MIRACLE IN DECEMBER
[SEQUEL 'MISTAKE']
Author: ParkByun92
Cast: ChanYeol, BaekHyun, and OCs.
Disclaimer: All the cast excluded Ocs belong to their management, fans, and families
YAOI!
Enjoy Readers!
SORRY FOR TYPO!
Summary: Kisah ini menceritakan penyesalan terdalam Park ChanYeol sepanjang hidupnya. Park ChanYeol telah kehilangan-nya. Dia yang selalu dihati dan fikiran Park ChanYeol. Akankah dia kembali pada ChanYeol? Ataukah, selamanya ChanYeol hanya bisa berangan-angan kembali padanya.
*Miracle In December*
Jadi beginikah rasanya melihat kau berjalan bersama seseorang?
.
Maafkan aku Baek, sekarang aku tau bagaimana rasanya di khianati oleh seseorang yang begitu kita cintai.
*Miracle In December*
BaekHyun memejamkan matanya sejenak lalu masuk kedalam ruangannya. Setelah berlari menghindari ChanYeol tadi, BaekHyun pergi ke toilet. Ia tidak mungkin kembali keruangannya dengan air mata yang terus menerus menetes, ia tidak ingin Aleyna khawatir dan bertanya macam-macam padanya.
BaekHyun tersenyum saat melihat Aleyna masih tenang duduk disofa dengan pandangan lurus kearah TV. BaekHyun berjalan mendekati Aleyna dan memberikan kecupan sayang di pipi Aleyna. Aleyna yang melihat BaekHyun kembali tersenyum manis.
"Mama kembali! Hehehe.."
"Aley menunggu lama ya? Mianhae.."
Aleyna menggeleng lalu duduk dipangkuan BaekHyun.
"Gwenchana Mama, Aleyna sudah berjanji akan menjadi gadis yang pintar."
BaekHyun tersenyum lalu memberikan Aleyna ciuman di keningnya. Aleyna yang duduk menghadap BaekHyun dapat melihat wajah cantik ibunya, Aleyna bersyukur mendapatkan ibu yang sangat cantik dan baik seperti ibunya ini. Sampai kapanpun Aleyna akan bangga memiliki ibu seperti BaekHyun.
"Mama Saranghae.."
"Aleyna Saranghae.." Balas BaekHyun.
Aleyna memeluk BaekHyun begitu erat, begitupula dengan BaekHyun. BaekHyun tidak bisa menahannya lagi, setetes air mata kembali mengalir di pipi BaekHyun. BaekHyun kembali teringat wajah itu disaat Aleyna tersenyum, wajah Aleyna begitu persis seperti Namja itu. Rasa sesak itu datang lagi.
Aleyna yang merasakan bahu sang ibu bergetar hebat melepaskan pelukannya. Aleyna terkejut saat melihat BaekHyun menangis.
"Mama kenapa menangis? Uljima Mama."
Kedua mata Aleyna berkaca-kaca.
BaekHyun mengecup sayang kening Aleyna. BaekHyun menjajarkan wajahnya persis didepan wajah Aleyna, BaekHyun menatap wajah Aleyna sendu. ChanYeol sudah mengetahui keberadaannya, dan cepat atau lambat ChanYeol akan tau jika ia memiliki Aleyna. BaekHyun semakin takut.
"Mama.." Panggil Aleyna dengan setetes air mata.
BaekHyun menghapus air mata Aleyna dengan ibu jarinya. BaekHyun tersenyum tipis.
"Aleyna jangan menangis, Mama baik-baik saja sayang.."
"Tapi Mama menangis hiks.. hiks.."
"Mama menangis karena Mama senang bertemu dengan teman lama Mama."
"Mama Uljima.."
Aleyna kembali memeluk BaekHyun erat.
"Kalau begitu Aleyna juga berhenti menangis, Mama sudah tidak menangis."
BaekHyun tersenyum saat mendengar isakan tangis Aleyna tak terdengar. BaekHyun mengusap lembut punggung Aleyna dan memberikan ciuman di kepala Aleyna. Perlahan-lahan rasa sesak itu menghilang, berganti dengan perasaan nyaman karena Aleyna memeluknya. Sekarang BaekHyun menyesal sempat tidak menerima Aleyna sebagai anaknya, hanya karena membenci ayah Aleyna, BaekHyun dengan jahatnya tidak menerima kehadiran Aleyna.
Tapi sekarang tidak lagi. Sejak Aleyna lahir, BaekHyun sangat mencintai dan menyayangi Aleyna. Benci itu sudah ia kubur dengan masa lalunya. Jika dulu ia ingin Aleyna pergi dari hidupnya, sekarang BaekHyun akan mempertahankan Aleyna untuk hidup di dunia. Meskipun nyawa BaekHyun taruhannya, BaekHyun akan melindungi Aleyna.
"Aleyna harus janji tetap bersama Mama, jangan tinggalkan Mama sayang. Mama sangat mencintai Aleyna."
BaekHyun merasakan Aleyna mengangguk di dadanya.
"I Love You Too Mama.."
Ketakutan-ketakutan di kepala BaekHyun perlahan menghilang. BaekHyun yakin Aleyna tidak akan meninggalkannya.
Karena BaekHyun takut jika ChanYeol tau siapa Aleyna.
ChanYeol akan mengambil Aleyna darinya.
*Miracle In December*
"Sekarang, jelaskan apa yang terjadi LuHan!."
LuHan mendengus jengkel disaat ChanYeol tidak sabar akan ceritanya. Setelah kepergian BaekHyun tadi, LuHan mengajak ChanYeol untuk bicara di café samping kantornya. Dengan segala bujuk rayu, akhirnya ChanYeol mau pergi. LuHan bernafas lega karena ChanYeol masih bisa dikendalikan.
"Tapi sebelum itu, bolehkah aku bertanya?."
ChanYeol menatap LuHan tak suka. LuHan terlalu terbelit-belit.
"Apa?!."
"Siapa dia?." Tanya LuHan dengan menunjuk YuRi dengan dagunya.
ChanYeol melirik YuRi sebentar yang duduk disampingnya. Yeoja itu tetap saja mengikutinya. ChanYeol semakin tambah kesal.
"Sekretaris ku."
LuHan menganggukkan kepalanya mengerti, tapi sedetik kemudian LuHan menatap tajam ChanYeol. ChanYeol semakin kesal dengan apa yang difikirkan LuHan saat ini. ChanYeol tidak bodoh akan arti tatapan LuHan itu.
"Sekretaris mu atau calon istrimu?."
YuRi terlihat terkejut sedangkan ChanYeol hanya memasang wajah datar.
"Demi tuhan dia hanya Sekretarisku!." Bentak ChanYeol dan membuat perhatian pengunjung lain teralihkan pada mereka.
"Okey okey aku percaya! Baiklah, aku akan bicara tapi hanya padamu."
Seolah tau akan maksud LuHan, YuRi bergerak gelisah dikursinya.
"Pulanglah!." Perintah ChanYeol pada YuRi yang hanya duduk diam dikursinya.
"Untuk apa aku pulang? Aku akan menunggumu di mobil."
"Pulang Kwon YuRi! Berhenti mengikutiku! Berhenti mencampuri urusan pribadiku!." Bentak ChanYeol. YuRi malu bukan main, Yeoja itu menundukkan kepalanya dengan wajah kesal. Bagaimana bisa ChanYeol membentaknya ditempat umum.
YuRi segera berlalu dari café itu dan pulang menggunakan taksi. Ia tidak mau dipermalukan lebih jauh oleh ChanYeol.
"Sekarang ceritakan semuanya! Selama 3 tahun ini dimana BaekHyun tinggal?."
LuHan menghembuskan nafasnya pelan. Mau tidak mau LuHan menceritakan BaekHyun pada ChanYeol. Karena dengan begini ChanYeol akan mengerti jika BaekHyun masih belum siap bertemu dengan ChanYeol.
"BaekHyun tinggal di Amerika bersama Kris."
Rahang ChanYeol terlihat mengeras. LuHan tau jika ChanYeol marah besar sekarang.
"Dia pergi sehari sesudah memergokimu tidur dengan KyungSoo." Kali ini LuHan yang menatap ChanYeol begitu tajam. LuHan juga menahan amarahnya untuk tidak memukul ChanYeol didepan umum.
"Selama 3 tahun ini ia hidup bahagia di Amerika." Lanjut LuHan.
"3 tahun di Amerika, BaekHyun mencoba melupakan semuanya. Termasuk masa lalunya bersamamu, brengsek!."
Emosi LuHan hampir tak terkendali.
"Jadi, untuk saat ini jangan ganggu BaekHyun. Dia baru saja kembali, kau tidak ingin kan jika BaekHyun pergi lagi?."
ChanYeol menundukkan kepalanya saat perkataan LuHan menusuk jantungnya. Jadi, apa yang harus ChanYeol lakukan sekarang? ChanYeol sudah berjanji jika BaekHyun kembali, ChanYeol akan berubah. Tidak ada lagi Park ChanYeol yang brengsek.
"Lalu aku harus apa LuHan? Aku.. begitu merindukannya."
"Tsk, merindukannya kau bilang? Sialan! Mudah sekali kau mengatakannya! Kau tidak tau bagaimana perasaan BaekHyun saat itu! Kau begitu kejam Park ChanYeol!."
"Aku tau. Tapi sekarang aku bukan lagi Park ChanYeol yang dulu. Aku ingin meminta maaf pada BaekHyun dan melindunginya."
Tatapan tajam LuHan melunak saat mendengar perkataan tulus ChanYeol. Mungkin benar jika Park ChanYeol yang dulu telah berubah, LuHan sudah melihat kenyataan itu 3 tahun ini.
"Kau bisa meminta maaf dan melindungi BaekHyun seperti keinginanmu, tapi tidak sekarang ChanYeol-ah. BaekHyun perlu waktu. 3 tahun ini BaekHyun mencoba melupakanmu, dan tiba-tiba saja kau kembali di kehidupannya. BaekHyun belum siap untuk itu. Cobalah mendekatinya secara perlahan. "
ChanYeol mendongakkan kepalanya menatap LuHan. Yang dikatakan LuHan ada benarnya juga.
"Kau tidak inginkan BaekHyun pergi lagi? Aku juga tidak ingin BaekHyun pergi. Jadi, gunakan cara halus dan perlahan untuk mendekati BaekHyun. Jika waktunya sudah tepat, kau bisa bertemu dengan BaekHyun."
"LuHan kau benar. Aku tidak ingin dia pergi lagi."
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk kembali bersama BaekHyun. Tapi jika kau kembali menyakitinya, jangan harap kau akan bertemu lagi dengan BaekHyun. Ini kesempatan terakhirmu Park ChanYeol." Ucap LuHan dengan begitu serius.
"Aku berjanji tidak akan menyakitinya. Gomawo Hyung."
LuHan tersenyum lembut. Sudah cukup LuHan melihat ChanYeol menderita. Meskipun tidak sepadan dengan penderitaan BaekHyun, tapi apa yang dirasakan ChanYeol melebihi kesakitan BaekHyun.
"Tumben kau memanggilku Hyung? Jangan kau fikir aku berada dipihakmu! Aku hanya membantumu sedikit."
ChanYeol hanya tersenyum tipis. Meskipun hanya membantu sedikit, ChanYeol tetap berterima kasih pada LuHan. Tanpa bantuan LuHan, ChanYeol tidak mungkin masih hidup sampai sekarang.
Sedangkan LuHan kembali menghembuskan nafasnya kasar. LuHan merasa bersalah pada ChanYeol karena menyembunyikan sesuatu pada Namja itu. Tapi ini keinginan BaekHyun. Dia hanya bisa menutup mulut hingga BaekHyun sendiri yang memberitahukan sesuatu pada ChanYeol.
ChanYeol harus tau keberadaan Aleyna.
*Miracle In December*
LuHan duduk dengan gelisah dikursi mobilnya. Pagi ini LuHan dan SeHun –suaminya pergi menuju apartment baru milik BaekHyun. Sejak kemarin malam, LuHan begitu memikirkan BaekHyun. LuHan takut jika BaekHyun akan pergi lagi dari Seoul setelah ChanYeol tau keberadaan BaekHyun. Karena LuHan tau apa yang ditakutkan BaekHyun jika ChanYeol tau keberadaan BaekHyun.
"Sayang tenanglah, BaekHyun tidak mungkin pergi lagi." Itu Sehun yang mencoba menenangkan LuHan.
Oh, aku lupa untuk memberitahukan kalian, LuHan dan SeHun sudah menikah sejak 2 tahun yang lalu. Sebenarnya LuHan begitu kecewa disaat ia menikah, BaekHyun tidak berada disana. LuHan bahkan saat itu tidak tau bagaimana keadaan BaekHyun. BaekHyun hilang seperti ditelan bumi.
"Aku tahu SeHun-ah, tapi entah kenapa aku tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan BaekHyun."
SeHun tersenyum lalu mengusap surai LuHan sebentar.
"Sebentar lagi kita akan bertemu dengannya. Aku juga tidak sabar bertemu dengan Aleyna, dia pasti sangat cantik."
"Kau benar. Aku juga ingin bertemu dengan Aleyna. Apakah dia sangat persis seperti ChanYeol?."
SeHun tertawa. "Tentu saja sayang, ChanYeol ayah Aleyna kan?."
LuHan mengangguk. LuHan memang menceritakan semuanya pada SeHun, lagipula untuk apa LuHan menutupi keberadaan BaekHyun pada SeHun, SeHun juga sahabat baik BaekHyun. SeHun harus tau jika BaekHyun sudah kembali. Dan cerita-cerita BaekHyun lainnya, LuHan ceritakan semuanya pada SeHun.
10 menit kemudian, mobil SeHun telah sampai didepan gedung bertingkat yang begitu megah. SeHun tau jika apartment ini salah satu apartment termahal di Seoul.
"Apa disini apartment BaekHyun?." Tanya SeHun.
LuHan mengangguk. "Ya, BaekHyun bilang begitu kemarin."
"Lalu kau tau nomor kamarnya, sayang?."
"Aku tau. 206A."
"Kajja.."
SeHun dan LuHan keluar dari mobil lalu beranjak masuk kedalam gedung. Setelah bertanya pada Repsesionist dilantai berapa BaekHyun tinggal, keduanya masuk kedalam lift dan naik ke lantai 4.
Sesampainya dikamar bertuliskan nomor 206A, LuHan langsung saja mengetuk pintu itu. Tanpa menunggu lama, pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan BaekHyun yang memakai celemek dipinggangnya. BaekHyun terkejut dengan kedatangan LuHan yang mendadak, bahkan LuHan membawa SeHun.
"LuHan Hyung? SeHun?."
"Hay Baek.." Sapa LuHan dengan senyum lebarnya.
BaekHyun tersenyum lalu mempersilahkan keduanya masuk. LuHan maupun SeHun masuk kedalam apartment BaekHyun. Keduanya mengedarkan pandangannya pada setiap sudut apartment BaekHyun. Apartment BaekHyun begitu rapi, dan disetiap dindingnya terdapat foto BaekHyun dan Aleyna.
"Apa LuHan Hyung dan SeHun sudah sarapan?."
"Kami belum sempat sarapan, karena aku sudah tidak sabar bertemu denganmu." Jawab LuHan.
BaekHyun tertawa kecil. "Kebetulan sekali Hyung, aku sedang membuat sarapan. Kita sarapan bersama."
"Tidak merepotkan kan?."
"Tentu saja tidak. LuHan Hyung dan SeHun duduk saja dimeja makan."
Seperti apa yang dikatakan BaekHyun, LuHan dan SeHun duduk dimeja makan. Keduanya tersenyum melihat BaekHyun yang memasak didapur. Keduanya senang akhirnya BaekHyun kembali.
Beberapa menit kemudian LuHan dan SeHun menolehkan wajahnya saat mendengar pintu kamar BaekHyun yang terbuka. Keduanya terpaku pada gadis kecil yang berlari kecil menuju BaekHyun. Mereka tidak menyangka jika putri BaekHyun begitu cantik seperti BaekHyun. Dan juga keduanya terpukau pada wajah Aleyna yang 70% persis ChanYeol.
"Mama.." Panggil Aleyna lalu menghampiri BaekHyun.
Aleyna memeluk kedua kaki BaekHyun dan melirik takut pada SeHun dan LuHan. BaekHyun mematikan kompor lalu berjongkok menyamai tinggi Aleyna.
"Ada apa sayang? Aley sudah selesai menonton TV nya?."
Aleyna mengangguk.
"Mama juga sudah selesai membuat sarapan, Aleyna duduk dulu ya dimeja makan."
BaekHyun mengerutkan keningnya saat Aleyna menggelengkan kepalanya lalu memeluk leher BaekHyun begitu erat. BaekHyun tersenyum dan menggendong Aleyna. BaekHyun beranjak pergi dari dapur untuk menemui LuHan dan SeHun. BaekHyun duduk didepan keduanya dan tersenyum saat pandangan keduanya terpaku pada punggung Aleyna.
"Aleyna sayang, Mama ingin mengenalkan Aleyna dengan sahabat Mama."
Aleyna melepaskan pelukannya dileher BaekHyun. Aleyna melirik LuHan maupun SeHun lalu meringkuk didepan dada BaekHyun.
"Sayang, ini LuHan Uncle dan SeHun Uncle. Mereka sahabat lama Mama. Jja.. Aleyna perkenalkan diri."
Aleyna melirik keduanya ragu. Aleyna duduk dipangkuan BaekHyun dan memposisikan duduknya untuk berhadapan pada SeHun dan LuHan. Aleyna menatap wajah keduanya sebentar lalu tersenyum begitu manis.
"Annyeong haseyo, Aleyna Wu-imnida."
"Aleyna Wu?." Tanya SeHun dengan alis terangkat.
"Aku sudah berganti nama menjadi Wu Baixian. Jadi, tidak salahkan jika anakku bennama Aleyna Wu?."
LuHan maupun SeHun mengangguk mengerti. LuHan tersenyum pada Aleyna yang menatapnya begitu polos dengan mata bulatnya. Mata itu begitu persis seperti milik ChanYeol, hanya saja sorot matanya begitu lembut seperti BaekHyun. Tak hanya mata, organ wajah Aleyna begitu mirip seperti ChanYeol.
"Aleyna sangat cantik, Baek."
BaekHyun tersenyum lembut. "Gomawo Hyung. Dia memang sangat cantik."
"Aku tidak menyangka kau menjadi Namja yang begitu istimewa, aku sangat iri padamu."
"Aku juga tidak menyangka Hyung menjadi Namja yang istimewa. Dulu aku sempat malu dengan keadaanku, tapi sekarang tidak lagi."
"Kau tak perlu malu Baek, ini sudah takdir Tuhan. Tuhan sangat menyayangimu."
"Ya, Tuhan begitu baik padaku. Tuhan memberikan kado special padaku. Aleyna merupakan kado paling berharga di hidupku."
BaekHyun mengecup sayang kepala Aleyna. LuHan dan SeHun tersenyum, meskipun BaekHyun membenci ayah Aleyna tapi BaekHyun tetap mencintai Aleyna, BaekHyun tetap mempertahankan Aleyna hingga hidup didunia. Kehidupan BaekHyun mungkin sulit, tapi BaekHyun mampu menjalaninya.
"Kalau begitu Kajja kita sarapan. Aleyna tunggu disini sebentar ya? Mama akan siapkan sarapan."
Aleyna mengangguk dengan begitu lucu. BaekHyun beranjak dari kursinya lalu menyiapkan sarapan yang dibantu oleh LuHan.
Mereka sarapan dengan tenang. Hingga 30 menit mereka selesai sarapan. Mereka bertiga sepakat untuk berangkat bersama, tapi sebelum ke kantor BaekHyun harus menitipkan Aleyna. BaekHyun lega hari ini Aleyna mau dititipkan. Setelah menitipkan Aleyna, SeHun mengantarkan LuHan dan BaekHyun ke kantor LuHan.
Mobil SeHun sudah terparkir apik didepan kantor LuHan. LuHan dan BaekHyun turun dari mobil. BaekHyun tersenyum melihat kemesraan LuHan dan SeHun. Mereka tetap menjadi pasangan yang romantis. Setelah LuHan berpamitan dengan SeHun, SeHun mengendarai mobilnya untuk pergi ke kantornya sendiri.
"Kajja Baek.." Ajak LuHan. Sebelum LuHan dan BaekHyun beranjak dari Lobby kantor, LuHan memicingkan kedua matanya saat melihat mobil BMW hitam metalik yang terparkir didekat kantornya. Setelah meneliti mobil siapa itu, LuHan akhirnya tau. Itu mobil ChanYeol.
"Ada apa Hyung?."
"Tidak ada apa-apa Baek.."
Meskipun tidak apa-apa tapi pandangan LuHan tetap ke belakang tubuh BaekHyun. Disaat BaekHyun ingin berbalik, LuHan lebih dahulu menarik tangannya untuk masuk kantor. LuHan tidak mungkin memberitahu BaekHyun jika ada ChanYeol. BaekHyun pasti akan pergi menghindar.
Sebenarnya BaekHyun bingung dengan sikap LuHan yang begitu gugup, tapi BaekHyun mencoba mengabaikan itu.
Sedangkan itu LuHan bernafas lega. BaekHyun tidak bertanya apapun padanya. Untuk sekarang semuanya baik-baik saja.
*Miracle In December*
Pukul 6 pagi, dikediaman Park ChanYeol telah ramai dengan beberapa pembantu yang sibuk membuat sarapan. Mereka sedikit heran dengan Tuan mereka, tidak biasanya ChanYeol telah siap dengan jas kantornya pada pukul 6 pagi. Dan mereka semakin heran saat melihat wajah bersemangat ChanYeol pagi ini. ChanYeol juga tidak menunjukkan wajah datarnya, ChanYeol terlihat antusias dengan sesuatu.
"Sarapan telah siap Tuan."
ChanYeol hanya mengangguk lalu menyantap rotinya dengan tenang. Tak beberapa lama ChanYeol telah menyelesaikan sarapannya, kali ini ia sedang menyesap kopinya dengan pandangan kosong kedepan. Ia sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan bagaimana membuat BaekHyun kembali ke pelukannya. Katakan dia egois, tapi untuk kali ini saja ChanYeol benar-benar egois.
Setelah menghabiskan 1 cangkir kopi. ChanYeol beranjak dari meja makan untuk berangkat ke kantor. ChanYeol mengendarai mobilnya dengan tenang, tidak seperti biasanya yang begitu brutal. Dan kali ini tujuan ChanYeol adalah ke kantor LuHan. ChanYeol ingin memastikan jika BaekHyun masih menetap di Seoul. ChanYeol harus memastikannya sendiri meskipun kemarin LuHan mengatakan padanya jika BaekHyun masih berada di Seoul.
Tak butuh waktu lama ChanYeol telah sampai di kantor LuHan. ChanYeol memarkirkan mobilnya di dekat kantor LuHan, ia tidak ingin terlihat mencolok dan membuat BaekHyun menyadari keberadaannya.
ChanYeol menatap kantor LuHan yang masih sepi, tentu saja siapa yang akan bekerja dalam waktu sepagi ini. Tapi demi BaekHyun, ChanYeol akan menunggu sampai BaekHyun menampakkan diri. Menunggu lama tak masalah, karena ChanYeol sudah terlatih selama 3 tahun ini. Dimana dia menunggu BaekHyun kembali.
ChanYeol mengalihkan pandangannya pada setir mobilnya, ChanYeol terlihat melamun. Pikirannya melayang pada pertemuannya dengan BaekHyun kemarin pagi. Ia tidak menyangka akan bertemu BaekHyun dikantor LuHan, jadi tidak sia-sia ia ke kantor LuHan meskipun ia tidak tau apa yang akan dilakukannya di kantor LuHan.
ChanYeol tersadar dari lamunannya lalu mengeluarkan ponselnya. Ketika ponsel ChanYeol menyala, ChanYeol menatap wallpaper ponselnya dengan sendu. Mungkin kalian bisa menebak wallpaper siapa yang dipasang ChanYeol di ponselnya. Ya, itu foto Byun BaekHyun yang sedang tersenyum. Jika kalian bertanya darimana foto itu ChanYeol dapatkan, jawabannya ketika BaekHyun bekerja di supermarket. Lagipula foto itu didapatkan ChanYeol dari anak buahnya yang saat itu menginformasikan jika BaekHyun masih bekerja di supermarket.
Sebenarnya masih banyak foto BaekHyun di ponsel ChanYeol. Tapi bagi ChanYeol, foto yang ia gunakan untuk wallpaper ponselnya adalah foto BaekHyun yang tersenyum dengan begitu tulus dan cantik. Setiap ChanYeol melihat foto itu, ChanYeol akan ikut tersenyum. Dan sekarang, ChanYeol begitu merindukan senyuman BaekHyun.
"Aku sangat merindukanmu Baek. Maafkan aku karena membuatmu menderita, aku pantas mendapatkan ini semua."
ChanYeol mengusap layar ponselnya. ChanYeol benar-benar merindukan BaekHyun hingga rasanya ChanYeol ingin mati. Mungkin bagi semua orang ChanYeol terlalu berlebihan dalam menyikapi masa lalunya, tapi rasa bersalah yang ia dirasakan begitu menyiksa. Kau akan tau rasanya jika setiap harinya rasa bersalah itu menghantuimu. ChanYeol ingin bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya dimasa lalu. Melupakan masa lalunya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
ChanYeol menengokkan kepalanya ke kursi penumpang samping kemudi. Semakin ia ingat masa lalunya, semakin ChanYeol tau seberapa brengseknya ia dulu. ChanYeol ingat ketika ia menyetubuhi BaekHyun didalam mobil, tepat disamping kursi pengemudi. Meskipun bukan mobil ini yang ia pakai, tapi rasanya ChanYeol dapat melihat kembali masa lalunya.
ChanYeol ingat ketika BaekHyun menangis minta dilepaskan, wajah BaekHyun saat itu banjir air mata dan ChanYeol yang tidak berperasaan tak menghiraukan BaekHyun. ChanYeol juga ingat wajah kesakitan BaekHyun saat ia menyatukan tubuh mereka, BaekHyun terlihat pucat dengan mata sayunya. Mengingatnya membuat ChanYeol semakin benci dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak berkemanusiaan dan melakukan hal paling keji.
Dan pagi ini ChanYeol merasakan 1 air mata lolos dari kedua matanya.
Hingga pukul setengah 8, ChanYeol terlonjak dari duduknya ketika melihat mobil SeHun terparkir dikantor LuHan. ChanYeol menajamkan matanya saat melihat LuHan keluar dari mobil SeHun dengan seseorang, dan ChanYeol yakin itu BaekHyun. Ya! Itu memang BaekHyun, ChanYeol terlalu hafal dengan lekuk tubuh BaekHyun.
ChanYeol tersenyum sumringah, yang dikatakan LuHan benar. BaekHyun tidak mungkin pergi lagi. ChanYeol menatap sendu punggung BaekHyun dari kejahuan. ChanYeol tau jika LuHan menyadari keberadaannya, dan ChanYeol berterima kasih pada LuHan karena segera menarik tangan BaekHyun disaat BaekHyun ingin membalikkan tubuhnya. Meskipun ChanYeol tidak lagi melihat BaekHyun–untuk hari ini, tapi ChanYeol senang BaekHyun masih di Seoul. Ini kesempatan ChanYeol untuk memperbaiki semuanya.
"BaekHyun-ah, tunggulah sebentar lagi." Gumam ChanYeol dengan senyumannya.
*Miracle In December*
1 bulan berlalu.
BaekHyun meregangkan kedua tangannya dan juga kepalanya yang terasa pegal. BaekHyun menatap jam dinding ruangannya, waktunya makan siang. Dengan segera BaekHyun membereskan sketsa gambarnya dan peralatannya yang lain. Siang hari ini BaekHyun sudah berjanji pada Aleyna untuk makan siang bersama, lagipula BaekHyun juga ingin ke bandara menjemput seseorang.
"Oh Baek, mau kemana?." Tanya LuHan saat masuk kedalam ruangan BaekHyun dan melihat BaekHyun memakai jaketnya.
"Hay Hyung, aku ingin makan siang bersama Aleyna. Hyung mau ikut?."
"Bolehkah?."
"Tentu saja."
LuHan tersenyum lalu mengangguk dengan semangat. Kedua Namja cantik ini berjalan beriringan keluar dari kantor LuHan. Sampai di basemant, LuHan memasuki mobilnya begitu juga BaekHyun. Perjalanan keduanya begitu tenang, tak ada yang berani memulai pembicaraan. Mereka berdua terlihat canggung.
"Mmm.. Baek, bagaimana perkembangan Aleyna saat ini?." Tanya LuHan karena tidak tahan dengan suasana diantara mereka.
BaekHyun menengok sebentar ke arah LuHan lalu kembali menatap luar jendela.
"Aleyna semakin banyak bicara sekarang. Dia juga sering bertanya tentang sesuatu. Dia tumbuh dengan sangat baik, Hyung."
"Tentu saja Baek. Kau menjaganya dan membesarkannya dengan baik. Kau ibu yang sempurna."
BaekHyun hanya tersenyum.
"Tidak Hyung.. aku tidak sempurna. Aku belum menjadi seseorang yang membesarkannya dengan baik. Aku terlalu banyak berbohong pada Aleyna."
Seakan mengerti kebohongan apa yang BaekHyun lakukan, LuHan hanya menghembuskan nafasnya pelan. Ini memang sulit, LuHan mengerti bagaimana tekanan di hati BaekHyun saat ini. Disatu sisi BaekHyun ingin Aleyna bahagia jika dipertemukan dengan ayahnya, tapi sisi lainnya BaekHyun terlalu takut jika ChanYeol tidak akan menerima Aleyna dan lebih buruknya, ChanYeol akan mengambil Aleyna dari BaekHyun.
BaekHyun tidak bisa membayangkan jika dirinya harus jauh dengan Aleyna. Beberapa menit tidak bertemu Aleyna saja BaekHyun sudah rindu setengah mati. Dan bagaimana jika nanti ChanYeol mengambil Aleyna dalam kehidupannya? BaekHyun rasanya ingin mati saja.
"Aku tau apa yang kau rasakan Baek, tapi apakah kau tidak kasihan melihat Aleyna? Dia juga butuh ayahnya. Kau pasti tau rasanya jika tidak mempunyai orang tua yang lengkap, sebagian hatimu terasa kosong. Aleyna juga perlu kasih sayang ayahnya."
BaekHyun menyerngit tidak suka.
"Jadi maksud Hyung aku harus mempertemukan Aleyna dengan ayahnya?."
"Hanya mempertemukan mereka, kau–"
"Dan setelah aku mempertemukan mereka, dia akan mengambil Aleyna. Itu yang kau mau Hyung?."
"Baek–"
"Tidak Hyung! Aku tidak akan pernah mempertemukan keduanya! Tidak akan pernah. Aleyna sudah bahagia hanya denganku. Aleyna tidak butuh ayahnya."
LuHan hanya diam memandang jalanan. LuHan dapat merasakan kebencian yang dirasakan BaekHyun untuk ChanYeol. Dan ini juga salah LuHan memaksa BaekHyun untuk mempertemukan Aleyna dan ChanYeol, ini terlalu cepat untuk BaekHyun. LuHan mengerti itu.
"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan memaksamu lagi. Kau juga perlu waktu."
BaekHyun hanya diam. Ia benci dengan dirinya yang membenarkan perkataan LuHan. BaekHyun tau jika Aleyna juga butuh ayahnya, tapi kebencian BaekHyun pada ayah Aleyna begitu memuncak. Dan kebencian itu semakin mengrogoti hatinya. Sampai kapanpun BaekHyun tidak akan pernah mempertemukan keduanya.
Tak terasa mobil LuHan telah sampai diperkarangan penitipan Aleyna. BaekHyun segera turun disusul LuHan. Keduanya masuk kedalam penitipan dan menemukan Aleyna duduk dibangku taman bersama SeulGi. BaekHyun tersenyum saat mendengar tawa Aleyna. BaekHyun bersyukur sampai sekarang Aleyna hidup dengan baik. Meskipun tanpa ayah, Aleyna masih bisa bahagia.
"Aleyna sayang.." Panggil BaekHyun. Aleyna menolehkan kepalanya kedepan dan menemukan ibunya yang berdiri tak jauh darinya dengan senyuman manis. Aleyna segera turun dari bangku taman lalu berlari menghampiri BaekHyun.
HAP
"MAMA!." Teriak Aleyna senang.
BaekHyun tertawa geli dan menangkap tubuh Aleyna.
"Hallo Princess.. bagaimana harimu?."
"Aleyna sangat senang. Hari ini Aleyna belajar menulis!."
BaekHyun tersenyum lalu mencium singkat bibir Aleyna. Aleyna terkekeh geli dan memeluk leher BaekHyun begitu erat.
LuHan maupun SeulGi yang melihat interaksi keduanya mengulum senyum. Mereka berdua begitu mirip dari segi sifat. Siapapun yang melihat Aleyna dan BaekHyun akan merasakan juga kebahagian.
LuHan dan SeulGi mendekati keduanya. Aleyna tersenyum manis saat mendapati LuHan yang berdiri dibelakang BaekHyun.
"LuHan Uncle!."
LuHan mengusap kepala Aleyna yang berada digendongan BaekHyun. LuHan mengagumi senyum Aleyna yang begitu cantik, persis seperti senyum BaekHyun. Memang benar jika ada pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Uncle ikut menjemput Aleyna ya?."
LuHan mengangguk. "Iya, Gwenchana?."
"Gwenchana Uncle. Aleyna senang LuHan Uncle ada disini."
3 orang dewasa yang mendengar tawa Aleyna ikut tertawa. Aleyna gadis kecil yang menajubkan.
"Terima kasih SeulGi-ssi telah menjaga Aleyna." Ucap BaekHyun dengan senyumannya.
"Itu sudah tugas saya Tuan."
"Kalau begitu kami permisi. Sayang, ucapkan selamat tinggal pada SeulGi Saem."
Aleyna menatap SeulGi lalu membungkukkan badannya sebentar. "Gomawo Saem telah mengajarkan Aleyna belajar menulis. Hari ini Aleyna senang sekali. Sampai bertemu besok Saem."
SeulGi mengangguk. BaekHyun dan LuHan pamit untuk pergi. Keduanya kembali masuk kedalam mobil LuHan lalu berlalu dari penitipan Aleyna.
"Kita akan makan siang dimana Baek?."
"Bisakah kita ke bandara sebentar Hyung, aku ingin menjemput seseorang."
LuHan menatap sekilas BaekHyun. Terlihat sekali LuHan bingung dengan apa yang dikatakan BaekHyun.
"Menjemput siapa?."
"Hyung akan tau nanti."
"Baiklah."
Dan mulai dari sekarang LuHan berdoa semoga dia bukan calon suami atau suami BaekHyun. BaekHyun memang tidak menceritakan siapapun pada LuHan, tapi LuHan takut BaekHyun akan memberikan kejutan dengan datangnya seseorang yang memenangkan hati BaekHyun sekarang. Tuhan, kasihanilah Park ChanYeol.
*Miracle In December*
BaekHyun maupun LuHan telah berdiri di batas pagar kedatangan luar negeri. Sedari tadi LuHan melirik BaekHyun yang tersenyum menunggu seseorang. LuHan tidak bisa menebak siapa itu, karena disaat LuHan bertanya siapa yang mereka tunggu maka BaekHyun akan berkata sebentar lagi mereka akan bertemu orang itu. LuHan berharap-harap cemas.
LuHan menatap Aleyna yang ikut menunggu dan berdiri disamping BaekHyun. Gadis kecil itu begitu lucu saat memegang pagar pembatas dengan wajah polosnya. LuHan tersenyum saat melihat Aleyna memainkan bibirnya karena merasa bosan. Sudah 15 menit mereka disana dan belum ada tanda-tanda pintu kedatangan luar negeri terbuka.
"Mama.." Panggil Aleyna. BaekHyun menundukkan kepalanya menatap Aleyna yang mempautkan bibirnya.
"Aleyna kenapa?."
"Pipis.."
BaekHyun maupun LuHan tertawa mendengar jawaban polos Aleyna.
"Hyung, kau tidak keberatan mengantar Aleyna? Aku akan menunggu seseorang itu disini."
"Tentu saja tidak. Kajja kita ke kamar mandi sayang."
Aleyna tidak memprotes saat LuHan menggandengnya untuk ke kamar mandi. Aleyna sudah tidak bisa menahan buang air kecilnya.
Sedangkan BaekHyun menatap jam tangannya. Waktu sudah beberapa menit berlalu dan seseorang itu belum juga menampakkan diri. Tapi tak beberapa lama pintu kedatangan luar negeri terbuka. Dengan mata berbinar, BaekHyun mencari seseorang itu.
Itu dia!
Namja yang memakai coat coklat dengan kacamata hitam. BaekHyun melambaikan tangannya dan Namja itu membalasnya.
"Sudah menunggu lama Wu Baixian?."
BaekHyun tertawa lalu memeluk Namja itu begitu erat.
"Aku merindukanmu Hyung.."
"Aku juga merindukanmu. Dan sayang sekali Tao tidak bisa pulang hari ini."
BaekHyun melepaskan pelukannya lalu menatap Namja didepannya dengan wajah tertekuk.
"Kris Hyung jahat sekali! Kenapa Hyung meninggalkan Tao sendiri disana?!."
Ya, Namja itu Kris. Kris sudah berjanji pada BaekHyun untuk pindah ke Seoul 1 bulan yang lalu. Dan hari ini Kris telah sampai di Seoul dengan selamat. Omong-omong soal Tao, hari ini memang Tao tidak bisa ikut ke Korea karena harus mengurus pekerjaannya di Amerika. Tidak semudah itu untuk Tao meninggalkan pekerjaannya di Amerika.
Kris mencubit hidung BaekHyun dengan gemas dan membuat BaekHyun meringis kesakitan.
"Sebenarnya Hyung mu yang tampan ini tidak rela meninggalkan istrinya sendiri disana, tapi bos tempat Tao bekerja begitu menyayangkan Tao keluar. Tao harus beberapa hari menetap disana. Tenang saja sayang, Tao bisa menjaga dirinya."
BaekHyun mengangguk lalu menggandeng lengan Kris untuk pergi dari sana. BaekHyun harus menyusul LuHan dan Aleyna yang tidak juga kembali. Kris tersenyum dan mengusap kepala BaekHyun.
*Miracle In December*
Di sisi lain.
Terlihat Namja tinggi dan juga tampan baru saja menginjakkan kakinya di Seoul. Setelah 4 hari menetap di Jepang, dia akhirnya kembali ke Seoul. Hari ini benar-benar ia tunggu, karena ia begitu merindukan seseorang.
Park ChanYeol.
ChanYeol melangkahkan kakinya dengan angkuh di koridor bandara, terlihat 4 orang Namja berbadan kekar dengan jas hitam berjalan dibelakang ChanYeol, mereka setia menjaga ChanYeol. Setelah menyelesaikan prosedur yang telah ditentukan, ChanYeol melangkahkan kakinya menuju pintu kedatangan luar negeri.
Baru beberapa langkah keluar dari pintu kedatangan luar negeri, iris ChanYeol menangkap 2 orang Namja berbeda tinggi sedang mengobrol. ChanYeol menajamkan matanya saat melihat BaekHyun sedang memeluk seorang Namja tinggi yang ChanYeol tidak tau siapa karena Namja itu membelakanginya.
ChanYeol mengepalkan tangannya hingga telapak tangannya memutih.
Dia cemburu.
ChanYeol cemburu saat BaekHyun memeluk Namja itu begitu erat. ChanYeol cemburu saat Namja tinggi itu mencubit hidung BaekHyun hingga BaekHyun meringis manja. ChanYeol cemburu saat BaekHyun mengaitkan tangannya di lengan Namja itu. ChanYeol cemburu saat Namja itu mengusap kepala BaekHyun begitu lembut. Dan ChanYeol semakin cemburu saat keduanya pergi bersama.
Apa ini yang dirasakan BaekHyun dulu saat tau ia dan KyungSoo jalan bersama. Jadi begini rasa sakitnya? Kenapa begitu sakit hingga ChanYeol merasakan sesak.
Kau yang selalu aku rindukan telah menemukan seseorang yang setia melindungimu. Seharusnya ChanYeol senang, tapi hati ChanYeol memerintahkan ChanYeol untuk tetap memperjuangkan BaekHyun. ChanYeol tidak tau harus bagaimana. Ia merasa kalah sekarang.
.
.
Maafkan aku Baek. Kau pantas bahagia.
.
Tapi, apakah aku tidak mempunyai kesempatan?
.
TBC
Yeay! akhirnya update juga wkwkwk maafkan keterlambatanku dalam update FF ini huhu :'):') gimana? gimana? chapter 4 memuaskan tidak? wkwk author harap memuaskan, maaf cuma bisa ngasih yang kayak gini:') maklum masih belajar membuat FF yang baik.
Oh aku juga mau memperkenalkan diri hehe, karena disetiap coment readers selalu memanggilku 'Author' atau enggak 'Thor' sekarang aku mempunyai nama panggilan. Panggil aja aku 'FAE' #eaaaa wkwk
Tapi disini aku juga membawa berita yang tidak mengenakkan huhu, maafkan para readers tercinta FF MID harus hiatus selama sebulan #nangisdipojokkan Fae tidak bisa mengatakan alasannya maaf banget. Pengennya sih enggak hiatus, tapi setelah dipikir-pikir lagi author harus melakukan ini. Mianhae~
Karena sebentar lagi hari raya islam. FAE MENGUCAPKAN SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA IDUL FITRI. Mohon maaf lahir dan batin semuanya hehe
Okey cukup sekian pemberitahuan dari Fae. Sampai bertemu 1 bulan kemudian *lambaikan tangan*
.
Thank You for Follow, Favorite, and Coment.
But.. dont forget to FOLLOW, FAVORITE, AND COMENT
