Scarlet Heart: Ryeo (Remake)

.

.

Baek Hyun (1st princess, 10th child)

Chan Yeol (other country's crown prince)

Soo Jung (1st other country's princess)

Dong Yoo (OC, other country's 2nd prince)

.

San Ho (crown prince)

Jong Hyun (3rd prince)

Joon Gi (4th prince)

Ha Neul (8th prince)

Sun Woo (9th prince)

Joo Hyuk (13th prince)

Ji Soo (14th prince)

.

AU! GS! Saeguk!

.

A remake that is very different with the original story, friendly reminder, Don't Like Don't Read

Semua yang ada dalam fanfiction ini hanyalah berdasarkan khayalan author semata dan tidak terjadi pada sejarah sebenarnya, mohon kedewasaaannya

.

Baekhyun, satu-satunya gadis diantara 7 saudaranya yang seluruhnya lelaki, gadis cantik yang akan berubah sangat menyeramkan ketika sedang marah namun menjadi kesayangan semua orang. Chanyeol, putra mahkota dengan satu adik lelaki yang tanpa disadarinya begitu haus akan kekuasaan dan satu saudara perempuan yang begitu menyukainya. Ketika keduanya saling bertukar pandangan mata, tidak ada yang menyadari bahwa saat itulah benang takdir mulai mengikat mereka berdua.

.

sangjoonpark present

.

.

"Jemari yang Saling Bertaut"

.

Matahari bahkan baru bergerak naik menemani langit namun seisi istana sudah dibuat sibuk, banyaknya dayang dan pelayan yang sedari tadi berjalan kesana-kemari berhasil menarik perhatian Baekhyun yang pagi itu sedang berjalan-jalan

Dengan antusias gadis itu memperhatikan dayang yang sedang sibuk memasang umbul-umbul di depan gerbang istana, seolah tidak kenal lelah gadis itu ikut berjalan kesana-kemari memantau para dayang yang sibuk bekerja tanpa bermaksud mengganggu

"Yang Mulia Putri" sebuah panggilan lembut membuat gadis cantik itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sang dayang yang menunduk ke arahnya, "Ya, ada apa? Apa sesuatu terjadi?" Baekhyun bertanya dengan senyum manis di wajahnya

Dayang itu balas tersenyum lalu menggeleng pelan, "Bukan Yang Mulia, hanya saja, haruskah Yang Mulia Putri berada disini? Para dayang sedang bersiap untuk penyambutan keluarga kerajaan Bucheon, lebih baik Yang Mulia Putri duduk dan beristirahat di dalam saja"

"Tidak usah, aku sedang ingin berjalan-jalan pagi ini, dan aku ingin menyerahkan sesuatu untuk keluarga kerajaan Bucheon, Yang Mulia Raja bilang tidak apa-apa jika aku ingin memberikan sesuatu untuk mereka, jadi aku sedang mencari meja untuk mereka"

Semua kompak tersenyum kecil mendengar penuturan polos gadis di hadapannya ini, "Tentu saja Yang Mulia, Yang Mulia Putri dapat memberikan hadiah untuk keluarga kerajaan Bucheon, mari saya tunjukkan jalannya"

Baekhyun berjalan beriringan dengan beberapa dayang di belakangnya sebagai pengawal, melewati puluhan pohon sakura cantik dengan bunganya yang berhasil menarik perhatiannya "Disinilah mejanya Yang Mulia"

Senyum kembali muncul saat sang dayang menunjukkan pada gadis itu letak meja dari keluarga kerajaan Bucheon, "Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan hadiahku nanti" Baekhyun dengan segera berbalik lalu melangkah menjauh, masih dengan dayang-dayang di belakangnya yang sibuk mengikutinya

"Baekhyun noona" panggilan dari seseorang membuat gadis itu menghentikan langkahnya lalu berbalik, "Eoh, Jisoo-a, ada apa?" menyapa sang adik dengan senyum yang entah mengapa masih belum bisa luntur dari wajah cantiknya

Setelah memberi isyarat pada para dayang untuk meninggalkan mereka berdua sang bungsu membuka suara untuk bertanya, "Noona, kau sudah menyiapkan hadiahmu untuk keluarga kerajaan Bucheon?" yang dijawab langsung dengan anggukan kuat

"Sudah, aku akan mengambilnya nanti siang, kenapa? kau belum menyiapkan hadiahmu?" pertanyaan sang kakak yang tepat sasaran membuat lelaki itu terdiam seketika, "Noona, bisa tolong belikan aku hadiah juga? Aku benar-benar tidak ada waktu untuk keluar istana"

"Mwo? Membelikan hadiah untukmu? Memangnya kau pikir keluar istana itu mudah? Setelah kejadian kemarin sudah jelas tidak mungkin yang lain akan membiarkanku keluar terlalu lama" gadis itu menolak dengan bibir yang mencebik, lebih lucu dari sang adik yang berusaha membujuk dengan aegyo

"Noona ~ ayolah, aku benar-benar tidak sempat memikirkan apapun, latihan tarian pedang itu benar-benar menguras waktuku" bibir mungil itu kembali mencebik lucu, "Yak! Memangnya kau saja yang selama ini latihan? Aku juga latihan tahu!"

Kembali sang adik mencoba membujuk sang kakak dengan aegyo andalannya, "Noona ayolah, Baekhyun noona, ne? ne? ne?" namun sia-sia saja, kali ini aegyo-nya berbuah gelengan keras sang kakak, "Shireo!, kau cari saja bersama Joohyuk sana!"

"Noona! Tapi Joohyuk hyung sudah mendapat hadiahnya!" Jisoo berteriak keras agar suaranya bisa sampai ke telinga sang kakak yang mulai berjalan menjauh, "Terserahmu sajalah! Pokoknya aku tidak mau membelikan hadiah untukmu!" dan seiring menghilangnya bayangan gadis itu di balik tembok seulas senyum tipis muncul di wajah tampan Jisoo

.-.

Sebuah jendela kecil di sebuah tandu dibuka dengan begitu perlahan, mempersilahkan sang penghuni tandu memperlihatkan wajah tampannya pada siapapun yang menoleh ke arahnya, "Ada apa?" bertanya dengan nada yang cukup dingin pada salah satu pengawalnya

"Mohon maaf Putra Mahkota, ada beberapa keributan di pasar, hari ini pasar sangat ramai, apa anda ingin kami memutar jalan?" yang ditanya tidak segera menjawab dan memilih mengedarkan netranya ke sekeliling pasar yang memang begitu ramai hari itu

Dahinya mengernyit sekilas saat menangkap bayangan seorang gadis yang wajahnya masih begitu familiar di ingatannya, "Minhee?" bibirnya berucap dengan perlahan, "Tapi bagaimana dia bisa ada disini? Bukankah kemarin pengawal istana sudah membawanya?"

Kembali matanya mengarahkan pandangan pada gadis mungil yang masih sibuk berdesakan diantara orang-orang yang begitu membludak di pasar hari itu, "Apa dia membayar hakim? Atau dia seorang anak dari hakim?" kembali bibirnya bergumam

"Apa kau pernah mengetahui ada hakim yang memiliki seorang anak gadis berusia sekitar 20 tahunan di provinsi ini?" sebuah gelengan cukup menjadi jawaban bagi Putra Mahkota itu, bahkan penjelasan sang pengawal selanjutnya tidak lagi menarik perhatiannya

"Lalu dia itu apa? Bagaimana bisa dia bebas dari hukuman hakim?" kali ini lelaki tampan itu benar-benar tidak melepas pandangannya sedikitpun dari gadis yang kini sedang melangkah menjauh dari kerumunan orang, "Kalian pergilah duluan, aku masih harus menyelesaikan sesuatu"

Pasar siang itu sangat ramai, ada banyak orang disana-sini membuat sang gadis harus menyelipkan badan mungilnya agar dapat menembus kerumunan orang yang memang benar-benar ramai, "Permisi, astaga dia kasar sekali" bibir mungilnya tanpa sadar berucap saat seorang lelaki tanpa sengaja mendorong bahunya cukup keras

"Tapi tidak sekasar dirimu kemarin" sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya dan membuatnya berbalik dengan segera, "Neo? Mau apalagi kau datang kemari? Mau meminta maaf? Aah sudahlah aku tidak memerlukan permintaan maafmu"

Dengan sigap lelaki itu menahan lengan sang gadis yang akan beranjak menghasilkan desisan kesakitan dari sang gadis, "Wae? Mau membujukku untuk melepaskanmu dengan berkata bahwa itu sangat sakit? Cih sudahlah, itu tidak akan mempan"

"Siapa yang berniat melakukannya? Ini memang sakit tahu! Benar-benar sakit! Kau tidak lihat lenganku memerah begini?" gadis itu mengangkat lengannya yang masih digenggam dengan begitu erat oleh sang pria tepat di hadapan wajahnya

Mata bundar lelaki itu menyisir ke sekitar lengan mungil sang gadis yang memang memerah, dan bertambah merah karena genggamannya barusan, "Ini- benar-benar sakit?" bertanya dengan perlahan membuat sang lawan bicara berdecih pelan

"Tentu saja benar-benar sakit! Kau pikir aku ini apa? Mahluk yang bisa membuat tangannya memerah tanpa melakukan apapun?" kembali bibir mungil itu berucap sinis, masih kesal dengan tingkah sang lelaki yang dinilainya semaunya sendiri

"Tapi-" perkataan lelaki itu selanjutnya membuat sang gadis mempertemukan mata sipitnya dengan milik sang lelaki dan malah menemukan si lelaki tengah berfokus menatap jemari lentiknya dimana terdapat sebuah cincin giok putih melingkar disana

"Ini cantik.." entah sadar atau tidak sang lelaki berucap dengan jemarinya yang mengelus cincin di jemari si gadis dengan hati-hati, "T-tentu saja, cincinnya memang cantik, aku memesannya dari beberapa hari lalu" dengan canggung si gadis menarik tangannya menjauh dari jangkauan si lelaki

Kali ini giliran si lelaki yang mempertemukan pandangan mereka, "Kau beli dimana? Aku benar-benar menginginkan cincin itu" bertanya dengan mata bulat yang berbinar senang dan senyum lebar yang terukir di bibirnya membuat sang gadis menatapnya dengan ragu

"Yeogi" binar di mata bulat lelaki itu sirna seketika saat telunjuk lentik si gadis mengarah pada kerumunan orang yang sedang berdesakan di pasar, "D-disana? Kau serius?" gadis itu mengangguk dengan imut pada sang lelaki yang menatapnya dengan tatapan tak percaya

"Tapi, aku mempunyai dua cincin di tasku" dan binar bahagia itu kembali segera setelah si gadis menyodorkan satu cincin batu giok putih ke hadapannya, "Tidak perlu meminta, aku akan memberikannya padamu" memotong saat sang lelaki baru membuka mulutnya

"Kau jelas paham, tentu saja ini ada syaratnya, aku tidak mau memberikan barangku secara percuma begitu saja" dengan antusias lelaki itu mengangguk, "Tentu saja! Katakan apa yang kau inginkan dan aku akan membawakannya untukmu"

Gadis itu tersenyum dengan telapak tangannya yang terulur ke hadapan sang lelaki membuat si lawan bicara menatapnya tak mengerti, "Berikan aku hiasan rambutku kembali" membuat si lelaki sekali lagi mengerutkan dahinya tak mengerti

"Hiasan rambutmu? Kenapa aku harus mengembalikannya? Memangnya sejak kapan aku memilikinya?" kini si lelaki mengarahkan tatapan menyelidiknya pada gadis di hadapannya, "Aku rasa kau memang memiliki penyakit ingatan jangka pendek"

"Taeho-shi, kemarin kita berselisih karena kau berpikir aku hanya mengarang alasan mengenai barangku yang terjatuh ke dalam tasmu dan mengataiku gadis penggoda sehingga aku menampar dan menendangmu, atau mungkin hanya aku yang memiliki ingatan tentang hal itu?"

Lelaki itu mengarahkan mata bulatnya pada si gadis yang sedang berkisah, "T-tunggu, darimana kau tahu namaku Taeho? Aku tidak memberitahukan namaku padamu kan?" membuat si gadis menghembuskan nafas keras, "Sudahlah, aku rasa semua ini percuma saja"

Pandangannya sama sekali tidak teralihkan dari punggung si gadis yang semakin menjauh, "Apa ini? Aku tidak pernah tahu ada perasaan seperti ini" bergumam lalu menatap tangannya dengan ingatan tentang menyentuh jemari lentik sang gadis yang entah mengapa lewat begitu saja

Masih dengan pemuda tampan yang sama, namun dengan penampilan yang berbeda, kali ini pemuda itu mengenakan jubah kebesaran berwarna biru dengan hiasan naga emas yang melingkar dengan indah, dagunya terangkat dengan angkuh menunjukkan wajahnya yang bagaikan pahatan tembikar pada seluruh orang yang ditemuinya

Tidak ada seorangpun yang berani menjajarkan pandangan matanya barang sedikit saja dan memilih menunduk dalam-dalam pada pemuda itu, sebuah pintu mewah terbuka lebar menampakkan seorang pria dan wanita yang duduk berdampingan tersenyum ke arahnya

"Yang Mulia" pemuda itu menunduk dalam lalu mengambil tempat di hadapan kedua sejoli itu dan duduk tenang, mendengarkan dengan begitu seksama akan apa yang diucapkan sang Ratu padanya, "Putra Mahkota Chanyeol, kau darimana saja? Raja dan aku mencarimu sedari tadi"

Yang ditanya tersenyum tipis sebelum menundukkan kepalanya sedikit dan menjawab "Mohon maafkan saya Yang Mulia, tadi saya sedang berjalan-jalan sebentar di sekitar sini, tidak perlu mengkhawatirkan saya, tidak ada hal buruk yang terjadi selama perjalanan tadi"

Wanita yang sudah cukup berumur itu tersenyum lembut mendengar jawaban Chanyeol, "Baguslah kalau begitu, aku begitu mencemaskanmu sedari tadi" membuat Putra Mahkota itu tersenyum lembut atas perhatian sang ibunda padanya

"Putra Mahkota, kau masih ingat kan bahwa kita akan mengunjungi keluarga kerajaan Joseon hari ini?" Chanyeol menundukkan kepalanya sedikit, mencium gelagat tak sedap dari sang ayah lalu menggumamkan kata 'ya Yang Mulia'

Raja tersenyum kecil lalu melanjutkan perkataannya "Aku yakin kau sudah mendengar berita tentang satu-satunya Putri di kerajaan ini" yang ditanggapi dengan gelengan kecil dari sang Putra Mahkota, "Tidak Yang Mulia, saya belum pernah mendengarnya"

Bohong.

Kerutan samar terlihat di dahi sang Raja, menandakan keheranannya, "Benarkah? Aku pikir kau sudah tahu mengenai Putri kerajaan ini" kali ini Raja mengalihkan pandangannya pada seorang kasim di sampingnya yang langsung menunduk kecil mengerti akan maksud sang raja

"Kerajaan Joseon merupakan sebuah kerajaan yang cukup berpengaruh-" Sang Raja memotong dengan cepat, "Lewati saja bagian itu dan langsung pada intinya" sang kasim menunduk lalu kembali mengalihkan pandangannya pada sang Putra Mahkota

"Dengan enam orang Pangeran, satu Putra Mahkota serta satu Putri, Keluarga Kerajaan Joseon dianggap sebagai keluarga kerajaan yang paling harmonis, hal ini disebabkan karena dianggap tidak akan terjadi pemberontakan diantara para pangeran untuk memperebutkan tahta Putra Mahkota"

Raja manggut-manggut paham mendengarnya, "Aah terdengar menyenangkan bisa berada di dekat mereka, kenapa aku baru mengetahuinya ya?" Putra Mahkota tersenyum kecil lalu menjawab dengan suara yang dijaga agar tetap sopan, "Saya juga baru mendengarnya Yang Mulia"

Bohong.

"Raja memiliki tiga istri, Ratu Joseon melahirkan Putra Mahkota, pangeran keempat serta pangeran kedelapan, selir pertama Raja melahirkan pangeran keenam, pangeran ketiga belas serta pangeran keempat belas, dan selir terakhir Raja melahirkan pangeran ketiga serta satu-satunya putri di kerajaan Joseon"

Chanyeol terdiam mendengarnya, bohong jika dia mengikuti ucapan 'aku baru tahu' yang terucap dari bibir sang ayah, namun kali ini pemuda tampan itu memilih untuk menunduk kecil lalu bergumam perlahan, "Saya juga baru mengetahuinya Yang Mulia"

Bohong.

"Kabarnya Putri tunggal Kerajaan Joseon benar-benar cantik dan bersinar, karena itulah saudara lelakinya begitu menyayanginya dan melindunginya sepenuh hatinya, julukannya adalah Permata Diantara Mutiara" Putra Mahkota tampan itu mengangguk perlahan mendengarnya, mengerti

"Karena dia bagaikan permata yang begitu bersinar dengan indahnya diantara hamparan mutiara di sekelilingnya" bergumam perlahan mengikuti ucapan sang kasim yang menerangkan makna dari ungkapan yang baru saja disebutkannya

Pandangan Chanyeol terangkat seketika saat menyadari sang ayah mengalihkan pandangan ke arahnya, "Jadi, Putra Mahkota, kau sudah mengetahui kan setidaknya mengenai Putri kerajaan Joseon?" Putra Mahkota itu kembali mengangguk, tidak mengeluarkan bantahan sedikitpun

Kali ini Raja tersenyum dan berucap "Kalau begitu jagalah sikapmu saat di Joseon nanti Putra Mahkota, berita tentang Putra Mahkota Bucheon yang masih belum menikah dengan usiamu ini sudah menyebar di seluruh dunia"

Oh tidak, Chanyeol merasakan nafasnya semakin memburu seiring dengan gelagat tak mengenakkan sang ayah yang semakin tercium jelas, "Buang saja sikap dinginmu itu jauh-jauh dan bersikaplah baik, jangan meninggalkan kesan buruk pada keluarga kerajaan Joseon"

"Aku tidak mau dijodohkan" gumaman bernada keras dari sang Putra Mahkota cukup mengejutkan sang Raja, "Apa maksudmu Putra Mahkota!?" kali ini sang Raja menyusul dengan ikut menaikkan nada suaranya dengan mata yang menyalak tajam

Namun sang Putra Mahkota tidak akan mengalah dengan begitu mudahnya, dengan berani dipertemukannya pandangan matanya dengan milik sang ayah lalu berkata dengan tegas "Aku tahu aku akan dijodohkan dengan Putri kerajaan Joseon, dan aku menolaknya mulai sekarang"

Suara meja yang digebrak dengan keras sama sekali tak memudarkan tatapan penuh keberanian pada mata Chanyeol, "Kau.. beraninya kau membantah perintahku!" emosi sang Raja semakin tak bisa dikendalikan, membuat sang Ratu yang kali ini harus turun tangan mengatasinya

"Putra Mahkota, keluarlah dahulu, aku akan berbicara dengan Yang Mulia Raja" namun perkataan bernada lembut sang Ratu sama sekali tak merasuk di telinga Chanyeol, "Aku, tidak akan pernah bersedia dijodohkan, bahkan jika itu adalah Ratu dari kerajaan manapun!"

"Apa-apaan kau-" kali ini sang Putra Mahkota bahkan lebih berani untuk memotong ucapan sang ayah, "Bahkan jika dia adalah dewi, aku tidak akan mau jika itu adalah perjodohan, aku yang akan menemukannya dengan sendirinya, dan aku tidak memerlukan bantuan anda"

Segera setelah ucapan itu mengalir begitu saja dari bibirnya, sang Putra Mahkota memilih untuk beranjak menjauh dari kedua orang tuanya, "Lalu? Kau akan membuat negeri ini menjadi apa jika kau memilih untuk menikahi gadis yang kau temui di jalanan?"

Ucapan sang Raja entah mengapa membuat Chanyeol menghentikan langkahnya, seketika ingatan tentang gadis yang ditemuinya di pasar nampak begitu saja di kepalanya tanpa tahu apa alasannya, mendorong bibirnya untuk berkata dengan yakin "Gadis itu, siapapun dia, akan menjadi Ratu yang hebat, aku yakin itu"

Chanyeol bisa mendengar teriakan marah sang Raja dari luar ruangan, membuatnya memilih untuk beranjak ke arah taman sendirian, kali ini tanpa satupun pengawal di belakangnya, Putra Mahkota mendudukkan dirinya di sebuah bangku diantara bunga-bunga dengan perlahan

"Apa.. yang baru saja kukatakan tadi? Apa-apaan tadi itu?" Chanyeol bergumam dengan pandangan yang terarah lurus pada pohon sakura rimbun dengan ratusan bunga yang berkumpul disana, Putra Mahkota tampan itu mengangkat sebelah tangannya dengan perlahan lalu menatapnya

Pikirannya kembali pada saat dimana jemarinya dan jemari gadis itu bersentuhan membuat lelaki itu mengerutkan dahinya tak mengerti, "Sebenarnya apa yang sudah dilakukannya?" namun beberapa detik kemudian mata bundarnya semakin membesar

"Apa mungkin..." Putra Mahkota tampan itu berdiri dengan gerakan cepat seolah baru saja menyadari sesuatu lalu melangkah mondar-mandir dengan ragu, "Dia anak seorang tukang sihir?" dan pandangannya matanya berubah menjadi tajam mencurigai

Chanyeol berbalik lalu kembali melangkah dengan bibir yang masih terus menggumamkan hipotesisnya, "Bisa jadi kan? Dia bisa lepas dari para pengawal istana dan bahkan membuatku berkata sembarangan pada Yang Mulia Raja seperti tadi, ah dia bahkan tahu namaku"

Badannya kembali berbalik arah dengan tempo langkah yang sama lambatnya, "Atau.." kali ini kedua mata sekaligus mulutnya membulat menyadari kemungkinan yang baru saja lewat di otaknya, "Dia adalah seorang tukang sihir?"

Bibirnya berucap dengan perlahan dan langkahnya terhenti seketika di tempat menyadari adanya kemungkinan itu, "Ah tapi mana mungkin" kali ini Putra Mahkota Bucheon itu kembali mendudukkan dirinya di kursi taman, "Kenapa dia tidak melakukan pada Pangeran Joseon saja? Setidaknya dia bisa menjadi Putri lain di kerajaan itu kan?"

Namun seketika ekspresi Putra Mahkota tampan itu berubah lega, "Kenapa aku harus memikirkan hal itu?" Chanyeol berdiri dengan ekspresi bahagia di wajahnya yang begitu kentara, "Lagipula aku tidak akan bertemu lagi dengannya, kan?"

Oh, kita mendapatkan satu lagi Putra Mahkota yang arogan, berkata dengan begitu ringan tanpa menyadari takdir yang mulai bekerja dengan perlahan.

.

.

.

.

.

Hai! ~

Long time no see!

Haha berjumpa kembali di chapter kedua dari ff abal nan tidak jelas ini

Di chapter kedua ini lebih berfokus pada karakter Seja Jeonha (Putra Mahkota) milik Baekhyun yang tampannya luar biasa ini

Well apakah karakter Chanyeol disini sudah bisa dibaca dengan cukup jelas? I hope so TT

Review please, review kalian itu penyemangat kedua saya, penyemangat pertama jelas CB moment haha

So please, do leave some review ~

Dan untuk chapter selanjutnya akan di post sedikit lebih lama karena saya akan sedikit lebih berfokus pada ff KaiSoo untuk memperingati KaiSoo Day!

Jadi mohon dukungan serta review kalian ya

See you later! ~