Disclaimer:
Haikyuu is belong to Haruichi Furudate. I only own this fanfic which I share on this site for fun only.
Warning:
-OOC
-Typos (?)
-Stupid Jokes
-Dirty Jokes
-Crude language
-… did I mention stupid jokes?
.
.
Author corner:
Uwaaaah, author nggak tau harus ngomong apa dengan sambutan dari fic ini. Buat author, fic ini cukup mendapat respon positif dan author seneng banget ngeliatnya. Makasih buat semua yang udah alert, follow, dan review cerita ini. Author sangat enjoy bikinnya, dan author harap readers juga enjoy bacanya. Semoga bisa menjadi pelepas stress buat teman-teman sekalian. Untuk teman-teman yang udah review sudah saya balas via inbox masing-masing. Hontou ni arogatou gozaimasu. #hormat
Semoga readers dan reviewers betah baca kelanjutan cerita ini.
Buat 9798-san: I would like to thank you for the response of my story. Maaf, saya hanya bisa ngucapin terima kasih lewat chapter ini soalnya nggak tau harus inbox ke mana #senyum. Btw saya pengen liat fanart yang Anda maksud, soalnya kadang-kadang saya juga keluyuran nyari fanart Haikyuu buat menghibur diri kalau episode baru Haikyuu belum keluar. #sedih, ya, saya. Wkwkwkw.
Anyway, without further ado, please enjoy this chapter.
.
.
Reluctant Hero
.
.
Summary cerita sebelumnya:
"Kami sela acara kesayangan anda demi berita yang sangat penting. Kali ini berita kami tayangkan dari lapangan sepakbola di Sendai, tempat dimana ditemukan sebuah pesawat alien nyasar dan diduga merupakan sebab dari munculnya crop cycle-"
Satu minggu sebelumnya…
"Dua bulan dari dia mengirim pesan… Akaashi, kapan log pesan ini?"
"Kira-kira lebih dari sebulan yang lalu, Kapten. Yang lebih tepatnya, menurut kalender bumi, kita hanya punya waktu tiga minggu sebelum serangan, Kapten."
"Kita akan bertahan, dengan cara apapun juga. Lakukan tugas kalian sebaik-baiknya. Waspadai serangan yang mungkin tiba-tiba muncul. Tim analisis, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang alien ini dan rencana mereka, lalu berikan kami update dari setiap perkembangan terjadi secara detail. Terakhir, kumpulkan semua alat, semua teknologi, semua orang yang punya kekuatan dan potensi superhero di setiap jengkal area yang kita lindungi. Tidak boleh ada yang lolos. Dan-" Kuroo membuka tangan kanannya ke samping, "-rekrutmen besar-besaran dimulai dari sekarang!"
.
.
Present time…
Wajah-wajah berseliweran di komputer Kuroo, menunjukkan identitas orang yang memiliki kekuatan mutan, sihir, apapun untuk dijadikan benteng pertama dalam menghadapi serangan alien nanti.
Kuroo bisa puas karena status mereka sudah menyetujui untuk bergabung dengan program Aliansi Superhero di Seluruh Jepang (yang belum ada namanya). Sampai Kuroo menggeser halamannya ke kanan.
Kuroo angkat alis.
"Kenma, kenapa anak ini belum direkrut juga?" protes Kuroo seraya masih memandangi capture wajah seorang pemuda yang terpampang di layar.
Kenma, yang sedang asyik mencari-cari Pokemon, melongok ke komputer yang sedang dipelototi Kuroo.
"Oh…"
"Apanya yang 'Oh'?"
Kenma nyuekin komentar sarkastis Kuroo. Alis cowok muda itu berkerut, "Aku sudah kirim undangan ke rumahnya, tapi tidak pernah ada balasan."
Kuroo menutup wajahnya dengan lelah, "Maksudmu surat yang ketinggalan jaman itu?"
"Aku meminjam formatnya dari Hogwarts, harusnya berhasil." Kenma mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, ada Pikachu di kepala Kuroo.
Kening Kuroo berkerut, matanya tak lepas dari layar yang menampilkan sesosok mahasiswa berambut pirang.
'Telekinesis.' Kuroo membaca keterangan di bawah foto anak itu. '..… Tsukishima Kei.'
Sudut bibir Kuroo terangkat.
'Mata yang berbeda, wajah yang tak serupa.' Kuroo ingin tertawa dan menangis bersamaan, 'Bahkan ekspresi mukanya juga berbeda seratus delapan puluh derajat.'
Kapten superhero itu menghela napas panjang.
"Kenma!"
"Ya?"
"Siapa superhero yang lagi lowong hari ini?"
Kenma melirik ke kiri dan ke kanan sebelum menjawab ragu, "….Ushijima…san?"
Senyum tulus Kuroo berubah miring dengan sadisnya.
.
.
.
Kerutan di jidat Tsukishima sepertinya akan jadi permanen. Ternyata surat undangan warna kuning-kuning mencurigakan itu beneran serius. Tsukishima sih percaya kalau Aliansi Superhero di Seluruh Jepang (yang belum ada namanya) itu memang merekrutnya karena situasi sedang gawat.
Tapi Tsukishima boleh, dong, menolak. Dia punya hak atas kehidupan serta segala keputusan yang ia buat.
Dia mahasiswa sibuk dengan tugas yang berdead line mepet, lalu kerja sambilan yang menyita waktu, masa harus ikutan kelompok aliansi manusia berkostum ketat dan lari-lari patroli sepanjang jalan buat mencari orang yang butuh bantuan?
(Konsep Tsukishima tentang superhero memang agak ekstrim)
Setelah membereskan berkarung-karung surat undangan warna kuning (serius, berkarung-karung), sekarang dia harus menghadapi…
"Halo."
…pahlawan super yang datang tiba-tiba, lengkap dengan jubah merah dan pose kedua tangan di pinggang.
Klasik.
"Umm…" Tsukishima cengo. Di hadapannya berdiri si kepala coklat berbadan tegap dengan otot bertebaran di mana-mana.
Huruf A kapital ditulis menggunakan warna merah semencolok warna lampu lalu lintas, dan itu tertera di dada cowok asing yang sebenarnya nggak asing-asing banget buat Tsukishima.
Tsukishima sering melihat cowok ini seliweran (serius, seliweran beneran) di tivi.
Dia adalah pahlawan super terkuat abad ini. Pahlawan super yang melindungi Jepang dari ancaman bom, teror, koruptor, KDRT, pedofil dan maling ikan yang suka nyolong di empang.
Dia adalah alien yang katanya berasal dari planet yang hancur dan dikirim ke bumi untuk diselamatkan oleh orang tuanya. Dia adalah pahlawan yang bisa terbang. Dia memiliki super strength, super speed, super hearing.
Dan kata orang kadang-kadang dia juga super annoying.
Kelamahannya hanyalah batu bulat berwarna biru kuning yang bernama volleynite.
Dialah…
JENG JENG JEEENG!
SuperAce!
"Apa kita pernah ketemu? SuperAce-san?" maksud Tsukishima adalah, 'Apakah anda kenal saya? Saya sih iya, tuan.'
Ushijima mengangguk ramah, naluri pelayan masyarakatnya masih mendominasi sekalipun sedang menghadapi mahasiswa yang –kelihatannya- tengil macam Tsukishima.
"Panggil saja aku Ushijima Wakatoshi."
'Dan apakah pahlawan super yang harusnya merahasiakan identitasnya bisa dengan kasualnya memperkenalkan diri dan ngasih tau nama aslinya?!' Tsukishima jejeritan dalam hati sementara mulutnya masih mangap.
This is just plain amazing…
"Eum… ada perlu apa, SuperAce-san?" Tsukishima nggak enak hati memanggil pahlawan besar itu dengan namanya, "Maksud saya, kenapa anda sampai harus turun tangan sendiri dengan datang ke kampus saya dan ketemuan di bawah hujan kelopak bunga sakura seperti ini?"
Oke, Tsukishima kalau lagi gugup memang agak katrok. Maafkan dia.
"Aku akan membuatnya singkat, Tsukishima."
Hah? Sekarang pak SuperAce memanggilnya dengan sangat akrab? Apakah mereka memang pernah kenal? Apakah Tsukishima pernah mengalahkan Ushijima di pertandingan voli antar sekolah, misalnya?
"Kau tahu bahwa sekarang dunia sedang terancam. Kita sedang menghadapi bahaya dari ras alien yang memiliki senjata canggih. Musuh kita kali ini sangat kuat. Karena itu, kita butuh bantuan dari orang-orang sepertimu untuk mempertahankan bumi ini dari bahaya. Karena itu ikutlah denganku ke markas aliansi para pahlawan super, Tsukishima."
Pandangan mata Tsukishima berubah, yang tadinya jernih dan memancarkan sinar tidak tertarik, menjadi opaque. Ushijima tidak bisa menembus apa yang dia pikirkan, seolah ada tabir yang menyembunyikan dirinya dari pandangan dunia luar.
Tsukishima tertawa, sambil menggaruk-garuk belakang kepala, tapi di mata Ushijima, gestur yang kelihatan lugu itu hanya kamuflase saja, "Maaf, SuperAce-san, aku tersanjung karena aliansi pahlawan super mau merekrut orang sepertiku, tapi maaf." Mata Tsukishima menyipit, "Aku tidak tertarik."
"Kenapa?"
"Hee?" Tsukishima memandang Ushijima dengan heran, "Kenapa apanya? Itu tugas untuk orang hebat seperti anda, SuperAce-san. Itu juga tugas untuk pemerintah kita, persatuan negara-negara di seluruh dunia, dan juga tugas negara adidaya. Bukankah kami, yang harus kalian lindungi?"
Ushijima bersidekap. Mata terpejam. Menghadapi kata-kata frontal yang hampir tidak ada sopan-sopannya dari Tsukishima itu, sang SuperAce tenang-tenang saja.
Mata Ushijima terbuka.
"Baiklah kalau itu jawabanmu, Tsukishima, dan aku menghargainya."
Eh? Beneran, nih? Tsukishima sudah deg-degan sebenarnya bahwa dia akan dihajar oleh pak pahlawan super yang satu ini, masa dia mau menerima begitu saja?
"Akupun memiliki jawaban atas pertanyaanmu. Kau juga, Tsukishima, harusnya kau juga menghargai jawabanku itu."
WUSH!
Mata Tsukishima terbeliak bersamaan dengan tubuhnya yang terpental.
Sayup-sayup terdengar suara jeritan ketakutan. Tapi Tsukishima tak ada waktu untuk merespon karena tubuhnya terlempar ke dinding dengan suara berdebum.
Retak. Dinding dan ubin halaman kampus berhamburan. Jika bukan karena Tsukishima mengaktifkan kekkai alias tabir pelindung di sekeliling tubuhnya ketika melihat kedatangan Ushijima tadi, tubuhnya tidak akan ada bedanya dengan ubin yang mengambang beku di sekelilingnya sekarang. Tubuh Tsukishima bergetar setelah menerima serangan telak tadi. Tsukishima berdiri dan memposisiskan kuda-kuda bertahan. Serpihan bangunan yang melayang di sekitarnya membuktikan kalau kekkainya cukup kuat menahan serangan Ushijima. Tapi sampai kapan?
Orang-orang berlarian menjauh dengan ketakutan, namun ada beberapa orang yang memandang Tsukishima dengan pandangan penuh spekulasi.
'Sang SuperAce yang pahlawan kebaikan melawan orang itu, pasti orang itu adalah orang yang jahat. Mungkin itu yang ada di otak mereka. Bodoh.' Sayang Tsukishima tidak bisa tertawa satir sekarang.
"Bagaimana?"
Tsukishima menurunkan lengannya yang menutupi kepalanya mendengar pertanyaan Ushijima.
"Apakah kau berubah pikiran?"
'Sial.'
Rencananya adalah bertahan, lalu setelahnya apa? Mau menyerah saja? Karena lari tidaklah mungkin. Tsukishima sudah pernah mencoba terbang, tapi dengan level kekuatannya sekarang, Ushijima akan dengan mudah menyusul dan menghantamnya di udara.
Tsukishima melapisi kekkainya dua kali lipat dari sebelumnya ketika Ushijima berlari mengelilinginya hingga tak terlihat.
Super strenght. Lalu sekarang super speed. Mata Tsukishima bergerak liar mengikuti arah angin Ushijima, berusaha memprediksi arah serangan.
'Dimana? Darimana?!' Tsukishima menggeretakkan gigi. Seumur hidupnya, Tsukishima tidak menyangka kalau sang Jubah Merah akan menjadi salah satu yang ia lawan. Semakin dilihat, konsentrasi Tsukishima makin kacau.
Gawat.
Kaki dan tangannya bergetar hebat di luar kendali.
Dia ketakutan…
Tsukihima melihat gerakan Ushijima, tapi terlambat. Karena ketika Tsukishima tahu arah serangannya, kepalan tangan Ushijima telah meluncur dan menghantam kekkainya.
Untuk kedua kalinya Tsukishima terpental. Pemuda itu tersengal. Tenaganya terkuras banyak. Dia tidak pernah menggunakan kekuatannya untuk bertahan dari serangan sekaliber ini.
Perbedaan kekuatan mereka sangat besar.
Debu-debu beterbangan, mengiringi derap langkah Ushijima yang seolah ingin menjemput lawannya.
Langkah kaki sang pahlawan terdengar bagai lonceng kematian di telinga Tsukishima.
Tamatlah dia. Dia mungkin tidak akan dibunuh, tapi serangan Ushijima selanjutnya apakah bisa dia tahan?
Ushijima makin maju, Tsukishima makin mundur.
Kekkainya telah diperkuat hingga entah berapa lapis.
Tiba-tiba pahlawan super itu berhenti, lalu menoleh ke seberang mereka. Anehnya, kali ini minatnya lebih besar daripada minat untuk membawa Tsukishima ke markas mereka secara paksa.
Tsukishima mengikuti arah pandang Ushijima yang bermuara ke seorang nenek.
Nenek?
Nenek siapa?
Nenek siapa iseng jalan-jalan ke kampus?!
Seorang nenek berdiri takut-takut di tangga kampus sembari memegangi buku yang tebal. Bukan karena takut melihat pertarungan dua orang berkekuatan super itu, tapi takut karena tidak bisa turun tangga.
"Tsukishima." Ushijima berkata dengan gagah, "Pertarungan kita hentikan dulu. Tugas muliaku memanggil. Aku akan menolong nenek itu dulu melewati anak tangga. Nenek! Tunggulah aku!"
…
…
Eh? Apa tadi katanya?
Tsukishima masih menoleh, menatap nenek itu dengan nanar. Tangan masih mencengkeram dada. Mulut masih mangap.
Angin menderu membuat suara 'siu~ siu~ siu~' dengan dramatis.
Sedramatis jalan hidup Tsukishima.
Tanpa terasa kakinya yang gemetar berhenti menopang tubuhnya sehingga dia ambruk.
Seriusan ini?
Dia selamat?
Masa?
Beneran?
HAAAH?!
Ini sungguh mirip dengan acara tivi yang menampilkan kisah-kisah inpiratif yang mengubah jalan hidup seseorang, karena hari itu Tsukishima melihat masa lalunya berkelebat di hadapan kedua bola matanya seperti kereta mainan yang ditarik tukang odong-odong.
"Nenek. Nenek mau pergi ke mana?"
"Ke rumah, Cu. Tapi nggak ada yang nganter."
"Aku anter ya, nek."
"Makasih ya, Cu. Sekalian temenin cucu nenek main ayunan di rumah ya."
"Wokeh!"
Tsukishima masih sempat mendengar percakapan antara nenek itu dengan Ushijima sebelum mereka terbang menuju langit biru.
"Hebat…" gumam Tsukishima dengan bibir berdarah.
This is amazing…
This is just plain amazing…
.
.
.
"Jadi…" Kepala Kuroo cenat-cenut, "Kau menolong nenek itu, mengabaikan target kita dan kembali ke sini?"
Ushijima bersidekap tak terima mendengar pertanyaan Kuroo yang seolah menuduh, "Aku juga sudah mendatangi tempat tinggal Tsukishima setelah aku menunaikan tugasku di rumah nenek itu."
Mendengar ini Kuroo memperoleh harapan, "Jadi kau sudah ke sana? Lalu kau sudah menemuinya lagi? Kenapa tidak membawanya langsung ke sini?"
Ushijima berdehem, "Bukan ketemu Tsukishima."
"Lalu?"
"Aku ketemu ibunya."
"Laaaluuuu?" Kuroo mulai nyanyi dan Kenma menyingkir.
"Ketemu ibunya dan apa? Melamar anaknya?" Kuroo mulai hilang sabar.
Ushijima menarik napas panjang, "Ibunya baik banget." Jawabnya dengan absurd.
Kuroo ingin menangis, dia tutup muka rapat-rapat memakai kedua tangannya, "Ibunya baik banget terus kenapa, USHIJIMA?!"
Akaashi yang lagi ngetik di pojokan sungguh ingin… tertawa.
'Rasakan itu, Kuroo-san. Rasakan. Itu yang kurasakan saat aku menghadapimu dan Bokuto-san sekaligus.'
Akaashi mulai tertarik ke dark side.
Ushijima, mengabaikan penderitaan Kuroo, melanjutkan ceritanya dengan serius, "Kapten, kau tidak perlu marah-marah seperti itu. Contohlah nyonya Tsukishima yang selalu sabar dan anggun. Ah, ya, aku jadi ingat….tadi ibu Tsukishima menyuguhiku dengan kue yang sangat enak. Lalu dia cerita tentang masa kecil Tsukishima. Oh, ya, nyonya Tsukishima juga cerita kalau dulu dia kerja di majalah mode sebelum menikah, kau tahu? Makanya wajahnya cantik banget dan awet muda, tapi aku yakin kalau itu dikarenakan ketulusan dan inner beauty-nya yang memancar dari dalam. Nanti aku mau istriku cantik dan anggun kaya dia. Dia juga menanyakan kabarku, menanyakan karirku. Bahkan titip salam buat orang tuaku di rumah baru mereka setelah kampung dan planet kami meledak. Kami ngobrol banyak deh. Dia juga memberiku nasehat untuk selalu berbakti pada orang tua."
Kuroo ingin nyungsep di gua Pokemon sekarang juga. "Intinya, Ushijima?" nada suara Kuroo pasrah.
"Intinya, aku tidak bisa membawa Tsukishima ke markas kita dengan paksa. Menunjukkan kekerasan di depan orang tua sebaik itu adalah hal yang durhaka, Kuroo. Jangan diulangi lagi yah."
Kuroo memandangi Ushijima seolah berkata, 'Benarkah aku mendengar ini darimu?'
Ushijima, di lain pihak, melenggang pergi setelah sebelumnya berpesan, "O ya, jadwalku minggu ini padat. Untuk menyakinkan Tsukishima, cari yang lain saja ya."
Di sudut pikiran tergelap Kuroo Tetsurou, dia bisa mendengar Akaashi dan Kenma cekikikan sambil gegulingan di balik punggungnya.
.
.
.
"Kenma, kurasa anak bernama Tsukishima ini perlu pendekatan yang lebih persuasif. Beri aku satu nama superhero yang sedang tidak bertugas."
…
…
…
"…..itu kau, kan, Kenma?"
Kenma pasang muka shock.
"Jangan pura-pura nggak tau!" Kuroo mulai hilang sabar.
.
.
.
Pertanyaan abad ini adalah: berapa jarak yang memisahkan antara seorang kekasih dengan mantannya?
Oh, maaf, salah pertanyaan.
Yang benar, pertanyaan abad ini adalah: berapa kali orang aneh akan muncul di hadapan Tsukishima Kei hari ini? Setidaknya itu pertanyaan yang menari-nari di ubun-ubun pirang Tsukishima.
Bibir tipis Tsukishima jadi keriting. Sore ini adalah jadwalnya nyiram kembang dan Tsukishima ingin melakukannya dengan tenang, setelah sebelumnya dia dihajar oleh seorang superhero berkostum spandeks dengan boxer yang dipake di luar.
(Ushijima bersin)
Kenyataannya adalah sekarang ada seorang anak –kecil- kurus, tengah berdiri di luar pagarnya seperti seorang stalker.
Tsukishima tidak akan freaked out kalau anak kecil itu:
-tidak punya rambut belang-belang
-tidak memandanginya tanpa kedip selama sepuluh menit terakhir
-tidak memakai baju bergambar Harry Styles dkk.
Kacamata Tsukishima melorot, dan tanpa sadar dia juga ikutan main patung-patungan seperti anak kecil itu.
Hari ini makin absurd saja.
Setengah jam kemudian, setelah anak itu nggak move-on juga dari tempatnya, Tshukishima dengan baik hati melemparkan air, gayung dan selang ke arahnya.
.
.
.
"Kei," ibunda Tsukishima merengut marah, "Jangan suka mengerjai orang sembarangan, ah. Nanti nggak dapat pacar loh." Ujarnya dengan tangan memeluk bocah mungil yang basah kuyup terkena siraman bukan rohani dari Tsukishima. Wanita yang awet muda itu kemudian sibuk mengeringkan rambut si bocah dengan handuk.
Tsukishima mendecih, "Ibu terlalu mudah percaya sama orang. Dia itu mencurigakan, bu. Kan ibu yang pernah bilang kalau jangan gampang percaya sama orang nggak dikenal."
"Kei, orang yang suka sama One Direction nggak akan pernah jadi orang jahat!" Ibundanya ngotot. "Iya, kan, nak?" ibunda Tsukishima menoleh pada si anak, yang kemudian mengangguk kencang dengan muka datar.
Entah kenapa Tsukishima merasa menjadi satu-satunya orang normal di rumah ini sekarang.
Bukannya mengusir anak itu, ibunya malah mengajaknya ke dalam rumah, menyuruh anak itu ganti bajunya yang basah dengan piyama pink helo kiti dan memberinya segelas susu lengkap dengan semangkok sereal.
"Nama kamu siapa, nak?" tanya ibunda Tsukishima setelah sebelumnya menyisir rambut panjang si anak, mengepangnya, memberinya pita merah dan menghadiahinya boneka Barbie plus seperangkat rumah-rumahan dibayar tunai.
"….nma… " jawabnya lirih, membuat ibunda Tsukishima mendekatkan kupingnya ke mulut anak itu.
"Siapa?" tanya nyonya Tsukishima lagi.
Anak itu melirik ke kiri dan kanan, gayanya resah, tapi Tsukishima makin curiga kalau anak itu adalah otak dari penjahat berskala internasional.
"…Kozume… Kenma…" jawab anak itu sedikit lebih kedengaran.
"Oooooh, Kenma, toh," ibunda Tsukishima tersenyum, "Suaramu lirih sekali. Agak kencengan dong kalau ngomong. Nanti kalau orgasme nggak kedengeran loh."
"Bu, sehat?" Tsukishima gondok.
"Nah, Kenma," nyonya rumah Tsukishima menganggap komentar anaknya layaknya angin kentut, "Nggak boleh malu-malu ya. Harus percaya diri." Entah kenapa suasana di rumah Tsukishima berubah jadi sesi konseling.
"Walaupun kamu belum punya cowok, tapi pasti akan ada yang melihat kecantikanmu dari dalam." Sekarang berubah jadi sesi curhat. "Gimana kalau kamu jalan dulu aja sama putra tante? Anaknya walaupun jutek, tapi dia tsundere yang seksi luar dalam loh, dijamin memuaskan."
Tsukishima pengen teriak, 'MAKSUD NGANA, BUNDA?!', tapi jaim. Efeknya kacamata Tsukki jadi melorot untuk kedua kalinya hari ini.
Di satu sisi, Kenma menunduk. Namun Tsukishima merasa mata kucingnya mengamati tubuh Tsukishima dari atas ke bawah. Hm… Tsukishima tuh jangkung, atletis, mulus… putih…malah mungkin keputihan.
"Tapi…." Kenma berlirih ria, "… Cowok pektay kaya dia bukan tipeku."
Telapak kaki Tsukishima bertemu muka Kenma.
.
.
.
"Ibu, berapa kali sih harus dibilang, jangan terlalu mudah mempercayai orang, apalagi masukin dia ke rumah. Anak itu memang mirip Lisa BlackPink, tapi ada belut di selangkangannya."
"MASAAA?!" Ibunda Tsukishima pegang pipi, mulut membulat tak percaya. Detik berikutnya mata sang ibunda mulai memicing-micing, berusaha meneropong keberadaan tentakel yang terkubur di dalam rerimbunan celana dalam sosok manis yang sedang meringkuk sambil makan sereal di sofa ruang tamunya.
Dan kecewalah ibu Tsukishima saat mendeteksi gundukan memanjang di antara kedua kaki kurus nan langsing dari Kenma.
Ilustrasi di kepala nyonya Tsukishima:
Tsukishima dan Kenma berpandangan mesra, yang dilanjutkan dengan pelukan sehangat magicom dan berlanjut dengan ciuman di kapal pesiar yang mereka tumpangi.
…Lalu kapalnya karam.
Ilustrasi tamat, finish, owari.
Sang ibunda kemudian meratap dan memukul lantai dengan kokoro berdarah karena OTPnya tak akan terwujud. Semua harapannya kandas. Semua harapannya hanyalah delusi yang bersumber dari keinginan seorang ibu untuk segera menimang cucu.
Kenma masih asyik menyuapkan sereal ke mulutnya dan membuat sfx "Hoaem, nyam-nyam-nyam".
Sedangkan Tsukishima simply balik badan. Dihempaskannya pantat ke sofa dan kemudian dia memijit remot tivi yang menayangkan drama India yang penuh derai air mata dan musik background yang tak henti-hentinya mengalun.
Tsukishima bisa cuek begitu soalnya dia tahu kalau ibunya pasti akan cepat pulih dari katastropi macam apapun, lahir maupun batin.
Benar saja, belum lima menit meratap, ibunya sudah revived.
"Oya, Kenma suka One Direction kan?" nyonya Tsukishima langsung pindah fokus gara-gara ingat baju kaos Kenma yang basah tadi. Matanya berbinar.
Mendengar band kesayangannya disebut, Kenma mengangkat muka dari mangkuknya. Bukan berarti Kenma makan langsung dari mangkok loh ya.
"…" Kenma mengangguk.
Ibu Tsukishima mengepalkan tangan, "YOSH! Saatnya karaokean!"
.
Di markas…
"Kuroo-san, sedang apa?"
"Kenma tidak bisa dihubungi. Tsk! Aku harap dia tidak kesulitan membujuk calon superhero kita untuk bergabung."
"Mungkin negosiasinya berjalan a lot, Kuroo-san."
.
Di rumah Tsukishima…
"Untuk mengenang jambul belang Zayn Malik… mari mengheningkan cipta sejenak…"
Kenma, nyonya Tsukishima, bahkan Tsukishima menunduk dan berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
.
Di markas superhero…
"Kuroo-san, aku jadi ikutan khawatir. Jangan-jangan Kenma-san malah bentrok dengan orang yang ingin anda rekrut itu. Atau lebih buruk… mereka adu kekuatan dan Kenma-san kewalahan."
"…."
"Kuroo-san…?"
"Cepat lacak keberadaan Kenma dan cek apa yang terjadi, Akaashi!"
"….Tidak bisa, Kuroo-san."
"Maksudnya?"
"Ada koruptor kabur yang harus kukejar." Entah ini benar atau hanya rekayasa Akaashi semata.
"Ya sudah aku sendiri yang ke sana."
"Sepertinya juga tidak mungkin, Kuroo-san."
"Kenapa lagi?"
"Kostum anda kelunturan… jadinya putih, nggak hitam lagi. Nggak representatif."
"….Oh."
.
Di rumah Tsukishima…
(Lagu pertama)
"IT'S GOTTA BE YOUUUUUUUUUUUU!" suara emak Tsukki.
"Only you…." Suara datar Kenma feat. Tsukki. Tangan keduanya ke atas. Glowing stick melambai-lambai.
(Lagu kedua)
"And your eyes… your eyes… your eyes.. your eyes…." Kenma memegang mic. Mata terpejam. Tangan kanan terentang . Rambut dikepang. "…irresistable…"
Ibunda Tsukishima dan putranya tepuk tangan sambil menyeka air mata.
(Lagu kesembilan)
"Everybody wanna kill my girl… Everybody wanna tear her heart away..." Tsukishima yandere mode on.
"Owooooh! We want more! We want more!" dan disambut encore sang ibunda dan Kenma.
.
.
.
Lima album, enam jam, dua kali ishoma, seember air mata, empat gulung tissue, dan tiga kali gedoran dari tetangga kemudian….
"Aww, Kenma-kun~" ibunda Tsukishima memeluk Kenma dengan erat di pintu rumah ketika semua pesta karaoke itu berakhir. Kenma harus berjinjit ketika menerima pelukan dari wanita jangkung itu.
Tsukishima memperhatikan dengan wajah jutek dan mengantuk, padahal waktu karaoke dia senang-senang aja tuh.
Dasar tsundere bipolar…
"Duh, imutnya. Kalau Kenma perempuan kan enak jadi mantu tante."
"Lalu burung dara yang gelantungan di bawah pusarnya mau dikemanakan, bu?"
"Kei jangan merusak khayalan ibu, dong! Ini kan seumpama!"
"Ibu yang harusnya sadar, bu. Sadar!"
"Yang pingsan tuh siapa?!"
"Tsk!"
Tanpa mereka sadari, pertengkaran ibu dan anak itu diamati oleh mata kucing Kenma, membuat seulas senyum tersungging di bibir tipisnya. Hanya sedikit orang yang tahu kalau senyum Kenma itu mahal. Senyum itu hanya akan mengembang ketika ia menang main game. Atau saat ia merasakan kehangatan dan kasih seperti yang keluarga Tsukishima tunjukkan hari ini.
"…Tidak apa-apa, tante…" ketulusan memancar dari wajah tirus Kenma. Matanya berkilau seperti kelereng kristal. Sepotong gambar Kenma yang innocent dan Tsukishima jadi merasa pemilik tubuh mungil ini layaknya anak kecil yang suci dari niatan jahat.
Kenma memegang lembut tangan ibunda Tsukki, "…lain kali aku akan mengajak cewek buat jadi calon mantu anak tante yang nggak laku-laku ini."
Senyum yandere Tsukishima mengembang.
Kenma dilempar ke luar pagar.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N:
OSSSSUUU!
Gimana chapter ini, minna-san? Anehkah? Garingkah?
Btw kalau ada yang merasa familiar dengan karakter superhero Ushijima, memang author akui bahwa karakteristik kekuatan supernya mirip dengan superhero DC, sang legenda berjubah merah alias Superman. Soalnya pertama kali saya liat Ushijima di season kedua Haikyuu, yang kepikiran di otak saya cuma 'ni orang Superman banget.', dan muncullah ide membutnya jadi sang superhero klasik yang suka terbang sambil menggendong reporter cantik di antara gedung bertingkat. Kalau dalam fanfic ini sih, Ushijima gendong nenek-nenek…
Dan untuk Kenma…. Maafkan aku Kenma, aku memaksamu menyukai One Direction dan lagu-lagunya yang sempet sukses mengobok-obok kokoro author. Apakah author Directioners? Bisa jadi. Yah… kalau hafal dua nama anggota nama personelnya sedangkan tiga nama lagi sering lupa dan gak hafal muka itu bisa dianggap Directioners… bolehlah. Hahahaha. #Fans macam apa kamuh?!
Sementara untuk mamak Tsukki, kenapa ya, author selalu merusak imagenya. Ampuuuuun….maafkan saya, ini mengalir begitu saja buat kepentingan fic dengan genre humor, tapi beneran saya hormat kok sama orang yang lebih tua #nangis
The last, terima kasih buat atensinya di chapter sebelumnya, ya, minna-san, semoga chapter yang ini bisa lebih menghibur. Sebenarnya tujuan utama fic ini adalah murni buat pelepas stress, jadi author memang berniat membuat plotnya seringan mungkin alias nggak terlalu dalem. Hope you enjoy and love it. Please review chapter ini dengan kehangatan cinta yang luar biasa, ya-minna #ditendang.
Karena review minna-san benar-benar berpengaruh besar buat mood author #nangis.
Okay, see you on the next chapter.
XOXO
Tall and Handsome
