Masih ada yang nunggu fic nista ini? Kini kembali dengan ekstra ke-gaje-an lokal dan bumbu pengalaman hidup author.

Warning : Tata bahasa tidak beraturan. Positif OOC. Bahasa lo/gue. Humor garing.


Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei


Cerita #11 : Pertukaran tempat duduk

"Ehh, kita tukar tempat duduk yuuuk."

Si ketua kelas ganteng berpucuk itu berbicara di depan kelas sambil menepuk tangannya untuk mendapat perhatian.

Setelah dipikir-pikit mereka tidak pernah berganti tempat duduk, pantesan aja lama-lama Isogai empet liat muka Maehara yang selalu ada di sebelahnya.

Tapi kalo sebelah Kataoka sih dia rela.

"Iyaa, gue bosen di sebelah Terasaka mulu."

"HALAH BELAGU LO TONA."

"Gue juga bosen liatin punggung cowok mulu." Si surai merah ikut mengajukan keluhannya, "Tuker gitu di sebelah Okuda eak."

"Eits, semua orang harus ambil undian di kotak ini." Di sebelah Isogai, Kataoka memegang kotak berisi kertas-kertas untuk menentukan posisi tempat duduk mereka.

"YAAAAAAHHHHH."

"Protes, kena bogem."

seketika protes langsung berhenti, mereka bergantian mengambil kertas undian.

Beragam ekspresi muncul ketika melihat nomor yang ada di kertas. Ada yang eneg, ada yang sumringah, tergantung nasib.

"WANZEEENG, GUE SEBELAHAN SAMA KARMA-" Terasaka teriak lebay.

Dulu posisi dia juga dekat dengan si setan merah sih, tapi ada malaikat yang menjadi batas, jadi dia tenang.

NAH SEKARANG,

Pas di sebelahnya.

"Ada juga gue yang ga terima di sebelah lo, Ter. Eneg tao gak."

"EHH ISOGAAI, BOLEH TUKERAN TEMPAT DUDUK GAK? AWAS LO KALO BILANG ENGGAK."

Isogai mengusap tengkuknya, haruskah dia membolehkan sebelum ada pertumpahan darah? Kedengarannya lebay memang, tapi ini bisa terjadi suer.

"Err, kalo dua-duanya setuju yhaa boleh lah."

"YEEEESSS."

Terasaka segera berlari ke tempat malaikat uk- ehem, Itona, yang ada di sebelah Okuda Manami.

"Ehh, Tona, lo tuker tempat dong ama si Karma."

Itona menaikkan sebelah alis, "Emangnya kenapa?"

"Gue ga mau di sebelah dia anjir, lagian tempat lo kan di sebelah yayangnya, pasti dia mau lah."

"Hmmmm," Itona melirik Karma dan Okuda bergantian. "Boleh lah."

Baru saja Terasaka mau berteriak girang sebelum Itona memotongnya.

"Tapi..."

"Tapi apalagi sih?"

"Nanti kalo ulangan gue nyontek ke siapa? Lo kan bego."

Jleb.

Pas di kokoro mak, ati Tera ckit ckit mak.

"MAKANYA BELAJAR YANG BENER, JANGAN NYONTEK."

"NGACA DULU BISA GAK LO."

Yang lain sweatdrop melihat buku dan banyak barang-barang lain beterbangan.

Pertukaran tempat duduk memang selalu menyebabkan konflik.

.

.

.

.

.

Cerita #12 : Gombalnya inget waktu dong, mas [2]

Okano menutup buku tugasnya dengan keras dan meregangkan badannya. Akhirnya PR dari Koro-sensei selesai juga. Dia langsung melesat ke arah dapur. Sejak setengah jam lalu perutnya mengamuk, tapi dia menahan diri sampai PR nya selesai.

Baru saja tangannya mendarat di gagang kulkas, telpon rumahnya berdering.

Bangke, rutuknya.

Hari ini dia sendirian di rumah, jadi terpaksa Okano menahan rasa laparnya lebih lama lagi.

Si gadis mengutuk si penelpon dalam hati.

"Halo?"

"Ya, Halo?" Okano menjawab cepat, dia kenal suara ini.

"Bisa bicara dengan Okano Hinata?"

"Iya ini gue sendiri, Maehara. Ada apaan?"

"Ohh! Jadi lo masih sendiri? Gue juga jomblo. Jadian yuk?"

Okano mingkem.

Okano emang udah antisipasi buat telepon gak penting, tapi dia gak nyangka bakalan se-menajiskan begini.

"Maehara, gue lagi laper, pake banget. Kalo gak penting bakal langsung gue tutup."

"Oh lo lagi laper? Sini gue masakin. Lo mau apa? Masakan Jepang? Prancis? Indonesia? Atau… Lo mau gue?"

"Jijik."

"Ahahaha, bercanda kok sensi amat lo. Jadi gini gue mau nanya tuga— Halo? Halo? WOI OKANO JANGAN TUTUP TELPONNYA! WOOIII! INI TUGAS GUE GIMANAA—"

Okano langsung membanting telepon itu tanpa pikir 2 kali. Cukup eneg dia sama gombalan Maehara.

Dia langsung melesat ke dapur dan makan dengan gembira sementara si playboy belah tengah meratapi nasib tugasnya.

.

.

.

.

.

Cerita #13 : Maling Celana

Selesai pelajaran olahraga, anak-anak kelas 3-E segera mengganti baju olahraga mereka kembali ke seragam biasa mereka.

"CELANA GUE MANAAAAA!?"

Terdengar teriakan Terasaka. Yang lain langsung menoleh ke sumber suara, Terasaka sedang mengobrak-abrik isi tas dan kolong mejanya.

"Berisik banget lo, Ter. Ganti baju ke kamar mandi sono cepetan, yang lain udah selesai." Maehara sewot gegara teriakan tiba-tiba Terasaka.

"GIMANA GUE BISA GANTI BAJU KALO CELANA GUE ILANG, MAEE." Balas Terasaka gak kalah kenceng.

"YA CARI LAH! GITU AJA KOK NGADU, EMANGNYA GUE EMAK LO!?"

Sebagai seorang ikemen, Isogai langsung berdiri di antara mereka dan menjauhkan mereka berdua. Bisa-bisa tambah pening kalo ada yang berantem sekarang.

"Oke, Terasaka. Tarik napas dalam-dalam, oke iya seperti itu. Tarik terus,terus, daaaaaan jangan keluarkan." Isogai terjitak, "ADAW— Iya iya, maap tadi cuma bercanda. Jadi, celananya terakhir kali ditaro dimana?"

"GUE TARO DI ATAS MEJA. TERUS PAS BALIK UDAH GA ADA."

"GA USAH PAKE CAPSLOCK BISA KALI."

"BERISIK LO BELAH TENGAH."

"APA LO KEPALA RUMPUT."

"UDAH DIEM LO SEMUA."

Yang lain langsung mingkem saat Isogai meledak. Dia bertanya lagi, "Oke, gue ga nuduh atau apa, tapi di antara kalian ada yang ngerasa ngambil celana Terasaka gak?"

Semua diam.

Terasaka mulai gak sabar, "Ngaku aja sih. Sekolah di Kunugigaoka tapi cita-cita jadi maling celana, kasian noh emak di rumah."

Semua melotot ke arah Terasaka.

"Hey," Nakamura menunjuk ke arah kain basah di pojok ruangan. "Itu bukannya celana lo, Ter?"

"Hah? Masa?" Dia langsung memeriksanya, "EH IYA ANJIR INI CELANA GUE! KENAPA BISA ADA DISINI!?"

"Ohh! Jadi itu celana lo?" Si surai merah berdiri sambil terkekeh, "Tadi susu stroberi gue tumpah terus itu gue pake deh buat lap. Jadi itu celana lo? Gue kira kain pel, sori eak."

5 orang nahan Terasaka yang sudah mengamuk biar enggak nyerang Karma, karena mereka pair terlarang— eh,salah

"Lo kok bisa salah ngira gitu sih?" Tanya Maehara, Karma hanya menyeringai.

"Coba deh… Kain yang bau, kotor, dekil itu biasanya dipake buat apa?"

"…. Kain pel."

"Nah tepat sekali! Ahahahahaha!" Karma kembali tertawa tanpa dosa sedangkan yang lain terdiam dengan wajah poker.

Untuk kesekian kalinya, dendam Terasaka terhadap setan merah itu bertambah.

.

.

.

.

.

Cerita #14 : Curhatan Maehara

Sekarang anak laki-laki kelas 3-E sedang berkumpul dengan Maehara duduk di tengah sebagai pusatnya. Wajahnya madesu— Eh, lesu. Dia memulai, "Eh cowok-cowok, dengerin deh."

Yang lain jijik, "Cerita aja keles, kayak cewek SMA aja lo hih."

Dia menghela napas, "Jadi gini…" Dia menghela napas lagi, "Jadi pas kemaren tuh ada kejadian gini…." Dia menghela napas lagi lagi, "Entah kenapa gini kejadiannya…." Dia menghela napas lagi lagi lag—

"BAJIRUT LO, MAU CERITA KAGAK!?" Terasaka ga selow.

"Hush Ter, kasian juga Maehara. Muka nya jadi se-madesu elo sekarang tuh liat." Sugino memberi temannya itu pukpuk di punggung penuh perhatian (no homo), Terasaka merasa tersinggung.

"Oke, Mae tenangin diri lo terus coba lanjut cerita."

"Jadi gini, awalnya tuh gue gini terus akhirnya malah gin—"

"Cot, nyedh."

Akhirnya Sugino ikutan sewot, Maehara terbatuk.

"Ehem, jadi kemaren gue kan naek angkot tuh ya,"

"Angkot itu ap—"

"Terus ternyata di dalemnya ada grup bencong, sumpah lagsung ngeri gue. Mana ruang kosong adanya di antara 2 bencong lagi! Itu bencong ga bisa geser gitu ya!?"

"Makanya gue nanya angkot itu ap—"

"Akhirnya gue duduk di apit dua bencong. Selama di perjalanan ga tenang banget hati gue. Lama-lama gue ngerasa bencongnya makin deket ke gue, baru aja gue mau negor biar dia geseran eh dia malah bilang 'Kenapa, suamiku?' MAMPUS AJA GUE LANGSUNG MINGKEM."

Yang lain geleng-geleng merinding denger curhatan Maehara, lalu lanjut mendengarkan. Nagisa berhenti nanya angkot itu apa karena kena lempar kacang.

"Terus bencong yang di depan gue pake baju yang bagian lehernya rendah banget sampe belahannya keliatan, gue gatau dan ga mau tau kenapa dia bisa punya belahan, okey? Roknya juga mini banget gilak, betisnya keker anjrit."

"Mampus Mae, jadi kebayang kan." Sugaya bergidik ngeri.

"Terus apalagi yang parah? Bencong yang duduk di sebelah kanan gue namanya Mitha, janga tanya kenapa gue bisa tau, dia rambutnya panjang! Dia kibas rambutnya seenak jidat sampe muka gue kesabet! Oemjiihelloooow ini bukan iklan sansilk, pengen banget gue ngomong gitu tapi apa daya." Maehara mulai terisak saat mengingat pengalamannya, "Akhirnya mereka turun dan saat itu juga gue sujud syukur."

Semua anak cowok bergantian memberikan pukpuk dan tatapan iba. Turut berduka cita atas pengalaman saudara kita yang berbelah tengah.

.

.

.

.

.

Cerita #15 : Impian Asano Gakushuu

Gakushuu merapikan dasinya di depan cermin, lalu menyisir rambutnya sekali lagi. Dia menyeringai puas, kece seperti biasanya. Dia merapikan kemejanya kembali. Semua harus perfect seperti dirinya.

Dia berjalan perlahan ke jendela, satu burung hinggap di jarinya. "Selamat pagi tuan burung~" Sapanya dengan lembut.

Setelah itu dia menyalakan lagu Cyinderella dan mulai menari-nari.

Goyang sana, goyang sini.

Loncat sana, loncat sini.

Putar sana, putar sini.

Sampai tidak tau lagi sebenarnya dia nari atau ritual pemanggilan hujan.

Tiba-tiba dia membeku karena bayangan yang ada di sela pintu kamarnya. Mata dari celah pintu itu berkilat-kilat, lalu dengan nada dinginnya Ia berkata, "Cepat ke bawah untuk sarapan, kita sudah telat 28 detik."

Gakushuu cepat-cepat merapikan rambut dan pakaiannya lagi, lalu berdehem sok cool. "Iya, aku akan segera kesana."

Mendengar jawaban anaknya, Gakuho menutup kembali pintu kamar Gakushuu dan berjalan menuruni tangga. Dia membuka smartphone nya lalu mengetik beberapa kata di browser internetnya.

"Bagaimana jika anak laki-lakimu ingin menjadi Disney Princess?"

Impian baru Asano Gakushuu sejak dia tidak sengaja mengganti channel tv ke film Cyinderella, benar-benar membuat Gakuho khawatir.

Tapi jika dia ingin jadi Disney Princess maka mau tidak mau Gakuho harus mendukung cita-citanya.

"Maaf aku terlamba—"

"Pulang sekolah kau ikut aku ke tukang jahit."

"Hah ngapain?"

"Ukur gaun."

"HAAH!?"

Ya, Gakuho yang sudah bertekad untuk jadi orang tua yang baik, harus mendukungnya sepenuh hati.

.

.

.

.

.

TBC?


YA GUSTI AKHIRNYA APDET JUGA

Walopun gaje yang penting apdet lah ya :'D Selesai semesteran malah kena writerblock

Makasih yang masih mau baca ff ini