CHAPTER 7

.

Jika ditanya hal apa yang bisa membuat seorang Hyuuga Neji merinding jawabannya bukanlah saat Ia melihat Sadako yang keluar dari TV flat yang ada di kamarnya, melainkan saat melihat seorang Uchiha sedang berjalan sambil tersenyum. Yah, terseyum. Apa yang aneh jika seseorang sedang terseyum? Yah jika orang itu adalah seorang Shimura Sai, sepupu jauh Uchiha Sasuke maka Ia tidak akan heran karena pemuda itu memang terkenal dengan smiling face nya. Tapi ini seorang Uchiha Sasuke, pemuda yang terkenal dengan tampang dingin dan irit kata nya sedang berjalan sambil tersenyum, oh jangan lupa pemuda itu tersenyum sambil memegang bibir nya.

Apa yang terjadi pada si bungsu Uchiha ini? Tiga hari tidak masuk sekolah apakah telah membuat pemuda yang berjalan disampingnya ini jadi berubah kepribadian? Apa demamnya terlalu tinggi sampai pemuda ini mengalami amnesia, yah apa dia lupa jika dia adalah seorang Uchiha yang tidak akan mungkin bertingkah seperti ini. Neji menggeleng pelan, tidak mungkin sahabatnya ini amnesia, buktinya dia masih mengingat dirinya dan seluruh teman-temannya di kelas. Lalu kenapa seorang Uchiha Sasuke bertingkah aneh? Lihat saja karena tingkahnya ini sudah banyak siswi yang mengalami nosebleed saat melihat senyuman seorang Uchiha Sasuke. Bisa-bisa sekolah ini akan berubah jadi lautan darah, oke Neji mulai lebay.

"Apa yang terjadi padamu? Melihat mu tersenyum seperti itu membuat bulu kuduk ku merinding" akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut sang sulung Hyuuga

Sasuke langsung menoleh kearah Neji, refleks Ia menarik tangannya yang sedari tadi memegang bibirnya.

Ehmm ..

Sasuke berdehem pelan, kemudian kembali memasang tampang datar ala Uchiha nya. Oh shit! jangan sampai si sulung Hyuuga ini tahu apa yang sedang dipikirkannya, bisa-bisa nilai jualnya sebagai seorang Uchiha akan turun drastis, dan kakeknya Uchiha Madara akan bangkit dari kuburnya untuk mencekik dirinya, jika karena dirinya nilai jual seorang Uchiha menurun.

"Apa yang kau pikirkan sampai tersenyum seperti itu?" mendadak seorang Hyuuga Neji menjadi kepo, bagaimana tidak, siapa pun akan menjadi kepo melihat tingkah yang tidak biasa dari seorang Uchiha Sasuke ini

Sasuke melirik sekilas kearah Neji yang berjalan disampingnya, tidak mungkin dia mengatakan pada pemuda berambut panjang ini bahwa Ia sedang mengingat moment saat Ia mencium Naruto, Hell no! Sumpah demi Dewa Jashin yang selalu dipuja Hidan sang guru Akuntansi nya itu, dia tidak akan pernah memberitahunya.

"Tidak ada!" jawabnya sambil mengendikkan kedua bahunya, sadar wajahnya mulai sedikit memanas, buru-buru Sasuke berjalan mendahului Neji, Ia tidak ingin si sulung Hyuuga itu menyadari rona merah yang mungkin kini menghiasi wajah stoicnya

Sasuke mengusap wajahnya dengan tangan kanannya, berharap rona merah itu segera menghilang. Astaga, hanya memikirkan kejadian 2 hari yang lalu saja bisa membuatnya terlihat seperti remaja ababil. Yah mau bagaimana lagi, kenyataannya itu adalah ciuman pertamanya. Walau hanya sebuah kecupan singkat, hal ini sukses membuat dirinya ingin melakukannya lagi, cukup wajarkan jika Sasuke ingin kembali merasakan bibir peach sang Blonde Nanny mengingat gadis itu adalah gadis yang disukainya. Oke fix, Uchiha Sasuke sudah mulai berpikiran mesum.

"Hei Sasuke, apa kau langsung mau pulang kerumah mu sore ini?" tanya Neji yang berhasil mengejar Sasuke

"Kenapa?" Sasuke melirik sekilas Neji yang sudah berjalan disampingnya

"Mau ke toko buku sebentar? Aku ingin membeli buku yang di referensikan oleh Iruka Sensei untuk ujian bulan depan"

"Baiklah, kupikir aku juga harus membeli buku itu"

.

Dan disinilah mereka, di sebuah toko buku yang ditempuh dalam waktu setengah jam dengan mengendarai mobil dari sekolah mereka.

Sasuke memeriksa satu persatu buku yang tersusun rapi di rak. Tidak seperti Neji yang langsung mendatangi pegawai toko buku untuk langsung bertanya apa buku yang sedang mereka cari ada di toko ini, yah Sasuke cukup sabar untuk memeriksa satu persatu buku yang ada dalam rak bertuliskan Sejarah tersebut. Ia sedang mencari buku tentang 'Era Meiji' lebih tepatnya Tahun Meiji 11, dimana era pemerintahan keshogunan berakhir dan restorasi kebudayaan dimulai, era dimana budaya barat mulai berkembang, era menuju jepang modern. Ah, sebenarnya dirinya tidak terlalu suka dengan pelajaran Sejarah, tapi Ia juga tidak mau mendapat nilai merah pada mata pelajaran Guru yang juga menjabat sebagai Guru BP tersebut. Dia tidak mau merasakan lagi pukulan stick golf ibunya.

'Ah ini dia bukunya' batinnya

Sasuke segera menarik buku tersebut dari tumpukkan buku dalam rak tersebut, Ia membaca judul buku dan pengarangnya, kemudian mengambil smarthphone yang berada di saku celananya. Perlahan jemarinya membuka gallery pada smartphone-nya, kemudian Ia membandingkan foto pada smarthphone-nya dengan buku yang dipegangnya.

"Sama" gumamnya pelan.

Ia segera berjalan menuju kasir, sembari mencari keberadaan si sulung Hyuuga. Tak butuh waktu lama untuk oniks kelamnya menangkap sosok Hyuuga Neji yang sedang mengantri di kasir yang ada didekat pintu keluar. Ia segera melangkahkan kakinya menuju sang sahabat, namun langkahnya terhenti saat seorang bocah lelaki yang berlari dari arah belakang tiba-tiba menabraknya, beruntung dirinya memiliki keseimbangan yang cukup baik sehingga dirinya tidak terjatuh, tapi sepertinya wanita yang berdiri beberapa langkah didepannya kurang beruntung. Wanita itu terjatuh bersama dengan tumpukan buku yang semula dipegangnya. Sasuke mendengus pelan melihat bocah lelaki tersebut yang kembali berlari tanpa menghiraukan wanita yang baru saja ditabraknya.

'Astaga, anak zaman sekarang' batin Sasuke.

Sasuke kemudian berjalan menghampiri wanita paruh baya tersebut, jika dilihat sepertinya wanita berambut merah ini sebaya dengan ibunya. Sasuke memungut buku-buku wanita tersebut yang berserakan di lantai, kemudian mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut, membantu wanita itu untuk berdiri.

"Apa Baa-san terluka? Baa-san bisa berdiri? Mari saya bantu"

Wanita itu melirik sekilas pada Sasuke, kemudian Ia tersenyum simpul, Ia kemudian meraih uluran tangan Sasuke, dan berhasil berdiri dengan bantuan sang pemuda.

"Terima kasih" ujarnya seraya tersenyum

"Baa-san ingin membeli semua buku ini?" tanya Sasuke seraya melirik tumpukan buku yang sedang dibawanya

"Ah iya, Baa-san ingin membeli semua buku itu" jawab sang wanita seraya hendak mengambil buku dari tangan Sasuke

Refleks Sasuke menarik tangannya, menjauhkannya dari tangan wanita paruh baya tersebut.

"Biar saja saya yang bawa Baa-san, kebetulan saya juga mau ke kasir"

Wanita paruh baya tersebut tersenyum, dia tidak menyangka masih ada pemuda yang seperti Sasuke, padahal biasanya pemuda seumuran Sasuke tidak akan peduli dengan keadaan sekitarnya.

"Terima kasih" ujarnya

Sang wanita paruh baya mengikuti Sasuke yang telah berjalan didepannya menuju kasir, sebuah senyuman tidak lekang dari bibir nya.

"Kaa-san!"

Wanita tersebut menoleh kebelakang, dan mendapati seorang gadis bersurai pirang berlari kecil menghampiri dirinya.

"Ah Naru-chan, ternyata kau benar-benar menjemput Kaa-san"

Sasuke yang merasa sangat familiar dengan suara tersebut segera menoleh kebelakang, dan benar saja dugaannya, kini dihadapannya telah berdiri sang Blonde Nanny.

"Sasuke, apa yang kau lakukan disini?" Naruto tak kalah terkejut saat melihat sang tuan muda kini berdiri di samping ibunya

"Ah Naru-chan, kau kenal pemuda ini?" Kushina kemudian menunjuk Sasuke dengan ibu jarinya, kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh Naruto

"Ah, Kaa-san perkenalkan, dia Uchiha Sasuke, putra bungsu Mikoto Baa-san yang meminta ku untuk bekerja selama selama sebulan ditempatnya"

"Aaa, murid didikmu? Kemarin kau mengatakan menjadi guru privat siswa SMU"

Lagi, Naruto hanya mengangguk sebagai jawaban. Di dalam hatinya dia menambahkan 'sebagai pengasuh juga' cuma saat Ia melihat deathglare sang bungsu Uchiha maka kata-kata itu tidak jadi terucap dari bibir nya.

"Ah Sasuke, perkenalkan ini ibuku"

"Uchiha Sasuke" ujar Sasuke seraya menundukkan sedikit kepalanya

"Ha'i, kau bisa memanggilku Kushina Baa-san"

Sasuke tersenyum simpul.

'Atau mungkin Kaa-san, dimasa depan' batinnya kemudian

Naruto sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat sekilas senyuman di bibir si bungsu Uchiha. Demi rambut merah ibunya, sejak kapan seorang Uchiha Sasuke tersenyum ramah seperti itu.

"Ano, Baa-san, bisakah kita segera ke kasir, sepertinya buku-buku ini cukup berat" ujar Sasuke seraya mengarahkan kepalanya ke meja kasir

"Ah, iya"

Sasuke kemudian berjalan menuju kasir dan meletakkan seluruh buku yang dibawanya di atas meja. Sang kasir mengambil satu persatu buku tersebut dan men-scan barcode dengan barcode scanner. Kushina kemudian mengambil beberpa lembar ribuan yen dan membayar seluruh bukunya termasuk buku yang diambil Sasuke.

"Baa-san tidak perlu membayar buku milikku juga"

"Tidak apa, ini sebagai ucapan terima kasih Baa-san karena Sasuke sudah menolong Baa-san"

"Terima kasih Baa-san"

"Ah Naru-chan, mungkin kau bisa mengajak Sasuke-kun minum teh hari minggu besok, sudah lama kita tidak minum teh bersama kan?"

Naruto membulatkan kedua sapphire nya tidak percaya, Ibu nya tidak pernah mengundang orang lain untuk ikut dalam acara minum teh yang sudah menjadi kegiatan bulanan sang Ibu.

"Ah, Kaa-san, Sasuke tidak akan meyukai hal seperti itu, Kaa-san tahu kan acara minum teh seperti itu .."

"Terima kasih telah mengundangku Baa-san, aku pasti akan datang" Sasuke menyela perkataan Naruto, tidak mungkin dia menyia-nyiakan kesempatan ini

Naruto hanya mendengus kecil mendengar perkataan Sasuke.

'Kau pasti akan menyesal telah datang Sasuke' batinnya

.

######

.

Naruto sedikit mengernyitkan dahinya memandang sosok pemuda bersurai raven yang berdiri didepannya. Gadis bersurai pirang itu dapat melihat dengan jelas raut wajah terkejut milik Sasuke. Sasuke menatap balik kedua sapphire yang sedang memandangnya, kemudian berdehem pelan sehingga membuat sang pemilik sapphire mengalihkan pandangannya.

Yah, disinilah seorang Uchiha Sasuke tengah berdiri di depan pintu utama kediaman Uzumaki dan tengah memandang gadis bersurai pirang yang sedang membukakan pintu untuknya. Sesuai dengan undangan Uzumaki Kushina 2 hari yang lalu, Ia datang untuk memenuhi undangan minum teh sang wanita paruh baya tersebut. Tapi apa yang mebuat pemuda berumur 17 tahun ini terkejut? Yah, tidak lain dan tidak bukan karena melihat sang Blonde Nanny yang kini berdiri dihadapannya tengah menggunakan sebuah kimono tradisional berwarna kuning pastel dan sebuah obi berwarna putih gading, terlihat sangat cantik.

"Ehmm" Sasuke berdehem pelan, tidak bisa dipungkiri melihat sosok Naruto dengan kimono seperti ini membuat sedikit wajahnya bersemu merah

"Ah, selamat datang Sasuke, mungkin kau akan sedikit heran kenapa aku memakai kimono seperti ini, tapi sebentar lagi kau juga akan tahu, masuklah" Naruto kemudian berjalan didepan Sasuke, membawanya memasuki rumah yang merupakan warisan sang kakek, sayang dengan kimono yang saat ini digunakannya maka mau tak mau Ia harus berjalan dengan perlahan dan anggun, sungguh sebenarnya Ia cukup malu harus berpenampilan seperti ini apalagi dihadapan Sasuke

Sasuke mengikuti Naruto yang berjalan pelan didepannya, mau tak mau dia juga menyamakan ritme langkahnya dengan sang gadis, berjalan pelan sambil mengamati seluruh penjuru ruangan kediaman Uzumaki ini. Tradisional, Cuma itu kata yang tepat untuk menggambarkan rumah ini, Sasuke dapat melihat jelas beberapa lukisan yang tertata rapi di beberapa sudut ruangan.

Naruto kemudian menggeser pintu yang menghubungkan ruang utama dengan halaman belakang. Sasuke cukup kagum dengan pemandangan yang tersaji dihadapannya saat ini, sebuah taman yang didominan oleh warna hijau dan jingga, mengingat saat ini sudah memasuki musim gugur. Naruto membawa nya berjalan melalui roji menuju sebuah rumah kecil yang berada di ujung sana. Oke, sepertinya dia sudah mulai bisa membaca apa yang akan terjadi selanjutnya. Sasuke melepaskan sepatunya mengikuti Naruto dan masuk kedalam rumah teh melalui pintu kecil ruangan khusus untuk minum teh, sebuah ruangan kecil dengan beberapa hiasan yang diletakkan didalam ruangan tersebut. Ia dapat melihat Kushina yang menyambutnya dengah sebuah senyuman.

"Selamat datang dikediaman kami Sasuke-kun" ujar Kushina

Sasuke berojigi singkat menanggapi sambutan sang tuan rumah, kemudian mengambil posisi untuk duduk diatas tatami bergaya seiza tersebut, Ia duduk dengan posisi bersimpuh, sungguh sebenarnya dia tidak suka dengan posisi duduk seperti ini.

"Mungkin Sasuke-kun sedikit terkejut karena Baa-san mengundangmu dalam upacara minum teh seperti ini, tapi sebenarnya hal ini karena permintaan kakak sepupu mereka yang akan datang hari ini, tapi sayang sepertinya kita harus memulainya tanpa menunggu kedatangannya, karena dia tadi bilang kalau pesawatnya delay" ujar Kushina

"Tidak masalah Baa-san, menurutku melestarikan kebudayaan tradisional seperti ini sangat bagus" jawab Sasuke sambil tersenyum tipis

Naruto memandang takjub sang tuan muda, sejak kapan tuan muda nya ini bisa berbicara semanis itu, uhh sangat tidak Uchiha sekali.

"Dan mari Baa-san perkenalkan juga putri bungsu Baa-san, Namanya Shion" Kushina menunjuk Shion yang duduk disamping dirinya

"Uzumaki Shion" ujar Shion seraya berojigi singkat

"Uchiha Sasuke" Sasuke balas berojigi singkat

Fix Sasuke saat ini benar-benar serasa terjebak di zaman Sengoku, tapi ambil sisi positifnya, setidaknya Ia dapat melihat sang Blonde Nanny dalam balutan kimono yang indah.

Naruto mulai memasukkan bubuk teh hijau dengan chasaku kedalam mangkuk teh, dengan hati-hati Ia menuangkan air panas dengan hishaku kedalam mangkuk. Kemudian Ia mengambil chasen dan mulai mengocok teh dengan cepat agar teh berbusa, karena jika tidak berbusa maka akan dianggap gagal dan teh akan terasa kurang nikmat.

Sasuke hanya bisa memandang takjub setiap gerakan yang dilakukan oleh Naruto, gadis itu begitu anggun dalam menyajikan teh. Sungguh Ia seperti melihat sosok seorang Nadeshiko Yamato versi blonde. Awalnya Sasuke mengira Ia akan menikmati minum teh ala bangsawan Inggris seperti yang biasa dilakukan ibunya, duduk tenang disebuah kursi sambil menyesap secangkir Earl Grey dengan irisan buah lemon di dasar cangkir, ditemani beberapa kue-kue kecil seperti macaron ataupun cupcake, tapi bukan berarti Ia tidak suka minum teh ala tradisional seperti ini, malah Ia sudah beberapa kali menghadiri Chado seperti ini, sehingga sedikitnya Ia tahu tata cara dan adab dalam upacara minum teh ini, beruntunglah Ia dulu tidak kabur saat mediang Kakeknya menyuruh dirinya dan Itachi mengikuti chado.

Naruto kemudian memberikan mangkuk kepada Sasuke sebagai tamu utama acara minum teh ini sambil membungkuk, Kemudian Sasuke membungkuk kepada Naruto sebagai tanda hormat pada tuan rumah. Sasuke memutar cawan untuk menghindari meminum dari bagian depan cawan. Ia meminum teh yang disajikan Naruto secara perlahan, sambil berusaha menikmati teh tersebut, Kenapa dibilang berusaha? Sungguh Sasuke bukanlah pecinta teh, apalagi yang disajikan Naruto padanya adalah koicha (teh yang kental) Ia tidak terlalu suka rasanya, setelah ini mungkin Ia akan meminum 2 liter jus tomat untuk kembali mentralkan indra pengecapnya.

Naruto tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat melihat ekspresi Sasuke yang sedang berusaha menikmati tehnya, Ia tahu tuan muda nya yang satu ini tidak terlalu menyukai teh hijau, apalagi Ia tadi sengaja menyajikan koicha, teh yang lebih kental pada Sasuke, yah kapan lagi bisa mengerjai sang tuan muda.

"Apa kau menyukai tehnya Sasuke-kun?"

Sasuke meletakkan kembali mangkuk teh nya yang isinya telah berhasil dihabiskannya dengan susah payah, Ia kemudian memutar kembali cawan tersebut dengan melihat ornamen mangkuk.

"Terima kasih atas jamuannya Baa-san, aku menyukainya" ujar nya seraya membungkuk sebagai tanda terima kasih yang dibalas dengan senyuman oleh Kushina

Setelah semuanya menikmati teh nya, Naruto mulai membersihkan peralatan minum teh tersebut, kemudian menata nya dengan rapi ditempat khusus yang telah disediakan. Selesai sudah upacara minum teh yang cukup membosankan bagi Sasuke ini. Kushina membungkuk sebagai ucapan terima kasih, dan Sasuke membungkuk singkat sebagai balasannya. Seharusnya setelah ini Sasuke harus sudah beranjak dari ruangan minum teh ini meninggalkan sang tuan rumah, tapi apa daya terlalu lama duduk dalam posisi bersimpuh seperti ini membuat kaki nya keram dan sulit untuk digerakkan.

Drrttt …

Kushina melirik smarthphone miliknya, kemudian dia berpamitan untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu di ikuti oleh Shion meninggalkan Naruto dan Sasuke di ruang minum teh.

Naruto menatap heran Sasuke yang sedari tadi tidak ada tanda-tanda akan beranjak dari ruangan.

"Sasuke, kau tidak berniat bermalam diruangan ini kan?" ujar Naruto yang telah berdiri hendak pergi meninggalkan ruangan minum teh

"Naruto" lirih Sasuke pelan seraya berusaha bangkit dari duduknya

Sasuke mengurungkan niatnya untuk bangkit saat dirasakannya kaki nya semakin kram dan sulit untuk digerakkan.

Naruto membalikkan badannya sepenuhnya menghadap Sasuke, sapphire nya dapat melihat jelas Sasuke yang kesusahan untuk bangkit dari duduknya. Ah, dia tahu apa masalahnya, sekilas muncul seringai jahil di bibir peach nya.

"Ara, kau tidak bisa berdiri Sasuke-kun?" ujarnya dengan nada sing a song

Sasuke mengakat wajahnya menatap Naruto yang berdiri dihadapannya dengan wajah mengejek dirinya, Ia mengeram kesal.

"Ah aku harus kedepan, sepertinya tadi Kaa-san kedatangan tamu"

"Jangan berani meninggalkan aku disini" ancam Sasuke

Bukan nya takut, Naruto malah tertawa kecil mendengar ancaman Sasuke, bagaimana dia tidak tertawa, seorang Uchiha Sasuke mengancam dirinya dengan raut wajah yang menahan rasa sakit akibat kram di kaki nya. Uh, hari ini tingkah laku sang tuan muda benar-benar sangat tidak Uchiha sekali.

"Hey, seharusnya kau itu berkata lembut dan meminta tolong padaku, mendengar perkataan mu seperti itu, aku jadi benar-benar akan meninggalkan mu disini sendirian"

"Naruto .." Sasuke berusaha berdiri mencoba mengabaikan kaki nya yang kram

"Jaa Ne" Naruto melambaikan tangannya ke arah Sasuke, sepertinya gadis ini benar-benar berniat meninggalkan sang tuan muda

Sasuke yang tidak bisa menstabilkan dirinya akibat kram dikaki nya yang semakin menjadi-jadi saat berusaha digerakkan refleks menarik pergelangan tangan Naruto yang hendak pergi meninggalkan dirinya, dan alhasil ..

Brugh ..

Sasuke yang gagal mencoba berdiri dengan memegang pergelangan tangan Naruto malah terjatuh, bukan hanya sang pemuda yang terjatuh, tetapi Ia juga membuat sang gadis ikut terjatuh bersama nya, yah Sasuke jatuh dengan posisi berada diatas tubuh Naruto. Kepala nya mendarat tepat di atas dada sang Blonde Nanny.

"Ouch.." Naruto perlahan meringis saat tubuhnya merasakan kerasnya lantai, dan sesaat kemudian kedua sapphire nya membulat sempurna setelah Ia menyadari posisi dirinya dan Sasuke saat ini, sontak menimbulkan rona merah pada wajah nya, belum lagi dengan jarak yang begitu dekat seperti ini kembali mengingatkannya saat Sasuke menciumnya beberapa hari yang lalu.

Sasuke mengangkat kepalanya dan langsung mendapati wajah sang gadis yang telah memerah sempurna akibat jarak mereka yang sangat dekat dan mau tak mau rona merah tipis juga mulai terlihat menghiasi kedua pipi sang bungsu Uchiha.

"Cepat berdiri Sasuke!" perintah Naruto memecah keheningan

"Aku tidak bisa bergerak, kau tahu, kaki ku kram karena terlalu lama duduk seperti itu" ujar Sasuke seraya mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak menindih tubuh Naruto, tapi sayang kaki nya belum mau untuk digerakkan

Naruto mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, keluar dalam kungkungan sang bungsu Uchiha bukan nya berhasil, hal tersebut malah membuat kimononya sedikit terbuka sehingga diurungkannya niat tersebut. Dan akhirnya posisi mereka berdua kembali seperti keadaan semula.

Sementara itu diluar sana ..

"Baa-san senang sekali kamu akhirnya datang, sayang kami baru saja selesai melakukan chado, padahal ini permintaan mu" ujar Kushina pada seorang pria bersurai pirang yang merupakan anak dari saudara lelaki almarhum suaminya, Namikaze Minato

Pria itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman yang pastinya mampu meluluhkan hati setiap kaum hawa.

"Setidaknya aku masih sempat melihat Baa-san dalam balutan kimono yang cantik ini"

Kushina memukul pelan bahu sang pemuda, tingkahnya saat ini benar-benar seperti seorang remaja wanita yang tengah tersipu malu saat digombali.

"Ah, mana Naru-chan Baa-san? Aku belum melihatnya, aku baru melihat Shion-chan saja sedari tadi"

"Sepertinya Naruto masih berada di ruang minum teh, tadi kita juga mengundang seseorang …"

"Ah, aku mengerti Baa-san, aku akan segera ke ruang minum teh saja, jaa ne" ujar sang pemuda berpamitan

Kushina hanya menggelengkan kepala nya pelan melihat melihat tingkah sang pemuda, belum juga dia menyelasaikan perkataannya sang pemuda malah seenak nya memotong dan pergi begitu saja.

Kembali ke kedua pasangan kita ..

"Sasuke setidaknya berusahalah menggerakkan kakimu" lagi, Naruto kembali meminta pemuda yang saat ini sedang berada diatas tubuhnya untuk bangkit

"Aku sudah mencoba nya Naruto, tapi kaki ku masih kram, salahmu sendiri kenapa tadi mencoba untuk pergi meninggalkan aku" elak sang pemuda

"Setidaknya …"

Sreettt ,

Refleks Sasuke dan Naruto mengarahkan pandangannya ke pintu yang digeser kasar oleh seseorang. Dan seketika itu pula ketiga pasang netra berbeda warna itu membulat sempurna.

"Naruto!"

"Dei-nii?"

.

######

.

TBC

.

Hallo minna, gomen ne karena utk chapter yang ini update nya ngaret banget.

Gomennn … (bungkuk 90 derajat)

Sungguh, author beberapa minggu ini benar-benar lagi banyak kerjaan ke luar kota, sampai-sampai author juga ngetiknya di atas pesawat, hahaha (fine, cukup sama curcolnya)

Dan terimakasih untuk lagu Side to Side nya Ariana Grande yang telah membangkitkan mood author untuk menulis, dan beberapa hari menginap di Shantiya Koh Yao Yai Resort and Spa juga mampu memberikan ide-ide buat author untuk melanjutkan fic ini.

Dan tetap yang paling utama buat para readers yang setia menunggu dan membaca fic ini, dan maaf sekali lagi yah author belum bisa membalas satu persatu review para readers sekalian, tapi tetep kok author sangat senang membaca review para readers sekalian, jadi ditunggu review selanjutnya yah :)