Innocence
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
Warning: Typo(s), Miss Typo, Alternative Universe.
.
Dedicated for nuniisurya26
.
Jadi, Sayang, hati mana lagi yang akan terluka dengan segala kepalsuan ini?
.
.
.
Uchiha Sasuke baru saja hendak mendekat ke arah mereka berdua yang masih berpelukan dengan sang istri yang masih menangis di pelukan sang lelaki. Ia tidak tahan, tidak bisa menahannya lebih jauh lagi. Ia memaksakan dirinya untuk tetap maju melangkah dan mengabaikan getaran hebat dari saku celananya.
Ponselnya bergetar hebat. Membuatnya ragu haruskah ia kembali melangkah atau berbalik pergi dan menghilang, bertindak seolah tidak terjadi apa-apa dan bersikap biasa saja. Haruskah?
Sasuke memilih pada pilihan kedua. Ia mengangkat ponselnya. Mendengarkan sang penelepon berbicara. Kedua matanya melebar ketika mendengarkan dia berbicara.
"Shion…"
.
.
Sakura baru menyadari kalau langit sudah menggelap dan ia terlalu larut dalam kesedihannya hingga tanpa sadar waktu berjam-jam telah ia habiskan hanya untuk menangis di pelukan orang lain.
Ia mendongak, menemukan Yahiko yang ikut memandangnya. Tatapan mereka bertemu dalam beberapa saat. Terhanyut ke dalamnya dan masing-masing dari mereka tidak mengalihkan pandangannya. Sakura kemudian lebih dulu memalingkan wajahnya. Meskipun mungkin Sasuke akan berkhianat padanya, ia tidak berniat untuk melakukan hal yang sama. Ia adalah tipe wanita setia. Tidak sekali pun terlintas di pikirannya untuk jatuh cinta pada lelaki lain ketika dirinya telah terikat.
"Maaf," Sakura bersuara serendah mungkin. Ia merapikan rambutnya yang kusut dan wajahnya yang masih basah karena air mata. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul delapan malam. Hampir tujuh jam ia habiskan di taman ini untuk menangis dan mengeluarkan seluruh rasa pedih di hatinya. Berharap kalau Yahiko tidak tahu apa yang sedang dirasakannya.
"Tidak apa, Sakura," Yahiko berusaha menenanginya. Pria itu tersenyum lembut dan Sakura hanya bisa terdiam ketika melihat senyuman pria itu untuknya.
"Aku hanya tidak bisa melihatmu menangis," jawab Yahiko jujur. Lalu, pria itu tersenyum kecil dengan wajahnya yang mulai menampilkan kesedihan. Ia menoleh ke arah Sakura. Wanita itu mulai menunjukkan wajah kosong dan datar. Tidak ada ekspresi kebahagiaan yang ditunjukkan wanita itu. Yahiko mempertanyakan apa yang terjadi. Apa yang Sasuke lakukan padanya?
"Aku ingin memberitahumu sesuatu,"
Sakura mengusap wajahnya. Ia terlihat lelah namun ia memaksakan diri untuk tetap bertahan menunggu Yahiko berbicara. "Aku mendengarkanmu."
Yahiko mengangguk singkat. Ia mengambil napas panjang.
"Alasan kenapa aku meninggalkanmu sebelum hari pernikahan kita," lanjut Yahiko dengan suara tercekat.
Sakura menegang di tempat duduknya. Ia menoleh dengan alis bertaut dan wajah yang mulai pucat. Ingin rasanya ia lari dari sini dan menutup telinganya rapat-rapat. Tapi ia butuh jawaban. Yang ia butuhkan hanyalah jawaban. Mengapa Yahiko meninggalkannya bersama bayi mereka? Mengapa Yahiko menghancurkan mimpi mereka? Ada banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalanya, tetapi Sakura tetap diam dan mendengarkan.
"Konan hamil. Ia memintaku untuk bertanggungjawab. Konan menghasut orang tuaku untuk memintaku menikahinya secepat mungkin atau dia akan bunuh diri bersama bayinya," suara Yahiko tercekat dan Sakura tidak lagi bisa menahan remasan tangannya di atas pangkuannya. "Dia sahabatku saat kami bersekolah dulu. Kau mengenalnya meskipun setelah lulus kami tidak terlalu dekat setelahnya."
Sakura masih tetap diam.
"Aku mabuk malam itu. Kau tahu, pesta bujangan untuk merayakan hari dimana aku akan menjadi seorang Ayah nantinya dan tidak lagi melajang dan akan segera menikah. Aku terlalu banyak minum dan aku menyadarinya. Lalu, Konan datang, aku tidak tahu bagaimana ia bisa muncul di sana dan bergabung bersama kami. Lalu, aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi." Jelas Yahiko panjang lebar.
Pandangan mata Sakura memburam selanjutnya. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong dan bibir bergetar. Ia harus menahan isakannya. Ia harus bisa.
"Dua minggu kemudian dia datang. Datang dengan seluruh test kehamilan dan surat dokter yang mengatakan kalau ia benar-benar hamil. Aku yang tidak percaya akan hal itu. Lalu, aku membawanya ke rumah sakit untuk memeriksanya. Dan dia benar-benar positif mengandung."
Sakura masih diam mendengarkan. Ia tidak berbicara apa pun untuk menghentikan Yahiko menjelaskan semuanya.
"Dia menceritakan segalanya. Awalnya aku tidak percaya. Tapi ketika teman-temanku mengatakan hal yang sama, aku percaya. Di sisi lain orang tuaku memaksaku untuk menikahinya dan meninggalkanmu. Orang tuaku tidak tahu kalau kau hamil … mereka beranggapan kalau kau masih gadis dan yah, aku memang bodoh." Yahiko tertawa pahit. Sakura bisa mendengarnya. Namun yang dilakukannya hanyalah tetap diam.
"Kami pergi ke luar negeri. Aku merasa tidak pantas untuk bertemu denganmu lagi. Tidak memberikanmu kabar, tidak menanyakan bagaimana keadaan anak kita. Aku terlalu putus asa menghadapi semuanya. Sampai ada keadaan dimana seorang laki-laki mengetuk pintu rumah kami. Ia menanyakan Konan dan kondisi bayinya. Aku tahu, Konan menyembunyikan sesuatu dariku," air muka Yahiko berubah marah dan sedih dan bercampur ketika Sakura menatapnya dari sampingnya. Laki-laki itu tampak sedih dan putus asa. Tidak tahu harus melakukan apa.
"Dia bukan anakku. Bayi yang dikandung Konan bukan anakku. Itu hasil dari hubungan gelapnya bersama seseorang yang sudah menikah dan mereka akan bercerai. Lalu, kami bertengkar hebat. Aku memutuskan untuk meninggalkannya dan kembali ke Jepang. Tetapi Konan bersikeras untuk menyuruhku tetap tinggal dan mengancam akan bunuh diri, tapi aku tidak peduli. Aku terus berlari dan dia mengejarku. Dan yang selanjutnya terjadi adalah keadaan dimana Konan sekarat karena menjadi korban tabrak lari dan sang pelaku melarikan diri. Konan tewas saat di ambulans. Dan itu memukulku telak, Sakura. Sangat memukulku."
Yahiko menutup wajahnya dan Sakura melihat bahu lelaki itu bergetar. Sakura ingin menyentuhnya dan mereka akan menangis bersama. Tapi dia tidak bisa. Dia menahan tangannya tetap ditempat dan kembali di atas pangkuannya. Hanya menatap lelaki itu dari samping dengan tatapan terlukanya.
"Ketika aku kembali ke Jepang. Berita yang sama memukulku tak kalah hebatnya. Kau kecelakaan dan keguguran. Bayi malang itu harus pergi karena kebodohanku. Setelah itu, aku mencari kabar tentang dirimu. Dan yang aku dapatkan adalah kau sudah menikah dengan Uchiha Sasuke," Yahiko menoleh ke arahnya dengan senyum kecil. "Aku berusaha baik-baik saja ketika aku melihatmu untuk yang pertama kalinya. Berharap kalau kau baik-baik saja itu sudah sangat melegakanku. Meskipun aku berusaha menahan diriku untuk tidak memelukmu, itu terasa membunuhku."
Sakura menoleh, mendapati wajah Yahiko yang menatapnya dalam dan ada kilatan kesedihan, kerinduan bercampur menjadi satu. Sakura terdiam, haruskah ia menceritakan semuanya kalau Uchiha Sasukelah pelakunya?
"Aku harus pergi." Hanya itu yang bisa Sakura ucapkan ketika mereka hanyut dalam keheningan yang mencekam. Udara dingin mulai menusuk-nusuk kulit pucatnya dan terasa sampai ke dalam tulangnya. Sakura harus segera kembali dan membasuh dirinya lalu pergi tidur. Ia terlalu lelah hari ini. Ia butuh waktu untuk istirahat.
Yahiko mengangguk. Ia ikut bangkit dari tempat duduknya dan mengantar Sakura sampai ke luar taman. Sakura pergi menuju halte setelah wanita itu menolak tawarannya untuk mengantarnya sampai rumah. Yahiko mencarikan taksi untuknya dan Sakura menerima tawarannya.
Sakura mengangguk ketika sebuah taksi berhenti di depannya. Ia menoleh sebentar pada Yahiko, memberikan lelaki itu anggukan kepala dan dibalas dengan lambaian tangan dari Yahiko. Sakura segera masuk ke dalam dan meninggalkan Yahiko sendiri dalam suasana taman yang sepi. Lelaki itu kemudian menghela napas panjang dan beranjak pergi menuju mobilnya.
.
.
Kenapa ia ada disini? Kenapa ia tidak ada di rumah dan tidur dan melupakan segalanya? Mengapa?
Ia tidak tahu. Ia duduk di ruang tunggu setelah mendapat kabar kalau Shion sadar. Ia segera berlari dari taman menuju mobilnya dan memacunya menuju rumah sakit. Shion sedang tertidur karena efek obat dan suntikan penenang dari sang dokter untuknya. Setidaknya mendengar kalau kabar wanita itu baik-baik saja membuat Sasuke bisa menghirup napas lega. Shion bisa merasa lebih baik setelah ini. Mereka perlu bicara. Sasuke harus bicara setelah sekian lama menghindari wanita itu, yang ia butuhkan hanyalah bicara.
Ia menatap datar ponselnya. Tidak ada panggilan masuk atau pesan dari Sakura. Sasuke mencoba menekan kontak sang istri di sana, tetapi ditahannya. Sakura tidak mungkin mau menjawab panggilan darinya. Dia juga tidak ingin mengirimkan pesan pada wanita itu, takut kalau Sakura tidak akan menjawabnya dan memilih untuk tetap membiarkan pesannya di dalam kotak masuk ponselnya.
Sasuke kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Membuka jas kerjanya dan menaruhnya di kursi kosong samping tempat duduknya. Rasa kantuk mulai menyerangnya perlahan, ia mengusap matanya yang mulai memerah dan beberapa kali menutup mulutnya yang terbuka karena menguap. Matanya mulai terasa memberat. Perlahan-lahan oniks gelap itu menghilang dibalik kelopak matanya yang mulai menutup. Membiarkan sang pemilik tubuh beristirahat barang sejenak.
.
.
Itachi ikut mendudukan dirinya di salah satu sofa nyaman yang masih kosong dan ikut hanyut dalam kegiatan bersama sang Ibu, yaitu menonton televisi bersama. Lalu tak lama, sang Ayah ikut bergabung bersama mereka.
Itachi melirik mereka satu persatu. Sebuah ide yang sejak tadi muncul di kepalanya tidak mau menghilang dan beberapa masalah yang terjadi membuatnya ikut memikirkan segala kemungkinan yang ada. Ia tidak mungkin menceritakan masalah ini pada kedua orang tuanya. Ini akan membuat mereka sedih dan tentu saja, sang Ibu yang akan merasa hancur. Dan itu semakin membuat Itachi sedih nantinya.
"Aku punya ide untuk kita semua," suara Itachi yang cukup keras berhasil membuat empat pasang mata oniks gelap itu menatap ke arahnya. Itachi tersenyum ketika sang Ibu dengan lembut menatap wajahnya dengan pandangan bertanya. "Bagaimana kalau kita berlibur? Yah, hitung-hitung untuk melepas penat."
Sang Ayah tampak berpikir keras. Itachi menatap lurus ke dalam jelaga tak berdasar milik sang Ibu yang kini mengangguk antusias dengan senyum merekah di bibirnya. Itachi terkekeh ketika melihat Ibunya menyenggol siku sang Ayah dan memberikan kedipan mata untuk menyetujui usulnya.
"Ibu setuju. Kita akan ajak Sasuke dan Sakura 'kan?" tanya sang Ibu.
Itachi mengangguk cepat. Ia memberikan satu jempol untuk Ibunya. Dan dibalas dengan senyuman lebar dari sang Ibu.
Itachi diam-diam tersenyum. Ini adalah salah satu cara untuk memperbaiki hubungan mereka berdua yang merenggang. Salah satunya adalah ini. Mungkin hubungan mereka akan kembali membaik setelah ini. Itachi berharap demikian, tentu saja. Ia berharap kalau bahtera rumah tangga adiknya tidak berantakan hanya karena masalah rumit ini. Berharap kalau mereka berdua mampu melewatinya.
Ya, semoga saja.
.
.
Sakura membaringkan dirinya di atas kasur besar dimana biasanya sang suami ikut berbaring bersamanya. Sakura mengusap wajahnya yang lelah. Ia sudah mengganti bajunya dengan piyama tidur dan siap beristirahat. Ia mengambil ponselnya, tidak ada panggilan masuk atau pesan yang Sasuke kirimkan padanya. Ia kembali mematikan ponselnya dan bersiap untuk tidur.
Sakura menatap kosong pada sisi ranjang besar yang kosong. Ia mengusap seprai di sana dengan lembut dan tersenyum kecil meskipun kini kedua matanya kembali basah. Ia mencoba menahan isakannya dan berakhir gagal. Ia kembali menangis dalam diam.
Sakura mengambil salah satu bantal dimana bantal itu menjadi bantal milik Sasuke ketika lelaki itu tidur. Ia memeluk bantal itu untuk menjadi guling tidurnya malam ini. Membiarkan perasaannya tertuang hanya dengan memeluk bantal milik suaminya itu dengan erat. Lalu, ia kembali menangis. Membuat bantal beraroma tubuh suaminya basah akan air matanya.
.
.
Uchiha Sasuke masuk ke dalam ruangan setelah dokter mengizinkannya untuk masuk dan menjenguk si pasien sebelum keluarganya datang untuk berkunjung. Sang dokter melihat Sasuke sejak semalam tidak pulang ke rumah dan menunggu pasien yang ditanganinya dengan sabar. Ini belum jam besuk dan keluarga si pasien juga belum datang. Untuk menemani Shion yang baru saja bangun dari tidur panjangnya, dokter mengizinkannya.
Sasuke masuk ke dalam dengan napas tertahan ketika kedua iris perak itu membuka dan langsung bertemu dengan tatapannya. Sasuke mendekat setelah ia menutup pintunya dengan pelan dan menarik kursi agar lebih dekat dengan wanita itu.
"Sshh, tetaplah berbaring. Kau masih belum pulih total," Sasuke memegang bahu mungil wanita itu dan membantunya untuk berbaring saat Shion memaksa untuk duduk di saat kondisinya belum pulih total.
Shion menuruti Sasuke dalam diam. Wanita itu berulang kali menahan gerakan matanya untuk tidak menatap Sasuke lama-lama. Sasuke menekan tombol di bawah ranjang, membuat kepala ranjang itu sedikit naik dan memposisikan Shion agar lebih nyaman.
Mereka hanyut dalam keheningan. Sasuke tidak tahu harus memulai percakapan darimana. Ia melirik sekitarnya, masih tetap sama. Bunga yang dibelikannya kemarin ditaruh di vas bunga yang cukup besar untuk menampungnya.
Dia baru saja bangun tidur. Sejak semalam tidurnya tidak bisa nyenyak. Dia baru bisa tidur pukul empat pagi dan sekarang baru pukul enam. Hanya dua jam ia bisa tidur dan mengistirahatkan tubuh letihnya. Setelah ini akan ada rapat penting dan ia harus pergi ke kantor untuk menyelesaikan proyek pentingnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Sasuke.
Shion meliriknya sekilas. Wanita itu mengangguk singkat dan menarik selimutnya hingga menutupi dadanya.
"Dokter bilang keadaanmu lebih stabil," Sasuke kembali melanjutkan. Ia harus bersikap santai atau kecanggungan akan kembali menyelimuti mereka berdua. "Aku senang mendengarnya."
Shion menoleh ke arahnya. Kedua mata perak itu menatapnya kosong. "Bukankah kau berdoa untuk kematianku?"
Sasuke menunduk, menyembunyikan wajahnya yang letih dan mengusapnya disana. Kepalanya terasa memberat. Di satu sisi ia memikirkan kondisi Shion, di satu sisi Sakura. Ia tidak bisa memilih untuk saat ini.
"Aku tidak pernah berkata demikian," aku Sasuke singkat. Ia menatap pada alat pendeteksi jantung milik Shion. "Kau harus sembuh. Kau harus lihat bagaimana keluargamu menunggumu dengan cemas. Jangan lakukan hal bodoh itu lagi."
Shion tersenyum sinis. Ia menggeleng seraya berdecak kecil. Menyadari nada suara Sasuke yang dibuat serendah mungkin seakan menampar hati kecilnya. "Kau tahu siapa yang membuatku seperti ini?"
Sasuke terdiam.
Shion mengangkat bahunya acuh. Ia memalingkan wajahnya ke arah pintu kamarnya. "Diammu menjawab segalanya," lirihnya dengan isakan tertahan.
Sasuke mengangkat kepalanya, wajahnya menggambarkan antara bingung, gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa.
.
.
Sakura mengantar kedua orangtuanya pergi ke bandara untuk penerbangan pertama pagi ini. Mereka berdua, Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki akan pergi ke Berlin untuk urusan bisnis. Sang Ayah sempat mengajaknya namun Sakura menolaknya. Ia memilih untuk tetap tinggal di Jepang. Sedangkan Ibunya akan menemani suaminya kemana pun pria itu pergi.
Benar-benar kisah cinta yang menyentuh dirinya. Sakura berharap ia bisa merasakannya suatu hari nanti. Tapi entah kapan. Ia sendiri tidak tahu. Ia tidak berharap banyak tentang pernikahan ini. Tidak terlalu berharap banyak.
Sang Ibu memeluknya erat lalu bergantian dengan sang Ayah. Mereka sempat menyelipkan candaan ringan yang membuat Sakura kembali tersenyum. Melihat wajah putrinya yang ingin menangis, membuat Mebuki harus memeluk putrinya erat sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkannya selama dua bulan penuh ini.
"Kami berjanji akan menghubungimu, sayang. Jaga dirimu baik-baik," pamit sang Ibu ketika mencium kening putrinya dengan penuh sayang. Sakura mengangguk, melambaikan tangannya ketika kedua orangtuanya masuk ke dalam bandara dan menunggu pesawat mereka untuk lepas landas.
Sakura kembali dengan taksi. Ia menyuruh supir pribadinya untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Ia ingin segera pergi ke rumah sakit. Sara baru saja menghubunginya kalau Shion sudah sadar sejak semalam dan keluarganya belum sempat menjenguk karena ada beberapa keperluan yang harus diurus.
Sakura akan bertemu janji dengan Sara saat gadis itu pergi makan siang nanti. Ia lalu masuk ke dalam taksi dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Sasuke. Namun lagi-lagi gagal. Yang mereka butuhkan adalah bicara. Menyelesaikan masalah yang menurut Sakura harus segera diselesaikan sebelum semuanya berbuntut rumit.
Nomor Sasuke tidak aktif. Sakura meninggalkan beberapa pesan singkat dan menghubungi asisten pribadi lelaki itu. Asistennya menjawab kalau Sasuke akan ada rapat dan Sakura memutuskan untuk pergi ke kantor suaminya setelah dari rumah sakit.
Taksi membawanya pergi ke rumah sakit. Sebelum itu, Sakura membeli sebuah parsel yang berisikan buah-buahan segar untuk Shion.
.
.
Sakura melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit. Ia sudah menghubungi Ino untuk menukar jadwal mereka berdua. Ino tahu kalau Sakura sedang menangani pasien serius maka dari itu wanita pirang itu bersedia menggantikan pekerjaan sahabatnya.
Dengan parsel berukuran sedang yang ada di pelukannya, Sakura mulai melangkah menuju ruangan Shion dirawat. Dokter memindahkannya ke ruang perawatan dan tidak lagi berada di ruang gawat darurat setelah keadaannya mulai stabil. Sakura mulai mencari dimana ruangan wanita itu berada.
Ia melirik pada jendela ruangan yang terbuka dan tidak tertutup tirai. Hanya ada sekat tipis transparan yang terlihat. Sakura menatap dari luar jendela dimana Shion terbaring dengan Sasuke yang memeluknya.
Shion menangis, dan Sasuke ada untuk memeluknya.
Sakura mundur perlahan-lahan, ia memilih untuk menunggu Sasuke keluar ruangan dibanding dirinya harus masuk dan mengganggu mereka berdua. Ia tidak ingin dicap sebagai perusak hubungan orang lain lagi. Tidak, ia tidak merasa seperti itu meskipun pada kenyataannya berkata demikian.
Hampir dua puluh menit Sakura menunggu dalam diam. Ia menatap kosong pada dinding beton rumah sakit di depannya. Ia mengusap wajah lelahnya. Sejak semalam Sasuke tidak kembali ke rumah dan ia khawatir. Ia mencoba menghubungi lelaki itu namun nihil. Sakura tidak tahu dimana Sasuke semalam tidur, ia merasa cemas.
Lalu pintu ruangan terbuka. Sasuke menyampirkan jasnya di atas bahunya dan menoleh terkejut ketika mendapati Sakura duduk di kursi tunggu tanpa menoleh ke arahnya. Wajah wanita itu terlihat pucat dan lelah, tidak berbeda jauh dengan dirinya.
"Sakura?"
Sakura melirik sekilas. Ia mencoba menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. "Hai," jawabnya singkat.
Sebelum Sasuke bisa menanyakan hal lain lebih lanjut lagi, Sakura segera memotongnya dan memilih untuk masuk ke dalam ruangan tanpa menoleh atau melirik ke arah Sasuke lagi. Sasuke diam di tempatnya, ia mendengar suara pintu tertutup pelan di sampingnya.
Dirinya terdiam sesaat. Ia melangkah pergi keluar rumah sakut dengan langkah berat. Entah kenapa, beban yang dipikulnya kini semakin berat terasa. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah sebentar dan membersihkan diri lalu pergi ke kantor.
.
.
"Selamat pagi. Apa kau sudah merasa lebih baik?" Sakura menaruh parsel berisi buah-buahan itu di nakas samping ranjang. Shion mengangguk lemah, dia beberapa kali terlihat tidak nyaman dengan selang infus yang tertancap di punggung tangannya.
Sakura memperbaikinya dengan lembut, ia mencoba mengatur selang itu agar tidak menyakitkan untuk Shion. Setelah merasa lebih baik, Sakura baru melepasnya.
"Kupikir kau tidak akan datang. Siapa yang memberitahumu? Sasuke?" tanya Shion datar.
Sakura menggeleng dengan senyum. "Bukan. Adikmu Sara."
Shion tampak tidak terkejut. "Aku lebih terkejut kalau Sasuke yang memberitahumu," akunya singkat.
Sakura hanya diam. Ia menatap Shion dengan lembut dan wajah wanita itu masih terlihat pucat. Bibirnya masih memutih dan belum memerah sempurna. Shion masih butuh perawatan intensif.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Sakura hati-hati.
Shion menghela napas pendek. "Sasuke juga menanyakan hal yang sama padaku. Kurasa kau tahu jawabannya ketika kau mengalami hal yang sama padaku. Aku berpikir, kenapa tidak Tuhan mengambil nyawaku sekalian."
Sakura menggeleng kecil. Wajahnya yang kosong berubah sedih seketika. Tidak, tidak, Shion masih memiliki masa depan yang lebih baik. Dia tidak akan mati secepat ini.
"Tuhan masih menyayangimu, kau tahu itu. Kau masih diberi kesempatan untuk mengecap kebahagiaan itu sekali lagi," jawab Sakura bijak dan diberi senyuman samar Shion yang kosong.
"Kupikir Sasuke tidak ingin lagi bertemu denganku. Dia bilang kalau hubungan kami selesai dan dia tidak pernah berniat untuk bertemu denganku setelah menikah. Tetapi yang kulihat berbeda,"
Sakura terdiam. Ia perlahan-lahan mundur dari sisi ranjang Shion dan memberi jarak diantara mereka berdua.
"Dia memberi harapan untukku, Sakura. Kurasa dia masih mencintaiku. Adakah kesempatan untuk kami berdua?"
Sakura melebarkan matanya. Ia menutup mulutnya yang terbuka dan sebuah isakan mungkin saja lolos dan terdengar oleh Shion yang memejamkan matanya dan tersenyum lebar itu. Ia tidak mungkin menghancurkan hati wanita itu yang baru saja pulih. Ia tidak mungkin melenyapkan senyum yang merekah itu.
"Itu bagus," jawab Sakura singkat.
Shion tersenyum kecil. Tatapannya lurus menghadap langit-langit kamar rumah sakit. Sakura yang melihatnya hanya bisa terdiam. Ia kemudian menghela napas panjang.
"Aku harus kembali, Shion. Sampaikan salamku pada Sara, ya," Sakura hendak membuka gagang pintu kayu itu sebelum suara Shion yang pelan dan hampir seperti gumaman itu menghentikannya.
"Sebenarnya aku tidak ingin menjadi duri di pernikahan kalian, tetapi entahlah, Sakura, sebisa aku mencoba aku tahu aku akan gagal."
Sakura menoleh, ia hanya mengangguk dan pergi ke luar ruangan sembari menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak ada orang lain yang boleh melihatnya menangis. Tidak ada.
Sedangkan Shion yang melihat bagaimana kuatnya Sakura menahan tangisannya, ia tahu kalau ia menyakiti hati wanita itu karena berbicara sebuah kebohongan. Sasuke memang berlaku baik padanya, tapi lelaki itu tidak mengatakan apa-apa. Shion menutup wajahnya, merasa bersalah karena sudah melukai hati wanita itu. Sakura tidak salah, wanita itu hanya korban. Sama seperti dirinya. Tapi kenapa dia berlaku tidak adil hanya karena Shion mengetahui kalau Sakura ternyata mencintai Sasuke?
Hatinya sakit. Dia hancur berkeping-keping. Tetapi wajah Sakura yang berusaha kuat dan tegar serasa menampar telak. Dia memang tidak mengenal wanita itu dengan baik. Pertemuan pertama mereka tidak berlangsung baik, tapi Shion tahu kalau Sakura adalah wanita hebat. Dia terlatih untuk menyembuhkan luka orang lain selama bertahun-tahun, tapi tidak dengan lukanya sendiri. Mengapa ia begitu tega? Mengapa? Bahkan jika kenyataan menamparnya kalau Sakura lebih kuat darinya.
Sakura tidak mencoba membunuh dirinya sendiri. Sangat berbeda dengan dirinya yang lemah dan mencoba untuk melenyapkan nyawanya sendiri beberapa kali. Beruntung keluarganya masih memperhatikan dirinya dengan baik.
Jadi yang dilakukan Shion selanjutnya adalah menangis. Menangisi dirinya yang tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Sasuke padanya, menyakiti orang lain untuk meringankan rasa sakit di hatinya.
.
.
"Jangan ganggu keluargaku! Kau tidak tahu apa-apa, sialan." Umpat Sasuke ketika Yahiko dengan sengaja mendorongnya hingga punggungnya membentur tembok. Sasuke yang kaget tentu saja tidak bisa mengambil tindakan terlebih dulu ketika Yahiko sudah berjaga di depan pintunya dan membiarkan para anggota rapat keluar dan meninggalkannya bersama Sasuke seorang.
"Dengar, kau ini bodoh atau apa? Mengapa kau membuat Sakura menangis!?" geramnya dengan rahang yang mengetat.
Sasuke memalingkan wajahnya. Ia mengantisipasi jika Yahiko mungkin akan memukulnya atau melakukan hal lain yang bisa mencelakai dirinya.
"Jangan lakukan hal bodoh, Sasuke. Kau dan aku sama-sama brengsek karena membuatnya menangis," rahang Sasuke mengatup keras. Ia mendesis ketika Yahiko hampir saja memukul rahangnya dan ia cepat menghindar.
"Apa itu menjadi urusanmu, heh? Hanya karena kau ada di saat Sakura menangis, bukan berarti kau berhak mencampuri urusan kami. Kau tahu itu, bukan?" desis Sasuke yang diberi geraman tertahan Yahiko.
Yahiko terdiam, mereka hampir saja terlibat adu jotos. Tidak hanya adu mulut saja. Tangan Yahiko sejak tadi gatal untuk memukul wajah angkuh milik Uchiha Sasuke yang terlihat sangat menyebalkan di matanya. Memberinya sedikit pelajaran agar Sasuke jera.
"Aku memang tidak ada lagi di hidup, Sakura. Tapi kau tahu bagaimana perasaanku saat melihatnya menangis? Aku hancur," serunya hampir terdengar seperti bentakan.
Sasuke mengusap wajahnya. Kepalanya terasa memberat dan ia sendiri ingin segera pergi dari sini.
"Kaupikir aku tidak? Aku juga merasakan hal yang sama. Melihatnya menangis juga membunuhku!" Timpal Sasuke dingin.
Yahiko terkekeh kecil. Menyadari kalau mungkin saja Uchiha Sasuke bisa memanipulasinya. Dia tidak mudah dibohongi, bahkan orang sekelas Sasuke tidak bisa membohonginya begitu saja.
Tangan Sasuke terkepa. Ia melempar mapnya dan memberikan satu pukulan di rahang kanan Yahiko. Emosi menguasainya, ia tidak tahan untuk tidak memberi pelajaran Yahiko tentang masa lalunya karena meninggalkan Sakura dengan bayinya begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Yahiko mundur dengan tangannya memegang rahangnya yang mulai membiru, ia berdecih. Melangkah maju dengan kepalan tangannya.
"Kau berkaca pada dirimu sendiri. Apa yang pernah kaulakukan pada Sakura hingga membuatnya hancur seperti itu," sinis Sasuke yang membuat Yahiko melayangkan satu pukulan dan meleset hingga mengenai sudut bibirnya dan berdarah.
Itachi keluar lift dan mendapati pemandangan dimana sang adik sedang berkelahi dengan pria berambut oranye nyentrik. Itachi segera berlari untuk melerai keduanya. Ia terkejut ketika mendapati wajah masing-masing dari mereka sudah membiru bahkan mengeluarkan darah. Itachi mendorong tubuh keduanya untuk saling menjauh.
"Dengarkan aku, Uchiha. Jika sekali lagi kau melakukan ini pada Sakura, aku pastikan kau tidak akan bisa melihat wanita itu lagi untuk selamanya," tegas Yahiko dingin dan berlalu pergi meninggalkan Itachi yang tengah kebingungan dengan kata-katanya.
Itachi beralih pada sang adik dengan napasnya yang masih memburu. Sasuke mengusap sudut bibirnya yang robek dan menatap dingin pada sosok pria berambut oranye itu dengan tatapan marah dan kesal bercampur menjadi satu.
"Sasuke?" panggil Itachi pelan.
Sasuke meliriknya sekilas. Mengusap sudut bibirnya agak kasar dan berlalu pergi dari hadapan Itachi untuk menenangkan dirinya. Itachi lalu mengekori Sasuke dari belakang dan mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia segera pergi untuk mengambil sekotak obat dan membantu sang adik untuk membersihkan lukanya.
.
.
Sakura duduk termenung di meja makannya. Ia berharap kalau malam ini Sasuke akan pulang ke rumah dan mereka akan bicara. Atau apa pun yang ingin Sasuke sampaikan padanya. Sudah dua jam berlalu dari jam pulang Sasuke yang sebenarnya. Sakura mencoba menghubunginya dan ponsel Sasuke selalu berada di luar jangkauan.
Lusa nanti Ibu mertuanya pergi mengajaknya untuk berlibur bersama. Sakura berharap kalau Sasuke juga akan menyetujui usul Ibunya agar hubungan mereka bisa membaik dan mereka berdua bisa bicara untuk meluruskan masalah. Tapi mungkin semua sudah terlambat. Sakura berencana untuk pergi ke kantor suaminya tapi diurungkan niatnya karena perkataan Shion terasa meremas hatinya.
Mengapa rasanya sesakit ini? Bahkan Sakura tidak bisa lagi memikirkan alasan Yahiko yang pergi meninggalkannya.
"Kalau mencintai sesakit ini, seharusnya aku tidak lagi merasakannya…" gumam Sakura pada dirinya sendiri. Ia kembali memainkan ponselnya, berharap Sasuke mau menghubunginya kembali.
Makan malamnya tidak tersentuh. Ia menyediakan satu piring lagi untuk Sasuke dan mereka bisa makan malam bersama masakannya. Tapi lelaki itu memilih untuk tidak kembali dan Sakura tidak tahu dimana Sasuke akan tidur malam ini.
Sakura menumpu kepalanya dengan sikunya. Menangis sudah tidak ada gunanya lagi. Ia terlalu lelah untuk menangis. Yang dia lakukan adalah berjalan menaiki tangga putar dan pergi ke kamar untuk tidur.
.
.
Sakura hanya membawa satu koper kecil dan satu tas tenteng untuknya sendiri. Mikoto bilang kalau mereka berlibur hanya dua hari saja. Dikarenakan jadwal Sasuke yang padat dan juga kegiatan sosial Uchiha Fugaku yang cukup menyita banyak waktu luangnya.
Sakura mendesah berat ketika ia menaiki tangga pesawat Sasuke tidak ada bersamanya dan berjanji akan menyusul mereka nanti ketika berlibur. Mereka memilih untuk berlibur di pantai selatan Tokyo, Jepang selama dua hari penuh dan menyewa resort di sana. Itachi sudah mengurus segalanya agar terlihat lebih sempurna untuk hari libur mereka. Ya semoga.
Sakura mengambil tempat di sisi Itachi, menuliskan minuman pesanannya pada sang pramugari yang membawakan buku menu untuk mereka. Sakura sedang tidak bernafsu makan saat ini. Meskipun pelayanan kelas satu sangat memanjakannya, ia sedang tidak bernafsu untuk melakukan apa pun.
Berulang kali Itachi memergokinya tengah melamun. Sakura kaku dibuatnya karena ia tidak bisa menceritakan masalah ini pada siapa pun.
"Tidurlah, Sakura. Perjalanan kita masih dua jam lagi," celetuk Itachi ketika mendapati dirinya kembali melamun dan tidak mendengarkan ocehan Itachi yang sedikit memberikan hiburan untuknya.
Sakura menggeleng kecil. Ia berusaha menampilkan senyum terbaiknya dan Itachi tahu, kalau Sakura sedang menyembunyikan sesuatu di sana. Haruskah ia mengatakan kejadian yang sesungguhnya kemarin? Sasuke sudah menceritakan segalanya pada dirinya dan sikap tertutup Sakura membuat Itachi semakin bingung dibuatnya.
Ia harus memihak siapa disini?
Sakura mengusap wajahnya, ia memposisikan tempat yang nyaman untuknya tidur dan mulai memejamkan matanya perlahan-lahan.
.
.
Mereka baru sampai pukul tujuh malam. Sesampainya di resort, mereka dihidangkan makan malam dengan aneka makanan laut yang beraroma rempah-rempah. Membuat perut Sakura yang kosong mengamuk untuk segera memakan semuanya.
Sakura tersenyum kecil ketika ia ketahuan oleh Mikoto sedang memandangi makanan itu dengan pandangan lapar. Lalu, Fugaku dengan sopan menyuruh mereka semua untuk duduk dan memulai acara makan malamnya dengan khidmat. Tanpa ada salah satu dari mereka yang membuka percakapan.
"Ne, Sakura, Sasuke sangat menyukai makanan laut," Mikoto bersuara lebih dulu. Mengabaikan delikan dari Fugaku yang memiliki prinsip untuk tidak berbicara selama acara makan berlangsung.
"Huum, benar sekali, Sakura," timpal Itachi. Ia kemudian memotong ikan bakar itu dengan pisau miliknya. "Terkecuali cumi-cumi. Sasuke alergi dengan yang satu itu."
Sakura mengangguk dengan senyum. Ia akan mencatat itu baik-baik di dalam kepalanya.
Lalu, pintu ruang makan terbuka. Sasuke datang dengan kemeja abu-abu dan celana kain. Terlihat sekali kalau lelaki itu belum sempat mengganti pakaiannya. Tatapan mereka bertemu sejenak, Sakura memberikan Sasuke senyum kecil dan dibalas tatapan dingin darinya. Memalingkan wajah, Sasuke memilih untuk duduk setelah menyapa mereka singkat.
"Selamat makan. Maaf aku baru datang."
Sang Ibu tersenyum, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut rambut mencuat sang anak. "Kami baru saja mulai. Bagaimana kau bisa datang bersamaan dengan kami?"
Sasuke membalik piring miliknya dan meminum separuh gelas anggur. "Aku berangkat lima belas menit setelah kalian. Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku untuk dua hari kedepan," jawabnya singkat.
"Itu bagus," timpal Itachi dengan kedipan mata dan Sasuke hanya tersenyum kecil.
Mereka makan malam dalam diam. Sakura memilih untuk menjadi pendiam kali ini. Ia sendiri tidak tahu harus bicara apa untuk membuka percakapan diantara mereka semua.
.
.
"Kita perlu bicara."
Sasuke memutar tubuhnya dan ia menghentikan pergerakan tangannya untuk membuka kancing kemejanya. Sakura menghela napas panjang, ia memilih untuk duduk di tepi ranjang dan menatap lurus-lurus ke dalam oniks segelap malam milik suaminya.
"Kenapa kau tidak pulang kerumah? Aku mencoba menghubungimu, mengirimu pesan, menanyakanmu pada sekretaris dan asistenmu, mengapa kau tidak mencoba menghubungiku kembali?"
Alis Sasuke terangkat satu, kemudian ia kembali berbalik dan mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. "Aku sibuk," jawabnya singkat.
Sakura mengangguk dalam diam. Ia kembali menatap lirih punggung lebar suaminya. "Aku mengkhawatirkanmu, Sasuke."
Sasuke menghela napas pendek, lalu berbalik. "Kau lihat kalau aku baik-baik saja. Jangan tanyakan hal bodoh, Sakura. Aku lelah."
"Maaf," gumamnya pelan. Sakura mengusap wajahnya yang pucat. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya dan merapikan ranjang tempat mereka akan tidur malam ini.
"Kau saja yang tidur di sana, aku akan tidur di sofa," ujar Sasuke ketika melirik Sakura yang menyiapkan bantal untuknya berbaring.
Sakura menautkan alisnya, ketika ia ingin bertanya lebih jauh lagi, Sasuke pergi keluar kamar tanpa mengucapkan satu kata pun padanya.
Sakura duduk termenung di tepi ranjang. Menatap kosong pada pintu kayu kamarnya dengan pandangan memburam. Apakah Sasuke membencinya karena merahasiakan ini darinya? Mengapa? Ia hanya belum siap memberitahu Sasuke keadaan sebenarnya.
Menyiapkan bantal untuknya berbaring, Sakura memutuskan untuk pergi tidur dan melupakan masalahnya sejenak.
Hanya untuk malam ini…
.
.
Keesokan paginya setelah mereka selesai sarapan, Sakura memilih untuk pergi ke pantai dan bermain pasir pantai disana. Ia memakai celana santai dengan kaus longgar dan rambut panjangnya sengaja ia ikat tinggi agar tidak tertiup angin laut yang kencang dan membuat rambutnya menjadi kusut.
Sasuke duduk di kursi santai yang sudah disediakan pihak resort di pinggir laut bersama Itachi. Mikoto dan Fugaku memilih untuk berkeliling dan mencari buah tangan untuk mereka bawa pulang nanti. Sakura juga berniat untuk membeli beberapa benda unik untuk kedua orang tuanya.
Itachi menghampiri Sakura dan ikut bersamanya untuk duduk di pinggir laut dan membasahi kaki mereka dengan air laut yang jernih itu. Sakura tertawa kecil. Itachi sedikit berceloteh tentang masa-masa sekolahnya yang lucu dan beberapa kali menggodanya. Membuat Sakura terkikik geli karenanya.
Bunyi ponsel yang nyaring membuat keduanya terdiam. Sakura tahu kalau bunyi ponsel itu bukan berasal dari ponselnya, ia menoleh, menemukan Sasuke sedang menelepon dan menyingkir dari sana ke tempat yang lebih jauh dari mereka agar pembicaraannya tidak terdengar. Sakura menatap Sasuke yang memilih untuk tidak menoleh atau meliriknya sedikit saja.
Itachi yang melihatnya menepuk bahunya lembut. Lelaki yang berumur hampir kepala tiga itu tersenyum lembut pada Sakura. Sakura hanya diam dan mengangguk kecil. Kemudian ia kembali masuk ke dalam air untuk berenang.
.
.
Matahari hampir tenggelam sebentar lagi. Pemandangan ini menjadi momen tersendiri bagi Sakura yang duduk di tepi laut sembari menatap laut yang bertebaran warna oranye di sana. Sakura tersenyum lembut ketika matahari mulai tenggelam dan menyisakan langit berwarna oranye kemerahan di atas sana.
Malam mulai datang tetapi ia masih setia duduk disana. Memandang pemandangan alam seorang diri dan berharap kalau rasa sakitnya bisa ikut tenggelam bersama matahari disana dan tidak akan pernah muncul lagi.
Sakura menyembunyikan kepalanya di dalam lipatan tangannya. Menyembunyikan jeritan hati pilunya karena pengabaian Sasuke yang terasa menyakitkan untuknya. Sakura tidak tahu mengapa ia begitu bodoh untuk tidak terbuka dengan suaminya sendiri. Ini memang semua salahnya.
Ia kembali menunduk lebih peduli bagaimana kencangnya angin laut yang kini menghempas tubuh rapuhnya. Yang ia butuhkan adalah waktu. Waktu untuk sendiri dan menceritakan semua masalahnya pada alam lalu menangis.
.
.
"Kita harus bicara, Sasuke," suara lembut Sakura menghentikan langkah Sasuke yang hendak keluar dari pintu kamar karena tangan kecil wanita itu mencoba menahan lengannya kuat.
Sasuke berbalik. Ia melepas genggaman tangannya pada gagang pintu dan mendengarkan Sakura untuk berbicara.
"Aku minta maaf karena tidak memberitahumu sebelumnya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Kau pasti akan terluka jika melihat Shion seperti itu," aku Sakura. Ia berusaha jujur dan membuka semuanya. "Aku berencana memberitahumu jika keadaan Shion lebih baik, Sasuke. Aku bersumpah."
"Tapi terlambat, bukan? Aku sudah mengetahuinya tanpa perlu kau memberitahukannya padaku," suara Sasuke meninggi dan terdengar sinis.
Sakura mengangguk singkat. Ia memilih untuk duduk di atas ranjang dengan Sasuke yang bersandar pada pintu kamar.
"Aku juga hancur. Kau tahu? Aku juga hancur. Shion tidak pantas menerimanya, bukan? Dia wanita yang baik. Dia memiliki masa depan yang panjang," lirih Sakura. Hebat. Dia memuji dirinya sendiri karena tidak menangis. "Pertemuan pertama kami memang buruk. Dia marah padaku, tapi aku senang. Itu bisa meringankan rasa sakitnya."
Sasuke mengangkat kepalanya. Mendapatkan sebuah senyum samar dari istrinya yang masih menatap tegak lurus ke arahnya.
"Hari demi hari berlalu. Aku semakin merasa bersalah. Aku seperti tidak lagi bisa membantunya. Dia semakin terlihat putus asa dan aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan semua aksi nekatnya."
"Aku hancur melihatnya seperti itu," Sakura mendongak ketika mendengar gumaman samar dari Sasuke yang terdengar sampai ke telinganya. "Aku ikut hancur."
Tangan Sakura bergetar. Ia mencoba tersenyum namun gagal. Kata-kata Shion terngiang di kepalanya. Bagaimana hubungan mereka yang selama ini terjalin. Dan bagaimana Sasuke yang dengan sabarnya menunggu Shion hingga wanita itu tersadar dari kritisnya.
"Aku terkadang berpikir … kenapa bukan aku saja yang mengalaminya dan bukan wanita malang itu," Sakura memalingkan wajahnya untuk menatap ke luar jendela kamarnya. "Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawaku sama seperti ia mengambil nyawa anakku."
Sakura menoleh. Mendapati wajah Sasuke yang datar dan kosong ketika menatap matanya. Kemudian wanita itu tersenyum, ia bangkit dari ranjang dan bergerak untuk mendekati Sasuke yang memilih untuk keluar kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Tidak memedulikan bagaimana keadaan Sakura saat ini.
Sakura terdiam di tempatnya. Ia memilih untuk bersandar di tepi jendela kamar dan melamun.
.
.
Pagi-pagi buta mereka telah mendarat sempurna di landasan udara kota Tokyo. Itachi segera kembali ke rumah bersama kedua orang tuanya dan Sakura kembali ke rumah bersama Sasuke yang memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat dan tidak bersuara sama sekali sejak tadi.
"Antarkan aku ke hotel, aku punya urusan di sana," Sasuke berkata dingin pada sang supir yang kini berputar arah menuju hotel dimana Sasuke menginap selama ini.
Sakura mengerutkan dahinya, ia menoleh untuk menatap wajah Sasuke. "Kenapa harus ke hotel? Tidakkah kau mau sarapan dulu?"
Sasuke menggeleng. Ia kembali diam dan melemparkan tatapannya pada luar kaca mobil. Ia tidak berniat untuk membuka percakapan lebih jauh lagi.
Sasuke turun dari mobil setelah sang supir memberhentikannya tepat di depan pintu kaca hotel berbintang lima tersebut. Sakura melambaikan tangannya dan tersenyum simpul ketika Sasuke hendak turun dari mobilnya dan tidak mendapat respon apa pun dari lelaki itu.
Lalu kemudian mobil itu membawanya kembali ke rumah. Sakura harus segera bersiap-siap untuk bertemu janji dengan Ino siang ini. Mereka akan makan siang bersama lalu pergi berbelanja bulanan.
.
.
Siang ini cukup terik dan jalanan juga tidak mendukung aktifitasnya saat ini. Ino membatalkan janjinya karena ada urusan penting dan Sakura memutuskan untuk pergi sendiri menuju supermarket.
Tepat di saat lampu merah menyala, Sakura melihat Sasuke tengah berbicara dengan seorang wanita dengan rambut perak sepunggungnya tengah berbicara serius. Jarak mereka cukup jauh dan Sakura tidak bisa mendengan pembicaraan mereka. Ia cukup melihat mereka dari jauh dan menebak apa yang sedang mereka bicarakan.
Sasuke terlihat frustasi. Lelaki itu lalu dengan kilat memeluk wanita itu dengan erat di depan umum. Sama sekali tindakan yang belum pernah Sasuke tunjukkan padanya. Sakura memejamkan matanya yang mulai memburam. Lampu merah tersisa dua puluh detik lagi dan Sasuke belum mau melepas pelukannya. Sakura memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia kembali menutup kaca mobilnya dengan salah satu air mata yang tumpah di pipi kanannya.
Ia menepuk bahu sang supir dengan lembut dan berkata, "kita kembali ke rumah. Aku ingin tidur."
Sang supir segera memutar arah mobilnya dan kembali ke rumah. Sakura butuh istirahat saat ini juga. Ia menutup wajahnya yang memerah dan isakan kecil lolos dari bibirnya. Sakura tidak tahu, ia berusaha menahannya sebisa mungkin tapi tetap saja gagal. Pemandangan itu terasa menyakitkannya dan kata-kata Shion terasa mengiris hatinya. Sakura pernah melihat Sasuke sebelumnya seperti ini. Namun perasaannya belum sedalam ini.
Sakura turun dari mobilnya. Terkejut ketika mendapati Yahiko tengah bersandar pada mobil mewahnya sedang menunggu seseorang. Dengan langkah ragu, Sakura mendekat, membuat Yahiko yang melihatnya tersenyum kecil.
"Hei, aku menunggumu."
Sakura mengerutkan alisnya. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya dan memasang wajah polos. "Aku? Kau ingin membicarakan sesuatu?"
Yahiko mengangguk cepat. Lalu tatapan matanya berubah ragu ketika menatap Sakura. "Aku harus mengatakan ini, Sakura."
"Aku berkelahi dengan Sasuke kemarin," Ya Tuhan, Sakura menutup mulutnya yang terbuka. Pantas saja sejak semalam Sasuke menghindarinya yang mencoba mengobati luka di pipinya. Lelaki itu tetap tutup mulut ketika Sakura mendesak Sasuke untuk menceritakan kejadian yang dialaminya.
"Dengarkan aku, Sakura. Pergilah bersamaku, aku berjanji, aku akan membuatmu bahagia. Kita tidak akan pernah terbayang masa lalu lagi. Kita akan pergi jauh dari sini. Sasuke hanya membuatmu sedih."
Sakura terdiam. Kedua matanya melebar dan sorotan mata tajam tidak bisa membohonginya. Ia hanya terdiam, membiarkan Yahiko menebak sendiri apa jawaban yang akan Sakura berikan.
Sakura mundur perlahan-lahan, ia masing diam tidak menjawab kata-kata Yahiko dan memilih untuk lari dari sana dan pergi ke dalam.
Yahiko terdiam di tempatnya, ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya lalu pergi.
.
.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan hubungi beberapa saat lagi."
Lagi. Sakura menelan bulat-bulat kekecewaannya. Ia mendesah berat dan menyembunyikan helaian merah mudanya di atas meja. Ia melirik sebotol kecil yang berisikan pil penenang. Ia berhenti meminumnya sejak satu minggu yang lalu. Merasa kalau pikirannya sudah lebih baik dan tidak ada lagi beban yang terlalu berat untuk dipikulnya.
Hari menjelang malam, Sasuke tidak kunjung pulang ke rumah. Kata-kata Yahiko berputar terus di dalam kepalanya. Kepingan tentang kejadian hari ini terasa membuat kepalanya ingin pecah.
Sakura mengambil botol itu dan membukanya kasar. Mengambil puluhan obat penenang itu dan meminumnya sekali tegukan bersama segelas air. Terus begitu hingga botol obat itu kandas tak tersisa.
Kemudian ia merasa kepalanya pusing dan matanya mulai berkunang-kunang. Ia tidak lagi tahu apa yang dirasakannya. Tubuhnya terasa mati rasa dan organ dalamnya serasa tidak mau lagi bergerak. Ia tidak tahu kalau rasanya mati semenyakitkan ini. Ia jatuh dengan kepala membentur kaki meja dengan keras dan berdarah hingga darah mengalir dari kepala bagian belakangnya. Sakura jatuh tak sadarkan diri kemudian lalu tubuhnya bergetar hebat dan kejang-kejang selanjutnya.
Mulutnya mengeluarkan cairan putih dan mengalir melalui sudut bibirnya hingga bercampur dengan darah kental dari kepalanya. Sakura sudah sepenuhnya tidak sadarkan diri dan nyawanya berada di ambang kematian.
.
.
"Sakura! Aku membawakan barangmu yang tertinggal tadi." Itachi membuka pintu utama ketika memencet bel tidak ada yang membukanya. Tetapi lampu rumah menyala terang menandakan kalau ada penghuni di dalamnya.
Itachi masuk ke dalam masih dengan meneriakkan nama Sakura dan Sasuke secara bergantian dengan lantang.
Ia mencium bau anyir darah ketika dirinya menginjak lantai dapur hendak naik ke lantai atas. Lalu, bau itu semakin menyengat ketika dia melihat ada sebuah botol kecil kosong di atas meja makan dan darah yang mengalir dari bawah meja.
"Oh, Tuhan!" Teriak Itachi tanpa sadar ketika berlari dan mendapati Sakura yang kejang-kejang dan mulutnya yang setia mengeluarkan cairan putih. Masih dengan darah yang mengalir dari kepala bagian belakang, Itachi membawa Sakura keluar dari rumah menuju mobilnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi. Keringat mengalir deras membasahi dahinya. Ia melirik Sakura yang kini diam. Wajahnya yang biasa memerah kini memucat sempurna.
"Sakura, bertahanlah, apa yang harus kukatakan pada Sasuke nanti…"
.
.
Sasuke merapikan berkas-berkas laporan untuk ia serahkan besok di dalam laci kerjanya. Ini sudah pukul tujuh malam dan ia harus segera kembali. Pikirannya kembali dilema, antara hotel atau kembali pulang ke rumah.
Sasuke memikirkan rumah. Ia harus bicara dengan Sakura dan meluruskan segalanya. Menghapus kesalahpahaman diantara mereka dan menjelaskan semuanya.
Kemudian ponselnya bergetar hebat, Sasuke mengerutkan dahinya sebelum mengambilnya. Nama Itachi tertera di sana.
"Itachi?" panggil Sasuke datar.
"Sasuke…" Suara Itachi tenggelam bersamaan dengan napasnya yang memburu dan suara langkah kaki yang berlari. Lalu, suara putus asa Itachi terdengar dan beberapa suara orang lain yang ikut masuk ke dalam sambungan telepon mereka semakin membuat Sasuke gelisah.
"Itachi, Itachi, kau mendengarku? Kau dimana?" Seru Sasuke dengan suara tinggi yang hampir panik.
"Tolong dia, dokter. Tolong dia, tolong selamatkan nyawanya kumohon.."
Sasuke semakin panik dibuatnya. Itachi serasa tidak mendengar suara tingginya. Sasuke lalu keluar dari ruangan dan berharap kalau kali ini Itachi tidak membawa kabar buruk tentang keluarganya. Atau Ibunya atau Ayahnya. Sasuke tidak bisa memikirkan segala kemungkinan yang ada.
"Itachi, apa yang terjadi?"
"Sasuke," suara Itachi tertelan di sela isaknya. "Sakura sedang dalam masa kritis. Kami dirumah sakit sekarang."
Sasuke tanpa sadar menjatuhkan ponselnya. Beribu pertanyaan bermunculan di kepalanya. Ia kemudian teringat kata-kata Sakura beberapa hari yang lalu di rumah sakit.
"Apa kau akan melakukan hal yang sama ketika aku berada di posisi yang sama seperti dirinya?"
"Ya, Tuhan, apa yang aku lakukan kali ini.."
.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
.
Author Note:
With the same song like yesterday. All I Ask, still makes me crying over huhu.
Anw, karena feels saya lagi bagus. Saya balesin review satu-satu dulu ya!
Jamurlumutan462: udah update kilat belum? Huhu iya Sakura sebelas duabelas gabeda jauh sama authornya wkwk /dikemplang
Nuniisurya26: huhu ikut sedih jadinya. Tuntutan ceritanya mengharuskan salah satu dari mereka untuk merelakan dan mengikhlaskan begitu. Jadinya ya … mau gimana lagi aaahhh jangan ikut baper kaaa
D3rin: heee beneran nangis itu? kalau endingnya sihh masih bisa nebak-nebak ya gimana wkwk
Miyasato: update asap as your wish.
Kasihrukmana2818: iyanih. Bukan maksudnya ditelantarin bung. Emang belum ada feelsnya nulis di fic itu. Kalau belum ada feelsnya dipaksain nulis malah ga karu-karuan jadinya.
Liana na: huuuu baper banget emang ya? mulai ada perasaan belum ya … hmhmhm
Kuracakun: tidak ada gaara di sini, dear. Hanya ada Naruto, Sasuke, Itachi, Sakura, Ino (kadang nyelip) udah. Hmm Shion sama siapa ya cocoknyaa?
Ayuwahyuni7: Shion gamati www dia masih idup lagi itu btw. Strong juga ye Shion huhu.
Miyuki: YOU RIGHT HUUHU INI SETUJU BANGET ASELI.
Coalacolacola: Happy belated birthday for u :) all the best wishes for you! Hihi. Iyaanihh, makasi banyak ya udah dibilang bagus padahal mah apa atuh.
I'm not your mom: chandelier proses yaa
Linda Y: thank you untuk masukannya. Siap siap ditunggu aja yaa
Anonymous: awalnya sih mikir cuma sampai delapan apa sembilan. Tapi pas dipikir-pikir lagi kayaknya memang sampai sembilan chapter aja dan kalau pun digenapin sepuluh plus epilog nanti (kalau ada)
Ariana: thank you, dear! wkwk iya imajinasi, galau, setres, broken, kecampur jadinya begitu hasilnya. Semoga chap ini tetep gangecewain yaa!
Terima kasih untuk para reviewers yang masuk ke kotak review. Saran, dukungan, kritik, kalian bikin saya seneng banget. Gaboong. Ganyangka kalau Innocence masih ada yang setia nungguin. And this chapter, special for u guys yang udah setia nunggu fic ini buat update.
Lots of Love
Delevingne
