CHAPTER 3

Naruto sibuk menata roti bakar disebuah piring dan meletakkan segelas susu di atas meja makan tepat disamping roti bakar tersebut, Ia kemudian beralih ke kursi lain untuk mengambil tas nya, memasukkan sebuah kotak bekal kedalamnya. Ini hari keempatnya berada dirumah ini. Perlahan ia mendengar langkah kaki mendekat menuju meja makan.

"Ah, Sasuke-kun, kemarilah habiskan dulu sarapanmu, aku sudah membuat roti bakar dan segelas susu untuk mu, kata Ayame kau suka roti bakar dengan selai kacang ini kan" ujarnya seraya menunjuk roti bakar yang telah dibuatnya untuk Sasuke

Mata Sasuke mengikuti arah tangan gadis yang berada didepannya, ia memandang roti bakar itu tanpa minat.

"Aku tidak ingin sarapan, aku mau langsung berangkat saja ke sekolah" ujarnya acuh seraya beranjak pergi dari meja makan

"Ah, tunggu Sasuke-kun, kalau kau tak mau sarapan dirumah, bawa lah ini, isinya sandwich tuna dengan ekstra tomat, setidaknya kau bisa memakannya di sekolah"

Naruto memberikan kotak bekal kepada Sasuke, ia sudah memprediksi ini sebelumnya, pasti si Uchiha Anak Ayam ini tidak mau memakan sarapan yang dibuatnya. Berbekal data yang didapat dari Ayame-san ia pun membuat satu makanan lagi yang Ia yakini Sasuke tidak akan menolaknya. Dan binggo, Sasuke pun mengambil kotak bekal yang ada ditangannya, 'Dasar maniak tomat' pikirnya.

Tanpa mengucapkan terima kasih, Sasuke langsung memasukkan kotak bekal yang diberikan Naruto kedalam tasnya dan berlalu pergi meninggalkannya.

"Dasar Anak Ayam tidak tahu berterima kasih" gerutunya

Tanpa membuang waktu lagi, Naruto langsung menyambar tasnya yang berada dikursi didekatnya, mengingat pagi ini Ia juga ada jadwal kuliah. Saat melewati pintu utama, Ia berojigi singkat kepada Danzo, berpamitan untuk pergi kuliah. Ia melangkahkan kakinya keluar gerbang utama Manshion Uchiha, dan berjalan beberapa ratus meter menuju halte bus.

Sesampainya di halte bus, ia melihat Sasuke sedang berdiri sambil membaca buku, yang Ia yakini itu hanyalah sebuah komik, dan jangan lupakan earphone yang mengganjal kedua telinganya. Perlahan Naruto berjalan mendekat kearah Sasuke.

"Ku kira kau akan mengendarai salah satu mobil sport yang berjejer di garasi rumah mu, bukan malah menaiki bus untuk menuju ke sekolahmu" ujarnya memulai pembicaraan.

Sasuke melirik kesampingnya sekilas, untuk memastikan siapa orang yang sedang mengajaknya bicara kali ini. Ia menghela nafas pelan, saat menyadari siapa orang yang mengajaknya bicara. Perlahan ia mencabut earphone nya.

"Bukan urusanmu!" jawabnya sambil memalingkan pandangannya dari Naruto. Ia lebih memilih menatap jalan raya yang masih sepi di pagi hari.

"Eh, jangan bilang kau tidak bisa menyetir?"

Twitch, muncul perempatan siku imajiner di kepala Sasuke. Perkataan Naruto benar-benar membuatnya kesal.

"Tentu saja aku bisa menyetir" jawab Sasuke dengan nada sedikit meninggi

"Terus, kenapa kau tidak mengendarai mobil mu saja ke sekolah?"

"SIM ku ditahan"

"Hah, bagaimana bisa? Kau kena tilang?"

"Bukan, bukan Kepolisian yang menahan SIM ku, tapi Kaa-san yang menahannya"

"Bagaimana bisa?"

Astaga, rasanya Sasuke ingin membekap mulut kepo Naruto.

"Aku ketahuan ikutan balapan"

"Balapan? Maksudmu balapan liar? Dimana? Kapan?"

Naruto terus menjejalinya dengan banyak pertanyaan. Sasuke menghela nafasnya kasar sebelum Ia menjawab pertanyaan Naruto.

"Sebulan yang lalu, Perfektur Gunma, Pegunungan Haruna"

"Astaga, maksudmu Akina Pass? Kau sudah gila? Kau pikir dirimu Takumi Fujiwara? Atau kau mau ikutan casting untuk Film Initial D selanjutnya?"

Sasuke hanya menatap sebal saat Naruto menanggapi pernyataannya dengan nada yang tinggi, kalau begini seharusnya tadi ia tidak menceritakannya kepada Naruto.

"Kalau aku jadi ibumu, aku pun akan melakukan hal yang sama, apa kau sudah bosan hidup apa? Pastinya kau tahu lintasan itu sudah banyak memakan korban"

Seharusnya Sasuke tidak akan pernah ketahuan melakukan balap liar, kalau saja lawan balap liar nya yang telah dikalahkannya bukan anak Kepala Polisi Perfektur Gunma, yang dengan lancangnya Kepala Polisi tersebut malah menghubungi ibunya yang kebetulan teman kuliahnya dan menceritakan tentang balap liar itu, dan mengatakan bahwa Sasuke meminta uang 500.000 yen kepada anaknya karna telah memenangkan balapan liar tersebut. Astaga, kalau tahu ini akan terjadi sejak awal Sasuke tidak akan meladeni tantangan Kimimaro, dan masalah 500.000 yen itu, itu memang sudah kesepakatan diawal sebelum balapan bahwa yang menang akan mendapatkan 500.000 yen jadi tidak salah kalau Sasuke menagihnya, yang salah adalah si bodoh Kimimaro itu malah meminta uang pada ayahnya dan menceritakan soal balapan itu. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu yang menggambarkan nasib Sasuke saat itu, selain tidak mendapatkan hadiahnya, ia juga malah kena damprat habis-habisan oleh sang ibu dan berakhir dengan disita nya SIM nya. Tapi setidaknya dia sekarang mendapat gelar salah satu penakluk Akina Pass, well harga diri itu lebih penting kan bagi seorang pria.

"Jangan melakukan hal bodoh seperti itu lagi!" Naruto meperingatkannya

"Dan juga …" ucapan Naruto terhenti saat bus yang ditunggu oleh keduanya datang, kebetulan sekolah Sasuke dan kampusnya searah.

Sasuke langsung naik keatas bus, meninggalkan Naruto yang sepertinya ingin menceramahinya. Tanpa pikir panjang Naruto pun langsung mengikuti Sasuke untuk naik keatas bus. Ia mengedarkan pandangannya mencari bangku kosong dan, NIHIL. Bus di pagi hari memang selalu penuh, tapi sepertinya Sasuke sedikit beruntung karna mendapatkan kursi terakhir, Naruto menghela nafas kemudian berjalan mendekati Sasuke dan berdiri disampingnya, Ia raih pegangan tangan berbetuk persegi empat yang tepat berada diatasnya. Sasuke melirik sekilas kearah Naruto, kemudian pandangannya kembali ke komik yang dipegangnya, dan jangan lupa Ia kembali memasangkan earphone nya.

'Cih, tak bisakah dia memberikan tempat duduknya kepadaku? Hey, dia itu pria kan!' batin Naruto saat melihat sikap tak peduli Sasuke

Naruto akhirnya pasrah, Ia lebih memilih mengalihkan pandangannya keluar jendela dan mengeratkan pegangannya agar tidak terjatuh. Sesekali Ia memutar badannya untuk menghilangkan rasa bosannya. Limabelas menit berlalu, tiba-tiba saja bus berhenti mendadak, membuat Naruto oleng, dan pegangan tangannya terlepas, Ia sudah pasrah kalau ia akan terjatuh di dalam bus ini, tetapi beberapa menit berlalu ia masih belum merasakan bokongnya mencium kerasnya lantai bus, malah ia bisa merasakan ia duduk diatas sesuatu yang empuk, perlahan Naruto membuka matanya, betapa terkejutnya Ia saat ia menyadari ternyata ia jatuh terduduk diatas pangkuan seorang pria berumur 40 tahunan, pria yang duduk di kursi seberang lorong Sasuke, dan yang lebih membuat kedua bola matanya semakin melebar adalah saat Ia menyadari kedua tangan pria ini sedang berada dipinggangnya, Ia menatap horor pria yang sedang memangkunya ini.

Lain Naruto, lain pula Sasuke, ia membulatkan mata oniksnya saat melihat pemandangan disampingnya, rahangnya mengeras, dan jemari tangannya memutih akibat kepalan tangannya. Tanpa basa basi Sasuke langsung berdiri dan segera menarik Naruto dari pangkuan si om-om mesum ini. Naruto yang ditarik begitu keras sontak kaget. Sasuke berusaha meredam amarahnya pada pria didepannya ini.

"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan paman mesum!" ujar Sasuke lantang yang berhasil menarik perhatian seluruh penumpang didalam bus

"Dan kau," Sasuke mengalihkan pandangannya ke gadis blonde disampingnya

"Duduk disini!" perintahnya pada Naruto

Naruto langsung menuruti perintah Sasuke, ia langsung duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Sasuke, ia terdiam, terlalu takut menatap Sasuke yang sedang dalam mode marahnya. Ia lebih memilih mendekap tas nya. Sasuke langsung mengambil posisi berdiri yang tadi di isi oleh Naruto. Naruto berdoa didalam hati semoga dia cepat sampai ditempat tujuannya.

######

Sasuke berjalan perlahan menuju lokernya, beberapa siswa siswi yang berpapasan dengan nya sedikit menatap heran kearahnya, mungkin karna hari ini dia tidak terlambat datang ke Sekolah, padahal biasanya dia akan selalu terlambat datang ke Sekolah. perlahan Ia membuka lokernya untuk mengambil sepatunya.

Srakk, sekumpulan surat berwarna warni berjatuhan dari dalam lokernya.

Ia tidak mempedulikan surat-surat itu yang ia yakin isinya adalah surat pernyataan cinta para gadis-gadis yang memujanya. Ia tak habis pikir kenapa mereka tidak jera juga, padahal jelas-jelas seminggu lalu Sasuke membentak murid Kelas XI yang ketahuan sedang memasukkan surat kedalam lokernya. Ia berpikir dengan sikap kasarnya yang seperti itu akan menghentikan gadis-gadis gila di Sekolahnya untuk menumpuk sampah didalam lokernya. Ia menjatuhnya beberapa surat yang tidak ikut terjatuh dari dalam loker nya, Ia kemudian mengambil sepatu sekolahnya dan memasukkan sepatu yang dipakainya dari rumah kedalam loker dan berlalu pergi meninggalkan surat berwarna-warni itu dilantai.

Baru saja Sasuke akan memasuki kelasnya, langkahnya dihentikan oleh suara seseorang yang sangat dikenalnya. Umino Iruka, sang Guru BP.

"Uchiha-san, boleh ikut saya keruangan guru sebentar, ada yang ingin saya bicarakan denganmu"

Sasuke menghela nafasnya kasar, Ia kemudian memilih mengikuti Iruka yang sudah duluan pergi menuju ruangan guru.

"Uchiha-san, ini mengenai Surat Peringatan yang terakhir diberikan oleh Sekolah kepadamu, memang Ibu mu sudah mengkonfirmasi melalui telpon, tapi Kepala Sekolah tetap meminta orangtua mu agar bisa datang ke Sekolah, Kepala Sekolah ingin berbicara langsung kepada orangtuamu" ujar Iruka panjang lebar begitu mereka sampai diruangan guru

Sasuke hanya menanggapinya dengan helaan nafasnya, dan memilih untuk mengalihkan pandangannya dari Iruka.

"Orangtua saya sedang berada diluar negri, begitu pun kakak saya" jawabnya santai

"Kalau begitu kau bisa memanggil wali mu untuk datang siang ini ke Sekolah"

"Tapi sensei,"

"Tidak ada tapi, ini sudah keputusan Kepala Sekolah, kuharap kau menghubungi wali mu untuk datang ke Sekolah jam 3 sore ini setelah pelajaran selesai, dan sekarang kau boleh kembali ke kelas mu!"

Sasuke menghela nafasnya yang entah sudah keberapa kalinya di pagi ini saja. Ia kemudian beranjak meninggalkan ruangan guru dan kembali ke kelasnya.

Bel tanda istirahat siang pun berbunyi, sebagian dari murid-murid dikelasnya langsung berhamburan keluar menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang telah merengek minta di isi, sepertinya soal Matematika yang diberikan Asuma tadi banyak menguras tenaga mereka.

Neji menatap teman sebangkunya yang sedari pagi tadi terlihat uring-uringan.

"Ada apa denganmu? Apa yang dikatakan Iruka-sensei padamu pagi tadi?"

Sasuke menatap teman sebangkunya yang berambut panjang ini, terkadang Ia heran juga bagaimana Sekolah membiarkan rambut panjang pria ini, Oh iya ingat, Hyuga adalah salah satu donatur sekolah ini. Terkutuklah Kepala Sekolahnya.

"Kepala Sekolah meminta wali ku datang sore ini, Ia ingin berbicara pada wali ku"

"Wali mu? Maksud mu orangtua mu? Bukannya mereka sedang berada di London?"

"Aku sudah mengatakannya, makanya Iruka-sensei menyuruhku membawa wali ku datang"

"Terus, siapa yang mau kau suruh datang dan berpura-pura menjadi wali mu? Oh jangan bilang kau mau menyuruh Danzo-san yang datang lagi? Iruka-sensei dan Kepala Sekolah sudah tahu siapa itu Danzo-san"

"Tenang saja, ada seorang lagi" ujarnya sambil menyeringai kecil

Sasuke kemudian mengambil smartphone nya kemudian mencari kontak lalu men-dial nya.

Di lain tempat,

Sakura melihat sekilas smartphone Naruto yang begetar diatas meja perpustakaan, yah saat ini mereka sedang berada di perpustakaan mencari buku referensi untuk mengerjakan tugas kuliah mereka.

"Anak Ayam?" gumamnya seraya membaca kontak yang tertera di layar smartphone Naruto

"Naruto! Ada yang menelepon mu!" ujarnya memanggil Naruto yang sedang mencari buku di rak dekat dengan meja mereka.

Naruto langsung berlari menuju Sakura, ia menatap sekilas layar smartphone nya, kemudian menggeser icon berwarna hijau dilayarnya.

"Moshi-moshi, ada apa Sasuke-kun?"

"Kau harus sudah sampai ke sekolahku sebelum jam 3 sore ini!" perintah Sasuke dari seberang sana

"Hehh, kenapa?"

"Tidak perlu banyak tanya, Kepala Sekolah meminta wali ku datang ke sekolah sore ini"

"Baiklah-baiklah, aku akan datang sebelum jam 3"

Tutt ….

Sasuke mengakhiri panggilan nya secara sepihak, Naruto langsung menatap layar smartphone nya 'Sungguh tidak sopan sekali anak ini' batinnya.

"Jadi, siapa Anak Ayam itu?" tanya Sakura sesaat setelah Naruto meletakkan kembali smartphone nya diatas meja.

"Uchiha Sasuke, anak yang aku asuh itu, yang kemarin aku ceritakan padamu" Naruto mendudukan dirinya di kursi disamping Sakura

"Kau menamainya Anak Ayam di kontakmu?"

"Ah, itu," Naruto bingung mau melanjutkan apa, lagipula julukan itu begitu saja terlintas saat Ia hendak menyimpan kontak Sasuke

"Ah, kau ini, kalau sampai si Sasuke itu tahu kau membuat namanya Anak Ayam sebagai namanya di kontak mu pasti dia marah besar"

Naruto hanya nyengir kuda menanggapi perkataan Sakura. Semoga tidak pernah ketahuan oleh Sasuke doanya dalam hati

######

Pukul 14. 50

Naruto sudah sampai di depan gerbang bertuliskan Konoha Gakuen, Ia kemudian melangkahkan kaki nya memasuki area sekolah itu. Ia sempat menanyakan ruangan Kepala Sekolah saat ia berpapasan dengan beberapa murid yang hendak pulang. Sambil berjalan menuju keruangan Kepala Sekolah, ia menatap layar smartphone nya dan membuka call log nya dan mendial kontak tersebut.

"Sasuke-kun, aku sudah sampai di Sekolah mu. Kita langsung bertemu di depan ruangan Kepala Sekolah mu saja yah" ujarnya sesaat sebelum mematikan smartphone nya dan memasukkan nya kedalam tas selempang yang dipakainya.

Ia berjalan menuju lantai 3 dimana ruangan Kepala Sekolah itu berada, tanpa disadari nya Ia menjadi tontonan murid-murid lelaki yang tidak sengaja berpapasan denggannya. Wajar saja dia menjadi pusat perhatian, seorang wanita blonde berwajah manis bermata biru safir yang mengenakan kemeja putih sedang berjalan melewati mereka, dan jangan lupa rok coklat selututnya yang melambai saat terkena angin yang menampakkan kaki jenjang mulusnya, dan jangan salahkan hormon anak SMA yang sedang dalam tahap pubertas itu.

Lima menit berjalan, akhirnya Ia sampai didepan ruangan yang diyakininya sebagai ruangan Kepala Sekolah setidak nya itulah yang dibacanya saat melihat pamflet yang berada diatas pintu besar itu, dan dengan berdirinya Sasuke didepan pintu ruangan itu maka semakin benar lah tebakannya.

"Kenapa kau bisa dipanggil Kepala Sekolah?" tanya Naruto tanpa basa-basi sesaat setelah Ia berdiri tepat disamping Sasuke

Sasuke hanya menjawabnya dengan menaikkan kedua bahunya.

"Lebih baik langsung masuk saja" ujar Naruto kemudian.

Ia mengetuk pintu didepannya, dan setelah mendengar kata 'Masuk' dari dalam ruangan Ia pun segera membuka pintu tersebut masuk diikuti oleh Sasuke dibelakangnya.

Naruto dapat melihat seorang pria dengan rambut peraknya yang melawan gravitasi sedang duduk tenang dikursi besarnya, oh dan jangan lupa dengan masker hitam yang menutupi sebagian wajah pria yang Naruto yakini sudah kepala empat itu.

"Ah, Uchiha-san, duduklah" perintah pria bermasker itu yang diketahui bernama Hatake Kakashi

Naruto berojigi singkat sebelum akhirnya mengambil kursi tepat disamping Sasuke yang sudah duluan duduk.

Kakashi mengernyit singkat saat menatap Naruto.

"Uchiha-san, aku menyuruhmu membawa orangtua mu atau wali mu untuk datang menemui ku, bukannya membawa kekasihmu"

Naruto membulatkan matanya mendengar perkataan Kakashi yang menyimpulkan seenaknya.

"Ano, maaf sensei, saya bukan kekasih Sasuke, saya wali nya" Naruto mengklarifikasi pernyataan Kakashi, dan Sasuke, dia seolah tak peduli akan pernyataan Kakashi tadi

Mata Kakashi menyipit, Ia mengernyitkan dahinya, Ia masih belum percaya dengan pengakuan gadis blonde di depannya ini.

"Sejak kapan Uchiha memiliki anggota keluarga bermata biru dan berambut pirang?"

"Sejak salah seorang dari Uchiha menikahi seseorang bermata biru dan berambut pirang" jawab Naruto tanpa ragu, Ia tidak boleh terlihat ragu didepan pria bermasker ini kalau tidak nanti penyamarannya sebagai wali Sasuke akan ketahuan, tapi dia tidak sepenuhnya berbohong kan, dia memang telah ditunjuk oleh Mikoto untuk menjadi pengasuhnya Sasuke yang bisa diartikan sebagai wali nya juga kan. Dan sebenarnya itu hanya jawaban karangan Naruto saja, manalah Ia tahu dengan pasti apa ada salah seorang dari keluarga Uchiha yang menikahi seseorang bermata biru dan berambut pirang?

Kakashi masih meragukan perkataan Naruto.

"Tenang saja sensei, nanti aku akan bertanggung jawab menambah keturunan Uchiha yang bermata biru dan berambut pirang" ujar Sasuke sambil melipat kedua tangannya didadanya

Naruto melirik sekilas Sasuke sambil mengernyitkan dahinya, dan kembali menatap Kakashi dan menganggap ucapan Sasuke barusan sebagai angin lalu. Kakashi menghela nafasnya, Ia pun berpikir tidak ada gunanya membahas ini lebih lanjut.

"Baiklah sensei, sebenarnya ada apa saya harus dipanggil oleh pihak Sekolah hari ini?" Naruto membuka suaranya

"Ini mengenai SP terakhir yang kami berikan kepada Uchiha-san, apa anda tahu itu sudah SP keempat yang telah kami berikan padanya dalam kurun waktu satu tahun ini saja. Kalau saja Uchiha Corp bukan salah satu donatur besar Sekolah ini mungkin dia sudah Drop Out dari Sekolah ini" jelas Kakashi panjang lebar

Naruto membulatkan mata nya, Ia hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Si Anak Ayam ini bahkan sudah mendapatkan 4 SP? Astaga, bahkan selama Ia SMA dulu Ia tidak pernah mendapat teguran dari Guru nya, dan beruntung Sasuke, jika bukan karna Ia anak dari pemilik Uchiha Corp maka mungkin dia sudah ditendang dari sekolah ini, KKN eh~. Terserahlah apa pun itu.

"Maaf sensei, Mikoto baa-san dan Sasuke tidak menjelaskan pada ku tentang Surat-Surat Panggilan yang telah diberikan Sekolah, bisa sensei jelaskan apa saja ulahnya?"

Kakashi mengehela nafasnya kasar, sekilas Ia melirik Sasuke yang tampak tenang dan cuek.

"Baiklah, pertama tentang kebiasaan Uchiha-san yang sering telat datang ke Sekolah, dua bulan terakhir ini bahkan dia sudah 15 kali terlambat masuk, kemudian juga kebiasaan nya yang bolos saat pelajaran bahkan dia juga bolos saat ujian MID Semester, belum lagi kejadian seminggu lalu Ia berkelahi dengan murid sekolah lain di depan gerbang Sekolah, dan lagi piercing yang dipakainya, Aku sudah menyuruhnya membuang piercing itu" Kakashi mulai memijit kepalanya yang pusing saat harus mengingat kembali kesalahan-kesalahan sang bungsu Uchiha ini

Naruto sontak terkejut setelah mendengar daftar dosa-dosa milik Sasuke, kemudian dia refleks membalikkan badannya menghadap Sasuke, perlahan ia menyibak rambut Sasuke yang menutupi telinga kirinya. Sasuke sontak terkejut saat merasakan kulit halus Naruto menyentuh pipinya, Ia menatap Naruto yang sedang menatap tajam telinga kirinya.

"Ini hanya sebuah piercing kecil sensei" jawab Naruto sambil menarik kembali tangannya dari wajah Sasuke dan kembali menatap Kakashi

"Bukan berarti dia diperbolehkan memakai nya kan" jawab Kakashi

"Sensei tenang saja, aku akan menyuruhnya untuk melepasnya"

"Aku tidak," kata-kata Sasuke terhenti saat Ia merasakan kaki kirinya diinjak oleh Naruto

"Kau," Sasuke menatap geram kearah Naruto, sedangkan Naruto membalasnya dengan memberikan death glare terbaiknya kepada Sasuke. dan hasilnya Sasuke memilih mengalihkan pandangannya dari Naruto

Hal itupun tak luput dari pengamatan Kakashi, sepertinya Ia bisa menaruh harapan pada gadis blonde didepannya ini.

"Baiklah, saya berharap anda bisa membina Uchiha-san agar tidak mengulangi lagi kesalahannya"

"Ha'i sensei" jawab Naruto sambil menganggukkan kepalanya

"Terimakasih sudah datang, sepertinya ini sudah sore, anda sudah bisa pulang sekarang, dan kau Uchiha-san saya berharap kau dapat berubah mulai sekarang"

"Hn" Sasuke hanya menjawabnya dengan dua huruf ambigu itu

"Baiklah sensei, saya dan Sasuke pamit undur diri dulu" Naruto dan Sasuke segera berdiri.

Sebelum meninggalkan ruangan itu, Naruto berojigi singkat kepada Kakashi, kemudian melirik kearah Sasuke yang diam berdiri mematung dengan tatapan angkuhnya. Astaga, Naruto geram bukan main dibuatnya, kemana sopan santun anak ini, tak bisakah dia berojigi didepan Kepala Sekolah nya ini? Dan tiba-tiba Naruto mengarahkan tangan kanannya ke kepala Sasuke, memaksa kepala Sasuke agar menunduk memberikan penghormatan kepada Kakashi, Ia pun mengulangi berojigi pada Kakashi. Kakashi membulatkan matanya, tak percaya dengan pemandangan didepannya, gadis blonde ini berani memperlakukan Uchiha Sasuke seperti itu?

"Kau," geram Sasuke sesaat setelah Naruto melepaskan tangannya dari kepalanya

"Bersikaplah sopan satun, anggap itu sebagai tanda terima kasih kepada Kepala Sekolah karna tidak mendepak mu dari Sekolah ini"

Naruto kembali berpamitan kepada Kakashi dan berjalan perlahan keluar dari ruangan disusul Sasuke yang berjalan dibelakangnya meninggalkan Kakashi yang masih membatu melihat apa yang terjadi barusan diruangannya ini.

######

Sasuke menarik lengan Naruto yang sontak membuat gadis blonde itu tertarik kebelakang dan membuat punggungnya membentur dada bidang Sasuke.

"Apa-apa an itu tadi? Seenaknya saja kau menundukkan kepala ku" bentaknya sesaat setelah memutar badan Naruto untuk menghadapnya

Naruto meringis pelan mengingat nasib pergelangan tangannya yang pasti akan meninggalkan ruam merah, Sasuke yang melihat raut wajah kesakitan Naruto perlahan mengendurkan cengkaramannya ditangan Naruto.

"Aku kan hanya ingin kau bersikap lebih sopan di hadapan Kepala Sekolahmu, mengingat dia telah memberikan sedikit keringanan kepadamu"

"Ck, tapi bukan berarti kau harus memperlakukan ku seperti itu" Sasuke masih memarahinya dengan nada tingginya sehingga menarik perhatian beberapa siswa-siswi yang belum pulang dari Sekolah

Sasuke yang menyadari keadaan di sekitarnya langsung menarik Naruto keluar dari area sekolah. Naruto terpaksa menyamakan langkahnya dengan langkah Sasuke yang cepat, sampai akhirnya mereka tiba di halte bus.

"Bisakah, kau melepaskan tangan ku, ini sangat sakit" pinta Naruto sambil meringis menatap pergelangan tangannya

Sasuke segera melepaskan cengkramannya dari tangan Naruto, Ia kemudian menatap lekat-lekat gadis disampingnya yang sedang meratapi pergelangan tanggannya. Ia jadi sedikit merasa bersalah saat mendapati ruam merah di pergelangan tangan Naruto.

"Haahh" Sasuke menghela nafasnya kasar

"Hey, aku lapar, aku ingin makan dulu sebelum pulang" lanjutnya sambil menatap Naruto

"Aku juga lapar, karena buru-buru datang ke Sekolahmu aku jadi belum sempat makan siang" jawab nya sambil balik menatap Sasuke

"Traktir aku makan, aku ingin makan sushi"

Hah, apa Naruto tidak salah dengar, seorang anak pemilik Uchiha Corp meminta dirinya untuk membelikan makan siang? Yang benar saja, apa Ia tidak malu memeras gadis miskin seperti dirinya.

"Sushi itu terlalu mahal" Naruto melambaikan tangannya

"Lebih baik ramen saja, itu lebih murah" lanjutnya

"Kau menyuruhku memakan makanan berkuah dan berlemak itu? Itu tidak sehat" protes Sasuke

"Aku tetap mau makan sushi" lanjutnya mutlak seraya melipat kedua tangannya didepan dadanya

"Kau," kata-kata Naruto terhenti saat Sasuke menarik paksa dirinya naik kedalam bus yang baru saja tiba.

30 menit berlalu dan sampailah mereka di Restaurant Sushi, Naruto menelan ludahnya kasar, Ia sudah bisa membayangkan berapa tagihan bill nya nanti. Dasar Anak Ayam ini, dia pasti mau balas dendam kepadanya karena perbuatannya di Ruangan Kepala Sekolah tadi.

"Baiklah aku akan mentraktirmu, kau boleh pesan apa saja, dengan syarat kau melepas piercing mu itu dan berjanjilah tidak berbuat ulah lagi di sekolah" ujar Naruto sesaat setelah mereka duduk di depan meja bar. Ya Restaurant Sushi yang mereka datangi kali ini berkonsep Sushi Bar

"Hn"

"Aku anggap gumamanmu itu sebagai YA"

Sasuke langsung mengambil beberapa piring Sushi yang lewat didepannya, Naruto meringis sambil meminum ocha nya. Bayangkan saja, Sasuke sengaja mengambil piring yang berwarna merah semua, dan itu artinya dia mengambil Sushi yang harganya paling mahal. Naruto sudah bisa membayangkan bagaimana nasib dompetnya kelak, Ia bahkan belum mendapat gaji tapi malah harus sudah rugi akibat ulah Anak Asuhnya ini. Satu jam berlalu, jelas sekali terlihat perbedaan piring bekas Sasuke dan Naruto, terdapat 10 tumpukan piring berwarna merah dan disamping nya terdapat 3 tumpukan piring berwarna hijau. Lagi-lagi Naruto meringis melihat tumpukan piring merah milik Sasuke, dan Sasuke, uh dia malah dengan santainya menyesap ocha nya. Naruto segera meminta bill kepada pelayan dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Sepertinya mulai besok ia harus membawa bekal ke kampusnya.

######

#TBC

Read n Review

Akhirnya Author bisa meng-update kilat fic ini, berhubung sudah Libur Lebaran jadi banyak waktu. Author harap minna-san suka dengan chapter yang terbaru ini. Review dari para Reader sangat dibutuhkan, karna itu bagaikan dopping buat Author dalam menulis :)

aiko4848, terima kasih sudah suka sama fic ini, ditunggu review selanjutnya yah :)

broke Lukas makasih buat reviewnya, BTW ini Broke atau Lukas? hahaha

Mizuumi Yoite wah, sebenernya sampai chap 2 kemaren belum ada kepikiran buat masukin Ita-nii tapi itu bukan ide yang buruk, mungkin di chap selanjutnya bakal masukin Ita-nii tapi sekarang biarkan SasuNaru berduaan dulu yah ;)

TheB1gBoy Sankyuu, semoga tetap suka dengan fic ini, dan ditunggu review selanjutnya

AkarisaRuru Hahahaa, aku juga bingung pas mau buat pembantu di rumah Sasuke tiba-tiba aja muka Danzo yang terlintas

Uzumaki Prince Dobe-Nii, mysuga, Namikaze Hoshi, shin.sakura.11, Guest sip, ini udah dilanjut, semoga suka yah :)

fyodult hahahaha, Naruto kan bukan sembarang Nanny

kuraublackpearl hahahahaha, sayang adegan itu belum bisa direalisasikan yah, soalnya ini rate nya masih T ;)

Aoi423 mungkin udah nasibnya Naru karna harus berhadapan dengan Sasuke yang dominan

Arum Junnie makasih buat restunya :) sip ini udah dilanjut

blue safire ini udah dilanjut, hahahahaha terkadang mentok mau nulis apa lagi, setidaknya chap ini lebih panjang sedikit yah