.

.

.

.

With You

.

.

.

Pair: Haehyuk

Rate: T

Warning: Yaoi/Angst/Romance/ThreeShot

Summary: Hati itu terpecah menjadi dua. Satu di utara dan satu lagi di selatan, namun serpihannya memberikan tanda sebagai jalan untuk bisa kembali utuh.

.

.

.

Ini adalah bagian utara negara ini, tempat kota utama berada. Tempat pusat pemerintahan serta pusat ekonomi negara ini berjalan. Gedung-gedunng pencakar langit dengan arsitektur yang artistik ada disetiap sudut. Semua fasilitas yang tersedia kelas satu, mulai dari pelayanan umum hingga komunitas khusus.

Dengan biaya serta taraf hidup yang begitu tinggi tak sembarang orang bisa tinggal dan menetap di kota ini. Tak sembarang orang bisa bertahan ditempat ini. Hanya kalangan tertentu. Kalangan dengan jumlah uang yang begitu berlimpah.

"Bukankah itu putra Tuan Lee?"

"Iya benar, wah lebih tampan jika dilihat langsung ternyata."

"Kudengar dia jenius."

"Benarkah?"

"Ya, adikku yang dulu sekampus dengannya bilang jika ia mendapat gelar Doktor saat usianya masih dua puluh tahun."

"Omo!"

"Dan katanya juga dia mengambil dua jurusan sekaligus. Hukum dan bisnis manajement."

Decakan kagum kerumunan gadis ditengah ballroom pesta itu tak terelakan. Mata-mata cantik mereka melirik sosok laki-laki dewasa di ujung sana. Meminum winenya sambil berbicara dengan orang-orang seumurannya, sebelum seorang laki-laki lebih tua lainnya mendekatinya membisikan sesuatu padanya. Setelah menelan winenya dalam sekali tegukan dia beranjak mengikuti bawahannya, tak sadar membuat kerumunan gadis itu mendesah kecewa karena kepergiannya.

Donghae berjalan menyusuri lorong dengan dinding-dinding penuh lukisan mahal mengikuti sekretaris Kim. Sudah ia duga ini bukan hanya pesta, ayahnya angkatnya tak akan menyuruhnya menghadiri pesta hanya untuk meminum wine dan berbicara basa-basi dengan orang-orang. Akan selalu ada penjelasan disetiap tindakan ayah angkatnya. Tak terkecuali.

"Mereka sudah menunggu anda."

Sekretaris Kim membukakan pintu besar itu sebelum Donghae melangkah kedalam. Ada jamuan makan malam didalam sana. Dan saat iris cokelatnya melihat sosok Presiden negara ini duduk berhadapan dengan ayah angkatnya, Donghae sama sekali tak terkejut.

Setelah menunduk sopan dan duduk disamping ayah angkatnya, Donghae tak mengatakan apapun. Dia terlihat begitu tenang dan dingin. Tak pernah ada seorang pun yang bisa menebak apa isi otaknya yang outstanding itu.

"Senang akhirnya bisa melihat putra anda secara langsung Tuan Lee. Memiliki dua gelar Doktor padahal masih sangat muda, anda benar-benar beruntung Tuan Lee." Pemimpin negara itu tersenyum dengan bola matanya yang melirik kearah laki-laki muda itu.

"Sangat sopan dan tampan, benar bukan Soojung-ah?" Ibu negara itu meminta pendapat putrinya yang duduk tepat di depan Donghae.

Gadis cantik itu melirik Donghae dengan malu-malu, tanda bahwa ia begitu menyukai laki-laki didepannya. Bahkan bibir mungilnya tak bisa berkata-kata dan hanya menjawab ibunya dengan anggukan manis, setiap orang yang melihatnya pasti akan terpesona.

Namun sayang iris cokelat itu tak melihatnya, bahkan sejak awal Donghae tak peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya. Dia diajarkan untuk selalu diam. Menurut dan tak melawan.

"Saya sangat berharap bahwa putraku dapat mendukung anda untuk pemilu periode berikutnya, mungkin dia belum berpengalaman mengenai politik namun dia cepat belajar."

Bahkan saat ayah angkatnya memutuskan sesuatu tanpa bertanya padanya, Donghae tak akan pernah membantah.

"Tentu Tuan Lee, suatu kehormatan jika putra anda bisa menjadi bagian dari pemerintahan. Pemikiran anak muda sangat dibutuhkan untuk negara ini kelak kedepannya. Kurasa putriku akan senang hati bermitra dengan putra anda, dia juga akan ikut andil dalam politik di pemilu berikutnya."

Donghae tak peduli dengan semua pembicaraan ini.

"Terima kasih, ini suatu kehormatan."

Donghae sama sekali tak peduli.

"Tak perlu sungkan, Tuan Lee. Tanpa anda saya juga tak mungkin menduduki posisi ini."

Yang Donghae inginkan hanya semua ini cepat berakhir.

.

.

.

Pintu itu terjeplak dengan begitu kasar. Donghae memasuki kamarnya dengan langkah cepat sambil melempar jasnya sembarangan. Tangannya dengan kasar menarik dasi hitamnya lalu membuka kancing atas kemejannya dalam usaha untuk bernafas. Ia menunduk dengan nafas terengah setelahnya, kedua tangannya bertompang pada sandaran sofa.

Sesak.

Selalu seperti ini. Ayah angkatnya selalu tahu bagaimana mencekiknya secara kasat mata. Uang, kemewahan, kekuasaan, setiap hari Donghae harus bergelut dengan semua itu. Bahkan jika sudah lebih dari tujuh belas tahun dia menjalaninya, Donghae tak pernah terbiasa dengan semua ini. Tak pernah sekalipun Donghae menikmatinya. Mentalnya selalu menolak. Yang ada hanya rasa muak yang semakin bertumpuk. Ia sangat membenci semua hal itu.

Ia membenci hidupnya.

Mengingat semua itu justru membuat kepalanya berdenyut menyakitkan. Donghae berjalan mendekati ranjang besarnya. Mengambil botol aspirin di laci meja nakas lalu menelan beberapa tablet tanpa air minum. Ia mengerang saat rasa pahit menjamah lidahnya sebelum perlahan membaringkan tubuh lelahnya di ranjangnya yang dingin.

Lama ia menatap langit-langit kamarnya sebelum iris cokelatnya melirik jendela besar di samping ranjanganya. Melihat gemerlapnya kota utama dari atas ketinggian. Sebuah kota penuh kesenangan. Sebuah kota yang bisa membuatmu merasa paliang berkuasa tapi juga bisa melahapmu tanpa ampun.

Sudah berapa lama ia terjebak ditempat ini?

Sudah berapa lama hingga ia menyadari bahwa ia hampir tak bisa merasakan emosi apapun?

Donghae memiringkan tubuhnya. Meringkuk seperti janin, memeluk dirinya sendiri. Mencoba mencari kehangatan untuk hatinya yang serasa dibekukan. Untuk setidaknya sebentar saja melupakan segala kecemasan serta tekanan yang seakan mencengkramnya begitu erat.

Perlahan kelopak itu menutup, menyembunyikan iris cokelat itu di peraduannya. Membawa sang pemilik jiwa terbang ke alam mimpi dan lepas dari semuanya.

.

.

.

"AARK!"

"Pendarahan! Ia mengalami pendarahan Hyung!"

"Diamlah! Siram lukanya dengan anti septik sebelum infeksi!"

Jisung hanya menuruti perkataan Hyukjae. Ia kembali menuang antiseptik pada luka menganga itu dengan tangan gemetar. Mata kecilnya hampir tak berkedip pada Hyukjae yang sedang berusaha menangani pasien ini. Hyukjae begitu fokus pada luka dihadapannya, ia tak peduli dengan pakaiannya yang penuh akan darah atau pada teriakan kesakitan pasiennya yang seperti akan memecahkan gendang telingannya.

"Bantu akau memeganginya, jangan diam saja!" Lagi-lagi seperti orang linglung Jisung hanya menurut. Melihat bagaimana dengan cekatan Hyukjae mulai menjahit luka itu hingga tertutup, sebelum bocah dua belas tahun itu sadar jika pasien yang ditangani mereka tidak lagi berteriak. Justru sekarang diam tak bergerak seperti sudah tak bernyawa. Mata kecil itu membulat.

"HYUNG! ORANG INI MATI! MATI HYUNG!"

Satu geplakan segera mengantam kepalanya, Hyukjae memukulnya tak kira-kira. Luka mengaga itu kini telah tertutup sempurna.

"Dia hanya pingsan bodoh! Sekarang perban lukanya lalu panggil Sungmin Hyung atau Heechul Hyung untuk memeriksanya."

Hyukjae segera keluar dari sana, niatnya ingin menganti pakaiannya yang penuh akan darah namun saat iris hitamnnya melihat orang-orang penuh luka itu bergeletakan di lorong rumah sakit, ia urung. Dengan cepat ia membantu relawan lainnya yang terlihat begitu kualahan. Ia tak punya waktu untuk hal-hal tak penting sekarang.

Sebuah insiden ledakan dipertambangan membuat pasien rumah sakit kecil ini membludak tiba-tiba. Hal ini tak sebanding dengan jumlah relawan yang begitu sedikit. Menjahit luka, memperban luka, membersihkan darah adalah hal yang ia lakukan berulang-ulang hari ini.

"Kakek! Kakek!" Tangisan di ujung sana menarik perhatian Hyukjae.

Dengan tergesa Hyukjae mendekati mereka. Hyukjae berniat membantu mengobati luka sang kakek, namun langkahnya terhenti saat melihat tubuh tua itu sudah membujur kaku. Wajahnya begitu pucat dan membiru. Sekali lagi hal yang paling Hyukjae takutkan terjadi. Hal yang paling tak ingin Hyukjae lihat kembali terulang. Melihat mereka yang mati tanpa sempat menerima pengobatan.

Tubuhnya tiba-tiba kaku dan tak bisa bergerak. Hyukjae tetap diam ditempat meski relawan yang lain mulai memindahkan mayat itu. Ia diam ditempat melihat bagaimana anak muda itu meraung menangisi orang yang dicintainya.

Orang yang tak sempat Hyukjae selamatkan.

Dan Hyukjae tak bisa melakukan apa-apa.

Semua keramaian itu mulai mereda saat subuh menjelang. Rumah sakit kecil itu mulai sunyi saat seluruh pasien mendapatkan pengobatan, meski belum bisa dikatakan layak namun setidaknya mereka sudah mendapat pertolongan awal. Seluruh relawan dan dokter mulai bergantian memeriksa mereka dan memberikan rekan-rekan mereka kesempatan untuk istirahat.

Hyukjae duduk di undakan tangga pintu belakang rumah sakit. Sejak tadi ia hanya diam dengan baju yang masih berlumuran darah. Bau darah sudah tak pernah lagi menganggunya karena terlalu terbiasa. Hampir setiap hari ia berhadapan dengan hal seperti ini.

Iris hitamnya melihat pemandangan sekitar yang tak berbeda jauh seperti saat pertama kali ia datang ketempat ini. Tanah tandus, bangunan kumuh, serta asap hasil pencemaran pabrik dan tambang adalah pemandangan yang lazim ditempat ini. Ini adalah kota selatan. Kota mati dan tanpa harapan. Hyukjae mendongak, mungkin hanya satu kelebihan tempat ini. Hyukjae bisa melihat jutaan bintang yang tersebar dan terlihat begitu jelas di langit malam.

Tepukan di pundaknya membuat Hyukjae menengok, terlihat Sungmin sudah duduk menyebelahinya dengan senyumnya yang khas. Serius, Hyukjae selalu merasa orang ini tak bertambah tua sedikitpun.

"Sudah berapa orang yang kau selamatkan hari ini?" Sungmin bertanya dengan nada cerianya, begitu hangat dan menenangkan namun respon semangat Hyukjae yang ia harapkan tak terjadi.

Hyukjae justru terdiam. Ingatannya justru kembali pada orang-orang yang mati hari ini. Meski ia hampir melihat orang mati setiap hari sejak datang ketempat ini, meski ia selalu berhadapan hal yang sama berulang kali. Hyukjae masih tidak terbiasa dengan hal ini.

Hyukjae tak akan pernah terbiasa.

Tahu apa yang dipikirkan Hyukjae, Sungmin segera menepuk-nepuk kepala Hyukjae pelan.

"Jangan pernah menghitung berapa orang yang mati, Hyuk. Tapi hitunglah berapa orang yang berhasil kita selamatkan. Kita semua punya batasan, kau maupun aku tak akan bisa menyelamatkan semua orang ditempat ini. Kita bukan dewa ataupun Tuhan, kita manusia biasa seperti mereka."

Ya, Sungmin benar. Mereka punya keterbatasan tak peduli setinggi apa harapan orang-orang sakit ini pada mereka. Ditambah lagi Hyukjae bukanlah seorang Dokter seperti Sungmin atau pun Heechul. Ia hanya relawan yang dididik kedua dokter itu hingga mengerti benar bagaimana membantu mereka mengurusi orang-orang yang sakit dan terluka.

Ia bahkan tak memiliki sertifikat resmi apapun yang menandakan ia paham betul mengenai kesehatan. Ingin mendapatkannya dari mana? Tidak ada tempat untuk sekolah di kota mati ini. Tak ada pendidikan formal apapun yang berjalan di selatan kecuali para relawan yang berbaik hati menjadi guru dadakan untuk anak-anak malang ditempat ini. Semua orang hanya diwajibkan bekerja untuk bertahan hidup.

Selama tujuh belas tahun lebih Hyukjae mengenal tempat ini. Selama itu pula ia mencoba bertahan hidup semampu yang ia bisa. Mencoba menghadapi kenyataan serta takdir yang memenjarakannya ditempat ini.

Mencoba menerimanya meski batinnya berteriak. Mencoba menjalaninya meski terpaksa. Hyukjae kembali melihat langit malam yang begitu gemerlap.

"Kapan tempat ini akan berubah, Hyung?"

"Entahlah, Hyuk. Aku juga tidak tahu."

.

.

.

"Hae?"

"Kenapa? Sesuatu menganggumu?"

"Ikuti aku, tutup matamu, hitung sampai sepuluh, lalu buka matamu lagi."

"Ayo kita hitung, Hae... 1... 2...3...4... "

"Buka matamu Donghae."

Kelopak itu terbuka perlahan, memperlihatkan iris cokelat pemuda itu yang begitu sendu. Pandangannya perlahan fokus pada langit cerah di balik jendela kaca kamarnya. Donghae menelentangkan tubuhnya.

Ia memimpikannya lagi.

Ia selalu memimpikannya hampir setiap malam.

Kali ini bagaimana caranya menangani kecemasan Donghae dulu. Ia akan selalu menyuruh Donghae menutup matanya lalu menghitung hingga sepuluh sebelum kembali menyuruh Donghae membuka mata. Cara yang aneh, dan sebenarnya sama sekali tak bekerja pada Donghae. Yang membuatnya berhasil adalah karena saat Donghae membuka mata ia akan disuguhi senyum hangat yang begitu manis. Senyuman yang mampu menghalau segala macam kecemasan apapun yang Donghae rasakan.

Suara ketukan pintu menyadarkan kembali Donghae akan kenyataan.

"Tuan Muda, anda sudah bangun?"

Donghae segera bangkit.

"Ya. Masuklah!"

Sekertaris Kim mengernyit saat begitu memasuki kamar Donghae disuguhi Tuan Mudanya itu yang masih memakai pakaian resminya kemarin. Kebiasaan buruk.

"Ada sedikit perubahan pada jadwal anda, Tuan. Ayah anda meminta anda datang pada jamuan dengan seorang clien penting setelah rapat pemenggang saham siang ini."

"Ya." Donghae menjawab sambil lalu, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

"Anda juga perlu datang ke pabrik untuk mengecek produksi yang sedang berjalan setelahnya."

"Ya."Kembali jawaban acuh tak acuh itu terdengar.

"Dan Tuan?"

"Ya?"

"Tuan Kyuhyun menitipkan ini untuk anda."

Kali ini ekspresi Donghae berubah, dengan cepat ia mengambil handuk untuk mengusap wajahnya yang basah sebelum berjalan terburu-buru mendekati sekertaris Kim. Ada sebuah flashdisk hitam di tangan laki-laki paruh baya itu. Donghae langsung mengambilnya dari tangan bawahannya itu menggantinya dengan handuk basah yang ia bawa. Ia berjalan ke meja kerjanya, menyalakan laptop lalu menancapkan flashdisk itu tak peduli pada tatapan aneh sekertaris Kim dengan handuk basah ditangannya.

Jemari itu menscrol kebawah pada deretan dokumen di layar laptopnya. Membukanya satu persatu, membacanya satu persatu dengan mata tajamnya yang begitu serius. Iris cokelatnya bergeser membaca tiap deret huruf serta angka yang tertera di sana. Sekertaris Kim tetap diam ditempatnya, melihat Tuan Mudanya itu dengan kesetiannya.

Cukup lama Donghae duduk di meja kerjanya sebelum pandangannya beralih dari laptopnya, ia bersandar pada kursi kerjanya sembari berfikir memutar otak dalam diam.

"Ajushi."

"Ne, Tuan Muda?"

"Apa malam ini aku ada janji?"

"Tidak Tuan. Jadwal anda berakhir sekitar pukul delapan."

"Kalau begitu beritahu semuanya untuk berkumpul malam ini."

"Untuk?"

"Katakan saja kita akan berpesta malam ini."

Jawaban Donghae membuat dahi Sekertaris Kim mengernyit.

.

.

.

Anak dua belas tahun itu mengelap keringatnya yang mulai bercucuran. Ia harus fokus dan konsentrasi tapi cuaca siang hari yang terik ini sama sekali tak membantu.

"Berapa lama lagi waktu yang kau butuhkan? Ini sudah hampir waktunya giliranku berkeliling melihat pasien."

"Hyung kau merusak konsentrasiku! Kau tidak lihat aku sedang berusaha secepat yang ku bisa."

Hyukjae menghela nafas, cepat apanya? Yang ia lihat bocah satu ini benar-benar hoby membuang waktunya. Demi Tuhan anak ini hanya berlatih menjahit dengan sebuah boneka usang, tapi tingkahnya sudah seperti sedang melakukan operasi penyakit dalam saja.

"Kenapa cara memegang pingsetmu seperti itu?"

"Kata Sungmin Hyung tak masalah."

"Tapi akan menjadi masalah kalau yang kau jahit itu orang betulan. Kau bisa merobek kembali lukanya."

"Sstt! Hyung, kau berisik."

Adakah palu? Ingin Hyukjae pukulkan kekepala anak ini. Kalau bukan karena permintaan Sungmin untuk mengawasi anak ini belajar, Hyukjae sudah meninggalkannya sejak tadi. Masih banyak hal lebih berguna lainnya yang dapat ia lakukan ketimbang melihat bocah belum cukup umur menusuk-nusuk boneka dengan jarum dan pingset.

Iris hitam Hyukjae kembali melihat Jisung yang begitu serius menjahit. Mungkin ini hal gila mengajari seorang anak dibawah umur untuk menjahit luka, tapi jumlah relawan yang semakin sedikit di rumah sakit ini membuat tak banyak pilihan yang bisa diambil. Sejujurnya anak ini begitu mirip dengannya. Seorang yatim piatu yang dipaksa bekerja di tambang sebelum akhirnya berakhir di sini.

Yang membedakan mungkin anak ini jauh lebih kuat dari Hyukjae, jauh lebih tabah. Bahkan ia bisa tertawa lepas ditengah kota mati seperti ini. Sesuatu yang tak bisa Hyukjae lakukan sejak lama. Jangankan tertawa, tersenyum pun terasa sulit untuknya.

Karena didalam sana, tepat di hatinya. Ada yang menghilang.

Brak!

Kedatangan Heechul yang begitu rusuh mengagetkan kedua orang di ruangan itu. Dokter itu terengah-engah dan tubuhnya bercucuran keringat. Bola matanya langsung berbinar saat menangkap sosok Hyukjae di hadapannya.

"Kau kenapa Hy-"

"HYUKJAE!"

Yang dipanggil sangat terkejut saat Heechul tiba-tiba memeluknya erat. Belum sempat ia bertanya apa yang terjadi pada Dokter itu, Heechul tiba-tiba saja mengacungkan sebuah amplop cokelat yang sudah terbuka. Didalamnya terlihat sebuah kertas putih yang timbul sedikit.

"Kau lulus, Hyuk!"

Tunggu, apa katanya?!

Hyukjae melihat Heechul tak percaya, bahkan sebelum otaknya menyerna dengan benar amplop cokelat itu sudah pindah ke tangannya. Tiba-tiba saja Hyukjae tak tahu harus bagaimana.

"Buka Hyuk, kau harus membacanya sendiri."

Seperti orang linglung dengan tangan gemetar Hyukjae mulai menarik kertas putih didalamnya. Membuka lipatan kertas itu dan membacanya kata-perkata.

Ya Tuhan, katakan jika ini bohong.

Bahkan Hyukjae harus membaca ulang kembali isi kertas itu karena ketidak percayaannya.

"Wah benar Hyung! Hyukjae Hyung lulus masuk !

"Apa ku bilang, kau pasti lulus!"

"Ada apa ini?" Keributan itu sepertinya sampai ketelingan Sungmin yang datang dari arah yang sama dengan Heechul.

"Hyukjae Hyung lulus, Hyung!"

"Jinja?! Wah selamat Hyuk!"

Dengan raut wajah bahagia ketiganya kembali melihat Hyukjae yang masih diam menatap kertas ditangannya. Dikertas itu tertulis bahwa Hyukjae telah lulus seleksi dalam sebuah program pengambilan tenaga kerja dibidang kesehatan oleh pemerintah sebagai upaya menambah tenaga medis di kota selatan. Menurut informasi orang-orang yang lulus akan mendapatkan pendidikan di kota tengah, zona abu-abu.

Tidak adanya teriakan senang atau reaksi lainnya yang menandakan Hyukjae bahagia membuat ketiganya mulai khawatir.

"Hyuk?"

Satu tetes air matanya jatuh membasahi kertas ditangannya. Menyadarkan Hyukjae bahwa semua ini benar-benar nyata, bukan ilusi semata. Hyukjae perlahan mendongak hanya untuk memperlihatkan airmatanya yang mengalir tanpa bisa dicegah. Membuat senyum ketiga orang di sekitarnya itu menghilang dan menatapnya khawatir.

"Hyung kau tak apa?"

Hyukjae mengusap air matanya yang terus mengalir sambil menggeleng pelan.

"Lalu kenapa kau menangis?"

"Aku... aku tidak tahu." Jawaban itu terlontar sebelum isakannya mulai terdengar, tangisnya tak berhenti justru malah semakin menjadi. Membuat Sungmin perlahan memeluknya dan Heechul mengusap kepalanya lembut.

Mereka tahu seberapa keras Hyukjae berusaha dalam hal ini, seberapa besar keinginan Hyukjae untuk bisa keluar dari tempat ini. Berbagai cara Hyukjae tempuh untuk mewujudkannya tak peduli jika takdir seolah tak mengijinkannya.

Seringnya terjadi keributan dan ancaman oleh orang selatan membuat pemerintah mengetatkan pengawasan. Mereka membuat sebuah sistem kartu tanda pengenal yang tak bisa dipalsu khusus kepada masyarakatnya yang menandakan ia bukan orang-orang selatan. Yang tak punya tanda pengenal berarti selamanya berada di selatan.

Selama ini hanya Sungmin dan Heechul yang bisa melewati gerbang perbatasan. Mereka mencari dana, obat, serta peralatan rumah sakit di luar wilayah selatan karena mereka memiliki kartu identitas. Kedua dokter ini berasal dari masyarakat kelas atas. Mereka rela meninggalkan keluarga mereka yang kaya raya demi membantu orang-orang diselatan. Tak semua orang kaya di utara membenci orang-orang selatan. Masih ada orang-orang semacam Sungmin dan Heechul yang menganggap ketidak adilan orang-orang tersisihkan ini.

Sedangkan Hyukjae sudah terlanjur terhitung sebagai anak yang berasal dari kota mati ini. Semua orang yang berasal dari selatan tak akan mempunyai tanda pengenal untuk bisa melewati perbatasan keluar dari area selatan. Mereka dianggap berbahaya. Mereka dianggap sampah.

Tapi dengan namanya yang tertera dalam kertas ditangannya ini, sama artinya dengan Hyukjae bisa keluar dari kota ini. Ia akan mendapatkan kartu identitasnya. Ia akan diperbolehkan melewati gerbang perbatasan.

Ia akan menemukan apa yang hilang dalam dirinya.

.

.

.

Apartemen mewah itu begitu penuh akan orang, banyak diantaranya adalah gadis-gadis cantik berbusana minim. Musik menggema begitu keras dengan tata lampu yang sengaja dibuat gelap, mungkin sekilas akan nampak seperti club malam. Alkohol dan kesenangan membaur menjadi satu. Donghae berjalan melewati orang-orang itu, mengacuhkan tatapan mengoda gadis-gadis disekitarnya dan melangkah pasti keruang kerja pemilik apartemen ini.

Dia meninggalkan sekeretaris Kim di parkiran memintanya menunggunya disana hingga ia selesai sebagai jaminan agar ayahnya percaya ia tak macam-macam. Perlu perjuangan ekstra sebelum Donghae mencapai pintu besar itu, dan saat ia membukanya bukanlah hal aneh semua rekannya sudah menunggunya. Donghae kembali menutup pintunya, menguncinya rapat sebelum bergabung dengan mereka semua.

"Donghae kau terlambat." Adalah apa yang pertama keluar dari mulut Yesung saat melihat Donghae dihadapannya.

"Maaf."

"Maklumi saja Hyung, dia orang paling sibuk diantara kita semua." Siwon tersenyum pada Donghae sebagai bentuk pembelaan.

Kyuhyun terlihat acuh tak acuh, duduk bersedekap seperti tak peduli sekitar.

"Karena kalian semua sudah disini, kurasa kita bisa memulainya."

"Itu kasar, Donghae."

Siwon menaruh gelas winenya di meja kaca.

"Aku menghabiskan banyak uang untuk membuat pesta ini tapi kau tidak mau ikut menikmatinya sedikit saja?" Nada main-main itu membuat Donghae malas menanggapinya.

"Kyuhyun keluarkan semua yang kau dapat."

Yesung bersiul melihat tingkah Donghae.

"Tuan tak suka basa-basi kembali lagi." Ucapnya pelan yang hanya didengar oleh Siwon.

Tak membutuhkan waktu lama sebelum empat laki-laki terpelajar itu mulai fokus dengan semua data di depan mereka.

"Mereka semua melakukan semuanya dengan bersih. Hampir mustahil untuk menemukan celah kalau saja ada sebuah kejanggalan yang kusadari."

Kyuhyun menjejerkan lembaran-lembaran foto insiden mengerikan yang pernah terjadi di kota.

"Lihat senjata mereka, lihat peralatan yang mereka bawa, bukankah itu sangat ketinggalan jaman? Maksudku mereka ada di kota utama lalu kenapa mereka menggunakan senapan angin yang begitu kuno?"

Donghae mengambil satu foto ditangannya, melihat gambar penembakan masal yang pernah terjadi lima tahun yang lalu di stasiun kereta. Pelakunya merupakan orang-orang selatan yang berhasil menyusup di kota utama.

"Maksudmu mereka harus memiliki senapan ralas panjang keluaran terbaru, begitu?" Pertanya aneh Yesung membuat Kyuhyun memutar matanya.

"Maksudku adalah dengan persenjataan seperti itu bagaiaman mungkin mereka berhasil menyusup kekota utama?"

"Kyuhyun benar, apa lagi sistem kartu identitas sudah berdasarkan sidik jari, mustahil orang-orang tak berpendidikan seperti mereka memalsukannya agar bisa masuk ke kota utama." Donghae menyambung logika Kyuhyun.

"Dengan kata lain ada orang dalam yang membantu mereka? Begitu maksudmu?"

"Benar sekali!" Kyuhyun menjetikan jarinya menanggapi perkataan Siwon.

"Tunggu-tunggu! Lalu apa hubungannya orang dalam dengan data-data pemerintahan ini Kyuhyun!" Suara decakan itu adalah jawaban yang didapat Yesung dari evil satu itu.

"Ada yang sengaja memasukan mereka ke dalam kota."

Donghae duduk bersandar.

"Insiden ini sudah direncanakan tanpa pelakunya sendiri tahu. Ada oknum tertentu yang memudahkan jalan mereka agar insiden ini terjadi."

"Benar. Intinya hal ini memang disengaja direncanakan. Membuat para pemberontak selatan itu membuat masalah di utara sebagai usaha untuk semakin memojokan orang-orang selatan."

"Dan kalian pikir kemungkinan oknum itu adalah orang-orang dari pemerintah, begitukan?"

"Ya. Setelah penyelewengan dana yang kita temukan, hal ini bisa menjadi bukti lainnya bahwa sistem pemerintahan ini sangat merugikan. Hanya akan menghancurkan negara ini jika bertahan lebih lama lagi."

Dari luar mungkin orang-orang akan mengira bahwa keempat orang ini sedang berpesta dan berfoya-foya. Membuang-buang uang mereka untuk bersenang-senang selayaknya anak orang kaya lainnya, namun pada kenyataannya pesta hanyalah kedok, kamuflase. Hanya topeng untuk menutupi hal yang sebenarnya mereka lakukan.

Hal yang begitu berbahaya dan penuh resiko. Hal yang bisa membuat mereka dihukum mati saat ini juga jika diketahui orang lain. Hal yang mereka lakukan demi menjatuhkan orang yang sedang berkuasa.

Hal yang mungkin lebih dikenal dengan nama konspirasi.

"Yesung Hyung, kau sudah mengurus semuanya bukan?"

Yesung langsung mengerti apa maksud Donghae, ia mengangguk dengan senyum lebar yang terpampang.

"Tentu, seperti perkiraanmu ayahmu tak akan menolak bisnis dengan keuntungan sebesar itu meski harus pergi ke luar negeri sekalipun. Kupastikan ayahmu akan menaiki jet pribadinya meninggalkan negara ini. Segera."

"Siwon, kau akan mengantikanku mengurus bisnis disini saat orang tua itu pergi. Jangan membuat kesalahan, jangan sampai ia tahu jika kau mengantikanku."

"Itu mudah."

"Kyuhyun kau sudah mencarikan orang yang bisa membantuku disana bukan?"

"Ya. Mereka adalah pengawas pertambangan dan petugas perbatasan di selatan. Mereka dan orang-orangnya akan membantumu, Hyung."

Donghae mengangguk. Selama bertahun-tahun ia menyusun rencana ini. Membangun kekuatannya, merekrut orang-orang kepercayaannya.

"Tapi, Hyung. Kau tidak mengatakan apa tujuanmu ke sana. Kita hampir menemukan bukti yang cukup untuk menghapus sistem pemerintahan ini, lalu kenapa kau justru pergi kesana?"

Donghae terdiam mendengarnya. Mata sendunya meredup.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Sebelum semuanya kita ubah."

Ketiganya melihat satu sama lain. Selama bertahun-tahun mengenal Donghae mereka masih tak tahu banyak tentangnya. Donghae masih begitu tertutup dengan mereka, bahkan sifat dinginnya terkadang membuat mereka tak nyaman. Yang mereka tahu hanyalah Donghae begitu membenci ayah angkatnya yang begitu mengekangnya.

Begitu membencinya hingga ia berusaha merobohkan pilar terkokoh ayah angkatnya yaitu pemerintahan negara ini sendiri.

.

.

.

"Pastikan semuanya sudah kau bawa. Kalau kau tersesat dan tak tahu jalan disana cari para petugas yang berjaga di beberapa pos yang tersebar disana. Biasanya mereka memakai pakaian-"

"Sungmin Hyung, aku tahu hal itu, aku pernah tinggal disana dulu."

Sungmin menghela nafas.

"Aku tahu, Hyuk. Tapi itu sudah lama sekali, hampir delapan belas tahun. Aku hanya khawatir kau sudah melupakannya."

Benar juga perkataan Sungmin, sejujurnya Hyukjae juga mengkhawatirkan hal yang sama. Ini sudah lewat bertahun-tahun, tidak mungkin satu tempat tak berubah dengan rentang waktu selama itu.

"Hyukjae, Hyung! Kartu identitasmu sudah datang! Lihat ini...daebak!"

Perlahan jemari pucat itu meraih kartu di tangan Jisung. Melihat nama serta foto dirinya tercetak disana. Sesuatu yang begitu Hyukjae inginkan sejak dulu, sesuatu yang menjadi harapannya kini. Hyukjae tak tahu ketiga orang lainnya melihatnya dengan tersenyum.

Mereka tahu bahwa keinginan Hyukjae untuk pergi dari kota ini bukanlah karena kota mati ini tak menyediakan apapun, bukan karena keegoisannya semata. Tapi lebih dari itu. Lebih dari apapun yang pernah dimilikinya selama ini.

"Cha, sebaiknya kita segera berangkat kalau tidak ingin ketinggalan kereta."Mendengar teriakan Heechul, Jisung langsung merebut tas ransel Hyukjae.

"Aku bawakan, Hyung!" Ucapnya semangat.

Hyukjae hanya bisa tersenyum tipis saat melihat tiga orang itu begitu semangat mengantarnya. Namun senyumnya perlahan pudar, tangan pucatnya mengenggam erat kartu identitasnya didada. Tepat di jantungnya yang kini berdetak begitu kencang.

Apakah ini memang hal yang terbaik?

Apa harapan kecilnya memang masih berlaku?

"Hyuk! Ayo!"

"Ne!"

Namun setidaknya ini adalah satu-satunya kesempatan.

Sekertaris Kim memasuki kamar Donghae melihat Tuan mudanya begitu serius menatap layar laptopnya.

"Pesawat pribadi ayah anda sudah berangkat Tuan."

Donghae mendongak menatap Sekertaris Kim. Sebelum bangki dari kursinya memakai jasnya dengan bola mata yang tak fokus. Ia menarik nafas panjang.

"Pesawatku sudah siap?"

"Sudah Tuan, satu jam lagi anda dapat berangkat."

Setelah mengangguk mengerti Donghae mulai melangkah meninggalkan kamarnya dengan sekertaris Kim yang setia dibelakangnya. Namun saat melewati lorong sebelum tangga langkah Donghae tiba-tiba saja terhenti.

"Tuan Muda anda baik-baik saja?"

Donghae tak menjawab,perlahan kepalanya menengok pada Sekertaris Kim. Mengejutkan laki-laki paruh baya itu akan iris cokelatnya yang begitu penuh akan kecemasan.

"Ajushi."

"Ne."

"Semua akan baik-baik saja kan?"

Sekertaris Kim terdiam. Ia tahu apa yang sedang dialami Donghae saat ini. Semua orang akan di hantui rasa cemas dan ketakutan jika berada di posisi Donghae sekarang. Selama bertahun-tahun Donghae diam membangun kekuatannya sendiri. Selama itu pula ia terus menunggu kesempatan untuk setidaknya lepas dari pandangan ayah angkatnya.

Agar ia bisa melakukan apa yang sudah begitu lama ingin ia lakukan.

Dan saat kesempatan itu datang justru terasa menakutkan baginya, meski semua rencana sudah tersusun secara matang. Ketakutan tetap ada. Ketakutan dan kecemasan bukan hanya tentang ayah angkatnya tapi juga apa yang sedang menunggunya ditempat tujuannya.

Bagaimana jika semuanya tak sesuai dengan harapannya?

Bagaimana jika segalanya justru semakin buruk?

Tapi Donghae tidak salah, sejak awal ia tak bersalah. Sekertaris Kim memegang pundak Donghae. Meremasnya sebagai bentuk dukungan untuk menguatkan anak muda ini.

"Semuannya akan baik-baik saja, Tuan."

Iris cokelat itu menatapnya lurus. Menatap satu-satunya orang yang memberinya rasa hangat di tempat memuakan ini. Satu-satunya yang begitu mengerti Donghae hingga kedetail terkecil. Donghae menunduk sejenak, memejamkan mata menyakinkan hatinya.

"Kita berangkat." Ucapnya dengan yakin lalu meneruskan langkahnya.

Dengan sepenuh keyakinannya.

Sepenuh harapannya.

.

.

.

Hanya perlu kurang dari dua jam untuk sampai di daratan tengah. Zona abu-abu. Tempat para orang-orang biasa yang tak mampu hidup mewah dan tak mau hidup menderita.

Tempat Donghae berasal.

Seorang supir sudah menunggu mereka saat mereka tiba dibandara.

"Apa Siwon sudah ada di perusahaan?"

"Sudah Tuan, Ayah anda tidak akan curiga jika yang ada dikantor anda adalah Tuan Siwon. Beberapa anak buah kita sudah mengurusnya."

Donghae mengangguk lalu memasuki mobil dengan sekertaris Kim di sampingnya. Sekertaris Kim mulai menerangkan apa saja yang harus mereka lakukan di kota ini dengan bantuan informasi dari Kyuhyun sebelumnya. Ia sama sekali tak sadar jika Donghae sudah tak mendengarkannya lagi.

Iris cokelat itu melihat keluar jendela. Melihat hal-hal akrab dan juga asing di luar sana. Segalanya di tempat ini terasa begitu aneh untuknya. Bertahun-tahun Donghae meninggalkan kota ini dan semuanya terasa sama dan berubah disaat bersamaan. Bukan pada perubahan rupa dan bentuk kota ini. Namun pada rasa yang Donghae rasakan sekarang.

Ini tempatnya berasal.

Ia kembali ketempat ia berasal, tapi kenapa didalam sana tepat di ulu hatinya terasa begitu nyeri? Sebuah rasa sakit yang tak pernah terjemahkan, sebuah rasa sakit yang tak bisa disembuhkan oleh obat apapun didunia ini.

Mobil itu berjalan cepat melewati sebuah stasiun kereta api, melaju lurus hingga menghilang dari pandangan.

Kaki kurus itu melangkah dengan ragu keluar dari satasiun. Iris cokelat itu menatap sekitarnya, ia terdiam di luar. Masih belum mempercayai jika ia kini ada disini.

Di tempat ia berasal.

Hyukjae menarik nafasnya, ia hampir lupa bernafas karena semua ini. Jantungnya berdetak sangat kencang karena rasa luar biasa yang ia rasakan. Demi Tuhan, Hyukjae bahkan ingin menangis sekarang.

Tapi tidak, Hyukjae langsung mengusap matanya yang memerah. Ia kesini bukan untuk menangis. Ia kemari untuk hidupnya. Untuk segalanya.

Hyukjae hanya ingin doa yang selalu ia panjatkan setiap malam, harapan yang selalu ia pegang teguh akan menuntunnya menemukan yang hilang dalam dirinya.

Mengikuti serpihan penanda jalannya, memungutnya satu persatu hingga ia bisa menemukan potongan hatinya yang telah lama menghilang. Separuh dirinya yang begitu ia rindukan.

.

.

.

Dia sama sekali tak mengerti ini.

"Ini adalah kamar kalian semua, sekarang ganti pakaian lalu bantu kami semua."

Delapan orang selatan itu saling melihat dengan raut kebingungan. Mereka disini untuk mendapat pendidikan bukan? Lalu kenapa mereka malah disuruh bekerja?

"Apa yang kalian tunggu! Cepat, ada banyak pekerjaan di rumah sakit ini."

Sama seperti lainnya, Hyukjae tak bisa melakukan apa-apa selain menurut. Menganti pakaian mereka dengan seragam serba putih lalu mengikuti instruktur mereka menyebar membantu pekerjaan di rumah sakit.

Seharian itu yang Hyukjae lakukan adalah membantu para suster menangani pasien. Mengantar makanan, mengantar obat, memandikan pasien, membersihkan kekacauan di UGD, dan banyak lagi. Tapi semua ini hanya seperti mengulang semua pekerjaannya di selatan. Taka ada hal baru yang ia pelajari disini.

Semua begitu berbeda dari bayangannya.

Dan keesokan harinya pun masih sama, Hyukjae hanya bekerja tanpa adanya pendidikan yang diberikan. Meski keheranan Hyukjae tak bertanya apa-apa. Ia pikir mungkin setelah ini mereka akan mendapatkan pendidikan dan ia terus melakukan pekerjaan itu.

Namun saat hari memasuki minggu kedua, ia mendengar sesuatu yang mengubah pendiriannya. Tepat saat telingannya mendengar kebenarannya.

Saat itu Hyukjae akan kembali mengambil obat-obatan untuk para pasien saat ia melihat seorang dokter dan suster berbicara disana.

"Apa yang akan kita lakukan pada mereka semua?"

"Terus saja beri mereka pekerjaan."

"Tapi Dokter bukannya mereka harus diberi pendidikan sesuai program pemerintah?"

"Program apa yang kau maksud? Ck itu hanya angan-angan saja tidak ada dana yang mengalir untuk memulai program tersebut. Lagi pula mereka orang selatan, apa yang bisa diajarkan pada orang-orang tak berpindidikan itu?"

Hyukjae merasakan tubuhnya lemas bersandar di balik tembok. Ia sama sekali tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia sama sekali tak mengira bahwa semua hal ini sia-sia. Angan-angan? Lalu bagaimana orang-orang selatan lainnya? Bagaimana mungkin mereka melakukan hal ini?

Saat ini Hyukjae mulai mempercaya hal yang paling ia tak ingin dengar, bahwa mereka yang berasal dari selatan hanyalah pengganggu, hanya beban.

Mereka dianggap tak layak mendapatkan apapun dari negaranya sendiri.

.

.

.

Puluhan kertas itu berserakan tidak hanya di meja kerja tapi juga di lantai dan kursi sofa. Donghae dengan begitu cerman membaca setiap file yang ada disana, membiarkan kopinya dingin karena terlupakan. Alisnya berkerut dan kepalanya terasa pening karena terlalu dipaksakan. Tapi ia tidak boleh berhenti, ia tak bisa berhenti.

Ini sudah satu bulan ia ada di kota ini, menetap sementara di rumah besar ayah angkatnya yang dulu pernah menjadi tempat mengerikan untuknya. Sekertaris Kim mengurus orang rekomendasi dari Kyuhyun untuk melakukan pencarian diselatan. Seingin apapun Donghae mencarinya sendiri diselatan, ia tak bisa. Ayah angkatnya terlalu berkuasa disana, jika salah satu orang-orang ayah angkatnya melihatnya disana maka apa yang Donghae bangun susah payah selama bertahun-tahun akan hancur dalam sekejab.

Jadi yang bisa ia lakukan sekarang adalah menunggu. Menunggu sembari mempelajari segala informasi yang datang dari para informannya. Tapi semakin lama hal ini berjalan justru semakin sulit. Mereka terus menemukan jalan buntu. Segala informasi selalu berakhir dengan ketidak jelasan.

Donghae menyandarkan punggunya, menghela nafas sembari memijat hidungnya dengan mata terpejam. Semua informasi berharga yang ia dapat bukanlah kabar yang ingin ia dengar. Dua pengasuhnya dipekerjaan di sebuah pabrik menjadi buruh wanita. Tapi bibi pengasuhnya telah meninggal lima tahun yang lalu karena penyakit, sedangkan Nonna pengasuhnya melarikan diri keluar negeri dan tak ada kabarnya lagi.

Bahkan panti asuhannya sekarang sudah rata dengan tanah. Tak menyisakan apapun untuknya kenang. Seperti tanah lapang yang tak pernah berpenghuni sebelumnya. Sulit dipercaya jika dulu disana berdiri sebuah panti asuhan dengan puluhan anak-anak. Rumahnya.

Segalanya menghilang.

Donghae membuka matanya. Ia benar-benar sampai di jalan buntu. Ia sudah tak tahu lagi harus bagaimana.

Pikiran Donghae dipotong saat tiba-tiba saja Sekertaris Kim datang begitu terburu-buru bahkan tanpa mengetuk menerobos masuk keruang kerja. Donghae melihatnya heran pada orang tua itu yang kini terengah karena berlari.

"Tuan, salah satu informan kita menemukan informasi penting."

Seperti lepas dari ikatan yang mencengkramnya Donghae reflek berdiri menatap Sekertaris Kim tak percaya. Harapannya belum pupus. Jalan itu masih ada, masih menyertainya. Dengan kebingungan Donghae mencari mantelnya.

"Kalau begitu tunggu apa lagi, kita harus pergi kesana! Dimana orang itu?"

"Dia adalah salah satu petugas yang ada di gerbang perbatasan, dia bekerja sejak dua puluh tahun yang lalu jadi kemungkinan besar di tahu mengenai anak-anak yang lain. Sekarang ia ada di dekat perbatasan, karena itu Tuan harus berhati-hati."

Donghae tak mendengarkan sisanya, ia tak bisa berfikir apapun selain sebuah berita baik. Dengan terburu mereka memasuki mobil, melaju menuju selatan. Menuju perbatasan.

Dengan waspada dan tidak menarik perhatian mereka berjalan di jejeran bangunan usang disana. Iris cokelat Donghae bisa melihat sebuah pintu gerbang yang menyatu dengan dinding tinggi penuh kawat berduri. Itu adalah gerbang utama yang mengisolasi orang-orang di selatan. Kabarnya setiap besi dinding perbatasan dialiri listrik yang dapat memanggang apapun dalan sekejap bila tersentuh. Mencegah siapapun melewatinya.

"Lewat sini, Tuan."

Donghae memasuki salah satu bangunan. Didalam sana ada seorang laki-laki seumuran ayah angkatnya. Tersenyum ramah padanya. Orang itu terlihat sedang mengurus beberapa berkas, seragamnya terlihat begitu usah menandakan seberapa tua kain itu. Menunduk sopan, akhirnya Donghae duduk didepannya.

"Jadi?"

Donghae tidak mau berbasa-basi, jantungnya berdetak sangat cepat dan adrenalinnya meningkat dalan usaha menekan ketidak sabarannya.

"Menurut data memang tujuh belas tahun yang lalu ada beberapa truk yang masuk ke perbatasan membawa anak-anak didalamnya. Mereka mengatakan jika anak-anak itu adalah selundupan dari selatan dan mereka sengaja mengembalikannya ke tempat asal mereka."

Donghae mencengkram tangannya kuat. Brengsek!

"Jumlahnya sekitar lima puluh tujuh anak di tiga truk yang berbeda." Tepat, jumlah yang sama dengan anak-anak panti asuhan selain dirinya jika dihitung.

"Lalu dimana mereka sekarang?"

Perubahan espresi orang itu membuat Donghae khawatir.

"Tidak ada data sedikit pun mengenai setiap anak di selatan, setiap orang tak memiliki tanda pengenal sehingga sangat sulit untuk mencari satu orang sekalipun, tapi Tuan..."

Informan itu menjeda kalimatnya, orang itu tidak yakin akan menyampaikannya atau tidak.

"Saya bisa pastikan jika saat itu kebanyakan anak-anak akan dibawa ke pertambangan. Mereka diperkerjakan sebagai buruh untuk timbal balik makanan yang mereka dapat setiap hari. Tapi tepat tujuh belas tahun yang lalu juga terjadi wabah besar di pertambangan."

Apa?

"Maafkan saya Tuan, tapi jika anak-anak yang anda cari itu memang masuk ke selatan tujuh belas tahun yang lalu maka mungkin...mungkin mereka sudah tidak ada."

Begitu cepat, gerakan Donghae mencengkram kerah informan itu terjadi begitu cepat tanpa bisa sekertaris Kim cegah. Matanya menatap tajam informan itu karena ketidak percayaanya.

"Apa maksudmu?" Perkataan Donghae terdengar begitu berbahaya.

"Wabah... uhuk. Wabah itu membunuh seluruh pekerja tambang. Tak ada seorang pun di pertambangan yang selamat dari wabah tujuh belas tahun yang lalu."

Donghae membeku.

Cengkramannya mengendur hingga informan itu kembali duduk dengan terbatuk-batuk. Jantung Donghae serasa berhenti mendengarnya. Otaknya tak bisa berfikir apapun. Jiwanya serasa hilang tak bersisa.

"Maafkan aku tuan tapi saya mengatakan yang sebenarnya. Kami tak bisa berbuat apapun untuk itu. Bahkan kami terpaksa mengubur jasad mereka semua secara masal saat itu karena terlalu banyak yang meninggal."

Ya Tuhan.

Tanpa sadar Donghae mundur kebelakang sebagai upaya untuk tetap menompang tubuhnya yang tiba-tiba saya terasa begitu berat. Iris cokelatnya kebingungan melihat sekitar. Ia mulai tak bisa bernafas.

Raga serta pikirannya tak bisa menerima apa yang baru saja ia dengar. Ia tidak mau menerimanya.

Donghae berbalik tak tahu arah meninggalkan ruangan, berjalan sembarangan di lorong tak peduli sekertaris Kim memanggilnya khawatir. Anak ini kebingungan, anak ini putus asa.

Semakin lama terasa semakin sesak, semakin lama sakit di ulu hatinya semakin terasa hingga membuat langkahnya memelan. Di dalam sana, lukanya yang mengaga selama bertahun-tahun seperti di siram air garam.

.

"Apa sakit?"

"Sakit."

"Mau kupeluk lagi?"

"Mau."

.

Perlahan Donghae bersandar pada tembok. Jantungnya terasa dicengkram kuat.

.

"Rumahnya berwarna putih dan punya banyak sekali jendela kaca, jadi kita bisa melihat pantai sepuasnya."

"Rumahnya dekat pantai?"

"Em! Donghae kan suka laut jadi kita tinggal dekat pantai saja."

.

Donghae tak bisa menanggungnya lagi, air matanya mengalir sejurus dengan upayanya untuk bernafas.

.

"Kau tidak boleh pergi. Tidak boleh meninggalkanku sendirian."

"Tentu aku tak akan meninggalkanmu sendirian. Kita akan bersama selamanya."

"Selamanya?"

"Ya, selamanya."

.

Donghae menangis, terisak dengan lukanya yang begitu dalam. Harapan kecil yang ia genggam erat-erat dihatinya kembali direnggut dengan brutal. Jemarinya mencengkram dadanya kuat sebagai usaha terakhirnya untuk tetap tersadar.

"Aku yang bersalah."

Kalimat itu terdengar lirih dan kesakitan.

"Tuan Muda?"

"Semua kesalahanku. Dia tak seharusnya mengalami semua ini."

Satu-satunya alasan Donghae bernafas sampai sekarang. Alasan ia bertahan hingga sejauh ini. Setengah hatinya. Satu-satunya miliknya.

Kini benar-benar mengilang meninggalkan Donghae sendirian.

Sekertaris Kim tak bisa berbuat bayak saat melihat air mata Donghae terus mengalir deras. Sosok didepannya bukanlah seorang Tuan Muda jenius penerima gelar Doktor dengan usia yang begitu muda, yang didepannya sekarang hanyalah seorang anak laki-laki yatim piatu yang kehilangan arah. Perlahan ia memeluk Donghae, menepuk punggung kuat yang sekarang terlihat begitu rapuh.

Selama tujuh belas tahun Donghae menerima hujaman tanpa melawan, bertahan dari segala tekanan, berjalan di atas pecahan kaca tanpa berusaha menghindarinya. Semua akan ia lakukan asalkan sekali lagi, setidaknya sekali saja bisa melihat senyum hangat itu. Sekali lagi mendengar suara menenangkan itu. Sekali lagi bertemu dengan sosoknya yang begitu berharga.

Namun itu hanya harapan. Harapan yang kini justru membunuhnya.

"Hyuk..."

Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah memanggilnya.

"Hyuk.."

Terus memangilnya ditengah tangisannya.

"Hyukkie..."

.

.

.

Hyukjae melihat kehampaan di belakangnya. Ia terdiam sesaat sebelum tersadar bahwa ia secara tak sadar menengok kebelakang. Padahal ia dengan jelas tahu bahwa tidak ada seorang pun yang memanggilnya. Dengan bingung dan heran Hyukjae kembali melanjutkan langkahnya.

Tes.

Hyukjae mendongak. Tetesan air hujan menyentuh wajah pucatnya sebelum berubah menjadi gerimis dan hujan. Dengan satu tangan mencoba menutupi kepalanya dari air hujan Hyukjae berteduh di halte tak jauh darinya. Berdiri memeluk tasnya yang setengah basah.

Ia menghela nafas atas kesialannya hari ini setelah melangkah keluar dari rumah sakit. Ya, Hyukjae memang memutuskan keluar dari sana. Ia tidak akan meneruskannya, untuk apa? Semuanya hanya sia-sia. Dari pada bekerja tanpa guna dan tidak upah dirumah sakit itu, ia lebih memilih mencari informasi tentang panti asuhannya. Ia sempat bertanya pada orang-orang dirumah sakit karena Hyukjae hanya bisa mengingat nama tempatnya tapi tidak letaknya.

Ia masih memiliki sisa uang. Hyukjae berencana pergi ke ketempat panti asuhannya besok, untuk sekarang ia akan mencari penginapan karena hari sudah mulai gelap.

Iris hitam Hyukjae menatap rintik hujan di depannya. Tangan pucatnya terulur, merasakan dinginya air hujan ditelapak tangannya. Hyukjae jadi teringat dulu saat hujan menyapu panti asuhannya udara dingin akan membuat jendela kamar mereka berkabut.

Ia dan Donghae akan duduk di bawah jendela berbagi selimut, mengambar dan menulis hal acak di jendela. Dan saat udara dingin menembus selimut mereka dan membuatanya kedinginan maka Donghae akan memeluknya erat. Membuatnya hangat. Memastikan ia tak kedinginan.

Hyukjae kembali menarik tangannya yang terasa mulai kaku karena rasa dingin. Tapi masih tak sebanding dengan rasa dingin di dadanya, bahkan di udara sepanas apapun hatinya akan selalu terasa begitu dingin selama ini.

Karena Donghae tak pernah lagi memeluknya. Karena Donghae menghilang dari sisinya.

.

.

.

Suara langkah kaki itu mengema di lantai marmer, sekertaris Kim begitu panik saat tak mendapati Tuan Mudanya di kamarnya. Berbagai pikiran buruk mulai menghampirinya kalau saja ia tak menemukan sosok yang ia cari kini ada di depan pintu utama rumah ini dengan memakai mantelnya.

"Tuan Muda? Anda seha-"

"Aku akan keluar sebentar."

"Tapi-"

"Aku tak akan lari. Jadi jangan khawatir."

Sekertaris Kim terdiam. Ia tak melakukan apapun saat perlahan Donghae keluar dari rumah besar itu. Berjalan kaki melewati gerbang lalu pergi seorang diri. Tanpa mobil, tanpa pengawalan. Hanya seorang diri.

Ia tahu bahwa Donghae tak baik-baik saja. Anak itu tengah mengalami bagian terberat dalam hidupnya. Anak itu baru saja kehilangan segalanya, segala yang berharga untuknya. Harapannya. Selama berhari-hari dia hanya diam di kamarnya tak melakukan apapun, tak peduli apapun.

Dan sekarang saat anak itu meminta keluar dengan bola mata sendu itu, Sekertaris Kim tak bisa melakukan apa-apa selain membiarkannya. Sudah cukup rasa sakit yang anak itu rasakan. Sudah cukup penderitaannya selama ini. Jadi biarlah, biarlah ia menjadi dirinya sendiri untuk hari ini.

Donghae berjalan pelan di trotoar. Ia hanya diam menatap segalanya nyalang. Ia menaiki bus, berjalan di bekas perumahan yang begitu akrap di ingatannya. Jalan yang selalu ia lewati bersama Hyukjae saat pergi dan pulang sekolah.

Donghae masih ingat seberapa erat Hyukjae menggenggam tangannya seberapa hangat genggamannya.

Langkah kakinya berhenti. Iris cokelatnya melihat tanah lapang yang begitu luas didepannya. Tak ada lagi bangunan panti asuhannya, tak ada lagi pohon besar di samping panti asuhannya, tak ada lagi hal yang tersisa.

Semuanya telah meninggalkan Donghae sendirian.

.

.

.

Ia tersesat.

Hyukjae sangat yakin ia tersesat. Ia yakin ini bukan jalan yang dulu pernah ia lewati. Ia menemukan bekas sekolahnya yang kini hanya bangunan kosong, tapi ia tak tahu jalan menuju panti asuhannya. Dia lupa karena tempat ini sudah sangat berubah. Hyukjae melihat kanan kiri seperti orang hilang sebelum iris hitamnya menemukan orang tua yang berjalan dari arah berlawanan.

"Ajushi, permisi. Aku ingin bertanya, jika ingin kepanti asuhan harus lewat mana?"

"Panti asuhan? Disini tidak ada panti asuhan."

Senyum Hyukjae memudar. Apa dia jauh tersesat?

"Tapi dulu aku berasal dari panti asuhan itu, aku yakin di sekitar sini."

"Oh maksudmu panti asuhan yang di tutup itu? Astaga nak tempat itu sudah jadi tanah lapang tak ada apa-apa disana."

Hyukjae terdiam. Tak ada apa-apa?

"Atau jangan-jangan kau teman pemuda tadi ya? Kau sedang mencarinya?"

Kepala Hyukjae kembali mendongak melihat orang tua itu. Apa yang orang ini bicarakan?

"Aku tadi lewat sana dan melihat temanmu itu berdiri diam di tanah lapang bekas panti asuhan itu. Astaga temanmu itu aneh sekali karena dia diam saja saat kutanya sedang apa disana, dia baik-baik saja kan?"

Orang Tua itu terkejut saat Hyukjae tiba-tiba saja mencengkram lengannya kuat. Tangan anak itu gemetar dan iris hitamnya mulai mengkabut.

"Di-dimana dia sekarang?"

"Aku tidak tahu."

"Kumohon ingatlah lagi Ajushi. Aku mohon padamu." Nada permohonan itu mengalun, seperti begitu meminta belas kasihannya.

"I-itu. Aku tak tahu dia di mana, tapi kurasa ia pergi kearah kota."

Hyukjae langsung berlari meninggalkan orang itu. Berlari seperti tak ada hari esok menuju kota terdekat. Jantungnya berdetak begitu kencang dan air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Setiap langkah ia memohon. Ia memohon sepenuh hatinya jika orang ini memang dia. Orang ini memang separuh dirinya yang lain. Bahwa orang ini adalah miliknya yang hilang.

Sesampainya di kota Hyukjae kebingungan dengan setengah berlari mencari sekitarnya. Mengamati setiap sudut dengan teliti meski pandangnnya mengabur oleh air mata. Nafasnya terputus-purus tapi Hyukjae bahkan sudah lupa bagaimana bernafas dengan benar. Kakinya terasa nyeri tapi dia tak mau berhenti. Ia tak peduli dengan dirinya saat apa yang ia cari berada begitu dekat dengannya.

Dengan berputar-putar, berjalan kesana kemari Hyukjae tak kenal putus asa. Ia tak akan pernah menyerah saat ini. Dan saat ia ada di tepat sebuah persimpangan jalan, iris hitamnya menangkap sosok yang begitu akrab diingatannya. Sosok yang begitu istimewa bahkan di lautan manusia sekarang.

Air mata Hyukjae semakin deras mengalir. Nyeri dihatinya terasa semakin menyakitkan saat iris hitamnya bisa diberikan kesempatan melihatnya kembali. Hyukjae yakin itu dia. Hyukjae bersumpah ia begitu mengenalnya tak peduli seberapa banyak dia berubah.

Dia ada disebrang jalan. Tak begitu jauh dan berjalan menjauhi Hyukjae, membuat kepanikan melanda Hyukjae tanpa bisa dicegah. Tanpa berfikir Hyukjae menyeberang, ia tak tahu saat ada sebuah sepeda motor mengarah padanya. Tubrukan itu tak terelakan, kedua pihak terjatuh di kerasnya aspal.

Tapi Hyukjae tak peduli.

Ia tak peduli dengan sumpah serapah pengendara motor itu, ia tak peduli pada orang-orang yang mulai mengerumuninya dan menanyakan keadaanya. Ia langsung berdiri dengan kakinya yang terluka. Darah mengalir dari sana karena bergesekan dengan sudut trotoar.

Dengan kaki di seret Hyukjae mulai mencari lagi. Iris hitamnya yang kehilangan sosok itu membuat ketakutannya semakin menjadi.

Tidak. Jangan lagi.

Isakannya terdengar dan saat kakinya yang terluka tak bisa menompaknya lagi ia merosot terduduk di tengan pejalan kaki.

"Hae..." Panggilnya di tengah isakan. Ia melihat sekitar dengan kebingungan.

"Donghae..."

Tak ada yang menjawab.

"Donghae!" Tenggorokannya terasa perih saat dengan sekuat tenaga berteriak. Usaha terakhirnya yang terasa sia-sia.

Sosok itu kembali menghilang. Meninggalkan Hyukjae dengan segala ketakutannya.

Membuat Hyukjae kembali merasa kedinginan. Begitu dingin dan hampa.

Tangisan itu terdengar semakin keras. Rasa sakit di hatinya nyeri bukan main. Bahkan jika ia memangil nama Donghae berkali-kali Hyukjae tahu orang itu tak kembali padanya. Seperti dulu, seperti saat mereka dipisahkan.

Hyukjae tak sadar saat sosok itu berlari menghampirinya. Langkahnya memelan hingga berhenti tepat didepan Hyukjae.

Sepasang sepatu kulit itu tepat ada didepan Hyukjae, membuat laki-laki bersurai hitam legam itu mendongak perlahan. Seketika itu juga tangisnya semakin keras saat melihat bahwa sosok yang dia rindukan ada tepat dihadapannya. Seketika itu juga nyeri dihatinya serasa menusuk hingga ke dalam jiwanya.

Donghae terengah-engah. Iris cokelatnya melihat sosok didepannya dengan tak percaya.

Ya Tuhan. Ini benar-benar Hyukjae. Panggilan tadi bukan halusinasinya saja. Hyukjae benar-benar ada didepannya.

Perlahan Donghae berlutut. Dengan tangan yang bergetar hebat ia menangkup wajah kecil yang begitu ia hafal. Bahkan jika tujuh belas tahun berlalu dan garis-garis kedewasaan ada di paras itu, Donghae masih bisa mengenalinya dengan sangat baik.

"Hae..."

Bahkan suaranya masih bisa menengkan hati Donghae yang rapuh. Air matanya ikut mengalir. Sebelum ia selesai menyakinkan dirinya sendiri bahwa orang ini memang Hyukjae, lengan kurus itu menariknya. Memeluknya begitu erat dengan segala kerinduan dan keputusasaan.

"Donghae."

Donghae membalas pelukannya. Bahkan jika pelukan mereka terasa begitu menyakitkan, Donghae tak ingin melepasnya lagi. Tak akan pernah.

Karena dia adalah miliknya, separuh dirinya, separuh jiwanya. Hyukjaenya yang memiliki separuh hatinya.

Mereka menangis bersama ditengah orang berlalu lalang. Saling mendekap satu sama lain dengan kerapuhan mereka selama ini. Mencoba menyembuhkan kerinduan yang serasa tak terobati selama ini.

Agar semuanya kembali lagi.

Agar hati mereka kembali utuh sepenuhnya.

.

.

.

TBC

Gimana? Lega? Hahahaha ok next last chapter.

Special Thanks: firaamalia25, nanaxxxz, lovehyukkie19, HAEHYUK IS REAL, MingMin, isroie106, elfishy09, Xiao yueliang, Lee Haerieun, elfrida, Wonhaesung Love, KimYeWook411, senavensta, Aaa, eunhaehyuk44, leepolarise, haehyuk, fine, eunhyukie, susan haehyuk, mizukhy yank eny, sweetgalaxy, Jiae-haehyuk, pepepsoy, mimio, Yu N Me, YJHH, F3, Hyunzy Lee1504, Nagyu331, KimziefaELF, MEEN, dnetrash, PrincessDoyoung, ryuga, Yuki, minmi arakida, jewel0404