Shion memutar-mutarkan cangkir tehnya acak. Searah dengan pergerakan jarum jam. Sudah hampir dua puluh menit dia duduk di sini dengan segelas teh dan sepotong kue lemon yang menjadi kue favoritnya selama ini.
Mata peraknya terus menyusuri ke luar jendela dengan pandangan kosong. Lalu lintas tampak ramai hari ini. Mobil berserta angkutan umum lainnya tampak memadati jalan-jalan besar.
Ini adalah restaurant favoritnya selama ia menjalin hubungan bersama seseorang. Seseorang yang kini sudah menjadi milik orang lain dengan suatu ikatan sah bernama pernikahan. Tidak ada lagi celah untuknya masuk dan menghancurkan semuanya. Ia tidak pernah diajarkan untuk menjadi duri bagi orang lain. Tidak pernah.
Bahkan orang tuanya memilih untuk memaafkan dan mengikhlaskan apa yang terjadi pada dirinya. Meskipun rasa kemarahan dan kekecewaan itu ada, mereka memilih untuk memendamnya rapat-rapat dan tidak lagi pernah membicarakannya.
"Apa kau menunggu lama?"
Suara berat seorang pria membuatnya mengangkat kepalanya, ia menyunggingkan senyum kecil dan kepala pirangnya menggeleng. "Tidak, baru dua puluh menit," jawabnya sambil terkekeh.
Pria itu hanya mengangguk. Tanpa melepas jas kerjanya, ia menarik kursi untuknya duduk dan meminta secangkir kopi panas pada pelayan yang lewat.
"Ada yang harus kita bicarakan, Sasuke," Pertama-tama dirinya yang harus membuka percakapan. Dia yang membuat pertemuan ini. Dia yang memaksa Sasuke untuk bertemu dan berbicara. Mereka membutuhkan waktu untuk berdua. Walaupun keadaannya belum pulih total, ini harus dilakukan.
Sasuke mengangguk singkat. Ia diam dan mendengarkan apa yang akan Shion katakan.
"Aku berobat pada Sakura. Awalnya itu tidak sengaja, aku tidak tahu kalau Sakura adalah seorang dokter kejiwaan. Aku tidak berpikir untuk ke sana. Tetapi semenjak aku melihat daftar nama dokter yang bertugas, aku sengaja memilihnya," Shion berbicara sembari menatap dalam cangkir tehnya. "Lalu, aku melihatnya untuk yang kedua kalinya. Seorang wanita cantik dengan wajah tegas dan pendirian yang kuat. Itu sosok yang pertama kali aku lihat ketika aku benar-benar menatap matanya."
Shion melirik Sasuke yang terdiam. Lelaki itu tidak berniat memotong ucapannya. Terlihat sekali bagaimana pandangan Sasuke yang datar padanya.
"Tetapi aku selalu membuatnya sedih. Aku selalu membicarakan dirimu di depannya. Itu bodoh dan kekanakkan," ia tersenyum kecut. "Aku belajar banyak hal ketika aku bersamanya. Dia benar, aku tidak akan pernah bisa sembuh kalau aku tidak pernah berniat untuk benar-benar sembuh."
"Kupikir wanita yang kau nikahi adalah wanita licik yang hanya mengincar hartamu saja. Dia hanya mengejar materi dan semua apa yang digilai wanita pada umumnya darimu. Tetapi dia berbeda. Sangat berbeda. Dia wanita yang apa adanya."
Sasuke diam. Masih tetap diam.
"Aku tahu dia juga menyimpan luka yang sama. Itu terbaca jelas di matanya. Ia bukanlah tipe pembenci seperti yang pernah kupikirkan. Dia mencoba memelukku, dan aku menolaknya."
Shion mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil pada Sasuke. "Aku sempat berpikir untuk menjadi duri di pernikahan kalian setelah aku mengetahui semuanya. Tetapi ketika aku melihat Sakura lebih dekat lagi, aku tidak akan mampu melakukannya."
"Itu bagus," jawab Sasuke singkat.
Shion tersenyum samar. "Ya, jika aku menikah nanti, aku juga akan mendapat perlakuan yang sama dari suamiku nanti," ujarnya dengan terkekeh kecil.
"Dia wanita yang baik. Dia sempurna. Dia lebih baik dariku. Dan itu alasan kenapa Tuhan memisahkanku darimu, kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Aku belajar banyak hal dari kejadian yang lalu," ucap Shion dengan senyum.
Sasuke melebarkan matanya. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Kata-kata Shion baru saja terasa menamparnya. Wanita ini, mantan tunangannya, mantan kekasihnya, baru saja berbicara hal seperti ini padanya. Ia tidak berpikir jauh kalau Shion benar-benar melakukan hal ini padanya.
"Kau juga akan mendapatkan yang lebih baik," kata Sasuke singkat.
Shion tersenyum lebar. "Oh, tentu saja. Tuhan sudah menyiapkan hadiah yang besar untukku. Hanya saja, aku belum sempat mencarinya."
Sasuke mau tak mau ikut tersenyum karenanya. Meskipun hanya berupa garis bibir yang sedikit melengkung ke atas, itu cukup membuat senyum Shion melebar.
Shion bangkit dari tempat duduknya setelah ia menyelipkan beberapa lembar uang di bawah cangkir minumannya. Ia menghentikan Sasuke yang hendak membayar pesanannya dengan gelengan kepala dan Sasuke menurutinya.
Lalu, mereka berdua keluar bersamaan dari restaurant tempat dimana semuanya bermula. Tempat dimana awal hubungan mereka terjalin dan berubah menjadi akhir di tempat yang sama.
Shion menginjak lantai halaman restaurant terlebih dulu. Ia melirik Sasuke yang membenarkan jas kerjanya.
"Sasuke, aku benar-benar melepasmu. Benar-benar melepasmu. Berjanjilah untuk bahagia," lirih Shion tulus.
Sasuke menoleh, ia melihat senyum itu sekali lagi. Senyum yang pernah ia puja dulu.
"Aku tahu kau juga mencintainya. Katakan padanya sebelum semua terlambat," ujar Shion dengan mata peraknya menyipit dengan senyum. Kemudian ia memukul pelan bahu Sasuke, seperti apa yang pernah ia lakukan dulu. "Kalian harus bahagia. Aku akan mendoakan untuk kebahagiaan kalian berdua."
Sasuke tersenyum. Senyum yang ia tunjukkan benar-benar sebuah senyum tulus. Lalu, sebelah tangannya terulur untuk menarik tubuh mungil itu mendekat, mendekapnya dalam pelukan hangat yang lama.
"Kau juga. Kau juga harus bahagia. Maafkan aku," lirih Sasuke ketika merasakan ada tangan mungil yang melingkari pinggangnya.
Tanpa mereka berdua sadari, ada sosok lain yang melihat pemandangan itu dengan mata memburam dibalik tebalnya jendela kaca mobil. Mata hijau yang tadinya cerah itu kini berubah redup ketika melihat pelukan mereka semakin erat. Dan akhirnya, sosok itu berlalu pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan.
.
.
.
.
.
.
.
Innocence
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
Warning: Typo(s), Miss Typo, Alternative Universe.
.
Dedicated for nuniisurya26
.
Jadi, Sayang, hati mana lagi yang akan terluka dengan segala kepalsuan ini?
.
.
.
Itachi duduk di kursi tunggu dengan wajah pucat serta keringat yang mengalir di pelipisnya. Ini sudah hampir satu jam Sasuke tidak kunjung datang dan dokter tidak juga keluar dari ruangan.
Ia tidak mungkin menghubungi orang tuanya. Mereka akan panik dan tentu saja, masalah ini akan bertambah runyam. Biarkan adiknya menyelesaikan ini secara dewasa. Baru setelah itu, ia akan memberitahu orang tuanya.
Dokter keluar dari ruangan dengan masker yang diturunkan dari hidungnya. Ia menatap Itachi dengan pandangan penuh lega dan sebuah senyum simpul di bibirnya.
"Kami berhasil menyelamatkannya. Benturan itu cukup keras dan membuatnya hampir saja kehilangan nyawanya karena mengenai titik fital dari kepalanya. Tapi semua baik-baik saja, ia harus melewati masa kritisnya terlebih dulu sebelum ia benar-benar pulih."
"Apa dia mengalami hal lain atau apa?" tanya Itachi.
Kepala dokter itu mengangguk. "Menurut scan yang kami lakukan, ia memiliki ketergantungan dengan obat penenang yang berlebihan. Ini berbahaya, efek obat itu bisa membunuhnya langsung di dalam tidurnya lain waktu. Jika kau bisa membantu kami untuk menasihatinya agar tidak terlalu bergantung pada obat itu."
Itachi mengangguk. Sakura sudah keluar dari masa sulitnya. Ia hanya menunggu untuk bangun dan melewati fase-fase kritisnya. Mungkin berlangsung satu atau dua hari. Semoga saja.
Dokter itu berpamitan pergi pada Itachi. Itachi kembali duduk, ia mengacak rambutnya kasar. Kenapa ini harus terjadi. Kenapa harus terjadi lagi? Bagaimana kalau nyawa Sakura tidak terselamatkan lagi?
Suara langkah sepatu mengusik telinganya, Itachi mendongak, mendapati Sasuke yang tengah berlari dengan langkah tergesa-gesa. Wajah lelaki itu jauh lebih pucat darinya. Berkali-kali Sasuke berusaha mengintip dari tirai jendela yang sedikit terbuka, namun nihil.
"Apa yang dokter katakan, Itachi!?" suaranya tampak putus asa dan frustrasi.
Itachi hanya diam. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menggeleng kecil. "Kau bisa tanyakan langsung pada dokter yang menanganinya," jawabnya datar. Membuat geraman tertahan Sasuke terdengar sampai ke telinganya.
Tanpa aba-aba lagi, Sasuke segera pergi melesat untuk menemui dokter yang menangani kondisi Sakura. Itachi tidak mau memberitahunya, biarkan Sasuke yang mencari tahu sendiri apa yang sedang dialami istrinya. Jadi, yang dilakukan Itachi hanyalah diam dan menunggu. Menunggu sampai semua mimpi buruk ini berakhir.
.
.
Sudah satu hari terlalui, tetapi Sakura belum juga bangun dari tidurnya. Dokter melarang siapa pun untuk masuk ke dalam ruangan wanita itu, meskipun Sasuke sendiri adalah suami sahnya. Dokter melarangnya sampai Sakura bisa melewati fase kritisnya terlebih dahulu.
Jadi, yang Sasuke lakukan adalah tetap duduk di kursi tunggu. Menunggu sang istri untuk bangun dari tidur panjangnya.
Sasuke tidak tahu mengapa Sakura bisa berbuat jauh untuk menghabisi nyawanya sendiri dengan meminum obat laknat itu? Bahkan Sasuke sendiri tidak pernah tahu kalau Sakura memiliki kecenderungan obat itu sejak lama. Jadi, Sakura menyembunyikan hal ini darinya?
Naruto datang dengan langkah tergesa-gesa. Ia menepuk bahu Sasuke yang tampak tegang dan menyuruh lelaki itu untuk tetap tenang dan sabar menunggunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Sasuke?"
Sasuke hanya diam. Ia menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya di atas lutut kakinya. Naruto yang melihatnya hanya mampu tersenyum sedih dan mencoba menghiburnya namun berakhir gagal. Sasuke sedang tidak ingin dihibur siapa pun. Yang ia inginkan adalah untuk Sakura tetap hidup. Itu saja.
.
.
"Makanlah, kau belum makan sesuatu sejak tadi malam," Itachi memberikan sepotong roti isi pada sang adik dengan sebotol air putih untuk adiknya. Sasuke hanya melihat roti itu sekilas dan menggeleng kecil.
"Tidak lapar."
Itachi mendesah berat. Ia menaruh roti itu di samping tempat duduk adiknya dan memilih untuk duduk di kursi seberang Sasuke.
"Aku tidak memberitahukan ini pada orang tua kita. Mereka akan panik dan Ibu akan menangis terus. Aku tidak sanggup melihatnya. Mereka pernah melihat kejadian yang lebih mengerikan dari ini," kata Itachi lirih, ia menatap kosong pada roti yang sudah tersobek bungkusannya.
Sasuke masih tetap diam. Sejak kemarin ia belum bersuara sama sekali. Setelah ia mendengar apa yang dokter itu katakan, dunianya terasa runtuh saat itu juga. Ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Sakura keluar dari masa sulitnya. Ia memang handal dalam pekerjaannya, bahkan ia terkenal tidak pernah melakukan suatu kesalahan ketika tangannya sudah mulai menyentuh kertas putih. Tapi mengapa ini terasa sulit?
Itachi menghembuskan napas panjang. Berbicara dengan Sasuke sama saja berbicara dengan tembok rumah sakit. Nihil. Tidak akan ada jawaban yang keluar dari sana. Itachi sendiri terkadang heran, mengapa Sasuke tumbuh menjadi pribadi tertutup dan dingin seperti itu? Mereka dibesarkan dengan cara yang sama. Penuh kasih sayang yang sama. Tidak merasa kekurangan apa pun.
Mungkin karena sifat mereka yang berbeda. Berbanding terbalik dengan apa yang seperti dikatakan orang-orang. Kalau Sasuke adalah sosok misterius yang tertutup dan tak tersentuh.
"Kau pulang saja," Itachi membuka suaranya hampir seperti sebuah bisikan.
Sasuke mengangkat kepalanya, ia menaikkan satu alisnya. "Tidak. Kau saja yang pulang," ketusnya.
Itachi beranggapan kalau Sasuke sedang ingin bergurau dengannya. Tetapi sayangnya tidak. Nada bicara lelaki itu sungguh dingin dan terdengar tidak suka.
"Ya, baiklah. Terserah kau saja." Balas Itachi.
Sasuke hanya diam. Ia menatap sang kakak dengan datar lalu kembali berkutat dalam pikirannya.
.
.
Naruto melangkahkan kakinya keluar dari teras rumah sakit. Ia tidak sengaja bertemu Yahiko yang tengah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus tamu. Sebagai rekan bisnis yang baik, ia melangkah ke arahnya dan menegurnya ramah.
"Yahiko, sedang apa kau disini?"
Yahiko menoleh. Ia memberikan Naruto senyum kecil. "Menjenguk seseorang," jawabnya singkat.
Naruto mengangguk cepat. Ia memainkan kunci mobilnya. "Aku juga. Sasuke tidak masuk kerja hari ini. Kupikir dia punya masalah, dan ternyata ini berkaitan dengan Sakura."
Yahiko terlihat tidak terkejut. Ia hanya mengangkat alisnya berpura-pura tidak tahu dan tetap tenang. Meskipun pada kenyataannya, ia ingin sekali memukul wajah angkuh Uchiha Sasuke dengan kepalan tangannya yang keras.
"Ada apa dengan dirinya?" tanya Yahiko.
Naruto menggeleng sedih. Wajahnya yang tampak ceria berubah sedih. "Sakura kritis. Aku tidak tahu apa yang membuat wanita itu terbaring di rumah sakit ini. Sasuke tetap diam dan Itachi juga sama. Mereka sedang sedih. Aku tidak tega menanyakannya lebih jauh lagi."
Rahang Yahiko mengeras seketika. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. "Kalau begitu aku akan mampir," dustanya dengan senyum samar. "Kau kembali saja. Urus istrimu itu." Dan membuat Naruto tersenyum lebar.
Naruto segera pamit undur diri dan pergi menuju mobilnya. Meninggalkan Yahiko yang menatap mobil hitam mewah itu dengan pandangan marah. Tentu saja ia tahu bagaimana keadaan Sakura saat ini. Ia kemari untuk menjenguk wanita itu. Ia sengaja membatalkan semua rapat hari ini dan seterusnya selama Sakura masih dalam keadaan kritis. Ia harus disana untuk menunggunya. Memberikan sedikit pelajaran pada Uchiha Sasuke karena sudah berani merusak hidup wanita itu untuk kedua kalinya.
Ia pikir, Sakura bahagia. Tapi ia salah besar. Uchiha Sasuke hanya memberikannya kesedihan bukan kebahagiaan seperti yang ia harapkan.
Setelah mendengar kabar kalau Sakura meminum obat penenang dan overdosis. Ia segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi wanita itu. Hatinya hancur. Saat di jalan, ia tidak bisa berkonsentrasi penuh. Pikirannya hanya ada Sakura. Jika wanita itu tidak selamat, bagaimana?
Yahiko menghela napasnya. Ia masuk ke rumah sakit dan menanyakan pada resepsionis dimana ruang rawat Sakura.
.
.
"Sepertinya pria itu ingin menjenguk Sakura," bisik Itachi hampir bergumam yang berhasil ditangkap oleh telinga Sasuke.
Dengan gerakan kilat, Sasuke mendongak, menemukan Yahiko berjalan terburu-buru ke arahnya. Ia berdiri, hendak menghentikan langkah lelaki itu untuk mendekati pintu kamar Sakura namun terhalang oleh pukulan tangan Yahiko yang terlalu cepat.
"Sial," umpat Sasuke yang merasakan pukulan tepat di rahangnya dan memerah. Untung saja tidak sampai mengenai bibirnya dan robek.
Yahiko masih diam. Ia memandang Sasuke dengan pandangan marah yang bercampur benci dan kecewa. Entahlah, perasaannya saat ini campur aduk. Ia ingin melampiaskannya pada lelaki ini.
"Ini rumah sakit! Jangan bertengkar kalian!" Seru Itachi yang langsung menengahi mereka berdua ketika ia melihat Sasuke mengepalkan tangannya untuk membalas perbuatan Yahiko padanya.
Sasuke mundur ketika Itachi menatapnya tajam. Begitu juga dengan Yahiko yang memilih untuk mundur dan duduk diam di tempatnya tanpa berkata apa-apa lagi. Wajah keduanya memerah karena menahan amarah.
"Jangan bertindak kekanakkan, Sasuke. Duduklah," perintah Itachi hampir terdengar seperti bentakan. Sasuke duduk, ia mengusap rahangnya dan sesekali meringis perih karenanya.
"Aku tidak mengenal dirimu. Tapi bersikaplah dewasa setidaknya," tunjuk Itachi pada Yahiko yang kini memalingkan wajahnya. Itachi menghela napas pendek. Para pengunjung dan pegawai rumah sakit sedang memerhatikan mereka. Saat ini kedua laki-laki ini menjadi pusat perhatian. Itachi tersenyum kecil untuk meredakan suasana yang tampak tegang dan kembali duduk di samping sang adik.
Napas Sasuke masih terdengar memburu. Itachi yang mengetahuinya hanya bisa diam. Ia sendiri sedang bingung. Apakah lelaki ini adalah bagian dari masa lalu Sakura? Kalau begitu, mengapa ia kembali?
.
.
Malam sudah semakin larut. Itachi pergi untuk membeli makan malam yang ada di kantin rumah sakit. Sasuke masih duduk dengan sabar menunggu Sakura untuk bangun. Tubuhnya mati rasa, ia tidak bisa melakukan apa pun selain duduk diam dan menunggu.
Yahiko sudah kembali ke rumahnya sejak sore tadi. Entahlah, mungkin karena hawa diantara mereka berdua tidak kunjung reda, membuat lelaki itu akhirnya mengalah dan pergi.
"Pulanglah. Kau perlu istirahat," Itachi datang dengan segelas kopi panas dan beberapa makanan bungkus untuk mereka berdua.
Sasuke menerima kopi seduhan itu, ia menatap dalam-dalam pada cairan hitam pekat yang masih mengepulkan asap. "Aku hanya ingin berganti baju, setelah itu akan kembali."
Itachi mengangguk dengan senyum. Ia membiarkan Sasuke pulang ke rumah dan ia akan bergantian menjaga Sakura malam ini.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Itachi melirik nama sang pemanggil yang kini terpampang di layar ponselnya. Dengan wajah bingung dan perasaan bercampur kalut, ia menjawabnya.
"Halo?"
"Kau di mana?"
Itachi berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Aku sedang makan malam, Ibu. Jangan khawatir," dusta Itachi.
Terdengar helaan napas panjang dari sana. "Astaga. Aku sangat khawatir padamu. Sejak pagi kau menghilang, nak. Ngomong-ngomong, aku tidak bisa menghubungi Sasuke. Kemana dia?"
Mulut Itachi berhenti mengunyah. Ia memikirkan jawaban yang tepat untuk ini. "Dia sedang sibuk kurasa."
"Kalau begitu, besok aku akan mengunjunginya. Aku rindu pada Sakura. Kita bisa pergi keluar untuk makan malam bersama," ujarnya terdengar ceria.
Wajah Itachi memucat seketika. Genggaman pada teleponnya hampir terjatuh. "Ibu, aku hubungi lagi nanti, ya."
Suara Uchiha Mikoto terdengar sedih. "Ya, baiklah, nak. Sampai jumpa. Cepat pulang, ya."
"Baik, Bu."
Sambungan telepon mereka terputus. Itachi menghela napas panjang. Ia menatap datar pada pasta pesanannya untuk makan malam. Tidak lagi berselera makan, ia menutup pasta itu dan mendorongnya menjauh. Lalu, ia memejamkan matanya. Berkutat pada pikirannya sendiri.
.
.
Sasuke melangkah masuk ke kamarnya. Kasur berukuran besar itu tampak rapi dan tak tersentuh. Sakura yang merapikannya, itu pasti. Lalu, tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di pikirannya. Apa yang Sakura sembunyikan darinya pasti ada di kamar ini.
Sasuke mulai mencari botol kecil yang berisi pil penenang yang biasa Sakura minum sesuai yang dikatakan sang dokter tadi padanya. Ia mulai mencarinya, di bawah bantal, atas nakas samping tempat tidur, dan tempat-tempat lainnya.
Lalu, perhatiannya terpusat pada laci kecil yang tersembunyi di meja rias milik istrinya. Sasuke melewatkan laci itu, ia mendekat, mulai memutar kunci di sana.
Oniks gelapnya melebar ketika menemukan setidaknya lima botol kecil pil penenang dengan jumlah beragam. Hatinya mencelos ketika melihat bagaimana cara Sakura menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia mengambil salah satu botol di sana, menatapnya dalam dan menggenggamnya kuat-kuat.
PRAAAKK
Ia membanting botol itu ke dinding hingga isinya keluar dan bercecer di atas lantai kamarnya. Terus, ia melakukannya pada semua botol laknat itu dan membantingnya hingga isinya keluar.
Amarah tiba-tiba menguasainya, ia mundur perlahan-lahan hingga kakinya menatap ranjang miliknya. Menutup wajahnya rapat-rapat, Sasuke jatuh terduduk dengan bahu bergetar.
Dan yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Menangisi kebodohannya sekali lagi.
.
.
"Ah, Tuan,"
Sasuke menoleh pada supir kepercayaannya. Dengan wajah datar, ia mengangguk kecil dan pria paruh baya itu mendekat ke arahnya.
"Kemarin, aku mengantar Nyonya untuk pergi ke supermarket. Tetapi tiba-tiba ia meminta untuk pulang," akunya jujur.
Sasuke mengangkat alisnya. "Lalu?"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi seingatku, dia menangis sepanjang perjalanan pulang. Entahlah, ketika lampu merah menyala di persimpangan kota, tatapannya tidak pernah terlepas dari sisi kanan jalan."
Mata Sasuke melebar seketika. Mengapa ia begitu bodoh? Sakura pernah melihatnya sewaktu mereka belum menikah bersama Shion di tempat yang sama. Dan mengapa ini terulang lagi?
Sasuke mengangguk kecil. Ia menyuruh pria itu untuk pergi dan membiarkan ia mengambil alih mobilnya.
.
.
Itachi tertidur di kursinya. Wajah lelaki itu tampak pucat. Sasuke tidak tega untuk membangunkannya. Karena bagaimana pun juga, Itachi berjasa untuk menyelamatkan nyawa istrinya. Kalau Sakura telat lima belas menit saja, nyawanya bisa tidak tertolong.
"Pulanglah," suara dingin Sasuke memecah keheningan. Itachi yang baru saja membuka matanya tampak terkejut ketika mendapati sang adik sudah duduk di hadapannya dengan pakaian yang baru dan wajah yang masih tetap sama. Datar.
Itachi mengusap wajah mengantuknya. Ia mengangguk kecil dan segera pergi tanpa mengucapkan kata apa pun.
Lima belas menit kepergian Itachi, Sasuke juga dirundung rasa kantuk berlebih. Tetapi ia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya tidak mau beristirahat dan terus terjaga.
Ia mendengar suara langkah kaki berlari ke arahnya. Ketika ia mendongak, ia mendapati sang dokter tengah berlari bersama dua perawat yang membawa beberapa alat medis di tangan mereka.
Sasuke semakin panik ketika dokter itu membuka pintu kamar Sakura bersama dua perawat lainnya. Ia ikut berdiri, mencoba mengintip dari celah pintu atau tirai jendela yang terbuka, namun dilarang oleh salah satu perawat di sana.
"Tetaplah tenang dan teruslah berdoa. Jangan putus asa," begitu kata salah satu suster berambut kemerahan itu. Sasuke yang mendengarnya hanya bisa berdecak kesal, ia tentu panik dan bingung. Bagaimana bisa ia disuruh tetap tenang di saat mereka sedang berusaha menyelamatkan nyawa istrinya?
"Sial, selamatkan dia!" seru Sasuke yang diberi anggukan oleh perawat itu. Wanita itu segera masuk dan meninggalkan Sasuke di depan pintu kamar seorang diri.
Hampir dua puluh menit, dokter menangani Sakura yang tiba-tiba berada jauh dibawah kondisi kritis. Ia tidak tahu apa yang membuat wanita itu tiba-tiba mengalami kondisi terlampau jauh dari stabil. Sasuke jatuh terduduk di sisi pintu dengan kepalanya tersembunyi di dalam lututnya. Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa, ia sudah menangis tadi. Ia menangis saat ia teringat bagaimana cara wanita itu menghabisi dirinya sendiri.
Bahkan ketika ia tahu sebuah fakta menyakitkan, ia juga menangis. Sepanjang perjalanan, ia hanya ditemani oleh suara isakannya sendiri.
"Dia baik-baik saja. Kami tidak tahu kapan ia sadar dari masa kritisnya. Tapi percayalah, dukungan Anda dengan keluarganya bisa membantunya keluar dari masa mengerikan ini."
Dokter itu mempersilakan Sasuke untuk masuk ke dalam ruangan yang pertama kalinya. Berbekal dengan baju khusus yang disiapkan oleh perawat tadi, ia masuk ke sana.
Wajahnya pucat. Sangat amat pucat. Bola mata hijau yang kerap kali memandangnya dengan tulus, kini tesembunyi di dalam kelopaknya. Tidak ada lagi tangan yang mengusap wajahnya lembut. Kini terbaring lemah tak berdaya dengan beberapa alat medis yang terpasang di wajah dan tubuhnya.
Kepalanya terbalut perban tebal yang melingkar sepanjang dahinya. Dokter bilang, benturan itu cukup keras hingga membuat beberapa jahitan tebal yang bisa terbuka sewaktu-waktu. Maka, cara terbaik adalah dengan memasang perban pada kepalanya. Untuk melindungi bekas luka itu dan jahitannya.
Sasuke duduk di kursi kecil yang ada di samping ranjang. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan lemah milik istrinya yang masih terbaring. Mengusapnya lembut di punggungnya, seolah memberi semangat padanya.
"Sakura, maafkan aku.."
Tidak ada jawaban. Sasuke tahu, ini cara efektif untuk membuat wanita itu tetap hidup.
"Maafkan aku."
Dan ia mulai menangis.
"Bahkan kata maaf tidak cukup membuatmu kembali dari tidur panjangmu, 'kan?"
Ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak tumpah dan membasahi pipi pucatnya.
"Maafkan aku."
Ia menunduk, menyembunyikan air matanya yang mungkin bisa terlihat. Tetapi ia tidak berniat menghapusnya, membiarkan itu tumpah. Dengan tangannya yang masih menggenggam tangan istrinya erat.
Tanpa Sasuke sadari, ada setitik air mata yang lolos dari mata terpejam itu. Turun perlahan-lahan dan membekas pada bantal dibawahnya.
.
.
Shion menginjak lantai rumah sakit untuk pertama kalinya setelah ia keluar dan dokter menyatakan kalau ia sudah pulih. Ia datang untuk mengecek kondisinya, dokter bilang ia harus rutin mengecek kesehatannya sendiri sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Iris peraknya tidak sengaja menangkap siluet sosok Sasuke yang keluar dari sebuah kamar tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini ketika ia menoleh. Setelah Sasuke menjauh dari sana, Shion segera mendekat ke kamar itu untuk melihat apa yang terjadi dan membuat Sasuke terlihat hancur?
Dengan mengintip pada tirai jendela yang sedikit terbuka, matanya menyipit ketika menangkap sosok wanita yang tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus dan pernafasan yang tertancap di hidungnya.
Shion menutup mulutnya yang terbuka. Dia tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini.
"Sakura?"
Shion mundur perlahan-lahan dari tempatnya berdiri, ia memilih untuk duduk dan menenangkan napasnya yang berubah memburu seketika. Bagaimana bisa wanita itu terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan keadaan yang menyedihkan seperti itu? Bagaimana bisa sosok Sakura yang kuat menjadi lemah?
"Apa yang kaulakukan di sini?"
Suara berat nan dalam itu membuatnya mendongak. Shion mendapati Sasuke tengah memandangnya dengan mimik muka datar dan suara dingin dari lelaki itu.
"Mengapa Sakura disini?"
Sasuke memalingkan wajahnya. Ia tidak menjawab kata-kata Shion dan memilih untuk masuk ke dalam ruangan dalam diam. Shion terduduk dengan wajah yang mulai memerah. Ia tidak tahu mengapa hatinya ikut berdesir ketika melihat Sakura di sana.
Mengambil napas panjang, ia segera bangkit dari tempat duduknya dan mulai melangkah menjauh dari sana. Sebelumnya ia sudah bertekad, kalau ia akan datang lagi untuk mengetahui apa yang terjadi.
.
.
Sasuke tengah duduk di ruangan kecil yang berkamuflase menjadi ruangan pribadinya. Ruangan dimana semuanya bermula. Ia mencabut foto-foto kebersamaannya dengan Shion dan mulai menumpuknya di sebuah kardus berukuran sedang.
Ia mencuci foto-foto yang ia ambil saat ia berlibur bersama keluarganya dan mengabadikannya pada kamera miliknya. Ia melakukannya diam-diam, tidak terlihat siapa pun. Sasuke memindahkannya dari memori kamera dan mencetaknya satu-persatu.
Ia mengeringkan foto-foto itu dan mulai menggantungnya di atas tali-tali yang terlentang jauh memutari ruangan kecil itu. Lampu merah menyala tidak menghalangi aktifitasnya saat ini.
Menjepitnya dengan sebuah jepitan khusus, ia mulai memasangnya satu-persatu. Menatap dari keseluruhan foto yang sudah ia kerjakan dan ia gantung di sana.
Ini foto Sakura. Semua yang ia pasang adalah foto Sakura. Foto yang ia ambil saat wanita itu tengah sibuk bersama air laut seorang diri. Sasuke memang menghindarinya, namun diam-diam ia memotretnya dari kejauhan untuk mengabadikan momen ini. Ia tidak tahu kapan ia bisa berlibur lagi bersama istrinya nanti.
Tapi ia berjanji, setelah Sakura sembuh nanti. Ia akan menebusnya.
Ia memasang salah satu yang terbaik pada papan di sana dengan paku kecil yang menancap di sudutnya. Ia mengeluarkan kertas kecil dari dalam lacinya, dan mulai menuliskan sesuatu di atasnya.
Setelah selesai, ia menempel kertas tempel itu pada fotonya. Ekspresi wajah terluka masih tergambar di wajahnya. Ia tidak tahu mengapa ia terasa ingin menangis saat ini juga.
Sasuke keluar ruangan. Ia menutup pintu itu rapat-rapat dan meninggalkannya bersama ribuat foto yang tergantung disana.
'Apa aku harus kehilanganmu lagi?'
.
.
Shion datang setelah hari ketiga. Perawat yang berjaga bilang kalau pasien dengan nomor kamar tiga puluh sudah sadar dari komanya. Mereka juga bilang, kalau pasien itu mengalami tekanan tinggi hingga meminum pil penenang terlalu banyak dan ovedosis.
Dengan langkah mantap, Shion masuk ke dalam ruangan. Sakura yang sedang tertidur, langsung terjaga ketika mendengar decit pintu kamarnya terbuka. Dengan senyum simpul, Shion mendekat dengan membawa seikat bunga segar yang baru saja dibelinya.
"Hai,"
Sakura mengangguk kecil. Ia berusaha untuk membenarkan letak posisi tidurnya. Shion yang melihatnya langsung bergerak untuk membantunya.
"Terima kasih," Sakura berbisik kecil dan diberi anggukan oleh wanita itu.
"Semoga cepat sembuh, Sakura. Aku tidak tahu kalau kau terbaring di sini," akunya jujur. Sakura hanya diam setelah ia mengangguk singkat.
"Aku melihat Sasuke keluar dari ruangan ini beberapa hari yang lalu. Aku mencoba mencari tahu, tetapi Sasuke tidak memberitahunya. Aku bertanya pada perawat disini untuk memastikannya," Shion menatap wajah Sakura yang pucat. Dan wanita itu lagi-lagi hanya mengangguk.
"Terima kasih," hanya itu yang bisa ia ucapkan.
"Aku ingin minta maaf," Shion berkata hampir seperti gumaman. Membuat Sakura menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Aku banyak berbohong padamu."
"Kau tidak berbohong apa-apa."
Shion menggeleng dengan wajah sedih. "Sasuke tidak pernah mengatakan apa pun padaku. Apa yang pernah aku ucapkan padamu hanya kebohongan belaka. Aku membohongimu agar rasa sakit di dalam hatiku berkurang sedikit. Tapi itu tidak berhasil, rasa sakit ini semakin mengakar, Sakura."
Sakura menunduk. Ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah. Entah karena rasa sakit di tubuhnya atau ia ingin menangis.
"Ini semua bukan salahmu," ia kembali mengangkat kepalanya. Tersenyum pada Shion yang kini memandangnya penuh terkejut. "Salahku. Seharusnya, aku menolak tawaran Uchiha Sasuke untuk menikah. Kami menikah bukan karena dasar cinta. Aku penghancur mimpi indah kalian."
Shion terdiam. Sakura memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak sanggup melihat wajah Shion saat ini. Melihatnya sama saja melihat apa yang terjadi waktu lalu. Sasuke masih mencintainya, dan akan tetap terus begitu. Sedangkan dia akan berakhir seorang diri.
"Percayalah. Aku menyadarinya. Aku sudah melewati masa-masa sulit ini seorang diri dan aku bisa mengatasinya," Sakura menyentuh telapak tangan pucat Shion dan tersenyum simpul.
Shion menggeleng dengan wajah sedih. Ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sakura menatap pintu kamarnya dengan pandangan kosong. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin perak berkilauan yang tampak di bola matanya. Itu cincin pernikahannya.
Mengepalkan tangannya kuat-kuat, Sakura kembali menurunkan tangannya dan memilih untuk tidur. Ia sedang tidak ingin memikirkan apa pun.
.
.
"Aku membawakan kue susu untukmu. Aku tahu, kau sangat suka ini," Sasuke membuang plastik pembungkusnya ke tempat sampah dan menaruh kue itu di atas piring kaca.
Sakura meliriknya dari ujung matanya. Ia tidak bernapsu makan sejak tadi. Bahkan ketika Itachi membawakan makanan kesukaannya, Sakura tidak menyentuhnya sama sekali.
Satu-satunya asupan gizi saat ini untuknya adalah selang infus ini. Wajahnya semakin pucat dan ia tidak peduli.
"Kupikir kau sibuk bersama urusanmu," ujar Sakura datar. Membuat Sasuke menoleh dan menatapnya dengan dahi berkerut.
"Tidak. Aku sudah menyelesaikannya."
"Itu bagus," jawabnya singkat. Seolah tidak tertarik dengan apa yang Sasuke lakukan, Sakura menarik selimutnya sampai sebatas dadanya dan berbalik untuk memunggungi lelaki itu.
Sasuke yang melihatnya hanya bisa menghela napas panjang. Sakura melakukan ini karena dirinya.
"Kita harus bicara, Sakura," Sasuke mencoba menyentuh bahu istrinya namun gelengan kepala Sakura dan diamnya wanita itu membuatnya mengurungkan niatnya.
Sasuke memilih untuk keluar ruangan setelah ia menunggu Sakura untuk setidaknya berbicara padanya dan tidak mengabaikannya seperti ini. Sebelum Sasuke bisa menyentuh gagang pintu, suara serak Sakura menghentikannya.
"Bagaimana rasanya ketika kau diabaikan tidak jelas oleh pasanganmu sendiri. Menyedihkan, bukan? Atau malah sebaliknya, terasa menyenangkan?"
Sasuke menoleh, mendapati wajah Sakura yang datar dan tatapan wanita itu terluka ketika bola mata hijau itu menatapnya.
"Maaf,"
Hanya itu yang bisa Sasuke katakan sebelum akhirnya ia memilih untuk pergi keluar dan meninggalkan Sakura seorang diri di dalam sana. Sakura terdiam, ia memandang pintu kamarnya dengan pandangan memburam. Percuma, ia sendiri tidak tahu mengapa hatinya terlalu sakit untuk mencerna semuanya yang terjadi.
"Kenapa pula aku harus sadar dan kembali hidup jika yang aku inginkan adalah untuk tidur selamanya?" Sakura bergumam pada dirinya sendiri dan kembali berbaring lalu memejamkan matanya.
.
.
Pintu tertutup dan wajah terluka Sasuke menjadi objek pemandangan yang pertama kali Itachi lihat pagi ini. Setelah mendapat kabar kalau Sakura sudah sadar, ia langsung bergegas pergi untuk menjenguk wanita itu.
"Sasuke?"
Itachi menyentuh bahu sang adik dan mendapati oniks gelap itu tampak basah. Sasuke memalingkan wajahnya sekilas, kemudian oniks segelap malam itu saling bertemu.
"Ini semua salahku, Itachi. Ini semua salahku," lirihnya dan bergegas pergi entah kemana. Itachi tidak mengejarnya dan membiarkan Sasuke pergi.
Menghela napas lelah, Itachi masuk ke dalam dan mendapati Sakura yang tengah tertidur. Mendengar bunyi pintu terbuka, membuat Sakura membuka matanya. Ia tersenyum samar ketika Itachi mendekat dan memberikannya sebuah parsel berisikan buah-buahan segar.
"Terima kasih," gumam Sakura serak.
Itachi mengangguk dengan senyum simpul. Alisnya bertaut ketika menemukan adanya bekas airmata yang masih basah di pipi kanan wanita itu. Sakura yang menyadari arti tatapan Itachi langsung menghapus wajahnya dengan kasar.
"Aku baik-baik saja," dustanya. Kemudian, ia tersenyum simpul. "Kau tahu saja kalau aku sedang ingin memakan buah apel." Lanjutnya sembari tertawa kecil.
Itachi tersenyum samar. Namun wajah pucat itu tidak bisa membohonginya. Sakura yang mengerti langsung menghentikan tawanya dan terdiam.
"Jangan salahkan, Sasuke. Dia tidak salah apa-apa," ucap Sakura datar. "Ini salahku. Seperti sebuah dongeng modern, dimana tidak akan ada akhir yang bahagia."
"Mengapa kau bilang begitu?"
"Aku menghancurkan kebahagiaan sepasang kekasih yang akan menikah. Dan ketika mereka kembali bertemu di waktu yang berbeda, rasa itu kembali muncul dan mereka tidak bisa menahannya. Ini salahku. Kau tidak perlu menyalahkan, Sasuke."
Itachi menggeleng cepat. "Jangan berpikir seperti itu, Sakura."
"Kenapa tidak?" bisik Sakura serak. "Aku yang bodoh karena menerima tawarannya. Aku tahu bagaimana posisiku sebagai wanita pengrusak hubungan orang lain. Mungkin, Sasuke baik-baik saja. Tapi tidak dengan Shion."
Itachi terdiam, ia hendak berbicara namun Sakura menyelanya.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini," katanya dengan senyum misterius yang entah mengapa membuat Itachi merasakan firasat yang buruk setelah ini.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
Author Note:
One chapter again, and Innocence over! Yeay.
Oke, yang bilang chapter ini engga kerasa hurt-nya, Sasukenya terlalu blabla dan blablabla. I'm so sorry. Karena emang sengaja dibuat begitu, biar chapter depan bisa panjang dan semoga endingnya sesuai harapan kalian semua. Jadi, saya fokus untuk keempat karakter nanti.
Dan kalau kalian tanya SasuSaku punya hubungan masa lalu, ya? Chapter depan dijelasin semuanya, kok.
Untuk chapter depan, saya usahakan untuk update cepat. Tapi engga janji juga. Banyak deadline yang harus dikejar, dan engga janji untuk update cepat seperti yang kalian inginkan.
To, UchihaHakun: aaaw, you're very humble. Thanks a lot buat saran (yang engga ada sarannya sama sekali) but, saya terima kok. Mungkin, ceritanya terlalu sinet banget ya apa ngedrama banget yang engga 'banget' menurutmu? Hehe. Saya masih banyak belajar, dan maaf juga kalau fic ini 'dirasa' gagal total untuk kamu. Engga pernah maksa buat baca. Untuk karakter yang lain, aduh, saya engga tahu kalau jatuhnya gagal banget ya. Karakternya terlalu menye-menye enggak jelas, ya? Aduh. Tapi sekali lagi, makasih udah mau mampir, ya.
Oke, sampai ketemu chapter depan, guys.
Lots of Love
Delevingne
