MIRACLE IN DECEMBER
[SEQUEL 'MISTAKE']
Author: ParkByun92
Cast: ChanYeol, BaekHyun, and OCs.
Disclaimer: All the cast excluded Ocs belong to their management, fans, and families
YAOI!
Enjoy Readers!
SORRY FOR TYPO!
Summary: Kisah ini menceritakan penyesalan terdalam Park ChanYeol sepanjang hidupnya. Park ChanYeol telah kehilangan-nya. Dia yang selalu dihati dan fikiran Park ChanYeol. Akankah dia kembali pada ChanYeol? Ataukah, selamanya ChanYeol hanya bisa berangan-angan kembali padanya.
*Miracle In December*
Aku tidak bisa menahannya lagi.
.
Aku harus memenangkan hatinya. Harus.
*Miracle In December*
LuHan menatap kearah Kris, Aleyna, dan BaekHyun secara bergantian. Setelah menjemput Kris di bandara, mereka ber-empat sepakat makan siang terlebih dahulu sebelum mengantarkan Kris ke apartmentnya. Dan disinilah mereka berada. Di restaurant sederhana di tengah kota. LuHan kembali mengarahkan matanya pada Kris yang bercanda bersama Aleyna. Sebenarnya LuHan belum mempercayai jika seseorang yang mereka jemput adalah Kris. Sudah 3 tahun mereka tidak bertemu dan LuHan tercengang akan perubahan Kris. Kris semakin tampan dan dewasa.
Setelah pertama kali bertemu Kris tadi, LuHan terkejut bukan main. LuHan tidak percaya jika Kris akan kembali ke Korea, tapi LuHan juga senang luar biasa akhirnya mereka dapat berkumpul lagi. LuHan juga bernafas lega saat orang yang mereka tunggu adalah Kris. Tuhan masih menyayangi Park ChanYeol. Sedari tadi LuHan sudah berharap-harap cemas jika itu calon suami BaekHyun, tapi sekarang LuHan tau jika BaekHyun belum bisa membuka hatinya untuk siapapun.
"Hihihi Uncle geli, jangan gelitikin Aleyna."
LuHan tersenyum melihat kebersamaan Kris dan Aleyna. Mungkin seseorang yang tidak mengenal mereka akan berpendapat jika mereka ayah dan anak yang harmonis. LuHan bahkan ber-sependapat dengan itu. Kris dan Aleyna terlihat sangat dekat, tentu saja mereka dekat karena semenjak Aleyna lahir Kris selalu ada disamping BaekHyun untuk menjaga Aleyna.
LuHan bersyukur dalam hati, meskipun Aleyna tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, akan tetapi Aleyna masih mempunyai Kris yang selalu ada disamping Aleyna. LuHan menolehkan kepalanya pada BaekHyun yang duduk disampingnya. LuHan dapat melihat senyum BaekHyun yang melihat interaksi antara Kris dan Aleyna.
Karena terlalu banyak melamun, LuHan tidak menyadari jika BaekHyun menatapnya heran.
"LuHan Hyung kenapa?." Tanya BaekHyun.
LuHan tersadar dari lamunannya lalu tersenyum. "Kau terlihat senang."
"Tentu saja, Kris Hyung telah kembali ke Korea. Akhirnya kita dapat berkumpul lagi."
"Ya, kau benar."
Keduanya saling melempar senyum hingga suara melengking Aleyna mengalihkan perhatian mereka.
"Uncle curang! Uncle selalu menggelitiki Aleyna." Adu Aleyna dengan bibir mengerucut lucu. Persis seperti BaekHyun jika sedang merajuk.
Kris terkekeh geli. Aleyna begitu menggemaskan dengan bibir mengerucut seperti itu.
"Uncle tidak curang, mungkin Aleyna yang curang."
Kris ikut mengerucutkan bibirnya dan membuat BaekHyun maupun LuHan menahan tawa. Karna sumpah demi apapun Kris tidak cocok bersikap manja seperti itu. Seorang Kris, Namja tampan yang maskulin mengerucutkan bibirnya karena anak kecil.
"Aleyna tidak pernah curang Uncle. Mama selalu mengajari Aleyna untuk jujur. Nanti kalau Aleyna tidak jujur, Mama sedih."
Perkataan polos Aleyna membuat ketiga orang dewasa disana tersenyum. Terlebih BaekHyun yang merasa bangga akan Aleyna. Selama ini tidak sia-sia BaekHyun mendidik Aleyna hingga Aleyna menjadi gadis kecil yang cerdas.
"Karena Aleyna menjadi anak yang jujur, Uncle punya hadiah untuk Aleyna."
Kedua mata Aleyna berbinar mendengar kata hadiah. Tentu saja semua anak kecil akan senang diberi hadiah.
Kris merogoh tas nya dan mengambil hadiah Aleyna. Aleyna yang duduk di samping Kris, tidak sabar akan hadiah yang akan diberikan Uncle kesayangannya ini. Aleyna menatap setiap pergerakan Kris dengan kerjapan lucu.
"TADAAAAA!."
Kedua mata bulat Aleyna semakin bulat saat tau hadiah yang diberikan Kris. Aleyna memekik senang.
"COKELAT!."
BaekHyun dan LuHan tertawa melihat Aleyna yang begitu senang diberi hadiah meskipun itu hanya coklat. Makanan manis-manis memang hadiah paling pas untuk anak seumur Aleyna. Tapi makanan manis-manis tidak baik juga kalau dikonsumsi secara berlebihan, maka dari itu BaekHyun selalu mengontrol makanan apapun yang dikonsumsi Aleyna. Termasuk tidak memakan makanan manis berlebihan.
"Thank you Uncle! You are the best!."
Kris ikut tertawa saat mendengar Aleyna berbahasa inggris dengan suara cempreng khas Aleyna. 2 tahun lebih Aleyna tinggal di Amerika, jadi jangan heran jika gadis kecil itu begitu fasih dalam berbahasa Inggris. Karna selama di Amerika BaekHyun selalu mengajarkan Aleyna 2 bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Korea. BaekHyun tidak pernah menyesal tinggal di Amerika, tinggal disana juga berdampak positif pada perkembangan Aleyna.
Kris menyerahkan coklat itu dan disambut Aleyna dengan senyum lebarnya, kalau dilihat sekilas senyum lebar Aleyna begitu persis seperti ayahnya. Yeah, dia memang anak Park ChanYeol.
"Give me one kiss." Pinta Kris sambil menyodorkan pipi kirinya.
CHU~
Tentu saja Aleyna akan memberikan ciuman manisnya.
Setelah memberikan satu kecupan di pipi Kris, Aleyna menatap ibunya yang juga menatap Aleyna dengan senyumannya. Aleyna ikut tersenyum lalu menyodorkan cokelatnya pada BaekHyun.
"Mama, Aleyna boleh makan cokelat?."
BaekHyun mengangguk.
"Boleh, tapi Aleyna harus makan siang terlebih dahulu. Okey Princess?."
"Ne!."
BaekHyun yang gemas akan sikap Aleyna, mencubit hidung mancung Aleyna hingga Aleyna terkikik. Seperti virus yang cepat menyebar, BaekHyun ikut tertawa mendengar tawa Aleyna. Dan LuHan melihat semuanya. LuHan tersenyum melihat BaekHyun tertawa begitu lepas.
LuHan tau jika BaekHyun menyembunyikan rasa sakitnya seorang diri. Siapapun akan melihat BaekHyun baik-baik saja dan hidup bahagia bersama Aleyna, tapi tidak dengan LuHan. LuHan tau apa yang dirasakan BaekHyun. Kebencian BaekHyun telah menggrogoti hati BaekHyun hingga rasa benci itu mengusainya. LuHan ingin merubah kebencian pada diri BaekHyun, tapi semua itu tidaklah mudah. LuHan perlu meyakinkan BaekHyun jika ayah Aleyna telah berubah. Meskipun LuHan berhasil meyakinkan BaekHyun tentang itu, BaekHyun belum tentu menerima ayah Aleyna kembali di kehidupannya.
Luka yang dirasakan BaekHyun terlalu dalam hingga tak ada seorang pun yang berhasil menyembuhkannya.
Kecuali, Park ChanYeol sendiri yang menyembuhkan luka itu.
*Miracle In December*
Seminggu berlalu.
ChanYeol menatap tajam gelas yang berada digenggamannya. Cairan berwarna merah pekat itu seakan mengejeknya yang seminggu ini hanya berdiam diri dirumah. Memang benar, setelah pulang dari Jepang seminggu yang lalu ChanYeol hanya berdiam diri dirumah, ChanYeol tidak pergi ke kantor, bahkan ChanYeol berhenti menguntit BaekHyun.
Bicara soal BaekHyun, ChanYeol semakin mengeratkan genggaman pada gelas kaca yang ia pegang. Entah kenapa kejadian dibandara seminggu yang lalu tidak pernah hilang dari ingatannya. ChanYeol masih ingat betul bagaimana interaksi antara kedua Namja berbeda tinggi itu. Mereka terlihat sangat dekat. Dan itu yang dibenci Park ChanYeol. Siapa Namja itu? kenapa ia berani sekali mendekati BaekHyun, tidak tau kah jika BaekHyun masih miliknya. Terdengarannya memang egois, tapi itu benar apanya. Mereka berdua masih sepasang kekasih karena sebelum BaekHyun pergi mereka tidak pernah mengatakan tentang perpisahan.
Dan demi apapun ChanYeol tidak akan berpisah dengan BaekHyun. Tidak pernah.
"Tidak akan pernah Baek. Aku tidak akan melepaskanmu." Geram ChanYeol dengan sorot mata begitu tajam, bahkan lebih tajam dari pisau dapur.
ChanYeol melangkahkan kakinya mendekati meja kerjanya, meskipun ChanYeol tidak pergi ke kantor tapi ia tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan. ChanYeol juga sempat berfikir jika bekerja dirumah lebih leluasa daripada di kantor.
ChanYeol meletakkan gelasnya dengan kasar, dengan sekali hempasan ChanYeol telah duduk di kursi kebesarannya. ChanYeol kembali menatap angka-angka dan tabel pada layar laptopnya, kembali lagi ia mengurusi perusahaan brengsek ini. Jika boleh memilih, ChanYeol lebih suka membuat sketsa daripada bercumbu dengan berkas-berkas kantor. Tapi mau bagaimana lagi, hanya dia pewaris harta keluarga Park. Salahkan saja ibunya yang tidak mau memberikannya adik. ChanYeol mengerutkan keningnya, kenapa dia menjadi memikirkan seorang adik?
ChanYeol menggelengkan kepalanya sebentar lalu kembali fokus dengan layar laptopnya. 10 menit berlalu, ChanYeol menggeram marah karena kefokusannya pergi entah kemana. ChanYeol mengacak surai hitamnya berantakan. Namja berperawakan tinggi itu menutup laptopnya dan mengambil ponselnya yang sedari tadi ia hiraukan.
10 pesan masuk.
ChanYeol menatap jengah pada pesan-pesan yang dikirimkan YuRi tentang keadaan di kantor. Tapi siapa peduli, biarkan Yeoja sinting itu yang mengendalikan kantornya, anggap saja itu hukuman karena berani melawan Park ChanYeol.
Setelah menghapus pesan-pesan itu, ChanYeol secara tidak sengaja menekan icon galeri. ChanYeol tersenyum saat melihat foto-foto yang berada di galerinya. Disana terdapat puluhan foto yang terpampang 1 orang yang sama. Byun BaekHyun.
Mengingat Byun BaekHyun membuat ChanYeol kembali bersemangat hingga kedua matanya berbinar indah. Haruskah ia mendekati BaekHyun setelah ChanYeol memberikan BaekHyun 1 bulan lebih untuk kembali beradaptasi dengannya. Ya, ChanYeol harus melakukannya sekarang. Kapan lagi ia akan mendekati BaekHyun? ChanYeol sudah terlalu bersabar untuk menunggu BaekHyun.
"Aku tidak bisa menahannya lagi Baek. Kau harus kembali padaku sayang. HARUS!."
ChanYeol bangkit dari kursinya. ChanYeol masuk kedalam kamarnya mengambil jaket, kunci mobil, dan dompetnya, ia harus memulai pendekatan pada BaekHyun. ChanYeol berjalan tergesa-gesa ke bagasi mobilnya, tanpa menunggu lagi ChanYeol mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tak bisa dikatakan pelan.
Sesampainya di toko yang ia tuju, ChanYeol segera keluar dari mobilnya. Baru menginjakkan kaki di depan toko tersebut, ChanYeol sudah disuguhi warna-warna yang menggoda mata dan juga wewangian yang enak dihirup.
"Selamat datang. Terima kasih telah datang di Beauty Florist, saya Kim YeRin yang akan membantu anda dalam memilih bunga yang disediakan di toko kami."
Yeah, ChanYeol memang datang ke toko bunga. Tapi tetap saja selera Park ChanYeol tidak bisa dianggap remeh, ChanYeol memilih toko bunga terkenal dengan kemewahannya. Jika kau tidak memiliki uang lebih dari 5 juta, jangan pernah memesan bunga disana.
ChanYeol hanya mengangguk, Namja tinggi itu berjalan pelan dengan menatap bunga-bunga yang tersusun apik ditempatnya sedangkan pelayan bernama Kim YeRin setia dibelakang ChanYeol.
"Menurutmu, bunga apa yang harus aku pilih?." Tanya ChanYeol tanpa mengalihkan pandangannya pada bunga-bunga mahal disana. Mereka begitu cantik seperti BaekHyun-nya.
"Kalau boleh saya tau, untuk siapa anda memberikan bunga itu? Dan apa tujuan anda memberikan bunga?."
ChanYeol terdiam sebentar lalu tersenyum.
"Untuk calon istriku."
Kim YeRin tersenyum melihat senyum tampan ChanYeol. Kim YeRin berjalan mendahului ChanYeol lalu berhenti didepan bunga kuncup berwarna merah.
"Saya merekomendasikan bunga Tulip merah ini. Semua pasangan mungkin hanya tau jika mawar yang mempunyai arti cinta dan kasih, tapi tidak Tuan. Bunga Tulip merah ini contohnya, arti Tulip merah adalah cinta yang dilandasi kepercayaan."
ChanYeol hanya mengerutkan keningnya mendengarkan penjelasan Yeoja didepannya. Bunga Tulip merah itu memang cantik, tapi bukan itu yang ChanYeol inginkan. ChanYeol mengedarkan pandangannya pada setiap sudut toko, dan pandangan ChanYeol terpaku pada bunga merah yang mekar indah. ChanYeol tidak tau bunga apa itu.
"Apa nama bunga itu?." Tunjuk ChanYeol dengan dagunya.
Kim YeRin mengikuti arah tunjuk ChanYeol lalu tersenyum. Kim YeRin menghampiri bunga itu lalu mengambilnya satu.
"Ini bunga Anyelir, memiliki nama latin Carnation. Bunga Anyelir berwarna merah memiliki arti kagum yang berlebihan, memiliki makna 'Aku sangat menginginkanmu' disetiap tangkainya."
ChanYeol terlihat tersenyum miring. Bunga ini yang ia inginkan.
"Aku mau yang ini. Buatkan aku buket bunga yang indah, beri aku 10 tangkai."
Kim YeRin sempat heran, tapi Yeoja mungil itu hanya mengangguk dengan senyumannya. Dia hanya pelayan toko dan tidak akan berani bertanya yang macam-macam.
Setelah menunggu selama 10 menit, buket bunga yang diinginkan ChanYeol telah selesai dibuat. ChanYeol menatap buket itu dengan puas. Bunga itu sangat indah, dan ChanYeol harap BaekHyun mengerti akan arti ia memberikan buket bunga Anyelir.
"Apa disini menerima jasa pengiriman?." Tanya ChanYeol pada penjaga kasir.
"Tentu Tuan. Anda bisa mempercayakan kami untuk jasa pengiriman bunga."
"Kalau begitu tolong kirimkan bunga ini untukku."
Penjaga kasir itu mengangguk lalu memberikan sebuah kertas berisi alamat dituju. ChanYeol mencatat alamat kantor LuHan dan nama penerima bunga.
"Apa anda ingin kartu ucapan Tuan?."
"Tidak."
"Baiklah, silahkan tanda tangan disini. Dan total yang harus anda bayar 500.000 ₩."
ChanYeol mengeluarkan Black Card nya lalu membayar buket bunga itu. Setelah menyelesaikan prosedur, ChanYeol melirik buket bunga itu lalu tersenyum kecil.
"Aku sangat menginginkanmu, sayang." Gumam ChanYeol lalu berlalu dari toko bunga itu. ChanYeol tidak sabar melihat bagaimana reaksi BaekHyun saat menerima bunga itu. Dia pasti sangat terkejut.
Cara pertama telah ChanYeol jalankan.
*Miracle In December*
TOK TOK TOK
BaekHyun menghentikan kegiatannya setelah mendengar pintu yang diketuk. BaekHyun mendongakkan kepalanya lalu menyuruh orang itu masuk.
CEKLEK
"Tuan Wu, ada kiriman untuk anda."
Dia, Kim HyoYeon. Yeoja yang bekerja dibagian repsesionist datang keruangannya dan membawa sebuket bunga.
"Dari siapa?." Tanya BaekHyun dengan kening mengerut bingung.
"Saya tidak tau Tuan, ada jasa pengiriman yang datang dan memberikan buket bunga ini untuk anda."
"Kau yakin buket bunga itu untukku?."
"Tentu Tuan, ini ada tanda penerimanya."
Kim HyoYeon berjalan mendekati meja BaekHyun dan memberikan buket bunga itu beserta tanda terimanya. Setelah BaekHyun menerima buket bunga itu, Kim HyoYeon pamit untuk keluar dari ruangannya.
BaekHyun menatap buket bunga ditangan kanannya dengan bingung. Tanda terima yang berada di tangan kirinya memang benar untuk Byun BaekHyun, alamat kantor LuHan juga tertera disana. Tidak salah lagi, buket bunga ini memang untuknya. Tapi, siapa yang mengirim buket bunga ini?
BaekHyun mendekatkan buket bunga itu kewajahnya, wanginya sungguh membuat BaekHyun merasakan data tarik yang menegangkan.
"1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. 8.. 9.. 10. 10 tangkai?."
BaekHyun semakin penasaran. BaekHyun juga tidak tau jenis bunga apa yang ia dapatkan hari ini, lagipula apa peduli BaekHyun pada jenis bunga yang dikirim. Sekarang yang harus ia difikirkan adalah, siapa pengirim bunga ini. BaekHyun rasa ia tidak memiliki kenalan di Seoul beberapa hari ini, hari ini juga bukan ulang tahunnya. Jadi, siapa pengirimnya?
BaekHyun menatap buket bunga itu dengan mata memincing tajam, hingga suara dering ponsel BaekHyun membuyarkan fikiran BaekHyun.
"Hallo Hyung.."
"Baixian, aku berada didepan kantormu. Kenapa kau lama sekali? Sudah waktunya pulang."
BaekHyun terkejut mendengar perkataan Kris, BaekHyun segera menatap jam tangannya. Pukul 6. Kris benar, sudah waktunya dia pulang. Kenapa ia sampai lupa waktu, aish.. ini semua karena buket bunga yang ia terima.
"5 menit aku akan turun Hyung."
"Baiklah aku tunggu."
BaekHyun segera merapikan mejanya lalu mengambil tasnya, tak lupa buket bunga yang baru saja ia terima. Sesampainya di Lobby, BaekHyun melihat mobil Kris yang terparkir. Jangan tanyakan darimana Kris mendapatkan mobil itu, karena itu memang mobil Kris sejak mereka tinggal di Amerika, baru 3 hari yang lalu mobil itu sampai di Korea.
BaekHyun memasuki mobil Kris dan mendapatkan kerutan bingung dari kening Kris.
"Untuk apa buket bunga itu?." Tanya Kris.
"Aku mendapatkan kiriman buket ini barusan."
"Dari siapa?."
"Aku tidak tahu Hyung."
Kris semakin heran. Kris yang tidak segera menjalankan mobilnya membuat BaekHyun kesal.
"Hyung jangan melamun. Kita harus menjemput Aleyna, gadis kecil itu akan merajuk jika kita telat menjemputnya."
"Ah kau benar. Sorry."
Kris segera menjalankan mobilnya ke penitipan Aleyna. Tak beberapa lama mobil Kris telah terparkir sempurna di perkarangan penitipan Aleyna. BaekHyun segera turun menjemput Aleyna sedangkan Kris menunggu dimobil. Tak sampai 5 menit, BaekHyun telah kembali dengan Aleyna di gendongannya.
Kris terkekeh melihat wajah Aleyna yang cemberut.
"Hallo Princess cantik." Sapa Kris saat BaekHyun telah duduk nyaman ditempatnya, sedangkan Aleyna berada dipangkuan BaekHyun.
Aleyna tidak menanggapi Kris, gadis kecil itu malah bersender di dada sang ibu.
"Aleyna kenapa?." Tanya Kris yang merasa heran melihat Aleyna hanya diam.
"Aleyna rindu Mama, tapi Mama menjemput Aleyna lama sekali."
BaekHyun maupun Kris hanya bisa tertawa mendengar penuturan Aleyna. Sungguh polos anak Byun BaekHyun ini. BaekHyun mengusap surai coklat Aleyna dan memberikan beberapa kecupan dikepala Aleyna.
"Maafkan Mama ya, Mama banyak pekerjaan tadi."
Aleyna hanya mengangguk. Kris mengusak lembut surai Aleyna lalu menjalankan mobilnya menuju apartmentnya. Malam ini ketiga-nya sepakat makan malam bersama.
Sesampainya di gedung apartment Kris –apartment BaekHyun dan Kris memang berbeda gedung, kedua orang dewasa itu turun dari mobil Kris sedangkan Aleyna berada digendongan BaekHyun dengan kepala bersender manja di bahu BaekHyun. Disaat mereka telah sampai di kamar apartment Kris, Aleyna minta turun lalu berlalu menuju ruang tengah. Disana sudah ada beberapa mainan Aleyna yang Kris bawa, untuk antisipasi jika Aleyna menginap di apartmentnya.
BaekHyun melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuat makan malam, sedangkan Kris duduk di pantry dapur dengan segelas air es ditangannya.
"Bagaimana perasaanmu Baek?."
BaekHyun menolehkan kepalanya sebentar kearah Kris lalu melanjutkan acara memotong kentangnya.
"Perasaan bagaimana yang Hyung maksud?."
"Kembali ke Korea setelah 3 tahun meninggalkan Korea."
BaekHyun terdiam sebentar.
"Biasa saja. Memang ada sedikit perubahan, tapi aku menjalaninya dengan baik."
"Lalu?."
"Sebenarnya apa yang ingin Hyung bicarakan?."
Kris tersenyum miring. BaekHyun memang terlalu peka terhadap sesuatu, seperti sekarang. Belum selesai Kris basa-basi, BaekHyun terlebih dahulu mengetahui maksud terselubungnya.
"Ayah Aleyna.."
Tubuh BaekHyun menegang beberapa detik lalu kembali rileks, tapi tidak dengan jantung BaekHyun.
"Kenapa dengan dia?." Tanya BaekHyun.
"Kenapa kau tanya padaku? Bukankah kau sudah 1 bulan lebih disini?."
BaekHyun menolehkan kepalanya kearah Kris dengan tatapan tajamnya. Kris mempermainkannya. Entah apa yang di mau oleh kakak angkatnya ini, tiba-tiba saja menanyakan ayah Aleyna dan membuat BaekHyun kesal setengah mati.
"Jangan membahas ayah Aleyna disini Hyung, Aleyna sudah melupakan ayahnya."
Kris terkejut bukan main. Kris menatap mata kelam BaekHyun yang menyiratkan kebencian. Benci itu selalu mendominasi mata BaekHyun ketika Kris membahas ayah Aleyna. Kris menghembuskan nafasnya kasar. Berapa lama lagi BaekHyun akan terpuruk akan masa lalunya, BaekHyun memang sudah melupakan semuanya tapi tidak dengan sakit hatinya. Kris tau itu.
"Tidak kah itu keterlaluan?."
"Keterlaluan mana dengan apa yang ia lakukan padaku dulu?."
"Bukankah kau sudah melupakannya?."
"Ya, aku sudah melupakannya. Jangan membahas dia lagi Hyung."
BaekHyun kembali focus pada memasaknya sedangkan Kris menatap punggung BaekHyun dengan sendu.
"Tidakkah kau kasihan pada Aleyna?."
BaekHyun tak menghiraukan ucapan Kris.
"Dia butuh ayahnya Baek."
BaekHyun tetap diam.
"Pertemukan Aleyna dengan ayahnya."
BRAK!
BaekHyun menggebrak meja Kris dengan keras. Kenapa semua orang tidak mengerti dirinya?! Kenapa semua orang menginginkan Aleyna bertemu dengan ayahnya?! Kenapa semua orang mengasihani ayah Aleyna?! Kenapa semua orang tidak mengerti dengan sakit hatinya?! BaekHyun berteriak dalam hati. Bisakah mereka mengerti jika BaekHyun belum siap. BaekHyun belum siap jika ayah Aleyna menolak kehadiran Aleyna.
"Kenapa semua orang ingin Aleyna bertemu dengan ayahnya?! Tidak cukupkah aku yang selama ini membesarkan Aleyna?!." Ucap BaekHyun dengan suara bergetar. Satu air mata lolos dari mata cantik BaekHyun.
Kris segera menghampiri BaekHyun dan memeluk BaekHyun dengan erat.
"Aku tidak ingin kau menjadi pendendam sayang, aku juga tidak ingin kau semakin menutupi keberadaan Aleyna. Fikirkan Aleyna saat besar nanti, aku tidak mau Aleyna membencimu karena kau selalu menjauhkan Aleyna dengan ayahnya. Mengertilah sedikit."
"Aku tau apa yang kau takutkan, tapi kau tidak akan tau hasilnya jika kau tidak mencoba. Yang harus kau ingat, aku dan semua sahabatmu ada berada dibelakangmu. Jika ayah Aleyna menolak darah dagingnya sendiri, kami siap melawannya. Singkirkan ketakutanmu sayang. Ayo, kau pasti bisa."
BaekHyun semakin terisak dipelukan Kris. Didalam hatinya, ia memang sangat ingin mempertemukan keduanya tapi selalu saja kebencian itu datang dan membuat keinginan itu dibuang seperti sampah.
"Tak apa jika kau belum siap. Tapi satu keinginanku, jujurlah pada ayah Aleyna. Entah kapan itu, tak masalah."
BaekHyun semakin mempererat pelukannya. Mereka tetap berpelukan tanpa tau ada gadis kecil yang mengintip pembicaraan mereka.
*Miracle In December*
Malam harinya di apartment BaekHyun.
BaekHyun maupun Aleyna telah nyaman berbaring di ranjang kamar BaekHyun. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Aleyna tidak mau menutup matanya. Gadis kecil itu begitu antusias bercerita tentang kesahariannya di penitipan anak.
BaekHyun memeluk Aleyna yang tidur bersandar didadanya. BaekHyun tersenyum mendengar suara Aleyna yang menggemaskan, belum lagi bibir Aleyna yang bergerak lucu. Untuk ukuran anak umur kurang dari 3 tahun, Aleyna begitu kritis, meskipun kata-kata yang ia ucapkan membuat BaekHyun harus menahan tawa, tapi Aleyna begitu detail dalam menceritakan sesuatu.
"Aleyna tidak mengantuk?." Tanya BaekHyun saat Aleyna selesai bercerita.
Aleyna menggeleng. Gadis kecil itu semakin menyamankan posisi tidurnya.
"Mama.." Panggil Aleyna dengan suara lirihnya, BaekHyun bahkan heran dengan perubahan sikap Aleyna.
"Ada apa sayang?."
Aleyna terdiam sebentar sambil menatap wajah BaekHyun.
"Mama sedih ya kalau Aleyna bertemu dengan Daddy?."
Tubuh BaekHyun menegang saat pertanyaan Aleyna terdengar olehnya. Setelah 1 bulan lebih Aleyna tidak bertanya tentang ayahnya, kali ini Aleyna kembali membahasnya. Apa karena Aleyna mendengarkan percakapan antara dirinya dan Kris tadi? BaekHyun mengutuk dirinya karena terlalu terbawa emosi hingga ia bertengkar sebentar dengan Kris. Dan sialnya mereka membahas tentang ayah Aleyna.
BaekHyun menanggapi dengan senyuman. Aleyna terlalu kecil untuk tau masalah orang dewasa.
"Jja.. kita tidur. Uh.. Mama capek sekali."
BaekHyun mencoba mengalihkan pertanyaan Aleyna, tapi gadis kecil itu menggeleng pertanda ia tidak mau tidur sebelum BaekHyun menjawab pertanyaan Aleyna.
"Mama selalu sedih kalau Aleyna ingin bertemu Daddy. Daddy nakal ya, Mama?."
BaekHyun hanya bisa menatap sendu kedua mata Aleyna. Bagaimana mungkin ia bercerita pada gadis kecil yang bahkan belum genap 3 tahun. Tapi, entah mengapa rasa bersalah itu memenuhi hatinya hingga BaekHyun merasakan sesak.
"Ketika Aleyna bertanya dimana Daddy, Mama selalu bilang Daddy bekerja. Daddy bekerja dimana sih Mama? Kenapa Daddy tidak pernah pulang? Daddy tidak sayang Aleyna ya?."
"Aleyna sayang.."
"Aleyna punya Daddy kan Mama? Mama tidak berbohongkan?."
"Maafkan Mama sayang.."
Setetes air mata jatuh dari salah satu mata BaekHyun, dan Aleyna melihatnya. Gadis kecil itu bangkit lalu duduk disamping BaekHyun. Aleyna menghapus air mata BaekHyun dengan kedua mata mungilnya, gadis kecil itu tersenyum lalu mencium bibir BaekHyun sekilas.
"Jangan menangis Mama, Aleyna janji tidak akan tanya tentang Daddy lagi. Aleyna tidak mau bertemu Daddy. Aleyna ingin terus bersama Mama. Tidak ada Daddy juga tidak apa-apa, karena Aleyna sudah punya Mama. Mama Saranghae~."
Aleyna memeluk BaekHyun dengan begitu erat. BaekHyun semakin terisak saat untaian kalimat yang dikatakan Aleyna terdengar hingga menyakiti ulu hatinya. Bertambah lagi dosa yang BaekHyun dapatkan. Secara tidak langsung, Aleyna telah membenci ayahnya. Maafkan aku ChanYeol. Aku tidak mau semua ini terjadi, tapi entah kenapa rasanya begitu sulit memaafkanmu.
"Sayang maafkan Mama.."
"Mama tidak nakal. Yang nakal Daddy, Daddy selalu bekerja."
Maafkan Mama sayang, ayahmu tidak salah, bahkan ayahmu belum tau keberadaanmu. Jangan membenci ayahmu, Mama mohon. Seharusnya BaekHyun dapat mengatakannya tapi untuk sekarang entah kenapa begitu sulit. Mulut BaekHyun seolah terkunci rapat, dan yang hanya ia lakukan sekarang adalah memeluk erat Aleyna.
Suatu saat nanti Mama berjanji akan mempertemukanmu dengan Daddy. Tapi tidak sekarang.
*Miracle In December*
BaekHyun menatap buket bunga Almond Blossom di genggamannya dengan pandangan selidik. Ini sudah bunga ke-9 yang diterima BaekHyun. Dari 9 hari yang lalu, BaekHyun selalu mendapatkan buket bunga dengan bunga yang berbeda. Dan BaekHyun semakin heran saat melihat jumlah yang terima hari ini. 2 tangkai. BaekHyun semakin mengerutkan keningnya bingung, kemarin ia mendapatkan 3 tangkai bunga Asphodel dan sekarang 2 tangkai. Kedua mata BaekHyun membulat sempurna.
"Apa mungkin pengirim bunga ini ingin bertemu denganku? Ia seperti menghitung mundur hari dengan perantara jumlah bunga yang ia kirim." Gumam BaekHyun.
BaekHyun bergidik takut. Tentu saja BaekHyun takut, bagaimana jika pengirim bunga ini adalah psycho yang menginginkan BaekHyun? Tapi apa mungkin, BaekHyun belum genap 2 bulan tinggal di Seoul. Sebenarnya siapa pengirim rahasia itu?
"Aish.. ini benar-benar membuatku merinding."
BaekHyun melempar asal bunga itu ke mejanya. BaekHyun tidak akan ketakutan seperti ini jika ada nama pengirim yang terselip di buket itu, tapi dari 9 hari yang lalu BaekHyun hanya mendapatkan buket dengan arti yang membuatnya merinding. BaekHyun beranggapan jika pengirim bunga itu seseorang yang begitu fanatic padanya. Karena setiap bunga yang ia kirim selalu memiliki arti begitu dalam.
BaekHyun mengedikan bahunya tidak peduli. Namja cantik itu merapikan mejanya lalu berlalu dari ruangannya. Waktu menunjukkan pukul 4 sore, sebenarnya jam pulang kantor pukul 6 sore tapi karena BaekHyun sudah menyelesaikan pekerjaannya, BaekHyun pulang lebih awal hari ini.
Lagipula BaekHyun ingin ke supermarket dulu untuk belanja bulanan. Sesampainya di Lobby, BaekHyun mengedarkan pandangannya pada parkiran kantor, terlihat sebuah taksi baru saja masuk kedalam basemant. BaekHyun tersenyum lalu masuk kedalam taksi itu. Di dalam taksi BaekHyun focus pada ponselnya karena ia ingin memberitahukan Kris jika ia pergi ke supermarket.
"Hallo Hyung.."
"Ada apa Baek? Kau butuh bantuan?."
BaekHyun terkekeh geli.
"Hehe maaf Hyung merepotkanmu."
"Hey kau ini bicara apa? Aku ini Hyung-mu, jadi jangan merasa sungkan."
BaekHyun mensyukuri dalam hati mendapatkan kakak laki-laki seperti Kris. Kris benar-benar melindungi dirinya dan juga Aleyna.
"Saat ini aku sedang di supermarket, nanti Hyung tidak perlu menjemputku ke kantor. Jadi, sebelum Hyung menjemputku di supermarket, bisakah Hyung menjemput Aleyna terlebih dahulu?."
"Tentu saja sayang. Aku akan menjemput Aleyna dan Tao sekalian. Kita makan malam bersama diluar."
"Wah.. Good idea!."
BaekHyun dapat mendengar Kris tertawa geli disana.
"Kalau begitu sampai jumpa nanti."
"Okey Hyung, Gomawoyo."
PIP
BaekHyun menatap ponselnya dengan senyum merekah yang cantik. BaekHyun tidak sabar untuk makan malam nanti, karena nanti pertama kalinya mereka makan bersama setelah 1 bulan tidak bertemu. Oh, aku juga belum menceritakan tentang Tao yang sudah berada di Seoul.
3 hari yang lalu Tao baru saja sampai di Seoul. Akhirnya Tao bisa berkumpul dengan mereka setelah seminggu berada di Amerika. Dan saat ini Tao bekerja sebagai Chef di restaurant khas makanan Amerika yang berada di tengah kota Gangnam, bisa dibilang Tao dipindah tugaskan sebagai Chef disana. BaekHyun tidak terlalu paham dengan itu. Yang terpenting mereka kembali bersama meskipun tidak serumah.
Tak sampai 30 menit BaekHyun telah sampai di supermarket. Dengan langkah riangnya BaekHyun mengambil troli lalu memulai untuk berbelanja. Supermarket terlihat lenggang, BaekHyun mensyukuri itu karena ia bisa leluasa, karena memang BaekHyun benci tempat ramai. BaekHyun melangkahkan kakinya pelan sambil menatap barang-barang yang tersusun rapi di rak, sekekali BaekHyun akan berhenti untuk mengambil barang yang ia inginkan.
"BaekHyun?."
Tangan BaekHyun terhenti saat ia ingin mengambil susu kotak Aleyna disalah satu rak. BaekHyun terdiam saat mendengar suara bass yang benar-benar ia kenal. Pemilik suara yang selalu ia hindari.
"Astaga! Itu benar kau Baek, akhirnya!."
BaekHyun segera pergi menghindar, tapi baru 2 langkah ia melangkah sebuah tangan menahan lengannya. BaekHyun terkejut bukan main.
"Lepaskan!." Suara BaekHyun begitu dingin, bahkan Namja tinggi itu terkejut dengan perubahan sikap BaekHyun.
"Tidak! Aku ingin berbicara padamu sebentar. Sebentar saja.."
"Tak ada yang perlu dibicarakan Park ChanYeol-ssi. Lepaskan tanganmu!."
Bahkan hanya memanggil namanya saja dada BaekHyun terasa begitu sesak.
"Aku mohon Baek, hanya sebentar. Cukup dengarkan saja, tak masalah kau membelakangiku seperti ini."
Kedua mata BaekHyun berkaca-kaca. Semakin ia mendengar suara ChanYeol, semakin BaekHyun membenci Namja itu. Semakin ChanYeol mendekat, semakin BaekHyun membenci keberadaan ChanYeol.
ChanYeol menghembuskan nafasnya kasar. "BaekHyun-ah, Mianhae."
BaekHyun terdiam tak percaya. Tentu saja, BaekHyun tidak mengira ChanYeol akan meminta maaf padanya. BaekHyun fikir ChanYeol akan memakinya karena meninggalkan Namja itu selama 3 tahun, tapi yang ia dapat adalah permintamaafan Park ChanYeol yang mungkin tidak pernah ia dengar.
"Maafkan aku karena perilaku kasarku padamu dulu. Aku benar-benar menyesal. 3 tahun, 3 tahun kau meninggalkanku, dan sekarang aku sadar jika aku begitu brengsek. Mianhae BaekHyun-ah, kau pantas membenciku."
"Tapi, apakah tak ada kesempatan untukku untuk memperbaiki semuanya?."
SRET
PLAK
BaekHyun menyentak tangan ChanYeol dari lengannya lalu menampar ChanYeol begitu keras. ChanYeol merasakan panas pada pipi kirinya. Ya, dia pantas mendapatkannya. BaekHyun bahkan tidak peduli jika ada beberapa orang yang menatapnya tak suka.
"Kau fikir kau pantas mengatakan itu? Apakah begitu mudah untukmu meminta maaf setelah apa yang kau lakukan padaku dulu?! AKU MENDERITA PARK CHANYEOL! TAK TAUKAH KAU HAH?!."
ChanYeol menatap kedua mata BaekHyun yang sudah banjir air mata. Akhirnya ChanYeol dapat melihat wajah itu lagi. BaekHyun nya tidak berubah, tetap cantik. ChanYeol tersenyum sendu, ChanYeol tau jika BaekHyun tidak segampang itu memaafkannya, ChanYeol tau benar apa kesalahannya dulu.
Meskipun BaekHyun menamparnya berkali-kali, kesalahan masa lalu ChanYeol tidak pernah termaafkan.
"Baek.."
PLAK
"Berhenti memanggil namaku brengsek!."
"Mianhae.."
BaekHyun segera berbalik memunggungi ChanYeol. BaekHyun tidak bisa lagi menahan rasa sesak di dadanya, BaekHyun harus segera meninggalkan supermarket. Tapi ketika ia ingin melangkahkan kakinya, suara yang begitu ia kenal menyapanya.
"BaekHyun?."
BaekHyun mendongakkan kepalanya. BaekHyun dapat melihat Kris memandangnya khawatir. Dengan langkah tergesa-gesa, Kris menghampiri BaekHyun yang terdiam dengan wajah banjir air mata.
"Kau tidak apa-apa sayang? Apa terjadi sesuatu?."
BaekHyun hanya diam memandang Kris sendu. Dan Kris baru menyadari jika mereka tidak hanya berdua. Kris memandang Namja yang berdiri tepat dibelakang BaekHyun dengan wajah terkejut. Park ChanYeol ada disana.
"Park ChanYeol.." Gumam Kris. BaekHyun memejamkan matanya perih saat nama itu kembali terdengar olehnya.
Air mata BaekHyun kembali mengalir deras saat merasakan sesak dan kebencian dihatinya semakin menjadi. BaekHyun harus mengakhiri nya sekarang juga. BaekHyun tidak mau berurusan dengan Park ChanYeol lagi. Cukup sampai disini rasa sakit yang ia rasakan.
BaekHyun menghapus kasar air matanya lalu berbalik menatap Park ChanYeol. Dengan sorot mata tajamnya BaekHyun memandang ChanYeol penuh kebencian. BaekHyun menggandeng lengan Kris dan menatap Namja itu sebentar lalu kembali menatap ChanYeol yang terkejut melihat pagutan tangan BaekHyun dan Kris.
"Cukup sampai disini Park ChanYeol! Biarkan aku bahagia dengan kehidupanku sekarang! Jangan ganggu kehidupanku lagi! Jangan munculkan wajahmu dihadapanku lagi! SELAMAT TINGGAL!."
BaekHyun segera menarik lengan Kris dan trolinya. Sedangkan ChanYeol hanya menatap nanar punggung BaekHyun yang semakin lama semakin menjauh. ChanYeol masih shock akan perkataan BaekHyun barusan. Apa barusan BaekHyun memintanya berhenti berharap? Apa barusan BaekHyun memintanya menjauhi Namja mungil itu? Mana bisa begitu!. ChanYeol menggelengkan kepalanya tidak terima. Kenapa BaekHyun menjadi egois?
"Tidak Baek! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu! Meskipun kau sudah menjadi milik orang lain, aku bisa merebutmu begitu mudah. Tunggu saja sayang, kau harus menjadi milikku! HARUS!."
.
.
Tidak! Perjuangan Park ChanYeol tidak berhenti sampai disini.
.
Byun BaekHyun harus menjadi milik Park ChanYeol
TBC
Hallo readers tercinta~ bagaimana kabar kalian? apakah kalian lelah menunggu FF ini? hehe Mianhae~
Maaf baru update hari ini, karena memang chapter 5 sempet ilang di laptop dan apa daya harus membuat ulang. Maafkan Fae ya *bow* dan maafkan juga kalau tidak memuaskan *bow*
Dan hari ini bertepatan dengan 17 AGUSTUS, hari kemerdekkan republik Indonesia. Fae bangga menjadi salah satu orang indonesia, meskipun kesukaannya K-pop tapi tetap dihati tetap Indonesia wkwkwk ;D;D;D okey cukup cuap cuap nya.
Sekali lagi maafkan Fae yang telat update. Chapter 6 tidak bisa menjanjikan update cepat :(
Cukup sekian dari Author dan jangan lupa FOLLOW, FAVORITE, AND COMENT. Thank You~
