Drabble khusus bagaimana para kaum adam menggombal

Warning : Tata bahasa tidak beraturan. Positif OOC. Bahasa lo/gue. Humor garing. Gombalan ga mutu.


Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei


.

.

.

.

#Senin

Langit gelap di senin pagi dan suara hujan deras di atap sekolah memang membuat orang-orang jadi melankolis.

Gloomy monday,katanya.

Okano menghela napas sambil melihat keluar jendela, tidak ada tanda-tanda hujan ini akan -tiba dia melihat Maehara menghampirinya dari sudut matanya.

"Wah, keren ya muka sama cuaca serasi."

"Mau apa lo kesini."

Okano masih sensi sama yang kemaren malem.

"Galak banget lo anjir no, padahal gue ga salah apa-apa." Maehara yang katanya gak salah apa-apa, elus dada karna dijutekin.

"Terserah lo ajalah, Mae." Okano kembali melihat ke luar jendela, "Kalau hujan ga berhenti sampai sore mau pulang gimana nih gue."

Yah, itu sih masalah buat semua murid juga keles. Sekolah ditengah gunung gitu loh.

"Tenang aja, no." Maehara sok-sok gentleman.

"Tenang gimana? Basahlah pastinya, gue kan gak bawa payung."

"Pasti gue lindungin lo kok. Hujan gak boleh buat lo basah karena—" Jarinya menyisir poni nya ke belakang, matanya berkilat. "—Cuma gue yang boleh buat lo basah."

Okano cengok.

Maehara nyengir kuda.

Detik berikutnya terdengar teriakan orang yang ditendang keluar jendela.

"WOI OKAJIMA, MAEHARA UDAH MENAJISKAN GA USAH LO AJARIN MACEM-MACEM LAGI KENAPA."

.

.

.

.

.

#Selasa

Seusai pelajaran olahraga, Megu tidak sengaja melihat Isogai sedang duduk di pinggir lapangan. Melihat dia dari tadi menunduk, gadis itu menghampirinya.

"Isogai-kun?"

Cowok berpucuk itu menoleh, "Oh, kau Kataoka."

Megu berjongkok di depan Isogai. Wajah Isogai pucat dan daritadi dia lemas. Jangan-jangan dia kena stress abis dicium tante-tante kemarin?

Gasps—

Enggaklah ya, gak mungkin.

"Kamu gak apa-apa, Isogai-kun?"

Isogai tersenyum lemah saat mendengar nada khawatir dari Kataoka.

"Ada yang sakit?"

Isogai mengangguk.

"Eh, bagian mana?"

Dia memindahkan tangan ke dadanya, Megu mengangkat sebelah alis. "Sakitnya tuh.. Disini."

"Hah— Astaga, Isogai kamu kena serangan jantung!?" Megu panik. Isogai geleng kenceng.

"Bukan. Dari tadi tuh di bagian sini sakit, detaknya cepet gitu. Apalagi pas kamu dateng, aku tambah deg deg an. Kataoka... " Isogai pasang tampang serius.

"Inikah cinta?"

Megu muka datar.

Isogai kena gampar.

"KARASUMA-SENSEI! ISOGAI SAKIT KERAS SAMPE PINGSAN, KAYAKNYA DIA BUTUH DI OPNAME SEMINGGU. "

.

.

.

.

.

#Rabu

"Oke, semuaaa... Nih gue bagiin kertas warnanya ya." Sugino, yang dapat bagian pergi beli kertas tadi, mengumumkan di depan kelas.

"Emang kertas warna buat apaan sih? Buat origami terus digantung di kelas?" Terasaka nanya biasa, tapi mukanya luar biasa najisny— membuli itu dilarang.

"Enggak, ter. Gantung nya di kamar lo aja kan cocok." Karma nyeletuk dari belakang.

"NGOMONG SESUATU LO MA?"

"Apaan sih, Ter? Daritadi kan gue ngobrol ama Okuda-san."

"HALAH."

Sugino memijit pelipisnya, bocah banget sumpah perdebatan mereka itu gak ada bobotnya sama sekali.

Kayak dia tau aja pertengkaran berbobot itu kayak gimana.

"Oke, udah, udah cukup." Dia berdehem, "Jadi kita dapat tugas buat bikin surat. Nah, setiap warna nanti tujuannya beda-beda."

Karma mengangkat tangan, "Yang biru buat siapa?"

"Itu buat sahabat."

Kurahashi gantian angkat tangan, "Yang hijau?"

"Buat anak tetangga, ehh enggak deng buat salah satu guru."

"Lucu lo." Terasaka masih baper.

Sekarang giliran Kanzaki yang angkat tangan, Sugino entah kenapa jadi malu-malu. "Y-ya, Kanzaki-san?"

"Kalau yang pink apa?"

"Ah, itu sih warna hatiku setiap ada kamu."

Hening.

Masih hening.

Sugino dapet hadiah timpukan rame-rame.

"KALO GOMBAL YANG BERMUTU DIKIT KENAPA, BIKIN MALU AJA LO."

.

.

.

.

.

#Kamis

Saat jam kosong, Kayano menemukan Nagisa sedang serius membaca buku. Dia mencoba mengintip judulnya, tapi tidak terlihat sama sekali.

"Kenapa, Kayano-chan?" Kurahashi mendekati Kayano yang daritadi kelihatan sibuk ingin melihat sesuatu.

"E-errr, pengen liat aja Nagisa baca buku apa-" bisiknya malu malu.

Kurahashi menahan tawa.

"Eh, jangan ketawa dong."

"Ahahah, maaf maaf. Habisnya kamu ngintip-ngintip gitu, tanya aja langsung. Ahh, aku mau ke toilet dulu ya."

Kurahashi segera berlari keluar kelas ,Kayano memantapkan hatinya dulu sebelum bertanya.

Tanya judul buku aja kayak orang mau lamaran, entah dia juga heran.

"Hai, Nagisa-kun!" Sapanya ceria sambil menutupi kegugupannya.

Nagisa menoleh dari bukunya, "Oh, Kenapa Kayano?"

"Enggak, daritadi kamu serius banget baca buku." Kayano menunjuk ke arah buku yang dipegangnya, "Itu buku apa?"

"Ah ini?" Nagisa mengangkat bukunya, "Buku kumpulan arti nama."

"Eh? Kamu mau nyari nama buat peliharaan?"

"Enggak, nyari nama buat anak kita nanti."

Nagisa stay calm.

Karma yang gak sengaja denger nahan ngakak.

Kayano melotot, wajahnya memerah, lalu ngibrit keluar.

"E-EH, TADI ITU CUMA BERCANDAAAA KAYANO MAAF—."

"AHAHAHAHAHA NAGISA-KUN BISA GOMBAL JUGA."

"DIEM LO."

.

.

.

.

.

#Jumat

Saat istirahat siang, Chiba dan Hayami sedang merawat senapan-senapan mereka di kursi belakang.

Walaupun suasana kelas berisik dengan obrolan anak-anak cewek ataupun gonggongan Terasaka, mereka tetap tenang.

Beberapa anak yang memperhatikan mereka juga ikut heran kenapa mereka bisa bertahan seperti itu tanpa bertukar kata-kata.

Sebenarnya sudah sekitar 5 menit mata chiba terfokus pada Hayami. Biarpun tertutupi rambut, tapi Hayami yakin soal itu karena dia merinding. Tadinya dia biasa saja, tapi lama-lama dia jadi risih.

"Chiba-kun."

Chiba tersentak kaget karena panggilan Hayami yang tiba-tiba, "E-eh, iya kenapa?"

"Kenapa kau daritadi melihat ke arahku?"

Chiba terdiam sebentar sementara pipi Hayami sedikit bersemu merah, dia meletakkan tangannya dibawah dagu seperti sedang berpikir.

"Yah, sebenarnya tadi aku dan yang lain habis mengobrol tentang malaikat."

"Ohh, terus?"

"Saat kubilang kalau aku pernah disentuh malaikat, mereka gak percaya."

Melihat ekspresi Chiba yang tetap datar, Hayami sendiri tidak percaya.

"Hah beneran kamu pernah disentuh malaikat?"

Chiba mengangguk.

"Karena itu..." Chiba menggenggam tangan Hayami tiba-tiba.

"Ayo kita berpegangan tangan di depan mereka agar mereka percaya aku pernah bersentuhan dengan malaikat."

Setelah wajah berubah warna, Hayami mendadak gagu.

Chiba stay datar.

Lalu terdengar suara benda padat beradu dengan kepala,keras, sebelum diikuti suara langkah kaki yang dengan cepat meninggalkan kelas.

"HAYAMI-SAN HAVE MERCY, CHIBA-KUN HAMPIR SAKARATUL MAUT."

.

.

.

.

.

#Sabtu

Hari sabtu seharusnya libur.

Seharusnya itu hari merdeka untuknya.

Tapi kenapa oh kenapa, harus ada pelajaran tambahan segala sampai dia harus masuk di hari libur yang berharga itu. Ya tuhan, kenapa?

Karena akan ada ujian di waktu dekat ini, Koro-sensei mengadakan kelas tambahan yang wajib diikuti seluruh murid kelas 3-E. Karma mengutuk dalam hati, dia udah pinter ngapain pelajaran tambahan segala.

Istighfar Karma,orang sombong matinya kejang-kejang.

Di pelajaran tambahan ini bebas memilih tempat duduk yang berbeda dari tempat duduk sehari-hari, tanpa pikir panjang dia langsung duduk di belakang gadis berkepang dua yang maniak kimia itu.

Nyoba-nyoba aja gak ada maksud modus kok, suer.

Ada deng dikit.

Dikit, kok.

Karma menguap lebar. Apa dia yang datang kepagian? Rasanya dari tadi si gurita kuning tidak menunjukkan tentakelnya sama sekali, dia mulai bosan.

Dia melipat kedua tangannya di atas meja lalu menidurkan kepalanya di atasnya, matanya mengamati punggung Okuda yang sedari tadi tidak berganti posisi. Karma memajukan badannya sedikit untuk mengintip.

Ah, dia sedang baca kamus kimia rupanya.

Dia asik baca kamus kimia, sedangkan dia bosan disini. Jadi dia gitu?

"Okuda-san."

Ya, gak boleh gitu dong.

Okuda menoleh karena panggilan Karma dan melihat dia sedang tersenyu— Maaf, ternyata menyeringai.

"Ya, Karma-kun?"

"Ahh enggak, aku lagi mikir aja." Karma menopang kepalanya dengan satu tangan di atas meja, "Jangan-jangan kamu dibuatnya dari tembaga dan tellurium."

Okuda memiringkan kepalanya sedikit, bingung. "Kenapa?"

"Soalnya kamu CuTe banget deeeh~"

Karma cengengesan.

Okuda mingkem.

"...Kamu pasti bosan banget ya Karma-kun, biar kucari Koro-sensei dulu." Okuda dengan cepat beranjak dari bangkunya dan pergi keluar kelas.

Karma berhenti cengengesan di tempatnya saat Okuda pergi, dia mulai merenungi gombalannya. Tiba-tiba Terasaka menepuk pundaknya, "Ma, gombalan lo udah kayak sayur lupa dipanasin—

—basi."

"Diem lo nyedh."

.

.

.

.

.

#Minggu

Hari minggu untung sekali cuaca sedang cerah, jadi Rio berjalan-jalan saja.

Di tengah jalan tadi dia bertemu banyak murid kelasnya, ada Kayano yang baru saja mau ke kafe bersama Okuda, ada Isogai yang sedang berangkat kerja sambilan,lalu ada Maehara yang lari entah dari apa—

—Ah iya ada banyak bekas cakaran di wajahnya.

Rio lanjut berjalan, rambut pirangnya berkibar di belakangnya.

Di pertigaan, dia bertemu orang yang tidak terduga.

Rambut pirang stroberi, mata ungu, muka sengak— Siapa lagi kalau bukan Asano Gakushuu.

Rio mengerutkan dahinya saat orang itu berjalan ke arah yang sama dengannya.

"Hey," Rio berhenti dan berbalik. "Ngapain ngikutin?"

Asano menaikan sebelah alis, muka sengaknya pantang hilang. "Ngomong sama gue?"

"Enggak, ama tukang bakso di ujung jalan."

"Ohh," Asano lanjut jalan, Rio emosi.

"Gue paling ga suka sama kacang anjrit."

Dia melangkah cepat, niatnya mau menarik sedikit rambut murid teladan sombong itu. Tapi jalan tak merestui si ganteng tersakiti, dia tersandung batu yang gak mau kasih peringatan sama sekali.

BRUK

Lutut Rio bertemu dengan tanah, dia mengutuk. Sialnya lagi, Asano malah berbalik dan melihat keadaannya yang sedang memalukan.

"Awas jatoh," katanya monoton.

"Iya makasih banget peringatannya."

Rio cepat-cepat bangun dan menepuk-nepuk lututnya yang tadi kotor, Asano berjalan ke dekatnya.

"Apa lo."

Asano hanya melihatnya sebelum berbicara, "Lo bisa jatuh karena kesandung, karena kepeleset, ataupun karena manjat pohon. Tapi satu-satunya cara jatuh yang paling cocok buat lo itu—"

Jeda.

"—Jatuh cinta sama gue."

Angin lewat dengan santainya.

Rio diem.

Asano stay sengak.

Disaat berikutnya terdengar teriakan penuh derita akibat tendangan di bagian terlarang, dan besoknya tersebar gosip sekrup otak Asano coplok semua diduga karena mabok kurikulum baru.

.

.

.

.

end


Mengheningkaan cipta untuk mereka yang gugur di medan gombal

Mengheningkan cipta

mulai