Makasih buat yang udah ngasih respon (_ _) Fic nista nan ga jelas ini pun dilanjut
Warning : Tata bahasa tidak beraturan. Positif OOC. Bahasa ada lo/gue. Humor garing.
Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei
Cerita #6 : Adu Kurang Ajar
Saat ini geng Terasaka —Yang terdiri atas Terasaka sendiri, Hazama, Muramatsu, Yoshida, dan Itona— sedang berkumpul di sekeliling Terasaka karena kebosanan yang melanda.
Sebenarnya Hazama tidak tau kenapa dia harus ikutan, apalagi dia cewek sendirian. Jadi daripada harus pusing mendengarkan obrolan teman-teman cowoknya yang gak jelas, dia memilih untuk baca buku di tempatnya yang tidak jauh dari tempat Terasaka.
Muramatsu menyadari Hazama yang serius membaca bukunya. Dia mengisyaratkan kepada yang lain untuk mengganggunya, yang lain mengangguk setuju.
"Hazama," Panggil Terasaka. Yang dipanggil melirik sedikit, "Wajahmu benar-benar secerah cuaca hari ini ya."
Hazama melihat keluar sebentar, "Sekarang mendung."
"Tepat sekali." Terasaka dan yang lain mulai tertawa. Hazama mendengus, gorila kurang asem.
"Hazama," Sekarang giliran Muramatsu. "Kau itu seperti bulan ya."
Hazama menaikkan sebelah alis, "Kenapa?"
"Cantik jika dilihat dari jauh, "Dia jeda sebentar. "Tapi buruk dari dekat. AHAHAHAHAHA"
Bazeng.
Mereka mulai tertawa lagi, perempatan muncul di dahi Hazama. Kumpulan cowok yang seperti monyet ini benar-benar membuat emosinya naik. Dasar jones kurang kerjaan, gak bisa liat orang asik sendiri.
Hazama yang sudah terlalu kesal berniat untuk membalas, dia menyeringai horror.
"Ohoho,kalian itu benar-benar macho ya." Sebelum mereka bisa menyombongkan diri, Hazama melanjutkan. " Aku yakin orientasi seksual kalian juga pasti selurus jalan pulang ke rumahku."
Mereka terdiam sejenak.
"Tapi... jalan rumahmu itu kan belok-belok"
"Tepat sekali."
"..."
Hazama buru-buru mengambil headset lalu menyetel volume nya full untuk menghindari teriakan protes "GUE GAK BELOK." dan "GUE BUKAN MAHO PRET!" dari mereka.
Smirk Di adu ini dia menang.
.
.
.
.
.
Cerita #7 : Gombalnya inget waktu dong, mas
"Pokoknya harus buah yang ini."
"Gak maaoo, no. Harus buah yang ini."
Orang-orang di toko buah sedang serius menonton perdebatan di depan mereka. Sejak 5 menit yang lalu, Okano dan Maehara sibuk meributkan sesuatu. Tidak ada yang berani menyela, asupan OTP buat shipper, pikir mereka.
Dan lagi si gadis bertubuh lentur itu sedang memegang durian, gimana kalau dia tiba-tiba mengamuk lalu melempar buah berbahaya itu? Biarlah hanya si jidat lebar itu yang jadi korbannya.
Semua bermula dari ajakan Okano untuk membeli buah dulu sebelum menjenguk Isogai yang sedang sakit, disinilah perdebatan itu dimulai.
"Udah gue bilang mendingan beli semangka aja! Seger, bagus buat yang sakit! "
Maehara berusaha meyakinkan buah pilihannya tapi si gadis merengut.
"Mendingan duren aja! Enak, mumpung lagi musim, Isogai juga seinget gue suka duren kok!"
"Bilang aja lo mau minta nanti!"
"Yee situ juga sama! Nanti Isogai keselek biji semangkanya gimana? Mending duren kan."
"LEBIH PARAH MANA SAMA KESELEK BIJI DUREN!?"
Perdebatan terus berlanjut dan belum mereka belum juga mencapai kesepakatan. Maehara sudah lelah, Okano lebih lelah lagi berusaha membuat Maehara peka— oke yang ini cuma curhatan pribadi.
"UDAH DEH MAEHARA, PILIH DUREN AJA!"
"Oh gitu? Jadi kamu mau aku lebih pilih duren dibanding kamu? Kamu gak masalah di durenzoned?"
Okano cengo.
Entah karena sudah terlalu lelah sehingga sekrup otaknya coplok semua atau apa, Maehara malah menggombal tanpa ingat waktu dan tempat, tapi tangannya menunjukkan kalau dia masih memilih semangka.
"Apaan sih!? Lagian kenapa daritadi gak mau ngalah? Balikin lagi semangkanya sana."
"Soalnya kalo ngalah nanti yang lain bakal bisa ngerebut kamu, aku gak relaa, pokoknya enggaak."
Okano pengen tobat.
Setelah melancarkan serangan berbahaya ke Maehara, dia mengembalikan duren dan semangka itu ke tempatnya lalu membeli nanas.
Dia pun pergi dari toko buah meninggalkan Maehara yang masih K.O di lantai sambil bergumam,
"Bukan temen gue, bukan temen gue."
.
.
.
.
.
Cerita #8 : Roti Palsu
Terasaka memasuki kelas dengan wajah kesal dan aura gelap, masih dendam setengah mati dengan seseorang bersurai merah yang mungkin sedang bersin dimanapun dia berada sekarang, Terasaka gak mau tau.
Dia duduk di tempatnya lalu dengan seenak jidat menaikkan kakinya ke atas meja, Itona yang duduk di sebelahnya memasang wajah jijik karena bau yang naujubilah membuat Itona ingin ikut tobat.
"Oi, Terasaka sadar bau kaki dong! Gimana kalo nanti ada korban?" Protes si mantan bocah tentakel sambil mengutak-atik sebuah alat. "Lagian muka lu kok madesu banget. Biasanya emang madesu sih, tapi sekarang pake banget. Kenapa?"
Terasaka merengut lalu dengan ogah-ogahan menurunkan kakinya, dia bergeser menghadap Itona.
"Ini semua salah si Karmapret. Sialan aja kemaren gue dikerjain."
Waktu itu dia naif! Tapi sekarang dia telah belajar dari pengalaman.
Jangan terima kebaikan setan, terutama yang warnanya merah.
Itona hanya mangut-mangut, malas untuk bertanya lebih jauh. "Udahlah daripada lu marah-marah terus muka nambah jelek, mendingan tuh makan roti." Dia melempar sebungkus roti ke arah Terasaka, "Iya tau, gue baik."
Terasaka memperhatikan bungkus itu dengan curiga. Terima enggak, terima enggak. Gimana kalau ternyata Itona juga setan yang menyamar?
Tapi ternyata rasa lapar mengalahkan rasa curiga nya.
"Lumayan nih mumpung gue lagi laper," Dia membuka bungkusnya, "Gak beracun kan? Omong-omong ini roti apaan?"
Itona diam tak menjawab, masih serius dengan alatnya. Setelah Terasaka mengambil gigitan pertama baru Itona menjawab dengan sangat tidak berdosanya, "Roti dari busa kasur. Gue lagi bikin percobaan, bisa nipu atau enggak. Tapi lo langsung makan berarti gue berhasil."
"..."
"Enak gak, Ter?"
Roti busa itu dalam sekejab langsung menyumpal mulut Itona.
"Enak gundul lo."
"Astaga indirect kiss-"
"Minggat sana lu fujo."
Setelah menyemprot seorang gadis fujo inosen, dia langsung bangkit dan pergi meninggalkan Itona dan roti busa kasurnya.
Ternyata dia belum cukup belajar, setan berwujud uke juga patut diwaspadai.
.
.
.
.
.
Cerita #9 : Kekhawatiran perempuan
Okano berdiri di depan benda mengerikan itu. Tangannya mulai berkeringat dan peluh juga mulai muncul di keningnya. Dia melirik tajam 2 orang yang ada kanan-kiri nya secara bergantian, yang dilirik malah menatap balik.
"Cepat naik." Perintah seorang Ikemegu tegas, tangannya diipat di depan dada. Okano meneguk ludah.
"Gak mau."
"Ayo, Hinata-chan!" Ucap si rambut hijau sambil menarik si gadis bertubuh lentur, namun gadis itu tetap tidak mau menaikkan kakinya.
"NO."
Megu memutar bola matanya, "Kita harus cepat mengeceknya. Jangan keras kepala gitu, cuma sebentar kok."
"ENGGAK, POKOKNYA ENGGAAAK."
Pura-pura tuli, Kayano tidak mendengarkan sama sekali protes Okano dan langsung menaikkan kaki kirinya ke atas benda itu.
Okano berusaha keras untuk kabur, namun tenaga kuat Megu menahannya. Matanya mulai melebar melihat perubahan angka di benda itu, dia semakin takut.
"BATINKU BELUM SIAAP, BELUM SIAAAPP!"
Sekali lagi protesnya tidak di dengar, kali ini Kayano mengangkat kaki kanan Okano sampai akhirnya kedua kakinya ada di atas benda itu.
Okano menutup matanya, Megu dan Kayano melihat angka yang tertera.
"Selamat, " Okano menahan napas mendengar Megu. Dia tidak tahan berada di atas benda mengerikan ini, benda bernama—
"Anda naik 3 kilogram."
—Timbangan.
"TIIIIDAAAAAAAAAAAAAAAK." Teriak Okano, dia langsung kabur ke bagian pojok ruangan dan menghasilkan awan mendung disitu.
"Akan aku bantu kau untuk diet nanti, tenang saja." Megu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Siapa suruh banyak ngemil tengah malam?"
Okano terisak dramatis.
Memeriksa berat badan memang butuh kesiapan mental.
.
.
.
.
.
Cerita #10 : Temanku kriminal
Nagisa kebetulan melihat Karma yang sedang duduk santai di bangku taman, dia berlari menghampirinya. Karma melambai padanya dan mempersilahkan Nagisa duduk di sebelahhnya.
"Tumben disini, Karma-kun. Habis ngapain?"
"Enggak, cuma jalan-jalan sebentar sebelum pulang aja." Jawab Karma cepat. Dari pergerakan mulutnya Nagisa bisa lihat kalau dia sedang mengemut permen.
"Karma-kun, masih ada lagi gak permennya?"
"Ini cuma dapat satu tadi dari Isogai," Mendadak dia memasang seringai setannya, Nagisa langsung bergidik ngeri. "Tadi dia promosi batu akiknya."
Sejenak Karma terheran bagaimana bisa si ikemen berpucuk itu bisa punya batu akik, tapi dia memutuskan untuk mengabaikannya. "O-ohh terus?"
"Ya aku beli."
Nagisa melotot.
"Hah sejak kapan kamu minat sama yang begituan? Kamu pasti terlalu banyak temenan sama orang Indonesia di Facebook." Dia menggeleng-geleng tidak percaya, inikah pengaruh globalisasi?
"Kan keren aja kalo bisa muncul jin gitu pas di gosok, aku coba punya aja."
Si surai biru muda itu sweatdrop mendengar jawaban Karma, si merah melanjutkan.
"Tapi pas digosok batunya malah lengket, eh ternyata itu dari permen f0x, jadi kumakan deh."
Oooohh cuma palsu toh, pantesan si Isogai itu bisa punya. Eh tunggu—
Nagisa melotot lagi.
Kenapa si surai merah ini masih keliatan hepi aja padahal udah ditipu? Apa dia tipe yang punya terlalu banyak duit? Kenapa gak disumbangin ke dirinya aja mumpung lagi bokek?
"TERUS KAMU GAK BETE GITU!? UANG YANG TADI GIMANA?"
Karma tertawa lalu menyeringai sadis lagi, "AHAHA YA ENGGAK DONG, KAN UANGNYA JUGA PALSU JADI TENANG AJA HAHA. Yah gapapalah permennya juga enak— Loh, Nagisa kamu kenapa?"
Nagisa mingkem.
Inilah kepalsuan di atas kepalsuan, ironi di atas ironi.
.
.
.
"Bukan curang namanya kalau dilakukan kedua belah pihak hahahahaha. "
—Karma Akabane, 15 tahun, kriminal terselubung.
.
.
.
.
.
TBC?
Yha tambah gaje ahsudahlah o(-(
Reviews are loved
Thanks for R&R
