Bagian 2
Fortunes Of Bracelet
(Gelang Keberuntungan)
Pairing : Kaihun, Hanhun, Krishan, Chanbaek, etc.
Rate : T
Genre : Hurt/comfort, Romance.
Declaimer : Semua tokoh dalam fanfic ini berada dibawah asuhan SM Ent, milik orang tua mereka dan tentunya merupakan ciptaan Tuhan. Tetapi fanfic ini, pure/real/murni karya saya.
summary: Sehun yang dianggap meninggal karena sebuah kecelakaan yang terjadi ketika ayahnya dipindah tugaskan ke Seoul. Luhan yang tidak pernah percaya akan kematian adiknya karena belum ada bukti yang akurat. Kai bertemu dengan namja cantik berkulit putih susu pada saat yang tidak tepat. "Sehunnie kau tida apa-apa? Apakah kepalamu cidera?"- Baekhyun. "Maaf, bolaku tidak sengaja mengenai kepalamu tadi." - kai. "Kai apakah dia itu yeoja?" - Park Chanyeol.
Warning : YAOI, BL, Boyxboys, OC and Typo.
...
"NGIUUUNG - NGIUUUUNG!"
Suara sirine mobil polisi berhamburan menuju tempat kejadian perkara tak pelak hingga memekakkan telinga, ditambah lagi dengan suara dua buah mobil ambulan yang turut menambah suasana malam hari yang berada di tengah hutan pinus ini menjadi lebih mencekam. Kecelakaan ini terjadi begitu cepat. Hingga saat ini tim kepolisian telah memasang garis pembatas berwarna kuning untuk mempermudah dalam pencarian korban.
Sampai saat ini tim kepolisian telah menghabiskan waktu selama 2 jam dalam melakukan pencarian, hingga kini polisi telah menemukan dua orang paruh baya yang berhasil dievakuasi menuju mobil ambulan guna untuk mendapatkan pertolongan pertama.
"Petugas Shin, tolong arahkan senter yang kau bawa kearah semak-semak itu! Sepertinya tadi aku merasakan sebuah pergerakan." Perintah kepala kepolisian – Lee Jeong Hoon – kepada salah satu bawahan yang tepat berada di belakang kepala Lee.
"Baik, Sajanim." Setelah mendengrkan perintah dari atasannya, petugas Shin pun langsung mengarahkan senter yang berada di pergelangan tangannya menuju tempat yang telah di sebutkan oleh atasannya barusan.
"SREEK! SREEEK!"
"Chankam!" tiba –tiba saja kepala kepolisian itu menghentikan langkahnya sehingga menyebabkan beberapa petugas kepolisian yang berada di belakang kepala Lee pun turut menghentikan langkahnya.
"Apa yang terjadi, Sajanim?" Salah satu petugas yang merasa aneh dengan pergerakan yang di lakukan oleh kepala Lee mengeluarkan suaranya untuk bertanya.
"Petugas Shin, serahkan senter itu!" Kepala Lee hanya mengabaikan pertanyaan dari salah satu bawahannya yang lain dengan mengeluarkan suara sarat perintah kepada petugas Shin yang posisinya tepat berada di samping kepala Lee.
"Nde, Sajanim!" tidak ingin mendapat teguran, petugas Shin pun langsung memberikan senter itu kepada kepala Lee.
Setelah mendapatkan alat penerangan yang di butuhkan, kepala kepolisian itu pun langsung mengarahkannya menuju semak belukar yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Mata kepala Lee dan beberapa bawahannya di buat terbelalak dan tidak lepas dari objek yang kini tengah tergelak tidak berdaya diantara semak-semak belukar yang mengelilingi tempat tersebut.
"Kalian semua, cepat angkat dia menuju ambulan. Sepertinya dia sangat kekurangan banyak darah!" Lagi-lagi kepala Lee mengeluarkan perintah kepada para bawahannya.
"Nde!"
Saat ini sudah hampir pagi. Tim kepolisian kurang lebih sudah menghabiskan waktu selama 6 jam untuk melakukan pencarian. Para polisi yang dikirim pun sudah melakukan pencarian secara menyebar masuk kedalam hutan pinus –lokasi kejadian- dan tidak menemukan tanda-tanda adanya korban lain. Hingga saat ini yang berhasil mereka evakuasi adalah tiga orang. Dua merupakan paruh baya, kemudian yang satu lagi anak remaja yang berusia belasan tahun.
"Sajanim, sepertinya sudah tidak ada tanda-tanda korban lagi. Saya sudah memerintahkan petugas Kim dan beberapa petugas lainnya untuk lebih masuk lagi ke dalam hutan ini tapi proses pencarian mereka pun harus terhenti karena menemukan sebuah sungai yang menghalangi jalan pencarian mereka." Jelas petugas Shin panjang lebar.
"Tapi menurut laporan yang saya terima ada empat orang yang berada di dalam mobil tersebut, petugas Shin!" Bantah kepala Lee.
Berselang 20 menit setelah terjadinya kecelakaan di kawasan hutan pinus Apgujeong, sekretaris kepercayaan keluarga Oh –sekretaris Jung Ilhoon- mendapatkan kabar jika atasan mereka mengalami kecelakaan ketika menuju tempat kediaman baru mereka di Apgujeong, Seoul. Awalnya sekretaris Jung tidak percaya karena atasannya –Oh Kyuhyun- tidak pernah buruk dalam mengendarai mobil, tapi setelah petugas kepolisian Seoul menyebutkan nomor plat mobil yang di kendarai Tuan Oh sama persis dengan nomor plat mobil yang di kirimkannya untuk mnejemput kedatangan keluarga Oh menuju tempat tinggal baru mereka di Apgujeong.
Seluruh tubuh sekretaris Jung bergetar, kalut. Dia tidak pernah menyangka akan terjadi kecelakaan seperti ini karena sebelumnya dia sendiri yang mengurus semuanya sekaligus mengecek sendiri mobil yang akan di kendarai atasaanya nanti. Baik –sangat baik- kondisi mobil tersebut sangat baik. Ingat, sekretaris Jung adalah orang kepercayaan Tuan Oh, jadi dia tidak mungkin mencelakakan atasaanya sendiri.
"Ini tidak mungkin!" Lirih sekretris Jung dengan nada bergetar.
Sekretaris Jung langsung menuju bandara pada saat itu juga, bahkan dia sampai membatalkan sebagian pertemuannya dengan para client. Didalam benaknya hanya ada serentetan nama anggota keluarga Oh yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.
"Ada empat orang yang berada didalam mobil tersebut, kepala Lee." Ucap sekretaris Jung lemah ketika kepala kepolisian Seoul menghubunginya beberapa jam yang lalu.
"..."
"Nde, saya akan lepas landas saat ini juga!"
.
~Fortunes Of Bracelet~
.
Putih. Itu lah warna pertama yang tercetak, warna yang mampu di tangkap oleh kedua bola matanya. Perlahan dia mulai tersadar dan hidung mancungnya langsung disuguhkan oleh bebauan khas yang hanya bisa di jumpai di tempat-tempat seprti ini. Dinding putih, keramik putih, semua serba putih. Setelah semuanya mulai normal tertanda ketika ia mulai mengenal tempat ini. Rumah sakit.
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik,
"Oemma! Appaa! Sehunnie!" Ketika otaknya belum bisa mencerna semuanya, kata-kata inilah yang pertama kali muncul. Hanya memastikan jika orang-orang yang disayanginya tetap setia berada didekatnya. –saat ini-
"..." tidak ada jawaban.
Sedikit demi sedikit potongan-potongan kejadian kembali berputar seperti potongan sebuah film yang mengalir ngitari otaknya. Dari mulai dia masih berada di Beijing, ketika dia bermain, bercanda dan tertawa bersama kedua orang tuanya beserta adiknya. Ketika ia tengah mengganggu adiknya, ketika dia berjanji akan mengejari adiknya mengendarai sepeda di taman sungai Han nanti pada saat mereka sudah berada di Seoul. SEOUL?
"OEMMAAA! APPAAA! SEHUNNIEEEE!" teriaknya histeris, bahkan dia sudah siap akan mencabut selang infus yang memerangkap pergelangan tangannya sebelum seorang dokter dan beberapa perawat datang menerjang tubuhnya dan memberikan sedikit obat penenang untuknya.
Dia perlahan melemas, lemas seperti tidak memiliki tenaga sama sekali. "Dokter, dimana oemma-ku, dimana appa-ku dan dimana adikku? Dimana mereka dokter?" Ucapnya lemah lamun penuh penekanan.
Seseorang lekaki paruh baya langsung berhambur memeluknya dengan penuh kasih sayang seolah-olah semuanya akan baik-baik saja. "Luhannie, tenangkan dirimu. Ada ahjussi disini. Ahjussi yakin, semuanya akan baik-baik saja." Laki-laki paruh baya itu adalah sekretaris Jung, sekretaris kepercayaan keluarga Oh.
Luhan. Anak laki-laki itu adalah Luhan. Luhan putra sulung Tuan Oh yang kini berusia 16 tahun. "Ahjussi, mobil appa menabrak sebuah pohon dan aku melihat dengan jelas sekali kalau mobil yang dikendarai appa itu terbakar. Ahjussi, dimana mereka? Mereka baik-baik saja kan?" Bohong kalau sekretaris Jung tidak mengerti dengan kata 'mereka' yang diucapkan oleh Luhan. Dan tanpa Luhan ceritakan kronologi kejadiannya pun, sekretaris Jung sudah mengetahui semuanya dari kepala polisi Seoul. Dia tahu, dan dia menyesal karena dia tidak bisa menghalagi terjadinya kecelakaan itu yang berujung membuat anak sulung keluarga Oh ini harus hidup sendiri.
Merasa tidak ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulut sekretaris Jung, Luhan merasa geram dan langsung menghempaskan sepasang tangan kekar yang tengah memeluknya erat. "Ahjussi tidak mendengarkanku? Ahjussi, dimana oemma, appa dan adikku? Dimana mereka ahjussi? Katakan padaku jika mereka baik-baik saja?" wajahnya memerah hingga sampai ketelinga. Dia marah, dia kesal diabaikan seperti ini. Dia ingin tahu keadaan keluarganya, apa dia salah?
"..."
Dia berontak ingin turun dari bankar rumah sakit. Dia sudah tidak tahan. Dia harus melihat keadaan keluarganya. Terserah jika dia harus di katakan seperti orang gila. Terserah, dia tidak peduli. Namun ketika dia berusaha turun dari ranjang pesakitan itu, dia ambruk kelantai keramik bercat putih itu. Kekuatan kakinya tidak sanggup menahan berat tubuhnya.
"Aaarrghhh.. ada apa dengan kakiku?" Luhan baru sadar jika dari kecelakaan itu menyebabkan salah satu kakinya terluka parah dan bahkan baru selesai dijalankan sebuah operasi untuk pemulihan, namun jahitan dikakinya harus terbuka kembali karena Luhan terus saja memberontak.
Ketika sudah mendapatkan celah, salah satu perawat berhasil memberikan suntikan penenang yang kedua kalinya pada Luhan.
Luhan berangsur-angsur tenang. "Ahjussi, dokter atau siapapun. Kumohon, tolong pertemukan aku dengan mereka." Sebuah aliran sungai kecil sudah menggenangi kedua pipi putih Luhan. Dia merasa lemah, dia merasa takut. "Jebaaaaaal." Lanjutnya lirih.
Sekretaris Jung ingin menangis, dia tidak pernah melihat Luhan serapuh ini. Dia hanya bisa berharap, semoga Luhan bisa menerima kenyataan setelah ini. "Nde, kajja. Ahjussi akan mengantarkanmu menemui mereka." Sekretaris Jung tidak boleh seperti ini. Bagaimanapun Luhan harus tahu kebenarannya.
Luhan mengusap air matanya yang sudah merembes hingga keleher putihnya. "Gomawo, Ahjussi."
.
~Fortunes Of Bracelet~
.
Sementara itu diwaktu yang sama, seorang lekaki tampan dengan tinggi yang melebihi normal tengah menggerutu kesal kearah mobilnya yang tengah mogok. Ayolaaaah.. ini sudah tengah malam. Dan dia pun berani membayar berapapun yang mereka mau jika bersedia memperbaiki mobilnya yang tengah mogok ini. Ia kesal. Bahkan ia sampai beberapa kali menendang ban mobil yang tidak bersalah itu hingga berujung dengan ringisan yang keluar dari bibirnya.
"Awww.. Aaarghh brengsek!" kalimat ini bukan pertama kalinya di ucapkan oleh namja berambut blonde ini melainkan sudah beberapa kali terhitung semenjak mobilnya tiba-tiba mogok di persimpangan kawasan Apgujeong. Kepalanya seringkali dimiringkan kearah kiri dan kanan guna untuk memastikan apakah ada mobil atau kendaraan lain yang nantinya bisa ia mintai tolong, bila perlu ia akan membeli mobil atau kendaraan tersebut berkali kali lipat dari harga aslinya.
"Ya Tuhan apa yang harus kulakukan? Tidak lucu sekali jika aku harus menghabiskan sisa malamku dengan tidur di tengah jalan seperti ini." Ucapnya pelan. Kemudian ia memutar badannya sehingga terpampang jelas pepohohan yang menjulang tinggi yang mengitari tempatnya berdiri saat ini –rupanya dia baru menyadari jika dia berada di tengah hutan pinus- kemudian dia bergidik ngeri membayangkan dirinya harus merelakan dirinya untuk menghabiskan malam tepat di tengah-tengah hutan seperti ini. Horor sekali –batinnya-
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya dia memutuskan untuk masuk kedalam mobilnya. Sepertinya ia memang harus merelakan jika malam ini tidur tanpa ranjang berukuran king size dan bantal empuk serta selimut tebal yang akan menghangatkan tubuhnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya harus mengumpat kesal.
Bodoh. Namja ini merasa bodoh ketika dia mulai mengingat jika dia membawa sebuah smartphone yang sebelumnya sempat ia lemparkan ke kursi bagian belakang mobilnya karena merasa terganggu dengan panggilan dari seseorang -ntah itu siapa. "Hahaaha, Tuhan itu memang adil." Buru-buru ia meraih smartphone-nya dan langsung men-dial nomor yang akan membantunya kembali kerumah.
"Shitttt! Sepertinya aku harus berjalan-jalan untuk mendapatkan sinyal." Setelah tadi dia merasa seperti dewa fortuna datang membantunya –karena dia merasa dirinya adalah orang baik- sekarang dia hanya bisa mengumpat dalam hati dengan melontarkan kalimat-kaliamat yang sebetulnya sama sekali tidak akan bisa membantunya.
Tepat di belakang sebuah batu besar dia mendapatkan sinyal. Senyumpun mengembang dan ia langsung tidak mau membuang banyak waktu, namja ini pun langsung men-dial kontak di smartphone-nya.
"Yeeeobseeeo, Dad?" setelah menunggu panggilan tersambung beberapa detik, akhirnya namja ini bisa bernafas lega karena orang yang dibutuhkan menjawab panggilannya.
"Kris, kau kah ini?" Tanya lelaki paruh baya di seberang sana.
"Nde, Dad. Apakah ada gangguan dengan suaraku sehingga Daddy tidak mengenaliku, eooh?" namja yang disebutkan bernama Kris ini tidak habis pikir dengan ayahnya yang tiba-tiba saja tidak mengenalinya. Maksudnya tidak mengenali suara anaknya sediri.
Lelaki paruh baya tersebut terkekeh pelan. "Ada apa kau menghubungi Daddy malam-malam begini? Tidak tahukah kau kalau besok Daddy akan melakukan operasi pencangkokan hati? Sudahlah Daddy tidak mau pasien Daddy menunggu terlalu lama karena Daddy terlambat bangun." Ceramah lelaki paruh baya –Wu Donghae- yang menjabat sebagai dokter bedah kepada anak semata wayangnya.
"Daaad.. kau harus menolongku, setidaknya menjemputku dan membawaku pulang. Dad, kau tahu? Ketika aku akan pulang, tiba-tiba saja mobilku mogok tepat di tengah-tengah hutan pinus. Jadi kau harus segera ke—" tiba-tiba namja bernama Kris ini menghentikan ucapannya karena dia merasa ada sesuatu yang bergerak di belakang batu besar tempat ia bersandar saat ini.
"Krisss!" Tuan Wu heran karena merasakan sesuatu terjadi dengan anaknya.
Kris pun membalikkan badannya. Karena merasa penasaran, ia pun perlahan-lahan melengokkan kepalanya. Mulutnya menganga, jantungnya bergetar hebat –aneh, dia merasa sangat aneh- dia mendapatkan dorongan untuk mendekati mayat –dia masih menganggapnya mayat karena tidak ada pergerakan sama sekali- Dia melihat seorang anak kecil yang bagian kepalanya di penuhi darah merah yang masih basah, mungkin korban tabrak lari pikirnya.
"Daddy.. dia ma..masih hidup Dad!" Kris memerikasa urat nadi dan memeriksa nafas bocah malang itu secara bergantian. Sementara Tuan Wu semakin gelisah karena mendengar suara anaknya semakin memberat.
"Kris, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan?" Tuan Wu semakin panik.
"Dad, aku menemukan bocah yang kemungkinan korban tabrak lari. Daddy harus menolong bocah ini. Ce..cepat dad sebelum terlambat!" perintah Kris dengan jantung yang berdebar kencang antara kasian dan takut.
Tuan Wu yang dibuat bingungpun langsung bergegas menuju bagasi untuk menuju tempat Kris berada saat ini. "Ndee, kau jangan kemana-mana. Tunggu Daddy disitu. TUUTT!" Tuan Wu langsung menutup sambungan telpon tersebut.
.
~Fortunes Of Bracelet~
.
Luhan hanya bisa terpaku memandangi tulisan yang tertempel di depan pintu tempat ia berdiri saat ini. Luhan menggeleng kuat-kuat menghalau pemikiran negatif yang menyeruak keluar mengitari otaknya. Dia panik dan ingin berlari, tapi dia tidak bisa dan dia tidak punya tenaga apa-apa. Dia hanya bisa memandang sendu dan sedikit mengeja tulisan yang terpampang jelas tersebut –KAMAR MAYAT-
Dia –Luhan- ingin memastikan tapi dia tidak ingin masuk kedalam ruangan laknat itu. Dia tidak mau dan dia tidak sanggup. Butiran liquid mengalir deras, dia tidak sanggup jika dia harus membayangkan hidup tanpa orang-orang yang dikasihinya. Dia beralih menatap sekretaris Jung yang tengah menggenggam kursi roda yang dikenakan Luhan. Luhan melihat jelas jari-jari sekretaris Jung memutih meremas kursi roda itu erat.
"Apakah ahjussi yakin oemma, appa dan adikku ada di dalam? Aa..apa..ahjussi..hiks..ya..yakin?" liquid itu berlomba-lomba tanpa ia bisa mencegahnya. Perlahan semua ingatan, kejadian-kejadian menguasai dan memenuhi memori otaknya kini hanya tinggal kenangan.
"Luhannieee.. maafkan ahjussi. Maafkan ahjussi." Lirih sekretaris Jung berhambur memeluk Luhan erat –sangat erat-
Luhan tidak menjawab, hanya air mata yang terus saja mengalir tanpa henti. "Ahjussi, antarkan aku bertemu dengan mereka." Luhan menghapus air matanya kasar menggunakan lengan baju khas rumah sakit, dia harus kuat.
Sekretaris Jung mengangguk dan perlahan mengarahkan kursi roda Luhan untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Setelah berada di samping lelaki paruh baya yang telah terbujur kaku, Luhan pun langsung membuka kain penutup yang menutupi sekujur tubuh laki-laki itu.
"Appaaaa.. appaa..hiks.. maafkan Luhan. Aku menyayangimu appa..hiks." setelah beberapa menit dia menahan dirinya, akhirnya pertahanannya pun runtuh. "Appaa.. apakah aku adalah anak yang nakal sehingga kalian tega menghukumku seperti ini." Luhan menangis memeluk tubuh Tuan Oh.
Kemuadian Luhan mengarahkan kursi rodanya sendiri ke samping nyonya Oh dan membuka kain penutup tersebut. "Oemma.. hiks..Luhan..kangen..hiks..masakan oemma. Oemma jangan tinggalkan aku." Serasa air matanya sudah kering, matanya terlihat sangat sembab. Luhan lelah, tapi dipaksa untuk menjadi kuat. Luhan ingin bersandar, tapi dia tidak tahu akan bersandar pada siapa. Orang-orang yang dibutuhkannya pergi meninggalkannya.
Luhan sudah bosan menangis. Luhan merebahkan kepalanya di samping ranjang nyonya Oh. Sejenak Luhan tersadar jika sedari tadi dia tidak menemukan keberadaan adiknya. Sehun, dimana dia?
"Sehunniee.." Luhan kembali menegakkan badannya kemudian memutar kepalanya menghadap sekretaris Jung. "Ahjussi, dimana Sehun? Aku tidak menilhatnya ditempat ini, apakah itu artinya adikku baik-baik saja?" tanya Luhan membuat sekretaris Jung membatu.
"..."
"Ahjussi, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Dimana adikku, aku ingin melihatnya. Jika adikku memang tidak ada di tempat ini maka antarkan aku ketempat dia berada. Jebaaaaal.."Raung Luhan kembali histeris. Luhan bahkan tidak mampu merasakan lagi sakit di sebalah kakinya karena sakit dihatinya jauh berkali-kali lipat lebih sakit. Dia tidak boleh seperti ini terus. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, maka dia tidak mau kehilangan adiknya lagi. Dia tidak mau. Kadang dia merasa, apakah dosanya sangat terlampau banyak hingga Tuhan menghukumnya dengan cara merenggut nyawa orang-orang yang dia sayangi.
"AHJUSSI, KATAKAN PADAKU DIMANA ADIKKU! Dinama Sehun, ahjussi?!" rapuh, saat ini kondisi Luhan benar-benar sangat rapuh. Dia ingin marah dan menumpahkan segala kemarahannya, tapi dia tidak tahu siapa yang bersalah disini.
"Luhanniee... Sehun menghilang, dan mayatnya belum ditemukan hingga saat ini. Beberapa petugas kepolisian mengatakan jika Sehun hanyut disungai. Tapi kau tidak perlu khawatir, karena petugas akan mengirimkan anjing pelacak untuk mendeteksi keberadaan Sehun." kini sekretaris Jung sudah bersimpuh didepan Luhan sambil menangkup kedua pipi Luhan yang sudah basah sekali dengan air mata. Untuk sekarang ini, dia benar-benar tidak tahu caranya untuk menenangkan Luhan.
"Semuanya akan baik-baik saja Luhannie.." hanya kalimat ini yang mampu diucapkan oleh sekretaris Jung.
Luhan tercengang. "Jadi, ahjussi juga percaya jika adikku sudah meninggal walaupun belum ada bukti? Tidak, aku sangat yakin jika adikku bisa bertahan. Dia tidak akan mungkin meninggalkan aku. Dia pasti akan menepati janjinya padaku untuk berlatih sepeda ditaman sungai Han." Luhan kalut.
"Ta..tapi –" ucapan sekretaris Jung terpotong.
"Tidaak! Adikku tidak mungkin meninggal. Appa.. Umma, katakan padaku kalau Sehunnie hanya belum di temukan. Lagipula belum ada buktinya kan." Karena kelelahan, akhirnya Luhan pun ambruk kelantai. Sekretaris Jung hanya bisa memandang sendu kearah Luhan. Dalam hati, sekretaris Jung bertekat akan merawat dan membesarkan Luhan. Walau bagaimanapun, Luhan adalah pewaris tunggal keluarga Oh yang masih hidup. Dia akan mengasuh Luhan sebagai tanda penyesalannya terhadap Tuan Oh –atasannya-
Sejenak sekretaris Jung berfikir, jika Luhan dibiarkan menetap disini pasti dia akan merasa sangat terpukul sehingga akan berdampak pada kesehatannya. Untuk sekarang ini, kesehatan Luhan lah yang harus diutamakan. Ingat, Luhan adalah pewaris tunggal.
Akhirnya sekretaris Jung pun mengambil keputusan. "Siapkan pesawat pribadi! Kita akan ke Amerika sekarang juga!" perintah Sekretaris Jung.
"Baiklah!"
.
.
Ketika beberapa pengawal yang dikirimkan oleh sekretaris Jung datang menjemput Luhan yang tengah tidak sadarkan diri diatas kursi roda, dari arah yang berlawanan namja tinggi dan seorang namja paruh baya datang dengan wajah sangat panik. Di gendongannya terdapat seorang bocah kecil yang seluruh tubuhnya hapir penuh ditutupi darah.
"Ku mohon bertahanlah!" lapalnya. Wajah bocah kecil itu sudah sangat pucat –seperti tidak ada tanda tanda kehidupan-
"Kris, cepat bawa bocah ini keruang operasi! Kita harus melaksanakan operasi saat ini juga." Perintah Tuan Wu tak kalah paniknya.
"Nde, Dad!"
Kris sudah sampai di dalam ruang operasi. Ketika Kris akan membaringkan bocah kecil itu di atas banker, tiba-tiba terdengarkah suara benda terjatuh dari pergelangan tangan bocah tersebut keatas kelantai. kris yang merasa penasaran pun mengambil benda itu dan memperhatikannya sejenak.
"Gelang? Sepertinya gelang ini milik bocah malang ini." batin Kris. Unik –itulah kata pertama setelah beberapa detik Kris memperhatikan gelang itu-
Kris pun membolak-balikkan gelang tersebut, dan matanya terpaku melihat ukiran yang terdapat pada gelang itu. "S-E-H-U-N!"
.
.
TBC
How?
Ada yang bisa nebak kelajutannya bakal gimana ini? *ketawa setan* ehh?
Cepet kan author lanjutnya? Iya kan?
Naaah, itu Kris udah nongol. Mian..mian.. si kamjong belum bisa dimasukin. Tapi next chap deh *janji*
Eeh itu si rusa cantik di bawa ke Amerika, ada yang mau ikut? *becanda*
Maaf belum sempat balas ripiu kalian, tapi aku selalu baca loh. So, jangan kapok kapok buat ripiu yaak.
Okee okee saatnya kita berpisah, sampai jumpaaaaaah *lambai lambai*
REVIEW = NEXT!
