MIRACLE IN DECEMBER

[SEQUEL 'MISTAKE']

Author: ParkByun92

Cast: ChanYeol, BaekHyun, and OCs.

Disclaimer: All the cast excluded OCs belong to their management, fans, and families

YAOI!

Enjoy Readers!

SORRY FOR TYPO!

Summary: Kisah ini menceritakan penyesalan terdalam Park ChanYeol sepanjang hidupnya. Park ChanYeol telah kehilangan-nya. Dia yang selalu dihati dan fikiran Park ChanYeol. Akankah dia kembali pada ChanYeol? Ataukah, selamanya ChanYeol hanya bisa berangan-angan kembali padanya.

*Miracle In December*

Dia kembali..

.

BaekHyun-ku kembali. Terima kasih Tuhan, kau mendengarkan doa ku.

*Miracle In December*

Pagi ini BaekHyun dan Aleyna telah siap untuk memulai hari di hari senin. BaekHyun dengan pakaian formal dengan tas punggung dan tas selempangan keperluan Aleyna. Sedangkan Aleyna terlihat manis memakai pakaian dress berwarna merah muda.

Mereka terlihat begitu bahagia ketika keduanya berjalan di trotoar menuju penitipan anak, mereka berdua bersenandung kecil.

"Kom sema-ri-ga, han chi-be-yi-so, appa gom omma gom ae-gi gom.."

BaekHyun tertawa kecil saat suara lucu Aleyna terdengar olehnya. BaekHyun lega Aleyna hari ini tidak rewel, meskipun tadi pagi Aleyna sempat tidak mau pergi ke penitipan anak tapi dengan segala usaha BaekHyun akhirnya Aleyna mau pergi. Tentu saja dengan imbalan, BaekHyun harus membelikan Aleyna ice cream 2 cup besar.

"Appa gommeun.." Sahut BaekHyun.

"Tung-tung-hae."

"Eomma gommeun.."

"Nal-shin-hae."

"Ae-gi gommeun.."

"Na bul-gwi-yo-wo. hishuk hishuk cha-rhan-da."

BaekHyun tertawa dan menghadiahi ciuman di pipi Aleyna saat gadis kecil itu menunjukkan Aegyo nya. Anak kecil seumuran Aleyna memang begitu polos, mereka selalu mengekspresikan bagaimana perasaan mereka pada orang sekitar dan itu sangat menggemaskan. BaekHyun tidak pernah lelah untuk menyombongkan diri jika ia beruntung memiliki Aleyna.

"Jja.. kita sudah sampai. Kajja kita bertemu teman baru."

Aleyna mengangguk antusias. Aleyna meronta di gendongan BaekHyun minta turun lalu berlari masuk kedalam penitipan anak.

"Aleyna jangan lari.." Ucap BaekHyun dengan nada khawatir.

"Hehe Mianhae Mama."

BaekHyun menganggandeng Aleyna dan berjalan menuju ruang tentor yang akan mengurus Aleyna nanti.

"Annyeong haseyo.." Sapa BaekHyun

"Annyeong haseyo.."

BaekHyun tersenyum pada gadis remaja yang membalas sapaannya. BaekHyun heran saat gadis belia membalas sapaannya, gadis ini terlalu muda untuk bekerja di penitipan anak.

"Bisa saya bantu Tuan?."

"Ya, saya Wu Baixian yang sebulan lalu mendaftar untuk anak saya."

"Ah, Tuan Baixian. Silahkan duduk Tuan."

BaekHyun dan Aleyna mengikuti gadis remaja itu dan duduk disofa yang telah disediakan. BaekHyun menundukkan kepalanya menatap Aleyna yang duduk di pangkuannya. Gadis kecil itu hanya diam dengan wajah polos.

"Jadi ini yang namanya Aleyna, cantik sekali."

BaekHyun tersenyum sambil mengelus rambut Aleyna.

"Perkenalkan saya Kang SeulGi yang akan mengurus Aleyna nanti. Semoga Tuan mempercayakan saya dalam mengurus Aleyna."

"Tentu saja saya mempercayaimu SeulGi-ssi." Ucap BaekHyun dengan senyumannya. Pandangan BaekHyun beralih pada Aleyna yang sedari tadi diam memandang 2 orang dewasa disekitarnya.

"Ayo sayang ucapkan salam pada SeulGi Saem. SeulGi Saem nantinya akan menemani Aleyna bermain."

Aleyna turun dari pangkuan BaekHyun lalu membungkukkan tubuhnya sebentar. "Annyeong haseyo, Aleyna Wu-imnida."

BaekHyun tersenyum lalu berjongkok didepan Aleyna.

"Aleyna tidak boleh nakal disini ya, nanti Mama akan menjemput Aleyna ketika Mama pulang bekerja. Aleyna harus tetap disini sampai Mama menjemput. Aleyna mengerti?."

Aleyna mengangguk.

"Gadis kecil Mama pintar. Kalau begitu Mama bekerja dulu, yang pintar ya sayang."

CUP

BaekHyun memberikan ciuman di bibir Aleyna lalu bangkit.

"SeulGi-ssi, saya mempercayakan semuanya padamu. Kalau gitu saya permisi."

"Ya Tuan, serahkan semuanya pada saya. Saya akan menjaga Aleyna dengan baik."

BaekHyun tersenyum lalu berjalan keluar meninggalkan Aleyna yang berada di gendongan SeulGi. Sesampainya di pagar, BaekHyun membalikkan tubuhnya lalu melambai pada Aleyna. BaekHyun terkekeh melihat Aleyna membalas lambaiannya dengan senyum lebar. Pada akhirnya Aleyna mau dititipkan. Maafkan Mama sayang.

*Miracle In December*

BaekHyun memandang keramaian kota Seoul melalui jendela bus yang ia tumpangi. Hari ini ia kembali menjadi warga Korea Selatan. Setelah 3 tahun meninggalkan Seoul, akhirnya BaekHyun kembali lagi pada tanah kelahirannya.

Tak pernah terfikirkan sebelumnya jika ia akan kembali ke Korea Selatan, tapi takdir Tuhan siapa yang tau. Meskipun ia mencoba melupakan Seoul, tetap saja BaekHyun tidak bisa. Terlalu banyak kenangan di kota ini. Manis, pahit kehidupan BaekHyun rasakan semuanya di Seoul. Di Seoul juga ia belajar apa arti sebuah kehidupan.

Sebuah kehidupan yang buruk di masa lalu membuat BaekHyun menjadi orang yang lebih kuat. Dan juga dengan adanya Aleyna, BaekHyun telah melupakan kehidupan masa lalu nya, karena bagi BaekHyun kehidupannya sekarang lebih baik dan untuk apa ia terus menerus terpuruk atas kehidupan masa lalu. BaekHyun sudah melupakan semuanya.

Sebenarnya tidak semuanya, karena BaekHyun beberapa kali memikirkan masa lalunya. Kesalahan pada cintanya, kesalahan yang membuat Aleyna ada, kesalahan karena meninggalkan orang ia sayangi. Tapi ia tidak pernah menyesal, semuanya telah diatur oleh Tuhan. BaekHyun hanyalah umat yang menjalani hidup seperti scenario Tuhan.

Tapi karena masa lalunya itu juga BaekHyun yang ceria, menjadi BaekHyun yang pendiam. BaekHyun yang sering tersenyum pada orang lain, menjadi BaekHyun yang bermuka datar. BaekHyun yang selalu peduli pada keadaan sekitar, menjadi BaekHyun yang tak peduli apapun. Hanya karena masa lalunya BaekHyun berubah 360˚.

Seperti sekarang, BaekHyun yang bermuka datar tak memperdulikan sekitarnya. Tapi semuanya berubah saat melihat papan iklan yang memperlihatkan Park ChanYeol yang bersandar pada sebuah mobil. Raut wajah BaekHyun berubah mengeras. Matanya menyorotkan tatapan tajam. Dan sedetik kemudian BaekHyun menundukkan kepalanya. BaekHyun belum siap melihat wajah itu lagi. Wajah yang sekekali mampir di mimpinya.

"Tidak BaekHyun! Kau harus melupakannya." Gumam BaekHyun. Kedua tangan BaekHyun menjadi dingin, BaekHyun juga merasakan sesak di dadanya. Kenapa seperti ini?

10 menit kemudian BaekHyun merasakan bus berhenti, dengan langkah cepat BaekHyun turun dan berbelok ke kiri. Didepan sana BaekHyun sudah melihat kantornya. Pada akhirnya cita-cita BaekHyun tercapai, ia telah menjadi Desainer terkenal. Karya nya tidak perlu diragukan lagi, bahkan butik terkenal yang BaekHyun naungi sekarang memintanya langsung untuk bekerja di Seoul.

Dengan langkah mantap BaekHyun memasuki gedung bertingkat itu. Kantor ini sangat besar untuk dijadikan Fashion Office.

"Annyeong haseyo.." Sapa BaekHyun pada bagian repsesionist.

Repsesionist yang bername tag Kim HyoYeon itu berdiri dan membalas sapaan BaekHyun.

"Annyeong haseyo, ada yang bisa saya bantu tuan?."

"Saya Wu Baixian, Desainer baru yang akan bekerja disini."

"Ah, Tuan Baixian? Tuan Baixian sudah ditunggu oleh kepala Desainer disini. Silahkan lewat sini Tuan."

BaekHyun mengangguk lalu mengikuti Yeoja repsesionist itu. BaekHyun mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut kantor. Kantor ini sangat besar dan juga begitu modis, disetiap dindingnya terdapat foto model yang berjalan di catwalk. Perusahaan pakaian ini tidak diragukan lagi, terlihat BaekHyun begitu takjub dengan pakaian yang dipakai model-model itu.

"Sebelah sini Tuan."

BaekHyun menatap Kim HyoYeon yang mempersilahkan dirinya masuk kedalam lift. Sesampainya di lantai 6, lift terbuka. BaekHyun dan HyoYeon keluar dari lift lalu berjalan lurus hingga sampai diruangan yang bertuliskan 'Chief Designer'.

"Silahkan Tuan."

BaekHyun menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih. HyoYeon berlalu dari sana dan menyisahkan BaekHyun yang masih berdiri didepan ruangan itu. BaekHyun menghembuskan nafasnya sebentar lalu mengetuk pintu itu.

"Masuk!." Sahut seseorang.

BaekHyun dengan gerak pelan menggeser pintu. BaekHyun mendongakkan kepalanya menatap seorang Namja tampan yang duduk di kursi kebesarannya. BaekHyun menundukkan kepalanya sebentar lalu duduk di kursi depan meja si Namja tampan.

"Wu Baixian?."

BaekHyun mengangguk.

"Selamat datang diperusahaan Fashionnist Corp. Saya Choi MinHo kepala Desainer disini. Akhirnya anda setuju bekerja bersama kami, saya yakin anda begitu berbakat. Saya sudah melihat karya-karya anda yang begitu memukau."

BaekHyun hanya tersenyum tipis. "Terima kasih MinHo-ssi."

"Sayang sekali anda belum bisa bertemu dengan Tuan Xi, pemilik perusahaan ini. Dia sedang berlibur dengan suaminya. Mungkin seminggu lagi anda bisa bertemu dengannya."

Tuan Xi? Kening BaekHyun berkerut bingung. Apa mungkin Tuan Xi itu Hyung nya Xi LuHan? Tapi bagaimana mungkin? Ah, BaekHyun harap itu orang lain.

"Kalau begitu anda bisa bekerja hari ini. Ruangan anda berada di pojok kiri ruangan saya."

BaekHyun bangkit lalu menundukkan kepalanya pamit untuk keluar. Setelah BaekHyun hilang di pengelihatan MinHo, Namja tampan itu menggelengkan kepalanya.

"Namja itu sangat cantik, tapi kenapa begitu dingin."

*Miracle In December*

Aleyna bertepuk tangan senang saat dia dan teman sebayanya baru saja selesai bernyanyi. Ternyata apa yang di katakan Mama nya benar, di sekolah –penitipan anak ini Aleyna mendapatkan teman baru yang baik, berbanding terbalik seperti yang difikirkan Aleyna kemarin. Aleyna terlalu takut pada orang baru, karena setiap ia kenal orang baru Aleyna selalu mendapatkan ejekan.

Seperti yang dirasakan Aleyna saat sekolah di Amerika. Banyak anak-anak sebayanya mengejeknya karena memiliki ibu berjenis kelamin laki-laki, belum juga Aleyna juga mendapat ejeken tidak mempunya ayah karena selalu Mama nya yang menjemput. Selama ini Aleyna selalu diam karena tidak ingin membuat ibu nya sedih. Aleyna terlalu kasihan pada ibu nya yang selalu tertidur disampingnya dengan bekas air mata di pipinya. Sebenarnya Aleyna terlalu kecil untuk mengetahui urusan orang dewasa, tapi Aleyna terlalu peka pada ibunya. Apapun yang dirasakan BaekHyun, Aleyna seperti merasakannya juga.

Setiap BaekHyun meneteskan air mata, Aleyna akan ikut meneteskan air mata. Disaat BaekHyun tersenyum memperlihatkan mata bulan sabitnya, Aleyna dengan senang hati tersenyum persis seperti milik sang ibu. Karena memang senyum BaekHyun ia turunkan pada Aleyna.

Tapi sekarang Aleyna yakin, disini Aleyna tidak akan takut lagi. Terlihat baru beberapa menit di sekolah Aleyna sudah banyak mendapatkan teman. Teman-teman Aleyna juga senang berteman dengan Aleyna karena Aleyna begitu murah senyum. Setiap Aleyna mengatakan sesuatu pasti diakhiri dengan senyuman. Aleyna menjadi gadis kecil yang ramah.

"Aleyna senang kan disini?." Tanya SeulGi yang duduk disamping Aleyna. Sedari tadi SeulGi mendampingi Aleyna dimanapun Aleyna berada.

"Ne Saem!." Aleyna menjawab dengan senyumannya.

SeulGi mengusap surai coklat Aleyna. Entah kenapa SeulGi merasa senang bisa menjadi pengasuh Aleyna. Lagipula siapa yang tidak senang mengasuh gadis kecil yang cantik dan periang seperti Aleyna. Siapapun ingin berada di posisi SeulGi.

Tapi sedari tadi SeulGi memperhatikan wajah Aleyna yang persis seseorang. SeulGi yakin ia begitu familiar dengan wajah Aleyna, tapi siapa? Dengan ibunya, pasti. Kalau begitu dengan ayahnya? Siapa ayah Aleyna?.

"Aleyna sayang.."

"Ne Saem?."

"Saatnya kita belajar menggambar, Aleyna bisa menggambar?."

Aleyna mengangguk antusias.

"Kalau begitu Kajja! Kita keruang lukis."

SeulGi menganggandeng tangan Aleyna dan menuntunnya keruang lukis. Penitipan anak yang BaekHyun pilih memang seperti sekolah, disana Aleyna akan diajari bagaimana menggambar, menulis, membaca, bertata krama, dan lainnya. Disana juga terdapat kantin dan tempat tidur untuk anak-anak tidur siang. Tidak hanya belajar, penitipan anak itu menyediakan tempat bermain yang aman. Meskipun sedikit menguras dompet, tapi untuk Aleyna, BaekHyun akan pilih tempat yang terbaik.

Aleyna sudah duduk dikursi dan meja mini berwarna merah muda, SeulGi tertawa kecil melihat mata berbinar Aleyna saat melihat kursi-kursi mungil yang tertata melingkar. Aleyna begitu antusias mengikuti pelajaran menggambar.

"Hallo semuanya.. kali ini SeulGi Saem yang akan memimpin dalam pelajaran menggambar. Apa semuanya sudah siap?." Tanya SeulGi dengan nada begitu antusias.

"NE SAEM!." Teriak kencang anak-anak yang tak kalah antusias.

"Kalau begitu sekarang kalian boleh menggambar seseorang atau benda apapun yang kalian sayangi. Contohnya, Saem dirumah mempunyai kucing yang Saem sayangi. Saem juga punya Eomma dan Appa yang sangat Saem sayangi. Apa semuanya mengerti?."

"NE SAEM!."

SeulGi tersenyum puas saat melihat anak-anak begitu sibuk dengan kertas gambar dan juga crayon yang telah disediakan.

20 menit kemudian, SeulGi dan beberapa pengasuh yang lain berkeliling melihat karya-karya dari anak asuhnya. SeulGi tersenyum melihat gambar-gambar mereka yang begitu sederhana tapi memiliki arti yang begitu dalam. Dan disaat melewati meja Aleyna, ia berhenti dan melihat apa yang digambar Aleyna.

"Aleyna menggambar apa? Kenapa serius sekali?."

Aleyna mendongakkan kepalanya menatap SeulGi lalu tersenyum.

"Aleyna sedang menggambar Aleyna dan juga Mama."

SeulGi mengerutkan keningnya lalu duduk disamping Aleyna. Kenapa hanya Mama? SeulGi semakin penasaran siapa ayah Aleyna. Karena SeulGi yakin pernah melihat wajah Aleyna diwajah seseorang.

"Kenapa hanya Mama? Appa tidak digambar juga?."

"Maksud Saem, Daddy?."

"Ah iya Daddy, kenapa Aleyna tidak menggambar Daddy juga?."

Wajah Aleyna berubah sendu saat pertanyaan SeulGi terlontarkan, SeulGi dapat melihatnya.

"Aleyna tidak tau bagaimana wajah Daddy. Aleyna juga tidak mau Mama sedih karena Aleyna menggambar Daddy."

SeulGi tertegun mendengarnya. SeulGi adalah gadis remaja berusia 20 tahun yang paham akan maksud Aleyna. Jadi, selama ini Aleyna tidak pernah bertemu dengan ayahnya, dan SeulGi yakin pasti ada alasan kenapa ibu Aleyna sedih saat mengingat ayah Aleyna.

"Hey Aleyna tidak boleh bersedih. Tidak apa-apa Aleyna tidak menggambar Daddy. Menggambar Mama saja sudah sangat bagus. Kalau begitu teruskan ya.."

Senyum Aleyna kembali merekah. Aleyna kembali bersemangat untuk menggambar.

SeulGi yang masih duduk disamping Aleyna menatap wajah Aleyna yang begitu cantik, kenapa nasib Aleyna begitu malang. Sejak Aleyna kecil, gadis kecil itu tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Meskipun baru kenal dengan Aleyna, SeulGi merasakan jika ia begitu menyayangi Aleyna. SeulGi sudah menganggap Aleyna seperti adiknya sendiri.

Mulai dari sekarang SeulGi akan selalu berdoa untuk Aleyna.

Semoga Aleyna bertemu dengan ayahnya.

*Miracle In December*

ChanYeol mengerang kesakitan saat sakit dikepalanya begitu mengusik tidur nya. Namja yang masih bersetelan kemeja kantor itu mendudukan tubuhnya dan memijat kepalanya mencoba meredam pusing yang tiba-tiba datang.

Tak seberapa lama pintu ruangan ChanYeol dibuka dari luar dan memperlihatkan Kai yang rapi dengan pakaian kantornya. Kai mengerutkan keningnya saat melihat wajah frustasi ChanYeol, belum juga berkas-berkas entah apa itu yang berserakan dimeja. Kai menghampiri ChanYeol yang masih betah memijit kepalanya, Kai merasa kasihan dengan kondisi ChanYeol sekarang.

"Menginap dikantor lagi Park?."

ChanYeol melirik Kai sinis dan tak menjawab pertanyaan Kai.

"Oh okey, aku anggap itu jawaban iya."

Seakan tak dipedulikan, Kai mendengus kesal. Kai berjalan menuju meja kerja ChanYeol lalu menggunakan telfon kantor ChanYeol. ChanYeol tidak peduli untuk apa Kai meminjam telfon kantornya, yang ChanYeol fikirkan sekarang adalah meredam pusing dikepalanya.

"Antarkan bubur dan segelas teh hangat keruangan Direktur Park." Ucap Kai melalui sambungan telfon lalu menutup telfonnya.

Kai kembali menghampiri ChanYeol lalu duduk disofa single, sedangkan ChanYeol masih terdiam di sofa panjang. Kai memperhatikan wajah lelah ChanYeol. ChanYeol memiliki kantung mata yang tebal, dan sekarang kantung mata itu semakin tebal. Wajah ChanYeol juga begitu kusut. Tidak ada Park ChanYeol yang tampan, yang ada hanyalah Park ChanYeol yang menyedihkan.

"Sebenarnya kau tidur jam berapa, eoh? Kau tidak lihat sekarang jam berapa?."

ChanYeol mendongakkan kepalanya menatap jam yang menggantung di dinding ruangannya. Pukul 9 pagi.

"Aku baru tidur pukul 4 tadi."

"Kau bercanda! Ya Tuhan Yeol, kau itu manusia bukan robot! Kau juga perlu beristirahat. Kenapa kau lembur sampai pukul 4?!."

"Aku harus menyelesaikan berkas itu secepatnya Kai! Bukankah kau senang jika berkas yang kau berikan padaku kemarin selesai hari ini?."

Mulut Kai terbuka tak percaya. Okey, yang dikatakan ChanYeol memang benar, Kai senang jika berkas pengeluaran mobil terbaru mereka selesai cepat tapi tidak secepat ini. Bayangkan saja ChanYeol bisa menyelesaikan berkas-berkas itu dalam waktu sehari.

"Sepertinya aku salah menyerahkan berkas itu padamu." Ucap Kai dengan begitu sinis.

"Memang apa salahnya? Aku Direktur disini."

Kai mendecak kesal.

"Arraso Direktur Park."

Tak beberapa lama pintu ruangan ChanYeol diketuk seseorang. Kai mempersihlahkan orang itu masuk. Kai menatap Office Boy yang membawa nampan membungkuk padanya.

"Kau taruh saja buburnya disini."

Office Boy itu mengangguk lalu mengerjakan apa yang diperintahkan Kai, setelahnya pergi dari ruangan ChanYeol.

"Cepat mandi lalu habiskan sarapan itu! Tak ada penolakan Park ChanYeol! Kau tau, sekarang kau menjadi Park ChanYeol yang buruk."

ChanYeol bangkit berlalu ke kamar mandi. Sambil menunggu ChanYeol membersihkan diri, Kai mengambil ponselnya dan menelfon seseorang. Tak beberapa lama panggilan itu diangkat oleh seseorang.

"Yoboseo.."

"LuHan Hyung, ini tidak bisa dibiarkan! ChanYeol semakin gila. Dia bahkan tak memperhatikan kesehatannya. Kita harus bagaimana Hyung?!."

"Hey pelan-pelan jika berbicara! Ya ya ya aku sudah memperkirakan itu. Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak tau dimana keberadaan BaekHyun."

"Meskipun dia sudah kembali tapi kenapa mencari keberadaannya sangat sulit."

"Itu karena BaekHyun pintar bersembunyi! Sudah jangan menggangguku! Kau merusak bulan maduku!."

"Sial! Cepatlah pulang, aku tidak mau terus menerut mengurus Namja gila ini."

"ChanYeol tidak gila Kai! Berhenti menganggap ChanYeol gila. Ya, seminggu lagi aku akan pulang. Kalau begitu bye~."

PIP

Panggilan terputus, tak beberapa lama kemudian ChanYeol baru menyelesaikan mandinya. ChanYeol menghampiri Kai lalu kembali duduk di sofa panjangnya. Disaat ChanYeol ingin menyendok buburnya, dering ponsel mengalihkan perhatiannya. ChanYeol heran saat mengetahui ibu nya menelfon sepagi ini.

"Ada apa Eomma?."

"Kau tidak pulang kerumah?." Tanya sang ibu To The Point.

"Aku lembur, ada apa?."

"Harus berapa kali Eomma katakan! Jangan pernah lembur bekerja Park ChanYeol, kau harus menjaga kondisi tubuhmu! Kenapa kau sangat keras kepala! Jangan menjadi Namja yang lemah karena cinta hingga kau menyakiti dirimu sendiri!."

ChanYeol mengepalkan salah satu tangannya dengan wajah yang mengeras.

"Tau apa kau tentangku?." Perkataan ChanYeol begitu dingin hingga membuat Kai yang mendengarnya merinding.

"Terserah kau akan mengatakan apa pada Eomma! Karena kau selalu keras kepala, besok Eomma akan membawakanmu Sekretaris untuk membantumu. Tak ada penolakan Park ChanYeol! Eomma hanya ingin kau tidak terus-menerus bekerja, dan kali ini saja turuti perintah Eomma!."

Dan panggilan terputus.

ChanYeol mengumpat. Kembali sang ibu mengurusi urusan pribadinya, inilah yang tidak disukai Park ChanYeol.

"Ada apa Park? Kenapa wajahmu menakutkan seperti itu?."

"Kai bisakah kau keluar, aku tidak ingin diganggu siapapun hari ini!."

"Baiklah."

Kai bangkit lalu berlalu dari ruangan ChanYeol. Sebenarnya Kai penasaran dengan pembicaraan ChanYeol dan Nyonya Park, tapi sepertinya itu buruk karena Kai melihat ChanYeol yang mencoba menahan emosi.

Kai tak habis fikir, selalu saja Nyonya Park yang membuat ChanYeol murka.

*Miracle In December*

Seminggu berlalu. Tak terasa BaekHyun sudah seminggu tinggal di Seoul. Untuk saat ini kehidupan BaekHyun biasa saja. BaekHyun menjalankan kehidupannya seperti orang pada umumnya, tapi tak menutup kemungkinan sesuatu akan terjadi keesoknya. Sebenarnya BaekHyun tidak ingin memikirkan hari esok bagaimana, tapi ia harus menyiapkan diri jika terjadi sesuatu. BaekHyun harap itu tidak akan terjadi.

Dan seminggu ini BaekHyun menikmati perannya sebagai seorang ibu. Jangan kalian fikir di Amerika sana BaekHyun tidak menikmati perannya, hanya saja di Seoul BaekHyun merasakan sesuatu yang beda. Jika di Amerika Aleyna selalu merengek minta ikut bekerja, tapi tidak di Seoul. Aleyna terlihat senang saat dititipkan di penitipan anak. Disaat BaekHyun bertanya kenapa Aleyna senang disana, dengan nada antusias Aleyna berkata jika ia mendapatkan banyak teman.

BaekHyun senang Aleyna memiliki teman.

BaekHyun juga senang saat Aleyna bercerita padanya dengan nada antusias ketika mereka berdua duduk didalam bus untuk pulang. Selama di Amerika Aleyna tidak pernah menceritakan kesehariannya pada BaekHyun, tapi di Seoul Aleyna menceritakan kesehariannya dengan detail. Aleyna yang dasarnya gadis yang cerewet semakin membuat BaekHyun harus mendengar cerita Aleyna setiap detik.

Tapi BaekHyun senang Aleyna berubah menjadi gadis kecil yang lebih ceria.

BaekHyun juga lega, sudah seminggu ini Aleyna tidak pernah bertanya tentang ayahnya. Tidak, BaekHyun tidak berharap Aleyna akan bertanya tentang ayahnya, hanya saja disaat mereka tinggal di Amerika Aleyna setiap hari selalu bertanya dan menyuruh BaekHyun untuk bercerita tentang ayahnya. Mungkin Aleyna terlalu senang dengan lingkungannya sekarang.

Dan di hari sabtu ini, pagi BaekHyun dimulai dengan tangisan Aleyna. Sejak bangun tidur tadi Aleyna merengek ingin di gendongan BaekHyun. Hingga didalam bus yang mereka tumpangi, Aleyna tetap di gendongan BaekHyun. BaekHyun menundukkan kepalanya menatap Aleyna yang bersandar nyaman di dadanya, kalau Aleyna rewel BaekHyun memang tidak bisa berbuat banyak.

"Aleyna kenapa sayang? Kenapa wajahnya cemberut seperti itu?." Tanya BaekHyun sambil mengelus punggung Aleyna.

Aleyna mengusap manja wajahnya pada dada BaekHyun. BaekHyun terkekeh geli lalu memeluk Aleyna. Pagi ini mood Aleyna begitu buruk, semoga saja disaat di penitipan anak nanti mood Aleyna berubah.

5 menit kemudian bus yang ditumpangi BaekHyun berhenti. BaekHyun berjalan keluar dengan Aleyna di gendongannya.

Disaat BaekHyun sudah berdiri didepan penitipan anak, Aleyna semakin memeluk leher BaekHyun dengan erat.

"Aley kenapa, hmm? Aley tidak mau bertemu teman-teman?."

BaekHyun dapat merasakan Aleyna menggelengkan kepalanya.

"Kenapa? Nanti teman-teman sedih Aleyna tidak mau sekolah."

"Aleyna tidak mau sekolah! Aley ingin bersama Mama."

BaekHyun menghembuskan nafasnya. Kenapa tiba-tiba Aleyna tidak mau di titipkan? BaekHyun fikir dengan Aleyna senang mempunyai teman baru, Aleyna akan mudah untuk dititipkan. Tapi BaekHyun harus mengerti jika ada saatnya Aleyna sangat lengket padanya.

"Tapi Mama harus bekerja sayang. Mama janji nanti akan menjemput Aley saat makan siang, kita akan makan siang bersama, bagaimana?."

Aleyna tetap menggeleng. Bertepatan dengan itu, terlihat SeulGi yang baru saja datang. Gadis remaja itu menundukkan kepalanya hormat saat berhadapan dengan BaekHyun.

"Selamat pagi Aleyna~." Sapa SeulGi.

SeulGi mengerutkan keningnya saat Aleyna tidak menjawab dan semakin menenggelamkan wajahnya pada leher BaekHyun. SeulGi menatap BaekHyun bertanya.

"Aleyna tidak mau sekolah Saem, Aleyna ingin ikut Mama bekerja. Seharusnya anak kecil tidak boleh ikut bekerjakan, Saem?."

"Iya sayang, anak kecil tidak boleh ikut bekerja. Ayo dengan Saem, nanti kita akan belajar melipat origami. Aleyna ingin bisa melipat origami kan?." Bujuk SeulGi pada Aleyna, tapi tetap saja Aleyna tidak bergeming.

BaekHyun mencoba memberikan Aleyna pada SeulGi, tapi Aleyna memberontak tidak mau lalu menangis. Tangisnya sangat kencang hingga menjadi perhatian orang-orang yang berlalu lalang di trotoar. BaekHyun kembali memeluk Aleyna dan memberikan elusan pada punggung Aleyna. Tangis Aleyna masih terdengar tapi terendam di bahu BaekHyun.

"Maaf SeulGi-ssi, mungkin hari ini Aleyna akan ikut saya ke kantor."

"Ah begitu, baiklah Tuan. Mungkin Aleyna ingin menghabiskan akhir pekan dengan anda." Ucap SeulGi dengan senyumannya. BaekHyun membalas dengan senyuman juga lalu beranjak dari sana untuk pergi ke kantor. Semoga saja Direktur tempat ia bekerja dapat memaklumi kondisi BaekHyun.

Tak sampai 15 menit BaekHyun telah sampai di kantornya. Aleyna yang masih digendongan BaekHyun masih terisak pelan. Sedari tadi BaekHyun mengelus punggung Aleyna untuk menenangkan tangis Aleyna, mungkin benar kata SeulGi jika Aleyna ingin menghabiskan akhir pekan dengannya.

"Berhenti menangis sayang. Sekarang Aleyna ikut Mama bekerja kan? Sudah, jangan menangis."

Tak terdengar lagi isakan Aleyna, gadis kecil itu mendongakkan kepalanya menatap BaekHyun. BaekHyun menatap Aleyna sendu, BaekHyun menyesal membuat Aleyna menangis hingga hidung Aleyna memerah. BaekHyun menghapus air mata Aleyna dan memberikan kecupan di bibir Aleyna.

"Maafkan Mama, Ne? Aleyna pasti rindu bermain dengan Mama."

Aleyna mengangguk dengan bibir melengkung.

"Arraso, hari ini Aleyna ikut Mama bekerja lalu tunggu Mama bekerja. Setelah itu kita bisa bermain dan makan siang bersama."

BaekHyun tersenyum lalu melangkahkan kakinya memasuki kantor. Baru mengijakkan kaki di Lobby kantor, semua mata tertuju padanya, mungkin semua heran dengan dirinya yang datang membawa gadis kecil. Tapi siapa peduli, BaekHyun tak peduli dengan pandangan itu dan berlalu memasuki lift.

Sesampainya di lantai 6, BaekHyun segera berjalan menuju ruangannya. Tapi disaat ia melewati ruang kepala Desainer, MinHo memanggilnya.

"BaekHyun-ssi!."

BaekHyun membalikkan tubuhnya.

MinHo menghampiri BaekHyun dan menyerngit heran saat BaekHyun menggendong gadis kecil yang terlihat sembab.

"Gadis kecil ini siapa?." Tanya MinHo. Dia terlalu penasaran hingga lupa dengan pertanyaan awal.

"Dia anakkku."

Mata MinHo membulat terkejut. "Anak? Kau sudah mempunyai anak?."

BaekHyun hanya mengangguk.

"Ah begitu. Oh aku ingin mengatakan jika Direktur memintamu untuk datang ke ruangannya. Dia ingin bertemu denganmu."

BaekHyun lagi-lagi hanya mengangguk. Sedangkan MinHo masih menatap Aleyna yang menatapnya juga dengan pandangan polos. MinHo takjub dengan wajah Aleyna yang begitu cantik, pasti wajah Aleyna diturunkan oleh BaekHyun.

"Apa ada keperluan lain?." Tanya BaekHyun saat MinHo hanya diam memandang Aleyna. MinHo terkejut lalu menggeleng.

"Kalau begitu saya permisi dulu MinHo-ssi."

BaekHyun berjalan menuju ruangannya meninggalkan MinHo yang masih terdiam di tempat. BaekHyun memasuki ruangannya lalu mendudukan Aleyna di sofa ruangannya, sedangkan BaekHyun berjongkok didepan Aleyna.

"Aleyna disini dulu ya sayang, Mama harus keluar sebentar. Mama akan menyalakan TV dan jika nanti ada yang mencari Mama, bilang saja Mama sedang keluar. Aleyna mengerti?."

Aleyna menganggukkan kepalanya.

"Aley jangan kemana-mana, Aley harus tetap disini sampai Mama kembali. Aleyna akan menjadi anak pintar kan?."

"Ne Mama."

BaekHyun tersenyum lalu menyalakan TV untuk Aleyna, setelah melihat Aleyna tenang di sofa, BaekHyun segera keluar dari ruangannya. BaekHyun menuju lift dan pergi ke lantai paling atas, ruangan Direktur.

BaekHyun menghembuskan nafasnya pelan saat telah berdiri diruangan bertulisan 'President of Fashionnist Corp'. Ini pertemuan perdana BaekHyun dengan pemilik kantor tempat ia bekerja.

TOK TOK TOK

"Masuk!."

BaekHyun mengerutkan keningnya, ia kenal suara ini.

BaekHyun meraih kenop pintu berpintu besar itu lalu mendorongnya pelan. Disaat pintu itu terbuka, kedua mata BaekHyun membulat sempurna, tak jauh beda dengan Namja yang duduk di kursi kebesarannya. Mereka sama-sama terkejut.

"B–Baek..Hyun?."

BaekHyun hanya diam ditempat. Berbeda dengan Namja yang duduk beberapa saat yang lalu, Namja itu segera menghampiri BaekHyun lalu memeluknya erat. Sangat erat karena Namja itu begitu merindukan BaekHyun.

"Aku merindukanmu Baek, selama ini kau kemana saja?! Kenapa tidak mengabariku? Apa kau sudah tidak menganggapku Hyung mu lagi?."

"LuHan Hyung.."

Ya, Namja itu LuHan. Akhirnya setelah 3 tahun merindukan BaekHyun, LuHan akhirnya dapat bertatapan lagi dengan BaekHyun.

"Baek, aku senang kau kembali."

LuHan melepaskan pelukannya dan memandang BaekHyun dengan senyumannya, tak terasa air mata LuHan menetes dari kedua matanya.

"Maafkan aku Hyung.."

LuHan menggelengkan kepala. "Kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak salah apapun. Kau akhirnya memutuskan sesuatu yang benar, dan sekarang kau kembali! Aku senang Baek."

LuHan kembali memeluk BaekHyun. Air mata BaekHyun berjatuhan di bahu LuHan. BaekHyun membalas pelukan LuHan tak kalah erat, BaekHyun juga merindukan LuHan. BaekHyun merindukan semua orang yang pernah peduli padanya.

5 menit berlalu hingga LuHan melepaskan pelukan keduanya. LuHan menarik tangan BaekHyun untuk duduk disofa ruangan LuHan. LuHan ingin tau bagaimana kehidupan BaekHyun dalam 3 tahun ini.

"Jadi kau yang bernama Wu Baixian? Kenapa namamu berganti Mandarin? Aku fikir saat MinHo merekomendasikan dirimu kau berasal dari China. Baek, ceritakan semuanya padaku?! Aku tak habis fikir dengan semua ini!." LuHan bertanya dengan antusias dan membuat BaekHyun terkekeh geli.

"Hyung, bagaimana aku menjawab pertanyaanmu jika kau memberikan pertanyaan lebih dari satu."

"Hey aku tidak bercanda! Jadi, selama 3 tahun ini kau tinggal dimana? Yang aku tau dari Kris kau tinggal di Amerika, setelah itu aku tidak tau apa-apa."

Mau tak mau BaekHyun harus menceritakan semuanya pada LuHan. Termasuk adanya Aleyna, apakah LuHan juga perlu tau?

"Aku memang tinggal di Amerika, Hyung. Dan kenapa aku berganti nama, karena Kris Hyung telah merubah identitasku menjadi adiknya. Ini begitu rumit, kau pasti tidak akan percaya. Tapi aku mohon padamu, disaat aku bercerita nanti jangan memotong ceritaku dan jangan benci pada siapapun. Janji?."

"Ya, aku berjanji."

Dan setelah itu BaekHyun menceritakan semuanya.

*Miracle In December*

ChanYeol menggeram kesal dengan Yeoja yang berjalan beberapa langkah dibelakangnya. Sudah hampir seminggu Yeoja itu mengikuti ChanYeol dimanapun ChanYeol berada, bahkan hingga pulang ke rumah Yeoja itu tetap mengikuti ChanYeol. ChanYeol begitu muak dengan semua ini, rasanya ChanYeol ingin membunuh Yeoja itu jika tidak ada hukuman untuk seorang pembunuh.

"Berhenti mengikutiku!." Bentak ChanYeol kesal.

Yeoja itu memberhentikan langkahnya saat mendengar bentakan ChanYeol.

"Memangnya kenapa jika aku mengikutimu? Park Ahjumma memberiku pesan untuk menjagamu!."

"Sialan! Aku Namja yang bisa menjaga diriku sendiri!."

Habis sudah kesabaran ChanYeol, Namja itu membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Yeoja berkulit eksotis didepannya.

"Dengar Kwon YuRi-ssi, kau hanyalah Sekretarisku di kantor. Dan untuk urusan diluar kantor kau tidak perlu ikut campur, dan soal ibuku yang menyuruhmu menjagaku lupakan saja! Aku bukan Namja yang perlu dijaga, apalagi dijaga seorang Yeoja!."

"Dan dengar Park ChanYeol-ssi, aku memang hanya Sekretarismu tapi kau harus ingat jika aku juga Assistant pribadimu. Dan soal aku menjagamu, aku sudah berjanji dengan Park Ahjumma, dan janji harus ditepati. Terserah kau akan mengatakan apa, pokoknya aku harus ikut denganmu dimanapun! DIMANAPUN!."

ChanYeol mengacak rambutnya frustasi. Dengan langkah kesal ChanYeol kembali berjalan menuju basemant untuk mengambil mobilnya. Sedangkan YuRi yang kembali mengikuti ChanYeol hanya menyeringai atas kemenangannya.

Dan disinilah mereka, dikantor Fashion terkenal Seoul. ChanYeol keluar dari mobilnya dengan bantingan pintu begitu keras. YuRi? Yeoja itu hanya bersikap santai dan berjalan disamping ChanYeol. Disaat keduanya memasuki Lobby, banyak pasang mata yang menatap keduanya. Tanpa memperdulikan apapun ChanYeol melangkahkan kakinya menuju lift untuk kelantai atas, dan tetap YuRi mengikuti ChanYeol.

Didalam lift, YuRi melirik ChanYeol yang hanya diam dengan wajah mengeras. YuRi tau jika Namja itu sedang dalam mood yang buruk, seminggu menjadi Sekretaris ChanYeol ia sudah tau bagaimana sifat ChanYeol.

"Sebenarnya untuk apa kita kesini?." Tanya YuRi sambil menghadap ChanYeol.

"Bukan urusanmu!."

"Hey tentu saja ini urusanku, kau lupa jika aku Sekretarismu?."

ChanYeol hanya diam dan membuat YuRi kesal. Dasar otak batu. Hati batu. Semuanya terbuat dari batu.

TING!

Lift terbuka dan dengan segera ChanYeol melangkahkan kakinya keluar. ChanYeol berjalan lurus lalu berbelok ke kanan. YuRi tetap setia mengikutinya dari belakang. Tapi ketika baru beberapa langkah berbelok ke kanan, YuRi melihat ChanYeol terdiam dengan wajah terkejut.

"ChanYeol ada apa?." Tanya YuRi.

ChanYeol terdiam dengan kedua mata berkaca-kaca, didepan sana ia melihat seseorang. Seseorang yang 3 tahun ia cari.

"BaekHyun!."

Kedua Namja bertubuh mungil yang semula akan beranjak dari ruangan itu segera menghentikan langkahnya. Keduanya sama-sama terkejut saat mendengar suara itu. Suara yang akan dilupakan oleh salah satu Namja mungil itu.

ChanYeol segera melangkahkan kakinya untuk mendekat. Salah satu Namja berambut coklat terang membalikkan tubuhnya dan menghadang ChanYeol untuk mendekat.

"Tidak Yeol, jangan sekarang!."

"Apa maksudmu LuHan?! Aku ingin bertemu BaekHyun! Baek, akhirnya kau kembali. Berbaliklah Baek! Lihat aku!."

LuHan menatap cemas kearah BaekHyun yang hanya diam dengan bahu bergetar. LuHan tau BaekHyun belum siap untuk bertemu ChanYeol. Tapi semuanya sudah terlanjur, ChanYeol sudah mengetahui keberadaan BaekHyun. LuHan tidak bisa menahan ChanYeol.

"Yeol aku mohon! Jangan sekarang! BaekHyun belum siap bertemu denganmu!."

"Aku tak peduli! BaekHyun berbaliklah! Aku ingin bicara, aku mohon dengarkan aku!."

LuHan mencoba menahan bahu ChanYeol, jarak antara ChanYeol dan BaekHyun semakin dekat dan LuHan tidak mungkin bisa menahan ChanYeol lagi.

"Pergilah Baek! Cepat!."

BaekHyun segera berlari, ChanYeol terkejut dengan penolakan BaekHyun. Ketika ChanYeol ingin mengejar BaekHyun, LuHan terlebih dahulu melumpuhkan ChanYeol dengan menahan kedua tangan ChanYeol dan membuat ChanYeol jatuh berlutut.

"ChanYeol dengarkan aku! BaekHyun belum siap bertemu denganmu, mengertilah sedikit!."

Setetes air mata ChanYeol jatuh. ChanYeol menatap nanar jalan belokan yang dilewati BaekHyun.

.

.

BaekHyun telah kembali.

.

BaekHyun nya kembali. Terima kasih Tuhan.

.

TBC

Hallo readers tercinta~

Kembali bertemu dengan FF paling dramatis wkwk bagaimana dengan chapter 3? udah pada seneng Baek ketemu sama Chan? eitss.. tapi ceritanya gak sampai disini loh, perjuangan Chan masih sangat panjang.

Alhamdulillah FF ini masih rating T jadi masih bisa update wkwk udah pada penasaran sama kelanjutannya? tunggu chapter selanjutnya ya hehe. Trus yang bilang FF ini enggak ngebosenin makasih banget loh ya, kalian senang aku juga senang

Dan author juga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, gimana puasanya? lancar? harus dong*jempol*

.

Akhir kalimat

Ayo dong readers tercinta, beri semangat diriku untuk melanjutkan FF ini dengan FOLLOW, FAVORITE, AND COMENT. Jangan jadi silent readers ya.. ;););)

Cukup sekian dari Author dan jangan lupa FOLLOW, FAVORITE, AND COMENT. Bye~