ia tersenyum lebar. "Kaki kananku mengalami kemajuan, aku boleh menggunakan tongkat, Bibi."

Alis Mikoto mengernyit mendengar panggilan Sakura padanya. Wanita itu menggeleng sembari tersenyum. "Bibi? Aku ini Ibumu sekarang. Kau bisa memanggilku dengan Ibu, Sakura. Jangan seperti itu."

Sakura tersenyum dengan kedua belah pipinya memerah. Ia hampir saja lupa kalau Mikoto adalah mertuanya saat ini. Tidak pantas jika masih memanggilnya dengan Bibi.

"Apa orangtuamu akan berkunjung?"

Sakura mengangguk. "Mungkin nanti sore. Ayah masih mempunyai pekerjaan sendiri. Ibu akan datang bersama Ayah nanti."

Mikoto mengangguk, ia mengambil kue kejunya dan memakannya. Mereka berdua larut dalam pembicaraan hangat dan sesekali tertawa bersama.

.

.

Itachi masuk ke dalam ruangan kerja Sasuke. Lelaki itu mengernyit ketika mengetahui banyaknya perabotan dan tata letak benda-bendanya yang diubah oleh adiknya. Sasuke menjadi pribadi yang lebih rapi dan memerhatikan kebersihan ruangannya. Ia menatap koleksi buku-buku besar milik adiknya. Sasuke punya hobi yang sama dengannya, membaca. Ia melangkah mendekati rak-rak buku dan mulai meneliti salah satu dari buku itu.

Netranya jatuh pada buku sastra bertajuk 'Ketika cinta pergi' karya pengarang sastra terkenal. Buku itu cukup tebal, dan Itachi yakin, membacanya butuh waktu berminggu-minggu. Tangannya tanpa sadar menyenggol buku berwarna kuning polos di sampingnya, dan rak-rak buku itu bergeser cepat. Membuka jalan ke dalam ruangan yang terang bermandikan cahaya lampu yang terpasang di sisi-sisinya menuju pintu kaca transparan.

Itachi kembali menaruh buku itu ke dalam raknya. Ia melangkah memasuki lorong dalam rak itu. Dan rak itu secara otomatis menutup kembali. Ia memasuki sebuah ruangan besar yang terdapat sebuah kursi besar di depan meja besar, sebuah sofa dan beberapa meja kayu disertai lampu merah temaram.

Itachi bergerak masuk. Ia mengambil kotak kayu besar yang tersimpan di dalam laci meja itu. Kedua matanya tertutup, ia kembali menaruh kotak itu setelah mengetahui isinya. Kedua matanya kembali memutari isi ruangan dan mendapati banyaknya foto-foto yang tergantung di atas tali dengan sebuah penjepit, yang tertempel di dinding dan yang membuatnya ingin menangis adalah sebuah pigura yang ada di atas meja adiknya. Itachi tidak tahu ini ruangan apa. Ia belum pernah menemukan ruangan ini rumah Sasuke. Dan mungkin saja orangtuanya juga tidak mengetahuinya.

Itachi pergi keluar ruangan dengan wajah sedihnya. Sasuke punya ruangan khusus untuk dirinya sendiri. Untuk dirinya yang tidak pernah bisa tersentuh siapa pun. Itachi tidak mungkin akan membocorkan rahasia ini pada keluarganya, terutama Sakura. Itu tidak akan mungkin.

Ia keluar dari ruangan itu dan pintu rak membuka sendiri secara otomatis. Jantungnya berdegup kencang sehabis berlari dari jarak ribuan meter. Ia mengusap wajahnya sebentar dan berlalu pergi dari ruangan kerja Sasuke.

.

.

"Oh, aku tidak tahu kalau ada Bibi Mebuki di sini." Itachi menuruni tangga dengan langkah tergesa-gesa. Sakura menoleh, mendapati wajah Itachi yang tersenyum setelah keluar dari ruangan kerja Sasuke.

"Halo, nak." Mebuki tersenyum membalas sapaan Itachi. Hari ini Mebuki datang seorang diri dan Kizashi menitipkan salam sayang untuk putrinya. Ada rapat yang benar-benar tidak bisa ia tinggalkan, dan Sakura memakluminya.

Mikoto menatap wajah putra pertamanya. Dahinya sedikit mengernyit melihat kerutan di dahi Itachi.

"Apa yang kau temukan di ruangan kerja Sasuke?"

Itachi terdiam dengan tubuh membeku sebentar. Kemudian, ia menggeleng kecil. Tersenyum pada sang Ibu yang menatapnya dan juga iris teduh Mebuki yang juga menatapnya.

"Tidak ada. Aku hanya takjub dengan ruangan kerja Sasuke yang begitu rapi. Mama tahu, Sasuke sangat anti membersihkan ruangannya sejak kecil."

Mikoto tertawa kemudian. Membuat Itachi menghela napas leganya. Ia mengambil tempat di sisi Sakura yang sedang memakan kuenya dengan tenang.

.

.

"Ah, selamat malam!"

Sasuke mengerutkan dahinya ketika Sakura menyambutnya pulang dengan wajah senang. Wanita itu berdiri di hadapannya sembari tersenyum manis. Sasuke semakin mengernyitkan dahinya dalam dan baru menyadari kalau Sakura berdiri.

"Apa yang kau lakukan?" Tanpa sadar suara Sasuke meninggi melihat Sakura yang berdiri di hadapannya. Dan wanita itu tampak santai saja menanggapinya.

"Kejutan!" Sakura berteriak riang. Ia menunjukkan tongkat kayu yang dipakainya untuk menyangga tubuhnya. Sebelah kakinya masih dibalut perban dan kayu. Dan sebelah kakinya, hanya terbalut perban saja. Tidak ada kayu di sana.

Sasuke menghela napas lega. Ia tidak menunjukkan wajah senang ataupun bahagia. Tapi, jujur, di dalam hatinya ia sangat senang. Ia lega. Sakura menunjukkan tanda-tanda yang berarti untuk kedepannya.

"Aku mencoba untuk memasak makan malam. Apa kau mau mencobanya?" tawar Sakura. Sasuke mengikutinya menuju dapur dan bau masakan langsung menusuk hidungnya. Ia sudah makan malam bersama teman-temannya hari ini. Tapi, melihat wajah Sakura yang begitu senang hari ini, ia tidak tega.

"Baiklah. Aku akan mandi dulu."

Sakura tersenyum saat Sasuke bergerak menuju kamar mereka. Ia kembali menata piring-piringnya dan mengabaikan tatapan khawatir dari para pelayannya di sana.

.

.

Dua bulan kemudian…

Sasuke tidak mengerti mengapa Sakura begitu keras kepala mengenai masalah rumah tangga mereka. Ia menyuruh pembantunya untuk menjadi tukang kebun, merawat kebun belakang mereka dan terkadang membantu membersihkan rumah. Ia akui, Sakura benar-benar pintar memasak. Dan ia merasa nyaman jika Sakura memasak makanannya. Ia akan berpikir ulang jika harus makan di luar rumah.

Sakura sudah pulih total. Walaupun balutan perban masih menempel di kakinya. Tapi, dokter menyatakan kalau Sakura sudah bisa berjalan dengan normal.

Dua bulan bersama, Sasuke menyadari adanya eksistensi keberadaan Sakura di sisinya. Ia mulai mengenal Sakura yang sebenrarnya. Wanita itu selalu tersenyum, tidak pernah mengeluh, menunjukkan kekesalannya pada dirinya, atau marah padanya. Oh, untuk marah jelas pernah. Walaupun tidak sering.

Ia tidak pernah melihat Sakura menangis.

Tiap malam, jika Sasuke terlambat masuk ke dalam kamar mereka dan mendapati Sakura yang tertidur, ia tidak pernah melihat wajah itu menangis. Padahal, penderitaan yang Sakura alami cukup berat. Ia kehilangan bayinya, keadaan rahimnya yang begitu menyedihkannya. Sakura juga terluka, sama sepertinya.

Tapi wanita itu terlalu hebat untuk mengatasinya.

Sakura melayaninya dengan baik. Memasakkan makanan untuknya. Menemaninya bekerja terkadang. Membuat secangkir minuman dan kue hangat jika dirinya sedang bekerja hingga larut.

Sasuke tidak bisa mengesampingkannya begitu saja.

Kemudian, lamunannya buyar saat Sakura masuk ke dalam dengan sebuah nampan kecil berisikan secangkir kopi hangat dan cemilan di dalam piring kecil. Uapnya masih mengepul dari cangkir itu. Sasuke tersenyum kecil.

"Kau akan tidur larut lagi hari ini. Ini akan membantumu."

Sakura menaruh nampan itu ke atas meja kerja Sasuke. Sasuke menganggukkan kepalanya setelah mengucapkan kata terima kasih. Irisnya melirik Sakura yang mengambil tempat di hadapannya dengan menarik sebuah kursi.

"Kau bilang akan mengatakan sesuatu tadi. Apa itu?"

Sasuke tersentak mendengar kalimat Sakura. Ah, ia menjanjikan sesuatu untuk mengatakan suatu hal pada Sakura setelah makan malam. Ia menaruh pulpennya dan menatap Sakura.

"Kita buat perjanjian."

Sakura masih diam.

"Tidak akan ada perselingkuhan di antara kita. Kau dan aku."

Sakura diam. Bibirnya tertarik ingin tersenyum tapi ditahannya.

"Itu tidak akan masalah untukku. Bagaimana denganmu?"

Sasuke yang diam. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.

"Kau mengenal diriku. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku."

Sakura memeluk nampannya. Wajahnya menatap wajah Sasuke yang memasnag air muka datar padanya. Ada emosi yang bergejolak di dalam dirinya dan Sakura sebisa mungkin menyembunyikannya.

"Kau punya kebahagiaan sendiri. Mengapa kau harus melakukannya? Perjanjian bodoh itu tidak akan berlaku padamu."

Sasuke tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Senyum tipis tak kasat mata yang terlihat samar di mata Sakura. "Pernikahan itu mengikat janji untuk saling setia. Tidakkah kau ingat itu? Lalu, kebahagiaan apa yang kau maksudkan itu?"

Sakura tersenyum manis. Kedua matanya menyipit karena senyumnya. "Ada banyak hal yang kau sembunyikan dariku. Aku menyadarinya. Jadi, siapa nama kekasihmu?"

Sasuke menegang di kursinya. Tatapan matanya mengeras sebentar sebelum kembali melunak. Ia membuang mukanya ke arah lain. Sakura masih tersenyum saat mata hitamnya meliriknya.

"Tidak ada. Kau istirahatlah dulu. Aku akan menyusulmu."

Sakura masih memasang senyumnya. Ia bangkit berdiri dengan masih memeluk nampan. Tatapan matanya jatuh pada sebuah map merah bertuliskan nama sebuah Perusahaan besar yang membuat tubuhnya membeku. Ia memandang bergantian pada Sasuke dan map itu sebelum mata kelam Sasuke menyadari perubahan tubuhnya.

"Selamat malam."

Sakura memutar tubuhnya. Ia memejamkan matanya dan air matanya turun membasahi pipi kanannya.

.

.

"Selamat pagi!" Sakura membuka selimut suaminya yang masih bergelut manja dengan memeluk gulingnya. Ia membuka tirai kamarnya dan membiarkan cahaya mentari memasuki kamarnya. Memaksa Sasuke untuk membuka matanya. Setelah dua bulan menikah, ia menyadari sifat Sasuke yang begitu susah jika dibangunkan pagi olehnya.

Sasuke hanya mengerang, memutar tubuhnya untuk menghindari sinar matahari menusuk matanya. Sakura menghela napasnya. Ia mengguncang tubuh Sasuke agak keras.

"Kau bilang akan ada rapat jam delapan nanti. Mereka tidak akan menendang tubuhmu keluar jika kau datang tepat waktu."

Dan secepat kilat, Sasuke membuka matanya. Ia menoleh, menatap wajah Sakura yang duduk di tepi ranjang sembari menahan senyum gelinya. Wanita itu sudah tampil cantik sehabis mandi.

Sasuke berdiri, melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Sakura yang terkekeh karena dirinya yang hampir tersandung karpet tebal kamarnya.

.

.

"Sebenarnya, kalau boleh aku ingin pergi ke taman." Sakura mengambil piring milik Sasuke dan menaruhnya ke dalam bak pencuci piring. Sasuke menajamkan matanya, tampak tidak setuju dengan kata-kata istrinya.

"Tidak."

Dahi Sakura berkerut tajam. Ia menghela napas. Siap berargumen dengan Sasuke. "Mengapa tidak?"

"Kau hanya boleh pergi ke luar jika bersamaku, Sakura."

Sakura mendesah berat. Ia menyadari banyaknya pekerjaan Sasuke yang menyita waktu lelaki itu terlalu banyak.

"Oh, kalau begitu, kita akan keluar tahun depan, atau lima tahun lagi menunggu kau libur?" cibir Sakura.

Wajah Sasuke membeku seketika. Sakura menyadari tatapan Sasuke yang begitu tajam menatapnya. Sakura terdiam di tempatnya. Ia tertawa pelan, menyadari kebodohannya.

"Aku tidak berharap pernikahan ini akan bertahan lama. Maaf, aku begitu bodoh."

Sakura masuk ke dalam lorong dapur dan menghilang beberapa saat di sana. Ia memukul kepalanya. Menyadari perubahan di wajah Sasuke yang begitu kentara di matanya.

Seharusnya ia mengerti, pernikahan ini akan selesai jika dirinya sudah sembuh total. Persetan dengan vonis seorang dokter yang berkata ia tidak bisa hamil dalam jangka waktu panjang. Sakura tidak peduli, ia menyadari adanya wajah terluka dari seorang Uchiha Sasuke yang selama ini disembunyikan lelaki itu.

Ia akan egois jika ia memaksakan pernikahan konyol ini. Pernikahan yang hanya ada kepalsuan dan kepingan hati yang terluka.

"Tidak akan ada yang saling jatuh cinta di antara kita."

Begitu katanya saat Sasuke melamarnya dan lelaki itu membawanya untuk melihat kembang api di dekat laut. Tempat favoritnya selama ini.

Sasuke menyetujuinya dan begitu juga dengan dirinya.

Pernikahan ini hanya di atas kertas. Tidak akan abadi.

Sakura berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Saat Sakura keluar dapur, ia tidak menemukan keberadaan Sasuke di rumahnya. Lelaki itu sudah pergi bekerja. Ia menitipkan salamnya melalui pelayannya, dan Sakura hanya mengangguk kecil saat pelayan itu berpamitan pergi untuk melakukan tugasnya.

.

.

Bel rumahnya berbunyi. Sakura mengernyitkan dahinya. Jika itu Ibu mertuanya, atau keluarganya, mereka akan langsung masuk ke dalam. Terlebih lagi Itachi, lelaki itu akan datang dan mengejutkannya.

Sakura membuka pintu rumahnya. Mendapati Yamanaka Ino yang datang dengan wajah riangnya. Sakura tidak kuasa menahan air matanya, memeluk Ino dengan erat hingga wanita itu hampir terjatuh dari tangga teras.

"Astaga, Sakura! Aku merindukanmu!" Ino memeluk Sakura erat. Melupakan fakta kalau mereka masih ada di teras rumah. Sakura berdeham, melepas pelukan mereka dan menyuruh Ino untuk masuk.

Wanita itu memuji rumahnya dengan pandangan takjub dan berbinar. Sakura tersenyum, ia pergi ke dapur membuatkan teh untuk Ino dan menghidangkan makanan ringan.

Ino duduk dengan wajah senangnya. Sudah hampir dua tahun ia tidak bertemu Sakura, sabahatnya, ia begitu merindukan sahabatnya.

"Sakura, aku sudah lulus dari kelas Dokter kejiwaan. Aku sudah mendapatkan sertifikat resminya." Ino berkata dengan wajah senangnya. Sebelumnya, Ino bekerja sebagai dokter kecantikan, ia memutuskan untuk kembali bersekolah mengambil bidang kejiwaan. Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri hanya untuk memantapkan karirnya dan mencoba hal baru di sana.

"Dan tebak, aku bertemu siapa?"

Sakura tersenyum lebar. Matanya memutar bosan saat Ino menggodanya.

"Aku bertemu Sai. Dia adalah seorang arsitek dari Jepang. Kami tidak sengaja bertemu saat aku berada di sebuah café. Ia membantuku yang terpeleset waktu itu. Ah, itu konyol sekali."

Sakura tak bisa menahan tawanya lebih lebar lagi.

"Ia tunanganku, kami memutuskan untuk menikah tahun depan. Sai akan kembali ke Jepang bulan depan. Ia harus merintis karirnya terlebih dulu baru kami akan menikah."

Sakura merasakan wajahnya memerah. Ino pun sama.

"Kami bersama selama dua tahun. Aku tidak pernah menjalin kasih bersama siapa pun sejak aku lulus SMA dan saat ini, aku tidak tahu, takdir benar-benar menyatukan kami."

Sakura tersenyum, ia menggenggam tangan Ino di atas meja. "Aku ikut senang. Kau bisa mengenalkanku pada tunanganmu itu, Ino."

Ino mengangguk senang. "Tentu saja!"

Ino mengernyitkan alisnya sebentar. Kemudian, wajah senang kembali menyelimuti wajahnya. "Aku berkunjung ke rumahmu, aku bertemu dengan Ayame, ia bilang kau sudah menikah dan pindah ke Perumahaan di dekat kota. Aku meminta alamatmu dan ternyata benar, bagaimana ceritanya? Bukankah kau… hm, maksudku kau hamil?"

Sakura tersenyum. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah pedihnya pada Ino yang menatapnya lirih.

"Aku keguguran. Tapi, aku baik-baik saja. Kau tidak akan mendapatiku meminum obat penenang lagi, Ino. Aku benar-benar baik sekarang."

Ino tersenyum lirih. Ia menatap Sakura yang terlihat tegar di matanya.

"Aku tahu. Apa kau bahagia? Dimana suamimu? Aku belum mengetahuinya, Sakura, mengapa kau tidak memberitahuku?" gerutu Ino kesal.

Sakura terkekeh kecil. "Dia sedang kerja. Bagaimana aku bisa memberitahumu kalau kau sibuk dengan sekolah dan pekerjaanmu? Ada-ada saja kau ini."

Ino mengangguk sembari tertawa. "Kau benar. Aku sudah kembali seutuhnya ke Jepang. Kau bisa menceritakan semuanya padaku."

Sakura menarik napasnya. Ia berusaha tersenyum. "Tentu, tapi tidak sekarang. Kita akan mempunyai banyak waktu untuk bersama."

Ino mengangguk antusias. Ia mengerti kondisi Sakura.

"Aku bekerja selama satu minggu di Jepang. Di rumah sakit tempatmu bekerja, aku menggantikan posisimu setelah Dokter Karin memutuskan untuk cuti hamilnya. Aku mendapatkan salah satu pasien."

Sakura tampak antusias mendengarnya.

"Kau tahu, aku tidak pernah mendapatkan pasien seperti ini sebelumnya, Sakura. Ia berbeda. Ia selalu datang dengan wajah tenang dan kembali ke rumah dengan wajah tenang. Padahal, ia selalu menangis, menyakiti dirinya sendiri jika sedang dalam proses terapi."

Sakura terdiam di tempatnya. Ia menatap Ino yang sesekali menampilkan wajah sedihnya.

"Aku harus selalu menahan air mataku jika ia datang untuk terapi. Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku belum begitu handal seperti dirimu. Kau sudah menjadi dokter kejiwaan selama tiga tahun dan aku hanya setahun." Ino tersenyum, ia meminum tehnya.

"Sakura, aku sering mendapati pasien dengan keluhan kedua orang tua mereka bercerai, tentang kekerasan seksual, anak-anak yang mengalami trauma karena orangtua dan teman-teman mereka. Tapi kali ini berbeda. Aku … aku merasa tidak sanggup mengobatinya."

Sakura diam. Ia memandang Ino dengan wajah khawatir.

"Aku berpikir untuk menyerahkan pasien ini padamu. Kepala rumah sakit menyerahkan tugas ini selama kau cuti waktu itu. Jika kau kembali, pasien ini akan ada di bawahmu. Kau yang akan menanganinya."

Sakura tersenyum, ingin menolak tapi suara Ino menginterupsinya.

"Aku tidak bisa. Aku hanya belum terbiasa dan aku merasa aku butuh belajar banyak darimu. Kau sudah banyak menyembuhkan pasien dengan keluhan berat seperti ini."

Sakura tersenyum kecil. "Bagaimana dirinya?"

"Ia hancur," wajah Ino berubah sedih. Wanita itu mengusap wajahnya. "Ia terluka, ia ingin bunuh diri, menghilangkan nyawanya dari dunia ini. Dia selalu bilang kalau dunia tidak adil padanya. Merenggut kebahagiaannya, mengambil orang yang dicintainya."

"Bahkan adiknya datang padaku dengan wajah memohon untuk menyembuhkan kakaknya. Ia seperti itu tanpa sepengetahuan orangtuanya. Aku benar-benar tidak bisa, aku akan menangis jika melihatnya. Terlalu berat."

Sakura mengerti. Ino butuh waktu untuk semua ini. "Aku akan kembali bulan depan. Jika aku sudah sembuh. Kau tahu, aku sedang sakit dan dokter melarangku untuk beraktivitas sementara waktu."

Wajah Ino memucat. "Kau sakit apa?"

Sakura tersenyum. Ia mengelus tangan Ino lembut. "Bukan penyakit berbahaya. Hanya kelelahan."

Ino menghela napas lega. Ia tersenyum lembut pada Sakura.

"Siapa nama pasienmu, Ino, boleh aku tahu?" tanya Sakura hati-hati.

"Shion."

.

.

.

Tbc.

.

.

.

A/N:

Kenapa saya update ini cepet? Ide saya lagi lancar jaya di sini. Jadi, saya mutusin buat lanjutin fic ini. Kalau ini tamat, utang saya berkurang deh HEHEHE.

Yuk, saya bales review non login dulu ya! :3

Not St Vincent and Dear Cara Delevinge: I don't know why im so laugh when I read your name for this review. Just kidding. Hallo, Poppy. Your name is soooo nice. Glad to know you. Hmm, btw, saya juga bukan Cara hiks. Hanya penggemarnya wkwk. This is for youuu, update ASAP. Thank You very much! Aaaaa, saya gatau mau bilang apalagi. Doain aja semoga saya bisa buat novel. Tulisannya masih jauh dari kata sempurna soalnyaa. And for the last, nice to knowing you. Salam kenal :D

Vitri: halo, sudah dilanjut ya :3

Uknow Yunjae: cerai gak yaa hmm ikutin aja yaa, semoga ga sad ending karena yang berawal dari sad belum tentu sad juga akhirnya, kok! Terima kasih, sudah dilanjut yaa :D

Howtologin: Haloo, kamu, kenapa nama kamu beginii, kamu belum bisa buat akun yaa? /nak. Kalo gak kuat coba lambaikan tangan ke kamera hihi. Udah dilanjut ya, untuk outside, masih proses waiting yaa :p

Lia uchiha: sudah dilanjut

Ai: Halo, we met again. fic ini bakalan nyeritain penderitaan Sakura ya hm? Gimana kalau nanti saya bikin tentang penderitaan Sasuke? hm? Saya udah baca review kamu, saya gatau mau bilang apa. Saya ngerasa di fic ini beda aja. Mungkin kamu benar, mungkin di pihak cewe yang jatuh cinta duluan. Tapi, kamu belum tahu kan kedepannya gimana? Mungkin kalau kamu yang buat cerita bakalan tahu gimana. Idenya memang terlalu mainstream, but saya ga maksa orang untuk baca. Jadi, kedepannya biar kita cari tahu sendiri, ya. Terima kasih.

Sachaan05: Sudah dilanjut yaaa!

Akira Fly: Sebenarnya tadinya saya mau masukin chara Shion di sini. Tapi mengingat kalau kedepannya hanya berputar di konflik rumah tangga SS dan Shion cuma bumbu, saya gajadi masukin. Karena konfliknya di sini ga hanya ada Shion ada satu lagi dan itu dari pihak Sakura. Mungkin ada beberapa pihak, jadi saya ga cuma monoton di pihak Sasuke aja. Biar dua duanya adil, Sakura kena, Sasuke juga kena, semoga ga mengecewakan kamu ya. terima kasih.

Aysakura: Selalu. Saya selalu mertahanin alurnya. Jadi saya gabisa janjiin ini sad atau happy end untuk nanti. Terima kasih, ya, semoga nanti endingnya gadipaksa.

Uchiha Pioo: aamiin. Semoga mereka bahagia yaa:") sudah dilanjutt

Rin: kamu kekasihnya obito ya? /nak sudah dilanjut inihh

Hanami: aamiin. Doain aja ya hehe

Guest: kamu kenapa doainnya gituuuu, tapi terserah juga sihh, pendapat orang beda-beda ya. Shion itu baik kokk, dia gabakalan jadi tokoh antagonis. Lihat saja nanti ya

Bakalan ada kejutan di sini dan yah, saya juga gamaksa para pembaca untuk baca cerita yang idenya sangat-terlalu-amat-pasaran ini. Semoga suka yaa. Terima kasih untuk reviewnyaa! Ah saya senang sekali dapet review dari kalian hihiii

p.s: Kalian bisa dengar lagunya Bruno Mars yang Talking to The Moon versi Acoustic. Itu jadi theme song fic ini untuk kedepannya selain Innocence. Semoga suka ya! /lanjutmewek

Lots of love

Delevingne