MIRACLE IN DECEMBER

[SEQUEL 'MISTAKE']

Author: ParkByun92

Cast: ChanYeol, BaekHyun, and OCs.

Disclaimer: All the cast excluded OCs belong to their management, fans, and families

YAOI!

Enjoy Readers!

SORRY FOR TYPO!

Summary: Kisah ini menceritakan penyesalan terdalam Park ChanYeol sepanjang hidupnya. Park ChanYeol telah kehilangan-nya. Dia yang selalu dihati dan fikiran Park ChanYeol. Akankah dia kembali pada ChanYeol? Ataukah, selamanya ChanYeol hanya busa berangan-angan kembali padanya.

*Miracle In December*

Mencoba menemukanmu, kau yang tidak dapat kulihat lagi.
Mencoba mendegarmu, kau yang tidak dapat kudengar lagi.

.
Dan saat aku melihat semuanya, mendegar semuanya.
Karena setelah kau beranjak pergi, aku mendapatkan satu kekuatan baru.

*Miracle In December*

ChanYeol berjalan dengan angkuh dikoridor kantor. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, dan ini waktunya ChanYeol kembali berkutat dengan pekerjaannya. Disetiap ChanYeol melewati beberapa karyawan yang membungkuk hormat, Namja itu mengabaikannya. Inilah kepribadian ChanYeol yang baru. Tidak pernah memperdulikan sekitarnya.

ChanYeol memasuki ruangannya dan dikejutkan dengan keberadaan Kai yang duduk di sofa ruangannya. Namja tampan itu hanya memutar bola matanya malas.

"Wohoo.. akhirnya direktur Park datang juga."

ChanYeol hanya diam dan berjalan ke kursi kebesarannya.

"Ck, sejak kapan seorang Park ChanYeol membawa bekal makanan ke kantor?."

ChanYeol hanya melirik Kai sebentar lalu menyalakan laptopnya. ChanYeol memang membawa bekal makanan, itu semua paksaan dari ibunya. ChanYeol fikir setelah ia meninggalkan ibunya ke kamar, ibunya akan pulang tapi tidak, sang ibu ternyata menginap di rumahnya. Dan pada sarapan tadi sang ibu memaksa ChanYeol membawa bekal untuk makan siang. Ini bermula disaat sang ibu melihat wajah pucat ChanYeol.

Karena merasa tidak diperdulikan, Kai menghampiri meja ChanYeol lalu duduk berhadapan dengan kursi ChanYeol.

"Hey aku punya berita bagus, mau dengar?."

ChanYeol yang sedari tadi fokus dengan layar laptopnya akhirnya mendongakkan kepala menatap Kai. Kai tertawa. Jadi semudah itu merusak fokus direktur Park.

"Berhenti tertawa Kai! Cepat apa yang ingin kau katakan lalu pergi dari ruanganku!."

"Wow.. santai Park. Aku hanya ingin bilang jika penjualan mobil terbaru kita akan diselenggarakan dalam waktu dekat."

ChanYeol kembali memutar bola matanya. "Kau hanya mengatakan itu? Ya tuhan!."

"Memangnya apa lagi? Kau berharap aku memberitahukan berita tentang Baek–"

"Kembali ke ruanganmu!." Bentak ChanYeol.

Kai mendengus kesal. Kai bangkit dari kursinya lalu berlalu dari ruangan ChanYeol. Setelah menutup pintu ruangan Kai, Kai menyeringai. Park ChanYeol yang bodoh. Bagaimana mungkin ChanYeol belum menemukan BaekHyun, Kai saja sudah tau jika BaekHyun sudah kembali.

"Kau akan bertemu dengannya Park, cepat atau lambat."

*Miracle In December*

BaekHyun tersenyum saat melihat Aleyna makan dengan lahap. Meskipun hanya masakan biasa, Aleyna tetap menyukainya. Aleyna memang doyan makan, gadis kecil itu tidak pernah pilih-pilih makanan. Apapun yang dimasak BaekHyun, pasti Aleyna suka. Terkecuali sayur, ketidaksukaan Aleyna pada sayur berbanding terbalik dengan BaekHyun. BaekHyun menyukai sayur dengan amat sangat.

Mungkin Aleyna meniru ayahnya. Semakin Aleyna beranjak dewasa, 70% gen ayahnya mulai terlihat didiri Aleyna. BaekHyun tidak marah, karena semua ini kehendak Tuhan. BaekHyun yakin Tuhan mempunyai rencana lain untuk hidupnya. BaekHyun hanya meminta, jangan pisahkan BaekHyun dengan Aleyna. Hanya itu.

"Kenapa sayurnya tidak di makan?." Tanya BaekHyun saat melihat Aleyna menyisihkan kacang polong dipinggir piring.

"Aleyna tidak suka, Mama."

"Kenapa tidak suka? Sayur sangat bagus untuk Aleyna. Kalau Aley makan sayur, tubuh Aleyna akan semakin kuat."

Aleyna menggeleng tidak mau. BaekHyun menghembuskan nafasnya, BaekHyun tidak bisa memaksa Aleyna karena seperti anak kecil pada umumnya, Aleyna akan selalu menangis jika dipaksa.

5 menit kemudian BaekHyun melihat piring Aleyna bersih tak tersisa. Mungkin Aleyna memang lapar, tadi pagi gadis kecil ini tidak sarapan dan sekarang sudah pukul 1 siang. Setelah sampai di apartment yang baru BaekHyun maupun Aleyna kembali beristirahat hingga pukul 12 siang. BaekHyun tersenyum saat Aleyna meminum susunya hingga tak bersisa. Tidak salah jika Aleyna menjadi gadis kecil yang menggemaskan dengan kedua pipi gembil nya.

"Sudah Mama.."

"Aigo.. gadis kecil Mama pintar sekali."

Aleyna tersenyum memperlihatkan gigi mungilnya.

"Aleyna duduk yang disini dulu, nanti kalau langsung main Aley bisa muntah."

Aleyna mengangguk patuh. BaekHyun tersenyum lalu membersihkan meja makan dan juga mencuci piring kotor. Didepan westafel, BaekHyun menolehkan wajahnya pada Aleyna yang hanya duduk sambil menggerakkan kedua kakinya, BaekHyun terkekeh geli. Aleyna begitu menggemaskan.

"Mama.." Panggil Aleyna sambil menatap ibunya.

"Ya sayang?."

"Aleyna sudah boleh bermain?."

BaekHyun mengangguk. Aleyna berteriak senang, dengan cepat gadis kecil itu turun dari kursinya lalu berlari menuju ruang tengah. BaekHyun tersenyum melihat kelakuan Aleyna yang begitu hiperaktif. Setelah selesai mencuci piring, BaekHyun menghampiri Aleyna yang bermain lego. BaekHyun duduk di samping Aleyna dan melihat anaknya begitu serius menyusun lego.

"Mama.." Panggil Aleyna lagi.

"Ada apa sayang?."

"Kapan Aleyna busa bertemu Halabeoji dan Halmoeoni?."

BaekHyun sempat lupa dengan itu.

"Mmm.. nanti sore? Nanti sore kita akan bertemu Halabeoji dan Halmeoni."

"Jinjjayo?."

"Iya sayang."

Aleyna merangkak menuju BaekHyun dan duduk dipangkuan ibunya. BaekHyun mendekap Aleyna erat dan sekekali mencium kening Aleyna. BaekHyun begitu suka saat Aleyna dalam keadaan manja, Aleyna begitu menggemaskan.

"Mama, apa Halmeoni sangat cantik? Halmeoni pasti sangat cantik karena Mama cantik, Aleyna juga cantik."

BaekHyun tertawa dan menghadiahi Aleyna ciuman di pipi kanannya.

"Tentu saja Halmeoni cantik, kalau Halmeoni tidak cantik mana mungkin gadis kecil Mama ini sangat cantik."

Aleyna terkikik geli saat BaekHyun menciumi wajah Aleyna terus menerus. Suara tawa Aleyna begitu merdu di telinga BaekHyun, dan BaekHyun harap Aleyna selalu tertawa. Karena tidak ingin membuat Aleyna mengeluarkan isi perutnya, BaekHyun menyudahi memberikan ciuman pada gadis kecilnya. Aleyna masih tertawa karena menahan geli, BaekHyun tersenyum melihat tawa Aleyna. Meskipun hanya bersama BaekHyun, Aleyna sudah bahagia. Meskipun BaekHyun tau jika Aleyna juga perlu kasih sayang dari ayahnya, tapi untuk sekarang kehadiran BaekHyun cukup untuk Aleyna.

"Mama.. kalau Halmeoni cantik, apa Halabeoji tampan?." Tanya Aleyna lagi sambil menyamankan tubuhnya di pangkuan BaekHyun.

"Tentu saja. Lihat, Mama tampan kan?."

Aleyna menggeleng tidak setuju.

"Mama tidak tampan, Mama cantik. Mama sangat cantik."

BaekHyun cemberut karena perkataan Aleyna. Gadis kecil itu tersenyum lalu mengecup bibir ibunya. Seketika wajah cemberut BaekHyun digantikan dengan senyuman manisnya. Sampai kapanpun BaekHyun tidak bisa marah pada Aleyna.

"Kalau Halabeoji tampan, apa Daddy juga tampan?." Tubuh BaekHyun menegang. Haruskah pertanyaan ini ia jawab?

"Mama ayo jawab, apa Daddy tampan? Aleyna tidak tau bagaimana wajah Daddy."

BaekHyun tersenyum. "Daddy sangat tampan, wajah Daddy sangat persis Aleyna."

"Jinjja?."

"Ya sayang. Aleyna sangat persis seperti Daddy. Mata Aleyna, hidung Aleyna, bibir Aleyna, rambut Aleyna, semuanya mirip seperti Daddy."

"Apa Mama punya foto Daddy? Aleyna ingin tau Daddy."

BaekHyun terkejut bukan main. Tidak tidak ini berlebihan jika harus memberitahu Aleyna bagaimana wajah ayahnya. BaekHyun masih ingat perkataan Kris jika Namja itu terkenal di Korea Selatan, dan jika BaekHyun memberitahu Aleyna, Aleyna bisa saja mengenali ayahnya dengan mudah.

"Sayang sekali Mama tidak mempunyai foto Daddy. Daddy tidak suka di foto."

"Kenapa seperti itu? Aleyna senang di foto."

"Mama tidak tau kenapa Daddy tidak suka difoto."

Wajah Aleyna menjadi cemberut.

"Hey kenapa wajahnya jelek seperti itu? Ayo senyum, anak Mama tidak boleh cemberut seperti itu."

Aleyna yang melihat wajah sedih BaekHyun seketika mengembangkan senyumannya. Aleyna tidak ingin ibunya bersedih, Aleyna pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuat BaekHyun bersedih.

"Aleyna cantik jika tersenyum. Kajja kita siap-siap bertemu Halabeoji dan Halmeoni."

Senyum Aleyna mengembang lalu berlari menuju kamar. BaekHyun menghembuskan nafasnya lelah. Sejak Aleyna tau jika gadis kecil itu masih mempunyai ayah, Aleyna lebih sering membahas ayahnya. Dan pada saat itu pula dada BaekHyun terasa sesak. BaekHyun terlanjur banyak berbohong pada anaknya.

"Maafkan Mama sayang.. Mama harus melakukan ini untuk kebahagianmu."

*Miracle In December*

BaekHyun mendongakkan kepalanya menatap gapura tempat ia berdiri. Sambil menggendong Aleyna, BaekHyun memasuki gapura itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, meskipun begitu sinar mentari masih menyinari kota Seoul.

Aleyna yang merasa asing dengan tempat ini memeluk leher BaekHyun dengan erat. Belum lagi tempat yang didatangi BaekHyun sangat sunyi dan membuat Aleyna takut.

"Mama kita akan kemana?." Tanya Aleyna sambil memandang BaekHyun.

"Kita akan bertemu Halabeoji dan Halmeoni sayang."

"Halabeoji dan Halmeoni tinggal disini?."

BaekHyun mengangguk. Tak lama kemudian BaekHyun berdiri didepan 2 nisan yang bertulisan nama ayah dan ibunya. Ya, BaekHyun datang ke pemakaman kedua orang tuanya. Ia sudah terlalu lama tidak datang kesini. Betapa BaekHyun merindukan kedua orang tuanya.

"Appa, Eomma, BaekHyun datang.."

Aleyna menatap 2 nisan itu bingung, bingung karena ibunya berbicara dengan 2 batu didepannya.

BaekHyun menurunkan Aleyna dan ia duduk dengan melipat kedua lututnya. BaekHyun membungkukkan tubuhnya dan memberi hormat kepada kedua orang tuanya. Aleyna yang berjongkok disamping BaekHyun hanya melihat apa yang sang ibu lakukan. Aleyna masih terlalu asing dengan semua ini.

Setelah memberi hormat, BaekHyun menegakkan tubuhnya. Kedua mata Namja itu berkaca-kaca, sudah 3 tahun berlalu dan baru sekarang BaekHyun datang ke makam kedua orang tuanya.

"Appa, Eomma, bagaimana kabar kalian? Apa kalian bahagia?."

BaekHyun tersenyum dengan air mata yang menetes dari kedua matanya. Aleyna yang melihat sang ibu menangis, mendekati BaekHyun dan duduk dipangkuan BaekHyun. BaekHyun menunduk melihat mata Aleyna yang berkaca-kaca, mungkin sebentar lagi gadis kecil itu menangis.

BaekHyun mengelus rambut Aleyna dan kembali menatap nisan kedua orang tuanya.

"Maafkan BaekHyun, Eomma, Appa. BaekHyun meninggalkan kalian selama 3 tahun ini. Maafkan BaekHyun juga karena tidak bisa menjaga diri dengan baik."

"Tapi Eomma dan Appa tenang saja, BaekHyun sudah bahagia sekarang. Terima kasih Eomma, Appa, kalian telah memberikan BaekHyun malaikat kecil yang membuat BaekHyun mempunyai alasan untuk hidup. Gomawoyo."

"BaekHyun tidak tau jika BaekHyun Namja istimewa yang memiliki rahim, BaekHyun memang berbeda tapi perbedaan itu tidak membuat BaekHyun menganggap ini sebuah kekurangan. BaekHyun anggap ini sebuah kelebihan. Gomawo Eomma."

BaekHyun menunduk menatap Aleyna lalu tersenyum.

"Dan sekarang lihat, gadis kecil BaekHyun sudah sebesar ini. Dia bernama Aleyna. Aleyna adalah kado tuhan untukku."

"Ayo sayang ucapkan salam pada Halabeoji dan Halmeoni." Pinta BaekHyun dan membantu Aleyna untuk berdiri.

Aleyna menundukkan tubuhnya memberi hormat.

"Annyeong haseyo Halabeoji Halmeoni, Aleyna Wu-imnida."

BaekHyun tersenyum lalu mengusap surai Aleyna. Dan setelah itu Aleyna kembali duduk dipangkuan BaekHyun. BaekHyun terdiam memandang makam kedua orang tuanya. Ia ingin bercerita banyak, tapi BaekHyun takut jika kedua orang tuanya bersedih.

"Eomma dan Appa tenang saja, mulai sekarang BaekHyun akan sering menjenguk kalian. Eomma, Appa, BaekHyun merindukan kalian."

Air mata BaekHyun kembali menetes. Entah kenapa rasanya sesak sekali, BaekHyun ingin menumpahkan semuanya disini, dimakam kedua orang tuanya.

Merasakan pergerakan Aleyna, BaekHyun menatap anaknya yang berdiri dan menghadap kearahnya. Aleyna mengulurkan kedua tangannya untuk menghapus air mata BaekHyun, perlakuan sederhana seperti ini yang membuat BaekHyun bangga pada anaknya. BaekHyun sangat beruntung memiliki Aleyna.

"Mama jangan menangis, Aley tidak suka melihat Mama menangis. Uljima Mama."

BaekHyun memejamkan matanya saat jari halus Aleyna menyentuh pipinya. BaekHyun tersenyum lalu mendekap Aleyna dengan erat. BaekHyun tidak mau kehilangan Aleyna. Aleyna adalah semangat hidup BaekHyun.

"Aleyna harus berjanji pada Mama, Aley jangan tinggalkan Mama. Aley harus bersama Mama sampai kapanpun. I love you Aleyna."

BaekHyun merasakan Aleyna mengangguk di bahunya. "Aleyna janji tidak akan meninggalkan Mama. I love you too Mama."

BaekHyun melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya sendiri. BaekHyun tidak ingin Aleyna bersedih melihat air matanya. Dan Aleyna mencoba menghibur BaekHyun dengan cara menciumi wajah sang ibu hingga BaekHyun terkekeh geli. BaekHyun maupun Aleyna tertawa bersama. Rasa sesak di dada BaekHyun perlahan-lahan mulai menghilang, ini semua karena Aleyna yang membuat BaekHyun tenang.

"Mama, kenapa Halabeoji dan Halmeoni tinggal didalam batu? Kasihan, batu nya kan berat."

BaekHyun tertawa mendengar pertanyaan Aleyna.

"Halabeoji dan Halmeoni tidak tinggal didalam batu sayang, Halabeoji dan Halmeoni sudah bahagia tinggal bersama Tuhan."

"Tinggal bersama Tuhan? Kenapa Halabeoji dan Halmeoni tinggal bersama tuhan? Kenapa tidak tinggal dengan Mama dan Aleyna?."

"Karena Tuhan menyayangi mereka, dan tempat ini tempat terakhir mereka. Halabeoji dan Halmeoni ada didalam tanah sana."

Aleyna sebenarnya belum terlalu mengerti, Aleyna hanya diam mencoba mencerna perkataan sang ibu. BaekHyun hanya tersenyum sambil mengelus surai Aleyna.

"Kalau sudah dewasa nanti, Aleyna pasti mengerti." Aleyna hanya mengangguk. BaekHyun bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat lagi.

"Eomma, Appa, BaekHyun pulang dulu. Besok BaekHyun akan kembali bersama Aleyna. Sayang ucapkan selamat tinggal pada Halabeoji dan Halmeoni."

"Halabeoji dan Halmeoni, Aleyna pulang dulu ya.. besok Aleyna kembali lagi. Aleyna janji."

BaekHyun kembali menggendong Aleyna dan meninggalkan pemakaman kedua orang tuanya. Bertepatan itu terlihat mobil hitam keluaran terbaru terparkir di perkarangan pemakaman. BaekHyun berjalan menuju taksi yang terparkir dibelakang mobil itu. Dan setelah BaekHyun duduk dengan nyaman, taksi itu meninggalkan area pemakaman.

*Miracle In December*

ChanYeol memakirkan mobil mewahnya diperkarangan makam. Sore ini ChanYeol ingin menjenguk kedua orang tua BaekHyun. Sudah 3 hari ia tidak datang, biasanya ChanYeol akan datang setiap hari dan ia berharap saat itu ia menemukan BaekHyun berada disana. Tapi nihil, sudah 3 tahun ChanYeol tidak menemukan BaekHyun.

Disaat ChanYeol ingin keluar dari mobilnya, ChanYeol merasakan getaran ponsel di saku celananya. ChanYeol segera mengecek ponselnya dan terdapat pesan dari salah satu pesuruhnya.

ChanYeol mendesah kecewa saat pesuruhnya mengatakan jika Byun BaekHyun belum juga ditemukan. ChanYeol menyimpan ponselnya lalu keluar dari mobilnya. Bertepatan dengan itu sebuah taksi melaju meninggalkan area pemakaman. ChanYeol hanya meliriknya sebentar lalu masuk kedalam pemakaman.

Suasana pemakaman begitu sepi, tanpa memperdulilkan sekitar iris ChanYeol menatap nisan kedua orang tua BaekHyun. ChanYeol sudah terlalu hafal.

Setelah sampai di makam kedua orang tua BaekHyun, ChanYeol menundukkan kepalanya memberi hormat dan setelah itu kembali menegakkan tubuhnya.

ChanYeol menatap nanar kedua makam orang tua BaekHyun. ChanYeol selalu mengeluarkan keluh kesahnya disini. Meskipun ia seperti orang gila berbicara sendiri, tapi ChanYeol akui jika ia merasa lebih baik setelah bercerita dengan kedua orang tua BaekHyun. ChanYeol sendiri tidak tau kenapa bisa begitu.

"Appanim, Eommanim, ChanYeol datang lagi."

"Maaf sudah 3 hari ini tidak datang, entah kenapa aku merasa penyakit ini semakin lama semakin membuatku tersiksa. Apa yang harus aku lakukan Appanim, Eommanim?."

Kedua mata ChanYeol berkaca-kaca. Asal kalian tau saja, ChanYeol tidak bisa menahan air matanya saat berhadapan dengan kedua orang tua BaekHyun.

"Aku mohon Appanim, Eommanim, berikan petunjuk dimana BaekHyun. Aku tidak tau harus bagaimana lagi mencari BaekHyun. Rasa bersalah ini.. sungguh menyiksaku. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku tau, kesalahanku sudah sangat fatal. Aku telah menyianyiakan anak kalian, tapi… saat itu aku benar-benar buta soal cinta. Mianhaeyo Appanim, Eommanim."

"Biarkan aku bertemu BaekHyun.. aku mohon." Ucap ChanYeol sambil menundukkan kepalanya. Tanpa Namja itu sadari air mata yang sedari tadi ia tahan, menetes begitu saja. ChanYeol sebenarnya sangat sulit untuk menangis, tapi jika itu tentang BaekHyun, hancur sudah pertahanannya.

Sudah 5 menit berlalu dan bahu ChanYeol masih bergetar hebat. Dada ChanYeol terlalu sesak untuk menyimpan rasa sakit itu sendiri.

ChanYeol begitu merindukan BaekHyun. Perilaku Namja itu, suara Namja itu, semuanya pada diri BaekHyun, ChanYeol merindukannya. Rasanya ChanYeol ingin mati saja menyimpan kerinduan ini seorang diri. Anggap saja seorang Park ChanYeol menjadi Namja melankolis, tapi semua itu benar apa adanya.

Tapi ChanYeol yakin ini semua belum berakhir. BaekHyun masih hidup dan akan kembali ke kehidupan ChanYeol, ChanYeol sangat yakin itu. Mungkin ChanYeol masih sangat terpukul akan kepergian BaekHyun yang mendadak. Disaat ChanYeol mencoba membuka hati, BaekHyun pergi meninggalkannya. Coba bayangankan bagaimana hati ChanYeol saat itu, hatinya sangat hancur. Disaat ia percaya pada BaekHyun jika Namja itu yang akan membuat ChanYeol berubah, tapi BaekHyun lebih dahulu menyerah. Atau memang ChanYeol sudah keterlaluan?

"Appanim, Eommanim, sekali lagi maafkan aku. Aku memang bukan Namja yang baik untuk anak kalian, tapi ChanYeol berjanji akan memperbaiki itu semua jika BaekHyun sudah ditemukan. ChanYeol janji."

Dan setelah itu ChanYeol menundukkan tubuhnya memberi hormat. ChanYeol menghapus air matanya sambil menghela nafas panjang. Saatnya Park ChanYeol kembali sibuk dengan pekerjaannya.

ChanYeol berjalan meninggalkan area pemakaman menuju mobilnya. Rasa sesak didadanya lumayan membaik, inilah kekuatan Park ChanYeol dalam hidupnya. Dengan menceritakan keluh kesahnya di hadapan orang tua BaekHyun. ChanYeol memang tidak mempunyai teman dekat untuk sekedar bercerita, bahkan ChanYeol tidak sepenuhnya percaya dengan kedua orang tuanya. ChanYeol hanya tidak ingin kedua orang tuanya menatapnya kasihan.

Setelah masuk kedalam mobilnya, ChanYeol mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak pulang, tapi kembali ke kantor. Yeah, begitulah kehidupan ChanYeol selama 3 tahun ini.

*Miracle In December*

Keesokan harinya, terlihat BaekHyun dan Aleyna yang berjalan di trotoar daerah Gangnam dengan Aleyna menggenggam erat tangan BaekHyun. Aleyna tidak tau kemana sang ibu membawanya. Setelah sarapan tadi BaekHyun memberitahu Aleyna jika mereka akan pergi ke suatu tempat.

"Apa kita akan bertemu Halabeoji dan Halmeoni, Mama?."

BaekHyun menundukkan kepalanya menatap Aleyna lalu menggeleng.

"Kita akan bertemu Halabeoji dan Halmeoni nanti sore."

"Lalu kita akan kemana?."

BaekHyun tersenyum lalu memberhentikan langkahnya saat sampai disuatu tempat. BaekHyun berjongkok menyamai tinggi Aleyna, lalu mengusap kedua bahu Aleyna.

"Mama ingin mengajak Aleyna ke sekolah baru."

Aleyna memincingkan kedua matanya.

"Sekolah baru?." Tanya Aleyna tidak percaya.

BaekHyun mengangguk. "Iya sekolah baru. Aleyna ingin bermain dengan teman-teman baru kan?."

Aleyna mengangguk ragu. Aleyna ingin mempunyai teman, tapi Aleyna takut. Aleyna tidak ingin sang ibu meninggalkannya lagi seperti di Amerika.

"Jja kita masuk, Mama akan memperkenalkan Aleyna dengan Songsaenim baru."

BaekHyun bangkit dan kembali menggandeng Aleyna. Aleyna mendongakkan kepalanya menatap gerbang putih didepannya. Seakan tau ketakutan yang dialami Aleyna, BaekHyun tersenyum lalu menggendong Aleyna. Aleyna memeluk leher BaekHyun begitu erat, dan BaekHyun memberikan ciuman penenang untuk Aleyna.

"Kenapa sayang? Aley tidak ingin sekolah?." Aleyna menggelengkan kepalanya dengan bibir melengkung ke bawah.

"Kenapa Aley tidak ingin sekolah? Disana Aley banyak temannya, Aleyna senangkan banyak teman?."

"Aleyna tidak mau sekolah, Aley ingin bersama Mama."

BaekHyun menghembuskan nafasnya lemah. BaekHyun sudah memperkirakan jika Aleyna tidak ingin tinggal di penitipan anak ketika BaekHyun kerja nanti. Padahal hari ini BaekHyun hanya ingin mengenalkan Aleyna dengan tempat barunya dan pengasuh yang akan mengasuh Aleyna nantinya. Tapi jika begini, BaekHyun harus membujuk Aleyna untuk mau tinggal dipenitipan anak barunya.

"Tapi Mama harus bekerja sayang, Mama tidak bisa membawa Aley ke tempat kerja Mama."

"Aley tidak mau! Aleyna ingin bersama Mama.. hiks.. hiks.. Mama.."

BaekHyun mengusap punggung Aleyna disaat Aleyna menangis di bahunya. Jika Aleyna menangis seperti ini, BaekHyun tidak bisa memaksa. BaekHyun melangkahkan kakinya menjauhi tempat penitipan anak, dan tujuan BaekHyun selanjutnya adalah supermarket. Kemarin BaekHyun tidak sempat belanja kebutuhannya bersama Aleyna.

BaekHyun berjalan sambil mengusap lembut punggung Aleyna. Aleyna belum juga memberhentikan tangisnya, Aleyna takut jika sang ibu akan meninggalkannya lagi. BaekHyun mengecup sayang pipi Aleyna yang basah karena air mata.

"Hey anak Mama tidak boleh menangis, Mama tidak akan meninggalkan Aleyna. Lihat, Mama masih disinikan bersama Aley."

Aleyna menegakkan tubuhnya menatap sang ibu.

"Aleyna tidak ingin sekolah Mama." Ucap Aleyna dengan tangisnya.

"Iya iya Aley tidak sekolah. Sudah jangan menangis, mana senyumnya untuk Mama?."

Meskipun air mata Aleyna masih menetes, gadis kecil itu memberikan senyumannya. BaekHyun ikut tersenyum lalu menghapus air mata Aleyna. Aleyna kembali terkulai di bahu ibunya.

Sesampainya di supermarket, BaekHyun mengambil troli dan mendudukan Aleyna di kursi khusus anak. Aleyna terlihat senang saat BaekHyun mendorong troli itu dan memulai berkeliling mencari bahan makanan.

"Wah.. Nutella! Mama, Aleyna ingin nutella!." Teriak Aleyna sambil menunjuk selai coklat yang terpajang apik di rak. BaekHyun mengambil selai itu dan memberikannya pada Aleyna. Aleyna mengambilnya dengan antusias, dan setelah itu menaruhnya di keranjang.

BaekHyun kembali mendorong trolinya. Mereka berdua berkeliling supermarket dengan suara tawa dan membuat beberapa pengunjung lain menatap keduanya geli. Dan disaat BaekHyun sedang memilih daging, Aleyna merengek minta turun. Karena tidak ingin Aleyna menangis, BaekHyun menggendong Aleyna lalu menurunkannya.

"Mama, Aleyna ingin snack."

"Iya sebentar sayang."

Aleyna merengut lucu.

"Aleyna sendiri saja, Aley janji akan cepat kembali."

BaekHyun menatap Aleyna yang sudah berlari ke rak makanan ringan. BaekHyun hanya tersenyum lalu melanjutkan memilih daging, tapi sekekali BaekHyun memandang Aleyna. BaekHyun terkekeh saat melihat wajah Aleyna begitu berbinar menatap makanan ringan yang tersusun rapi di rak. Anaknya memang selalu bisa membuatnya gemas.

Sedangkan itu Aleyna yang berada di rak makanan ringan segera mengambil snack yang ia mau. Gadis kecil itu sudah berjanji pada ibunya untuk kembali cepat. Tapi karena tubuh Aleyna yang begitu mungil, gadis kecil itu melengkungan bibirnya saat tidak berhasil mengambil snack yang ia mau. Makanan ringan itu berada di rak ke-3 dari bawah.

"Kau ingin ini?." Tanya seseorang pada Aleyna.

Aleyna mendongakkan kepalanya dan menatap Namja tinggi yang bertanya padanya.

Aleyna mengangguk ragu. BaekHyun pernah berkata jika jangan berbicara pada orang asing, tapi kali ini Aleyna bertemu dengan orang asing. Namja tinggi itu mengambil snack itu lalu memberikannya pada Aleyna. Aleyna segera mengambil snack itu dengan mata berbinar.

"Gomawo Ahjussi."

Namja tinggi itu mengangguk dengan senyumannya. Aleyna membalikan tubuhnya berjalan menuju BaekHyun berada.

"Mama…." Panggil Aleyna.

"Eoh, sudah mengambil snack nya?."

Aleyna mengangguk.

"Mama, tadi Aleyna bertemu dengan Ahjussi tampan. Ahjussi itu membantu Aleyna mengambil ini." Ucap Aleyna sambil menyodorkan snack di tangannya.

BaekHyun tersenyum. "Lalu Aleyna mengucapkan terima kasih, tidak?."

"Aleyna mengucapkan terima kasih tadi. Mama selalu berkata jika ada seseorang yang membantu kita, kita selalu mengucapkan terima kasih."

BaekHyun berjongkok menyamai tinggi Aleyna. BaekHyun mencondongkan wajahnya dan mengecup pipi Aleyna.

"Anak Mama memang pintar."

Aleyna terkekeh. BaekHyun bangkit lalu menggandeng Aleyna dan juga mendorong troli secara bersamaan.

"Kajja kita pulang."

Sesampainya di kasir, BaekHyun harus mengantri beberapa orang. BaekHyun menundukkan kepalanya menatap Aleyna yang memeluk kakinya sambil menatap setiap sudut supermarket, BaekHyun tidak tau Aleyna sedang mencari apa, BaekHyun mengelus rambut Aleyna begitu lembut.

"Dasar pemalas, aku hanya menyuruhnya mengambil beberapa gula saja sudah menggerutu seperti itu!."

BaekHyun menolehkan kepalanya ke samping saat mendengar gerutuan seseorang, dan bertepatan dengan itu seseorang yang BaekHyun lihat menatapnya juga. BaekHyun tersenyum manis dan dibalas dengan senyum keibuan Yeoja paru baya itu.

BaekHyun kembali menatap kasir yang belum juga bergerak maju. Sedangkan Yeoja paru baya itu menundukkan kepalanya menatap gadis kecil yang memeluk kaki Namja yang tersenyum manis kepadanya tadi.

"Aigo.. lucunya, apa ini anakmu Agasshi?."

Yeoja paru baya itu berjongkok menyamai tinggi Aleyna.

"Ne, ayo sayang perkenalkan diri."

Aleyna menunduk sebentar lalu tersenyum memperlihatkan gigi mungilnya. "Annyeong haseyo Aleyna-imnida."

Yeoja paru baya itu mengusap pipi Aleyna lembut, entah mengapa rasanya ia suka dengan gadis kecil ini, mungkin karena gadis kecil bernama Aleyna ini sangat lucu dan persis seperti anaknya.

"Namanya cantik sekali. Aleyna umur berapa sayang?."

Aleyna mendongakkan kepalanya meminta jawaban pada BaekHyun. BaekHyun tersenyum.

"Sebentar lagi Aleyna berulang tahun ke-3 tahun Ahjumma." Ucap BaekHyun sambil mengelus surai coklat paru baya itu tersenyum lalu bangkit.

"Aleyna sangat cantik. Hah! Andaikan aku punya cucu seperti Aleyna."

BaekHyun hanya tersenyum canggung. Yeoja paru baya itu menatap BaekHyun lalu mengelus lengan BaekHyun sebentar.

"Kau begitu beruntung memiliki Aleyna. Semoga kita bertemu lagi nak."

BaekHyun menundukkan kepalanya sebentar. "Ne, kalau begitu saya permisi. Sayang ucapkan selamat tinggal pada Ahjumma."

"Aleyna pulang dulu ya Ahjumma. Dadah~"

Aleyna melambaikan tangannya lalu berjalan mengikuti BaekHyun. Yeoja paru baya itu tersenyum lalu membalas lambaian tangan Aleyna. Bertepatan Aleyna dan BaekHyun telah berlalu dari supermarket, seorang Namja tinggi menghampiri Yeoja paru baya itu.

"Eomma sedang apa?." Tanyanya.

"Eomma bertemu dengan gadis kecil yang sangat menggemaskan dan cantik. Hah! Andaikan Eomma mempunyai cucu seperti gadis kecil tadi."

Namja tinggi itu hanya menatap datar sang ibu.

*Miracle In December*

BaekHyun tersenyum saat melihat Aleyna tertawa saat bermain pasir di taman dekat supermarket. Setelah pulang dari supermarket, BaekHyun dan Aleyna tidak sengaja lewat taman bermain. Karena Aleyna merengek ingin bermain sebentar, akhirnya BaekHyun memperbolehkan Aleyna bermain hingga makan siang.

BaekHyun yang duduk dibangku panjang taman menatap Aleyna didepan sana. Aleyna terlihat bahagia bermain dengan teman sebayanya. BaekHyun menghembuskan nafasnya pelan. Mungkin jika dilihat dari luar Aleyna terlihat bahagia, tapi BaekHyun tau hati Aleyna tidak. Aleyna terlihat kesepian. Seharusnya BaekHyun tetap disamping Aleyna setiap waktu, tapi karena tuntutan pekerjaan BaekHyun harus rela meninggalkan Aleyna di penitipan anak.

BaekHyun merasa berdosa pada anaknya sendiri. Setelah BaekHyun membohongi Aleyna tentang ayahnya, BaekHyun meninggalkan Aleyna hanya karena pekerjaan. Tapi jika BaekHyun meninggalkan pekerjaan itu, bagaimana ia busa menghidupi kebutuhan Aleyna. BaekHyun bekerja hanya untuk kebahagian Aleyna.

"Maafkan Mama sayang, Mama banyak berbohong padamu." Gumam BaekHyun.

BaekHyun memejamkan matanya sebentar lalu menghembuskan nafasnya kasar.

"Aleyna…" Panggil BaekHyun. Aleyna segera menolehkan wajahnya pada sang ibu. Aleyna membersihkan tangannya lalu berlari kearah BaekHyun. Setelah sampai didepan BaekHyun, Aleyna menerjang tubuh BaekHyun dengan pelukan.

"Sudah waktunya makan siang, kajja kita pulang."

Aleyna mengangguk. "Mama gendong."

BaekHyun terkekeh lalu menggendong Aleyna. BaekHyun berjalan menuju halte bus, dan tak seberapa lama bus tujuan apartment BaekHyun datang. BaekHyun mendudukkan Aleyna di bangku bus dekat jendela, sedangkan BaekHyun duduk disamping Aleyna. Selama perjalanan Aleyna menatap luar jendela.

Aleyna membulatkan matanya saat melihat sebuah iklan yang memperlihatkan Namja tampan disana.

"Mama lihat! Itu Ahjussi yang membantu Aleyna tadi."

BaekHyun terkejut dengan teriakan Aleyna. BaekHyun menatap luar jendela dan mencoba mencari objek yang ditunjuk Aleyna. BaekHyun mengerutkan keningnya saat tidak mengerti apa yang ditunjuk Aleyna. Di trotoar banyak sekali Namja yang berlalu lalang, dan BaekHyun tidak bisa memastikan siapa yang membantu Aleyna tadi.

"Mama lihat tidak tadi?." Tanya Aleyna saat BaekHyun tidak juga menyuarakan suaranya. BaekHyun menggeleng.

"Tadi Aleyna lihat Ahjussi tampan itu, tapi sekarang sudah hilang."

BaekHyun hanya tertawa sambil mengusap kepala Aleyna.

Tidak taukah kau Byun jika Aleyna selangkah lagi akan tau …

.

Dia..

.

.

Ayah Aleyna.

.

TBC

Selangkah lagi Aleyna tau siapa ayahnya wkwkwk, udah pada penasaran? Ikuti terus kelanjutan FF ini. Update malem-malem karena baru sempet update malem huhu :(:( dan Alhamdulillah banyak yang suka FF ini ;D;D;D

Author juga mau tanya nih, menurut kalian cerita ini ngebosenin enggak sih? Kok akunya ngerasa begitu? wkwkwk silahkan comment pendapat kalian *jempol*

Dan Author lihat ada yang comment minta flashback kenapa ChanBaek berpisah, kalau pengen tau dan bingung coba deh kalian baca FF 'Mistake', inikan sequel dari FF Mistake dan kalian pasti tau jika udah baca Mistake #promosijuga :D:D:p

Cukup sekian dari Author dan jangan lupa FOLLOW, FAVORITE, AND COMENT. Makasih juga yang udah FOLLOW, FAVORITE, AND COMENT. Thank You~