Gadis kecil itu berlari. Meninggalkan sepeda berwarna emasnya untuk mengejar seorang anak laki-laki yang berlari mengejar layangannya yang terputus hingga terbang menuju jalan raya.
Ia tidak tahu mengapa ia berlari hanya demi mengejar anak laki-laki itu. Ia terus berlari, menabrak anak-anak seusianya yang sedang bermain dan memandang kesal ke arahnya.
Anak laki-laki itu terus berlari, seakan ia tidak mengetahui kalau dirinya sedang dalam bahaya saat ini. Ia terus berlari, layangannya semakin turun dan sebentar lagi benang berwarna putih itu akan sampai di genggamannya.
Gadis kecil itu berteriak. Ia memanggil anak laki-laki itu dengan suara mungilnya yang lantang. Tapi, tetap saja, anak itu tidak mendengarnya. Ia masih gigih mengejar layang-layangnya.
"Hei! Berhenti!"
Anak itu masih berlari. Ia mendengar lamat-lamat suara dari anak perempuan yang berlari mengejarnya. Jaraknya dengan jalan raya semakin dekat. Jalan raya itu padat, beberapa kali mobil dan motor saling melaju dengan kecepatan tinggi.
Wajahnya tersenyum lebar. Ia berhasil menangkap layang-layangnya. Senyumnya semakin lebar saat ia menggenggam dengan erat benang layang-layang miliknya.
Senyumnya memudar seketika saat ia merasakan ada sebuah dorongan keras dan berhasil membuat tubuh mungilnya terdorong hingga menatap tiang rambu lalu lintas. Kepalanya terasa pusing dan genggaman benang layang-layangnya terlepas.
Pandangannya berkunang. Ia memandang sebuah objek yang begitu menyilaukan matanya. Orang-orang segera berlari mengerumuninya.
Anak laki-laki itu hendak berdiri namun kaki dan tangannya terasa sakit untuk digerakkan. Ia tidak bisa bergerak sampai sebuah suara lembut dari seorang wanita membuatnya merasa nyaman.
"Kita harus ke rumah sakit. Segera!" Katanya panik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Innocence
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
Warning: Typo(s), Miss Typo, Alternative Universe.
.
Dedicated for nuniisurya26
.
Jadi, Sayang, hati mana lagi yang akan terluka dengan segala kepalsuan ini?
.
.
.
Sakura bangun dengan napas tersengal-sengal. Ia berpikir mimpi buruknya akan hilang jika ia sudah meminum obatnya. Ia bohong pada Ino, tentu saja. Ia tidak akan berhenti meminum obat-obatan itu sampai mimpi buruknya hilang dan ia tidak akan pernah merasa terganggu lagi.
Ia adalah seorang dokter. Ia tahu takaran yang pas untuk kesehatannya. Meskipun, ia sendiri tahu apa efek jangka panjangnya.
Sakura mengusap wajahnya. Ia bernapas lega karena kali ini ia tidak menangis. Biasanya, ia akan selalu menangis. Mimpi itu benar-benar menakutinya sejak insiden kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Saat usianya masih menginjak lima tahun.
Lampu kamar menyala terang. Sakura terlonjak kaget saat mendapati ada suaminya yang duduk di sofa sembari menatapnya. Entah tatapan apa yang diberikan Sasuke padanya. Tapi, tatapan mata itu begitu khawatir.
"Apa kau baik-baik saja?"
Sasuke berdiri, duduk di tepi ranjang.
Sakura mengangguk. "Ya. Aku hanya mimpi buruk. Bagaimana dengan dirimu?"
Sasuke menghela napasnya. "Aku juga bermimpi buruk. Kita sama."
Sakura tersenyum. Ia memilih untuk tidak bertanya mengenai mimpi yang dialami Sasuke.
"Mimpimu itu … apakah tentang mantan kekasihmu?"
Sakura mengerjap sebentar. Ia memandang Sasuke yang menatapnya penuh tanya. Lalu senyum simpul terpetak di bibir tipisnya. "Mimpi buruk tidak hanya dari seorang mantan kekasih, bukan? Aku mengalami banyak hal dan itu semua berakhir menjadi mimpi buruk."
Sasuke mengangguk. Ia mengerti sebuah privacy untuk Sakura. Ia berdeham, mengambil tepat di samping Sakura.
Sakura melihat tubuh Sasuke yang bergerak membelakanginya. Ia tahu, lelaki ini pasti bermimpi buruk mengenai pernikahannya. Mengenai kekasihnya. Tentang kebahagiaannya yang direnggut paksa. Sasuke juga manusia, ia pasti memiliki mimpi buruk yang mengerikan sama seperti dirinya hingga harus terjaga di tengah malam hanya untuk menghilangkan mimpi buruk itu.
"Kenapa kau masih memandangiku? Tidurlah."
Sakura tersentak. Ia menyadari suara serak Sasuke yang memberat karena rasa kantuk. Ia berdeham, menutupi kecanggunggan dan mulai menarik selimut hingga sebatas dadanya. Memejamkan matanya kembali seraya terus berdoa.
Jangan pernah datang lagi, kumohon.
.
.
"Apa perlu aku mengantarmu ke rumah sakit?"
Sakura menautkan alisnya, tampak bingung dengan pertanyaan suaminya namun ia tersenyum kemudian.
"Kau akan terlambat bekerja." Sakura melanjutkan kegiatannya merapikan peralatan makan mereka dan mencucinya sebentar. Membersihkan meja makan dan melakukan tugas kecil lainnya di dapur.
"Kau selalu berkata seperti itu untuk menolakku," Sasuke sedikit mendesah lelah. Sakura tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia menaruh kain pembersih di tempat semula. "Baiklah, kalau kau memaksa."
Sasuke mengangguk. Ia mengambil jas yang diberikan Sakura padanya dan menunggu Sakura untuk mengganti pakaiannya.
Sakura sudah siap dengan pakaian kerjanya. Sasuke sedikit mengerutkan dahinya. Pakaiannya terlihat sedikit minim dibagian roknya. Sakura menyadari arti tatapan Sasuke padanya. Ia tersenyum kecil, sedikit menarik roknya hingga tidak terlihat terlalu menggoda.
"Ini yang kau mau?"
Sasuke hanya diam saja menyadari adanya senyum jahil dari bibir istrinya. Ia kemudian melangkah lebih dulu menuju mobilnya diikuti Sakura di belakangnya setelah wanita itu menyapa ramah para pelayannya.
"Kau tidak akan terlambat jika mengantarku 'kan?"
Sasuke menghela napasnya. "Tidak. Dan itu tidak akan jadi masalah."
Sakura merasakan tidak ada kecanggungan di antara mereka. Ia semakin menyadari adanya perasaan canggung yang semakin lama akan terkikis dengan kebersamaan mereka selama ini.
Ia tidak akan berpikir terlalu jauh jika Sasuke juga merasakannya.
.
.
Sakura menyapa ramah para pegawai rumah sakit yang begitu takjub melihatnya kembali. Menurut berita yang mereka dengar, Sakura mengalami cacat sementara di kakinya. Dan pemandangan yang saat ini terpampang adalah Sakura yang bisa berjalan dengan santai di lantai rumah sakit.
"Mengapa kau memandangku seperti itu, Yuri?"
Suster cantik berambut merah kecoklatan itu menggeleng. Ia memberikan Sakura senyum manisnya. "Kau terlihat baik-baik saja, Dokter. Bahkan terlihat lebih baik dari sebelumnya."
Sakura tersipu mendengarnya. Ia kemudian pergi melewati Yuri yang berpamitan untuk segera memeriksa pasien yang lain. Sakura berkeliling rumah sakit untuk melepas rindunya. Ini adalah rumah keduanya, rumah dimana ia bisa berkumpul bersama para dokter dan suster lainnya. Berbaur bersama para pasiennya. Bercerita, bercanda, memberikan mereka dorongan untuk sembuh.
Selama tiga tahun bekerja, Sakura tidak pernah mengeluh mengenai parahnya kondisi pasiennya. Mengingat bidang yang digelutinya saat ini. Ini adalah pilihannya. Ia melihat dengan jelas bagaimana saat Akira, adik sepupunya, tewas bunuh diri karena perceraian kedua orangtuanya dan beberapa alasan lain yang akhirnya berujung pada sebuah kematian.
Sakura sudah berjanji untuk menyelamatkan para pasiennya. Bagaimana pun itu. Dan dengan kemampuannya, Sakura sudah bisa menyelesaikan kasus mengenai kondisi kejiwaan pasiennya hingga sembuh total. Ia tidak pernah menerima sebuah complain yang berarti tentang kegagalannya.
Ia bersyukur, Tuhan selalu bersamanya.
Sakura mengerutkan dahinya, ia melihat ada seorang gadis cantik bersurai merah lembut, hampir senada dengan warna rambutnya sedang duduk gelisah. Wajahnya tampak kacau dan gadis itu berkali-kali menutupnya dan bahunya bergetar.
Dengan langkah hati-hatinya, ia mendekati gadis itu. Mau bagaimana pun juga, gadis ini sudah duduk di depan ruangannya. Duduk di kursi tunggu khusus untuk pasiennya.
Sakura duduk di samping gadis itu, tersenyum. "Mengapa kau di sini? Ada yang bisa aku bantu?"
Gadis itu mengusap air matanya yang akan tumpah. Kedua belah pipinya sudah basah akan air matanya. Ia berusaha tersenyum menatap Sakura dengan pandangan lirihnya.
"Dokter Kepala menyuruhku ke sini untuk menemuimu. Maaf, aku tidak bisa berbicara formal. Aku sedang kacau. Namaku, Sara," gadis itu terlihat menyesal. Sakura menggeleng dengan senyum. "Tidak apa-apa."
"Aku ke sini bersama Kakakku, ia sedang ditangani oleh Dokter Yamanaka di lorong sebelah. Aku diam-diam menemuimu, Dokter Yamanaka bilang lebih aku meminta izin untuk menemuimu. Kau adalah Dokter terbaik di rumah sakit ini. Namamu sudah tidak asing lagi."
Gadis itu menarik napasnya. Ia menghapus sisa-sisa air matanya kasar.
"Bantulah aku, Dokter. Tolong sembuhkan Kakakku."
.
.
Sakura mengikuti Sara menuju ruangan Ino. Sara memundurkan langkahnya saat mendengar isakan keras dari dalam ruangan Ino. Gadis itu mundur perlahan-lahan menjauhi ruangan. Lorong ini terlihat sepi karena memang diperuntukkan khusus bagi pasien yang membutuhkan penanganan khusus. Sakura mengerti, ia menyuruh Sara untuk duduk dan mengelus lembut bahu gadis itu yang mulai menangis.
Sakura membuka pintu ruangan Ino. Ino sudah tahu kalau Sakura sudah bisa bekerja hari ini. Ia menarik napas, membuka ruangan itu perlahan-lahan dan pemandangan di depannya berhasil membuatnya membeku.
Itu Shion.
Itu kekasih Uchiha Sasuke, suaminya.
Ino berdiri dengan memandang Shion yang duduk sembari menangis dan berkali-kali berteriak kesakitan sembari sesekali menyakiti dirinya sendiri dan Ino akan bertindak jika wanita itu mulai menyakiti dirinya sendiri.
Ino melirik ke arah Sakura yang pucat pasi. Wanita bersurai pirang itu mengerutkan alisnya menatap sahabatnya yang tidak bergerak di tempatnya berdiri.
Ino mulai melangkah, menutup pintu ruangannya dengan cepat dan kembali menyadarkan Sakura dari lamunannya.
"Itu Shion. Dia begitu menderita, Sakura. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku sudah berusaha." Ino berkata lirih, ia menarik kursi untuk Sakura duduk. Tatapan mata Sakura jatuh memandang Shion yang masih menangis dengan menyembunyikan kepalanya di lipatan lututnya. Wanita itu tidak menyadari kehadiran Sakura di ruangan ini.
"Shion, kenalkan ini Dokter Sakura." Ino menepuk bahu lembut Shion dan wanita itu otomatis mendongak, menatap netra teduh Sakura yang memandangnya dalam.
Tangisannya terhenti seketika. Keheningan kembali melanda ruangan ini. Ino memerhatikan raut wajah Shion yang begitu menatap dalam wajah Sakura. Seakan wanita itu mengenalnya.
Sakura berdeham, ia berusaha tersenyum namun gagal ketika mendapati pandangan dingin dari Shion di depannya. Iris hijaunya melirik pergelangan tangan Shion yang terbalut sebuah perban.
"Kau menyakiti dirimu sendiri? Apa kau berpikir itu bisa menyelesaikan masalahmu?"
Shion menghapus air matanya kasar. Ia berdiri, mengambil sebuah kursi dan menariknya mendekat pada Sakura.
"Kaupikir siapa yang menyebabkan semua ini?" Tawa sinis mengalun dari bibir tipisnya. Sakura masih diam di tempatnya, ia melirik Ino yang menatap Shion penuh waspada.
"Kau dicintai, keluargamu mencintaimu, orang-orang di sekitarmu juga mencintaimu. Apa dengan memotong pergelanganmu itu bisa melupakan semua masalahmu? Tidak."
Shion menggigit bibir bawahnya keras. Tatapan matanya berkilat tajam memandang Sakura penuh marah. Ia mengambil sebuah gelas dari meja Ino dan melemparkannya tepat di depan Sakura. Napasnya berubah pendek, emosinya kembali bangkit begitu saja. Ino berusaha untuk mendekat, dan tangan Sakura terulur begitu saja, menghentikannya.
"Aku akan tangani, Ino." Sakura tersenyum pada sahabatnya. Ino kembali mundur. Tatapannya kembali waspada.
Shion kembali jatuh terduduk. Menyadari tidak ada perubahan yang berarti dari Sakura akan tindakannya. Wanita itu tampak tenang, mengambil napas dalam, dan menatapnya. Itu saja.
Sakura berdiri dari kursinya. Ia ikut terduduk tepat di depan Shion. Wanita itu kembali menangis. Sakura merasakan perih akibat serpihan kecil dari gelas itu menggesek kaki telanjangnya.
Ia memandang Shion yang tertunduk. Sakura sedikit menarik napasnya, mengulurkan tangannya untuk memegang bahu bergetar Shion.
"Aku mengerti dirimu. Apa yang kau inginkan? Mengapa kau menjadi seperti ini?"
Shion terisak-isak di depannya. Wanita itu menjambak rambutnya kencang dan kembali terdiam. "Kekasihku memutuskan untuk membatalkan pernikahannya jelang seminggu kami akan mengikat janji suci. Ia bilang ia tidak mencintaiku lagi. Aku tahu dia berbohong. Tapi ia tetap bersikeras untuk memutuskan hubungan kami."
Ino terdiam di tempatnya. Ia memandang Shion yang terluka dan Sakura yang terdiam. Ada ekspresi aneh yang Sakura tunjukkan namun segera ditepisnya.
"Lalu, aku bertemu dengannya di sebuah restaurant dekat kota. Ia mengatakan semuanya. Ia baru saja menabrak seorang wanita hamil hingga bayi itu tewas dan calon Ibunya harus mengalami kelumpuhan untuk sementara. Lalu, ia juga berkata padaku kalau wanita itu tidak akan bisa hamil lagi."
Shion tersenyum miris. Ia sudah tidak lagi menangis.
"Menyedihkan, bukan? Siapa yang harus dikasihani saat ini?" Shion bertanya dengan memandang Sakura datar.
Sakura terdiam. Memorinya terlempar beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sasuke. Ia tidak sengaja bertemu calon suaminya itu di sebuah restaurant dekat kota. Tentu saja Sasuke tidak mengetahuinya. Sakura sedang pergi untuk menjalani terapinya dan lelaki itu sedang makan siang bersama seorang wanita. Sakura mengerti, wanita itu adalah Shion. Wanita yang menangis di pesta pernikahannya dan pergi dengan wajah terluka.
Sakura masih diam. Senyum Shion semakin mengembang. "Aku tahu namamu sekarang, Sakura. Ya, Uchiha Sakura," Shion kemudian tertawa. "Namamu bagus juga. Uchiha, ya."
Sakura masih diam. Ia masih mendengarkan Shion yang berbicara mengenai masalahnya.
"Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan melepaskan Sasuke begitu saja. Ia begitu berharga untuk dilepaskan," Shion berkata lirih. Tatapannya tak lagi datar, melainkan kosong. "Kalian akan hidup bahagia."
Ino berdiri dengan tegang di samping Sakura. Ia berusaha mencerna apa yang terjadi di depannya. Sakura, sahabatnya menikah dengan Uchiha Sasuke? Mantan kekasih dari Shion?
"Kalau kau berpikir Sasuke akan kembali padaku, kau salah," Shion tersenyum pedih. Menatap Sakura dengan dalam. "Aku tak pernah mengharapkannya kembali. Aku tidak ingin dia kembali. Sasuke tidak pernah menghubungiku lagi. Ia sudah membuangku jauh-jauh dari hidupnya. Dan aku menjanjikan sebuah janji yang bagus untukmu."
Sakura masih diam menatap Shion.
"Aku tidak akan pernah menjadi duri di pernikahan kalian. Tidak akan pernah."
.
.
Sakura duduk diam di ruangannya. Keadaan Shion benar-benar membuatnya tertampar keras. Ia mengerti, Shion begitu menderita. Tapi, wanita itu berusaha terlihat tegar meskipun sulit. Ia sudah mencobanya. Shion akan menjadi pasien tetapnya sampai ia sembuh nanti.
Sakura pernah mendapatkan pasien serupa. Ditinggal kekasihnya menikah dengan orang lain dan membuat kondisi jiwa pasiennya terganggu. Tapi, ini berbeda, ini menyangkut dirinya.
Shion tidak menatap benci ke arahnya. Tidak. Justru wanita itu terlihat ingin berbuat baik padanya. Mungkin pada awalnya Shion marah padanya. Ia yang secara tidak langsung merebut kekasihnya. Merebut kebahagiaannya. Tapi, wanita itu berusaha bersikap baik dengan tidak menunjukkannya kebenciannya pada Sakura.
Bahkan wanita itu tersenyum ramah. Hampir saja memeluk Sakura jika ia tidak melewatkan sesuatu. Ada kelegaan yang terpancar di matanya meskipun hanya sekelebat. Sakura akan terus berusaha membantu wanita itu.
Shion pantas bahagia.
Tapi wanita itu jelas-jelas menolak jika ia harus bertemu dengan Uchiha Sasuke. Ia tidak pernah ingin kembali menjalin hubungannya bersama lelaki itu.
Tapi ada satu yang mengganjal di benaknya. Selalu tersembunyi saat ia bertemu dengan Shion untuk yang kedua kalinya.
Wanita itu menyembunyikan sesuatu yang gelap di dalam matanya. Tersembunyi rapat-rapat dan Shion berusaha untuk selalu menyembunyikannya dari dunia luar.
.
.
Sakura pulang ke rumah dengan menaiki sebuah taksi. Ia tidak berpikir untuk menghubungi supirnya. Sasuke mungkin akan marah. Tapi, toh, Sakura sudah kembali dengan selamat dan utuh.
"Aku pulang."
Sakura tersentak saat pemandangan Sasuke sehabis mandi langsung menjadi objek pertama yang dilihatnya. Lelaki itu terlihat bingung, namun ia mengangguk kecil. "Hn. Selamat datang."
Sakura mengernyitkan dahinya. Sasuke akan pulang malam dan itu jauh sekali dari jam pulangnya. Ia memandang Sasuke yang melangkah ke dapur untuk meminum segelar air dingin. Lama Sakura memandangnya, sampai ia tidak sadar kalau sekarang dirinya yang ditatap dalam oleh lelaki itu.
"Mengapa kau masih berdiri di sana?"
Sakura mengelus dadanya. Ia akan terkena serangan jantung dalam waktu dekat karena melamun yang terlalu berlebih. Ia akan mati muda jika ia tidak menghilangkan kebiasaan buruknya.
Sakura tersenyum, menyadari kebodohannya. "Aku melamun. Maaf."
Sasuke mengangguk, kemudian ia berbalik memandang Sakura. "Akan ada makan malam bersama rekan kerja Perusahaan. Kau harus ikut bersamaku."
Sakura menaruh jas dokternya di dekat sofa. Menatap Sasuke penuh tanya. "Mengapa harus aku?"
Sasuke menghela napasnya. "Kau istriku. Kau harus ikut. Aku akan memperkenalkanmu pada mereka semua." Lalu, Sasuke pergi dengan tidak mengatakan apa-apa lagi. Sakura mengambil tempat untuk duduk di sofanya. Pikirannya kembali terlempar beberapa jam yang lalu saat dirinya bersama Shion yang terluka, Shion yang menderita.
Haruskah ia mengatakan semuanya pada Sasuke? Haruskah?
.
.
Sasuke mendongak saat suara langkah sepatu masuk ke dalam ruangannya. Sakura datang dengan kedua alisnya terangkat, tampak ceria.
"Aku punya janji bersama Ino untuk pergi makan malam bersama. Sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu." Sakura berkata tenang, ia berusaha menampilkan wajah sedih yang sebelumnya riang.
Sasuke mengerutkan alisnya. Ia mengumpulkan berkas-berkasnya menjadi satu di dalam sebuah map dan menatap Sakura tajam.
"Tidak bisa. Aku sudah berjanji pada mereka untuk mengajakmu pergi."
Sakura menghela napasnya. Ia menarik kursi di depan Sasuke. Tatapan Sasuke masih mengarah padanya. Lelaki itu kini bersandar di kursi kebesarannya. Ia terlihat tampan dengan memakai kaus putih dan celana pendeknya. Tampak santai.
"Baiklah, kau begitu memaksa."
Sasuke tidak bisa menahan senyumnya. Ia melihat wajah sedih Sakura yang dibuat-buat wanita itu sendiri. Meskipun samar, ia berharap Sakura melihatnya dan wanita itu melihatnya.
"Apa mereka orang-orang baik? Atau setipe sama denganmu? Memancarkan aura dingin dan mistis yang begitu kental di sekitarnya?"
Sasuke kali ini dibuat terkekeh dengan kata-kata istrinya. Ia tidak mengerti mengapa Sakura bisa berpikiran sejauh itu untuk mengenali rekan kerjanya.
"Mereka baik. Mungkin ada beberapa yang terlihat begitu."
"Termasuk dirimu?" Sakura tertawa saat mendapat tatapan dingin dari Sasuke yang begitu tiba-tiba. Wanita itu kemudian berdiri, beranjak mendekati rak buku milik Sasuke. Lelaki itu gemar membaca, sama seperti dirinya. Sakura begitu kagum dengan buku bacaan koleksi milik Sasuke. Lelaki itu pintar memilih buku yang berkualitas untuknya.
"Boleh aku pinjam satu salah satu koleksi bukumu?" teriak Sakura.
Sasuke menoleh ke arah sumber suara. Sakura sudah kembali dengan membawa tiga buah buku tebal dengan sampul plastik yang menutupinya. Sasuke menghela napasnya ketika mendapati senyum lebar istrinya.
"Sepertinya aku boleh meminjam tanpa izin darimu, ya, kau dengan langsung mengizinkanku untuk membaca buku-bukumu ini." Sakura berkata tenang dan membawa buku-bukunya pergi keluar ruangan Sasuke.
Lelaki itu menatap punggung mungil Sakura yang hilang dari balik pintu. Entah mengapa, tatapan matanya mulai melunak. Mungkin, ini hanya kebetulan saja. Sifatnya dan sifat Sakura begitu bertolak belakang. Namun seperti ada magnet yang menarik mereka berdua.
Sasuke akan berusaha menepisnya. Apa pun itu. Ia sudah berjanji untuk tidak pernah saling jatuh cinta sampai waktunya tiba nanti. Waktu dimana mereka memutuskan untuk hidup masing-masing.
.
.
"Aku tidak bisa membeli buku-buku itu. Terlalu mahal." Sakura menatap lirih buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan milik suaminya. Sasuke tampak tak keberatan jika Sakura meminjam salah satu koleksinya.
"Kau bisa meminjamnya kapanpun kau mau. Asalkan buku itu tetap utuh." Sakura menyeringai lebar, ia memandang Sasuke dengan dua alis terangkat.
"Setuju!"
Sasuke melangkah menuju lemari besar. Tatapan matanya memandang satu-persatu pakaian formalnya yang terlalu banyak. Ia masih punya waktu satu jam untuk sampai ke restaurant tempat ia dan rekan kerjanya akan berkumpul nanti.
Sakura sudah mengganti pakaiannya. Wanita itu masih terlihat santai dengan rambut merah mudanya yang masih basah dan ia mengikatnya menjadi satu dengan handuk untuk mengeringkannya.
Wanita itu mendekati Sasuke yang tampak bingung memilih pakaiannya. Ia tersenyum, salah satu kemeja putih polos menjadi pilihannya.
"Kau pakai yang ini," Netranya kembali masuk ke dalam lemari untuk mencari jas yang pantas bagi suaminya. Lalu, senyum simpulnya kembali berkembang. "Dan pakai jas ini." Sakura menyodorkan jas hitam rapi pada Sasuke. Lelaki itu menatap datar jas yang diberikan Sakura dan mengambilnya.
Sasuke melangkah tenang memasuki kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi pada Sakura. Wanita itu mengikuti langkah suaminya dengan tatapan mata lirih. Batinnya berkecamuk, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya pada Sasuke kalau Shion sedang sakit?
Sasuke keluar kamar mandi dengan setelan pakaian lengkap. Sakura tersenyum, diam-diam memuji ketampanan suaminya yang diluar batas. Dia seperti Dewa Yunani yang sengaja turun ke bumi untuk membuat kaum Hawa jatuh tak berdaya dengan pesonanya.
Sasuke yang menyadari senyuman Sakura langsung menyeringai kecil. Ia mendekati tubuh istrinya yang berdiri diam di tempatnya sembari menatapnya dengan kilatan mata sedikit memuja di sana.
"Kau mengagumi ketampananku?" Sakura tersentak kaget. Ia melempar handuk basah tanpa sadar dan mengenai wajah Sasuke. Ia menggigigit bibirnya, takut Sasuke akan membentaknya atau lelaki itu akan marah dan mengumpat padanya.
Namun, tidak ada reaksi yang menyeramkan dari lelaki itu melainkan sebuah tawa yang keras seakan menjawab semua.
Sakura tidak bisa menahan tawanya lagi saat Sasuke dengan sengaja melempar handuk basah itu ke arahnya. Ia berlari menghindar dan berhasil masuk ke dalam kamar mandi dengan gelak tawa yang masih terdengar di antara keduanya.
Ia bersumpah, setelah ini Tuhan akan mengutuknya dengan lebih kejam lagi karena tertawa di atas penderitaan orang lain.
.
.
Sakura melangkah dengan langkah malu-malu saat dirinya sudah sampai di teras restaurant mewah itu. Ia memang termasuk dalam bagian keluarga kelas atas. Tapi tidak ada bandingannya dengan Sasuke yang sudah terlahir menjadi kaya dan bertambah kaya semenjak ia merintis karirnya seorang diri tanpa bantuan dari Ayahnya. Begitu informasi yang Sakura dapat dari salah satu pelayan setianya.
Sakura berdiri dengan diam memandang ke dalam luasnya restaurant berbintang lima itu. Ia tidak pernah pergi ke sini sebelumnya.
Sasuke melirik Sakura yang berdiri gugup di sampingnya. Ia berdeham kecil, menarik tangan Sakura dan menggenggamnya lembut. Sakura sempat terkejut dan tertutupi oleh wajah datar Sasuke yang menjawab semua.
Lalu, para lelaki dan wanita segera berdiri menyambut kedatangan mereka. Sakura tersenyum ramah, sebisa mungkin untuk terus tersenyum agar dirinya tidak terlalu terlihat gugup di sini.
Salah satu wanita bersurai perak lembut menyalaminya dengan hangat. Sakura menyadari adanya tatapan mata ketulusan dari wanita ini. Ia tersenyum, menyambut uluran hangat tangan mungil itu.
"Aku, Uzumaki Hinata, kau pasti Uchiha Sakura?"
Sakura tersipu malu. Ia mengangguk dan duduk tepat di samping Sasuke yang menarik bangku dengan sopan untuknya. Lelaki itu tersenyum samar namun tak terlihat oleh lainnya. Hanya Sakura yang melihatnya.
Hinata tersenyum ramah pada Sasuke yang mengangguk padanya. Tatapan matanya kembali jatuh pada Sakura. "Aku ikut senang dengan pernikahan kalian. Semoga kalian bahagia."
Sakura berusaha membalas senyuman tulus Hinata. Ia tidak mungkin menahan senyumnya untuk kebohongan ini. Hinata adalah wanita yang baik. "Kau juga, Hinata."
Lalu, laki-laki bersurai kuning di samping Hinata menatap Sakura dengan tatapan kagumnya. Lelaki itu tersenyum lebar. "Aku mengenal istrimu, Sasuke. Ia adalah dokter di sebuah rumah sakit ternama di Jepang. Kau pasti bangga memiliki dokter pribadi di rumah."
Kilatan mata nakal Naruto membuat Sakura merona. Ia tersenyum mendapati wajah Sasuke yang menatap Naruto tajam dan lelaki itu tampak meringis.
"Sakura adalah dokter yang hebat." Naruto terus memujinya disertai anggukan Hinata yang menyetujuinya.
"Aaa, terima kasih."
Sasuke masih diam di sampingnya. Sesekali Sakura meliriknya. Tidak semua sama dengan sifat yang dimiliki Sasuke. Ada beberapa dari mereka yang mudah berbaur dengan sesamanya. Sakura merasa sedikit nyaman di sini.
"Hanya menunggu satu orang lagi dan kita bisa makan malam bersama." Salah seorang laki-laki bersurai hitam menimpali. Yang lain tampak sibuk berbicara dengan masing-masing rekannya dan para istri sedang bergosip ria.
Hinata bercerita tentang kehidupan rumah tangganya bersama Naruto yang sudah dibina selama dua tahun lamanya. Mereka sedang merencanakan tentang buah hati yang selama ini ditunda karena kesibukan Naruto yang terlalu padat. Sakura ikut tersenyum, ia senang mendengarkan Hinata bercerita mengenai kehidupannya.
"Maaf, aku terlambat." Suara hangat dari laki-laki berambut oranye membuat para tamu yang hadir menoleh. Terlebih Sakura yang menoleh ke arah sumber suara yang entah mengapa membuat jantungnya terasa berhenti berdetak.
Itu, Yahiko.
Itu calon suaminya yang dulu pergi meninggalkannya tiba-tiba dengan calon buah hati mereka.
Sakura tanpa sadar menjatuhkan sendoknya hingga berbunyi cukup keras. Membuat tatapan mata para tamu kini beralih padanya. Ia berusaha tersenyum, namun kalah dengan rasa gugup dan paniknya.
"Maaf."
Sakura mengambil sendok itu dan menaruhnya ke atas meja. Salah satu pelayan datang dan mengganti sendok itu dengan yang baru dan lebih bersih. Tatapan matanya jatuh memandang Yahiko yang menatapnya terkejut. Lelaki itu juga menampilkan wajah terkejut sama seperti dirinya. Namun, ia berhasil mengatasinya.
Sasuke melirik Sakura hati-hati. Ia melihat reaksi berbeda yang diberikan Sakura untuk rekan kerja barunya, Yahiko dari Perusahaan Akatsuki.
Wanita itu, istrinya, duduk di kursinya dengan gemetar hebat. Pandangan matanya tanpa sadar menajam menatap Yahiko yang tersenyum simpul dengan memandang Sakura. Tatapan mata itu, tatapan mata kelembutan yang entah mengapa membuatnya muak. Sasuke sudah mendengar semuanya dari Ibu Sakura, Mebuki. Yang menceritakan bagaimana kisah-kisah pilu Sakura dimulai.
Sasuke menoleh ketika Sakura mendongak, kembali tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Wanita itu berusaha tegar dengan tidak memandang Yahiko yang terasa begitu menariknya untuk sekedar meliriknya.
"Aku kenal dengan Haruno Sakura. Dia wanita yang hebat."
Sakura masih diam di tempatnya. Tampak tidak terpengaruh dengan kata-kata Yahiko yang kini memandang Sakura dengan dalam. Lelaki itu sudah selesai memakan makanannya. Para tamu yang sedang menyantap makanannya, langsung menatap Yahiko dengan pandangan ingin tahu.
Naruto mengelap sisa-sisa makanan di bibirnya. Ia tersenyum pada Yahiko, rekan kerja barunya yang sukses di bidang produksi yang begitu terkenal di Eropa. Ia dengan senang hati membiayai semua kebutuhan untuk membangun sebuah proyek besar Uzumaki dan Uchiha di Dubai dengan menjadi tendernya.
"Ya, Sakura adalah istri dari sahabatku, Uchiha Sasuke. Kau sudah mengenalnya?"
Tatapan Yahiko menggelap seketika. Ia memandang Sasuke dengan dalam dan ada kilatan persaingan di sana. Sakura yang menyadarinya langsung berdeham, membuat Sasuke yang duduk di sampingnya beralih menatapnya.
Yahiko tersenyum. "Oh, aku tidak tahu, kalau begitu, selamat Uchiha. Kau tidak memberitahuku sebelum ini kalau kau sudah mempunyai istri yang sangat cantik." Tatapan Yahiko kini beralih pada Sakura yang sedang meminum air putih untuk meredakan rasa gugupnya. Ia melihat tubuh Sakura gemetar di kursinya.
Pandangan Sasuke menajam menatap Yahiko. Kemudian ia tersenyum samar. "Kurasa itu tidak perlu."
Yahiko tertawa. Naruto juga ikut tertawa. Ia tidak menyadari adanya aura aneh di antara sahabatnya dengan lelaki tampang berambut oranye itu.
Sakura memaksakan diri untuk tertawa. Ia melirik Hinata yang memberikannya senyum simpul.
"Aku dan Sakura adalah teman dekat. Ia benar-benar wanita yang baik. Dulu aku dan dirinya bersahabat sejak kecil. Yah, semenjak insiden kecelakaan yang begitu menyakitkan untuk kami berdua."
Sakura menegang di bangkunya. Ia bergetar memegang peralatan makannya. Wajahnya pucat dan Sasuke menyadarinya. Yahiko, tersenyum tanpa ampun hingga membuat Sakura membeku di tempatnya.
"Tentang pekerjaan, ini sudah jelas. Aku menerima tawaran dua Perusahaan besar di bidang konstruksi, Uchiha dan Uzumaki. Tenang saja, kita bisa rapat di kemudian hari. Bersantailah, kawan, jangan terlalu tegang hari ini." Yahiko mengangkat anggurnya ke atas. Mengedipkan sebelah matanya pada Sasuke yang tampak tidak tertarik dengan ajakannya. Tatapan matanya kembali jatuh pada Sakura yang berusaha untuk mengabaikan keberadaannya.
Naruto dan para lelaki yang lain segera mengangkat gelasnya tinggi mengikuti Yahiko. Sasuke menarik napasnya, perasaannya sungguh tidak enak. Ia berkali-kali menatap Sakura yang seakan mati di tempat.
Lalu, Sasuke dengan berat hati mengangkat gelasnya dan mereka bersulang sembari tertawa kecil.
Sakura mendongakkan kepalanya, mendapati Yahiko yang menatapnya dengan kilatan mata nakal namun dalam padanya. Lalu, Sakura tersenyum, senyum simpul yang sejak tadi hilang tertelan rasa gugup dan terkejutnya.
"Senang bisa melihatmu lagi, Yahiko."
Sasuke tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar suara dalam Sakura yang mengalun begitu merdu namun terkandung nada kemarahan di sana. Yahiko tersenyum lebar, ia mengangguk pada Sakura.
"Aku tidak menyangka kalau Sasuke dan Sakura akan menjadi pasangan terkenal saat ini."
Sasuke menghiraukan kata-kata Naruto dan memilih menatap Sakura yang mengangkat dagunya, seakan menantang pada Yahiko yang duduk tegak dengan menatap nyalang padanya.
Karena penderitaan yang sesungguhnya baru saja dimulai..
.
.
Sakura berdiri dengan gugup di teras restaurant menunggu Sasuke yang masih berbicara dengan Yahiko dan rekan kerja lainnya. Naruto sudah izin pamit bersama Hinata di pelukannya. Mereka tampak bahagia dan Sakura senang melihatnya.
Lalu, tiba-tiba sosok Yahiko datang dengan senyumannya. Senyuman yang pernah membuat hati Sakura meleleh karenanya.
"Aku senang melihatmu lagi, Sakura," Yahiko berkata lirih. Ia tampak tidak peduli dengan tatapan tajam Sasuke yang begitu mengintimidasi dari dalam restaurant. "Aku merindukanmu."
Baru saja Yahiko ingin memeluknya ada tangan lain yang mencegahnya. Sasuke berdiri dengan memasang wajah datar andalannya, sedikit tersenyum miring, penuh mengejek.
"Kurasa, kau tahu kalau sekarang Sakura sudah memiliki suami. Jadi, berhati-hatilah." Suara Sasuke tenang namun mematikan. Sakura tidak sanggup berdiri lama-lama lagi di sini. Ia memandang Yahiko dengan pandangan terlukanya, menatap Sasuke yang begitu gigih membelanya seakan-akan lelaki itu tahu bagaimana penderitaannya.
Sakura berlari dari teras itu menuju taman terdekat. Ia terjatuh karena tersandung batu besar dan membuat hak di sepatunya patah. Sakura memejamkan matanya, meringis ketika sakit di kakinya semakin parah.
Ia berusaha untuk tidak menangis. Lalu, bayangan hitam datang begitu saja menghampirinya. Sakura akan berlari lagi jika Yahiko yang datang, tapi ternyata salah. Sasuke yang menyusulnya.
Lelaki itu menatap lirih Sakura dengan kakinya yang memerah dan wajahnya yang hampir menangis. Ia menghela napas, memposisikan diri berjongkok di depan Sakura.
"Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu."
Sakura sempat ragu sebentar. Ia menatap Sasuke dengan pandangan bertanya dan lelaki itu menghela napas lelah.
"Aku serius. Aku akan menggendongmu sampai ke mobil."
Sakura masih diam. Ia masih ingin di luar. Masih butuh waktu untuk sendiri. Ia berusaha melupakan ingatannya tentang sebuah nama besar yang tertulis di bagian depan map milik Sasuke waktu itu. Itu adalah nama Perusahaan Yahiko, ia mengetahuinya. Lelaki itu merintis karir dari bawah, dan ia mengetahui segalanya.
"Aku masih ingin berada di sini. Aku butuh udara segar."
Sasuke menarik napasnya. Kemudian ia mengangguk kecil. "Aku akan menggendongmu sampai ke ayunan itu. Naiklah."
Sakura dengan ragu-ragu naik ke punggung Sasuke. Ini kali pertama ia bersentuhan dengan Sasuke selain ciuman singkat pernikahan waktu lalu. Selebihnya, tidak. Ia pernah melakukan ini bersama Yahiko dulu. Saat mereka masih bersama.
Sasuke tidak merasakan bahunya basah atau getaran dari tubuh Sakura. Wanita itu tampak tenang, tidak terpengaruh apa yang baru saja terjadi.
Sasuke menurunkan Sakura di ayunan dekat bangku taman. Taman ini cukup terang dengan adanya beberapa lampu yang terpasang mengelilingi taman besar ini. Sakura tersenyum pada Sasuke yang mengambil tempat di sebelahnya. Berayun bersama.
"Seharusnya kau menangis," gumam Sasuke rendah. Ia takut menyinggung hati istrinya yang sedang kacau.
Sakura tersenyum kecil. Ia mulai berayun pelan. "Jika aku menangis, apa kau mau memelukku?"
Sasuke terdiam sesaat. Lelaki itu menundukkan kepalanya sebentar. Menatap kosong rumput kering di bawahnya.
Sakura tersenyum kecil. Ia kembali berayun dalam tempo pelan. Menikmati semilir angin yang berhembus mengenai wajah cantiknya.
"Ya."
Sakura menoleh bingung pada Sasuke yang kini mendongak, tersenyum tipis padanya di bawah temaram sinar lampu taman.
"Aku akan memelukmu jika kau menangis. Kapanpun kau menangis, aku akan selalu ada untuk memelukmu."
Sakura tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Ia terisak di tempatnya dan tangan Sasuke yang tiba-tiba menariknya dan memeluknya. Menenggelamkannya di dalam dekapan dadanya yang hangat. Membuat Sakura terbuai dalam kehangatan. Tanpa sadar, air matanya kembali menetes. Membasahi rumput di bawahnya dalam keheningan. Sakura menangis dan ia sebisa mungkin menahan isakannya.
Pelukan Sasuke semakin mengerat. Memorinya terlempar saat melihat Shion yang hancur dan wajah Yahiko yang kembali datang ke dalam hidupnya.
Ya, Tuhan akan menghukum mereka lebih berat lagi dari ini.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
A/N:
Update ASAP untuk fic ini! AHAHA idenya lagi lancar jaya di sini. Jadi, kita tunggu aja ya, semoga cepat tamat juga. Saya masih punya banyak utang dan list fanfic coming soon :")
Maaf saya gabisa balas satu-satu reviewnya. Tapi terima kasih banyak. Saya senang bacanyaa! Love u guys! :3
P.s: ada yang tahu jual kaset drama Korea atau drama Turki yang trusted dimana? Mohon bantuannya, terima kasih sebelumnya :"3
Lots of love
Delevingne
