.

.

.

.

With You

.

.

.

Pair: Haehyuk

Rate: T

Warning: Yaoi/Angst/Romance/ThreeShot

Summary: Hati itu terpecah menjadi dua. Satu di utara dan satu lagi di selatan, namun serpihannya memberikan tanda sebagai jalan untuk bisa kembali utuh.

.

.

.

Ini hampir sore hari dengan langit kekuningan di ufuk barat. Angin sore terasa dingin mengenai kulit karena malam hampir tiba. Suara daun kering yang terinjak sepatu kulitnya adalah satu-satunya hal yang Donghae dengar. Donghae berjalan perlahan menatap jalanan sepi didepannya. Hyukjae ada di gendongannya, bersandar pada punggungnya dengan luka kakinya yang sudah kering.

Hyukjae begitu tenang dan ringan. Bahkan tangan pucat yang melingkar dilehernya tak bergeming sama sekali. Mungkin Donghae akan menyangka ia menggendong sebuah boneka jika saja punggunya tak merasakan tarikan nafas Hyukjae, tak merasakan hembusan nafas Hyukjae dilehernya. Setiap tarikan nafas orang ini merupakan nafas Donghae juga.

Keberadaan orang ini adalah keberadaannya juga.

Seakan-akan Hyukjae berhasil menghidupkan Donghae yang telah lama mati. Seakan-akan Hyukjae berhasil membangunkan jantung Donghae yang membeku untuk kembali berdetak. Hanya Hyukjae yang Donghae butuhkan, itu saja.

Hyukjae menyandarkan kepalanya di pundak Donghae, menutup matanya merasakan hangat tubuh yang begitu menenangkan jiwanya. Tiba-tiba saja ia merasa begitu kelelahan. Tubuhnya begitu lemas dan tak ingin bergerak. Seakan-akan ia telah berjalan tanpa henti selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menemukan tempatnya bersandar. Seluruh kecemasan dan ketakutannya menghilang hingga menyisakan tubuhnya yang rapuh dan lemah.

Bibir pucat itu tertarik membentuk senyum yang hampir tak ketara. Air matanya meleleh ditengah kelopak matanya yang tertutup. Ulu hatinya masih terasa perih, tapi Hyukjae tak membencinya. Sama sekali tidak.

Karena akhirnya ia kembali menemukan apa yang hilang dari dirinya.

Miliknya.

Setengah hatinya.

.

.

.

Laki-laki muda itu berjalan memasuki ruangan atasannya dengan wajah tanpa emosi. Laki-laki itu menunduk sopan pada Tuan Lee yang duduk melihat kertas-kertas dokumen.

"Mereka menyetujuinya?"

"Maafkan saya, Tuan. Mereka meminta perbaikan proposal yang kita ajukan kembali. Tapi mereka mengatakan sangat tertarik dengan penawaran kita."Jelas perkataan Sekretarisnya bukanlah apa yang ingin Tuan Lee dengar.

"Apa lagi yang mereka inginkan?"

"Karena ini merupakan sebuah proyek terbesar perusahaan mereka maka mereka tidak ingin mengambil resiko. Mereka ingin gambaran yang rinci serta transparan. Mereka ingin memastikan bahwa kita tak akan merugikan mereka."

Tuan Lee mengernyit heran mendengarnya. Apa rekan bisnisnya itu tak melihat title perusaahannya yang sudah memiliki nama besar? Hingga sebuah kesepakan membutuhkan waktu yang begitu lama disetujui oleh mereka.

Memang ia akui proyek ini bukanlah proyek sembarangan, tapi waktu yang telah terbuang sia-sia benar-benar membuat Tuan Lee mulai muak. Bahkan ia rela begitu lama meninggalkan negaranya hanya untuk menyelesaikan masalah ini.

"Turuti mau mereka dan pastikan ini yang terakhir. Aku ingin masalah ini selesai secepatnya dan kita bisa kembali sesegera mungkin!"

"Baik Tuan."

Tuan Lee bersandar pada sandaran kursinya setelah sebelumnya melemparkan berkas ditangannya begitu saja. Ia mememjamkan matanya sejenak, mengotrol emosinya kembali normal sebelum kembali melihat sekretarisnya yang masih setia berdiri menunduk didepannya.

"Bagaimana putraku?" Kali ini nada itu terdengar lebih tenang.

"Tuan muda menjalankan jadwal hariannya seperti biasa, laporan yang saya dapatkan Tuan Muda sudah menyelesaikan produksi awal sesuai dengan jadwal yang ditentukan rekan bisnis kita, Tuan."

Laki-laki paruh baya itu mengangguk pelan. Anak angkatnya tak macam-macam, menurut dan menjalakan tugasnya dengan baik seperti seharusnya. Tidak ada yang salah.

Tuan Lee kembali terdiam. Ia adalah laki-laki yang selalu mengandalkan firasat dan intuisinya selama ini. Ia bukanlah seseorang yanga akan langsung percaya dengan apa yang terlihat dimatanya. Segalanya memang berjalan dengan sangat baik dan tak ada masalah yang serius.

Tapi kenapa? Kenapa firasatnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah disini?

.

.

.

Donghae membuka matanya yang terasa berat, tubuhnya menolak bangun bertentangan dengan pikirannya yang mulai tersadar. Ia mengerjap mencoba membiasakan matanya yang terasa kabur sebelum pandangan sisi ranjangnya yang kosong terlihat jelas.

Tunggu, kosong?!

Donghae langsung bangun terduduk. Kantuknya menghilang seketika dan kesadarannya langsung pulih seratus persen. Ia kembali melihat sisi ranjanganya yang lain, kosong. Lalu iris cokelatnya mengedar keseluruh ruangan kamarnya, tak ada orang lain.

Dimana Hyukjae?

Ia mulai panik. Seingatnya Hyukjae ada disisinya, kenapa sekarang tiba-tiba saja menghilang? Apakah semuanya hanya mimpi? Apa Hyukjae hanya halusinasinya semata?

Segala pikiran buruk Donghae terpotong saat pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan sosok Hyukjae yang berjalan terpincang dari sana. Sebagian rambutnya basah karena habis mencuci muka dan luka kakinya terlihat sudah terperban begitu rapi.

Hyukjae langsung terdiam saat melihat Donghae yang juga diam melihat kearahnya. Keduanya mematung dengan iris mata yang saling bertubrukan. Reflek, mereka saling menghindar dari tatapan iris mata didepannya. Menekan detak jantung mereka yang serasa akan keluar dari tempatnya. Mengunci mulut mereka.

Kecemasan begitu terlihat ditingkah laku keduanya. Bahkan mereka begitu kaget saat tiba-tiba saja Sekretaris Kim mengetuk pintu kamar itu.

"Tuan Muda, anda sudah bangun?" Donghae berdehem sejenak membersihkan tenggorokannya yang terasa kering sebelum menjawab.

"Y-ya, masuklah."

Sekertaris Kim memasuki ruangan, mengernyit heran saat melihat keanehan suasana di kamar itu.

"Sarapan sudah siap Tuan."

"Ya, kami akan segera turun." Mendengarnya Sekertaris Kim menunduk sopan pada Donghae sebelum menghadap Hyukjae dan menunduk sopan padanya juga, dengan begitu kaku Hyukjae balas membungkuk.

Sepeninggalan Sekeretaris Kim keduanya kembali tak tahu harus bagaimana. Hyukjae sudah membuka mulutnya akan mengatakan sesuatu namun urung dan bibirnya kembali terkunci rapat. Akhirnya ia memutuskan keluar dari kamar itu meninggalkan Donghae tanpa kata-kata.

Donghae hanya bisa melihatnya tanpa bisa melakukan apapun. Sungguh, melihat Hyukjae berjalan terpincang seperti itu ingin sekali ia menawarkan bantuan atau setidaknya menanyakan keadaanya. Tapi tubuhnya tak mau beranjak. Seakan tubuhnya dipaku permanen di tempat tidur dan mulutnya dijahit rapat hingga tak bisa berkata apapun. Bahkan iris cokelatnya hanya bisa melihat kepergian Hyukjae dengan tak rela.

Kembali merebahkan tubuhnya dikasur, dengan kasar Donghae mengacak-acak rambutnya sendiri.

Bodoh!

Dia benar-benar bodoh!

Donghae sama sekali tak mengira, benar-benar tak mengira bahwa tujuh belas tahun cukup membuat mereka kehabisan kata-kata untuk satu sama lain. Tujuh belas tahun mampu membangun kecanggungan luar biasa yang mereka rasakan. Ini tak pernah terpikirkan olehnya.

Kemarin mereka memang tak sempat saling bicara. Hyukjae tertidur di gendongannya dan Donghae memutuskan mengurus luka Hyukjae tanpa berusaha untuk membangunkannya. Bahkan semalam mereka tidur di ranjang yang sama. Menangis bersama. Semua rasa rindu dan getaran didada mereka membuat mereka buta akan segalanya.

Saat itu yang penting bagi Donghae adalah Hyukjae ada dihadapannya. Hyukjae yang hidup dan bernafas. Hyukjae kembali bersamanya. Tidak ada yang lain.

Dan sekarang saat realitas serta akal sehatnya kembali, segalanya jadi terasa aneh. Canggung tak tertolong. Bahkan untuk menatap mata satu-sama lain saja terasa begitu berat. Malu, haru, ketidak percayaan, serta asing disaat bersamaan. Semua rasa itu bercampur aduk jadi satu hingga memunculkan hal yang disebut ketidak berdayaan. Ya Tuhan, tolonglah dirinya.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Merasa percumah dengan berdiam diri di kamar Donghae memutuskan untuk membersihkan dirinya. Dan meski batinya bergejolak begitu hebat ia tetap memutuskan untuk keluar dari kamarnya setelah itu.

Saat sampai di ruang makan iris cokelatnya secara alami menemukan Hyukjae duduk di salah satu kursi di sana, tampak tak nyaman saat seorang pelayan mencoba melayaninya. Tak membutuhkan waktu lama untuk Hyukjae menyadari kehadirannya. Melihatnya sejenak sebelum menunduk menghindari tatapannya. Sepertinya bukan hanya dia yang merasakan suasana aneh ditempat ini. Donghae akhirnya memutuskan duduk tepat di depan Hyukjae.

Mereka mulai memakan sarapan mereka tanpa mengatakan sepatah katapun satu sama lain. Suasana pagi yang benar-benar sunyi. Sulit dipercaya jika dulu kedua orang ini hampir selalu melakukan segala hal berdua, selalu bersama tak peduli apapun yang terjadi.

Iris cokelat Donghae perlahan melihat Hyukjae didepannya. Laki-laki itu memakan supnya dengan perlahan, semua gerakannya hampir tak bersuara. Begitu berbeda dengan Hyukjae kecil yang akan terus mengajak Donghae bicara meski dengan mulut penuh nasi sekalipun. Hyukjae yang ini benar-benar tenang.

Tubuhnya kurus dengan kulit pucat yang sangat kontras dengan rambut hitamnya. Tinggi badannya mungkin hampir sama dengan Donghae. Meski lebih tua beberapa bulan darinya tapi Hyukjae terlihat lebih muda dari usianya.

Selama ini diingatan Donghae hanya ada Hyukjae berumur sepuluh tahun yang selalu tersenyum padanya. Dengan tubuh kecil namun begitu hangat jika Donghae memeluknya dulu. Dengan senyuman yang begitu lebar dan menenangkan hati Donghae. Sedang Hyukjae dihadapannya ini begitu baru untuknya. Hyukjae yang dimakan oleh waktu. Hyukjae yang kini telah dewasa.

Sarapan itu selesai masih dengan keduanya yang tak saling berbicara. Bahkan seharian itu keduanya saling menghindar. Bahkan apabila mereka tak sengaja berhadapan mereka akan berjalan pergi seperti orang asing. Tak peduli jika rasa rindu itu mengrogoti hati mereka. Tak peduli dengan jantung mereka yang berdetak sangat keras.

Hingga hari berikutnya tak ada yang berubah. Mereka hanya berani berhadapan saat dimeja makan, dimana ada pelayan diantara mereka.

"Anda masih tak mau bicara padanya?" Suara itu begitu mengagetkan Donghae yang sibuk melihat Hyukjae dari kejauhan. Dilihatnya Sekertaris Kim yang sudah ada di sebelahnya.

"Jangan muncul tiba-tiba seperti itu!"

Sekertaris Kim tak menyahut, ia ikut melihat Hyukjae yang duduk di teras belakang. Orang itu tengah mengganti perban lukanya dengan hati-hati dan cermat. Sebenarnya Sekertaris Kim sudah menawarkan akan memanggilkan dokter untuk menganti perbannnya, namun Hyukjae menolak dan mengatakan dia tahu bagaimana mengurus lukannya dengan baik karena dia juga bekerja dirumah sakit.

"Anda masih tak mau bicara padanya?" Sekertaris Kim mengulang pertanyaannya, membuat Donghae terdiam sebelum kembali melihat Hyukjae. Ia menghela nafas sejenak.

"Aku bukannya tak mau bicara padanya, hanya saja ..." Donghae terdiam sejenak membuat sekertaris Kim melihat kearahnnya.

"Hanya saja aku tak tahu bagaimana bicara padanya."

Donghae tak tahu bagaimana memulainya. Donghae tak tahu apa yang harus ia katakan pertama kali pada Hyukjae sedang hanya melihat iris hitam itu saja dadanya sudah terasa begitu sesak, lidahnya kelu seketika. Tujuh belas tahun cukup untuk menguras keberaniannya menghadapi Hyukjae.

"Tuan Muda."

"Ya?"

"Anda ternyata bodoh ya."

Hah?

"Kurasa universitas melakukan kesalahan dengan membiarkan anda mendapat gelar doktor terlalu dini."

Donghae mengernyit melihat Sekertaris Kim. Telingannya yang bermasalah atau orang tua ini memang sedang menghinanya?

Belum sempat Donghae membalas Sekertaris Kim sudah pergi meninggalkannya begitu saja. Orang itu berjalan ke dapur mengambil pisau kecil dari seorang pelayan yang sedang mengupas buah tanpa kata-kata sebelum kembali mendekati Tuan Mudanya yang masih berdiri melihat Hyukjae. Tanpa aba-aba Sekertaris Kim menarik tangan Donghae.

Srat.

"Aah!" Reflek Donghae berteriak saat dengan begitu tega bawahannya itu menyayat dua jarinya dengan pisau. Darah segar mengalir dari sana. Matanya melotot pada bawahannya itu tak percaya.

"Apa yang-" Perkataan Donghae terpotong saat Sekertaris Kim memberikan pisau ditangannya ke tangan Donghae yang tak terluka.

"Anda seharusnya lebih hati-hati saat memakai pisau, Tuan." Ucap orang tua ini tanpa dosa, menepuk pundak Donghae sebelum pergi meninggalkannya begitu saja.

Donghae sudah akan berteriak marah kalau saja tidak ada sebuah tangan dingin yang menarik tangannya yang terluka. Ia menengok hanya untuk menemukan Hyukjae sudah ada dihadapannya memeriksa lukannya.

Dan Donghae baru mengerti alasan tindakan Sekertaris Kim saat sudah duduk berhadapan dengan Hyukjae di teras belakang. Hyukjae terlihat begitu fokus pada luka dijarinya. Dengan begitu hati-hati membersihkannya sebelum memberinya antiseptik dengan perlahan, memastikan Donghae tak kesakitan.

Sebagian tubuhnya ingin sekali lari dari sana tapi sebagian yang lain ingin tetap tinggal. Batin Donghae bergejolak. Dan kenapa wangi tubuh orang ini membuatnya pusing? Donghae mengumpat dalam hati.

Ia kembali mengamati Hyukjae. Jika dilihat dari dekat garis kedewasaan Hyukjae memang terlihat jelas. Membuat Donghae tersadar akan perbedaan yang begitu jauh dari Hyukjae yang ia ingat. Hyukjae tujuh belas tahun yang lalu.

Entah apa yang sudah dialami orang ini. Entah apa yang harus dijalani orang ini selama ini.

"Saya bisa pastikan jika saat itu kebanyakan anak-anak akan dibawa ke pertambangan. Mereka diperkerjakan sebagai buruh untuk timbal balik makanan yang mereka dapat setiap hari. Tapi tepat tujuh belas tahun yang lalu juga terjadi wabah besar di pertambangan."

Perkataan petugas perbatasan itu kembali terngiang di kepala Donghae. Tanganya reflek menarik tangan pucat Hyukjae saat orang ini selesai memberikan plester pada lukanya. Mempertemukan iris mereka.

Didalam bola mata keduanya terlihat luka yang sama, rindu yang sama, kasih sayang yang sama.

"Hyuk."

Bahkan panggilan yang dengan susah payah keluar itu membuat hati mereka terasa begitu ngilu. Selama ini, selama bertahun-tahun Donghae selalu membanyangkan hal ini. Selalu membayangkan kembali melihat Hyukjae. Kembali menyentuh Hyukjae. Kembali melihat iris hitam yang begitu pekat itu. Berhadapan seperti ini.

Banyak hal yang ingin ia katakan. Banyak hal yang ingin ia ceritakan. Dan dari semua hal yang ingin membludak keluar dari mulutnya, hanya satu hal yang benar-benar ingin ia sampaikan pada orang ini. Hanya satu hal sebagai bentuk segala penyesalannya.

"Maaf."

Penyesalannya untuk seluruh penderitaan Hyukjae karena dirinya. Untuk segala kesakitan yang Hyukjae rasakan selama Donghae tak bisa disisinya. Untuk meninggalkan orang ini dibelakang.

"Maafkan aku."

.

.

.

"Selama ini aku sudah mencurigai hal ini, Hyung. Laboratorium itu tak terdaftar tapi aku melihat beberapa anak buah pejabat keluar masuk ditempat i, dan ternyata benar. Mereka mengembangkan hal berbahaya disana."

Dahi Donghae mengernyit melihat Kyuhyun di layar laptopnya. Mereka sedang melakukan videocall karena Kyuhyun menemukan informasi penting untuknya.

"Hal berbahaya apa yang kau maksud?"

"Penyakit. Mereka menciptakan penyakit Hyung."

"Apa?"

"Awalnya aku juga tak percaya Hyung, tapi mereka memberikan faksin kesalah satu orang selatan dan dalam sekejab terjadi wabah disana."

Wabah?

Donghae terdiam. Dengan cepat tangannya membuka berkas-berkas informasi tujuh belas tahun yang lalu dimeja kerjanya, mengabaikan Kyuhyun yang memanggil-manggilnya. Ia membaca dengan cermat artikel usang ditangannya.

"Hyung?"

"Kyuhyun kau tahu tujuh belas tahun yang lalu pernah terjadi wabah besar dipertambangan?"

"Mwo?"

"Cari tahu mengenai kasus wabah itu. Cari tahu apakah ada kesamaan antara wabah yang terjadi tujuh belas tahun lalu dengan yang baru-baru ini terjadi."

Kyuhyun yang mulai mengerti jalan pikiran Donghae segera mengangguk mengiyakan lalu memutus saluran videocall mereka. Donghae bersandar pada kursi kerjanya. Jika dugaannya benar maka hal ini bisa menjadi kasus besar yang melibatkan pemerintah mereka.

Ponsel hitam itu berbunyi, terlihat nama Yesung mengala membuat Donghae langsung mengangkatnya. Panggilan Yesung berarti berhubungan dengan ayah angkatnya.

"Ne Hyung?"

"Kontraknya sudah disetujui." Donghae langsung memijat keningnya saat mendengar kabar buruk itu.

"Bukankah kau akan mengulur waktu selama mungkin?"

"Menahan dan mengelabuhi ayah angkatmu selama sebulan lebih sudah merupakan keajaiban, Donghae."

Donghae menghela nafas, Yesung benar.

"Maafkan aku Donghae, tapi jika kuulur waktu lebih lama lagi ayahmu akan curiga. Orang itu tahu benar bagaimana berbisnis dan mustahil untuk menolak tawarannya."

"Berapa lama lagi waktu yang tersisa?"

"Kemungkinan besar lusa ayahmu sudah akan sampai di kota utama."

Satu hari, Donghae hanya memiliki waktu sehari ditempat ini.

Setelah mengatakan beberapa hal pada Yesung, Donghae menutup telephonenya. Semuanya semakin runyam. Semuanya membutuhkan waktu lebih lama dari yang Donghae duga sedangkan ayah angkatnya cepat atau lambat pasti ingin melihatnya.

Donghae semakin dalam bersandar pada kursi kerjanya sebelum menutup matanya karena pening yang menyerang kepalanya.

.

.

.

"Masih tak bisa dihubungi?" Tuan Lee melihat Sekertarisnya.

"Maafkan saya Tuan tapi sepertinya Tuan Muda begitu sibuk akhir minggu ini."

Ini tidak biasa.

"Hubungi Sekertaris Kim!"

"Sudah Tuan, tapi Sekertaris Kim mengatakan bahwa Tuan Muda memang tak bisa diganggu akhir-akhir ini."

Ada yang salah. Sudah pasti ada yang salah.

"Majukan tanggal kepulanganku."

"Baik Tuan. Dan ada satu hal lagi Tuan."

"Apa?"

"Sekertaris Presiden mengatakan agar Tuan menghubungi President segera. Ini tentang masalah pembersihan kota selatan."

Tuan Lee terdiam.

"Sambungkan aku segera, sekarang!"

"Baik Tuan."

.

.

.

Seperti hari-hari sebelumnya. Makan malam mereka begitu sunyi. Tak ada yang bicara, tak ada yang berani membuat suara sedikit saja. Hyukjae memang tak pernah bicara pada Donghae. Bahkan setelah Donghae mulai berani mengatakan sesuatu padanya, Hyukjae hanya akan memandangnya dengan iris hitamnnya yang begitu kelam lengkap dengan kediamannya. Melihatnya dengan sejuta arti yang Donghae tak mengerti sekarang.

Mungkin Hyukjae membencinya sekarang.

Atau mungkin Hyukjae iba padanya. Donghae tak tahu.

"Hyuk."

Seperti dugaannya Hyukjae hanya akan melihat kearahnya tanpa menyahut. Menunggunya berbicara.

"Setelah ini datanglah ke ruang kerjaku. Ada temanku dari utara yang ingin berbicara padamu mengenai wabah ditambang tujuh belas tahun lalu, sekertaris Kim akan meyambungkan kalian lewat videocall."

Melihat Hyukjae yang mengernyit buru-buru Donghae menambahkan.

"Dia tak akan bertanya macam-macam. Ha-hanya tentang wabah."

Anggukan kecil itu membuat Donghae bernafas lega. Donghae juga tak tahu kenapa, tapi ia selalu takut membuat Hyukjae tak nyaman. Ia selalu takut jika ia salah bicara dan membuat Hyukjae semakin membencinya.

Tangan Donghae mencengkram sendoknya erat. Ia tak ingin mengatakan ini tapi keadaan mengharuskannya. Kembali menatap Hyukjae yang melahap makananya perlahan, Donghae memantapkan hatinya.

"Besok aku harus kembali ke utara."

Sendok Hyukjae berhenti diudara. Iris hitam itu kembali bertemu dengan iris cokelat Donghae.

"Banyak hal yang harus kuselesaikan disana. Sementara itu tetaplah disini, bibi pelayan akan menemanimu selama aku di utara."

Hyukjae termanggu. Membeku.

Bahkan ia masih diam saat Donghae menunduk memutus pandangan mereka. Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka hingga makan malam mereka selesai. Saat Donghae keruang kerjanya dia tak mendapati Hyukjae disana. Sekertaris Kim mengatakan jika Hyukjae sudah kembali kekamarnya setelah berbicara dengan Kyuhyun.

Hyukjae kembali menghindarinya. Tapi Donghae tak bisa berbuat apa-apa.

Saat Sekertaris Kim meninggalkannya sendiri diruang kerja ia memutuskan untuk kembali mempelajari semua berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Ia harus kembali ke utara besok dan benyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan untuk berhadapan dengan ayah angkatnya.

Donghae sama sekali tak tahu saat malam semakin larut, di balik pintu kayu ruang kerjanya berdiri Hyukjae disana. Hyukjae menatap pintu kayu itu dengan tangan pucatnya yang perlahan terulur. Ingin mengetuk namun urung pada akhirnya. Ia kembali menarik tangannya. Menunduk dengan dadanya yang terasa sesak. Perlahan ia berjalan meninggalkan tempat itu.

Mengubur kata-katanya. Menghapus ucapannya.

.

.

.

Dengan cekatan karena sudah terbiasa Donghae mengikat dasinya hingga tersipul begitu rapi di lehernya. Ia segara memakai jas biru tuanya, mengkancingkannya rapi membuat tampilan Tuan Mudanya terlihat sempurna.

Sekertaris Kim datang tak lama setelah itu, mengatakan padanya bahwa mobilnya sudah siap. Mereka segera berjalan menuju pintu utama rumah itu. Langkah Donghae memelan saat tak hanya menemukan bibi pelayannya yang berdiri di depan pintu besar itu.

Ada Hyukjae disana.

Berdiri diam dan menatapnya. Membuat dada Donghae terasa nyeri. Membuatnya sulit bernafas.

Donghae segera mengalihkan pandangannya pada bibi pelayan disampingnya. Dengan sopan menunduk pada wanita paruh baya itu.

"Tolong jaga dia."

Ia melangkah keluar setelah mengucapkannya. Melewati Hyukjae begitu saja. Tak mengucapkan sepatah katapun untuknya.

Tak melihatnya barang sekejap.

Suara Hyukjae tersendat di tenggorokannya saat melihat Donghae masuk kedalam mobil dan pintunya ditutup rapat. Menelan sosok Donghae. Menghilang dari pandangannya, membangun ketakutannya.

Dia bahkan tak sadar saat kedua kakinya mulai melangkah tepat saat mobil itu melaju menjauh darinya.

Mengejarnya.

Donghae duduk dengan tenang meski batinya berteriak. Ia tak berani menengok kebelakang. Melihat Hyukjae saat ini hanya akan menyiksanya dan meruntuhkan tekatnya kembali ke utara. Ia akan melihat hal-hal di luar jendela namun iris cokelatnya sudah terlebih dahulu menangkap bayangan di kaca spion mobil yang ditumpanginya. Matanya terbelalak.

"Berhenti! Kubilang berhenti!"

Teriakan itu mengejutkan orang-orang dimobil itu. Donghae hampir melompat keluar saat mobil yang ditumpanginya akhirnya berhenti. Ia berlari pada Hyukjae yang kini rubuh diaspal karena mengejarnya.

"Hyuk, apa yang kau lakukan!" Donghae begitu panik saat menangkap tubuh Hyukjae yang terduduk tak berdaya, terlihat darah mulai merembes di luka kakinya yang terperban.

Tangan pucat itu mencengkram lengan Donghae begitu kuat.

"Jangan pergi."

Air mata itu mulai mengalir di iris hitam Hyukjae.

"Jangan tinggalkan aku."

Ia menangis, terisak dengan sorot mata yang penuh akan ketakutan.

"Kumohon... jangan tinggalkan aku."

Cengkraman itu semakin erat. Seakan-akan jika lepas sedikit saja maka Donghae akan menghilang dari hadapannya.

"Ini menakutkan, Donghae. Mereka akan membawamu pergi. Mereka akan mengambilmu..."

Hyukjae menggelengkan kepalanya dengan tangisannya yang semakin keras. Selama ini ia bisa menghadapi apapun, bisa menahan rasa sakit apapun. Tapi tidak dengan kehilangan Donghae.

Donghae adalah alasannya bertahan, alasannya hidup. Jiwanya. Nafasnya.

Dan jika Donghae kembali diambil darinya maka itu sama saja dengan membunuhnya tanpa belas kasihan.

"Jangan lakukan ini padaku, Kumohon ja-"

Hyukjae tidak diberi kesempatan untuk kembali bicara saat tiba-tiba saja Donghae mengangkat wajahnya, mempertemukan bibir mereka untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Hyukjae terkejut, namun saat merasakan bibir Donghae yang bergerak menekan miliknya dan lengan yang kini merengkuhnya kuat, perlahan matanya tertutup membuat air matanya mengalir. Membalasnya.

Ciuman itu begitu dalam. Bukan karena mereka menginginkannya namun karena mereka membutuhkannya. Mebutuhkannya untuk menyalurkan seluruh kerinduan mereka. Menyalurkan keputusasaan mereka akan kehadiran satu sama lain. Menyampaikan semua yang mereka rasakan.

Cinta mereka.

Ketakutan mereka.

Bahkan saat bibir mereka terlepas, sesak itu masih terasa mencengkram dada mereka.

Donghae menyatukan kening mereka, mempertemukan iris keduanya dengan jarak yang begitu dekat. Membuatnya dapat melihat dengan jelas dibola mata hitam itu akan ketakutan Hyukjae. Kesakitan Hyukjae.

Membuatnya tersadar bahwa didalam sana Hyukjaenya masih sama. Tak ada yang berubah meski tujuh belas tahun telah berlalu. Masih Hyukjae yang begitu membutuhkannya sebagaimana ia membutuhkan Hyukjae.

"Hae..."Bahkan panggilan itu terasa perih hingga kehulu hati.

Dia tak pernah ingin meninggalkan Hyukjae, tak pernah ingin melihat kesedihan di iris hitam ini. Namun Donghae perlu melepas seluruh rantai yang membelenggunya selama ini. Perlu memastikan tak akan ada yang menyentuh Hyukjae dan membuatnya terluka.

Tangan hangatnya mengusap air mata Hyukjae yang tak henti mengalir. Mengusap lembut pipi pucat itu dengan sepenuh hatinya.

"Bertahanlah sebentar lagi."

Donghae mengeratkan pelukannya.

"Bertahanlah sedikit lagi maka semuanya akan baik-baik saja."

Hyukjae mencengkram jas biru Donghae dengan tanganya yang gemetar.

"Kelak, tak ada yang perlu kau takutkan lagi."

Ciuman itu terasa lembut menyapa kening Hyukjae, membuatnya memejamkan mata menyesapi kehangatan yang Donghae bagi dengannya.

"Aku berjanji padamu."

.

.

.

Semua pegawai itu langsung menunduk sopan saat Tuan Besar mereka berjalan melewati mereka. Ia menaiki lif khusus untuk para dewan tinggi perusahaan langsung menuju lantai tempat dimana kantor CEO itu berada.

Kehadirannya begitu mengejutkan sekertaris wanita didepan ruangan anak angkatnya. Dengan tangan gemetar wanita cantik itu akan mengangkat telephonenya memberitahu orang didalam kantor atasannya namun Tuan Lee beserta bawahannya keburu masuk kedalam tanpa bisa dicegah. Mengejutkan orang di dalam kantor CEO itu.

Dahi Tuan Lee mengernyit. Di ruangan itu, tepat di kursi dan meja kerja itu terlihat begitu bertumpuk pekerjaan.

Ada Donghae disana.

Sedang membaca beberapa dokumen.

Donghae langsung berdiri dan membungkuk sopan pada ayah angkatnya. Melihat anak angkatnya yang ternyata tetap di tempatnya membuat Tuan Lee mulai melupakan kecemasannya. Dengan kharismanya yang tak mampu orang lain lawan laki-laki paruh baya itu duduk di kepala sofa di ruang kerja putrannya.

"Kudengar kau sangat sibuk?"

"Ya, terjadi sedikit masalah saat proses produksi serta kerja sama dengan luar negeri. Tapi semua sudah diatasi."

Tuan Lee mengangguk sekilas.

"Jangan sampai aku mendengar kegagalan dan membuatku kecewa, kau mengarti?"

Tangan Donghae mengepal.

"Ya, saya mengerti."

"Kalu begitu katakan pada seluruh dewan untuk datang ke ruang rapat siang nanti. Kita semua akan meninjau hasil kerjamu selama ini."

Dengan itu Tuan Lee beranjak dari duduknya sebelum berjalan keluar dari ruangan Donghae. Tak meminta persetujuan Donghae. Kata-katanya selalu berupa perintah. Ia tak tahu tepat saat pintu ruangan Donghae menutup menelan sosoknya, anak angkatnya itu menghela nafas karena lega.

Jika diperhatikan terlihat bulir keringat dipelipis Donghae dan nafasnya sesekali terengah. Ia melirik kesampinya dimana terlihat Siwon keluar dari sekat pemisah disudut ruangannya.

"Tadi hampir saja, Donghae." Siwon menepuk pundak Donghae. Ia tahu temannya ini belum pulih dari adrenalin.

Kabar yang ia terima dari salah satu anak buahnya perihal dimajukannya jadwal pulang ayah angkatnya membuat Donghae harus berlarian dari basement. Meninggalkan Sekertaris Kim di belakang demi mendahului ayah angkatnya yang sudah menaiki lif. Mengejutkan Siwon yang sedang bertugas mengantikannya tepat detik-detik sebelum ayah angkatnya sampai diruangannya.

Terlambat sedikit saja, semuanya akan runyam.

"Pertemuan PBB sudah pasti akan dilakukan pekan depan. Kyuhyun juga mengatakan jika ia sudah menemukan saksi yang cukup. Kalau perkiraan kita tepat maka semuanya bisa menjadi bukti yang kuat, Donghae."

Iris cokelat itu turun melihat plester yang membalut dua jarinya. Sebelum tangannya mengepal dan mendongak menatap Siwon dengan keyakinannya.

"Kalau begitu siapkan semuanya."

Siwon mengangguk ringan sebelum keluar dari ruangannya, meninggalkan Donghae dengan kediamannya yang tak terduga.

Ia akan melakukannya. Tak peduli seberapa besar resiko yang harus ia tanggung. Karena ini adalah satu-satunya kesempatan.

.

.

.

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tengah dibuka di Kota utara sebagai kota utama. Konferensi ini akan membicarakan masalah yang terjadi didunia. Seluruh perwakilan negara terlihat keluar dari mobil dinas yang sudah dipersiapkan. Puluhan negara berkumpul menjadi satu di negara ini.

Semua berkumpul di gedung parlemen yang begitu megah itu. Sambutan dari presiden negara ini menjadi pembuka rapat utama konferensi tersebut. Semua negara mengajukan pendapat, semua negara mengajukan problema.

Mobil-mobil hitam itu berhenti tepat didepan gedung parlemen tersebut sebelum beberapa orang berjas hitam keluar dari sana membawa kota-kotak biru ditangan mereka. Para petugas keamanan tak melarang mereka masuk namun justru menunduk hormat saat Choi Siwon selaku anak jenderal mereka yang memimpin orang-orang itu.

Bahkan saat orang-orang itu masuk ke gedung parlemen dan menghentikan konferensi, tak ada yang bisa menghentikannya. Sang Presiden kebingungan begitu pula dengan para perserta konferensi. Siwon menglihat sekitar sebelum bergeser dan terlihat Donghae, Kyuhyun dan Yesung dibelakangnya.

Semua orang saling melihat tak mengerti dengan kedatangan para anak muda ini. Kyuhyun memberikan isyarat kepada salah satu anak buahnya, tak lama kemudian terlihat sebuah tayangan dilayar besar di ruangan itu.

Disana terlihat sebuah kota yang beigitu kumuh. Cerminan kemiskinan, cerminan kebiadaban. Kota mati negara ini. Kota yang diisolasi.

"Ini adalah kota selatan. Tempat dimana banyak orang disisihkan. Tempat yang disamakan seperti tempat sampah tak peduli banyak manusia yang hidup disana." Donghae berkata dengan lantang.

"Pemerintah ini tak peduli pada mereka. Tak peduli dengan hidup orang-orang ini dan malah mencoba meleyapkannya."

"Apa maksudmu! Usir mereka keluar!" Presiden itu berteriak namun tak ada satupun yang beranjak. Ia tak tahu bahwa sistem keamanan ditempat ini sudah disabotase.

"Selama ini pemerintah menyakinkan kita bahwa orang-orang selatan adalah orang-orang berbahaya. Membohongi kita semua hanya demi menyingkirkan yang menurut mereka lemah dan tak berguna. Mereka mengambil keuntungan dari semua itu. Penyelewengan dana yang harusnya milik para penghuni selatan, kasus pembajakan yang disengaja, dan penyebaran wabah buatan untuk membunuh para penghuni kota selatan."

Orang-orang berjas itu menaruh kota-kota biru yang berisi segala bukti kuat akan apa yang dikatakan Donghae.

"Dan pelaku semua penyelewengan, pefitnahan dan pembunuhan ini adalah pemerintahan ini sendiri."

Itu saja, dan seluruh keributan terjadi. Bagimana para peserta yang mulai bersautan berbicaara. Berteriak menyalahkan. Presiden negara ini yang pucat pasi dan tak bisa berbicara akan semua tuduhan.

Tuduhan akan kebiadaban negara ini.

.

.

.

PRANG!

Seluruh barang-barang diatas meja itu berceceran diatas lantai. Tuan Lee terlihat terengah karena kemarahannya. Presiden telah ditangkap dan PBB tengah melakukan penyelidikan besar-besaran. Mereka tak bisa berkutik karena seluruh dunia tengah menyorot kasus ini. Segalanya hancur dan cepat atau lambat ia juga akan ditangkap.

Pintu ruang kerjanya terbuka menampilkan sosok anak angkatnya disana. Tanpa bisa dicegah Tuan Lee mendekat pada putranya, mencengkram kerah Donghae sebelum memukulnya membuat anak angkatnya itu tersungkur dilantai.

"Brengsek! Anak tak tahu diri! Tak tahu terimah kasih!"

Donghae mengusap darah disudut bibirnya yang sobek.

"Dimana otakmu! Aku ini ayahmu! Berani-beraninya kau melakukan hal ini pada ayahmu sendiri!"

Kembali berdiri tegak, iris cokelat itu menatap tajam ayah angkatnya.

"Aku tak peduli."

Tuan Lee menatap putra angkatnya tak percaya.

"Apa-Kau! Anak tak tahu diri!"

Satu lagi pukulan akan dilayangkannya pada Donghae namun ia kalah cepat dengan tangan kuat yang mencekal lengannya diudara. Putranya yang begitu menurut ini seharusnya akan diam saat ia memukulnya, tapi tidak kali ini. Kali ini untuk pertama kalinya Donghae melawannya. Menatapnya dengan sorot mata yang begitu penuh akan kebenciannya.

Donghae menempis tangan orang tua ini hingga membuat Tuan Lee terhuyung. Membuat Tuan Lee tersadar betapa kuat anak angkatnya ini. Bereka saling berhadapan.

"Aku bukan putramu."

Suara itu terdengar begitu dingin.

"Dan selamanya aku tak akan pernah menjadi putramu."

Kalimat itu mampu membuat Tuan Lee membeku. Tiba-tiba saja semuanya serasa menghilang. Tiba-tiba saja ia merasa kehilangan segalanya.

Segalanya menghilang darinya.

.

.

.

Sekertaris Kim melihat Donghae yang baru keluar dari ruang kerja Tuan besarnya dengan khawatir. Tentu ia mendengar keributan didalam, dan luka disudut bibir Donghae membuatnya semakin khawatir.

"Tuan muda... "

Senyum tipis itu terukir begitu berlawanan dengan sorot matanya yang sendu dan penuh akan luka.

"Jangan memangilku seperti itu. Aku bukan tuan mudamu lagi."

Donghae kembali menengok ke pintu kayu besar itu. Ini terakhir kalinya, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini yang terakhir kalinya ia berdiri ditempat ini.

Kembali melihat sekertaris Kim, Donghae menunduk sopan pada orang yang selalu ada disampinya selama ini.

"Terima kasih, untuk segalanya."

Dan Donghae melangkah pergi dari sana. Meninggalkan segalanya, bebas akan segala yang mengikatnya tanpa ampun selama ini. Yang memenjarakan raga serta jiwanya.

Menaruh bebannya.

Sekertaris Kim melihat sosok Donghae hingga hilang dari pandangannya sebelum perlahan memasuki ruang karja Tuannya. Ada Tuan Lee disana, termangu dengan sorot mata penuh kekosongan.

Seakan jiwanya tengah mati.

Ia tahu bahwa selama ini sekeras apapun perlakuan Tuannya ini pada Donghae, sekejam apapun orang ini membunuh jiwa anak itu, Tuannya masih manusia biasa.

Seorang manusia biasa yang memiliki hati. Ada kasih sayang disana. Ada rasa peduli meski tak ketara.

Ia tahu bahwa sesungguhnya selama ini Tuan Lee selalu menganggap Donghae adalah putrannya sendiri.

.

.

.

Suara ketukan langkah cepat Kyuhyun dilorong gedung parlemen itu menggema. Senyumnya terukir saat melihat Donghae berdiri dikaca besar gedung itu.

"Hyung!"

Donghae menengok padanya dan tersenyum tipis. Kyuhyun baru saja menghadiri sebuah rapat besar mengenai negara ini untuk kedepannya.

"Semunya berjalan dengan baik, Hyung. Semua orang yang terlibat akan dibersihkan dari sistem pemerintahan. Meski akan memerlukan waktu lagi untuk menyusutnya hingga tuntas tapi semuannya berjalan lancar."

Donghae kembali melihat pemandangan kota utara diatas ketinggian, menghiraukan Kyuhyun yang kembali berbicara banyak hal padanya.

"Kyuhyun-ah."

"Ya?'

"Setelah ini segera tata kembali pemerintahan. Jangan biarkan tempat pemimpin negara kosong terlalu lama. Pastikan untuk membebaskan kota selatan dan beri perhatian orang-orang didalamnya."

Senyum Kyuhyun pudar saat mendengarnya.

"Hyung apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu padaku? Bukankah ini yang selalu menjadi tujuanmu, Hyung? Kau tahu bahwa kau yang akan menjadi kandidat kuat mengisi kuri presi-"

"Aku ingin pulang, Kyuhyun."

Perkataan Kyuhyunterpotong saat iris cokelat itu melihat kearahnya. Melihatnya dengan sorot mata yang belum pernah Kyuhyun lihat sebelumnya. Seluruh emosi Donghae ada disana.

Yang memperlihatkan betapa rapuhnya Donghae.

"Aku hanya ingin pulang."

.

.

.

Iris hitam itu melihat sepasang sepatu putihnya sebelum kembali melihat ujung jalan. Hyukjae menghela nafas saat ia kembali menemukan bahwa jalanan itu kosong. Seperti hari sebelumnya. Ia duduk di trotoar dibawah pohon rindang dipinggir jalan tepat di sebuah belokan jalan sebelum rumah besar yang ia tempati sekarang.

Setiap hari sejak Donghae pergi, tak pernah sekalipun Hyukjae melewatkan untuk menunggu Donghae di tempat ini. Setiap hari melihat ujung jalan hampir sepanjang waktu, berharap mobil yang membawa Donghae akan datang dari sana. Meski kenyataannya harus pupus karena hingga matahari hampir terbenam apa yang ia harapkan tak pernah muncul.

Hyukjae bergidik saat angin sore berhembus melewatinya. Langit sudah mulai terlihat kecoklatan sebagai tanda bahwa Hyukjae harus segera kembali. Ia perlahan berdiri dengan begitu tak rela sebelum kembali melihat ujung jalan. Kalau bisa ia ingin disini seharian namun bibi pelayan rumah itu akan mencari dan mengkhawatirkannya.

Menghela nafas, Hyukjae sudah akan berbalik meningglkan tempat itu kalau saja iris cokelatnya tak menagkap sosok itu di ujung jalan.

Hyukjae terbelalak, jantungnya berdebar keras saat semakin lama sosok itu terlihat semakin jelas.

Ada Donghae disana.

Berjalan perlahan kearahnya. Tanpa apa-apa, hanya membawa dirinya.

Tanpa bisa dicegah Hyukjae berlari mendekatinya. Donghae menghentikan langkahnya saat melihat Hyukjae yang terengah berlari dan berhenti tepat didepannya. Menatapnya dengan matanya yang jernih, dengan sosoknya yang indah.

"Donghae..."Jantung Donghae serasa diperas setiap mendengar suara itu memanggilnya.

Lihat orang ini, begitu berarti baginya hingga Donghae rela menukar apapun miliknya asalkan Hyukjae ada disisinya.

"Hae..."

Rela melawan apapun hanya untuk bersamanya. Hanya untuk kembali melihat senyumnya.

Hyukjae terkejut saat tubuh Donghae merosot berlutut di aspal. Tangan kuat itu memeluk pinggangnya erat dan wajah yang tenggelam diperutnya.

Detik berikutnya yang ia dengar adalah tangisan Donghae. Menangis begitu keras dengan berpegang padanya.

Menangisi Hyukjaenya.

Menangisi Hidupnya.

Menangisi segalanya.

Untuk semua yang ia korbankan, untuk semua yang menyakiti jiwanya. Untuk kebebasannya.

Untuk dirinya.

.

.

"Kasus ini tidak hanya melibatkan pemerintahan namun juga sederet pengusaha besar. Pihak PBB telah melakukan penyelidikan mengenai kasus ini dan ..."

"Diduga selain kasus wabah yang terjadi baru-baru ini diselatan, kasusu wabah besar tujuh belas tahun yang lalu juga merupakan kesengajaan untuk membunuh orang-orang selatan sebagai cara pembersihan. Hal ini ..."

"Hari ini presiden baru negara ini akan membuka gerbang utama perbatasab di selatan setelah undang-undang baru mengenai penyetaraan masyarakat telah disetujui. Dengan ini semua orang akan dibesakan untuk ke utara mauapun selatan..."

"Pemerintah akan menutup seluruh pertambangan diselatan dan masyaraka akan diungsikan ditempay yang aman saat proses penetralisiran daerah selatan dimulai. Masya..."

Terkejut dengan rangkulan tiba-tiba di pundaknya, Kyuhyun lekas mencibir Siwon dan Yesung yang sudah ada disampinya.

"Kulihat kau sangat sibuk akhir-akhir ini."

"Kudengar kau hampir tak pulang kerumah, Kyuhyun."

Tawa keduanya setelahnya membuat Kyuhyun mengumpat. Memang gara-gara siapa ia jadi seperti ini? Dua orang ini juga terlibat!

"Bukankah kalian harusnya diselatan sekarang? Aku yakin bahwa menteri sumber daya alam dan teknologi aku tugaskan ke selatan."

"Aigo, presiden kita kaku sekali. Kenapa kau jadi semakin galak sejak jadi presiden?"

Kyuhyun berdecak.

"Aku hanya mencoba mengambil tanggung jawab seseorang yang pergi begitu saja. Orang menyebalkan yang melimpahkan segalanya pada kita setelah membuat keributan besar."

Siwon dan Yesung tertawa. Tentu mereka tahu siapa yang Kyuhyun maksud.

"Kita tahu dari awal bahwa ia tak pernah peduli dengan kekuasaan, Kyuhyun."

"Yup, hanya kebebasan yang ia inginkan."

Helaan nafas Kyuhyun menjadi akhir pembicaraan menereka karena seorang bawahannya datang memberitahunya bahwa ada pertemuan negara perihal pembangunan kota selatan.

Sekarang sudah tak ada lagi sekat antar masyarakat sejak negara ini berubah menjadi paham demokrasi. Sudah tak ada lagi larangan untuk masuk ke utara ataupun mengisolasi bagian selatan. Semuanya sudah dibuat sederajat tanpa dibeda-bedakan. Semua orang kini mempunya hak yang sama kewajiban yang sama.

Dan meski masih membutuhkan waktu yang lama, negara ini kini menjadi lebih baik. Jauh lebih baik.

"Kyuhyun-ah."

Kyuhyun menengok kearah keduanya, menghentikan langkahnya yang akan meninggalkan tempat itu.

"Jangan kecewakan kami semua. Jangan kecewakan Donghae. Jadilah pemimpin yang baik."

Kyuhyun tersenyum mendengarnya sebelum melambai ringan dan berjalan pergi dengan penuh keyakinan. Keyakinan untuk tak mengecewakan semua orang. Melakukan segala yang terbaik yang ia bisa untuk mewujudkan harapan orang-orang negara ini. Mimpi negara ini.

Karena ia adalah Cho Kyuhyun, karena dia adalah presiden termuda negara ini.

.

.

.

Angin laut itu mengusap lembut kulit wajah Hyukjae, menggoyangkan rambutnya diudara. Suara ombak terdengar lembut menyapa telingannya.

Begitu damai.

Kelopak matanya yang menutup pertahan terbuka saat merasakan jemari hangat menyusup disela-sela jemarinya.

Donghae ada disampinya.

Tersenyum lembut padanya membuat hatinya berdesir. Ia mendekat pada Donghae, balas tersenyum menghangatkan hati Donghae. Perlahan mereka melangkah bersama disepanjang garis pantai. Meninggalkan jejak kaki telanjang mereka di sepanjang langkah yang mereka ambil menuju bangunan putih penuh akan jendela kaca di ujung sana.

Tangan mereka yang terjalin berayun disetiap langkah yang mereka ambil. Meresapi kehadiran orang disamping mereka. Harapan mereka. Mimpi mereka. Rumah mereka.

Genggaman itu semakin erat satu sama lain.

Memastikan bahwa kali ini tak akan pernah terlepas lagi, tak akan pernah terpisah lagi.

Selamanya.

I will take my hope...

I will take my dream...

I will take my home ...

... with you.

.

.

.

END

Ini itu ya ff dengan adegan nangis paling banyak yang pernah aku buat hahaha. Maaf jika endingnya mengecewakan, namanya juga masih belajar hehe pokoknya terima kasih untuk semuanya.

see u next story.

special thanks:

lovehyukkie19, isroie106, PrincessDoyoung, YJHH, pepepsoy, elfishy09, jihyuk44, eunhaehyuk44, ryuga, leepolarise, KimYeWook411, senavensta, rineul, bhe, Wonhaesung Love, jewel0404, hua, ha3lvettahyuk, Yu N Me, minmi arakida, forhaenim, jewELF, KimziefaELF, 143 is 137, Nagyu331, araaaa, MiOS, HAEHYUK IS REAL , Jaeme.