19th
Kim Namjoon x Kim Seokjin
T+ | AU/School | Romance | BL
.
.
.
Helaan nafas lelah, dengan kaki pajangnya yang terasa pegal, terutama pinggangnya yang terasa encok karena harus duduk lalu bangun, lalu duduk kembali, kemudian bagun lebih selama kurang lebih satu jam.
Namjoon bisa saja memaki keterlambatan seseorang yang tengah ia tunggu di hari berharganya ini ; hari kelulusannya di sekolah dengan pengumuman universitas yang sebentar lagi akan menjadi tempatnya belajar juga berpacaran.
Rasanya geli, sebuah kekehan atau tawa selalu Namjoon dengar sendiri dari dirinya bila membayangkan Seokjin. Si manis yang sudah resmi menjadi kekasihnya dari setahun yang lalu. Karena sebentar lagi mereka akan satu universitas, dengan itu Namjoon bisa bebas berpacaran disana.
Namjoon benar-benar beruntung karena pernyataan cintanya diatap sekolah tidak ditelok mentah-mentah, lagi pula siapa yang berani menolak dirinya kan. Apalagi si manis yang ternyata seniornya di sekolah yang selalu memberinya puisi yang begitu manis membuatnya terbang ke awang. Meski mereka sudah berpacaran, Namjoon terkadang masih saja menerima surat dari Seokjin, terlebih sekarang ini si manis mengambil dua dua gelar ; sasra dan tataboga.
Benar-benar idaman.
Masih saja Namjoon terasa didalam mimpi karena bisa menyandang sebagai kekasih Seokjin, kisah kasih mereka benar-benar menyenangkan dan penuh debaran. Sampai-sampai Namjoon tidak berani mencium Seokjin selain di pipi dan dahinya. Namjoon terlalu takut, benar-benar takut melangkah lebih jauh. Karena Seokjin benar-benar berharga untuknya.
Namun yang ini lain lagi, Seokjin sudah telat satu jam dan dia belum menunjukkan barang batang hidungnya sekalipun. Namjoon tentu kesal, tidak biasanya Seokjin seperti ini. Dah parahnya, Namjoon seperti kutu dilautan orang-orang yang merayakan hari kelulusan mereka, orangtua Namjoon tentu hadir, keduanya tengah berbincang asik dengan sesama orangtua sekarang ini.
.
.
.
Namjoon merogoh bungkus rokok yang diam membeku disaku jasnya, dasinya sudah longgar dengan dua kancing kemeja yang terbuka, kaki-kaki panjangnya tengah menaiki tangga menuju atap sekolah sambil bibir dan tangannya sibuk ; mengait batang rokok dibibir dan jari yang menyalakan korek. Bisa karena terbiasa itu adalah hal yang pas disaat seperti ini, Seokjin melarang keras dirinya merokok, maka setelah kelulusan Seokjin ia bisa bebas merokok sambil menyalakannya menuju atap, membunuh waktu sambil merokok itu adalah pilihan yang pas menurut Namjoon.
Tangan kokohnya yang bebas membuka perlahan pintu atap yang untungnya tidak dikunci, kepalanya sedikit menunduk saat memilih celah untuk membuang serpihan rokok yang telah dihisap. Namjoon menutup pintunya dengan kaki bersamaan dengan kepalanya yang terangkat sambil menghisap puntung rokoknya. Betapa Namjoon terkaget. Matanya melebar bersamaan dengan batang rokoknya yang terlepas dari bibir, menyentuh permukaan kasar atap.
"K-kau disini hyung?" Namjoon berucap gugup, tangannya reflek menggaruk lehernya yang tidak gatal sambil alas pantofelnya meremukkan batang rokok yang tergeletak tidak berdaya.
Seokjin hanya menggeleng sambil matanya menatap tajam Namjoon. "Jadi ini kelakuanmu setelah aku lulus sekolah?" Seokjin masih diam ditempatnya dengan dua lengan yang hilang dibalik punggung.
"Tida-"
"Tidak salah lagi iya?"
Jawaban telak Seokjin membuat Namjoon semakin salah tingkah, dirinya benar-benar tertangkap basah sekarang. Tidak bisa lagi mengelak didepan si manis kesayangannya yang bisa mengalihkannya dari rokok dengan menemaninya menghabiskan makan siang diatap sambil melahap masakan Seokjin.
"Kau tau hyung, aku benar-benar frustasi menunggumu hingga berjam-jam, dan ternyata kau disini." Namjoon mengacak rambutnya sendiri, sambil berjalan dengan beringas kearah kekasihnya. Namun dimana Namjoon mendekat, disitu pula Seokjin mundur, membuat Namjoon semakin tidak mengerti.
"Ayolah, apalagi ini? Kau tidak datang ke acaran kelulusanku. Menghindar menemui Appa dan Eomma juga temna-temanku. Lalu sekarang tiba-tiba kau disini tanpa menghubungiku. Dan sekarang apa? Kau menghindariku. Bagus sekali Jinseok."
Oh.
Seokjin membulatkan mata sambil mengulum senyum. Tuan kim tengah marah sekarang. Tidak tahukah ia bahwa disaat seperti ini, dirinya begitu maskulin. Membuat Seokjin ingin berlari dan berhambur ke pelukannya. Namun Seokjin harus menahannya sekarang. Ini belum saatnya.
"Jadi kau sekarang sudah bisa marah?"
"Tentu saja."
"Harusnya aku yang marah."
"Apa maksudmu hyung?"
"Kau lupa? Tentang janji kita untuk merayakan satu tahun hari jadi kita diatap sekolah. Tepat setelah kau mendapat kelulusanmu kemudian menemui orangtuamu dan teman-temanmu bersama. Sudah lupa tuan kim?"
God.
Namjoon mengucap doa yang ia hafal sambil matanya menatap Seokjin yang tengah balik menatapnya serius dengan raut wajah marah. Matilah Namjoon dengan segala sikap pelupanya. Kekasihnya kini marah.
Ia lupa hari ini hari jadinya.
Yang berarti.
12 september 2012.
Yang merupakan hari ulang tahunnya.
"Sudah mulai ingat sayang?"
Seokjin mengendurkan raut marahnya, menghadiahi Namjoon sebuah senyuman manis penenang hati. Seokjin sangat mengerti, kekasihnya terlampau antusias tanpa menyadari bahwa tanggal berapakah hari ini, atau untuk sekedar melihat memonya sendiri. Seokjin sangat memaklumi tentu saja.
"Maafkan aku."
Namjoon melangkah cepat takut Seokjin kembali menghindar, dengan terburu membawa Seokjin kedalam pelukannya. Rasa bersalah begitu kentara menyelubungi dirinya, fakta bahwa ia melupakan hari jadinya bersama Seokjin benar-benar menampar dirinya. Ia hanya takut, keparcayaan Seokjin akan mengendur karena kesalahan seperti ini.
"Maafkan aku bub."
"Tidak akan."
"Ayolah, aku memohon."
"Kau merengek bukan memohon."
"Ini permohonan ala Namjoon bub."
Namjoon melepas pelukannya untuk menangkup wajah Seokjin, meniti raut wajah Seokjin yang tengah tersenyum lebar hingga bibir tebalnya membentuk sebuah garis.
"Jangan seperti itu, aku bisa menciummu."
"Lakukan kalau kau-hmmp"
Belum sempat Seokjin melanjutkan ucapannya, Namjoon sudah mengukung bibirnya, memberinya sebuah ciuman acak. Ini adalah ciuman pertama untuk Seokjin dan ciuman yang kesekian untuk Namjoon. Meski begitu, ini terasa istimewa, Namjoon seperti melakukannya untuk yang pertama kali, begitu penuh kehati-hatian.
Istimewa.
Satu kata untuk mengungkapkan segalanya, segala moment yang mereka habiskan bersama. Semuanya terekam jelas. Tidak akan tua termakan waktu. Tidak hilang termakan usia. Mati namun tetap hidup dihati mereka.
"Aku tidak bisa menahannya. Maaf."
Namjoon melepaskan bibir Seokjin setelah lawan mainnya bergetar karena kekurangan nafas, bisa saja Namjoon tidak berhenti. Seokjin terlalu sayang untuk diabaikan.
"Menyebalkan!"
Yang tampan hanya terkekeh mendengar rengekan Seokjin diantara deru nafasnya yang masih memburu. Namun ada yang mengganjal, sedari tadi mereka berciuman, seperti ada yang menghalangi keduanya untuk berdekatan dengan rapat. Maka dari itu Namjoon merunduk dan melihat sebuah benda berbentuk persegi yang ada di genggaman tangan Seokjin, terbungkus rapih dengan selipan amplop berwarna pink. Namjoon tersenyum, lalu mengangkat wajah dan mendapati wajah Soekjin semakin memerah dengan bibir bengkak yang tidak kalah merah dengan wajahnya.
"Manis sekali."
"Berhenti menatapku! Ini memalukan."
"Kau belum mengucapkannya hyung."
Masih dengan nada jahil yang sama, Seokjin dipermainkan oleh Namjoon. Lelakinya benar-benar senang membuatnya malu seperti ini.
"Selamat ulang tahun. Tidak ada lagi yang lebih berharga dari tanggal, bulan, dan tahun dimana kau dilahirkan dengan keajaiban kita dipertemukan, ditempat ini, disekolah ini, dimana kita merajut kasih." Seokjin melihat senyum dibibir Namjoon, membuatnya ikut tersenyum. "Jadi, hiduplah untuk dirimu, duniamu, dan diriku."
Namjoon mengelus pipi Seokjin yang memanas. "Terimakasih sayang." Seokjin mengangguk girang lalu berhambur memeluk Namjoon, menyamankan tubuhnya yang terasa membeku karena menunggu Namjoon berjam-jam. Mempercayakan pada lelakinya, bahwa dirinya sendiri bahwa kekasihnya akan datang dan memeluknya dengan hangat. Memberikannya cinta yang tidak ada habisnya. Seperti sekarang ini,
dan selamanya.
.
.
.
END of 19th
