Innocence

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Warning: Typo(s), Miss Typo, Alternative Universe.

.

Dedicated for nuniisurya26

.


Jadi, Sayang, hati mana lagi yang akan terluka dengan segala kepalsuan ini?


.

.

.

Yahiko menggenggam gelas anggurnya kuat-kuat. Jutaan emosi mengalir di dalam hatinya dan ia merasa, ada sesuatu yang meremas kuat jantungnya oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Ia tidak menyangka akan melangkah sejauh ini. Keputusannya kembali ke Jepang, membuatnya harus kembali mengingat kenangan lamanya. Kenangan yang selalu menghantuinya setiap malam, setiap tidurnya.

Semuanya sudah diaturnya, semua pergerakan kehidupannya ia kendalikan dengan baik. Namun, semuanya berantakan. Semua harapannya, perasaan yang dikuburnya jauh-jauh di dalam hatinya, kini kembali mengembang.

Pertemuannya kembali dengan Sakura, membuatnya bahagia sekaligus sedih. Ia pernah menyakiti wanita itu, membuatnya menangis, meninggalkannya dengan luka yang tidak akan pernah sembuh selamanya. Tapi, Yahiko punya keinginannya sendiri. Apapun itu, ia harus membuktikan semuanya. Menjelaskan pada Sakura apa yang terjadi dan kembali merebut hati wanita itu.

Bagaimanapun caranya.

.

.

Lampu kamar yang temaram membuat Sakura lebih leluasa memandang suaminya yang tengah tertidur pulas tanpa terganggu oleh cahaya bulan yang mengintip dari celah-celah jendela dan menerpa sebelah wajahnya. Sakura terjaga sejak satu jam yang lalu. Ia tidak bisa memejamkan matanya barang sedikit pun. Mimpi buruk itu datang lagi. Memaksanya untuk tetap terjaga agar terhindar dari mimpi itu lagi.

Hari ini, hari terberat selama hidupnya. Ia dikejutkan dengan pasien wanita yang notabene mantan kekasih suaminya sendiri, yang tentu saja Sasuke tidak menceritakan padanya. Dan kembalinya Yahiko yang tiba-tiba membuat dunianya berputar seratus delapan puluh derajat. Bagaimana ia bisa mengatasi ini?

Sakura mengusap wajahnya yang lelah. Meminum obat tidurnya tidak cukup untuk mengembalikan kenyamanan tidurnya. Ia tidak boleh meminum lebih dari dua butir, itu akan membahayakannya.

"Mengapa kau belum tidur? Ini sudah jam dua pagi." Suara serak Sasuke sehabis tidur membuat Sakura tersadar dari lamunannya. Sakura mendesah berat, melipat kedua tangannya di atas pangkuannya.

"Aku tidak bisa tidur."

Sasuke mengusap kedua matanya. Mata elang yang terpejam itu kini terbuka sepenuhnya. Sakura masih mengamati Sasuke yang perlahan-lahan bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Menatapnya.

"Kemarilah," Sasuke mengulurkan tangannya namun Sakura masih belum bergerak dari tempat duduknya.

Sasuke mendesah. "Tidak apa, Sakura. Kau butuh tidur."

Sakura memutuskan untuk tidak mendebat suaminya kali ini. Ia bangun dari kursinya, menghampiri Sasuke dan menyambut uluran tangan besar itu dengan wajah sedih.

"Tidak akan ada mimpi buruk lagi saat kau berhenti memikirkan segala kemungkinan yang ada. Yahiko tidak berarti apa-apa lagi untukmu, bukan? Lupakan saja dia." Sasuke menariknya untuk berbaring bersama di atas tempat tidur. Sakura menurutinya dalam diam, mencerna baik-baik kata suaminya sebelum wanita itu memutar tubuhnya untuk membelakangi Sasuke yang menatapnya.

"Seandainya, aku bisa melupakannya semudah itu." Sakura memejamkan matanya, tidak melihat bagaimana ekspresi wajah Sasuke yang menatap punggungnya dengan pandangan tak terbaca.

.

.

Uzumaki Naruto masuk ke dalam ruangan sahabat kecilnya tanpa perlu mengetuk pintunya. Sasuke sedang ada di sana, duduk dan membaca laporannya. Mengabaikan Naruto yang mendesah berat di tepi pintu.

"Ketuk dulu pintunya," ketus Sasuke.

Naruto mendengus, ia mengulurkan tangannya ke pintu dan mengetuknya tiga kali.

Sasuke menjatuhkan laporan dari tangannya dan menatap Naruto datar. "Apa yang terjadi?"

Naruto tertawa sinis. "Apa yang terjadi katamu? Kau ini gila atau apa? Membatalkan begitu saja kontrak kerja kita dengan Perusahaan Yahiko? Kau punya masalah apa dengannya, Sasuke?!" Teriak Naruto tanpa sadar.

Sasuke hanya diam. Ia memundurkan sedikit kursi kerjanya, menatap ke arah lukisan di ruang kerjanya dengan lirih. "Bukan urusanmu. Yang terpenting, aku tidak ingin bekerjasama dengannya. Itu saja."

Naruto menghembuskan napasnya keras-keras. Ia menarik bangku agar lebih dekat dengan Sasuke yang memilih untuk kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

"Kau tidak bercerita apapun tentang masalahmu," dahi Naruto berkerut. "Seperti pernikahanmu, misalnya."

Sasuke menahan napasnya sesaat. Ia melirik Naruto dari balik kertasnya, memandang Naruto yang ikut mengerutkan alisnya ketika Sasuke menatapnya datar. "Untuk apa kuceritakan? Kau sudah tahu kalau aku menikah."

Naruto mengangkat bahunya, tampak acuh. "Aku tahu benar siapa dirimu, Sasuke. Sebelumnya, kekasihmu adalah Shion bukan Sakura. Dan lukisan-lukisan ini," Naruto menatap satu-persatu lukisan yang terpajang di ruangan sahabatnya. "Ini tentang Shion, semua tentang wanita itu. Apa yang coba kau sembunyikan dariku?"

Sasuke mendesah berat. Ia tidak lagi fokus pada kertas-kertas kerjanya, matanya menatap kosong pada Naruto yang ikut menatapnya sedih.

"Tidak ada."

Naruto hanya mengangguk. Memilih untuk mengunci bibirnya rapat-rapat dan berhenti mengganggu Sasuke dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya.

.

.

Saat Sakura pergi ke rumah sakit, ia dikejutkan dengan kehadiran Sara, adik kandung Shion yang duduk di kursi ruangannya yang tidak terkunci. Sakura menutup pintu belakangnya, menatap Sara bingung setelah melihat mata gadis itu yang membengkak dan kedua pipinya yang masih basah.

"Apa ada yang salah?" tanya Sakura hati-hati.

Sara hanya diam. Ia kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Sakura ketika ia mendekatinya. Sara menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu kembali terisak.

"Dimana kakakmu? Mengapa ia tidak datang?"

Sara masih terisak. Ia belum membuka kedua tangannya dari wajahnya. Bahu gadis itu masih bergetar.

Sakura mengambilkan segelas air untuknya. Sara menerimanya setelah mengucapkan kata terima kasih dan tangan gadis itu terulur untuk menghapus air matanya.

"Kakak tidak bisa datang hari ini, kondisinya parah," isak Sara.

Sakura membeku di tempat duduknya. "Apa maksudmu?"

Air mata kembali jatuh membasahi pipinya. "Dia tidak makan sehabis terapi. Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan dengan dirinya, dia hanya menangis di kamar. Mengunci pintunya dari dalam dan berteriak-teriak bak kesetanan. Aku takut, kedua orang tuaku takut. Mereka semua takut."

Sakura mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas mejanya. Memandang Sara yang memejamkan matanya menahan tangis dan luka di wajahnya semakin tergambar jelas. Sara hanyalah gadis kecil yang terluka ketika melihat orang yang dicintainya menderita. Sakura juga akan merasakan hal yang sama jika ia ada di posisi gadis itu.

"Ayah menjadwalkan untuk membawa kakak ke luar negeri, tapi dia menolak. Dia bilang, dia ingin tinggal di sini selamanya. Walaupun dia tak sanggup, tapi ia memaksakan diri."

Sakura masih diam.

"Aku mencoba menghubungi Sasuke, tapi tidak ada jawaban. Selalu begitu. Aku mencoba untuk menemuinya, tapi dia selalu sibuk. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Orang tuaku tidak ingin lagi berurusan dengan Uchiha Sasuke dan keluarganya, mereka memutuskan ikatan begitu saja. Sejujurnya, aku juga marah," Sara menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan Sakura. "Tapi, hanya Sasuke yang bisa menyembuhkan kakak, hanya dia. Aku tidak tahu setan apa yang mendorong kakak datang ke pernikahannya dan kembali dengan wajah yang kacau dan mata membengkak."

Sara tersenyum pada Sakura yang memandangnya sedih. "Kakakku adalah orang terkuat, bukan begitu, dokter?"

Sakura menarik napas dalam-dalam. "Apa kau tahu siapa yang dinikahi Uchiha Sasuke?" Mata Sakura meneliti wajah Sara yang memerah, mencari tahu kebenarannya di sana.

"Tidak," Sara menggeleng sedih. "Kakak tidak pernah memberitahukannya pada kami. Dia menyembunyikannya."

Sakura menggenggam pulpennya terlalu erat hingga telapak tangannya memerah. Pemandangan wajah Sara yang terluka dan sosok Shion yang masih membayanginya membuat hatinya berdesir hebat. Ia merasa, dirinya terlalu jahat. Terlalu jahat hingga membuat orang lain menderita.

"Bawalah Shion ke rumah sakit, mereka akan membantu kakakmu di sana." Sakura mengatakannya dengan hati-hati.

Sara menghapus air matanya, tersenyum. "Kami akan membawanya nanti sore, dokter. Aku tahu, kau pasti bisa menyembuhkannya walau membutuhkan waktu yang lama," kali ini senyum Sara lebih lebar. "Orang tuaku mempercayakan kakak padamu. Aku menceritakan bagaimana hebatnya dirimu pada mereka. Mereka sangat senang, mungkin setelah ini mereka yang akan mengantar kakak padamu. Mereka benar-benar mempercayaimu untuk menyembuhkan putri pertama mereka."

Sakura merasa kepalanya seperti dijatuhi benda berat yang tak kasat mata dan terasa menyakitkan. Kepalanya tiba-tiba menjadi pening seketika. Sara mengulurkan tangannya, tersenyum lembut pada Sakura bahkan ketika gadis itu menatap Sakura penuh keyakinan.

"Terima kasih, dokter. Kau benar-benar yang terbaik, maaf kalau aku mengganggumu."

Dengan tangan sedikit bergetar, Sakura menyambut uluran tangan Sara. Ikut tersenyum ketika gadis itu keluar ruangan dengan perasaan lega yang berhasil Sakura tangkap dari gerak-geriknya. Setelah pintu tertutup, Sakura bangkit dari kursinya, berniat mengambil segelas air untuk dirinya minum, namun tangannya yang bergetar tidak kuasa mengangkat gelas hingga membuat gelas itu terjatuh ke lantai dan pecah. Meninggalkan luka goresan di telapak tangannya yang cukup lebar dan berdarah.

Sakura jatuh terduduk di sofanya, tidak memedulikan rasa sakit yang mulai merayap di sela-sela lukanya. Perasaannya jauh lebih terkoyak saat ini.

.

.

Sara keluar dari teras rumah sakit dengan wajah yang segar setelah mencuci muka. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan sang kakak maupun kedua orang tuanya. Mereka akan khawatir jika Sara bertindak kelewatan.

Ketika kepalanya mendongak, ia melihat sosok Uchiha Sasuke yang berdiri membeku tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Tatapan lelaki itu mengunci padanya, menatap matanya seolah-olah ia tidak pernah melakukan hal keji sebelumnya.

Sara tersenyum miring, ia merasa lebih kuat sekarang. Bebannya cukup terangkat ketika ia menceritakan semua masalahnya pada sang dokter.

"Uchiha Sasuke," desisnya ketika ia mendekatkan diri untuk bisa berhadapan dengan Sasuke.

"Apa aku harus memanggilmu dengan sebutan kakak lagi?"

Sasuke memalingkan wajahnya, menyipitkan sedikit matanya ketika terpaan sinar matahari terasa menyilaukan pandangannya. "Tidak." Jawabnya singkat.

Sara terdiam. Ia tidak berkata apa-apa lagi ketika sosok Sasuke melewati tubuhnya begitu saja. Kepalan kedua tangannya semakin erat di sisi tubuhnya.

"Apa kau tidak ingin tahu bagaimana kabar Shion saat ini?" lirih Sara ketika ia merasa kalau Sasuke menghentikan langkahnya dan mendengarkan setiap ucapannya.

Sara memutar tubuhnya, menatap kosong pada punggung lebar Uchiha Sasuke.

"Tidak."

Sara memalingkan wajahnya ketika kata-kata yang tidak ingin ia dengar keluar dari bibir lelaki itu. Lelaki yang pernah menjadi alasan sang kakak bahagia.

"Kau tidak ingin melihatnya? Tidak ingin tahu apa yang dia alami saat ini?" tanya Sara lagi.

Sara bisa melihat Uchiha Sasuke menghembuskan napasnya. Terlihat jelas bagaimana punggungnya yang naik turun.

"Tidak."

Sara menutup mulutnya yang hampir mengeluarkan isakan. Setidaknya, Sasuke tidak menoleh ke arahnya. Jadi, lelaki itu tidak tahu kalau ia akan kembali menangis.

"Semoga Tuhan membalasmu, semoga Tuhan memberikan penderitaan yang lebih sakit dari ini. Semoga." Teriak Sara.

Sasuke hanya diam. Ia tahu, dirinya akan diperlakukan seperti ini oleh orang lain. Tidak ada lagi suara Sara di belakang punggungnya, ketika Sasuke memutar kepalanya, sosok Sara sudah menghilang dan pergi entah kemana.

Sasuke menghembuskan napas panjangnya. Rencananya mengajak Sakura makan siang hari ini harus batal karena dirinya tidak sanggup lagi menginjak anak tangga rumah sakit. Ia memutuskan untuk kembali ke mobil dan pergi.

Masih ada lain waktu. Sasuke janji, setelah ini ia akan kembali ke sini dan mengajak Sakura makan siang bersama.

.

.

"Uhm, Naruto, kapan Sasuke akan kembali?"

Naruto mengangkat bahunya tinggi. "Mungkin sebentar lagi? Aku tidak tahu. Ponselnya tidak bisa dihubungi."

Yahiko memutar matanya bosan. "Kau menjawab dengan kalimat yang sama setengah jam yang lalu."

Naruto hanya tersenyum menyesal. Ia melirik beberapa kali jam tangannya, menunggu Sasuke yang tidak kunjung tiba ke ruang rapat. Naruto merahasiakan ini dari Sasuke, kalau mereka akan rapat bersama Yahiko. Yang jelas-jelas Sasuke tidak akan mau datang.

Jam makan siang sudah berlalu satu jam yang lalu. Naruto sudah mengabari Sasuke kalau mereka akan rapat mengenai proyek baru Dubai untuk beberapa bulan ke depan dan Sasuke menyetujuinya. Lelaki itu berjanji akan datang rapat setelah makan siang.

Seingatnya, Sasuke bilang padanya kalau ia akan mengajak istrinya untuk makan siang bersama dan menjemput wanitanya dari rumah sakit baru kembali ke kantor.

Naruto memusatkan perhatiannya pada Yahiko yang duduk gelisah di tempatnya. Ada masalah yang terjadi antara Sasuke dan Yahiko yang tidak ia ketahui dan masalah itu cukup besar. Sampai-sampai, Sasuke membatalkan semua rencana proyek mereka jika tendernya adalah Perusahaan Yahiko.

Pintu terbuka, sosok Sasuke muncul ketika ia kembali menutup pintunya. Naruto mendesah lega, ia tersenyum lebar ketika Sasuke menarik bangku untuknya duduk dan mulai siap bekerja.

"Kau terlambat, Uchiha. Jam berapa ini?" Seru Yahiko.

Sasuke baru saja membuka berkasnya sebelum suara yang ia tak ingin dengar mengusik telinganya. Sasuke mendongak, mendapati wajah Yahiko yang masam dan tak bersahabat menjadi objek pandangannya.

Sasuke tahu kalau ia terlambat, dan ia sangat ceroboh karena melupakan berkas rapatnya kali ini. Maka dari itu, ia terlambat rapat. Dan ia sangat terburu-buru untuk sekedar menyapa para anggota rapat saat ini.

Naruto menatap Sasuke yang kini menutup berkasnya kasar. Pandangan mata tajamnya mengunci Yahiko yang kini menatapnya tanpa rasa bersalah.

"Apa masalahmu, Uchiha?"

Sasuke menoleh pada Naruto yang kini menampilkan wajah bersalahnya. Sasuke akan marah padanya, ini sudah jelas. Ia membohongi sahabat terbaiknya. Dan Sasuke bukan tipikal orang yang suka dengan kebohongan.

"Sasuke, aku bisa jelaskan—"

"—tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku tidak ikut rapat. Lanjutkan." Sasuke menutup berkasnya kasar dan keluar ruangan tanpa kata-kata lagi.

Naruto mendesah berat di kursinya. Ia memasang wajah menyesal pada anggota rapat ketika tatapan kekecewaan mengarah padanya. Naruto yang memegang kendali terbesar setelah Sasuke, dan jika Sasuke melepas tanggungjawabnya, maka ini akan menjadi masalahnya. Naruto perlu bantuan sahabatnya dalam hal ini. Proyek ini memakan waktu yang lama dan juga biaya yang tidak sedikit. Sasuke sudah berjuang cukup lama untuk proyek besar disaat Naruto mencari tender untuk pembangunan ini. Dan sekarang?

"Rapat akan dilanjutkan nanti. Aku akan menghubungi masing-masing dari kalian. Aku minta maaf." Naruto mengemasi barang-barangnya dan keluar ruangan. Tidak ingin berada di dalam rasa bersalah terus-menerus karena tingkah Sasuke yang cukup aneh menurutnya.

.

.

Sakura pulang lebih cepat karena ada dokter pengganti yang mengganti jamnya hari ini. Semenjak keluar rumah sakit, jam kerja Sakura dipotong dan ia bisa pulang lebih awal.

Ketika ia menginjakkan kakinya keluar teras, sosok Yahiko yang bersandar pada mobil mengejutkannya. Sakura hampir saja berbalik jika Yahiko tidak mengejarnya dan menghalangi langkahnya.

"Kita perlu bicara."

Sakura menggeleng mantap. "Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kita sudah selesai."

Yahiko menampilkan wajah terlukanya dan itu tidak berefek sama sekali pada Sakura yang kini memalingkan wajahnya. Merasa muak ketika melihat wajah Yahiko.

"Aku harus pulang," Sakura memutar tubuhnya, mempercepat langkahnya ketika ia menuruni tangga teras rumah sakit dan memberhentikan bus di pinggir jalan.

Sakura duduk di bangku paling ujung bis yang membawanya pulang ke rumah. Yahiko tidak mengejarnya sampai ke dalam bus. Sakura menutup wajahnya, memejamkan matanya yang terasa berat jika terbuka. Ia ingin segera tidur.

Tidur dalam arti selama-lamanya.

Sejak kapan dirinya menjadi lemah seperti ini? Yahiko sudah lama mati dari hidupnya. Lelaki itu tidak berhak lagi menyapanya atau bahkan menyentuh tangannya. Sudah selesai. Mereka sudah selesai semenjak Yahiko memutuskan untuk pergi meninggalkannya dengan luka dan kacaunya sebuah pernikahan.

Sakura membuka tasnya, mendapati ponselnya yang bergetar hebat ketika Sasuke menghubunginya. Sakura menatap lirih layar ponselnya. Pikirannya terlalu lelah hanya untuk sekedar menatap nama yang kini terpampang di layar ponselnya. Bahkan, Sakura sedang tidak ingin mendengar suara suaminya. Ia benar-benar butuh sendiri.

Dan ia juga tidak mungkin pulang ke rumah orangtuanya. Mereka akan khawatir padanya. Menanyakan beribu pertanyaan yang tidak ingin Sakura jawab saat ini. Ia hanya butuh waktu sendiri. Terlepas dari semua masalahnya.

Sakura kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Memilih untuk mengabaikan getaran hebat ponselnya dan berbicara langsung pada Sasuke mengapa ia tidak menjawab panggilannya. Dengan alasan yang sudah ia siapkan tentunya. Dan semoga saja, Sasuke percaya.

Ya, semoga saja.

.

.

Sakura mencuci wajahnya di wastafel setelah membersihkan kamarnya. Sasuke mengirimnya pesan singkat kalau ia akan pulang cepat dan Sakura tidak perlu memasak makan malam untuk mereka. Maka dari itu, untuk mengatasi rasa bosannya menunggu sang suami pulang, Sakura memilih untuk membersihkan kamarnya dan sedikit mencari hiburan lewat televisi yang ia tonton.

Sakura tidak terlalu fokus menonton acara hari ini. Pikirannya terbang melayang ketika wajah Yahiko yang terluka mengganggunya. Dan wajah Sara yang tidak berdosa ikut terluka, itu juga mengganggunya.

Sakura tidak mendengar pintu terbuka, ia hanya mendengar ada langkah seseorang yang masuk ke dalam ruangan dan mengejutkannya tiba-tiba ketika Sasuke menyentuh bahunya lembut dan mengusapnya.

"Selamat datang." Sakura bangun dari sofa nyamannya dan tersenyum lebar pada Sasuke. Wajah lelaki itu terlihat sangat lelah dan Sakura memberanikan diri mengusap rahang tegasnya dengan lembut.

Sasuke mendesah berat dan tanpa sadar menjauhkan wajahnya dari usapan lembut tangan istrinya. Ia mengangkat sekantong plastik yang berisikan makan malam mereka dengan sebuah senyum simpul. "Hanya saran dari seorang teman. Ia bilang kalau masakan cina sangat enak. Aku mencobanya."

Sakura mengulum senyumnya, ia mengambil kantong itu dari Sasuke dan membawanya ke dapur.

"Oh, ya," Sakura menghentikan langkahnya, ia memandang Sasuke yang bersiap menaiki tangga menuju kamar mereka. "Aku menyiapkan air hangat untukmu mandi. Udara diluar sangat dingin, aku rasa kau butuh air hangat untuk membantu menyegarkan tubuhmu."

Sasuke mengangguk singkat dan kembali menaiki anak tangga. Meninggalkan Sakura yang menatapnya kosong dari bawah.

.

.

"Kenapa kau tidak menjawab teleponku?" tanya Sasuke ketika Sakura menghidangkan kopi hitam yang masih mengepul dan sepiring camilan kecil untuk menemaninya bekerja.

Sakura menarik kursi agar ia lebih dekat dengan meja sang suami. Ia menaruh nampannya di atas meja. "Aku tidak dengar kau meneleponku. Saat aku ingin mengirimu pesan singkat, baterai ponselku mati. Maaf." Desah Sakura berat.

Sasuke menggeleng kecil. "Aku hanya ingin tahu apa kau mau pulang bersamaku atau tidak. Tapi, pihak rumah sakit bilang kau pulang lebih awal ketika aku menjemputmu ke sana."

Sakura membulatkan matanya terkejut. Ia takut jika Sasuke menemukan Yahiko di sana atau mobil Yahiko di parkiran atau apapun yang berbau lelaki itu di sana. "Lalu?"

"Lalu?" Sasuke mengangkat alisnya bingung.

Sakura menggeleng kecil sembari tersenyum bersalah. "Tidak apa-apa. Aku tidak tahu kalau kau ingin pulang bersamaku. Kalau tahu, aku akan menunggumu di ruanganku."

"Ini salahku. Aku tidak menghubungimu sejak pagi. Pekerjaan sangat membutuhkanku. Aku akan memberitahumu lebih awal nanti kalau begitu." Sasuke kembali memegang penanya, mulai sibuk bersama berkas-berkas laporannya.

"Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Sakura ketika wanita itu mengadahkan sedikit kepalanya dan mengintip tulisan yang ada di berkas laporan suaminya.

Sasuke mendesah berat. Wajahnya terlihat sangat lelah. "Aku punya rencana untuk membangun sebuah hotel di Dubai. Ini memakan waktu yang lama dan biaya yang besar. Aku harus menyelesaikan laporannya berserta gambar sketsanya. Mereka memberikan waktu sampai lusa."

Sakura mengangguk mengerti. Ia melirik sebuah kertas besar yang bergambar gedung pencakar langit tinggi yang ada di barisan teratas dokumen milik suaminya.

"Dan kau sudah menyelesaikannya?"

Sasuke menaruh pulpennya dan mengambil gambar di kertas itu. "Sedikit lagi. Aku hanya perlu memberikan sedikit goresan untuk akhir yang sempurna."

Sakura tersenyum lembut. Merasa bangga pada suaminya yang memiliki bakat yang sangat hebat menurutnya. Sakura hanya tahu kalau Sasuke berkerja untuk Perusahaan arsitek terkenal di Tokyo. Dan ternyata, lelaki ini adalah atasan tertinggi di sana. Dengan segudang prestasi yang Sasuke raih, tidak heran kalau ia bisa sesukses ini.

"Ayahku pintar menggambar, tapi aku tidak," Sakura tersenyum ketika mata kelam suaminya memperhatikannya. "Aku ingin sekali bisa menggambar. Yah, walaupun hanya sekedar bunga atau benda-benda di dalam rumah. Tapi, aku tidak bisa."

Sasuke kembali menggambar dengan pensilnya. Ia hanya diam ketika Sakura kembali melanjutkan ceritanya.

"Lalu, pernah suatu hari aku mencoba menggambar seseorang dengan modal sebuah tekad yang kuat. Aku mengambil pensil dan mulai menggambarnya, tapi hasilnya sangatlah buruk," Sakura tertawa ketika mengingatnya, membuat Sasuke yang tengah sibuk dengan gambarnya ikut tersenyum kecil. "Aku menjadikannya seperti seorang monster yang menyeramkan. Alis yang terlalu tebal, bentuk hidung yang besar dan bibir yang lebar. Aku benar-benar tidak berbakat."

Sasuke tertawa kali ini karena cerita polos istrinya ditambah ekspresi wajah Sakura ketika mengingatnya. Istrinya mempunyai pengalaman yang tidak biasa ketika menggambar. Sangat kontras dengannya. Sasuke yang dulu, ketika pertama kali mencoba menggambar seseorang, ia langsung bisa menguasainya dengan mudah dan hasil yang bagus. Meski tidak sebagus sekarang, ia tahu kalau kemampuannya sudah sangat baik dulu. Itu adalah gambar pertamanya, dan gambar itu masih tersimpan di suatu tempat yang hanya dirinya yang tahu.

"Apakah itu Yahiko?" Sasuke mengucapkannya tanpa sadar.

Sakura terdiam ketika Sasuke mengucapkan nama itu lagi. Sasuke menatapnya dengan rasa bersalah ketika wajah Sakura yang sedih dan tatapan wanita itu yang kosong menjadi pemandangan yang tidak ia ingin Sasuke lihat.

Sakura menghembuskan napasnya. "Bukan. Dia hanyalah anak kecil bagian dari masa laluku. Ini tidak ada kaitannya dengan dirinya."

Sasuke menghembuskan napas lega tanpa sadar. Ia mengangguk kecil. Kembali pada aktivitasnya dan sesekali melirik Sakura yang duduk diam mengamati perpustakaan kecilnya.

"Buku-buku di sini sangatlah berat untuk dibaca." Sakura mendesah berat. Ia memandang buku-buku koleksi Sasuke dengan pandangan sedih.

"Aku membelinya ketika masih remaja. Saran dari Itachi dan Ayahku yang membuatku membeli buku-buku itu. Aku mengoleksinya dan membacanya ketika ada waktu luang."

Sakura menoleh pada suaminya. "Waktu luang?"

Sasuke mengangguk. Ia menutup kertas gambarnya dan menaruh pensil ke dalam sebuah tempat berbentuk gelas yang berbahan besi ringan. "Masa mudaku disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang tidak penting. Aku gemar bermain basket, berenang, menggambar, apapun yang tidak berkaitan dengan pelajaranku. Aku membacanya ketika aku berumur dua puluh dua. Awalnya, aku tidak tertarik dengan buku-buku itu. Tapi, setelah aku membacanya, aku banyak mengerti dan memaknainya dalam kehidupan. Ini sangat membantu."

Sakura mengangguk, ia menatap kagum pada buku-buku yang berjejer rapi di raknya dan Sasuke menjaganya dengan sangat baik.

"Mungkin aku akan meminjamnya lain waktu? Aku rasa aku bisa membacanya ketika aku berusaha. Bolehkah?"

Sasuke mengulum senyumnya. "Tentu saja. Kau boleh meminjamnya kapan saja kau mau."

.

.

Sakura menarik kursi meja makan. Ia dibangunkan oleh mimpi buruk yang membuatnya selalu terjaga tengah malam. Sasuke tertidur pulas dan sepertinya lelaki itu tengah bermimpi indah sampai-sampai ia tidak mendengar gumaman ketakutan Sakura tadi. Sakura bersyukur akan hal itu, Sasuke tidak melihat ketidakberdayaannya mengalami mimpi buruk yang mengerikan.

Sakura mengelap keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya. Tangannya kembali bergerak untuk menuangkan segelas air dingin ke dalam gelasnya. Ditemani dengan lampu tidur ruangan yang menyala, Sakura merasa ini tempat yang sangat cocok untuk dirinya sendiri ketika menghadapi suatu masalah.

Ia baru saja bermimpi. Mimpi yang membuatnya ketakutan setengah mati. Dimana di dalam mimpi itu, ia menyaksikan sendiri Shion yang menggoreskan pisau ke lehernya di depan matanya dan Sasuke yang berteriak karena tindakan Shion hingga membuat wanita malang itu harus kehilangan nyawanya. Dan pemandangan yang mengerikan selanjutnya terjadi adalah Sasuke yang menangis dan laki-laki itu juga membunuh dirinya sendiri dengan pisau yang sama dengan menusukkan ke bagian dadanya. Membuat Sakura berteriak ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan nyawa keduanya.

Apakah itu sebuah pertanda kalau hal yang mengerikan akan terjadi? Jikapun iya, Sakura berharap itu tidak akan terjadi pada mereka berdua.

Sakura tidak sanggup melihat Shion yang menderita dan Sasuke yang ikut merasakan penderitaan wanita itu. Ia tidak akan tega dengan mereka berdua. Melihat kondisi Shion saat ini, kemungkinan besar akan terjadi. Dan Sakura harus memberitahu Sasuke mengenai semuanya. Tidak sebelum terlambat.

Sakura mengusap wajahnya. Air mata kembali menggenang di netra teduhnya. Sakura menggigit bibir bawahnya. Menahan isakannya agar Sasuke tidak terbangun karena dirinya. Lelaki itu butuh istirahat karena beban hidupnya yang terlalu berat dan Sakura tidak sanggup jika ia menjadi beban suaminya.

"Wanita bodoh. Kau memang wanita bodoh, Sakura." Isaknya.

.

.

Sasuke terbangun dari mimpi buruknya. Napasnya terengah-engah dan debaran jantungnya yang menggila seiring menghilangnya mimpi itu perlahan-lahan dari kepalanya ketika ia terbangun. Keringat dingin mulai mengalir dari dahinya lalu turun membasahi telapak tangannya. Sasuke mengusap wajahnya. Pergerakan napasnya masih belum teratur akibat mimpi mengerikan itu.

Kepalanya menoleh, mencari keberadaan istrinya yang tidak ada di sampingnya sejak tadi. Sisi tempat tidurnya kosong dan Sakura tidak ada di sana.

Kepanikan menyerang Sasuke secara tiba-tiba. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berlari mencari Sakura ke seluruh kamarnya.

Mimpi mengerikan itu begitu menakutkannya. Sasuke berharap kalau Sakura tidak melihatnya ketakutan dan bergerak-gerak gelisah yang bisa mengganggu tidurnya. Semoga saja.

Sasuke keluar dari kamarnya. Ia masih mencari keberadaan istrinya disekitar balkon, kamar tamu dan masih banyak tempat lainnya sebelum ia bergerak menuruni tangga dan menemukan Sakura dengan wajah mengantuk sedang melangkah menaiki tangga.

"Sasuke?" Sakura mengerutkan alisnya bingung ketika melihat wajah ketakutan yang bercampur kepanikan pada lelaki itu. Sasuke bergera mendekatinya dengan tidak sabar, menarik tangannya dan Sakura jatuh ke dalam pelukannya.

Sakura merasakan bahu yang bergetar seiring pelukan Sasuke yang mengerat memeluknya. Sakura mengepalkan tangannya dengan meremas piyama suaminya, memejamkan matanya sejenak dan mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Sasuke padanya.

Tubuh Sakura membeku ketika ada air mata yang jatuh membasahi piyama yang dipakainya. Sasuke menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di bahunya.

"Sasuke, ada apa?" Sakura tidak ingin melepas pelukan mereka kalau ini memberatkan Sasuke. Ia menunggu dengan sabar saat Sasuke melepas pelukan mereka perlahan-lahan dan wajah hancur suaminya yang menjadi objek pertama yang Sakura lihat ketika lampu ruangan menerpa wajah tampannya.

Sasuke hanya diam saja. Pandangannya kosong sekaligus terluka ketika mata kelam yang basah itu menatap Sakura dengan dalam. Sakura memberanikan diri untuk mengusap pipi tegasnya, tersenyum lembut ketika remasan di lengannya menguat.

"Tidak apa-apa. Tidak akan ada yang terjadi padaku, Sasuke, jika itu yang kau takutkan. Percayalah, aku lebih kuat saat ini."

Dan Sakura merasa dunianya runtuh ketika Sasuke kembali memeluknya lebih erat dari sebelumnya.

.

.

Sasuke memandang kosong meja makannya setelah Sakura membersihkan sarapan mereka dan mencuci piringnya. Sasuke tidak menyentuh kopi yang Sakura buat untuknya hingga kopi itu mendingin seluruhnya. Pikirannya kembali mengingat mimpi buruknya. Mimpi yang ia takutkan selama ini terjadi. Dan kalaupun itu terjadi, Sasuke tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri sampai selamanya.

Masih terekam jelas bagaimana mimpi buruk itu terjadi. Dimana Sasuke saat itu pergi mengendarai mobilnya di malam hari untuk menemui Shion yang menghubunginya mengenai kelanjutan hubungan mereka yang jelas-jelas sudah berakhir dan Sasuke tidak pernah ingin mengingatnya lagi. Shion memaksanya dan membuat Sasuke menyerah karena ketidakberdayaannya.

Ketika Sasuke memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi. Yang ia lihat hanyalah samar-samar sosok wanita yang ingin menyeberang jalan. Lampu sudah bergerak berganti warna merah, namun Sasuke lambat untuk menginjak pedal rem dan wanita itu kembali menghantam bagian depan mobilnya hingga terpental di jalan aspal yang dingin dengan keras.

Sasuke tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ia terlalu panik untuk sekedar menghubungi seseorang atau ambulans. Ia memberanikan diri untuk turun dari mobilnya, mendekati sosok wanita itu yang berbaring membelakanginya dengan topi musim dinginnya karena Tokyo yang dilanda hujan salju malam itu.

Maka, ketika Sasuke melihat wajahnya yang sudah terkoyak karena gesekan dengan aspal yang keras harus membuatnya melihat siapa wanita yang tengah bertarung dengan nyawa saat ini.

Sasuke menarik tubuhnya dan menggendongnya menuju mobilnya. Saat itu juga ia merasa ada ribuan batu bata yang menimpa kepalanya dengan sangat keras ketika topi yang digunakan wanita itu terjatuh ke jalan dengan bau amis yang menyengat dari dalam topi itu.

Rambut merah muda yang terurai berubah menjadi merah darah.

Sasuke tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Wajahnya dilanda kepanikan luar biasa ketika ia mencoba menggendongnya. Tidak ada gunanya ketika ia berteriak minta tolong karena jalan ini terlalu jauh dari kawasan rumah penduduk.

Saat Sasuke berusaha menggendongnya dan hendak melarikan istrinya ke rumah sakit. Ia mendapati ada sesuatu yang jatuh dari balik saku mantel miliknya. Sasuke dengan ragu-ragu membukanya, melihat dengan jelas apa yang tertera di sana.

Sakura mengandung anaknya. Hasil dari pernikahan mereka.

Maka ketika perhatian Sasuke kembali teralih pada wajah Sakura yang tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia masih hidup, Sasuke mulai ketakutan. Tidak ada debaran jantung atau pergerakan dada yang menandakan kalau wanita itu masih bernapas.

Dan Sasuke hanya bisa berteriak ketakutan dengan amplop di tangannya yang bergetar. Memanggil nama Sakura di kegelapan malam dengan salju yang menemani di malam hari yang dingin.

"Sasuke? Apa kau mendengarku?" Sakura mengerutkan dahinya, ia beberapa kali menyentuh bahu suaminya dengan agak keras dan Sasuke tidak bereaksi apa-apa dengan panggilannya.

"Sasuke." Sakura sedikit mencubit pinggang lelaki itu dan berhasil membuat Sasuke menoleh ke arahnya. Sakura menghembuskan napas lega, ia menarik bangku untuknya duduk dan memperhatikan wajah suaminya yang pucat.

"Apa kau baik-baik saja? Kau masih tidak mau berbicara apapun padaku sejak semalam." Ucap Sakura khawatir.

Sasuke mengusap wajahnya. Ia menggeleng dengan senyuman kecil yang membuat hati Sakura berdesir perih ketika menatapnya. Sasuke memberikannya senyum, tapi sorot matanya terlalu pedih menatapnya.

"Aku baik-baik saja," jawab Sasuke lirih. Ia melirik jam tangannya, bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil tas kerjanya sebelum Sakura ikut bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum lebar.

"Aku sudah mengambil tasmu." Sakura mengulurkan tas itu pada suaminya. Sasuke mengambilnya dan berjalan menjauhi Sakura menuju pintu utama.

Sakura mengikutinya dari belakang dengan seribu pertanyaan yang ada di kepalanya. Sikap Sasuke begitu aneh padanya. Sejak semalam, Sasuke tidak ingin melepas pelukannya barang sedikit pun. Sah-sah saja jika Sasuke memeluknya, mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. Tapi, sikap Sasuke yang berbeda dari biasanya membuat Sakura bingung.

Sasuke memutar tubuhnya, menatap Sakura dalam dari mata kelamnya. Maka, ketika Sakura bergerak mendekat, Sasuke kembali memeluknya dengan erat. Dan Sakura dengan senyum di bibirnya, membalas pelukan suaminya.

Sasuke pergi meninggalkan Sakura tanpa kata-kata lagi. Sembari menggenggam erat tas kerjanya, Sasuke bergumam dalam hati, semoga tidak ada salju di Tokyo untuk selama-lamanya. Ia terlalu takut untuk memikirkannya. Dan ini terasa sangat membunuhnya.

Sakura melambaikan tangannya ketika mobil suaminya menjauh dari pandangannya dan bergerak keluar dari gerbang utama. Sakura kembali masuk ke dalam, ia berniat untuk meminjam koleksi buku milik suaminya setelah Sasuke mengizinkannya untuk meminjam bukunya sesuka hatinya. Tentu saja Sakura senang, Sakura mempunyai hobi membaca sejak kecil. Dan ini menjadi bagian kesukaannya ketika mengisi waktu luang sebelum berangkat kerja dengan membaca buku.

Sakura membuka ruang kerja Sasuke. Melangkah dengan mantap menuju rak-rak bukunya dan mulai mencari judul yang menarik di sana. Sakura ingin membaca buku klasik yang menceritakan tentang historical zaman kebudayaan kuno yang terkenal di Yunani seperti yang pernah Sasuke ceritakan sebelumnya sebelum mereka tidur. Dan Sakura sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Sasuke tidak mau menceritakan kelanjutannya pada Sakura, dan Sakura berniat mencari sendiri di dalam koleksi bukunya.

Sakura bergumam senang ketika ia mendapati sampul hijau dengan judul yang disebut Sasuke waktu lalu. Ia menarik buku itu dari barisan buku yang lain dan tanpa sengaja menyentuh buku bersampul kuning di sisinya hingga buku itu tertarik keluar dan rak bergerak tiba-tiba seperti membuka.

Sakura mundur ke belakang beberapa langkah dengan wajah ketakutan ketika rak tiba-tiba bergeser dan sebuah pintu kayu membuka otomatis.

Lampu tiba-tiba menyala ketika Sakura memberanikan diri untuk masuk. Lampu yang tadinya berwarna merah menyala itu berubah menjadi terang ketika Sakura tanpa sadar memencet saklar di sana. Menampilkan ribuan foto-foto yang tergantung di sana dan beberapa yang tertempel di dinding dengan tulisan tangan yang begitu menyayat hati.

"Oh, Tuhan. Dosa apa yang aku perbuat kali ini…"

.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

.

Author Note:

Haloo, ketemu saya lagi dengan bawa chap lima jengjengjeng. Mulai chap enam, ini akan pindah di drama yawn. Saya lupa bilang ini sama kak naayy huhu karena bbm saya uninstall jadi kak naayy gapapa ya chap enam nanti dipindah ke drama? Hehe

Q: konfliknya lebih ke antara Yahiko atau Shion?

A: Dua-duanya.

Q: Sakura kasian, tapi Shion lebih kasiannn.

A: Sebenarnya sama saja keduanya. Tapi nanti keungkap kok

Q: SasuSaku punya hubungan masalalu yaa?

A: Iya, eh gatau deh wkwkwk

Q: kok lama update?

A: Saya UAS hiks. Jadi, ya maafkan yaa, ujian mulu saya sekarang puzing.

Q: gaada lemon?

A: enggak. Gabisa bikin lemon. Palingan yang dikit-dikit aja kayak lime atau ganyampe palingan.

Q: fic yang lain kenapa ga dilanjut?

A: dilanjut. Sabar yaaaaaa idenya naik turun kayak main rollercoaster /garingfix

Saya memang bukan author yang baik jarang balesin review dan pertanyaan kalian saya singkat-singkat biar enak jawabnya /jeder. Jadi, sekali lagi, terima kasih banyak yang mauu baca sampai sini mumu *cium satu-satu*

Btw, karena saya ini istri sahnya Yahiko hiks, saya garela Yahiko sama Sakura tapi tidak apa untuk fic ini Yahikonya dipinjam dulu. Ikhlas saya :")

Yang masi bingung, tanyakan saja gapapa. Semogaa chap ini bisa ngobatin rasa rindu kalian yaa. Maafkan saya yang lelet update. Kalau gitu, sampai jumpaa!

Lots of Love

Calon istrinya Calvin Harris, Taylor Swift (lagi error maafkeun yaa)