Berbumbu kemumetan uts.

Warning : (masih) tata bahasa tidak beraturan. Positif OOC. Bahasa lo/gue. Humor garing.


Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei


.

.

.

.

Cerita #21 : Sejarah

Sekelompok murid kelas 3-E sedang berkumpul di sekeliling meja Isogai untuk membicarakan materi ulangan lusa nanti. Lusa akan diadakan ulangan tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia, tentu saja mereka semua bingung. Ketika ditanya kenapa harus Indonesia si gurita kuning menjawab dengan entengnya,

"Nurufufu, karena sensei suka pecel lele disana. Maka kalian harus pelajari negara itu! Pertama kalian pelajari sejarah kerajaan disana lalu nanti pelajari sejarah pecel lele nya!"

Penting banget ya.

Karena itu, sekarang mereka berkumpul untuk belajar dengan si ketua kelas ikemen. Dia kan pintar IPS, sejarah kan salah satu cabangnya tuh ya.

"Hmmm, mau mulai dari kerajaan apa?" Tanya Isogai sambil melihat-lihat makalah yang ada di atas mejanya.

"Bagaimana kalau kerajaan Mataram Islam?" usul si surai biru muda. Yang lain mengangguk setuju.

"Jadi, Mataram Islam pertamanya adalah tanah yang diberikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ki Pamanahan. Lalu, anak Ki pamanahan di angkat anak oleh Hadiwijaya lalu blablablabla."

"..."

Semua mendadak pucat mendengar penjelasan Isogai.

"Kenapa?"

"Mampus, baru 1 kerajaan aja udah ribet banget, gak kuat gue gai." Maehara memijit pelipisnya.

"Halah baru segini aja ngeluh, belah tengah lemah!"

"Woi, Karma, gausah bawa poni gue berapa sih!? Salah poni gue ama lo apa!?"

"Dia penyebab kerajaan-kerajaan itu runtuh!"

"PONI GUE ASLI JEPANG, BUKAN PORTUGIS."

"Udahlah ma, mae, ayo lanjutin belajarnya..."

Jangan buat pikiran mereka yang sudah lelah tambah mumet lagi gegara perkelahian gak mutu mereka.

Mereka berusaha mempelajari semua kerajaan, dari kerajaan di Sumatra sampai Jawa. Tapi, yang namanya sejarah pasti banyak informasi rancu yang bikin geregetan.

"FATAHILLAH ITU SEBENERNYA SIAPA SIH? ANAK ATAU MENANTU? MANA MUKANYA SINI GUE GAMBAR." Sugaya putus asa.

"Gusti, berikanlah hamba kekuatan untuk menghapal nama raja-raja yang terus berulang ini. Amiin." Curhatan hati seorang Nagisa.

"Ngapain Portugis dan Belanda ikut campur sih, bikin ribet sejarah aja." Sugino empet.

"BARANG SIAPA YANG BERHASIL MENGALAHKAN ARYA PANANGSANG AKAN MENDAPATKAN AKUU DAN HARTA BENDAKU." saking stress nya Maehara membacakan sayembara seorang permaisuri keras-keras dengan penekan pada kata "aku", semua menatap najis.

"Astaghfirullah, mereka bunuh-bunuhan terus. Sesungguhnya pembunuhan itu dosa," Kimura elus dada.

Mereka belajar mati-matian sampai akhirnya berhasil menguasai materi, mari sujud syukur.

Besoknya saat masuk kelas dengan percaya diri karena sudah siap ulangan, Terasaka menemukan secarik kertas tertempel di papan tulis.

"Hari ini sensei tidak masuk karena harus —(coret)membelipecellele(coret)— ada urusan penting, karena itu ulangan diundur minggu depan. Salam cinta Koro-sensei muach."

Kertas itu langsung menjadi serpihan-serpihan hatiku—Maaf, bukan.

"SEMOGA LO KERACUNAN PECEL LELE DISANA."

.

.

.

.

Cerita #22 : Lele no katachi

Hari itu, Fuwa membawa manga tentang seorang gadis tuli yang berjudul "Koe no Katachi" ke kelas. Katanya manga itu terkenal bisa langsung bikin baper, not recommended lah buat orang yang gamau bapernya nambah.

Lihat saja di depannya sekarang sudah disediakan sekotak tisu.

Nakamura mendekati Fuwa lalu duduk di kursi depannya yang kosong, "Manganya seru?"

"Baper," jawab Fuwa singkat setelah menyisih lendir dari hidungnya. Nakamura bergidik jijik.

Penasaran, dia mencoba membaca manga itu dari volume pertama. Mungkin karena ketagihan, tidak terasa Nakamura sudah menghabiskan 3 volume.

"Eh,Fuwa." Nakamura memanggil tiba-tiba, Fuwa agak terganggu karena acara bapernya terganggu. "Kok di manga ini sering muncul ikan sih. Ikan koi pula."

Fuwa berpikir sebentar walaupun pertanyaan gadis pirang itu beneran gak penting.

"Koe sama koi cuma beda satu huruf, kan?" Jawabnya polos.

"Terserah."

"Lha, kalo nanti yang dimunculin lele tambah ga nyambung sama judulnya dong!" Fuwa ga terima jawabannya dijudesin, wong dia bener kok. "Nanti jadi Lele no Katachi!"

Nakamura terkesiap, "BENAR JUGA! NANTI JADI A SILENT LELE DONG YA."

Enggak, sumpah deh gak bener.

"Bagaimana kalau nanti di scene ini, si cowok malah bilang 'Aku belajar bahasa lele ini agar bisa mengobrol denganmu!' Gimana!?"

"Terus nanti si cewek jawab 'blub blub blub' sambil blushu. Kan bahasa lele."

"Iya, iya, blub blub blub!?"

"Blub blub!"

"UDAHLAH MENDINGAN KALIAN GA USAH NGOBROLIN MANGA DEH. HAPALIN NAMA-NAMA RAJA KERAJAAN ACEH AJA GIH," Sugino yang daritadi duduk di belakang mereka jengkel gebrak meja.

"BLUB!?"

"BLUB BLUB!"

"CUKUP."

.

.

.

.

Cerita #23 : Kerja kelompok

Kerja kelompok dianggap sangat tidak mengenakkan bagi banyak orang.

Apalagi kalo dapet partner ribet cem Terasaka.

Hazama memijit pelipisnya, bukannya cepet selesai yang ada si Terasaka malah bikin tugas kelar lebih lama.

"Udah belom sih nimbangnya, Ter?"

"Bentar, belom seimbang nih. Menimbang itu harus pake hati!"

"Dimana-mana nimbang itu pake timbangan, bukan hati. Pantesan gak kelar-kelar."

"Berisik lo, ah! Berusaha konsen nih gue!"

Hazama menatap datar Terasaka yang sedang berusaha menyeimbangkan timbangan tersebut. Dia beralih ke arah termometer yang sedang mengukur suhu air dalam gelas kimia di atas pembakar spiritus, masih cukup lama sampai suhu yang disuruh Koro-sensei.

Bosan, ngusilin Terasaka kayaknya gak buruk juga.

"Udah belom, Ter?"

"D-dikit lagi! Dikit lagi… oke… Iya, hampir… Ini di-" Hazama menyentuh lengan Terasaka yang gemeteran dengan ujung jari, "HIIIIIIH— EH, WANJEG."

Timbangannya malah nambah parah.

"WOI, HAZAMA LO NGAPAIN SIH!?" Terasaka langsung nyemprot, tapi Hazama gak nunjukkin wajah bersalah sama sekali. "TANGAN LO DINGIN BANGET LAGI, BIKIN KAGET AJA. GUE KIRA GUE DISENTUH KUNTI."

"Sembarangan, ini suhu normal tubuh gue." Balas Hazama, agak gak terima disamain sama kunti. "Lagian dipegang gitu aja kaget. Ohhh, pasti karena lo gak pernah deket sama cewek kan? Jomblo mulu kan lo? Gak laku kan?"

"SATU PERTANYAAN NYESEK AJA BISA KALI."

Hazama menyeringai licik lalu terus-terusan mencolok lengan Terasaka dengan jari telunjuknya, Terasaka panik. Tiba-tiba tampilan layar game pokemon terbayang di kepalanya.

Hazama uses bullet seed, it's super effective! Hits countless times.

Terasaka mundur untuk menghindari serangan Hazama tapi naas, tangannya tidak sengaja menyenggol Muramatsu yang berdiri di belakangnya, lalu Muramatsu menyenggol Chiba. Chiba yang terdorong jadi menyenggol pembakar spiritus kelompoknya.

Isogai berniat menenangkan yang lain, tapi dengan brengsyeqnya si Maehara mengikat tali sepatunya jadi satu, dia pun tersandung dan mendorong Okuda yang sedang membawa suatu bahan kimia, bahan kimia itu terlempar ke arah Koro-sensei.

Kelas bertambah rusuh.

"TERASAKA DEMI DEWAAAAAAAA—"

"KOK GUE."

Hazama tersenyum dalam diam, pasti dia tidak akan dipasangkan dengan Terasaka lagi setelah ini.

.

.

.

.

Cerita #24 Singkatan LGBT

"Eh, eh," Kayano memulai obrolan dengan teman-temannya saat istirahat siang. "Belakangan ini di social media lagi tenar istilah LGBT ya? Sebenernya itu apaan sih?"

Nagisa nyaris tersedak tulang ayam makan siangnya

"K-kayano, LGBT itu-"

"Ohh aku tau!" seru Kurahashi, "Kemarin koro-sensei pulang dari Indonesia bawa banyak LGBT lohh!"

Nagisa melotot, gak bisa bayangin koro-sensei bawa banyak ho-

"Lemper, Gehu, Bakwan, dan Tempe! Mereka enak loh!"

Nani.

"Ehh, jadi LGBT itu makanan toh. Oalaahhh," Kayano mengangguk-angguk polos. Nagisa rasanya mau banting kepala ke meja.

"Bukan, Kurahashi-san. LGBT itu kayak gue."

"Hah Maehara lo LGBT?" Nagisa gak woles, beneran kaget pas denger Maehara.

"Iya dong, Nagisa. Gue kan Lelaki Ganteng Berlandaskan Taqwa."

Maehara memancarkan sinar ganteng.

Tapi, yang lain malah eneg.

Nagisa gak tau lagi.

"KALIAN SALAH TAU! LGBT ITU SINGKATAN DARI LESBIAN, GAY, BISEXUAL AND TRANSGENDER."

"Nagisa…"

Semua memandang tajam ke arah Nagisa.

"EH,KENAPA? KOK JADI GUE YANG JAHAT, BOHONG ITU DOSA WAHAI MANUSIA."

.

.

.

.

Cerita #25 : Pandangan para guru

Saat sedang berjalan menuju ruang guru, tidak sengaja Irina menemukan Karasuma sedang beridiri di depan kelas didikan mereka. Irina menepuk bahu Karasuma, dia sedikit meloncat kaget.

"Ohh, kau Irina."

"Sedang lihat apa?"

Karasuma menunjuk ke dalam kelas 3-E, Irina ikut melihat karena penasaran.

Di dalam sana anak-anak muridnya sedang melakukan kegiatan yang beragam.

Ada yang membaca manga sambil mengoceh bahasa aneh yang bahkan seorang Irina Jelavic saja tidak mengerti.

"BLUB BLUB BLUB."

"GUE BILANG CUKUP."

Lalu ada Nagisa yang seperti berusaha keras menjelaskan sesuatu kepada teman-temannya.

"MAKANYA KOK JADI GUE YANG SALAH."

"Peka lah, Nagisa. Demi masa depan yang lebih baik."

Di belakang juga ada Terasaka yang berusaha keras mengenai Hazama dengan permen karet, tapi tidak ada yang berhasil. Satu malah mengenai si setan merah.

"Terasaka lo bosen hidup?"

"GUE MAU NGAJUIN PETISI BUAT NGADAIN RAZIA SENJATA TAJAM KHUSUS BUAT RAMBUT MERAH."

"Rasis."

"MA, ITU PISO ASLI."

Muramatsu dan Sugaya sedang berusaha keras menghibur si kepala bola yang sepertinya sedang berkomat-kamit.

"Mantan… Mantan, maafkan aku yang dulu, mantan…"

"Okajima, lo gak punya mantan."

"Oiya… Pacar, maafkan aku yang dulu pacar."

"Jim… Apalagi pacar, jim. Lo gak punya," Muramatsu menyeka air matanya.

"SADAR OKAJIMA TAIGA, SADAAR."

Irina mengalihkan pandangannya dari isi kelas itu.

Sekarang dia tau bagaimana perasaan Karasuma saat mengawasi kelas ini.

"Kelas ini damai seperti biasa, ya."

Karasuma mengangguk.

"Masih muda kewarasannya sudah tinggal setengah."

Irina mengangguk.

Keduanya menatap iba sekali lagi ke arah kelas 3-E

.

.

.

.

tbc?


Special info : iya makanan kesukaan saya pecel lele /GAADAYANGNANYA

reviews are loved