Bagian 1

Fortunes Of Bracelet

(Gelang Keberuntungan)

Pairing : Kaihun, Hanhun, Krishan, Chanbaek, etc.

Rate : T

Genre : Hurt/comfort, Romance.

Declaimer : Semua tokoh dalam fanfic ini berada dibawah asuhan SM Ent, milik orang tua mereka dan tentunya merupakan ciptaan Tuhan. Tetapi fanfic ini, pure/real/murni karya saya.

Warning : YAOI, BL, Boyxboys, OC and Typo.

DLDR!

.

Beijing, China Pukul 6:30 CST

Dalam sebuah rumah mewah yang ukurannya hampir sama luasnya dengan sebuah lapangan sepak bola tingkat nasional ini sama sekali jauh dari kata tentram, damai dan sepi –gambaran isi rumah tersebut- dimana sangat berbanding terbalik dengan suasana pagi hari yang cerah. Dimana embun yang dengan lembutnya turun membasahi bumi dan ditambah lagi bunyi kicau hewan kecil bersayap –burung- yang dengan anggunnya bertenggerdi ranting pepohonan serta ada juga yang terbang menghiasi jagat raya.

"Hyung, dimana kau meletakkan kaus kaki ku?". Suasana sarapan keluarga Oh yang semulanya tenang harus terganggu dengan pekikan khas anak bungsu yang pada saat itu berumur 12 tahun.

"Hyung tidak pernah mengurusi kaus kaki jelekmu itu Sehunnie."Balas si sulung yang terlihat sama sekali tidak terganggu. Terbukti ketika laki-laki berusia 16 tahun itu terus fokus pada sarapannya.

"Umma.. Luhan hyung menyembunyikan kaus kakiku!"Pekikan itu terdengar lagi.

"Pakai saja kaus kaki mu yang lain Sehunnie."Jawab nyonya Oh dengan sabar.

"Umma, aku tidak bisa menggunakan dasiku." Si bungsu pun –Sehun- bergegas menuju tempat sarapan sambil menenteng tas ransel dan dasi yang tengah melilit leher putihnya dengan tidak elitnya.

"Dasar manja!" Cibir si sulung –Luhan- yang sudha selesai dengan sarapannya.

"Appaaa lihat Luhan Hyung terus menggangguku." Adu Sehun dengan bibir yang di poutkan. Luhan bukannya jera, justru dia semakin bersemangat untuk mengganggu Sehun ketika melihat adiknya tengah merajuk seperti itu. Karena menurutnya, Sehun akan sangat terlihat menggemaskan serta kadar imutnya akan meningkat ketika dalam mode merajuknya.

"Luhan berhenti mengganggu adikmu." Lerai Tuan Oh sambil membersihkan mulutnya dengan selembar tisyu yang sudah disiapkan di atas meja makan. Mendengar Tuan Oh membelanya, Sehun pun langsung memeletkan lidahnya kearah Luhan.

"Aku tidak pernah mengganggunya appa. Dari tadikan aku hanya fokus pada makananku. Lihat makananku sudah habis." Balas Luhan sambil menperlihatkan sebuah piring kosong yang sebelumnya berisi sebuah roti panggang.

"Tapi kan Hyung menyembunyikan kaus kaki kesayanganku." Rengek Sehun sambil mengembungkan pipi cbubby-nya yang kini terlihat memerah karena menahan kesal terhadap hyung-nya.

Mendengar kata kaus kaki, mata Luhan langsung tertuju pada kaus kaki hitam yang kini tengah di kenakan oleh adiknya. Seketika mata Luhan langsung melebar di tambah lagi dengan mulut kecilnya yang kini tengah menganga. Luhan langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa. Namun karena tawanya sudah berada di pangkal tenggorokannya, akhirnya tawanya itupun pecah.

"Hhahaaaha... Sehunnie, itu kaus kaki siapa yang kau kenakan? Sepertinya hyung pernah melihat appa mengenakan kaus kaki hitam itu." Perkataan polos Luhan yang kini sukses mengundang dua pasang mata, Oops maksudnya tiga pasang mata memandang geli kearah kaus kali kebesaran yang tengah dikenakan Sehun. Sementara Sehun kini tengah memerah menahan kesal sekaligus malu dan marah terhadap hyung satu-satunya itu.

Sebenarnya Tuan Oh dan Nyonya Oh ingin sekali tertawa melihat kecerobohan Sehun, namun diurungkan setelah melihat ekspresi putra bungsunya yang sepertinya tengah menahan tangis. "Sehunnie, itukan kaus kaki appa mu nak." Ucapan yang keluar dari mulut umma-nya pun langsung mengundang galak tawa Luhan.

"Hahaaaha... hyung penasaran dengan ekspresi teman-temanmu jika melihat kau pergi kesekolah dengan menggunakan kaus kaki appa, Sehunnie. Mereka pasti –" Ucapan Luhan terhenti ketika melihat Sehun mengehempaskan ranselnya kelantai dan langsung berlari meuju kamarnya yang terletak di lantai dua.

"BRAAKK!" Suara pintu kamar Sehun terbanting keras menandakan kekesalannya sudah mencapai puncak. Dan siapapun bisa bertaruh bahwa seseorang yang berada didalam kamar sana tengah menangis sesegukan.

Luhan pun langsung menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal tersebut melihat dua orang paruh baya tersebut kini tengah men- death glare nya.

"Nde, Luhan akan kekamar Sehunnie sekarang." Seakan-akan sudah mengerti dengan arti death glare orang tuanya, Luhan pun langsung bergegas menuju kamar adiknya. Melihat kelakuan kedua putranya, Tuan Oh dan nyonya Oh hanya bisa geleng-geleng kepala.

.

~Fortunes Of Bracelet~

.

Oh Corp merupakan perusahaan ke tiga terbesar di Beijing. Cabangnya pun sudah tersebar dimana-mana baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Oh Corp juga banyak melakukan kerjasama dengan negara-negara besar lainya. Keberhasilan Oh Corp ini sudah tidak diragukan lagi dan dalam beberapa waktu dekat ini, Oh Kyuhyun – Directur utama- akan di alihkan ke Seoul karena diberikan kepercayaan penuh untuk menangani salah satu cabang perusahaannya yang kini tengah mengalami sedikit masalah intern yang harus segera diselesaikan.

"Sajanim, saya sudah mengumpulkan berkas-berkas yang harus anda tanda tangani." Sekertaris Tuan Oh yang kini tengah barada diruang meeting dengan beberapa tumpukan berkas-berkas dan proposal yang harus di tanda tangani sebelum ia berangkat ke Seoul.

"Apakah berkas-berkasnya yang saya minta sudah lengkap, Sekretaris Jung? Saya tidak mau ada masalah di kemudian hari ketika saya sudah berada di Seoul, jadi tolong di periksa dulu." Ketegasan Tuan Oh Kyuhyun dalam menangani perusahaannya tak luput menjadi faktor utama penyebab perusahaannya berhasil dan berkembang seperti sekarang ini. Jadi para pekerja sangat mengacungi jempol dengan cara Tuan Oh dalam ke-profesionalannya mengurus perusahaan.

"Sudah Sajanim, saya sudah memeriksa kelengkapannya beberapa kali dan saya pastikan sudah lengkap semuanya. Jadi sajanim harus menandatanganinya sebagai laporan kami kepada para client nanti. Satu lagi, menurut laporan yang kami dapatkan Sajanim berangkat ke Seoul lusa ini." Jelas Sekretaris Jung panjang lebar.

"Baiklah, saya menyerahkan semuanya padamu Sekretaris Jung. Mengenai keberangkatanku, mungkin ini akan menjadi kabar gembira untuk istri dan kedua anakku." Ucap Tuan Oh yang kini bisa membayangkan raut behagia anaknya ketika ia memberitahukan kabar ini.

"Jadi Sajanim akan membawa Luhannie dan Sehunnie juga? Apakah itu berarti Sajanim akan menetap di Seoul untuk waktu yang lama?" Tanya Sekretaris Jung dengan sedikit perasaan gelisah akan di tinggal dalam waktu yang lama oleh atasannya.

Tuan Oh hanya tersenyum lembut membenarkan ucapan Sekretaris Jung. "Nde, sepertinya begitu. Lagipula tidak ada yang perlu ku khawarirkan karena aku percaya padamu Sekretaris Jung. Jadi mengenai keberangkatanku, kau urus segera." Balas Tuan Oh.

"Baiklah, Sajanim." Sekeretaris Jung hanya bisa pasrah. Namun didalam hatinya , Sekretasis Jung merasa sedikit gelisah mengingat Luhan dan Sehun juga harus ikut. Seperti ada yang mengganjal, tapi dia tidak tahu itu apa.

.

~Fortunes Of Bracelet~

.

"Ayoolah Sehunnie.. Mau sampai kapan membenci hyung, eohh?" Luhan sepertinya sudah mulai jengah dengan sikap Sehun yang sama sekali tidak mau mengajaknya berbicara semenjak kejadian tadi pagi. Bahkan ketika Luhan menawarkan untuk mentraktirnya bubble tea –minuman favorit Sehun- pun sama sekali tidak mempan. Kalimat yang keluar dari mulutnya hanya 'Aku membenci Luhan hyung' jika Luhan tidak ingat kalau Sehun itu adalah adik kesayangannya maka sudah daritadi Luhan akan menjambak rambutnya, bila perlu sampai botak- raung Luhan dalam hati-

"Aku membenci Luhan hyung!" Tuh kan mulai lagi. Ingatkan Luhan kalau Sehun itu adalah adik kandungnya supaya dia tidak lebas kendali untuk menjambak rambut adik albino-nya.

"Nde, tapi sampai kapan? Kan hyung sudah minta maaf sama Sehunnie, tapi Sehunnie bilang – " lagi –lagi ucapan Luhan harus tertahan di pangkal tenggorokannya karena terpotong oleh ucapan adiknya.

"Pokoknya aku membenci Luhan hyung, benciii – beeenciii- benciiii! Luhan hyung jahat!" Luhan setidaknya sedikit bisa bernafas lega, karena setidaknya adiknya bisa mengeluarkan kalimat yang sedikit lebih panjang yang keluar dari bibir tipis adiknya.

"Yaa sudah kalau Sehunnie tidak mau memaafkan hyung. Hyung mau pergi dulu ke kedai bubble tea Kim ahjussi kemudian setelah itu hyung mau membeli toekkuboekie –makanan korea kesukaan Sehun- terus membeli es krim rasa cokelat. Hyung pergi dulu Hunnie~"

Mendengar serentetan makanan dan minuman favoritnya di sebut oleh hyungnya, Sehun pun langsung menghentikan gerakan tangan Luhan untuk menutup pintu kamar Sehun dari luar.

"Hyuuuuung~" Mendengar rengekan manja adiknya, diam-diam Luhan menyeringai puas. Sepertinya lagi-lagi dia mendapatkan cara jitu untuk menjinakkan Sehun. Tapi, dalam hati dia merutuk juga karena itu artinya uangnya harus? Oh Tidak!

"Nde, adikku yang cantik." Luhan kembali menghampiri adiknnya. Melihat ekspresi Sehun, Luhan langsung meralat ucapannya.

"Maa..maksud hyung, Sehunnie yang manis dan imut." Luhan membenarkan ucapannya.

"Hyung, sepertinya aku sudah tiddak membenci Luhan hyung lagi." Huuuh hyung sudah tahu Sehunnie –batin Luhan-

"Oh yaa, jinjaa?" tanya Luhan padahal hatinya tengah was-was pada saat ini. Mendengar ucapan Luhan, Sehun langsung menganggukan kepalanya imut sehingga membuat poni yang menjuntai hampir menutupi mata sipitnya bergoyang.

"Nde, aku menyanyangi Luhan hyung. Tapi hyung~" Ucapan Sehun menggantung.

"Taa.. tapii apa Sehunnie?" Luhan mulai gelisah.

Senyum yang belum ditampakkan setengah hari ini kepada hyung-nya pun perlahan menghiasi bibir pink tipisnya di tambah dengan eye smile yang menghiasi mata sipitnya. "Hyung harus mentraktir apa pun yang ku mau. Aku mau membeli bubble tea, toekkuboekie, es krim dan aku mau pizza jumbo. Hyung mau kan membelikannya untukku?" Kali ini mungkin Luhan akan memasukkan kaus kaki hitam bau milik appa-nya yang di gunakan tadi pagi oleh Sehun kedalam mulutnya agar tidak keceplosan yang ujung-ujung akan menyiksa batinnya. Oh ayoolah siapa sih yang akan mampu menolak keinginan adiknya ketika dia sudah menunjukkan aegyeo-nya. Lagi-lagi Luhan harus menyesal telah mengatakan kalau dia menyukai adiknya ketika tengah merajuk seperti itu.

"Oo..ooh tentu, Kajja!" Luhan hanya bisa berharap semoga kondisi dompetnya tidak semiris dirinya.

.

~Fortunes Of Bracelet~

.

"Appa, benarkah appa akan di pindahkan tugas ke Seoul? Waaah.. aku tidak sabar appa." ucap Sehun dan Luhan bersemangat. Karena sebelumnya mereka sudah di beri tahu oleh nyonya Oh sepulang mereka dari berbelanja – lebih tepatnya sih Cuma Sehun yang berbelanja makanan favoritnya- dan berita itu langsung disambut dengan bahagia oleh kedua putra Tuan Oh ini.

"Nde, kita akan pindah besok ke Seoul." Yaah, memang benar mereka akan berangkat ke Seoul besok karena Tuan Oh mendapat laporan yang baru saja di terima dari Sekretaris Jung beberapa jam yang lalu.

"Bukannya kau mengatakan lusa, yoebo?" Tanya Nyonya Oh heran. Karena setahunya pada saat Tuan Oh mengabarinya, dia mengatakan kalau mereka akan berangkat lusa.

Tuan Oh lalu tersenyum. "Tidak, yoebo. Kita akan berangkat ke Seoul besok, karena beberapa jam tadi aku mendapat laporan baru kalau keberangkatan kita akan di percepat yaitu besok." Jawab Tuan Oh. Sementara Nyonya Oh hanya mengangguk mengiyakan.

"Tidak apa-apa umma. Lebih cepat lebih baik, iya kan Sehunnie?" Kali ini Luhan yang berbicara dan langsung di balas dengan puppy face oleh Sehun.

"Nde."

"Oeey, hyung. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir kita di Beijing. Aku ingin menghabiskannya untuk bersepeda. Maukah hyung mengajariku mengendarai sepeda?" tanya Sehun penuh antusias, namun berbanding terbalik dengan jawaban Luhan.

"Mianhe.. tapi hyung sedang sibuk Sehunnie." Mendengar jawaban Luhan membuat Sehun langsung mengembuskan nafas kecewa.

"Huuh, Hyung selalu sibuk akhir-akhir ini. Luhan hyung menyebalkan." Jawab Sehun sambil menghempaskan punggung ke ke sandaran kursi.

Sedangkan Nyonya Oh merasa sedikit ganjal dengan perkataan Sehun jika hari ini adalah hari terakhirnya di Beijing, tapi Nyonya Oh langsung menepis perasaan itu. "Mungkin hyung mu memang sedang sibuk Sehunnie. Lagipula tadi kan kamu bercerita pada umma kalau kamu baru saja di traktir oleh Luhan hyung. Yaa mungkin saja Luhan hyung capek, mau istirahat." Jelas Nyonya Oh bijak.

"Hyung janji kalau kita sudah sampai besok di Seoul, hyung akan mengajarimu bersepeda di taman sungai Han. Otte?" jawab Luhan.

"Nde, hyung. Aku mau." Balas Sehun. Kalau sudah begini mau tidak mau Tuan Oh dan Nyonya Oh hanya bisa tersenyum bahagia.

.

~Fortunes Of Bracelet~

.

Hari yang di tunggu telah tiba. Hari ini keluarga Oh akan pergi ke Seoul dimana Tuan Oh dipindah tugaskan untuk mengurusi salah satu cabang perusahaannya yang ada di Seoul. Semua barang-barang yang akan di bawa pun sudah di masukkan ke dalam bagasi mobil.

"Sehunnie, sebentar lagi kita akan berangkat. Cepat panggil hyung-mu. Sepertinya tadi appa melihatnya sedang merangkai sesuatu." Perintah Tuan Oh kepada putra bungsunya.

"Nde, appa. Sehunnie akan memanggil Luhan hyung." Jawab Sehun dengan mata berbinar. Tuan Oh pun yang sudah gemas dengan tingkah anak bungsunya, langsung mengusak lembut rambutnya.

.

Sementara itu...

.

"Semoga saja Sehun suka dengan gelang ini." Harap Luhan setelah menyelesaikan gelang yang di buat dengan tangannya sendiri.

Baru saja Luhan akan turun ke bawah untuk menyusul, tiba-tiba adiknya berlari kearahnya.

"Luhan hyung kenapa lama sekali? Semua sudah menunggu hyung di bawah." Ucap Sehun terengah-engah mengatur nafasnya.

"Hehee.. Mianhe." Balas Luhan menggaruk tengkuknya.

"Kajja, hyung!" Sehun langsung menggandeng tangan Luhan, seolah-olah menyeretnya.

Karena mengingat sesuatu, Luhan pun langsung mengentikan langkahnya. "Sehunnie, hyung punya sesuatu untukmu." Merasa namanya di panggil, Sehun pun menghentikan langkahnya dan menengok ke arah Luhan yang berada di belakangnya.

"Apa itu hyung?" tanya Sehun penasaran karena tiba-tiba ekspresi hyung-nya menjadi berubah.

"Sebelumnya hyung minta maaf karena akhir-akhir ini tidak sempat mengajarimu mengendarai sepeda, tapi hyung buatkan ini untukmu. Dan punya kita kembar." Ucap Luhan tulus. Perlu diketahui walaupun mereka seperti anjing dan kucing, tapi percayalah kalau Luhan sangat menyangi adiknya dan Sehun juga sangat menyangi hyung-nya.

"Gelang?" guman Sehun.

"Hmp.. hyung sendiri yang merangkainya. Dan kau lihat, di bagian bawahnya hyung ukir namamu. S-E-H-U-N~" Eja Luhan. "Dan begitupun dengan hyung, di sini hyung juga mengukir nama hyung sendiri, L-U-H-A-N~" lanjut Luhan. Tulus –sangat tulus-

"Jadi, kemarin hyung tidak bisa mengajariku bersepeda karena hyung sibuk merangkai gelang ini?" tanya Sehun dengan mata berkaca-kaca. "Karena hyung sibuk merangkai gelang ini untukku?" lanjutnya lagi, kali ini bulir bening sudah membasahi pipi chubby putihnya.

Luhan pun hanya membenarkan pekataan adiknya dengan menganggukkan kepalanya. "Nde, gelang ini Cuma ada dua di dunia ini. Yang khusus hyung rangkai sendiri. Dan hyung menamainya dengan gelang keberuntungan. Kau mau kan menggunakan gelang ini?" perkataan Luhan sukses membuat Sehun langsung menubrukkan badannya memeluk Luhan erat. Seolah-olah ini adalah sebuah pelukan terakhir mereka. Dibalik pelukan itu, Luhan merasakan kalau Sehun tengah menganggukkan kepalanya. Luhan pun membalas pelukan itu dan mengusak rambut kecokelatan milik adiknya.

"Hiks.. Nde.. Aa..akuu.. hiiks..akan.. me.. makai.. hikks.. ge.. lang ini..hyung." jawab Sehun di iringi dengan isak tangisnya.

"Aigoo... kenapa kau menangis? Kan sebentar lagi kau akan masuk Sekolah tinggi pertama sehunnie, kau masih saja cengeng." Canda Luhan.

"Aku tidak sedang menangis, hyung. Aku pun tidak tahu darimana datang nya air ini. Tiba-tiba saja air ini menggenangi pipiku." Ungkapan polos Sehun kembali menengkan hati Luhan. Ingat, kalian harus menggaris bawahi kalau Luhan sangat menyayangi Sehun.

"Aku sangat menyayangimu, hyung." Tulus, kali ini benar-benar tulus.

"Nado, Sehunnie."

.

.

Seoul, pukul 20:00 KST

Keluarga Oh sudah sampai Bandara Inceon. Sekretaris Jung sudah menyiapkan mobil untuk menjemput dan sekaligus mengantarkan keluarga Tuan Oh menuju tempat tinggal yang baru yaitu berada di kawasan Apgujeong. Di tengah perjalanan kedua anak Tuan Oh tengah menikmati pemandangan yang tak kalah indahnya dengan pemandangan di Beijing. Sesekali keluar kekehan dari Tuan Oh –dikursi kemudi- dan Nyonya Oh melihat kelakuan Luhan yang sedang mengganggu Sehun.

"Luhannie.. berhenti membuat adikmu merajuk seperti itu. Kamu tidak –"

"APPA AWAAASS!"

.

.

.

TBC

Lain waktu kita lanjutin lagi yaaak *gak ada yg mau kelees*

Ini chapter 1 author lanjut cepet kan? Masih pemanasan ini, pairing pun belum keliatan batang idungnya. Baru Hunhan brothership aja, pairing lain menyusul di chap berikutnya. Liat hunhan kayak gini jadi kangen moment mereka.

Okee.. udah dulu cuap-cuapnya. Sekarang tinggal kalian harus tinggalin jejak. Karena ff ini bakal cepat di lanjut tergantung dari kalian.

Review-nya di tunggu!