Scarlet Heart: Ryeo (Remake)

.

.

Baek Hyun (1st princess, 10th child)

Chan Yeol (other country's crown prince)

Soo Jung (1st other country's princess)

Dong Yoo (OC, other country's 2nd prince)

.

San Ho (crown prince)

Jong Hyun (3rd prince)

Joon Gi (4th prince)

Ha Neul (8th prince)

Sun Woo (9th prince)

Joo Hyuk (13th prince)

Ji Soo (14th prince)

.

AU! GS! Saeguk!

.

A remake that is very different with the original story, friendly reminder, Don't Like Don't Read

Semua yang ada dalam fanfiction ini hanyalah berdasarkan khayalan author semata dan tidak terjadi pada sejarah sebenarnya, mohon kedewasaaannya

.

Baekhyun, satu-satunya gadis diantara 7 saudaranya yang seluruhnya lelaki, gadis cantik yang akan berubah sangat menyeramkan ketika sedang marah namun menjadi kesayangan semua orang. Chanyeol, putra mahkota dengan satu adik lelaki yang tanpa disadarinya begitu haus akan kekuasaan dan satu saudara perempuan yang begitu menyukainya. Ketika keduanya saling bertukar pandangan mata, tidak ada yang menyadari bahwa saat itulah benang takdir mulai mengikat mereka berdua.

.

sangjoonpark present

.

.

"Pandangan Mata Di Cahaya Lentera"

.

"Hyungnim, lihat! Aku bisa melakukan ini" lapangan sore itu begitu ribut karena para pangeran sedang berkumpul dan berlatih tarian pedang bersama, "Joohyuk hyungnim, kalau hanya memutar pedang begitu aku juga bisa melakukannya, lihat ya"

Seperti biasa dua saudara itu akan berakhir dengan pertengkaran kecil yang menggemaskan di mata saudaranya yang lain, "Jisoo-a, Joohyuk-a, sudahlah, kita masih harus berlatih gerakan selanjutnya" dan seperti biasa Jonghyun yang akan menengahi mereka berdua

"Hyungnim, apa kau pernah mendengar tentang keluarga kerajaan Bucheon?" si bungsu yang tidak bisa menahan rasa penasarannya membuka suara, "Bucheon? Entahlah, aku tidak terlalu mengetahui tentang kerajaan itu, Joongi hyungnim! Apa kau tahu sesuatu?"

Yang ditanya merapikan pedangnya ke dalam tempatnya lalu berucap dengan sebal "Kenapa kalian selalu bertanya perihal kerajaan lain padaku? Aish memangnya kalian pikir aku hafal dengan semua kerajaan di luar sana?"

"Bucheon ya? Sepertinya aku pernah mendengar sesuatu tentang kerajaan itu" gumaman pangeran ketiga menarik perhatian semua yang sedang berpikir, "Jonghyun hyungnim, kau pernah mendengarnya? Benarkah?" Joohyuk bertanya dengan antusiasme tinggi

Jonghyun mengangguk perlahan lalu melanjutkan "Rajanya hanya memiliki satu istri dan memiliki dua anak lelaki, lalu adik dari Ratu memiliki satu anak yang menjadi satu-satunya saudara wanita dalam keluarga kerajaan, pangeran kedua sudah menikah namun putra mahkota belum menikah, hanya itu yang kuketahui dari kerajaan Bucheon"

"Aah kisah itu? Aku pernah beberapa kali mendengarnya di kerajaan lain, kalian tahu? Banyak kabar yang menyebutkan bahwa sang putra mahkota itu sangat tampan dan begitu mempesona, namun putra mahkota Bucheon begitu dingin dan kaku"

Seluruh perhatian kini beralih pada Joongi yang sedang berkisah, "Benarkah? Wah kenapa dia belum menikah? Apa dia mandul? Atau dia tidak tertarik pada wanita? Atau mungkin dia terlibat suatu ilmu sihir?"

"Kalau dia tertarik pada lelaki maka kau yang akan disukainya Jisoo-a" dan ketujuh pangeran itu seketika berjingkat kaget mendengar suara dari arah belakang, "Baekhyun-a, kau mengagetkanku" Joongi berucap sambil memegang dadanya berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak cepat karena ulah sang adik

Tidak hanya Joongi, para pangeran yang lain sudah sibuk menenangkan jantungnya masing-masing karena kemunculan sang adik yang bernar-benar tidak disangka, "Baekhyun noona, kau jahat sekali, jantungku hampir beranjak dari tempatnya karenamu!"

Baekhyun tertawa mendengar penuturan Joohyuk yang selalu berlebihan, "Baiklah, maafkan aku, kalian berbicara dengan serius dan itu menyenangkan untuk menggoda kalian" dan seolah mantra senyuman gadis itu membuat saudaranya yang lain terdiam

"Haish Baekhyun-a,baiklah baiklah, jangan terlalu lama menunjukkan senyummu itu, kami sudah tidak marah lagi padamu" dan perkataan Sunwoo membuat Baekhyun tertawa kecil, "Oraebeoni, kalian selalu berlebihan!"

Kali ini si pendiam Haneul yang berbicara, "Kami tidak berlebihan Baekhyun-a, tapi sungguh, senyumanmu itu seperti kelopak bunga di musim semi, astaga bagaimana bisa aku mempunyai saudara perempuan sepertimu"

"A-andwae! Aku tidak mau melihat Baekhyun noona! Aku ingin marah padanya!" Jisoo berucap sambil memalingkan wajahnya membuat saudaranya yang lain tertawa mendengarnya, "Baiklah kalau begitu, jangan berharap bisa berbicara denganku Jisoo-a"

Seketika pandangan Jisoo beralih pada sang kakak dan dalam hitungan detik pangeran bungsu itu memasang aegyo di wajahnya "Baekhyun noona, jangan marah ya? Ayo tersenyum noona, kau cantik saat tersenyum" membuat semua tertawa melihatnya

"Omong-omong Baekhyun-a, bagaimana persiapan tarian penyambutanmu? Kau sudah mempersiapkannya dengan baik kan?" putra mahkota bertanya setelah mereka semua duduk di tempat peristirahatan

Baekhyun tersenyum lalu mengangguk kecil, "Aku sudah menghafal semua gerakannya oraebeoni, tarian ini tidak terlalu sulit, aku tidak memerlukan waktu lama untuk menghafalnya" gadis itu menjawab lalu meminum air yang dituangkan dayang untuknya

"Tentu saja mudah bagimu untuk menghafalnya noona, kau hanya perlu menarikannya sendiri, tidak seperti kami yang harus menarikannya bersama, bahkan sampai sekarang Joohyuk hyungnim masih sering melakukan bagiannya dengan salah"

Perkataan Jisoo barusan jelas memancing sang kakak Joohyuk untuk berkomentar "Yak! Apanya yang melakukannya dengan salah? Gerakanku sudah banyak yang benar!" sekali lagi adu mulut terjadi membuat saudaranya yang lain geleng-geleng kepala karenanya

Dan seperti biasa Jonghyun harus turun sebagai penengah bagi kedua bungsu itu, bertukar tempat duduk menjadi solusi untuk adu mulut kali ini. "Baekhyun-a, apa mungkin kau- pernah mendengar sesuatu mengenai kerajaan Bucheon?"

Pertanyaan Sunwoo yang mengungkit topik mereka sebelumnya berhasil menarik perhatian yang lain, "Kerajaan Bucheon? Entahlah, aku tidak terlalu yakin" Baekhyun menjawab dengan nada ragu membuat saudaranya mendecah kecewa

"Kau yakin tidak pernah mendengarnya sekali saja? Kau harusnya tahu lebih banyak Baekhyun noona, noona kan keluar istana lebih sering daripada yang lain" dan seketika pandangan tajam sang kakak terarah sepenuhnya pada si bungsu yang terdiam menyadari kesalahannya

"Baekhyun-a, kau sering keluar dari istana? Benarkah?" Jonghyun bertanya langsung membuat Baekhyun menghela nafas berat dan menyandarkan kepalanya di meja, "N-noona, maafkan aku, aku tidak bermaksud mengatakannya, sungguh!"

Dan permintaan maaf Jisoo barusan dihadiahi pukulan Baekhyun di punggung, inilah sisi menyeramkan dari gadis yang murah senyum itu, jika dia sudah marah maka seketika gadis itu akan berubah layaknya seorang lelaki seperti saudaranya yang lain

Suara pukulan Baekhyun di punggung Jisoo yang terdengar begitu keras membuat saudaranya yang lain tidak berniat membantah atau buka suara sedikitpun, lebih memilih menyelamatkan diri sendiri sebelum menyusul Jisoo yang terus mengaduh sambil memegang punggungnya

Gadis itu beranjak menjauh dengan langkah lebar diikuti beberapa dayang yang sedikit kesulitan di belakangnya, ketika gadis itu sudah menghilang di belokan saat itulah saudaranya yang lain menghela nafas lega

"Astaga hyungnim, ini sakit sekali, ini benar-benar sakit" Jisoo masih belum berhenti mengaduh membuat yang lain menatapnya prihatin, "Kau itu, sudah tahu Baekhyun noona galak jika sedang marah malah mencari gara-gara dengannya"

...

Gadis itu melangkah keluar gerbang belakang dengan sangat perlahan, rambut hitam panjangnya dikepang dan diikat dengan pita biru yang cantik, hanbok kebesaran-nya sudah berganti dengan hanbok biasa berwarna biru-putih

Dan seiring dengan memudarnya sinar matahari gadis itu menghilang dari wilayah istana, mengganti panggilan putri-nya menjadi nama biasa, mengganti pakaian kebesarannya dengan pakaian rakyat biasa, serta mengganti sikap penuh etikanya

"Tuan, boleh aku tahu berapa harga hiasan ini?" gadis itu tersenyum menatap hiasan rambut merah muda mungil di tangannya, "Harganya 3 nyang saja nona" penjual itu balas tersenyum saat sang gadis menyerahkan sejumlah uang sesuai harga hiasan itu

Baekhyun berjalan sambil memperhatikan hiasan rambut yang baru didapatnya, "Cantik" gadis manis itu bergumam kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari hiasan rambut di tangannya, lalu mencoba untuk memasangnya diantara kepangan rambutnya

"Ah" gadis itu terpekik kecil saat seseorang menyenggol bahunya menyebabkan hiasan rambutnya terlepas dari tangannya, "Ah maafkan aku nona" pria itu membungkuk kecil lalu kembali meneruskan langkahnya

Gadis cantik itu mengarahkan matanya kesana-kemari mencoba menemukan hiasan rambut yang tadi terlepas di tangannya, mata sipitnya membulat menyadari kemungkinan hiasannya terjatuh ke dalam tas pria yang tadi menabraknya

"Astaga kemana pria tadi" lalu tanpa pikir panjang gadis itu mengangkat chima-nya dan mulai berlari mencoba mendapatkan jejak pria tadi diantara padatnya pasar di sore hari, gadis itu mempercepat langkah saat matanya sudah menangkap bayangan pria yang tadi menabraknya

"Ch-chogi, astaga" beruntunglah Baekhyun dengan tubuh mungilnya yang memudahkannya menerobos padatnya kerumunan orang-orang di pasar, matanya sesekali melirik ke arah jalan memastikan tidak ada hal yang membuatnya harus mengurangi kecepatan

Tanpa sadar Baekhyun sudah mengejar pria itu hingga keluar pasar, namun entah bagaimana pria itu tidak menghentikan langkahnya sedikitpun walaupun gadis itu sudah berseru memanggilnya sedari tadi hingga nafasnya terengah karena berlari

Lentera sudah dinyalakan sebagai pengganti matahari yang sudah beristirahat di ufuk barat, membuat Baekhyun sedikit kesulitan mengikuti pria jangkung yang masih terus melangkah tanpa memperdulikan gadis yang berlari mengejarnya di belakangnya

"Tuan" hingga akhirnya Baekhyun berhasil meraih ujung lengan pria itu, memaksanya untuk menghentikan langkah tepat di samping salah satu lentera di sana, gadis itu menghela nafas lega karena akhirnya pria itu menghentikan langkah panjangnya

Pria itu berbalik dengan perlahan membuat Baekhyun melepaskan genggamannya pada lengan baju pria itu, cahaya lentera menerangi sebelah wajah mereka berdua, membuat mereka seketika berfokus pada mata sang lawan bicara

Lelaki dengan mata bulat dan wajah tampannya itu tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari mata Baekhyun yang seolah terfokus pada cahaya yang terpantul pada bola mata pria itu, dan ketika lentera itu tiba-tiba padam, barulah mereka berdua tersadar dan mengalihkan pandangan

"Ada apa memanggilku?" sang lelaki menjadi orang pertama yang membuka suaranya, "Aah, kau pria yang tadi menabrakku kan? Aku rasa ada barangku yang terjatuh ke dalam tasmu" Baekhyun berucap dengan senyum di wajahnya, mencoba beramah-tamah

Lelaki itu sedikit mengintip tasnya untuk memastikan, "Benarkah? Tapi aku tidak merasakan apapun" lelaki itu menatap Baekhyun yang sedang mengalihkan pandangannya karena kegugupan yang entah bagaimana menyergapnya secara tiba-tiba

"T-tapi tuan, aku yakin sekali barangku itu jatuh ke dalam tasmu, aku sudah mencarinya di jalan dan aku tidak menemukannya, jadi aku-" "Siapa namamu?" pria itu berseru dengan cepat membuat gadis yang belum sempat menyelesaikan ucapannya itu terdiam sejenak

"N-namaku? Minhee imnida" Baekhyun menjawab sambil menundukkan kepalanya sedikit, "Minhee? Nama yang cukup aneh untuk gadis penggoda sepertimu" membuat Baekhyun mengangkat kepalanya cepat dan mempertemukan matanya dengan milik pria itu

"M-mwo? Apa yang barusan kau katakan padaku?" oh tidak, Baekhyun sedang dalam mode marah dan sayangnya pria di hadapannya ini nampaknya tidak menyadarinya namun malah semakin memantik api, pria itu mendekatkan wajahnya dan memperjelas ucapannya "Gadis penggoda"

Dan sepertinya pria itu menyesali perbuatannya barusan ketika tangan Baekhyun mendarat tepat di pipi kirinya meninggalkan bekas jari yang memerah disana, "Kenapa kau menamparku?!" oh lelaki ini sudah mulai tersulut emosi juga rupanya

"Kau pikir kau itu siapa? Beraninya menyebutku gadis penggoda, kau itu bodoh atau apa? Kalau memang aku berniat menggodamu pasti sudah dari awal kulakukan!" sepertinya Jisoo dan Joohyuk mendapat saingan berat dalam hal beradu mulut

"Kau sendiri berpikir kau siapa? Beraninya menamparku, lalu kalau bukan gadis penggoda apa? Jujur saja kau pasti tertarik pada wajah tampanku ini dan akhirnya mengarang cerita untuk menarik perhatianku kan?" membuat Baekhyun tertawa mendengarnya

"Apanya yang kau sebut wajah tampan huh? Bagian mana dari wajahmu yang kau sebut tampan itu? Apa mata bulat besarmu itu yang kau sebut tampan? Huh?" Baekhyun menendang tulang kering pria itu sekali lagi dengan keras membuat aduhan kembali keluar dari bibir sang pria

Baekhyun tersenyum puas saat mendapati pria itu berjingkat kesakitan karena tendangannya barusan, "Makan itu pria menyebalkan!" gadis itu berbalik hendak beranjak, namun seketika langkahnya terhenti saat matanya menangkap beberapa pengawal istana yang sedang berpatroli

Dengan cepat gadis itu membalikkan badan dan berjalan ke arah pria yang masih mengaduh kesakitan di hadapannya, namun harapannya kabur sirna saat pria itu menggenggam tangannya dan berteriak "Pengawal istana! Disini ada pencuri!"

"Apa yang kau lakukan?! Apanya yang mencuri?" Baekhyun meronta diantara genggaman pria itu di lengannya yang begitu kuat, "Pengawal istana! Bawa gadis ini! Dia mencoba untuk mencuri dariku!" gadis itu meronta semakin keras saat pengawal istana semakin mendekat

Dan akhirnya melayangkan tatapan penuh bencinya pada pria yang tersenyum puas ke arahnya, "Terima kasih atas laporannya, tapi kalau boleh tahu siapa nama anda? Kami akan mencatatnya nanti" Baekhyun tidak menghentikan tatapan bencinya sedikitpun bahkan saat dirasanya lengannya memerah karena cengkraman para pengawal itu yang begitu kuat

"Aku Taeho, cepat bawa gadis ini ke istana, penjarakan saja dia, kalau perlu hukum mati saja" membuat Baekhyun menatapnya tak percaya, "Yak! Kau pria bodoh! Awas saja kau! Kau yang akan mati di tanganku!" gadis itu tak hentinya meronta membuat si pria tersenyum puas

Dan saat gadis itu menghilang di belokan bersama para pengawal istana pria itu kembali mengaduh sambil memegang betisnya yang memerah, "Astaga gadis itu, gadis macam apa dia, tendangannya sakit sekali, aku pikir tulangku akan patah karenanya"

"Kau pria bodoh menyebalkan!" dan pria itu berjengit kaget saat masih bisa menangkap suara si gadis di telinganya, "Gadis macam apa dia itu, menyeramkan sekali" lalu memutuskan melangkah menjauh mengabaikan sinar merah muda yang memantul dari tasnya

Baekhyun memejamkan matanya frustasi saat para pengawal istana menyeretnya menuju kantor menteri peradilan di wilayah istana, "Lebih baik kalian melepaskanku sekarang, atau kalian sendiri yang akan menyesal nanti"

Bujukan halus kembali keluar dari bibir mungil gadis itu yang jelasnya diabaikan oleh pengawal istana itu, "Diamlah kau! Kau harusnya berdoa saja supaya hakim tidak menghukum cambuk dirimu!" membuat gadis itu kembali menghela nafas panjang

Dan hanya bisa pasrah begitu pintu ruangan menteri peradilan dibuka dan para pengawal itu mendorongnya masuk hingga tersungkur di hadapan salah satu hakim, "Tuan hakim, kami membawa salah satu kriminal baru, dia dilaporkan melakukan pencurian"

Hakim itu menatap Baekhyun yang masih menundukkan kepalanya lalu mengambil kuas bersiap mencatat, "Siapa namamu nona? Nama orang tuamu?" dan saat itulah kesabaran gadis itu sudah benar-benar habis, "Namaku Baekhyun, nama orang tuaku? Apa kau tahu nama Raja yang memerintah sekarang? Tulis saja namanya"

Tersentak begitu Baekhyun mengangkat kepalanya dan menabrakkan matanya dengan mata sang hakim, dengan cepat hakim itu bersujud memberi hormat di hadapan gadis itu, "Saya pantas mati Yang Mulia Putri" membuat Baekhyun tertawa kecil

Gadis itu melangkahkan kakinya lebar-lebar membuat beberapa dayang yang berpapasan dengannya kerepotan mengejarnya dan mengawalnya, "T-tuan putri, anda ingin pergi kemana?" salah satu dayang memberanikan diri bertanya pada gadis yang sedang dipenuhi amarah itu

"Menemui Yang Mulia Raja" gadis itu menjawab dengan singkat, tidak memperdulikan dayang serta hakim dan pengawal istana yang kerepotan mengikutinya, "T-tapi Yang Mulia, tidakkah Yang Mulia Putri berkenan meluangkan waktu sebentar untuk mengenakan pakaian kebesaran Yang Mulia?"

Tidak ada jawaban. Kode yang cukup bagi para dayang untuk berhenti bertanya dan melakukan apa yang sudah menjadi tugas mereka, tidak ada yang ingin mencari gara-gara dengan satu-satunya Putri di istana yang sedang marah

Pintu aula istana terbuka lebar, menampakkan Baekhyun dengan pakaian rakyat biasanya bersama dayang yang bertugas mengawalnya di depan pintu, "Baekhyun-a?" sang ayah menatapnya dengan pandangan herannya

"Noona? Kau darimana saja? Kami daritadi-" Joohyuk dengan cepat menahan Jisoo yang akan berucap, lalu memberi kode bahwa sang kakak sedang dalam mode marah yang begitu menyeramkan, aula lengang itu begitu hening karena tidak ada satupun yang bersuara, tidak Baekhyun, sang ayah maupun saudara-saudaranya

Hingga akhirnya gadis itu melangkah masuk dengan begitu tegas, melewati saudara-saudaranya tanpa sedikitpun menoleh dengan pandangan yang terarah lurus pada sang ayah, "Yang Mulia Raja, mohon maaf tapi saya harus mengatakan ini, salah satu orang kepercayaanmu tidak mampu mengenali putri dari kerajaannya sendiri dengan baik"

Dan saat itulah hakim dan pengawal istana maju dan berhamburan bersujud di hadapan Raja serta Baekhyun, "Kami pantas mati Yang Mulia, kami pantas mati" mereka terus berucap tanpa henti mengundang amarah sang Raja yang ikut naik sampai ke ubun-ubun

"Dengan kemampuan seperti itu, bagaimana mungkin kalian mengabdikan diri untuk negara ini?!" dan kembali ucapan bahwa mereka pantas mati diutarakan dengan suara bergetar ketakutan, "Mereka menyeret Putri dari kerajaan mereka sendiri ke hadapan hakim tanpa bertanya apa yang terjadi dan malah melakukan kehendak mereka sendiri, memalukan"

Perintah sudah diucapkan, mereka akan dihukum dengan dijebloskan ke dalam sel tahanan sebagai ganjaran tidak mengenali Baekhyun sebagai Putri kerajaan mereka, meninggalkan Baekhyun berserta saudara-saudaranya dan sang ayah di aula yang begitu luas itu

"Baekhyun-a" satu panggilan bernada lembut dari sang ayah mampu membuat Baekhyun meruntuhkan segala amarahnya dan berjalan mendekat lalu langsung menjatuhkan diri dalam pelukan sang ayah, "Kau baik-baik saja?"

Baekhyun mengangguk pelan seiring dengan elusan lembut sang ayah di rambut panjangnya, "Apa yang terjadi, ceritakan pada kami semua" gadis itu melepas pelukan dengan perlahan lalu menatap saudaranya yang menatapnya dengan khawatir

"Aku keluar dari istana untuk membeli hiasan rambut untuk penampilan tariku besok, lalu saat aku akan mencobanya seseorang menyenggolku dan hiasan rambutku terjatuh ke dalam tasnya, aku mengejarnya dan meminta ijinnya untuk mengambil barangku lagi"

Gadis itu mencebikkan bibirnya teringat kejadian yang menimpanya tadi sore, "Dia tidak mengambilkan barangku dan malah menyebutku gadis penggoda" Baekhyun menangkap suara tak percaya dari saudara-saudaranya

"Lalu aku menamparnya dan memarahinya, tapi dia malah balik memarahiku, jadi kutendang saja kakinya dan mengatainya pria bodoh" saudara Baekhyun yang lain saling berpandangan dengan wajah tak percaya membayangkan semua itu terjadi pada mereka

"Tapi pria bodoh itu malah memanggil pengawal istana yang sedang patroli dan mengataiku pencuri, mereka akhirnya menyeretku dengan kuat kemari, tanganku sampai memerah" gadis itu menunjukkan kedua pergelangan tangannya yang memerah pada sang ayah dan saudaranya

Haneul meraih tangan kanan adiknya dan mengelusnya perlahan menghasilkan desisan kesakitan dari Baekhyun, "Oraebeoni, ini sakit" gadis itu berucap dengan lirih berusaha menahan sakit, menimbulkan tatapan sedih dari saudaranya

"Astaga Baekhyun noona, kau seharusnya menghabisi pria itu saja, kalau saja aku bertemu dengannya aku pasti sudah memukulinya" Joohyuk mengaduh saat Jisoo memukul bahunya keras, "Hyungnim! Hyungnim kan tidak bisa bermain pedang, biar aku saja yang memukulinya, ya noona?"

Baekhyun tersenyum kecil mendengar penuturan saudaranya, "Tidak perlu, tendanganku sudah cukup untuknya, lagipula-" ucapannya terhenti saat mata teduh pria itu kembali terbayang di ingatannya, "Aku tidak akan bertemu lagi dengannya kan?" lanjutnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan

Oh jangan terlalu arogan Tuan Putri, siapa yang tahu jika takdir mulai mengikat kalian secara perlahan?

.

Chapter 1 here!

Wah saya begadang semalaman mengerjakan fanfiction ini, berharap bisa memberikan ide terbaik

Semoga banyak yang suka!

Menurut kalian gimana penggambaran karakter Baekhyun? Sudah jelas kah kalau dia anggun tapi menyeramkan saat marah?

Untuk karakter Chanyeol akan dibahas lebih dalam di chapter selanjutnya

Review kalian penyemangat saya, terima kasih!

Sorry for mistake(s)