To be honest
Naruto©Masashi Kishimoto
©Jojobecc Oil
AU/OOC/Mature Rated/No Underage/DLDR
.
Sasuke segera menyeret Sakura masuk ke dalam mobil. Sasuke menghidupkan mobilnya dan menjalankan mobilnya menuju bar untuk bernostalgia bersama Sakura. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Sakura tidak siap jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.
.
To Be Honest Chapter II
Sasuke dan Sakura memilih tempat duduk yang sama seperti saat mereka kuliah dulu. Kemudian Sasuke pergi memesan minuman ke meja bartender.
Di meja itu ada seorang gadis berpakaian minim yang sedang duduk sendirian di meja bartender. Gadis itu adalah Shion, salah satu kenalan Sasuke di bar.
"Sendirian?" tanya Shion.
"Tidak. Bersama seseorang." balas Sasuke.
"Siapa? Sahabat? Pacar?" tanya Shion.
Minuman yang dipesan Sasuke sudah siap. Sasuke membawa minumannya ke meja mereka—Sasuke dan Sakura.
Shion masih melirik Sasuke yang berjalan menuju mejanya. Ia memandangi Sasuke dengan tatapan aku-ingin-memilikimu. Sakura yang melihat hal tersebut merasa agak risih.
"Sas, dia siapa?" tanya Sakura ketika Sasuke sudah duduk di hadapannya.
"Oh itu Shion." jawab Sasuke
"Kalian akrab ya~ Tapi dia selalu menatapmu dengan tatapan yang aneh. Hati-hati, loh~ Ntar kamu gak jadi nikah." ucap Sakura.
Sasuke pun mengarahkan wajahnya ke arah Shion.
"Hey Shion! Pacarku tidak suka kalau kau menatapku." ucap Sasuke dengan volume suara yang agak tinggi.
Shion pun mendengus lalu membuang muka ke arah lain.
"Kenapa kau mengatakan aku pacarmu? Bagaimana kalau Shion memberitahukan hal ini kepada Ino?" tanya Sakura panik.
"Tenang saja. Shion tidak tahu kalau aku sudah tunangan." jawab Sasuke.
"Tapi tetap saja. Lagi pula jika hanya ingin mengusirnya, tidak usah bilang aku p-pacarmu segala. Jangan menyangkut-pautkan aku dalam hubunganmu!"
"Kenapa kamu sebegitu marahnya sih? Toh juga ini bukan masalah." ucap Sasuke santai.
"Bukan masalah katamu? Bagiku itu masalah. Besar malahan." ucap Sakura marah.
"Mengapa itu masalah bagimu? Aku yang —mengucapkannya— saja tak masalah."
"Au ah elap." Sakura ngambek. Gadis itu membuang wajahnya ke sembarang arah.
Sasuke tahu kalau gadis itu hanya marah sebentar. Ia selalu bisa membuat mood Sakura kembali lagi. Seperti saat mereka kuliah dulu.
"Hei! Ingat tidak saat kita pertama kali bertemu? Aku datang agak telat, dan duduk di sampingmu. Waktu itu kau masih berkacamata." ucap Sasuke.
Sakura masih tidak menggubrisnya.
"Kau lupa membawa pulpenmu. Jadi kau meminjam pulpen kepada perempuan-perempuan yang berada di dekatmu. Namun tidak ada yang mau meminjamkan. Pada saat pelajarannya dimulai, kau jadi sangat panik dan gelisah. Seharusnya kau melihat wajahmu saat itu." ucap Sasuke sambil tertawa kecil.
"Kalau cuman mau ngeledek mending pulang aja." balas Sakura sambil meneguk anggurnya.
Sasuke lanjut bercerita, "Kau bergerak gelisah gak jelas sehingga mengganggu konsentrasi belajarku saat itu. Aku pun akhirnya meminjamimu pulpenku. Karena aku adalah pendengar dan pengingat yang baik, jadi aku tidak perlu mencatat materi."
"Tidak perlu menyombongkan diri." ucap Sakura sambil meneguk lagi anggurnya. Entah bagaimana caranya, tapi sekarang anggur itu hanya tersisa setengah botol.
"Aku tidak menyombongkan diri. Itu adalah fakta. Semenjak saat itu, kita pun jadi sering ketemuan di perpus, bar ini, dan di tempat lainnya."
Sakura hendak menandaskan anggurnya dengan cara meneguk dari botolnya langsung, tetapi Sasuke langsung mencegahnya.
"Ayo pulang. Kau sudah mabuk." Sasuke mendirikan Sakura dan membawanya keluar dari bar itu.
"Tidak mau! Kau saja yang pulang sana! Pulang ke tempat tunanganmu!" Sakura mulai meracau.
"Aku memang akan ke sana setelah aku memastikan kau sampai ke rumahmu." ucap Sasuke.
"Tidak usah mempedulikanku! Kau sudah punya tunangan! Urus saja dia!" racau gadis itu lagi.
Sasuke akhirnya berhasil membawa tubuh Sakura keluar dari bar itu.
"Aku akan memanggil taksi. Kau tunggu sebentar."
Sasuke meninggalkan Sakura yang setengah sadar di sebuah bangku taman. Lalu ia pergi memanggilkan taksi.
Sebuah taksi lewat. Sasuke melambaikan tangannya agar taksi itu berhenti.
Setelah berhenti, Sasuke memapah Sakura agar masuk ke dalam taksi. Sasuke berusaha keras memasukkan badan Sakura karena gadis itu bergerak-gerak tak tentu sambil meracau.
Sasuke akhirnya memasukkan dirinya juga ke dalam taksi agar tubuh Sakura bisa masuk seluruhnya.
Sasuke hendak keluar, namun mengingat Sakura sedang dalam kondisi terkacaunya saat ini, ia memutuskan untuk ikut mengantar Sakura pulang. Setelah itu ia akan kembali ke bar lagi untuk mengambil mobilnya.
"Ke Perumahan Konoha no.37, Pak. Setelah itu balik lagi ke sini." ucap Sasuke di tengah racauan Sakura.
"Baik." jawab sopir taksi tersebut.
Taksi itu pun melaju membelah jalanan Konoha yang tidak terlalu macet karena hari sudah larut.
Beberapa menit kemudian taksi tersebut sampai ke depan rumah Sakura.
Sasuke memapah tubuh Sakura keluar taksi. Ketika hendak masuk kembali ke dalam taksi, Sakura mencegat tangan Sasuke.
Sasuke membalikkan badannya.
Entah apa yang merasuki Sakura sehingga tiba-tiba ia mencium bibir Sasuke. Sasuke merespon ciuman tersebut dengan mengulum bibir gadis itu.
"Ehm... Aku rasa kau tak perlu kembali lagi." ucap si sopir taksi.
Sasuke mengeluarkan uang dari kantongnya dengan sembarang, lalu memberikannya kepada sopir taksi tanpa melepaskan ciumannya dari Sakura.
Kemudian Sasuke menuntun Sakura masuk ke dalam rumahnya.
~oOo~
Sasuke membaringkan Sakura di tempat tidur. Sasuke melumat bibir Sakura dengan penuh perasaan. Seandainya gadis itu tidak sedang dalam keadaan mabuk, pasti ia akan mengerti apa makna dibalik ciuman Sasuke.
Namun Sasuke juga bersyukur gadis itu mabuk, kalau tidak, pasti ia tidak dapat mencium gadis itu seperti sekarang ini.
Entah siapa yang memulai, sehingga Sasuke dan Sakura sekarang bisa ada di atas ranjang, dan saling melumat, namun lumatan kali ini disertai dengan decapan-decapan. Kentara sekali nafsunya.
Sasuke yang tadinya bisa menahan diri, kini hilang kendali. Bibirnya bergerak ke bagian tubuh Sakura yang lain, dan meninggalkan beberapa ruam kemerahan di sana. Tangannya bergerilya mencari titik-titik tertentu yang dirasa nikmat.
Setelah melakukan aksi tadi, Sasuke belum berhenti sampai di situ saja. Kini tangan nakalnya mulai membuka satu per satu pakaian Sakura dan menanggalkannya.
Sakura yang memang penguasaan dirinya telah diselimuti dan dikendalikan oleh rasa mabuk, langsung merespon aksi Sasuke.
Ia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pria itu —membuka dan menanggalkan baju lawan mainnya.
Setelah itu, Sasuke membiarkan sisi kejantannya yang mengambil alih dari kegiatan mereka. Sementara Sakura, ia juga membalas apa yang dilakukan Sasuke. Karena bukan ia juga yang berkuasa kendali tubuhnya saat ini.
Sasuke mulai menciumi badan Sakura sehingga meninggalkan jejak di sana. Setelah puas meninggalkan jejak di badan Sakura, Sasuke menciumi dada Sakura dan mengulumnya.
Ia melakukan hal tersebut ke kedua bukit kembar milik Sakura. Sehingga gadis itu beberapa kali mendesah sambil menyebutkan nama Sasuke.
"Ahn, S-Sahh... Sashhsuke-kun." Walau terdengar putus-putus, Sasuke menyukai saat Sakura menyebut namanya.
Setelah puas melakukan hal tersebut, sampailah mereka pada inti dari permainan 'panas' mereka.
Perlahan tapi pasti, Sasuke memasukkan bagian miliknya ke dalam milik Sakura. Milik mereka sama-sama baru pertama kali melakukan itu. Beberapa kali Sasuke menggeram nikmat dan Sakura terdengar mendesah lagi.
Merasa memasukkan saja tidak cukup, Sasuke menggoyangkan pinggulnya dan menghentak-hentakkannya. Kali ini, Sakura tidak mendesah lagi, melainkan meringis menahan perih karena selaput miliknya telah ditembus kejantanan Sasuke. Walaupun Sakura sedang dalam keadaan mabuk, tapi tetap sajaitu terasa sakit baginya yang baru pertama kali melakukannya.
Setelah selesai menyelesaikan beberapa ronde, Sasuke memutuskan untuk menyudahi permainan mereka karena wanita—baru—dihadapannya ini terlihat kelelahan.
'Mungkin efek karena minum minum, tadi.' batinnya.
Sasuke pun melepaskan kejantannya dari milik Sakura dan membaringkan tubuhnya di sebelah wanita itu. Lalu memeluknya posesif.
Sasuke sesekali terlihat mengusap, bahkan menciumi keringat yang mengalir dari pelipis Sakura.
Sejujurnya Sasuke merasa sedikit takut dengan apa yang akan terjadi ke depannya setelah mereka melakukan hal ini. Ia bukannya takut dengan nasibnya, melainkan dengan nasib wanita di dalam pelukannya ini. Bagaimana cemoohan orang nantinya kepada wanita ini? Apakah ia masih memiliki teman atau tidak?
Tapi Sasuke tidak peduli dengan hal itu, intinya ia akan memperjuangkan cintanya kepada Sakura. Ia akan membuat wanitanya bahagia dengan kemampuannya sendiri.
"Aku menjadikanmu milikku dan tidak akan melakukan kesalahan seperti dulu." bisik Sasuke sebelum ia terlarut dalam mimpi. Sasuke memeluk erat tubuh Sakura seolah-olah ia tidak ingin melepaskan wanita itu bahkan dalam tidurnya.
TBC_
A/N: Sori yah lama publishnya, soalnya chap ini ada adegan lemonnya, jadi eike harus nyari referensi dari berbagai sumber dulu ~_~ . Kurang nganuh kan ceritanya? Yahhhh namanya saya juga belum pernah mempraktekkannya ,
oh iya! baru sadar, ternyata chap ini full SasuSaku ._.
Oh iya (2), untuk nge-update chapter baru, sepertinya saya gak bisa update cepat. Soalnya netbuk saya rusak LCD nya dan saya belum punya uang untuk ganti, atau kalian ada niat buat ngebantu saya perbaiki LCD nya #nyedd ini aja ngetik pake netbuk tetangga -_- . Selain itu, minggu depan saya bakal mengikuti UKK(Ujian Kenaikan Kelas), jadi saya gak bisa dapet ilham buat next chap. Walaupun sebenarnya saya 'kemungkinan besar' gak belajar sihh #dor...Ya tapi saya kan butuh waktu buat menenangkan diri aja :')
Sekian bacotan saya.
Special Thanks buat yang udah review dan ngasih kripik dan garam(baca: Kritik dan Saran). Juga buat Favorite dan Follow nya.
Jojobecc Oil
160508, Bisulan TTwTT
