Innocence

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Warning: Typo(s), Miss Typo, Alternative Universe.

.

Dedicated for nuniisurya26

.


Jadi, Sayang, hati mana lagi yang akan terluka dengan segala kepalsuan ini?


.

.

.

Kenapa pula ia harus masuk ke dalam dan mengabaikan jeritan hatinya untuk tidak melangkah lebih jauh lagi. Ia tahu, bahkan air mata yang mulai menggenang dan bersiap untuk tumpah tidak bisa menghentikan langkahnya untuk masuk lebih dalam.

Disana ada puluhan foto yang tergantung dengan penjepit di atasnya. Tali putih yang melintang menjadi penyambung diantara semuanya. Sakura menyentuhnya satu persatu. Merasakan bagaimana indahnya kisah mereka yang pernah terjalin dulu sebelum takdir menghancurkannya.

"Sakura!"

Sakura mundur ketika mendengar suara Itachi yang mulai mendekat ke arah ruang kerja Sasuke dan ia tidak ingin siapa pun mengetahuinya kali ini. Mungkin saja Itachi tidak tahu? Atau memang lelaki itu menyembunyikan ini semua darinya?

"Halo, Itachi. Maaf aku sedang membersihkan ruang kerja, Sasuke," Sakura tersenyum samar ketika mendapati pintu ruangan menjeblak terbuka dan wajah Itachi yang pucat menjadi objek pertama yang dilihatnya dari lelaki itu.

Itachi tersenyum tipis. Ia ikut masuk ke dalam dan duduk di kursi yang biasa Sasuke lakukan di sana. "Adikku memang jorok, Sakura. Maafkan dirinya, ya."

Sakura hanya terkekeh dan memalingkan wajahnya ke luar jendela yang terbuka untuk pertukaran udara. Tatapan matanya sempat kosong selama beberapa saat dan Itachi mengetahuinya.

Itachi melirik pada rak buku dimana masih tersusun seperti semula. Jika Sakura mengetahuinya, ini bisa menjadi lebih rumit. Ia sebisa mungkin menahan pandangan matanya mengarah ke sana agar Sakura tidak curiga padanya. Kalau pun wanita itu nanti bertanya, apa yang harus ia jawab?

"Aku sudah memasak sesuatu, Itachi. Apa kau mau makan bersamaku?" tawar Sakura.

Itachi tersenyum kecil. Ia mengangguk dan mengikuti langkah Sakura keluar dari ruangan kerja Sasuke dalam diam. Wanita itu tidak banyak bicara sama seperti pertemuan pertama mereka. Sakura masih tetaplah sama. Itachi yakin, Sasuke pasti pernah melihat sisi Sakura yang lain selain wajah penuh senyumnya dan kebisuan yang mematikan miliknya.

Itachi tersenyum lebar ketika sepiring pasta kesukaannya tersaji di hadapannya dengan segelas air dingin yang Sakura hidangkan untuknya. Sakura mengambil tempat di hadapan Itachi dan memperhatikan lelaki itu makan dalam diam.

Bahkan, ia sendiri tidak berselera menyentuh pasta miliknya. Pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan itu dan tidak mau kembali seperti awal. Puluhan foto-foto dan beberapa foto yang tertempel di sebuah papan mencubit hati kecilnya. Haruskah ia tanyakan ini pada Itachi? Kalau ia bertanya pada Sasuke, lelaki itu memilih untuk tidak menjawab dan tetap diam. Atau mengalihkan pembicaraannya pada hal lain asalkan tidak pada masa lalunya.

Itachi menatap bingung pada Sakura ketika wanita itu menatap kosong pada pastanya dan sejak tadi hanya memainkan garpunya saja tanpa menyentuhnya.

"Sakura? Apa kau baik-baik saja?" Itachi menaruh garpunya dan memperhatikan Sakura dengan wajah khawatir.

Sakura mengangguk singkat dan menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, sebuah senyum samar yang tersirat pesan di dalamnya. Itachi tertegun sejenak, ia memandang Sakura yang mendorong sepiring penuh pastanya dan menatap dirinya dalam-dalam.

"Sebenarnya, apa yang terjadi antara Sasuke dan Shion dulu yang kau ketahui?"

.

.

Uchiha Sasuke terburu-buru pergi kerumah sakit karena sekretaris Naruto menghubunginya mengenai Naruto yang pergi kerumah sakit karena urusan penting. Dan sambungan mereka terputus tanpa Sasuke tahu apa yang dialami Naruto, sahabatnya disana.

Sasuke masuk ke dalam rumah sakit dengan sedikit terburu-buru. Ia bernapas lega ketika menemukan Naruto tengah duduk dan menunggu dengan sabar di depan pintu ruangan ICU dan sesekali lelaki itu terlihat panik dan mengacak rambut pirangnya asal.

"Kukira kau yang ada di dalam sana," Sasuke berujar pendek ketika ikut duduk bersama Naruto yang sejak tadi tidak mau diam karena menunggu seseorang di dalam.

"Hinata pingsan. Pembantu rumah memberitahukan ini padaku. Aku sangat panik," Naruto menjawab setengah membentak karena rasa takut dan panik yang berlebihan tengah melanda dirinya. Ia melirik Sasuke yang memilih untuk diam dan tidak berkata apa-apa lagi.

"Kalau kau diposisiku, kau akan mengerti."

Sasuke mendongak, ia menatap Naruto sepersekian detik dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia mengusap wajahnya dan menghela napas pendek. "Aku pernah merasakannya."

Naruto mengangkat satu alisnya, ia hendak bertanya apa yang pernah Sasuke alami sebelumnya namun diurungkannya ketika melihat tatapan lelaki itu mengarah pada sebuah ranjang yang didorong oleh beberapa suster dan dua orang wanita yang menangis di belakangnya. Para suster membawanya ke sebuah ruang perawatan dengan salah satu dari mereka tetap berjaga di depan pintu dan sesekali mengelus lembut bahu mereka yang masih bergetar karena menangis.

Naruto membulatkan matanya ketika melihat Sasuke berdiri dan mengepalkan tangannya kuat namun lelaki itu tidak kunjung pergi untuk melihat apa yang terjadi. Dua wanita yang menangis tadi hanya mengangguk dan mengintip apa yang dilakukan sang dokter di dalam dari kaca pintu yang celahnya sedikit terbuka.

Dua wanita itu duduk dan kembali menangis sembari berpelukan erat. Mereka menumpahkan seluruh air matanya dan itu bisa terlihat jelas di kedua mata mereka yang basah.

Sasuke ingin mendekat, namun langkahnya terhenti dan ia memilih untuk kembali duduk dan tidak lagi menatap ke arah mereka. Memilih untuk tetap diam pada tempatnya seolah ia tidak pernah melihat apa pun.

.

.

"Kenapa kau tanyakan itu, Sakura?"

Sakura menggeleng dengan senyum namun air mata yang menggenang di pelupuk matanya tidak bisa membohonginya. Itachi melihatnya dengan jelas saat Sakura berusaha memalingkan wajahnya dan menghapus genangan air mata itu sebelum turun untuk membasahi wajahnya.

"Jawab saja. Yang aku butuhkan adalah jawaban."

"Tidak ada yang bisa kujawab saat ini," Itachi berbisik sendu. Ia menatap wajah Sakura yang terluka dengan perasaan seperti tercabik-cabik sesuatu tak kasat mata terasa menghujamnya. "Setidaknya, kau tidak perlu apa yang Sasuke lakukan dulu."

"Aku perlu tahu!" Sakura terisak tanpa sadar. Ia menghapus air matanya yang mulai jatuh membasahi pipinya. Ia kembali memasang wajah serius dan sekuat tenaga menahan gumpalan air mata itu lebih banyak lagi.

Itachi menghirup napas panjang dan membuangnya. Wajah Sakura yang terluka dan ribuan jarum yang mulai menusuk hatinya terasa menyakitkan untuknya.

.

.

Salah satu wanita dengan surai merahnya mengajak wanita yang lebih tua darinya untuk pergi dari sana. Sasuke masih memperhatikan mereka dari jauh ketika Naruto dipersilakan sang dokter untuk masuk menengok istrinya. Sasuke tidak bisa berkonsentrasi sejak tadi. Yang ia lakukan adalah menatap kosong pada dua wanita tadi yang kini beranjak dari tempatnya entah pergi kemana.

Sasuke mulai berdiri dan melangkah, tidak terasa ia sampai di depan pintu dimana sang wanita yang terbaring di ranjang itu tidak sadarkan diri di dalam ketika ia melihat dari kaca jendela pintu yang terbuka.

Salah satu dokter di sana keluar dari dalam. Ia tersenyum dengan peluh yang masih membasahi pelipis pucatnya.

"Syukurlah, Nona Shion tidak apa-apa. Dia berhasil diselamatkan. Nyawanya masih bisa tertolong karena terlalu banyak meminum alkohol dengan obat penenang berlebih. Mengapa Nona Shion melakukannya?"

Sasuke menoleh dengan kedua matanya membulat. Ia mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"

Sang dokter menggeleng dengan sedih. Ia menepuk bahu Sasuke dengan sebuah senyum samar yang terpetak di wajah pucatnya. "Mungkin kau baru datang, aku ingin memberitahu sesuatu kalau Nona Shion mencampurkan obat penenang dengan dosis tinggi pada minuman beralkoholnya. Ini sangat berbahaya, ia bisa saja membunuh dirinya sendiri dalam sekejap. Beruntung, keluarganya mengantarnya dengan cepat kerumah sakit."

Sasuke terdiam mendengar kata-kata dari sang dokter. Sepeninggal dokter itu, Sasuke dipersilakan untuk masuk menjenguk pasien yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sasuke tidak tahu mengapa ia masuk ke dalam dan memperhatikan wajah pucat itu dengan lirih. Mata sebening sungai itu kini menutup, menyembunyikan kilauan mata yang pernah Sasuke puja dulu. Hidupnya harus ditopang dengan selang pernafasan yang menempel pada kedua lubang hidungnya.

Sasuke mendekat, ia melihat pergelangan tangan Shion yang pucat tidak berbeda jauh dengan wajahnya. Punggung tangan itu tertancap sebuah selang infus yang mengalirkan cairan untuknya agar tetap hidup.

Sasuke menyentuhnya, meskipun gejolak hatinya mengatakan untuk tidak melakukannya. Tapi ia melakukannya. Ia menggenggam tangan itu dan beralih pada sebuah goresan yang membiru di ujungnya.

Shion pernah melakukan hal lain untuk membunuh dirinya sendiri. Itu terlihat dimana goresan itu membentuk sebuah jahitan yang masih terlihat dan uratnya yang menonjol keluar.

Tidak ada yang bisa dilakukan Sasuke selain duduk dalam diam dan menatap wajah itu dengan pandangan memburam.

.

.

"Mereka menjalin hubungan selama lima tahun. Waktu yang cukup lama menurutku, Sasuke jarang sekali terlihat dekat dengan wanita. Bahkan, keluargaku sempat mengira kalau dia mengalami gangguan mental karena terlihat tidak berselera dengan perempuan," Itachi mencoba tersenyum namun wajah Sakura yang kosong menjadi pemandangan yang tidak ingin ia lihat saat ini.

"Lalu, Sasuke membawa Shion kerumah. Memperkenalkannya sebagai kekasihnya dan akan segera bertunangan. Ibuku sangat senang. Dia memang orang yang baik. Mereka mendukung keputusan Sasuke," Itachi mengambil napas panjang untuk melanjutkannya. "Sebelumnya, mereka saling berhubungan selama dua tahun. Shion orang yang baik. Aku tidak pernah bilang kalau wanita itu jahat atau memiliki ide licik untuk mendapatkan Sasuke. Tidak pernah."

Sakura tetap diam mendengarkan.

"Aku tidak pernah tahu bagaimana mereka bisa menjalin hubungan. Kau bisa tanyakan ini pada Sasuke," Itachi menatap Sakura yang masih tetap diam menatapnya. Pandangan wanita itu terlihat kosong dan memburam. Itachi mengulurkan tangannya, meremas tangan Sakura yang bergetar. "Sampai ada dimana mereka bertengkar. Aku tidak pernah tahu apa yang membuat mereka bertengkar hebat. Ibuku menceritakan ini semua padaku. Mereka bertengkar dan Sasuke hampir meninggalkan Shion untuk selamanya."

"Lalu, aku mencoba berbicara dengan Sasuke baik-baik. Aku mencoba merayunya untuk menceritakan apa yang sedang dia alami hingga menjadi pendiam seperti itu."

"Lalu?" Sakura melepas genggaman tangan mereka dan memilih untuk memeluk dirinya sendiri.

"Sasuke menceritakan ini hanya padaku, Ibuku tidak pernah tahu apa yang terjadi diantara mereka berdua," Itachi menatap lurus-lurus ke dalam mata Sakura yang berkabut. "Shion menjebaknya dengan sebuah kehamilan."

.

.

Sasuke keluar dari dalam ruangan dengan wajah tertunduk. Ia meremas sendiri kepalan tangannya di dalam saku celananya dan memilih untuk duduk diam menunggu wanita itu bangun dari kritisnya.

Sasuke tidak pernah menginginkan hal lain selain melihat Shion tetap hidup. Ia tidak pernah menginginkan wanita itu mati dengan cara yang kejam. Shion tidak pantas mendapatkannya.

Sasuke melipat kedua tangannya dan menyembunyikan kepalanya disana. Ia tidak peduli dengan tatapan para pengunjung rumah sakit yang melihatnya dengan heran dan kebingungan. Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Seperti ada bagian hatinya yang lain ikut mati merasakannya. Tidak sebagian besar, tapi beberapa bagian kecil yang ikut merasakan perihnya penderitaan Shion di dalam sana.

"Kenapa kau disini?" Suara seorang wanita yang tajam membuatnya mendongak. Memasang wajah sedatar mungkin, Sasuke mengabaikan tatapan yang diberikan Sara padanya begitu tajam dan dingin. Wanita itu melipat kedua tangannya di dada dan mata yang membengkak tidak bisa memanipulasinya.

"Aku tanya, Uchiha Sasuke, mengapa kau ada disini?" Sara hampir saja berteriak jika ia tidak ingat kalau ia berada dirumah sakit.

"Melihat kakakmu." Jawabnya singkat.

Sara tersenyum meremehkan. Ia berdecak dan sesekali tertawa penuh paksa ketika mendapati tatapan Sasuke yang bingung dan kalut bercampur menjadi satu.

"Kakakku tidak lagi membutuhkanmu, Uchiha. Urus saja urusanmu sendiri. Aku sudah menghubungi dokter pribadinya untuk datang dan jasamu tidak lagi dibutuhkan," ketus Sara. Wanita itu mengambil tempat duduk berjauhan dari Sasuke yang masih tidak mau beranjak dari tempatnya.

Beribu pertanyaan berputar di kepala Sasuke. Dokter? Dokter apa maksudnya? Setahu Sasuke, Shion memiliki dokter keluarga yang hebat dan bukan dokter pribadi seperti yang dikatakan Sara. Mungkinkah Shion sering pergi ke dokter lain untuk mengecek kondisinya?

Sasuke memilih untuk diam dan tidak berkata apa-apa lagi. Mengabaikan tatapan Sara yang terasa membunuhnya. Itu tidak berguna. Tidak akan pernah berguna.

.

.

Sakura melangkah dengan cepat menuju rumah sakit yang ditunjukkan Sara untuknya. Ia mendengar kabar kalau Shion mencoba percobaan bunuh diri ketiganya dan kali ini wanita itu berhasil hingga ia terbaring kritis sekarang. Sakura datang untuk membantu Sara agar gadis itu terlihat putus asa dan depresi saat ini. Hanya itu yang dibutuhkan Sara darinya.

Sakura melangkah ditemani dengan Itachi yang bersedia untuk mengantarnya. Sakura bersikeras untuk tetap pergi dengan taksi dan Itachi juga melakukan hal yang sama. Sakura mungkin bisa menyembunyikan ini semua dari Sasuke, tapi tidak dengan Itachi. Semoga saja, Itachi bisa menjaga rahasianya sama seperti Itachi menjaga rahasia Sasuke selama bertahun-tahun lamanya.

Itachi menghentikan langkahnya ketika tidak lagi mendengar langkah Sakura di depannya. Kepala lelaki itu mendongak, mendapati Sakura yang tengah berdiri mematung dengan pandangan matanya menatap objek di depannya.

"Sasuke?" bisik Itachi tidak percaya.

Sakura memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia ingin pergi tapi suara Sara yang terdengar semangat memanggilnya membuatnya kembali menoleh. Dan di saat itu, pandangan Sasuke juga mengarah padanya. Tatapan mereka bertemu dan Sakura tidak mampu mengalihkan pandangannya ke arah lain dimana mata suaminya yang terluka menjadi pemandangan yang terasa menyakitkan untuknya.

Sakura berjalan dengan Itachi yang menarik tangannya untuk tetap mundur. Sara terlihat bingung ketika mendapati Itachi yang terlihat akrab dengan Sakura. Gadis itu mendekat, ia memberikan senyumnya pada Sakura yang masih membisu diam di tempatnya.

"Dokter, lihatlah kondisi kakakku di dalam sana," lirih Sara dengan wajah yang hampir menangis. Sakura memeluk gadis itu dan membiarkan Sara menangis di dalam pelukannya. Mengabaikan bagaimana tatapan Sasuke padanya yang terasa menusuk dan melukai hati kecilnya.

Sasuke sudah mengetahuinya. Dan tidak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari suaminya saat ini. Tidak ada.

Itachi mendekat ke arah sang adik. Ia mencoba untuk berbicara pada Sasuke mengenai segalanya meskipun ia sendiri masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Selama ini Sakura bekerja untuk menyembuhkan Shion? Bagaimana bisa wanita itu menanggung beban semuanya seorang diri?

"Aku tidak tahu hal ini," bisik Sasuke dingin. Ia masih menatap Sakura dengan pandangan dinginnya. Seolah-olah Sakura baru saja melakukan hal yang salah dan kejam pada orang lain. Itachi mencoba menenangkan Sasuke yang tampak marah tapi tidak berhasil.

"Sakura membohongiku," lanjutnya.

Itachi menggeleng dengan wajah sedih. Sakura mengajak Sara untuk keluar dari ruang tunggu dan berjalan-jalan mencari udara segar selepas gadis itu menangis. Pikirannya sedang tidak bisa fokus dengan baik. Kenapa Sasuke menunggu Shion? Kenapa lelaki itu bisa ada di sini? Kenapa?

Itachi mencoba menarik perhatian Sasuke agar tidak terlalu larut dengan masalahnya. Ia berbicara secara perlahan-lahan agar Sasuke tidak ikut mencampuri urusan istrinya yang ia tahu, kondisi Sakura jauh lebih berantakan dari sang adik. Itachi tidak tahu harus membela siapa di sini. Pikirannya berkecamuk antara sang adik atau adik iparnya yang tengah dirundung kesedihan di dalam hatinya.

Sasuke masih diam tidak mau berbicara apa pun padanya. Itachi memilih untuk kembali duduk diam dan memikirkan segala kemungkinan yang terjadi jika Sakura kembali. Sara masih tidak mengetahui apa yang terjadi diantara Sakura dan Sasuke. Terlihat sekali bagaimana ketika mata gadis itu menatap Sakura penuh berbinar dan semangat. Kalau Sara mengetahuinya, mungkin gadis itu bisa mencelakai Sakura lebih dari yang Itachi kira.

.

.

Sara pergi untuk membeli makanan ringan dan membiarkan Sakura untuk masuk ke dalam lebih dulu. Sakura menurutinya, ia segera pergi ke dalam dan masih mendapati Sasuke yang duduk dalam diam bersama Itachi yang ikut menunggunya.

Itachi tersenyum ketika Sakura datang, berbeda dengan Sasuke yang memilih untuk memalingkan wajahnya. Kemana pun asal tidak menatap wajah istrinya yang kini sedang mengarah padanya.

Sakura mengambil tempat untuk duduk agak jauh dari mereka. Ia memilih untuk diam dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

Naruto muncul dari lorong lain dan menyapa Sasuke yang memilih untuk mengabaikan sapaan sahabatnya dan kembali diam. Berbeda dengan Sakura yang tersenyum hangat ketika Naruto menyapanya dengan ceria dan membawa sebuah kabar bahagia.

"Benarkah, Naruto? Sudah berapa bulan?" tanya Sakura menggebu-gebu.

Naruto tersenyum lebar. Ia menatap wajah Sakura lembut. "Sudah tiga minggu, Sakura. Aku sangat senang. Aku akan menjadi seorang Ayah dan Hinata akan menjadi seorang Ibu."

Sakura ikut tersenyum dan mengangguk-angguk dengan kebahagiaan yang Naruto bagikan pada mereka. Itachi memberikan ucapan selamat dan Naruto membalasnya dengan sebuah cengiran lebar khas miliknya.

Naruto memandang Sakura yang masih tersenyum menatapnya.

"Kau juga akan merasakan menjadi seorang Ibu suatu hari nanti, Sakura. Aku yakin itu." Naruto mengedipkan sebelah matanya dan melirik Sasuke yang kini menoleh ke arahnya dengan pandangan kosong.

Senyum di wajah Sakura luntur seketika ketika kalimat Naruto yang tidak lagi pernah diucapkannya selama ini kembali terdengar dan menjadi melodi tersendiri di dalam kepalanya. Itachi yang menyadari adanya atmosfir yang tidak baik diantara adiknya dan Sakura memilih untuk mengajak Naruto keluar dan mengalihkan perhatian dengan menjenguk Hinata yang masih dalam proses perawatan dokter. Meninggalkan Sakura yang membisu seorang diri bersama Sasuke yang tidak tahu harus berbuat apa karena kepalanya terasa ingin meledak saat ini juga.

.

.

Sara datang dengan membawa sekantung makanan ringan untuk Sakura yang masih menunggunya dengan sabar. Ia melirik Sasuke dengan pandangan dingin dan menganggap seolah laki-laki itu tidak ada di sana. Ia tersenyum lembut pada Sakura yang kini menatapnya.

"Aku akan menceritakan satu rahasia suatu hari nanti, dokter," ucap Sara sembari tersenyum.

Sakura melirik Sasuke yang kini memilih untuk menatap kosong pada pintu ruangan dan tidak lagi memperhatikan mereka. Sakura tersenyum pada Sara setelah mengusap lembut lengan kecilnya.

"Aku juga akan menceritakan suatu rahasia padamu nanti," bisik Sakura dan membuat Sara tersenyum kecil. Sakura kembali tersenyum, "dan jika aku menceritakan rahasiaku ini, kau akan sangat terkejut dan mungkin akan berubah membenciku."

Sara menggeleng dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya. Ia meremas tangan Sakura di lengannya lembut. "Itu tidak akan pernah terjadi, dokter. Tidak akan."

Sakura tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Sara memeluknya lama dan Sasuke melirik mereka dengan napas tertahan. Mengapa, mengapa semua menjadi rumit seperti ini?

.

.

Sasuke pulang lebih awal dan ia meninggalkan Sakura tanpa kata-kata ketika ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit. Sara sedang memainkan ponsel di tangannya. Menunggu orang tuanya untuk datang menggantikan posisinya.

Sara tersenyum hangat ketika wanita paruh baya dengan surai peraknya datang untuk memeluknya bersama seorang pria yang berumur tidak jauh berbeda dengan wanita paruh baya itu. Sakura berdiri setelah mengucapkan salam, dan sebuah pelukan hangat ia dapatkan ketika wanita itu menariknya ke dalam pelukannya.

"Sara menceritakan banyak tentang dirimu padaku. Sebetulnya, aku sangat ingin berterima kasih. Kondisi Shion menjadi lebih stabil sehabis terapi. Tapi aku tidak tahu, mengapa kali ini kejiwaannya kembali terganggu," aku wanita itu dengan nada tercekat.

Sang kepala keluarga yang melihat istrinya kembali menangis segera memeluknya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sakura tersenyum melihatnya. Ini mengingatkannya pada kedua orang tuanya yang masih saling mempertahankan cinta mereka di umur mereka yang jauh dari kata muda.

"Terima kasih, dokter. Kau bisa kembali kalau begitu. Maaf merepotkanmu," ucap Sara ketika ia mengantar Sakura sampai ke depan pintu utama rumah sakit. Sakura menggeleng dengan senyum. Tidak banyak yang ia bisa ucapkan saat ini selain diam sebagai jawabannya dan tetap tersenyum. Melihat kedua orang tua Shion yang terluka, membuat dirinya ikut merasakan bagaimana penderitaan mereka berdua.

Sakura pulang dengan taksi yang terparkir di halaman rumah sakit. Itachi sudah berpamitan pulang karena sang Ibu yang memanggilnya untuk sebuah urusan. Dan Sasuke … entahlah, Sakura merasa kepalanya memberat ketika nama lelaki itu terucap.

.

.

Sakura masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian. Ia tidak menemukan Sasuke dimana pun. Bahkan, di halaman belakang dimana lelaki itu sering menghabiskan waktu untuk melihat bulan yang bersinar juga tidak ada. Mungkinkah Sasuke kembali ke rumah?

Sakura melangkah menuju ruang kerja suaminya. Mendapati pintunya tidak tertutup rapat dan memiliki celah untuk dirinya masuk. Sakura memberanikan diri untuk masuk secara mengendap-endap bagaikan pencuri di malam hari. Ia melangkah tanpa bersuara dan mencari suaminya di dalam ruangan.

Nihil.

Sakura menoleh ke arah rak yang terbuka. Napasnya tercekat dan pergerakan jantungnya terasa terhenti saat itu juga. Ia mendekat perlahan-lahan, mencoba mengintip apakah Sasuke ada di dalam sana atau tidak.

Ia berdiri di tepi rak dan memperhatikan Sasuke tengah duduk di sana dengan memegang sebuah foto dirinya dan Shion di sebuah taman yang Sakura yakini itu adalah taman kota yang terletak tidak jauh dari rumah orang tua Sasuke.

Sasuke masih belum menyadari keberadaannya sampai Sakura perlahan-lahan mundur dan pergi dari ruangan itu dengan air mata yang kembali menggenang. Ia tidak tahu sudah berapa kali ia menangis hari ini. Ia tidak menghitungnya. Ia mengusap gumpalan air mata itu dengan lembut dan pergi ke taman belakang untuk menenangkan diri. Setidaknya, ia butuh waktu untuk sendiri.

Sakura duduk di sana dengan kedua matanya menatap kosong pada langit-langit di atasnya yang berbintang. Langit menyembunyikan bulan pada malam hari ini. Sakura tidak melihat bulan, melainkan ada jutaan bintang indah yang bersinar menemaninya malam ini.

Ia memejamkan matanya, membiarkan air matanya mengalir dan membasahi pipinya. Ia tidak menghapusnya, ia kembali mendongak dan tersenyum kecil. Mengabaikan desiran angin malam yang mulai menusuk-nusuk kecil kulit pucatnya.

"Setidaknya, Tuhan, biarkan orang lain bahagia. Jangan hilangkan kebahagiaan itu hanya karena diriku."

.

.

Sakura tidak tahu mengapa ia harus tidur di kamar tamu semalam. Ia merasa kalau Sasuke masih tidak mau bertemu dengannya meskipun mereka berada di satu atap yang sama. Buktinya, pagi ini Sakura tidak menemukan suaminya dimana pun. Sakura sudah mencarinya ke seluruh penjuru tempat. Bahkan, ruang kerjanya juga rapi. Rak yang sebelumnya terbuka kini tertutup sempurna.

Salah satu dari pelayan di sana mengatakan padanya kalau Sasuke lebih dulu pergi pagi-pagi buta entah untuk apa. Sakura baru saja ingin mengajak lelaki itu untuk bicara setelah mereka sarapan bersama. Tetapi Sasuke memilih untuk menghindarinya dan menenangkan dirinya sendiri.

Sakura makan dalam diam. Ia memijat kepalanya yang terasa memberat. Yang ia butuhkan sebenarnya adalah tidur dalam waktu yang lama dan tidak mengingat apa-apa lagi. Berharap kalau ini semua adalah mimpi.

Mengapa di saat semuanya terjadi, ia harus mengalami perasaan ini terlebih dulu? Mengapa? Bukankah ia pernah bersumpah kalau ia tidak lagi mencintai orang lain selain dirinya sendiri dan bayi yang pernah dikandungnya?

Tuhan berkata lain. Takdir menggoreskan tintanya di atas kertas dengan sesuatu yang lain. Menggantinya dengan jutaan hikmah yang tersembunyi di dalam setiap peristiwa yang terjadi.

Dan juga apa maksud Itachi dengan Shion yang menjebak Sasuke dengan sebuah kehamilan? Itachi belum sempat menceritakannya karena terpotong oleh suara ponsel Sakura dengan Sara sebagai pelakunya.

Ia ingin menanyakan hal ini pada Itachi, tapi mengingat waktunya yang tidak tepat, ia mengurungkannya. Mungkin lain kali, atau mungkin kebenaran itu yang akan menuntunnya sendiri menuju sebuah rahasia besar yang akan terungkap nanti? Entahlah, dia tidak tahu.

Sakura ingin sekali lagi masuk ke dalam ruangan tersembunyi itu dan mencari tahu semuanya. Tapi, ia takut jika Sasuke mengetahuinya lelaki itu akan semakin marah padanya. Membuat mereka kembali bertengkar dan berujung dengan penyesalan Sakura karena berani menyentuh batas terlarang suaminya.

Ia mengurungkan niatnya. Kembali pada sarapannya dan bersiap untuk melanjutkan aktifitasnya.

.

.

"Ah, terima kasih."

Sakura membeli seikat bunga segar yang baru saja ia beli dari sebuah toko bunga di dekat rumah sakit tempat dimana Shion dirawat. Ia ingin menjenguk wanita itu dan mencari tahu bagaimana kondisinya setelah melewati masa-masa kritis yang mendebarkan.

Sara mengirimkan pesan kalau kondisi Shion sudah lebih baik meskipun wanita itu belum mau membuka matanya.

Sakura melangkah menuju kamar Shion. Ia tidak menemukan adanya anggota keluarga yang menunggu wanita itu di luar. Mungkin mereka kembali untuk beristirahat dan berganti pakaian. Sakura mengerti bagaimana lelahnya menunggu orang sakit itu.

Sakura masuk ke dalam, menemukan Shion yang masih tertidur nyaman di ranjangnya. Ia tersenyum kecil, hendak menaruh bunganya di atas nakas samping ranjang sebelum ia menemukan ada bunga lain yang sudah ditaruh disana lebih dulu.

Ia mengerutkan alisnya, rasa penasaran yang asing menyeruak masuk ke dalam hatinya. Ia mengutuk dirinya karena rasa keingintahuannya yang besar. Ia mengabaikan rasa itu dan memilih untuk menaruh bunganya di samping bunga besar itu. Mengabaikan ada selipan kertas kecil di atas bunga itu, rasa penasarannya membuncah. Ia menarik kecil kertas itu dan membacanya dalam diam.

Tetaplah hidup. –U.S

Sakura kembali menutup surat itu ketika mendapati siapa nama pengirimnya di sana. Mungkin jika Shion membacanya, jiwanya akan kembali seperti sedia kala. Ini menyakitkan untuknya, seperti yang pernah Sasuke janjikan padanya. Kalau tidak ada perselingkuhan di kehidupan pernikahan mereka.

Sakura keluar ruangan dan pergi menuju kamar lain. Ia berniat menjenguk Hinata dengan membawa seikat bunga yang ia pesan sebelumnya. Keadaan Hinata lebih baik dan ia dibolehkan pulang hari ini. Sakura larut dalam obrolan ringan mereka sampai ia melupakan sedikit masalahnya untuk beberapa waktu.

.

.

Sakura keluar dari kamar Hinata dan memilih untuk melihat kondisi Shion. Jika ada kemajuan, ia akan menghubungi Sara dan membuat keluarganya berhenti mencemaskan keadaan Shion. Sakura melihat pintu ruangannya yang sedikit membuka, ia melihat dari kaca pintu yang terbuka. Mendapati Uchiha Sasuke tengah duduk di sana, menunggu sang pasien dengan sabar.

Sakura menutup mulutnya yang terbuka. Ia memejamkan matanya dan sebisa mungkin untuk tetap tenang. Ia berdiri di sana, mendengarkan apa yang Sasuke bicarakan pada Shion di dalam sana.

"Kau harus tetap hidup, apa pun itu. Kau pernah mengalami hal yang sama saat kita masih bersama."

Sakura masih tetap mendengarkan. Ia menyakiti dirinya sendiri. Tapi inilah, ia harus tahu apa yang selama ini Sasuke sembunyikan darinya.

"Jika kau hancur, aku juga ikut hancur bersamamu."

Sakura mundur dua langkah dan memilih untuk duduk dalam diam. Ia tidak lagi menangis. Tidak ada air mata yang ingin keluar dari dalam matanya. Tidak ada. Ia terlatih sebagai dokter selama bertahun-tahun untuk menyembuhkan rasa sakit seseorang. Tidak peduli bagaimana keadaannya.

Pintu ruangan terbuka, Sasuke membulatkan matanya ketika mendapati wajah Sakura yang memerah menoleh ke arahnya. Sakura berdiri, ia tersenyum dan mencoba untuk mendekati Sasuke yang melangkah mundur tanpa sadar ketika ia mendekatinya.

"Apa kau akan melakukan hal yang sama ketika aku berada di posisi yang sama seperti dirinya?"

Kedua oniks segelap malam itu melebar. Ia memperhatikan senyum samar dari istrinya yang tersirat akan makna yang menyakitkan untuknya. Mungkinkah Sakura mendengarkan seluruh pembicaraannya tadi?

Sakura mengangguk singkat. Ia tersenyum kecil pada Sasuke yang mulai mendekatinya dalam diam. Tatapan mata lelaki itu menggelap seiring langkah Sakura yang pergi meninggalkannya seorang diri tanpa kata-kata yang terucap.

Sasuke mencoba memahami apa yang terjadi dengan Sakura. Manik gelapnya masih setia mengikuti langkah Sakura yang perlahan tapi pasti keluar dari dalam rumah sakit tanpa menoleh ke belakang lagi.

Ia terdiam, menyadari sesuatu yang tersembunyi dari arti tatapan wanita itu untuknya. Mungkinkah Sakura mencintainya?

Jika itu terjadi, peraturan mereka telah dilanggar. Dan Sasuke merasa kalau dunianya runtuh saat itu juga.

.

.

Sakura pergi ke taman kota. Tempat dimana menjadi bagian favoritnya selama ini. Ia sering menghabiskan waktu disini bersama Ibunya terkadang atau bersama Ino sesekali saat dulu. Tempat ini cukup ramai dan Sakura menyukai keramaian di saat dirinya sedang butuh hiburan seperti ini.

Ia merasakan ada seseorang yang duduk di kursi yang sama dengan dirinya. Sakura menoleh, mendapati Yahiko tengah tersenyum ke arahnya. Senyum yang membuatnya jatuh cinta bertahun-tahun yang lalu. Namun kali ini tidak lagi. Yahiko mengulurkan tangannya dan Sakura mengabaikannya.

Yahiko tersenyum kikuk. Ia menarik tangannya dan memalingkan wajah ke arah lain. Sejujurnya, ia juga pergi kesini untuk berjalan-jalan melepas penat. Dan setelah melihat Sakura yang berjalan tidak jauh darinya, ia langsung pergi menyusul wanita itu.

"Apa kau mau jika aku membelikan sesuatu untukmu?" tawar Yahiko.

Sakura menoleh, ia menggeleng kecil dan kembali menatap lurus ke depan.

Yahiko kembali diam. Ia memainkan jari-jari tangannya dan sesekali melirik Sakura yang tampak tidak terusik dengan kehadirannya. Rasa canggung membanjiri tubuhnya. Setelah sekian lama tidak melihat Sakura, perasaan lelaki itu seakan tumbuh untuk melindungi apa yang pernah menjadi miliknya dulu. Namun, Sakura sudah menikah. Tidak ada yang bisa ia lakukan, tapi sebelum itu terlambat. Bisakah ia merebut segalanya?

"Apa kau menangis?"

Sakura menoleh, ia menggeleng setelah menghapus jejak-jejak air mata di kedua pipinya. Yahiko hanya tersenyum kecil, membuat Sakura terdiam dan memperhatikan senyum Yahiko dalam jarak sedekat ini membuatnya serasa mengulang masa-masa indah mereka dahulu. Sakura yang begitu bahagia dan Yahiko yang mencintainya. Terlihat indah dan sempurna, tapi itu hanyalah masa lalu.

Yahiko hanya mengangguk singkat. Ia kembali duduk dan menatap lurus ke depan bersamaan dengan Sakura yang memilih untuk mengunci rapat-rapat mulutnya.

Lama mereka duduk bersama, Yahiko menoleh ketika mendengar suara isakan kecil dari samping tempat duduknya. Ia mengerutkan dahinya ketika mendapati Sakura yang terisak. Salah satu tangannya terulur dengan sadar untuk menepuk bahu wanita itu dengan lembut. Sama seperti yang ia lakukan ketika mendapati Sakura menangis karena dirinya.

Kali ini masalahnya berbeda. Kenapa Sasuke harus menyakitinya dengan cara yang sama seperti dirinya? Membuat wanita yang sama menangis karena laki-laki tolol seperti dirinya?

"Sakura," lirih Yahiko ketika melihat adanya bulir-bulir air mata yang kembali turun membasahi kedua pipi merah wanita itu.

Yahiko menarik tangannya dan menarik Sakura agar masuk ke dalam pelukannya. Sakura terdiam dan membiarkan Yahiko memeluknya. Cara yang paling ampuh membuatnya berhenti menangis sejak dulu. Yahiko juga melakukan hal yang sama ketika mendapati dirinya menangis.

Yahiko melingkarkan tangannya di bahu bergetar wanita itu. Membiarkan Sakura menangis di dalam pelukannya dan membasahi jas kerjanya. Ia tidak peduli. Yang ia rasakan adalah ketika melihat wanita itu kembali menangis seperti ribuan belati menusuk hatinya dan mengiris-ngirisnya hingga tak bersisa.

Ia memang bodoh pernah meninggalkannya sangat bodoh dan ia menyesalinya. Membiarkan ia memeluk Sakura dalam beberapa lama dan melupakan segalanya.

Tidak mengetahui kalau ada sosok lain yang menyaksikan mereka dari kejauhan dengan wajah terkejut dan kedua oniks yang menggelap. Ia berusaha sebisa mungkin mengejar Sakura dan menghubungi ponsel wanita itu namun tidak aktif. Dan yang ia dapatkan setelah seharian berkeliling untuk mencari wanita itu adalah ini. Pemandangan yang terasa membakar tubuhnya, membuat matanya terasa memanas dan ia tetap berdiri tegak disana. Seolah rasa sakit itu belum mampu meruntuhkannya.

Sampai kapan pun, rasa sakit itu belum bisa meruntuhkannya.

.

.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

.

.

Author Note:

Chapter ini terinspirasi dari All I Ask punya mba adele. Saya baper banget kalau denger lagu itu wkwkw.

yah, maafkan karena saya gabisa bales satu-satu review yang masuk. Intinya, makasih banget yang udah dukung ceritanya! *mewek di pojokan*

Lots of Love

Delevingne