Bagian 4
Fortunes Of Bracelet
(Gelang Keberuntungan)
Pairing : Kaihun, Hanhun, Krishan, Chanbaek, etc.
Rate : T
Genre : Drama, Romance.
Declaimer : Semua tokoh dalam fanfic ini berada dibawah asuhan SM Ent, milik orang tua mereka dan tentunya merupakan ciptaan Tuhan. Tetapi fanfic ini, pure/real/murni karya saya.
Warning : YAOI, BL, Boyxboys, OC and Typo.
Don't Like Don't Raed!
Setelah kejadian cium – mencium yang sebelumnya terjadi secara tidak disegaja, membuat salah satu namja yang terlibat dalam insiden tersebut berusaha untuk menutupinya. Sehun– Ya, Sehun bahkan menganggap bahwa seseorang yang secara tidak elegan mengambil ciuman pertamanya merupakan seseorang yang sudah di black list dalam artian harus dihindari seumur hidupnya. Agak berlebihan memang. Oh ayolah, ciuman yang diidam-idamkan, yang seharusnya romantis? Dan kini dia malah dihantui dengan bayangan-bayangan bagaimana bibir mungilnya mendarat dengan tidak elitnya dan untuk yang kedua kalinya setelah insiden digerbang sekolah, dan sekarang berakhir dengan menghantam bibir tebal sexy –oke, kata sexy nya silahkan di delete- dengan seonggok sepeda yang lagi-lagi menjadi saksi bisu insiden ciuman keduanya dan tentunya bersama orang yang sama pula. Uhh memalukan!
Berusaha menutupi kegugupannya, menghalau debaran jantungnya sendiri yang seakan-akan menghujam dada tipisnya dengan sangat keras. Sehun memang tidak pandai menyembunyikan seesuatu, sesekali Sehun meringis merasakan atau bisa dikatakan mendengar suara debaran jantungnya yang terasa begitu keras.
Kejadian ciuman kedua itu terjadi ketika Sehun yang tersesat tidak tahu arah menuju rumahnya, duduk dipinggir jalan dalam keadaan mata bengkak. Seorang namja datang dengan sepedanya, menawarkan diri untuk mengantarkan anak judes –tapi aslinya cengeng- dan berakhir dengan sepeda menghantam batu besar. Tidak hanya badan yang menghantam aspal hitam melainkan benda lembut, kenyal itu pun tak ayal terhantam untuk kedua kalinya. Jongin, namja bersepeda itu adalah Kim Jongin.
Fortunes Of Bracelet
Suasana dikediaman mewah keluarga Wu sangat tengang karena setelah kejadian itu, kini dua buah makhluk bernyawa tengah diadili. Putra manisnya pulang dalam keadaan yang mengenaskan. Baju dan celana robek, lengan serta lutut yang tergores. Belum lagi perasaan panik Tuan Wu yang mengetahui bahwa anak kesayangnnya belum pulang padahal waktu pulang sekolah telah lama berlalu. Astaga, Tuan Wu mengusap wajahnya kasar dengan tatapan yang menghunus tajam kearah anak yang lebih dewasa.
Keheningan berlalu ketika Tuan Wu mulai membuka suara, "Sehunie, jelaskan Daddy apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" Tuan Wu berjalan beberapa langkah kedepan Sehun dan tangan kekarnya menunjuk pakaian dan luka Sehun secara bergantian.
Sehun meringis, wajahnya menunduk takut. "Dad.. Daddy jangan memarahi Hunnie, Hunnie takut, hiks.. Lagipulakan ini bukan salah Hunnie. Siapa suruh hyung tidak jadi menjemput Hunnie hiks." Karena memang dasarnya Sehun cengeng, jadilah dia dengan acara mengadunya diiringi dengan isak tangis kecil.
Tuan Wu membuang nafas kasar dan merubah ekspresi wajahnya menjada lebih tenang, "Siapa bilang Daddy marah, Daddy kan hanya bertanya sama Sehunie. Daddy hanya khawatir, bagaimana bisa anak kesayangan Daddy pulang dalam keadaan seperti ini." Jelas Tuan Wu sabar. "Sini Daddy obati dulu luka Sehunie!" Tuan Wu menuntun putra cengengnya untuk duduk disofa.
"Appoo~ Daddy, pelan-pelan~" Rengeknya manja.
Sementara laki-laki yang lebih dewasa hanya mendengus kasar 'Huuh, sakit apanya? Hanya goresan juga! Emang dasarnya kamu manja Sehunie. Tapi tak apalah, mungkin dengan begini aku bisa kabur dari tatapan intimidasi Daddy, kekeke..' namun selang beberapa detik kemudian pikiran itu terhapus dan terganti dengan tatapan kesal –tatapan yang seperti ingin menelan bocah manja itu hidup hidup-
"...tapi kalau Daddy mau marah juga tidak apa-apa, tapi marahnya sama Kris hyung. Siapa suruh Kris hyung tidak jemput Hunnie, padahalkan Hunnie sudah menunggu hyung lama sekali Daddy. Untung-untung Hunnie tidak ada yang menculik." Ucapnya diakhiri dengan Sehun yang memeletkan lidah kearah hyung tersayangnya.
Ucapan Sehun barusan mampu membuat Kris tidak berkutik. Kris langsung mendelik tajam kearah Sehun, "Siapa juga yang mau menculik bocah manja dan cengeng seperti kamu Sehunie. Belum lagi suara cemprengmu kalau sedang berteriak. Bisa-bisa si penculik duluan kabur gara-gara dengar teriakanmu." Baiklah, tampaknya inilah kalimat terpanjang yang Kris keluarkan setelah keheningan tadi. Dan perkataan Kris tadi sukses membuat Sehun mencebikkan bibirnya.
"Daddy.. Kris hyung jahat~" Adunya lagi.
"Siapa yang jahat?" Tanya Kris dengan wajah polos yang dibuat-buat.
"Kris hyung!" pekik Sehun keras.
"Aduuh-aduh Sehunie sepertinya aku harus ke dokter untuk memeriksakan telingaku. Bagaimana ini?" Ucap Kris pura-pura panik sambil menutup kedua telinga.
Bibir Sehun semakin mencebik, "Issshh.. Daddy~!"
"Sudah cukup Kris! Kamu sudah dewasa Kris, berhenti mengganggu adikmu." Lerai Tuan Wu tegas. "Sekarang lebih baik kamu ambilkan obat untuk mengobati luka Sehunie. Daddy tidak mau kalau nanti lukanya terjadi infeksi."
"Tapi Dad..." ucapan Kris di potong oleh Tuan Wu. Rupanya kedua putranya tidak ada yang mengerti bagaimana kekhawatiran yang tercetak di wajah Tuan Wu.
"Dan kamu yang obati luka adikmu Kris sebagai hukuman karena kamu tidak menjemput Sehunie seperti yang Daddy perintahkan." Ucap Tuan Wu.
"Dan untuk Sehunie berhenti buat Daddy khawatir, ne? Kamu tahu kan kalau Daddy tidak bisa fokus kerja kalau mendengar Sehunie dalam keadaan tidak baik. Coba kamu bayangkan kalau tadi seandainya Daddy dalam keadaan tengah melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa seseorang, lalu ketika itu Daddy mendapat telepon dari hyungmu yang mengatakan bahwa kamu belum sampai dirumah dikarenakan hyungmu tidak bisa menjemputmu, karena Daddy panik dan khawatir akhirnya Daddy tidak jadi melakukan operasi terhadap orang tersebut. kamu tahu kan apa yang akan terjadi terhadap orang tersebut?" jelas Tuan Wu panjang lebar. Tidak, Tuan Wu tidak pernah bisa marah terhadap anak-anaknya. Dia hanya terlalu menyanyangi anak-anaknya terlebih jika itu Sehun. Wu Sehun bayi manjanya.
Sehun yang mendengar itu hanya menatap sedih Daddy-nya. Dia merasa bersalah telah membuat Daddy-nya khawatir karena dia tahu kalau Daddy-nya sangat menyayanginya.
"Maafkan Hunnie, Dad. Hunnie janji tidak akan buat Daddy khawatir lagi." Ucapnya berhambur kepelukan Tuan Wu. Tuan Wu hanya tersenyum dan mengacak gemas rambut bayi manisnya. Sesungguhnya yang Tuan Wu tahu, Sehun adalah anak yang penurut.
"Kalau begitu nanti hyungmu yang akan mengobati luka-luka ini." Titah Tuan Wu. "Dan Daddy tampaknya harus kembali kerumah sakit karena masih banyak pasien-pasien yang membutuhkan Daddy. Dan Daddy akan pulang lebih larut sepertinya." Lanjut Tuan Wu sambil mengambil jas dan kunci mobil yang tergeletak diatas meja.
Tuan Wu berdiri dan bergegas menuju mobil mewahnya yang sebelumnya menyempatkan diri untuk mengacak –lagi- rambut putra keduanya.
Fortunes Of Bracelet
Berbeda dengan keadaan di mansion mewah keluarga Wu yang diliputi ketegangan dan kepanikan, rumah besar yang tak kalah mewah yang hanya ditinggali oleh beberapa orang dimana salah satu dari orang tersebut merupakan salah satu pelaku utama dalam insiden –sepeda- Ya, sebut saja begitu.
Jongin, namja lain yang terlibat dalam insiden itu adalah Kim Jongin. Jongin yang semenjak pulang dari kediaman Tuan Wu setelah mengantarkan putra bungsu-nya, kini tengah duduk bersandarkan pada sofa's head dengan pikiran yang tengah melambung pada kejadian seharian ini.
Terhitung sudah dua kali ini dia mencium Sehun yang notabennya sosok namja yang baru dikenalnya hari ini pula. Mengingat kejadian penciuman pertama yang terjadi ketika dia harus buru-buru menuju lapangan basket untuk latihan sehingga dia menambah kecepatan sepedanya, sehingga berakhirlah dia dengan Sehun berada dibawahnya dan tentunya dengan keadaan bibir yang sama-sama menyatu. Jongin meringis geli mengingat kejadian tersebut.
Kemudian kejadian lainnya ketika dia mengantarkan Sehun untuk pulang karena menurut penuturan bocah itu bahwa dia tersesat. Iyalah, Jongin kan anak baik. Mana tega dia membiarkan bocah itu duduk dipinggir jalan dalam keadaan menangis sendirian –persis seperti anak anjing yang tengah kehilangan induknya- pikir Jongin. Lalu dengan hati nuraninya, dia menawarkan diri untuk mengantarkan Sehun pulang dan lagi-lagi berakhir dengan keadaan bibir keduanya saling menghantam satu sama lain. Lagi-lagi jongin meringis, kali ini dengan menyentuh bibirnya sendiri. Entah ini perasaan apa, hanya saja hari ini Jongin benar-benar sangat senang.
"Tuan muda tampaknya tengah bahagia hari ini?" Salah satu maid yang hendak menuju dapur tidak sengaja mendapati anak majikannya tengah tersenyum seorang diri di sofa ruang tamunya.
Kepergok basah, Jongin berusaha menormalkan ekspresinya seolah-olah dia tidak sedang berada seperti apa yang dipikirkan oleh maid kesayangannya, "Ne? Aaah.. ya tampaknya memang hari ini terlihat sedikit berbeda, bukan begitu ahjumma?" Jongin kehilangan kata-kata.
Mendengar pernyataan anak majikannya yang terdengar ambigu, Mi Ra ahjumma hanya mengerutkan keningnya pertanda bahwa kini ia tengah bingung. "Perasaan yang berbeda, perasaan yang tiba-tiba membuat Tuan muda menjadi menghangat. Atau jangan-jangan Tuan muda..."Kali ini Mi Ra ahjumma harus menahan rasa penasaran dan curiganya, karena lagi-lagi Tuan mudanya berlalu begitu saja, mangabaikan perkataannya.
"Aku akan menemui Angel dulu. Angel berada dikamar kan ahjumma?" teriaknya berlalu.
"Tenta saja! Dari tadi Angel memang tengah menunggu Tuan muda." Balas Mi Ra ahjumma cukup keras agar Tuan mudanya bisa mendengar suaranya.
Fortunes Of Bracelet
Sedikit demi sedikit pintu bercorak cokelat itu terbuka menampilkan sosok lembut dan penyayang dengan tatapan kosong mengarah kedepan tanpa fokus. Sosok yang dulunya menjadi panutan, yang menjadi contoh dalam hidupnya, kini berakhir, kini hancur, dihancurkan iblis keparat itu.
Ini ibunya. Angel, dia selalu memanggil ibunya dengan sebutan Angel. Sosok yang memang benar-benar menggambarkan sosok malaikat nyata. Dan malaikat itu hanya dia mempunyainya.
Dia berjalan pelan mendekat menuju Angel-nya, berlutut tepat didepannya. Mengambil tangan lembut itu untuk digenggamnya. Dingin, tangan lembut yang dulunya terasa hangat kini seolah-olah telah berubah menjadi es yang entah kapan akan kembali mencair.
Dia tidak pernah mengeluh. Justru dia sangat bersyukur memiliki Angel-nya. Walaupun Angel-nya yang dulu sangat jauh-jauh berbeda dengan Angel-nya yang sekarang, yang lagi-lagi diperbuat oleh iblis keparat itu.
"Omma.. aku sangat merindukanmu. Sampai-sampai aku tidak bisa bernafas jika tidak melihatmu sedetik saja. Sungguh merindukanmu." Dikecupnya kedua tangan dingin itu dengan lembut.
"Aku mengalami banyak hal aneh hari ini, Omma. Aku senang. Entah mengapa aku merasa nyaman sekali berada didekat bocah itu." Adunya. Tidak ada respon. Keadaan tetap sunyi, hanya suaranya lah yang menjadi pengisi ruangan itu. Laki-laki itu –jongin- tersenyum karena lagi lagi mengingat kejadian yang dialaminya bersama bocah itu.
"Dia cengeng, Omma. Tapi aku juga melihatnya galak. Dia manis dalam keadaan apapun, sekalipun dalam keadaan sedang marah." Tuturnya lagi yang diakhiri dengan kekehan nyaring.
"Omma.. Omma tahu tidak? Dia mirip sekali denganmu dulu. Angel-ku yang dulu sangat persis seperti dia. Galak, namun tetap manis dalam keadaan apapun." Lagi-lagi Jongin membawa tangan dingin itu untuk dikecupnya.
Kali ini ada respon dari Angel-nya. Perlahan-lahan bulan sabit terbentuk dibibir Angel-nya. Semakin lebar dan semakin lebar. Melepaskan tangan dinginnya yang berada digenggaman Jongin dan beralih mengusap lembut rambut anak semata wayangnya.
Jongin tahu itu. Angel-nya pasti mendengarkan suaranya. Angel-nya bahkan bisa merasakan apa yang tengah dirasakannya. Karena darah memang lebih kental dari pada air.
"Omma.." Panggil Jongin.
Nyonya Kim beralih menatap anaknya dengan senyum yang masih terlukis dibibirnya.
"Aku nyaman didekatnya, Omma. Sama ketika aku berada didekatmu." Ucapnya sambil mengusap lembut pipi Angel-nya.
Nyonya Kim mengusap tangan Jongin yang berada diwajahnya, mengecupnya dengan senyum yang terus terpatri.
"A..deul..." lirihnya.
"Ne, Omma?"
"Adeul.. sarang.."
"Ne?"
Fortunes Of Bracelet
Pagi harinya tepat setelah hyung kesayangannya tiba di sekolahnya, dia masih belum mau beranjak turun. Sepuluh menit sudah berlalu, lama-lama Kris gerah juga melihat kelakuan adiknya. Kalau begini terus kapan dia kantornya? Tidak tahu kah bocah ingusan ini kalau ada pimpinan pengusaha muda yang secara langsung datang dari Amerika akan menjalin kerjasama dengan perusahaanya hari ini. Bisa-bisa pengusaha muda itu mencabut laporan dan enggan untuk melakukan investasi terhadap perusahaan kalau begini terus. 'Yak, dasar bocah menyebalkan' makinya dalam hati.
"Ckk.. mau sampai kapan kamu disini Sehunie? Yak, hyung akan ke kantor, hyung yakin kamu tahu itu. Jadi cepat turun, atau hyung yang akan menyeretmu keluar dari mobil hyung. Mau?" Cukup kejam memang, namun bocah ini harus diberi pelajaran sekali-sekali.
Sehun mendengus sebal diiringi dengan bibir mengerucut, "Sebentar lagi hyung. Percaya sama Sehun kalau diluar mobil ini ada bahaya besar." Tuturnya dengan wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin.
Kris mendelik, "Sehunie, bahaya dari mana? Jelas-jelas hyung masih berada dikawasan sekolahmu. Kamu tahu kan apa yang akan hyung lakukan jika ada yang berani macam-macam sama kamu?" Tegas Kris menyakinkan adiknya.
"Tapi hyung, ini benar-benar..." Ucapan Sehun terpotong.
"Atau hyung hubungi Baekhyun saja?" Lanjut Kris. Sehun tergugu setelah hyung-nya menyebutkan nama ember itu –sebutan Sehun untuk Baekhyun-
Mana mau Sehun mengizinkan hyungnya untuk menghubungi Baekhyun setelah apa yang didengarnya kemarin. Di Baekhyun kan ada rahasia terbesarnya disana. Tidak, untuk saat ini hyung-nya tidak boleh bertemu dengan Baekhyun. Baekhyun kan orangnya ember, apalagi kalau yang bertanya itu hyungnya. Yakin sudah kalau rahasia itu akan bocor tanpa di sensor sedikitpun.
"Ti..tidak perlu hyung! Sehunie akan turun se..sekarang." dengan gerakan slow motion, Sehun membuka pintu mobil Kris. Namun baru beberapa detik tangannya sudah bersiap untuk membuka, gerakannya dihentikan oleh pernyataan hyung-nya yang mengejutkan.
"Tunggu Sehunie! Ada sesuatu yang aneh, hyung merasa ada yang tidak beres." Ucap Kris dengan tatapan intimdasinya. 'Uhh.. menyeramkan sekali' batin sehun.
"A..apa lagi sih hyung? Astaga hyung, Sehunie terlambat." Wajahnya dibuat pura-pura panik padahal waktu masuk tunggal sepuluh menit lagi. "Sehunie masuk dulu." Lanjutnya dengan mencium salah satu pipi hyung-nya. Dia membuka mobil hyung-nya tergesa-gesa takut kalau hyung-nya akan menanyai hal yang macam-macam.
.
.
.
Ketika memasuki gerbang sekolah dan memastikan kalau mobil hyung-nya sudah pergi, Sehun berjalan mengendap-endap persis seperti maling. Bagaimana tidak, setelah beberapa langkah Sehun selalu celingak-celinguk kesana –kemari untuk memastikan bahwa orang yang akan dihindarinya tidak ada. 'Aman!" pikirnya.
Berjalan beberapa langkah lagi dan tepat saat ini dia tengah ada di depan lapangan basket. Sehun mulai mewanti-wanti kalau misalkan ada sosok itu tengah berlatih basket.
Beberapa kali Sehun melafalkan doa agar atau setidaknya dia tidak bertemu makhluk yang harus dihindarinya untuk hari ini, kalau bisa sih seterusnya.
Berjalan lagi dengan kali ini langkahnya dipercepat dan dari kejauhan sudah terlihat ruang kelasnya yang bercat agak kecokelatan. Sehun berseru girang dalam hati. Namun senyum itu pudar sedetik kemudian karena mendengar suara teriakan seseorang yang tak kalah cempreng dari suaranya sendiri.
"Yaaak, Sehunie!" teriak namja mungil berjalan ke arahnya.
Sehun berbalik dan menepuk jidatnya sendiri, "Aduh hyung kenapa harus teriak-teriak sih? Aisss!" dengus laki-laki yang lebih tinggi sambil mengentakkan kakinya kesal.
"Habisnya hyung kan penasaran. Dari tadi hyung perhatikan kamu jalannya hati-hati sekali Sehunie."Tutur laki-laki yang lebih pendek.
"Iya, aku memang sedang berhati-hati karena disekolah ini banyak bahayanya. Salah-satu bahayanya itu bertemu dengan Baekhyun hyung!" ucap Sehun yang diakhiri dengan mempoutkan bibir mungilnya.
"Maksudmu aku berbahaya, begitu?" Selidik Baekhyun dengan wajah yang dibuat menyeramkan.
"Iya, Baekhyun hyung memang berbahaya apalagi kalau..."
"Jongin! Yak, Sehunie tampaknya Jongin tengah berjalan kearah kita." Baekhyun mah memang orangnya berlebihan. Tapi memang benar juga sih kalau Jongin tengah berjalan kearahnya sambil membawa bola basket lengkap dengan seragam basket yang melekat ditubuh kekarnya.
Diam-diam Sehun berjalan kearah belakang tubuh Baekhyun. Walaupun itu terlihat tidak mempan mengingat postur tubuhnya yang lebih tinggi daripada Baekhyun.
"JONGINNNNN!" histeris Baekhyun kencang semakin menjadi-jadi. Sampai-sampai Sehun harus membekap mulutnya dari belakang.
Sehun kesal. Iyalah tentu saja Sehun kesal. Orang yang sudah terdaftar untuk dihindarinya kini tepat berada dalam jarak kurang dari satu sentimeter. Jongin tersenyum kearahnya semakin membuat Sehun jengkel.
"Gwenchana? Bagaimana keadaan kakimu? Baik-baik saja kan?" pandangan Jongin beralih menatap kaki Sehun walaupun tidak terlihat karena tertutupi oleh seragam yang tengah dikenakan.
Sehun mengembungkan pipinya, lalu menganggukkan kepalanya. Dia masih enggan mengeluarkan suaranya.
"Baguslah.." balasnya. "Aku hanya takut saja kalau kau tidak akan masuk sekolah hanya karena kejadian kemarin. Aku yakin kau masih ingat kejadian kemarin dimana kamu yang terlihat susah sekali berjalan bahkan hanya karena ada goresan kescil dilututmu." Jongin berlalu setelah mengatakan kalimat ejekan tadi. Jongin pun sempat melihat wajah bahkan sampai telinga Sehun memerah hanya karena ucapannya barusan.
Jangan lupakan Baekhyun yang kini posisinya berada ditengah-tengah mereka. Bohong kalau Baekhyun tidak melihat wajah Sehun yang memerah. Hanya saja dia bingung harus memulainya dari mana. Terlihat Baekhyun hanya menggaruk tengkuknya karena kebingungan yang melandanya.
"Dasar hitam sialan! Mati saja kau!" geram Sehun kesal. Jongin yang mendengar teriakan itu sempat menghentikan langkahnya namun tanpa membalikkan badannya. Jongin tersenyum, dan melanjutkan jalannya kembali.
Sehun masih geram dengan Jongin langsung sweatdroop baru menyadari kalau Baekhyun berdiri dengan mulut mengaga lebar tengah menatapnya dengan Jongin secara bergantian. 'ini gawat!' batinnya. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Sehun langsung melesat menuju kelasnya.
"Yaaak.. Sehunie, kau berhutang penjelasan padaku!" pekik Baekhyun yang menyadari bahwa Sehun tengah berlari jauh.
.
.
.
Sebelumnya Sehun tidak pernah tidak senang dengan pelajaran olah raga. Dia sennag olah raga, hanya saja mengetahui jenis olah raga apa yang harus dilakukan tambah membuatnya kesal. Sehun sih senang dengan semua jenis olah raga namun pengecualian untuk jenis olah raga satu ini, yaitu basket. Uhh..
Lee saem sudah meniupkan peluitnya pertanda semua siswa harus berkumpul ketengah lapangan dan melakukan pemanasan sebelum permainan dimulai.
"Hari ini kita mulai dengan dribble terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan mencoba untuk berlatih shooting. Karena ini bukan olah raga baru untuk kalian semua, jadi saya harap kita bisa bekerja sama." Terang Lee saem panjang lebar.
"Dan Sehun saya harap kita bisa bekerjasama. Saya berharap cara bermain kamu ada peningkatan untuk nanti." Sindir Lee saem terang-terangan. Mendengar itu, Sehun hanya meringis.
PRIITTT!
Tibalah kegiatan dribble bergilir mengelilingi lapangan dan diakhiri dengan shooting. Semua rata-rata sukses. Hanya satu orang yang menjadi objek sekarang. Yaitu Sehun. Bagaimana tidak, ini sudah keberapa kalinya bola basket tersebut menggelinding ke pinggir lapangan akibat ulah Sehun yang berusaha untuk men-dribble bolanya.
Sesekali Sehun berlari menuju arah bolanya yang menggelinding. Mencoba men-dribble lagi dengan bibir yang terus mengerucut.
Lee saem sampai memijit pangkal hidungnya kasar karena sudah beberapa kali menjelaskan Sehun bagaimana cara mend-dribble bola dengan benar. Belum lagi cara shooting-nya yang selalu meleset. Lama-lama Lee saem merebut bola tersebut dan memanggil salah satu nama siswa yang tengah duduk di pinggir lapangan basket yang tengah memegang perutnya.
"Kim Jongin!" panggilnya. Yang merasa dipanggil langsung tersedak dangan tawanya sendiri, terkejut. Jelas saja Jongin terkejut. Dia bahkan tengah asyik-asyiknya duduk santai menikmati waktu istirahatnya sebelum tiba waktunya nanti untuk melanjutkan latihan basket bersama satu tim-nya. Jongin takut, apa jangan-jangan Lee saem mendengar suara tawanya tadi? Aduhh.
"Saya saem?" tanyanya menunjuk wajahnya sendiiri.
"Iya, kamu. Cepat kesini!" perintah Lee saem sarat perintah.
Tidak mau berlama-lama, Jongin akhirnya berjalan menuju tengah lapangan. Sementara Sehun yang mendengar Lee saem memanggil nama orang yang harus dihindarinya, shock. Namun apa daya, Sehun hanya mampu menggigit bibir bawahnya.
"Ada apa saem?" tanya Jongin setelah berada tepat berdiri di samping Lee saem.
"Kamu ajari Sehun bagaimana cara men-dribble dan sooting bola dengan benar. Saya sudah lelah mengajari dia. Cara bermain dia persis sekali seperti anak perempuan." Mendengar ungkapan kesal dari guru olahraga itu membuat Jongin lagi-lagi harus mengendalikan diri agar tawanya tidak pecah saat ini juga.
Sehun yang mendengar ungakapan kemarahan dari gurunya langsung menunduk, kesal, bahkan ingin sekali dia menangis saat ini juga.
"Tapi, saem.." cicit Sehun mencoba untuk membantah.
Tidak ingin berlama-lama lagi, Jongin mengambil bola yang berada di tangan Lee saem dengan hormat.
"Ne, saem." Balas Jongin dan tersenyum kearah Sehun yang tengah menatapnya kesal.
Dimulai dari Jongin dengan mempraktikkan bagaimana cara bermain dengan benar dan diakhiri dengan shooting three point. Teman-temannya yang berada di pinggir lapangan hanya mampu terpaku dengan kemampuan Jongin dalam bermain basket.
"Sehun beruntung sekali diajar bermain dengan Jongin"
"Aduuh.. aku juga mau"
"Tahu begini, mending aku berpura-pura tidak bisa saja tadi!"
"Uhh.. senangnya."
Masih banyak komentar-komentar teman sekelas Sehun yang lain. Mereka merasa Sehun sangat beruntung diajari oleh Jongin.
Sementara itu, Sehun sangat merasa kesulitan. Sesekali bola tersebut kembali menggelinding ke pinggir lapangan karena ketidak mampuan Sehun. 'Uuh..menyebalkan! kenapa sih sekali saja bola ini bisa tidak menurut, kan malu kalau makhluk hitam ini tahu kalau aku tidak bisa bermain basket.' Batin Sehun berkicau kesal sambil berjalan untuk memungut bola basket tersebut.
Sadar atau tidak, Jongin mengambil tersebut dan menarik pinggang ramping Sehun untuk berdiri didepannya. Setelah posisinya pas yaitu Jongin yang berada dibelakang Sehun, Jongin menuntun kedua tangan Sehun untuk menggenggam bola tersebut lalu kemudian kedua tangan Jongin memerangkap kedua tangan Sehun yang tengah menggenggam bola basket.
Sedikit demi sedikit Jongin mengajari Sehun bagaimana cara mendribble bola dengan benar. Bola menantul kelantai lapangan, lalu ditahan lagi sesuai dengan gerakan pantulan bola, terus berjalan pelan dengan posisi Jongin yang masih berada dibelakang Sehun. Happ! Bola ditanggap dan siap untuk dimasukkan ke keranjang, berhenti sejenak untuk mengatur posisi mereka berdua. Sehun yang memegang bola dengan tangan Jongin yang terus membungkus tangannya dari belakang, dann... MASUK!
Suara tepuk tangan membuat mereka tersadar akan posisi mereka saat ini. Dari belakang memang tampak sekali kalau Jongin tengah memeluk Sehun. Mereka tersadar, dan mencoba untuk bertingkah biasa saja padahal didalam sana jantung mereka tengah berdetak dengan kerasnya. Tentu saja jantung mereka berdua.
"Bagus Sehun! Begitu cara bermain yang benar. Tampaknya kamu memang memerlukan sosok pelatih untuk mengajarimu bermain dengan baik." Puji Lee saem merasa puas. "Atau kamu juga bisa menjadikan Jongin sebagai pelatihmu! Kamu tidak mau kan nilaimu jatuh hanya gara-gara tidak lulus dalam pelajaran saya?" Lanjut Lee saem.
"Mwo? Jongin!"Balas Sehun terkejut dan dibalas oleh oleh anggukan mantap dari Lee saem.
"Iya, memang ada yang salah dengan Jongin?" Tegas Lee saem. "Bahkan sepertinya Jongin sama sekali tidak keberatan."Terangnya lagi.
'Tapi aku yang keberatan saem!' batin Sehun merintih.
.
.
TBC
Halooooo.. kembali lagi kita bersua dalam epep yang sama sekali gak jelas ini.
Maaf kan kengaretan dari ff ini, bisa?
Bisa dong, kan kalian semua baik-baik, ye kan? Ye kan?
Oyaaa.. senang deh masih ada yang minat sama FF ini. *tebarMenyan*
Sayang kalian.
Insyaallah, next chap akan lebih terbongkar sedikit demi sedikit siapa sehun, siapa kris, dan siapa luhan. Maunya sih chap ini mau dipanjangin, tapi apa daya saya hanya manusia biasa yang kadang merasa lelah *edisiCurhat*
Insyallah kita ketemu minggu depan kalau yang review banyak tapi yaaa..
Okee, see you!
Review?
