23th

Kim Namjoon x Kim Seokjin

M | AU | Romance | BL

.

.

.

"Sialan!"

Namjoon menggeram marah, buku-buku jarinya mengepal erat mencoba menahan amarah yang bisa saja meledak sejadi-jadinya. Namun ia tahan semua itu, bukan karena ia takut orang-orang akan beranggapan jelek tentangnya. Persetan dengan semua itu. Ia hanya takut dirinya akan lepas kendali, bertindak diluar nalar hingga mengecewakan Seokjin, orang terkasihnya yang kini tengah berada di Perancis.

Amarahnya timbul bukan karena hal sepele, ini sebuh masalah besar untuknya. Dua minggu ia mengurung diri untuk menyelesaikan lagu yang tengah digarapnya. Bekerja dengan penuh tekanan karena presdir mereka yang memaksa Namjoon untuk menggarap lagu anak asuhnya.

Tentunya itu semua bukan perkara mudah. Terlabih semua jiri payahmu ditolak menatah-mentah dengan makian. Bisa saja ia terima bila orang-orang memaki dirinya, namun tidak dengan karyanya. Itulah harga dirinya.

Dan kejadian ini membuatnya benar-benar murka.

"Joon. Tenangkan dirimu." Suara Hoseok mengintrupsi Namjoon, wajahnya terlihat khawatir yang kentara. Hoseok tahu benar perasaan Namjoon karena mereka satu profesi. "Si tua itu benar-benar tidak tahu diri. Ia bisa saja bunuh diri hari ini juga bila kau mengundurkan diri." Hoseok mencoba mencari lelucon, terkekeh kaku karena Namjoon tidak terpancing sama sekali.

"A-apa sebaiknya kita ke kedai ko-"

"Tidak terimakasih. Aku hanya butuh sendiri." Namjoon memotong cepat, tahu betul kata 'kopi' yang dimaksud Hoseok. "Aku sangat berterima kasih atas usahamu. Aku hanya butuh sendiri sekarang." Sebelum Hoseok memaksanya dan dirinya ikut terlarut dengan tawaran Hoseok, Namjoon berjalan cepat meninggalkannya untuk masuk ke ruangan pribadinya.

.

.

.

Kursi kerjanya yang empuk, dengan semilir angin dari air conditioner, juga suasana ruang kerjanya yang remang-remang cukup menenangkan Namjoon untuk saat ini. Dirinya benar-benar lelah. Lelah merindu.

Itu permasalahannya.

Hasil karyanya yang ditolak merupakan hal biasa, meski terselip rasa jengkel didalamnya. Namun rindu. Itu adalah hal menyakitkan bagi Namjoon. Bagaimana satu kata itu bisa membuatnya sekacau ini. Bagaimana bisa Seokjin pergi meninggalkannya satu bulan untuk memperdalam kajiaannya dalam masakan, meninggalkan apartment berharga mereka yang sudah tiga tahun mereka tempati bersama.

Namjoon masih belum bisa menerimanya.

Tangannya bergerak malas diatas keyboard, sampai jemari panjangnya tidak segaja menekan tombol spasi hingga layarnya yang hitam menyala. Menampilkan wallpaper dengan wajah Seokjin yang tertidur hanya ditutupi selimut –tanpa pakaian- , hari dimana mereka melakukannya, berbagi kehangatan di ranjang.

Namjoon tersenyum miris menatap layar komputernya, sudah terlanjur menatap Seokjin maka dari itu tangannya menjelajah, mencoba membuka beberapa file untuk menutupi kerinduannya yang semakin melebar. Namun mata elangnya tidak sengaja melihat icon GOM di taskbar, dahinya mengerut tidak mengerti. Selama ia pergi, ia sudah meng-close semua aplikasi. Dan lagi, ia tidak membuka video di GOM.

Dengan rasa penasaran yang teramat, Namjoon mengklik icon GOM tersebut, hitam adalah hal yang pertama dilihatnya. Namjoon kemudian mengklik icon untuk memutar video, perlahan tapi pasti, video yang dilihatnya berjalan, membuat dirinya terpaku ditempat. Menikmati setiap pergerakan yang dilakukan Seokjin. Semua hal yang dilakukannya dari ia menulis surat hingga terakhir mereka bertemu dibandara.

Namjoon menutup sebagian wajahnya dengan tangan, matanya masih tidak berhenti menatap kayar. Semuanya bagai rangkaikan demi rangkaian keseharian mereka. Apa yang ia lewatkan selama ini? Bagaimana Seokjin bisa begitu sematang ini untuk mempersiapkannya. Bagaimana bisa si manis itu membuatnya tidak bisa berhenti untuk jatuh cinta?

Sekali lagi.

Namjoon merasa dirinya begitu istimewa.

Rasa bahagia membucah di dirinya, Namjoon meraba permukaan meja kerjanya, menari ponsel untuk menelfon Seokjin. Ketika ponselnya ada digenggaman Namjoon, dengan terburu tangannya menekan angka satu cukup lama untuk menghubungi orang terkasihnya tanpa mengalihkan tatapan dari layar komputer.

Belum selesai kekagetan Namjoon, karena ia bisa pastikan dengan jelas suara rington telfon Seokjin tepat berada di belakang tubuhnya. Dengan gerak cepat Namjoon menoleh, mendapati Seokjin membawa cake yang dihiasi lilin dengan senyum manis terpatri di bibir tebalnya.

"Surprise! Happy born day, birthday boy!"

Seokjin berucap riang sambil tersenyum cerah. Namjoon yang tadi terpaku tidak membuang waktu ketika tersadar dari keterkejutannya, ia lempar ponselnya kearah sofa terdekat, kemudian menggeser kursi kerjanya brutal untuk menghambur kearah Seokjin. Membuat si manis terkager-kaget saat dirinya kini melayang –berada digendongan Namjoon- dengan kedua kaki yang melingkar di pinggang Namjoon bersamaan dengan kue yang mati-matian ia pertahankan agar tidak jatuh.

"Demi tuhan Namjoon! Kau membuatku kaget, cepat tiup lilinnya."

Gelengan dari Seokjin yang sudah termat terbiasa dengan kelakuan kekasihnya yang hanya tersenyum mesum kearahnya. Seokjin mencoba menempatkan cakenya diantara dirinya dan Namjoon. Namjoon terlihat memejamkan mata, memanjatkan beberapa permohonan sebelum akhirnya meniup lilin hingga kegelapan kembali menyelubungi mereka.

"Kau tahu? Ini semua begitu manis."

"Tentu. Itu semua karena kau begitu suka hal berbau manis."

"Itu salahmu karena kau terlalu manis hyung."

Seokjin hanya terkekeh geli, tangannya sibuk menggapai meja untuk menaruh cakenya karena Namjoon masih setia menggendongnya. Namjoon yang sedari tadi mengalungkan lengannya dipinggul Seokjin perlahan merambat turun, meremas bongkahan kenyal yang menjadi favoritnya.

"Y-yak! Jangan sekarang Joon!"

"Kau tahu sendiri cake tidak cukup untukku."

"Kau akan mendapat hadia-ahh"

"Oh. Waktunya bekerja."

.

.

.

Namjoon tengah bersandar di kursi sambil matanya menatap sayu Seokjin yang tengah bergerak diatasnya. Mencari kenikmatan untuk mereka berdua yang sama-sama panas, mencari jalan untuk mencapai puncak.

"Kau benar-benar indah."

Namjoon mengecup sisi leher Seokjin yang sudah penuh dengan ruam merah, membuat pemiliknya merintih diantara aktifitasnya sekarang. Kuku-kukunya yang dipotong rapih menancap dibahu tegap Namjoon yang tidak berbusana, memberitahu Namjoon betapa nikmatnya ini semua.

"Ini adalah hari ulang tahun terindahku, diantara hari indah lainnya."

Kali ini Seokjin memekik dengan pergerakannya yang terhenti saat Namjoon meremasnya dibawah sana, membuat kepalanya pening meminta pelepasan. Kepalanya menggeleng pelan dengan wajah mendongak keatas ketika dirinya harus diserang bersamaan di dua tempatnya yang sensitif.

"N-namjoon aku mohon…"

Oh. Namjoon suka yang satu ini.

Seokjinnya yang lemah, meminta, jatuh diatasnya adalah hal yang amat teramat menyenangkan. Apalagi ini semua Seokjin dedikasikan untuk ulangtahunnya, benar-benar manis. Dan biarkan Namjoon memenuhinya, menuntaskan segala sesuatu yang diingan si manis, membawanya melambung tinggi keangkasa.

Bersamaan.

.

.

.

"Aku tidak menyangkan akan melakukannya di studio milikmu."

Namjoon terkekeh, tangannya masih setia mengelus punggung Seokjin yang kini tertutupi oleh selimut yang selalu tersedia di ruangannya.

"Tidak menyangka akan senikmat itu maksudmu hyung?"

Seokjin mencibir sambil tangannya yang mengalung dileher Namjoon ia gunakan untuk memukulnya, membuat Namjoon meringis dibuat-buat dengan senyuman yang tidak pernah pudar dibibirnya.

Terlalu bahagia.

Jemari Seokin yang bebas bergerak meraih mouse hingga layar komputernya menyala menampilkan tulisan tangan Seokjin. "Sebaiknya kau menonton videonya hingga selesai sayang." Seokjin mendongak mencari bola hitam milik kaksihnya yang kini menunduk untuk mempertemukan mata mereka.

"Kita selesaikan bersama."

"It's your day, anyway."

"No, it's our day baby."

Seokjin mengerut lucu sambil pura-pura tidak mengerti arti dari perkataan Namjoon, membuat kekasihnya gemas dan berakhir menggigit ujung hidung mencungnya hingga memerah, membuat si empunyanya berteriak kaget meminta Namjoon melepaskan gigitannya.

"Itu sakit!"

Namjoon terkekeh, lalu mengecup bagian hidung Seokjin yang ia gigiti. "Kau terlalu menggemaskan. Aku tidak tahan. Dan sayang, selamat hari jadi yang ke tujuh." Namjoon tersenyum sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Seokjin yang meringkuk diatasnya.

.

.

.

END of 23th

.

.

.

Ini belum selesai, sampai ketemu di ulangtahun kak Seokjin!

Anyway, aku kangen berat sama kak Matchapeach dan kak Peachpetals TT

Maafkan aku yang sok sibuk ini TT

Dan untuk yang terkasih,

HAPPY BIRTHDAY KIM NAMJOON.

Terimakasih sudah membaca dan meninggalkan jejak.