CHAPTER 6
Naruto menatap malas televisi di depannya, jemarinya sedari tadi tidak berhenti untuk mengganti channel TV, sesaat jemarinya berhenti menekan tombol remote. Kedua sapphire nya fokus menonton adegan dilayar kaca, seorang gadis yang terduduk menangis seraya menatap punggung seorang pemuda yang beranjak pergi meninggalkan dirinya. Naruto memutar kedua bola matanya bosan, tak bisakah televisi di depannya ini menampilkan sesuatu yang lebih menarik? Mengapa harus adegan roman picisan yang hanya akan mengingatkannya dengan kejadian 4 hari yang lalu? Naruto mendesah pelan, kemudian kembali mengarahkan remote ke televisi, mencari channel yang menyajikan hal yang lebih menarik. Hey, dia ingin move on! Dan sepertinya channel National Geogrhapic lebih menarik untuk ditonton saat ini.
Naruto melirik jam tangannya, sudah pukul 6 sore. Ia menatap sekelilingnya, yah sudah dua hari ini Kediaman Uchiha benar-benar terasa sangat tenang, ah bukan, lebih tepat kalau disebut sepi. Siapa sangka Ia akan merindukan sosok Uchiha Itachi yang walapun setiap harinya selalu menjahilinya, setidaknya sang sulung Uchiha tersebut dapat membuat suasana di rumah yang besar ini menjadi lebih ramai. Dua hari yang lalu sang sulung Uchiha lebih memilih untuk tinggal di Apartemen yang jaraknya tidak jauh dari Kantornya. Dan Kediaman Uchiha jadi bertambah sepi lagi saat kemarin Ayame juga meminta izin untuk mengunjungi keluarganya di Kyoto selama 4 hari. Yah setidaknya Naruto masih beruntung Danzo masih berada di rumah ini, setidaknya rumah sebesar ini tidak hanya dihuni oleh dirinya dan Sasuke saja.
Naruto kembali melirik jam tangannya, jarum panjang sudah bergeser ke angka 2, itu artinya jam sudah menujukkan pukul 6 lewat 10 menit. Suasana diluar juga sudah mulai gelap dan mendung, dan Sasuke masih belum juga pulang. Perlahan Naruto bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu utama.
"Ck, kemana anak itu? Ini sudah jam 6 lewat" gumamnya pelan
Naruto berjalan mondar mandir di depan pintu.
"Tadi pagi wajahnya terlihat sedikit pucat? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kalau dia pingsan? Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat .." Naruto menggeleng pelan, berusaha menghilang pikiran-pikiran negative yang mampir di kepalanya
"Kuso, jangan membuat ku khawatir sialan!"
Naruto menghentikan aksi mondar-mandir nya sesaat setelah mendengar suara mobil, Ia mengerutkan dahinya, ini bukan suara mobil Sasuke pikirnya kemudian. Menghilangkan rasa penasarannya Ia pun lebih memilih membuka pintu dan sapphire nya dapat menangkap dengan jelas seorang Uchiha Sasuke yang baru saja keluar dari taxi dan berjalan dengan sedikit terhuyung.
"Kemana mobilnya?" gumam Naruto yang masih berdiri mematung di depan pintu
Sasuke berjalan perlahan kearah Naruto dengan kepala sedikit menunduk.
"Ne Sasuke, ada apa denganmu? Dan mana mo.." kata-kata Naruto terputus saat Sasuke tiba-tiba saja membenamkan kepalanya di bahu Naruto
"Sasuke?"
"…"
Kedua sapphire nya membulat sempurna saat merasakan hawa panas menjalar dikulit lehernya, hawa panas yang berasal dari hembusan nafas Sasuke. Perlahan Ia menganggkat tangannya mencoba untuk menyentuh kepala pemuda itu.
"Astaga, Sasuke kau demam!" ujarnya setelah tangannya menyentuh kepala pemuda dihadapannya
"Lebih baik sekarang kau ke kamar .., eh - " kata-kata Naruto terhenti sesaat setelah Sasuke yang tiba-tiba saja ambruk dalam pelukannya
"Sa .., Sasuke" Naruto berusaha menopang tubuh Sasuke yang lebih besar darinya, Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan berusaha mencari bantuan, tapi nihil. Tiga puluh menit yang lalu Danzo pergi keluar dan belum kembali, akhirnya dengan susah payah Ia menyeret tubuh Sasuke kedalam kamarnya yang tak jauh dari ruang utama. Well, dia tidak mungkin membawa pemuda itu ke kamarnya yang berada di lantai 2, sepertinya malam ini Naruto harus mengikhlaskan kamarnya untuk Sasuke.
.
.
######
.
.
Malam ini hujan mengguyur kota, sesekali terdengar suara petir menggelegar di langit. Naruto menatap thermometer digital ditangan kanannya. Tertera angka 39,2 pada display, suhu tubuh Sasuke sangat tinggi. Naruto meletakkan thermometer tersebut dia atas meja nakas disamping tempat tidurnya, kemudian tangan nya beralih mengambil handuk kecil yang berada di dahi Sasuke. Ia kemudian memasukkan handuk kecil tersebut kedalam wadah yang berisi air es kemudian memerasnya sedikit dan kembali meletakkannya di dahi Sasuke.
Ia mengambil wadah yang berisi air es, perlahan Ia berjalan meninggalkan kamarnya menuju dapur guna mengganti air es. Sepuluh menit berlalu, Ia kembali ke kamarnya dengan wadah yang telah berisi air es yang telah diganti, dengan hati-hati Naruto melatakkannya di atas meja disamping tempat tidurnya. Perlahan tangannya menyentuh wajah Sasuke.
"Astaga, badannya panas sekali" lirihnya
Naruto kemudian melirik kemeja Sasuke yang sepertinya sudah basah karena keringat. Ia pun kemudian bergegas menuju kamar Sasuke untuk mengambil sebuah piyama.
Dan disinilah Naruto berdiri seperti orang bodoh didepan pintu kamarnya dengan memegang piyama ditangan kirinya. Tangan kanan nya mendadak kaku saat hendak memutar kenop pintu.
"Tunggu dulu, siapa yang akan menggantikan bajunya?" gumamnya pelan
Naruto perlahan menarik tangannya yang hendak memutar kenop pintu.
"Aku tidak mungkin menelpon Itachi-san malam-malam seperti ini, apalagi saat ini hujan deras, tidak-tidak, jalanan yang licin pasti sangat berbahaya" Naruto menggelang perlahan
"Atau aku menyuruh Danzo-san? Tapi sepertinya dia belum pulang, mungkin dia juga terjebak hujan"
"Arrgggjhhh" Naruto mengacak surai pirangnya frustasi
Perlahan Naruto membuka pintu kamarnya, Ia menatap Sasuke yang saat ini tertidur pulas diatas kasur miliknya, dengan lembut Ia menyentuh bahu Sasuke.
"Sasuke, bangunlah sebentar, kau harus mengganti pakaianmu"
Tidak ada respon, Sasuke tidak bergeming sedikitpun.
Naruto memejamkan kedua matanya, Ia mengepalkan tangan kirinya, perlahan Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sasuke.
"Sasuke" panggilnya kembali mencoba membangunkan sang bungsu Uchiha, dan hasilnya tetap sama, pemuda itu tidak merespon sama sekali
Tidak mungkin Naruto membiarkan pemuda ini tidur dengan kemeja yang sudah basah oleh keringatnya, yang ada kondisi nya bisa tambah parah. Ia memejamkan matanya, merapalkan sebuah mantra dalam pikirannya, perlahan kedua tangannya menyentuh kancing kemeja Sasuke mencoba membuka nya.
"Anggap saja dia anak kecil Naruto" gumamnya pelan, berharap mantra yang diucapkannya dapat mengurangi degup jantung nya yang mulai berdetak diluar normal
Perlahan namun pasti Naruto berhasil membuka seluruh kancing kemeja milik Sasuke, terlihat rona merah menghiasi wajah nya saat tangannya menyentuh dada bidang Sasuke yang tidak terlapisi sehelai benangpun. Naruto menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menghilangkan hawa panas yang menjalar di wajahnya. Dengan telaten Ia mengganti kemeja Sasuke yang telah basah dengan piyama yang baru. Dapat dilihatnya perubahan pada raut wajah Sasuke sesaat setelah Ia berhasil mengganti pakaiannya, sepertinya pemuda itu merasa lebih nyaman.
Naruto melirik celana pasangan piyama tersebut dia atas pangkuannya. Wajahnya merah seketika.
'Hell No!' batinnya, Ia tidak akan melakukannya.
.
.
Naruto menatap Sasuke yang masih tertidur pulas, dengan telaten Ia mengganti handuk kecil yang digunakannya untuk mengkompres. Ia melirik obat penurun panas yang berada di atas meja. Sedari tadi Ia menunggu sang bungsu Uchiha untuk terbangun walau sekejap saja agar Ia bisa memberi obat penurun panas. Naruto mendekatkan bibir nya ketelinga Sasuke, berusaha membangunkan sang bungsu Uchiha.
"Sasuke" bisiknya pelan
"Sasuke, bangunlah sebentar, kau harus meminum obat mu"
Sepertinya usaha Naruto kali ini membuahkan hasil, perlahan kedua kelopak mata itu terbuka, walau cuma sedikit, sepertinya Sasuke merespon panggilan Naruto. Naruto membantu Sasuke untuk menegakkan tubuhnya, Ia kemudian mengambil obat dan segelas air di atas meja, dengan sabar Ia membantu Sasuke meminum obat nya. Sasuke kembali merebahkan tubuhnya, matanya kembali terpejam.
Naruto menghela nafas lega, akhirnya Ia bisa membuat Sasuke meminum obatnya. Ia meletakkan kembali gelas yang dipegangnya di atas meja. Ia menempelkan plester penurun panas didahi Sasuke. Naruto mengerutkan dahinya saat melihat gerakan bibir Sasuke, Ia menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar suara Sasuke yang terdengar sangat pelan. "Kaa-san"
Naruto tersenyum simpul, tidak menyangka kata itu keluar dari bibir seorang Uchiha Sasuke. Naruto hendak bangkit dari kursinya, namun diurungkannya niatnya saat dirasakannya tangan kanan Sasuke menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Jangan pergi" lirih pemuda itu
Naruto menatap wajah Sasuke, pemuda itu berbicara dengan mata terpejam.
"Kaa-san"
Twitch,
Naruto menghela nafasnya kasar, well sepertinya malam ini Ia akan membiarkan Sasuke menganggap dirinya sebagai Mikoto, sepertinya pemuda berambut raven ini sedang merindukan ibunya. Naruto kembali merapatkan kursinya ke ranjang, membenamkan wajahnya keatas kasur, Ia sudah cukup lelah. Dan akhirnya Ia pun ikut tertidur bersama Sasuke yang masih menggenggam erat tangannya.
.
.
######
.
.
Pagi yang cerah, seolah tidak terjadi badai tadi malam. Naruto menuangkan bubur yang baru dibuatnya kedalam mangkuk, meletakkan nya perlahan ke atas nampan. Dengan hati-hati Ia membawa nampan yang berisi bubur tersebut ke kamarnya, perlahan Ia memutar kenop pintu kamarnya. Sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya saat dilihatnya Sasuke yang sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur miliknya.
"Sasuke, kau sudah bangun?"
Maniks kelam itu menatap bingung kearah Naruto, kemudian matanya mulai menelusuri kondisi di sekelilingnya.
"Ah, kau sedang berada dikamarku, kemarin sore kau tiba-tiba pingsan di depan pintu, jadi aku membawa mu ke kamarku" lanjut Naruto menjawab ekspresi bingung Sasuke seraya meletakkan nampan yang dibawanya keatas meja. Ia kemudian mendudukan dirinya ditepi tempat tidur
"Kenapa kau tidak membawa ku ke kamarku?" gumam Sasuke pelan
"Kau tahu, kau itu berat, saat itu Danzo-san sedang keluar, asal kau tahu saja aku sangat kesusahan menyeret tubuh mu ke kamarku"
Twitch, muncul perempatan siku imajiner di kepala Sasuke.
"Uhuk, uhuk .." Sasuke terbatuk pelan
"Ah, sepertinya kau juga terkena flu" Naruto kemudian meletakkan tangannya di dahi Sasuke
"Badan mu masih sedikit panas"
Naruto mengambil thermometer yang ada diatas meja, kemudian menempelkan thermometer digital tersebut di dahi Sasuke. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui hasilnya, gadis pirang itu memfokuskan penglihatannya pada LCD display thermometer.
"38 derajat" gumamnya
"Sepertinya kita harus ke rumah sakit" lanjutnya kemudian
"Tidak perlu, aku hanya butuh menurunkan 0,5 derajat lagi hingga suhu tubuh ku kembali normal" ujar Sasuke seraya menggeleng pelan
Naruto menghela nafasnya pelan, kemudian meletakkan kembali thermometer digital tersebut ke atas meja.
"Kalau begitu lebih baik kau segera memakan buburmu dan minum obat supaya kau cepat sembuh"
Merasa tidak ada respon, Naruto memalingkan wajahnya menatap ke arah Sasuke. Dahinya sedikit mengkerut saat melihat ekspresi bingung Sasuke yang sedang mengamati piyama nya.
"Kau kenapa Sasuke?"
Maniks kelam itu menatap lekat kedua sapphire yang ada dihadapannya.
"Seingatku, kemarin aku memakai kemeja sekolahku, kenapa sekarang sudah berganti menjadi piyama?"
Blush
Naruto dapat merasakan hawa panas menjalar di wajahnya, bisa dipastikan rona merah sudah menghiasai pipi tan nya, cepat-cepat Ia memalingkan wajahnya dari Sasuke.
Sasuke dapat melihat rona tipis di wajah Naruto sesaat sebelum gadis pirang itu memalingkan wajahnya, perlahan seringai tipis muncul di bibir sang bungsu Uchiha.
"Ah, jangan bilang kau pelakunya, kau melakukan pelecehan terhadapku"
Bugh
Naruto memukul kepala Sasuke dengan bantal guling yang ada disampingnya, sepertinya dia sudah tidak peduli lagi jika pemuda yang ada dihadapannya ini masih dalam kondisi sakit.
"Itu bukan pelecehan brengsek, aku tidak mungkin membiarkanmu tidur dengan kemejamu yang sudah basah karena keringat, yang ada demammu akan semakin parah"
"Terus kenapa wajahmu memerah?"
Naruto kehabisan kata-kata, Ia semakin mengeratkan cengkramannya pada gulingnya.
"Ah, kau pasti sedang membayangkan tubuh topless ku kan?"
Bugh
Sekali lagi bantal guling itu mendarat di wajah mulus Sasuke, tapi sepertinya pukulan Naruto tidak menghapus seringai di bibir Sasuke.
"Yah, lebih baik kau cepat habiskan bubur mu dan minum obat agar flu mu cepat sembuh" ujar Naruto seraya hendak berdiri meninggalkan Sasuke, namun niatnya terhenti saat tangan hangat Sasuke mencengkram pergelangan tangganya
"Kau tahu, ada cara yang lebih cepat untuk menyembuhkan flu"
Naruto menatap kedua maniks kelam dihadapannya.
"Yaitu dengan cara .."
Sasuke menggantung kalimatnya, perlahan tangan kirinya menggapai kepala Naruto, mendekatkan wajah Naruto ke wajahnya, Ia memiringkan sedikit kepalanya
…
Cup~
Sasuke mencium lembut bibir peach Naruto, Ia dapat merasakan tubuh gadis itu menegang karena aksinya. Sedikit tak rela, perlahan Sasuke menarik wajahnya.
".. menularkannya" gumamnya pelan tepat di wajah Naruto yang kini sudah semerah buah kesukaannya
.
.
######
.
.
OMAKE
.
Sasuke menatap gadis pirang yang sedang mengenakan masker dihadapannya, sebuah senyuman perlahan menghiasi wajah yang biasanya terlihat datar itu.
"Ah, sepertinya kau terkena flu yah?" tanya nya tanpa merasa berdosa
Bugh
Sepertinya belakangan ini Naruto cukup suka memukul wajah tuan muda nya ini dengan bantal guling nya
"Kau lupa kalau kau yang menularkan nya padaku!"
Sasuke menarik guling yang digunakan Naruto untuk memukulnya.
"Bagaimana kalau kau menularkannya lagi padaku?"
Dan perkataan terakhirnya sukses membuat wajah gadis pirang yang dihadapannya memerah sempurna. Sasuke tidak bisa menahan lebih lama lagi, tawa nya lepas saat melihat wajah Naruto yang memerah seperti buah tomat kesukaannya.
.
.
######
.
.
TBC
Mind to Review please :)
.
.
Akhirnya update juga, tapi maaf yah kalau chap kali ini sangat pendek. Harap maklum soalnya Authornya lagi flu, jadi nggak bisa mikir banyak-banyak. Tapi nanti Author janji deh bakal update kilat chap selanjutnya dan lebih panjang lagi.
Untuk yang bertanya apakah nanti bakal ada pair ItaKyuu, well sebenarnya sejauh ini author belum ada kepikiran buat pair ini, soalnya fic ini juga gak pengen dibuat panjang sehingga karakter-karakter yang ada di cerita juga tidak terlalu banyak. Dan maaf yah kalau alurnya terkesan cepat, atau ini alur nya terkesan lambat? Tapi author tetap minta masukkan juga deh sama para readers apa lebih baik dimasukkan pair ItaKyuu juga?
Untuk para readers yang sudah menyempatkan untuk me-review terima kasih yah, dan maaf yah nggak bisa balas satu persatu. Kalau ada pertanyaan sebisa mungkin pasti Author jawab.
calendula : well Sasuke bakal punya saingan? tunggu aja chap selanjutnya yah, nanti kalau udah dikasih spoiler jadi nggak seru lagi baca nya (hehehehe)
Naachan : happy ending kok, kan genre nya nggak Angst :)
Special thanks to : vira-hime, ajidarkangel, choikim1310, Mizuumi Yoite, .11, Akashiota, Nakamoto Yuu Na, Minna4869, namikazehyunli, Habibah794, , Tya, itakun, calendula, itakyuu lovers, Denia, naginagi, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Vryheid, im, Naachan, yui shinji, Lora 29 Alus, nina, Namikaze Hoshi
Ditunggu review selajutnya yah :)
Hatake Aria
