CHAPTER 5

Itachi menopang wajahnya dengan tangan kirinya, Ia sudah dapat menghentikan tawanya akibat peryataan absurd Naruto, tetapi sepertinya sebuah senyuman masih betah menghiasi wajah sang sulung Uchiha itu yang sebentar lagi berusia 24 tahun. Ditatapnya Naruto yang sedang menggembungkan kedua pipinya, kawaii ne pikirnya.

"Hey, apa itu lucu? Kenapa Itachi-san sampai tertawa seperti itu?" Naruto menatap Itachi yang masih tersenyum ke arahnya seraya menggembungkan kedua pipi nya

"Dan kau Sasuke," kali ini Ia mengarahkan pandangannya ke arah Sasuke

"Berhentilah berekspresi seolah kau sedang melihat alien"

Sasuke mendengus pelan.

"Yah, kau memang alien. Alien Otaku!"

"Aku bukan otaku!" jawab Naruto tidak terima

Sasuke menatap cuek ke arah Naruto yang sepertinya masih kesal dengan perkataan nya, Ia tak peduli, terkadang melihat ekspresi kesal Naruto cukup menyenangkan baginya, dengan santai nya Ia malah mengambil sebuah jeruk mandarin yang terhidang di meja.

Itachi menatap kedua nya sambil tersenyum simpul, berkat Naruto Ia bisa melihat berbagai ekspresi Sasuke yang sangat jarang dikeluarkan sang pemuda berambut raven tersebut.

"Ah tidak, itu tidak lucu kok , malah menurutku itu manis" Itachi menatap Naruto masih dengan senyuman di wajahnya

"Benarkah? Itachi-san juga menganggap itu hal yang manis kan" akhirnya Naruto kembali ceria, akhirnya ada yang sependapat dengannya

Itachi hanya mengangguk manis menanggapi perkataan Naruto.

"Nah, kalau begitu, ayo kita pergi ke London Naruto!" lanjutnya kemudian seraya tersenyum manis kepada Naruto

"Eh, buat apa?"

"Supaya .." Itachi menggantung kalimatnya

"Supaya aku bisa menyatakan cinta ku padamu"

Blushh

Wajah Naruto merona saat mendengar gombalan sang sulung Uchiha.

"Aaghh" teriak Itachi sesaat setelah merasakan kepala nya dilempar sesuatu, sakit batinnya

Oh, ternyata itu adalah buah jeruk yang tadi di ambil Sasuke, sepertinya Sasuke belum sempat memakan jeruk mandarin itu dan lebih memilih untuk melemparnya ke kepala sang kakak.

"Sasuke" desis Itachi

Sasuke hanya membalasnya dengan menghadiahkan sang kakak death glare andalannya.

"Mou, Itachi-san, berhenti lah bercanda" akhirnya Naruto sudah bisa menetralisir efek dari gombalan sang sulung Uchiha, Ia kemudian bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan duo Uchiha ini, lama-lama berhadapan dengan dua Uchiha ini bisa membuat Ia mati muda karna terkadang perkataan dan tindakan mereka bisa membuat jantungnya bekerja diluar normal.

"Aku tidak bercanda Naruto-chan" ujarnya saat melihat Naruto yang sudah pergi meninggalkan ruangan keluarga Manshion Uchiha tersebut

Bugh,

Untuk kedua kalinya Itachi merasakan sebuah jeruk menyentuh kening mulusnya. Ia menatap ke arah Sasuke yang sepertinya juga hendak pergi meninggalkan ruangan keluarga.

"Berhentilah mengganggunya Baka Aniki!" ujar Sasuke sesaat sebelum menghilang dari pandangan Itachi

Itachi tersenyum simpul seraya mengelus keningnya yang menjadi korban lemparan Sasuke.

'Well, sepertinya aku dapat mainan baru' batinnya

######

Naruto menatap Ayame yang sedari tadi menatapnya sambil tersenyum.

"Mou, Ayame-san jangan menatap ku seperti itu" ujar Naruto dengan wajahnya yang sedikit merona

"Dan, ano .." kali ini Naruto mengarahkan pandangan ke pemuda rambut panjang yang berdiri tak jauh di depannya

"Itachi-san, apa aku harus memakai baju seperti ini?" gumam nya sambil memegang rok nya yang dirasanya cukup pendek

"Tentu saja, Naruto-chan kau terlihat manis memakai kostum maid itu" Itachi mengangguk perlahan membenarkan perkataan nya sendiri

"Bukannya tadi kau setuju untuk membantu ku untuk memenangkan lomba fotografi? Ayolah Naruto-chan, Tou-san ku hanya memberi ku waktu seminggu untuk bersantai sebelum harus bekerja menggantikan Obito Jii-san"

Ya, sementara menunggu Itachi untuk menyelesaikan program S2 nya di London, Obito yang merupakan keponakan Fugaku lah yang menjabat sebagai Direktur Utama sementara Uchiha Corp, dan kini saat Itachi telah kembali, Ia lah yang bertugas untuk menduduki posisi penting itu, sementara ayahnya wara-wiri Jepang – London untuk mengurusi anak perusahaannya yang berada di London.

"Tapi, aku tidak menyangka kalau Itachi-san akan menyuruhku menggunakan kostum maid ini" protes Naruto

"Naruto-chan, lomba fotografi yang ku ikuti kali ini bertema cosplay, kau tahu COSPLAY" Itachi menekankan kata cosplay kepada Naruto

Ayame hanya tersenyum simpul melihat tingkah laku tuan muda nya yang satu ini.

"Naruto-san, terlihat sangat manis menggunakan pakaian itu kok, Itachi-sama tidak berbohong" ujar nya kemudian meyakinkan Naruto

"Benarkah?" gumam Naruto

Itachi dan Ayame mengangguk kompak.

Sekilas muncul rona merah di wajah Naruto, Ia kemudian memeriksa kembali pakaian yang saat ini sedang dikenakannya, sebuah kostum maid berwarna hitam yang dipadukan dengan renda putih di beberapa bagian. Dulu Ia sempat berpikir untuk memakai kostum seperti ini saat Ia dan Sakura berkunjung ke salah satu maid café yang berada di Akihabara, dan seperti nya saat ini Ia sedang diberi kesempatan untuk menjadi maid walau hanya sebagai model Itachi, oh mungkin saja setelah Ia berhenti bekerja disini dia bisa mencoba melamar bekerja di maid café. Naruto memandang pantulan dirinya di dinding kaca sebelah kirinya, kawaii batinnya, hanya saja rok nya yang cukup pendek membuatnya sedikit risih.

"Ayolah Naruto, berpose lah, dan Ayame-san, bisakah kau memberi Naruto beberapa property yang bisa dipegangnya, misalnya nampan itu dan mungkin teko itu" ujar Itachi kemudian, Ia kemudian mengambil kamera DSLR nya, karena mereka melakukan pemotretan di taman belakang jadi Ia tidak perlu repot-repot menyiapkan lightening, apalagi cuaca sore ini cukup cerah

Naruto mengagguk paham, baiklah Ia akan menuruti perintah tuan muda nya kali ini. Ini sudah hari ke-tiga Itachi berada di Manshion Uchiha ini, setidak nya dalam 3 hari ini Ia sedikitnya sudah bisa membaca tingkah laku sang sulung Uchiha ini, jika Sasuke bersikap sangat tenang dan cukup mandiri maka Itachi adalah kebalikannya. Naruto cukup sering diganggu oleh si sulung Uchiha ini, mulai dari meminta Naruto untuk membantunya memilih pakaian yang akan dikenakannya, menemani nya belanja untuk sekedar membeli beberapa potong kemeja, dan sampai menyiapkan teh dan cemilan untuk Afternoon Tea nya. Sebenarnya disini dia bekerja sebagai pengasuh siapa?

Maka tak jarang jika Sasuke terkadang marah-marah kepada kakak nya karena jengah melihat tingkah sang sulung Uchiha ini yang sering mengganggu Naruto-nya, yah karena menurut Sasuke, Naruto seharusnya hanya bertugas untuk mengurusnya. Ah, lupakan. Hidup dengan duo Uchiha ini benar-benar menyusahkan pikirnya.

Hey, Naruto apa kau tidak salah bilang mereka berdua itu menyusahkan?

Naruto bukanlah tipe gadis-gadis penggemar duo Uchiha bersaudara ini, Ia memang mengakui kalau duo Uchiha ini cukup membuatnya terpesona, tapi Ia tidak pernah terpikir akan menjalin hal-hal romantis terhadap duo Uchiha ini, Ia cukup tahu diri dengan perbedaan status sosial mereka, ditambah lagi mungkin jauh dilubuk hatinya Ia masih memikirkan si pemuda berambut merah berwajah baby face yang sudah menempati ruang itu selama 3 tahun terakhir ini.

Sasuke memarkirkan mobilnya kedalam garasi, dan kemudian melangkahkan kakinya memasuki manshion Uchiha, Ia menganggukkan sedikit kepalanya membalas Danzo yang ber-ojigi kepadanya. Sepi, itulah hal pertama yang dirasakannya saat memasuki ruang utama, biasa nya Ia akan disambut oleh Naruto yang sedang duduk bersantai sambil membaca buku ataupun Itachi dengan tingkahnya yang cukup menyebalkan buat Sasuke. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kulkas yang ada didapur, Ia membuka pintu kulkas dan mengambil sebuah minuman kaleng, Ia meminum minuman berkarbonasi tersebut hingga tersisa sedikit. Samar-samar Ia mendengar suara berisik dari halaman belakang, tanpa ragu-ragu Ia melangkahkan kaki nya mendekati sumber suara.

Dan disinilah dia, mendapati Naruto-nya sedang berpose imut, mengangkat kaki kanannya sejajar dengan lututnya, memegang sebuah teko porselen dan mengerling menggoda kearah kamera yang dipegang oleh pemuda yang harus dipanggilnya dengan sebutan kakak. Refleks Ia melempar kaleng minuman soda yang isinya sudah habis tersebut ke arah sang kakak, dan mengenai tepat di kepalanya dan menghentikan seketika acara pemotretan tersebut. Itachi yang merasakan sakit dibagian belakang kepalanya refleks menoleh kebelakang untuk mengetahui siapa pelaku yang telah berani melempar kaleng minuman ke kepala jeniusnya itu.

"Apa yang sedang kau lakukan? Dasar om-om mesum!" bentak Sasuke kepada sang kakak

Twitch

Perkataan Sasuke sukses memunculkan perempatan siku imajiner di kepala Itachi, hey bagaimana dia tidak kesal, Ia baru saja disebut om-om mesum oleh Sasuke. Umurnya saja belum menginjak angka 24.

"Dan kau, kenapa mau saja menuruti permintaan aneh om-om mesum ini" lanjut Sasuke seraya menatap tajam ke arah Naruto

"Etto, Itachi-san ingin mengikuti lomba fotografi, makanya dia meminta ku menjadi modelnya" jawab Naruto sambil memegang roknya, rasanya Ia seperti sedang di marahi Ayah nya saja, yang mungkin jika Ayah nya masih hidup

Sasuke menyipitkan mata nya, memfokuskan telinga nya untuk mendengarkan penjelasan Naruto, Ia kemudian menatap sang kakak. Sejak kapan kakaknya suka mengikuti lomba fotografi? Ia memang tahu kakaknya yang satu ini suka dengan fotografi, tetapi yang biasa menjadi objeknya adalah panorama bukan manusia.

"Ya, Sasuke aku yang meminta Naruto menjadi modelku untuk mengikuti lomba fotografi"

"Dengan menyuruhnya memakai kostum maid dengan rok yang super pendek seperti itu?"

"Kau terlalu berlebihan ototou, roknya hanya 15 centi diatas lutut" jawab Itachi seraya memalingkan pandangannya dari maniks kelam Sasuke

"Lagipula untuk lomba nya kali ini bertema cosplay, makanya aku meminta Naruto-chan untuk menggunakan kostum maid itu"

Sasuke hanya mendengus pelan mendengarkan penjelasan kakaknya. Dengan gerakan cepat Ia merebut kamera DSLR tersebut dari tangan Itachi, dan langsung mengambil memory card nya.

"Yah, Sasuke apa yang mau kau lakukan? Kembalikan memory card nya" Itachi menatap horror saat Sasuke memasukkan memory card nya kedalam saku celana nya. Sepertinya adik bungsu nya ini tahu lomba fotografi bertema cosplay itu hanya bualannya saja untuk bisa mendapatkan foto Naruto yang mengenakan kostum maid, oh ayolah nanti nya dia akan membagi file nya juga kepada Sasuke jika adik nya itu menginginkannya

Sasuke tidak menanggapi perkataan sang kakak, Ia meletakkan kamera DSLR tersebut ke meja bundar yang biasa nya menjadi tempat bersantai di halaman belakang nya ini, perlahan Ia melangkahkan kaki nya pergi meninggalkan sang kakak.

"Ya, Sasuke apa yang mau kau lakukan?"

Sasuke membalikkan badannya, dan menatap manik kelam Itachi.

"Tentu saja menghapus file nya" ujarnya sambil mengedikkan bahu nya

"Jangan!" ujar Itachi dan Naruto kompak

Oke, jika Itachi yang keberatan maka Sasuke akan bereaksi biasa saja, tapi ini kenapa Naruto juga jadi ikut-ikutan. Tak mau ambil pusing, Sasuke lebih memilih pergi meninggalkan dua manusia aneh di depannya ini. Naruto yang melihat Sasuke mulai pergi menjauh refleks mengejar Sasuke.

"Ne, Sasuke sebelum kau hapus file nya, aku minta file nya dulu yah, sebenarnya sejak dulu aku ingin sekali berfoto memakai kostum maid" ujar Naruto seraya memegang lengan Sasuke

Sasuke melirik sekilas ke arah Naruto yang sudah bergelayut manja di lengannya. Sasuke mendorong kepala Naruto dengan jari telunjuknya, sehingga membuat Naruto melepaskan lengan Sasuke.

"Dasar cosplay otaku!"

Sasuke segera pergi menuju kamarnya meninggalkan Naruto yang memegangi dahinya dengan kedua tanggannya. Naruto memandang punggung Sasuke seraya mengerucutkan bibirnya.

"Ya, pokoknya jangan dihapus!"

######

Naruto membungkukkan badannya, kata Arigatou dan Gomen entah sudah berapa kali keluar dari bibir mungilnya. Sedangkan wanita paruh baya yang berdiri tepat didepannya hanya memasang wajah datar nya dan jangan lupa dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dadanya.

"Maaf nyonya saya baru bisa melunasi hutang Sasori kepada Anda, dan terima kasih telah bersedia menunggu hingga saya mampu untuk melunasinya" ujar Naruto sekali lagi

"Yah, yah, yang penting kamu sudah melunasi nya sebelum 1 bulan"

"Dan ini kartu mahasiswa mu!" lanjut sang wanita paruh baya tersebut seraya menyerahkan sebuah kartu kepada Naruto

Naruto mengambil kartu yang diberikan wanita paruh baya tersebut, Ia tersenyum simpul.

"Lebih baik kamu pulang sekarang, saya masih banyak kerjaan"

Naruto hanya mengangguk menanggapi usiran secara halus sang pemilik rumah.

"Sekali lagi saya minta maaf" ujar nya seraya berojigi singkat

Sang wanita paruh baya hanya menanggapinya dengan senyum simpulnya, dan langsung menutup pintu rumahnya meninggalkan Naruto yang masih berdiri tegak di depan pintu rumahnya.

Naruto menghela nafasnya kasar, akhirnya satu masalah sudah selesai. Untung saja Mikoto memberi nya gaji di muka padahal belum ada 2 minggu dia bekerja. Ah, mungkin nanti malam dia harus menelpon Mikoto untuk mengucapkan terima kasih.

Naruto melangkahkan kaki nya meninggalkan rumah tersebut, Ia berjalan dengan lesu seraya menundukkan kepalanya, seperti masih ada beban yang mengganjal dalam dirinya hingga akhirnya sebuah suara yang sangat familiar menyadarkan nya dari lamunan nya.

"Apa yang kau lakukan disini Naruto?"

Naruto mengangkat wajahnya untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah, bahwa pria yang saat ini menyapa nya adalah seseorang yang telah membuat hidupnya tidak tenang beberapa minggu terakhir ini. Yah, si pemuda berambut merah berwajah baby face, Akasuna Sasori.

"Sasori-kun" panggilnya lirih

Sasori menatap gadis pirang yang sudah lama tidak dilihatnya, rasanya Ia rindu sekali dan ingin menariknya kedalam pelukannya.

Naruto menatap ekspresi Sasori yang menatapnya sendu, sesaat sempat terpikir di benaknya untuk berlari dan memeluk pria ini, namun langsung berganti dengan wajah wanita paruh baya tadi, hingga akhirnya Ia pun berlari ke arah Sasori dan memberi pemuda Akasuna ini sebuah kejutan.

"Yah, masih berani kau menampakkan wajahmu dihadapan ku? Apa kau benar-benar tidak punya malu?" bentak Naruto seraya memukuli Sasori dengan tas nya

Sasori refleks melindungi wajahnya dari serangan Naruto yang membabi buta.

"Hime, apa yang kau lakukan? Memangnya apa salahku?" ujar nya seraya menghindari setiap pukulan Naruto

"Jangan panggil lagi aku hime, aku tidak sudi lagi kau panggil dengan sebutan itu, lebih baik kau panggil saja wanita itu dengan sebutan hime"

"Wanita yang mana? Aku tidak mengerti maksudmu hime"

"Pura-pura bodoh eh, kau pikir aku tidak melihatnya, kau berjalan dengan seorang gadis di Konoha Mall minggu lalu" bukannya menghentikan pukulannya, Naruto malah semakin gencar memukuli Sasori dengan tas nya

Sasori mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat aktivitas nya di hari minggu lalu dan masih dengan posisi tangannya yang melindungi kepala nya dari serangan Naruto.

"Hime, sepertinya kau salah paham, gadis itu bukanlah pacar ku"

"Kalau bukan pacarmu siapa? Istri mu heh"

Cukup batin Sasori, Ia langsung merebut tas milik Naruto yang sedari tadi digunakan gadis blonde itu untuk memukulinya, kalau dibiarkan makin lama sepertinya gadis blonde ini akan semakin salah paham.

"Naruto, dengarkan dulu penjelasanku!" lanjutnya dengan nada yang cukup tinggi, terbesit rasa penyesalan di dirinya saat Ia melihat raut wajah Naruto yang terlihat ingin menangis.

Sasori menghela nafasnya kasar, sepertinya cerita ini akan memakan waktu yang panjang.

"Itu tidak seperti yang kau pikirkan hime, gadis itu bukan pacarku, dia adik ku, saat itu dia meminta ku untuk menemaninya membeli sesuatu"

"Sejak kapan kau punya adik, kau pikir aku tidak tahu susunan keluarga mu, yang aku tahu seorang Akasuna Sasori adalah anak tunggal"

"Yah, aku memang anak tunggal, setidaknya sampai aku mendengar kabar bahwa mendiang ayah ku memiliki istri lain dan seorang putri"

Sasori bisa melihat dengan jelas ekspresi terkejut di wajah Naruto

"Awalnya aku pun terkejut saat mengetahui bahwa aku memiliki adik, bahkan sampai saat ini aku masih merahasiakannya dari Nenek Chiyo, aku tidak ingin di usia nya yang semakin renta itu Ia masih harus menerima berita yang sangat mengejutkan ini"

Sasori mendekati Naruto dan memegang kedua pundak gadis pirang tersebut.

"Lalu sekarang kau bisa jelaskan, kenapa kau ada disini?"

Naruto menatap maniks hazel milik Sasori, kemudian Ia menghela nafasnya pelan, hal ini pun tak luput dari pengamatan pemuda Akasuna tersebut.

"Tentu saja membayar hutangmu kepada wanita paruh baya yang rumahnya berada di ujung gang sana!"

Manik hazel Sasori membulat sempurna saat mendengar perkataan Naruto.

"Kenapa kau membayarnya?"

"Kau malah bertanya kenapa? Tentu saja karna 2 minggu yang lalu wanita itu datang ke rumah ku dan menagih hutang mu pada ku, apa kau berlagak lupa telah membuat nama ku sebagai penjamin mu hah, dan juga kemana saja kau 2 minggu ini, handphone mu tidak bisa dihubungi dan bahkan saat aku pergi ke fakultas mu, kau juga tidak masuk kuliah, kau menghilang kemana hah?"

Sasori mengacak rambutnya frustasi.

"Kau tahu, padahal hari ini aku berencana akan membayar hutangku pada wanita itu, sungguh jika bukan karena terpaksa aku juga tidak akan meminjam uang itu padanya, dan tidak mungkin aku menjadikan Nenek Chiyo sebagai penjamin, maka saat itu yang terlintas di benak ku cuma kau Naruto, maaf karna aku tidak mengatakannya pada mu sebelumnya, padahal aku sudah mengatakan pada wanita itu untuk tidak mendatangimu, karna aku pasti akan membayar hutangku padanya, dan masalah handphone ku tidak bisa dihubungi sejak 3 minggu yang lalu itu karena handphone ku rusak dan baru hari ini nomorku aktif kembali, dan tenang saja aku akan mengganti uang mu, kau tidak perlu membayar hutang ku, karna itu adalah tanggung jawab ku"

Naruto hanya terdiam mendengar penjelasan Sasori, Ia menatap maniks hazel pemuda di depannya berusaha mencari kebohongan dari ucapan pemuda itu, tapi yang didapatnya hanyalah pancaran kejujuran dari kedua maniks tersebut.

Sasori menghela nafasnya pelan, kedua tangannya masih berada di pundak Naruto, perlahan Ia menundukkan kepalanya.

"Adik ku sakit keras, 3 minggu yang lalu Ia baru menjalani operasi, ada masalah dengan ginjalnya, walaupun aku baru mengetahui kebenaran bahwa dia adalah adikku, tapi aku tidak bisa untuk mengabaikannya apalagi setelah aku mengetahui ternyata saudara nya yang tersisa tinggal aku, kau tahu kan bagaimana pun darah lebih kental dari air"

"Selama 3 minggu ini aku berusaha untuk mencari pekerjaan, seperti nya aku akan memutuskan untuk berhenti dari kuliah ku dulu dan fokus untuk bekerja, bagaimana pun saat ini ada satu nyawa lagi yang harus aku tanggung"

Naruto menatap pria dihadapannya, baru kali ini Ia melihat seorang Akasuna Sasori begitu rapuh. Perlahan cairan sebening embun itu lolos dari kedua manik safirnya.

"Kenapa kau tidak menceritakannya kepada ku, kau anggap aku apa hah? Kau anggap apa hubungan kita selama 3 tahun ini?" ujar Naruto lirih

Sasori mengangkat kepalanya dan mendapati gadis yang telah mengisi hatinya selama 3 tahun terakhir ini menangis karena nya. Tidak ini tidak boleh terjadi, Ia tidak pantas untuk ditangisi oleh gadis pirang ini, wajahnya hanya boleh dihiasi oleh senyuman bukan tangisan. Perlahan Ia menghapus airmata Naruto dengan kedua ibu jarinya.

"Aku tidak pantas untuk kau tangisi, kau tahu aku lebih suka melihat mu tertawa daripada menangis"

"Dan, Naruto, aku ingin memberi tahu mu satu hal" Sasori menggantung kalimatnya, Ia memejamkan matanya berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang diambilnya ini adalah yang terbaik bagi mereka, terutama bagi Naruto

"Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini, aku sadar aku tidak pantas untuk mu, kau layak mendapatkan seseorang yang bisa membuatmu bahagia, dan aku sadar orang itu bukanlah aku"

Kedua safir itu membulat sempurna sesaat setelah mendengarkan ucapan Sasori.

"Kau memutuskan ku?" lirihnya

"Aku akan pindah ke Okinawa, 2 hari yang lalu aku mendapatkan panggilan untuk bekerja disana, mungkin aku akan menetap dan memulai kehidupan ku yang baru disana, bersama adikku dan juga Nenek Chiyo, yah sebaiknya aku harus berterus terang kepada nenek"

Sasori menatap sendu gadis pirang didepannya yang saat ini benar-benar terlihat sangat rapuh, sumpah Ia akan mengutuk diri nya sendiri karena telah membuat Naruto menjadi seperti ini.

"Maaf, maaf"

Sasori terus mengucapkan kata maaf dari bibirnya, tanpa disadarinya pipinya sudah basah oleh cairan bening yang keluar dari kedua maniks hazelnya.

######

"Maaf, maaf"

Kata maaf milik Sasori masih terus terngiang ditelinga Naruto. Ia semakin mengeratkan kedua tangannya memeluk kedua lututnya, dibiarkannya angin sore membelai helaian pirangnya, Ia menekukkan wajahnya kedalam lututnya. Yah, saat ini Ia sedang duduk termenung di tepian teras di halaman belakang kediaman Uchiha. Sesekali terdengar suara gemericik air dari kolam Ikan Koi yang letaknya tak jauh dari tempat duduk nya saat ini.

Perlahan Ia merasakan lututnya basah karena cairan bening yang keluar dari matanya, Ia tidak terima dengan keputusan sepihak Sasori, tidak bisakah pria berambut merah itu membiarkannya untuk menolongnya? Mungkin sebelum tahu kebenarannya Ia sangat membenci pria itu karna sudah melibatkan dirinya dalam masalah, tetapi sejak mengetahui kebenarannya Ia jadi malah menyalahkan dirinya karena merasa dia tidak berguna dan tidak bisa membantu sang kekasih menyelesaikan masalahnya, tapi mau bagaimana lagi, suka tidak suka Ia harus rela dengan keputusan Sasori.

Lamunan nya pun terhenti saat Ia merasakan seseorang menepuk bahunya, perlahan Ia mengangkat wajahnya untuk melirik seseorang yang kini telah duduk disampingnya.

"Kenapa kau menangis?" ujar pria tersebut dengan wajah terkejutnya

"Itachi-san" gumanya lirih seraya menghapus sisa air mata yang menetes di pipi nya

"Kau belum menjawab pertanyaanku kenapa kau menangis"

Naruto berusaha mengalihkan pandangannya, lebih baik menatap kolam Ikan Koi tersebut daripada harus menatap maniks kelam Itachi.

"Aku hanya merindukan ibuku"

Itachi menghela nafasnya pelan, Ia bahkan tidak perlu mengambil kuliah jurusan psikologi hanya untuk mengetahui bahwa saat ini Naruto sedang mencoba berbohong kepadanya.

"Aku tahu kau sedang berbohong, dan bukannya 2 hari yang lalu kau baru bertemu dengan keluargamu?"

Naruto kembali menundukkan kepalanya, ternyata benar perkataan orang-orang bahwa Uchiha adalah makhluk yang jenius.

Sekali lagi Itachi menghela nafasnya pelan, kemudian mengarahkan maniksnya menatap beraneka ragam tanaman anggrek yang tertata dengan rapi di halaman belakangnya.

"Kau tahu Naru, dari dulu aku ingin sekali memiliki seorang adik perempuan, tapi sayangnya Kaa-san dan Tou-san tidak ingin lagi menambah seorang anak, jadi bolehkah aku menganggapmu sebagai seorang adik, dan aku akan merasa sangat senang sekali jika kau mau menganggapku sebagai seorang kakak juga" ujar nya seraya tersenyum kearah Naruto

Naruto bisa melihat senyuman tulus diwajah Itachi, bukan seperti senyuman jahilnya yang selama ini Naruto lihat.

"Nah, sekarang kau bisa menceritakan kepada ku apa masalahmu? Mungkin aku bisa membantu, dan coba aku tebak, apa ini masalah percintaan?"

Itachi menatap Naruto yang kembali mengalihkan pandangannya, well sepertinya tebakannya benar.

"Itachi-nii" gumamnya seraya mencoba menatap maniks kelam Itachi

"Bolehkan aku memanggilmu seperti itu?" lanjutnya kemudian

Itachi mengangguk singkat menjawab pertanyaan Naruto.

"Nah, sekarang bisa kau ceritakan kepadaku kenapa kau menagis?"

Naruto mengangguk singkat, perlahan kebua bibirnya terbuka, mengucapkan kata demi kata, Ia memilih untuk menceritakan semua masalah yang mengganjal hatinya, mulai dari awal mengapa Ia bekerja menjadi pengasuh Sasuke, sampai akhirnya Ia tahu alasan kenapa Sasori melakukan hal tersebut. Sesaat setelah Ia menceritakan semuanya, Ia bisa merasakan sedikit kelegaan dalam hatinya, sepertinya bercerita dengan Itachi bukanlah ide yang buruk.

"Mungkin Sasori berpikir itu adalah keputusan yang terbaik bagi kalian berdua, dan jangan menyalahkan dirimu sendiri, kau tahu kau tidak salah dalam hal ini"

"Kau tahu Naru, terkadang seorang pria dewasa akan lebih memilih untuk mundur dan membiarkan gadis yang dicintainya untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih daripada yang bisa diberikannya kepadamu, mencintai itu tidak harus memiliki, dan Sasori memilih jalan itu"

Itachi menatap Naruto yang menatapnya dengan sendu. Naruto mengalihkan pandangannya dari Itachi, dan kembali menundukkan wajahnya sehingga keningnya dapat mencium lututnya, Ia mencoba untuk meresapi perkataan Itachi.

"Bahkan umurmu baru 18 tahun, jalan mu masih panjang, melangkahlah kedepan, gapai kebahagianmu sendiri, dan biarkan kisahmu dengan Sasori menjadi sebuah kenangan manis yang akan kau ingat saat tua nanti, anggap kisahmu dengannya sebagai hal yang membuatmu menjadi lebih dewasa dalam menjalani kehidupan" ujar Itachi seraya membelai surai pirang Naruto.

Naruto mengangguk pelan menaggapi perkataan Itachi. Dan tanpa mereka sadari sedari tadi seorang pemuda berambut raven berdiri sambil menyandarkan punggungnya di sebelah pintu yang membatasi teras belakang dengan ruangan utama kediaman Uchiha tersebut.

Yah, Sasuke bisa mendengar dengan jelas seluruh isi percakapan Itachi dan Naruto dari awal, perlahan sebuah senyuman kecil mengihiasi wajahnya, sepertinya Ia harus banyak belajar dari Itachi, baru kali ini Ia melihat sisi lain dari seorang Uchiha Itachi, ya sisi Dewasa nya. Yah mungkin hal itu lah yang belum dimilikinya.

######

#TBC
#Read and Review

Yosh, minna maaf yah baru bisa update!

Waah, ternyata banyak penggemar ShinRan juga disini yah? hahahahaha

Iyah impian absurd Naruto di chapter kemarin itu aku ambil dari salah satu scene di DC yaitu di episode 621 kalau di manga nya aku lupa itu chapter berapa :)

Nah, di chapter ini udah bisa dapat jawabannya yah yang kemarin pada nanyain apakah Itachi ada feel sama Naru, nah jawaban nya adalah TIDAK, Itachi hanya menganggap Naru sebagai adik, tapi memang Itachi suka menjahili Naru karena dia senang melihat ekspresi kesal nya Sasu pas dia ngejahilin Naru.

Maap yah author gak bisa buat konflik antara Itachi dan Sasuke seperti yang di request kebanyakan, soalnya gak pengen jadi in cinta segitiga di fic ini, kalau pengen baca fic dengan kisah cinta segitiga ItaSasuNaru tunggu fic author selanjutnya yah yang judulnya Aniki vs Otouto (hahahhaha)

Nah di chap ini juga sudah jelas yah kenapa Sasori menggunakan nama Naru sebagai penjaminnya, nah awalnya sih Author pengen ngebuat Sasori jadi orang yang jahat, malah kemaren ada yang request adegan bacok-bacokan saat Sasori ketemu Naruto. Tapi ternyata author nggak tega buat nge-bash chara yang satu ini, He's too cute to be dibacok :D

Well, tapi semoga suka dengan cerita Sasori nya yah, Oh iya disini Sasori itu anak yatim piatu sejak kelas 3 SMP, dan dia diasuh sama Nenek Chiyo. Sebagai info tambahan, Sasori dan Naruto itu berpacaran sejak kelas 1 SMU, umur mereka sebaya dan kebetulan mereka bersekolah di SMU yang sama.

And special thanks buat naruruhina, pha chan, Habibah794, Hyull, Jasmine DaisynoYuki, blue safire, Aoi Latte, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Avanrio11, namikazehyunli, Mizuumi Yoite, Namikaze Hoshi, Nakamoto Yuu Na, D'Angel, mysuga, doh.choco, secrella, Watashi wa Mai, Aoi423, itakun, eun soo, Maria Yeremia Watzon, Vryheid, naginagi, Hiro mineha, nina, shin.sakura.11

Sumpah, terkadang author senyum senyum sendiri baca setiap review dari kalian, maaf yah nggak bisa balas satu persatu, dan ditunggu yah review selanjut nya :)

Hatake Aria