Author desperet pengen apdet jadinya ceritanya gini.

Warning : (masih) tata bahasa tidak beraturan. Positif OOC. Bahasa lo/gue. Humor garing.


Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei


Cerita #16 : Nonton bareng

Entah kenapa sejak pagi tidak ada guru yang masuk sama sekali ke kelas 3-E. Ada yang bilang sih rapat, tapi mereka kan bukan guru sungguhan jadi topik rapat masih dipertanyakan. Menurut Ritsu yang sempat mengintip, katanya sedang dirundingkan hukuman untuk gurita kuning ajaib karena komplain Karasuma yang empet liatin buku porno berceceran dimana-mana.

Jam kosong begini enaknya pasti nonton bareng. Maehara dan Isogai sudah meminjam proyektor entah darimana dan Takebayashi juga sudah membawa laptopnya. Mereka berniat menonton film horror berjudul "The Amityville."

Sempat Kurahashi menawarkan BL CD yang dia bawa, tapi langsung ditolak secara serentak—Lindungilah populasi manusia polos yang jumlahnya makin terbatas, Maehara menulisnya besar-besar di papan tulis

"Film ini serem banget gak sih?" Sugino agak merinding.

"Kalo serem bagus dong, kan bisa buat alesan lo meluk Kanzaki-san." Karma jawab santai.

"Oh, iya bener juga ya! Ehh—KEBALIKLAH! MASA GUE YANG JADI PENAKUTNYA, HARUSNYA DIA YANG MELUK GUE DONG."

Kanzaki tersenyum tipis di belakang saat mendengar perdebatan mereka. Aku tau tapi aku diam.

"Ah," Itona menunjuk layar saat filmnya mulai dimulai. "Gue pernah nonton film ini. Nanti di cermin bakal ada hantu anak-anak."

"Itona jangan spoiler dong…"

"Oh iya maaf, Nagisa. Gue gak akan bilang kalo nanti cowok jenggotan itu bakal kerasukan."

"…"

"Eh, tapi mau tau gak kalo endingnya nanti mereka bakal kabur pake perah—"

"BACOT LO TONA,KALO NYEBAR SPOILER LAGI LAMA-LAMA GUE CIUM JUGA NIH." Terasaka emosi, Itona langsung mingkem karena jijik.

"Bilangnya aja gegara spoiler, padahal emang niatnya mau modus."

"GUE BUKAN LO YA, MA. GOMBAL KOK BASI, UNTUNG BUKAN GUE YANG DIGOMBALIN."

"MASALAH LO APA AMA GOMBALAN GUE? NAJIS YA MENDINGAN GUE GOMBALIN SI GONDRONG DI BANGUNAN SANA DARIPADA LO."

"DIEM LO SEMUA, SUARANYA GAK KEDENGERAN."

Nagisa mencatat diam-diam di buku catatannya hasil review kegiatan hari ini.

Pelajaran penting saat nonton bareng : Jangan nyebar spoiler (nanti jadi korban modus).

.

.

.

.

.

Cerita #17 : Debat

"Oke, kelompok A dan B sudah siap di tempatnya masing-masing? Kalau begitu saya sebagai moderator akan membuka debat ini. Pertama-tama kita akan menentukan siapa yang maju lebih dulu." Isogai yang duduk di sebelah Koro-sensei bersiap melempar sebuah koin. "Kalau angka berarti A maju pertama, kalau gambar berarti B maju pertama. Setuju?"

Setelah semua mengangguk dia melempar koin itu dan ternyata yang keluar adalah angka. Kelompok A yang beranggotakan Nakamura Rio, Fuwa Yuzuki, dan Kurahashi Hinano sudah siap dengan argumen mereka.

"Baiklah, waktunya 2 menit dari sekarang."

Nakamura Rio pertama berdiri, "Saya akan menjadi perwakilan pertama untuk menyatakan pendapat kami. Jadi, menurut kami Maehara/Isogai itu pairing yang paling unggul dibanding lainnya. Coba kalian bayangkan muka mesum—maaf, muka layak sensor Maehara dipadukan dengan wajah asli uke Isogai. Perpaduan yang sangat cocok kan?"

Isogai dan Maehara melotot.

"S-satu menit berlalu, ada sanggahan?"

Kataoka Megu dari sisi B berdiri, "Saya mau menyanggah pendapat Nakamura-san. Kalau menurut saya jenis pairing seperti Maehara/Isogai itu sudah terlalu biasa, tidak bisa dibilang unggul. Bagaimana dengan Sugino/Nagisa? Mereka sangat akrab dan hints bertebaran dimana-mana, pastilah pair ini perlu perhatian lebih."

Alis Sugino dan Nagisa berkedut.

Murid perempuan kelihatan semangat dengan debat ini, tapi murid laki-laki merasakan sebuah kejanggalan—Apa topik debat ini?

"Kenapa diam, Isogai-kun? Sekarang waktunya pembicara kedua." Koro-sensei mengingatkan Isogai yang masih cengo.

"Err, anu… Sensei saya lupa, topik debat ini apa ya?"

"Nurufufufu tentu saja topiknya adalah, 'Apa pairing homo favoritmu?' Nyuaah~ Berkat topik ini murid perempuan jadi antusias."

Wanjeng.

"Yaa sudahlah, nurufufu. Sekarang waktunya pembicara kedu—"

"TUNGGU WOI! GAK USAH LANJUTIN, DEBAT INI GAK MUTU. BUBAR, BUBAR."

.

.

.

.

.

Cerita #18 : Mager

Asano Gakushuu beneran empet ngeliat Ren kerjaannya numpang ngadem doang di ruang osis. Semua lagi sibuk kerja dan makhluk satu itu malah sibuk benerin rambutnya yang padahal cuma setengah, tangan Asano gatel mau ngambil gunting di atas meja.

"Woi, Ren," panggilnya. "Beresin nih tumpukan kertas."

"Mager, ah."

Rambut setengah siyalan,tapi Asano masih berusaha sabar.

"Yaudah ketikin dokumen ini nih."

"Mager."

"Buku yang disana rapiin."

"Mager,nooo. Dibilang daritadi."

Bangsad.

"Pergi ke rumah Kanzaki Yukiko dari kelas E, gih. Buat nganterin dokumen ini."

Ren langsung berdiri dari sofa dengan semangat, sekali lagi menyisir rambutnya. "Oh, kemarikan dokumennya. Tentu saja akan kuantar."

Kunyuk, giliran pergi ke tempat cewek aja mau.

Asano kelewat dongkol, dia meraih gunting di atas meja lalu berjalan perlahan ke tempat Ren.

"Kenapa no? Mana dokumennya? Mau cepet gue anter ke tempat Kanzaki Yukiko nih. No, itu kan bukan dokumen,itu gunting. Asano, asal lo tau gue punya phobia gunting gegara nonton anime gore dulu. NO, ASTAGA NO, ITU GUNTING DEKET BANGET AMA MUKA GUE. NO LO MAU NGAPAIN GUE. THEEEEDAAAAAAAAAAAAKKKKKK—"

Setelahnya teriakan penuh penderitaan menggema sampai ke koridor.

.

.

.

.

.

Cerita #19 : Cerita menyentuh

Pada suatu hari Terasaka sedang berjalan-jalan dengan gembira sambil meloncat-loncat sedikit. Di jalan, dia melihat sebuah kardus mencurigakan.

"Kardus apa ini? Isinya bom kah? Korban mutilasi kah? Kompilasi foto-foto Jong Kok kah!?" Dia bertanya-tanya.

Akhirnya kalah dengan godaan kompilasi foto Jong Kok, dia membuka kartus tersebut dan ternyata kardus itu berisi seekor anak kucing yang lucu dengan kalung bertuliskan 'Itona.'

"Hoo, kucing toh. Siyal, kena pehape gue." Dia mendecih sambil mengelus kucing itu. "Kasian ya lo dibuang, tapi gue ga bisa melihara lo." Jadi, dengan terpaksa Terasaka pergi.

Tapi, dia balik lagi dan menyentuh kucing itu lagi.

"Lo pasti bakal kangen gue ya."

Jijik, kucing itu mengeong. Lalu, terasaka pergi lagi.

Lalu dia kembali lagi dan menyentuh kucing itu lagi, setelah itu dia pergi lagi.

Dia berjalan balik dan menyentuh kucing itu lagi, lalu pergi lagi, lalu balik dan menyentuhnya lagi, lalu dia pergi lag—

"LUCU LO THOR. GUE GAK TERGODA AMA KOMPILASI FOTO JONG KOK, WASEM. KALO KEABISAN LAWAKAN BILANG."

Aku ingin bilang tapi aku diam.

.

.

.

.

.

Cerita #20 : Coba-coba

Hari itu adalah hari yang damai seperti biasa, burung-burung berkicau ria dan bertengger berduaan seperti menyindir para jones yang lewat, angin bertiup sepoi-sepoi,matahari bersinar cerah.

Sangat biasa.

Terlalu biasa sampai rasanya bosan.

"Hei," ucap Okajima memulai sambil memandang keluar jendela kelas. "Menurut kalian kenapa cewek-cewek bisa tertarik sama gombalan?"

"Mana gue tau, Jim, " jawab Mimura malas. Mulai nih, tanda-tanda jonesnya kambuh.

"Ya pasti karena cewek lemah sama hal-hal yang romantis kan? Dan gue romantis jadi cewek-cewek suka sama gue." Maehara narsis, Okano pasang muka eneg di background.

"Ehhhh? Apa yang menarik dari gombalan-gombalan itu? APA MAEHARA APAA JELASIN KE GUE!" Okajima nyerocos ke Maehara gak nyante.

Maehara bergidik dan mencoba mendorong Okajima yang mukanya makin lama makin mendekat ke arahnya. Dia takut kalau semakin dekat lagi Okajima akan kalah terhadap nafsu karena mukanya yang kelewat tampan, menurutnya doang sih.

"E-Err, gimana kalo kita cobain aja, mungkin lo bisa langsung tau rasanya!"

Anak cowok yang lain langsung melangkah mundur.

"Ah, ide bagus!"

"Ehem," Maehara terbatuk dulu. "Jim, tangan lo kelihatannya berat. Sini, biarkan gue yang memegangnya buat lo…"

"Mae…"

Anak cowok yang lain komat-kamit mantra anti najis.

"Mae," Sekarang Okajima mulai. "Kalo gue bisa ngatur ulang keyboard gue bakal meletakkan U dan I bersama."

"Aw Jim…"

"Kal—"

"UDAH CUKUP, KALO MAU NEBAR HINTS MAHO DI TEMPAT LAIN AJA SONO. JIBANG SUMPAH."

.

.

.

.

.

TBC?


Informasi tambahan Jibang : jijik banget

"Sesungguhnya gombal dan afi tidak bisa dipisahkan" - Penyebab banyaknya unsur gombal di fic saya

Ayy reviews are loved /o/