Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story by : Hatake Aria

.

CHAPTER 9

.

.

Sasuke menatap wajah Naruto yang telah memerah sempurna, layaknya tomat, salah satu jenis sayuran kesukaannya. Sedari tadi gadis bersurai pirang dihadapannya selalu berusaha untuk menyangkal perasaannya sendiri, Sasuke tahu, bahkan tanpa Naruto mengucapkannya Ia yakin gadis itu juga memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya. Lagi pula siapa coba yang bisa menolak pesona dari seorang Uchiha, mereka terlahir untuk dikagumi.

Tsundere, mungkin itulah kata yang tepat untuk Naruto bagi Sasuke. Kata-kata yang keluar dari bibir peach nya itu sangat tidak sesuai dengan ekspresi yang dikeluarkannya, hal ini lah yang membuat kesabaran seorang Uchiha Sasuke semakin menipis. Perlahan sebuah seringai menghiasi wajah tampannya, ah, sepertinya Ia harus melakukannya dengan ala Uchiha.

"Kau tahu, kau itu tidak pintar berbohong Naruto" bisiknya seduktif

"Aku .. memang tidak menyukai .."

Lagi, gadis itu mencoba menyangkalnya. Dan Naruto yang malang tak tahu, sikapnya yang seperti ini malah membangkitkan sesuatu dalam diri seorang Uchiha Sasuke.

Sasuke langsung membungkam bibir sang nanny dengan bibirnya sebelum gadis itu kembali mengeluarkan kebohongan lagi. Sasuke menciumnya dengan lembut, mengecap rasa manis dari bibir sang gadis yang mungkin akan menjadi candu baginya nanti. Ia sadar gadis yang sedang diciumnya saat ini sedang meronta, mencoba untuk mendorong dada bidangnya, namun diabaikannya, Ia malah menyematkan jemarinya di surai pirang sang gadis, menekan tengkuk sang gadis agar dirinya bisa lebih memperdalam ciumannya.

Shit,

Bibir Naruto membuat dirinya gila, Ia ingin lebih, perlahan ciumannya berubah semakin kasar, mencoba memberi kode pada Naruto agar sang gadis membukakan mulutnya, namun seperti nya sang gadis terlalu keras kepala hingga keputusasaan akhirnya membuat dirinya menggigit pelan ujung bibir Naruto dan seperti yang diharapkannya, sang gadis membukakan mulutnya, membuat lidahnya dengan mudah menjelajahi seluruh rongga mulut sang gadis, mengabsen satu persatu deretan giginya. Dirinya tak pernah lelah menggoda lidah Naruto untuk bermain bersamanya, dan alangkah bahagianya Ia saat Naruto mulai membalas ciumannya, sang gadis semakin erat meremas kemejanya.

Akhirnya kebutuhan akan oksigen lah yang membuat keduanya menyudahi ciuman panas tersebut, Sasuke sedikit menjauhkan wajahnya hanya untuk mendapati wajah Naruto yang telah memerah sempurna dengan bibirnya yang sedikit membengkak. Bahkan dirinya bisa mendengar nafas Naruto yang tak beraturan seperti habis berlari bermil-mil jauhnya. Perlahan jemarinya menyentuh dagu sang gadis, membuat sang gadis kembali menatap dirinya untuk kesekian kalinya. Sasuke kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Naruto membisikkan sesuatu yang membuat kedua sapphire sang gadis melebar sempurna.

"Tapi sayangnya, Aku menyukai dirimu"

Akhirnya Sasuke mengungkapkan kalimat tersebut, kalimat yang hanya akan diucapkannya untuk gadis bersurai pirang tersebut, seorang gadis yang telah berhasil mencuri hati dan pikirannya.

Ia kemudian kembali menarik wajahnya, mengamati ekspresi dari gadis yang disukainya. Wajah gadis itu masih merah seperti sebelumnya. Terpancar keterkejutan dari raut wajahnya, yah mungkin saja gadis itu masih sedikit shock atas pernyaatan suka Sasuke, atau shock karena tindakannya barusan. Ah, entahlah, Sasuke tidak mau ambil pusing, yang dia butuhkan saat ini adalah respon dari sang gadis.

"Sa .. Sasuke .."

Gadis itu hanya menyebutkan namanya, bahkan suaranya terdengar cukup lirih. Dan yang semakin membuat Sasuke bingung adalah tindakan selanjutnya dari sang gadis.

"Hahahaha"

Sasuke hanya bisa mengernyitkan dahinya saat melihat Naruto yang tertawa hambar, tak tahukah gadis itu bahwa wajahnya terlihat bodoh saat mencoba tertawa disaat seperti ini.

"Ahahaha .., Sasuke ini sudah malam, sebaiknya kita segera kembali ke rumah" takut jika dirinya akan ditahan lagi oleh Sasuke, kali ini Naruto langsung berlari meninggalkan sang tuan muda

"Hah?"

Sasuke hanya bisa cengo melihat tingkah Naruto, hey, gadis itu bahkan belum menjawab pernyataannya. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya dipinggang, dan membalikkan tubuhnya, melihat punggung sang gadis yang telah semakin menjauh darinya.

Naruto terus berlari menuju rumah Sasuke, Ia terlalu malu untuk menatap tuan mudanya tersebut. Ah, sepertinya dia harus mengunci kamarnya malam ini, dan hanya akan keluar esok hari setelah Sasuke pergi ke sekolahnya.

Sasuke mengacak rambutnya gemas, sepertinya dirinya harus lebih bersabar menghadapi gadis bersurai pirang tersebut. Dengan gontai Ia pun melangkahkan kakinya menuju rumahnya menyusul Naruto. Namun tanpa disadarinya sedari tadi seorang pria tengah memperhatikan mereka dibalik telephone box yang tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Pria tersebut mengerjapkan matanya berkali-kali, Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya.

"Tunggu .. itu tadi?"

Mulutnya sedikit menganga, mencoba mencerna apa yang barusan terjadi.

"Sa.. su.. ke .."

.

######

.

Sasuke meneguk air mineral dalam kemasan yang baru diambilnya dari kulkas seraya tangan kirinya berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia berjalan gontai menuju kamarnya, sesaat langkahnya terhenti tepat didepan sebuah kamar.

"Haahh"

Ia menghela nafasnya kasar, tak berniat mengganggu sang penghuni kamar tersebut, dirinya pun segera melangkahkan kakinya menapaki tangga, menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ia melempar sembarang handuk kecil yang sedari tadi dibawanya ke kursi yang tak jauh dari meja belajarnya. Ia kemudian mengambil sebuah buku sastra klasik yang kemarin dibelinya.

Ia menjatuhkan dirinya diranjangnya yang empuk, mengambil sebuah bantal untuk mengganjal punggungnya agar tidak langsung bersentuhan dengan kepala tempat tidurnya. Baru saja Ia mulai berkonsentrasi dengan bukunya, sebuah suara menginterupsi kegiatannya. Seseorang telah membuka paksa kamarnya.

Braakk

Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya, untuk melihat tersangka yang telah berani mengganggu waktu istirahatnya. Dan saat oniks kelamnya bersibobrok dengan sepasang iris yang hampir mirip dengan miliknya, Ia pun hanya bisa menghela nafasnya kasar.

"Aniki, tidak bisakah kau mengetuk pintu kamarku terlebih dahulu?"

Sasuke kemudian kembali mengalihkan atensinya ke buku sastra klasik miliknya, yang tadinya sempat terganggu oleh kedatangan sang kakak. Tapi sayang saat pandangannya teralih dari sang kakak, Sasuke jadi melewatkan momen dimana seorang Uchiha Itachi sedang tersenyum jahil kearahnya.

"Aahh, hanya saja karna terlalu senang aku jadi lupa untuk mengetuk pintu" ujar Itachi santai

Itachi berjalan perlahan mendekat ke arah Sasuke, kemudian dengan santainya menjatuhkan dirinya di atas ranjang Sasuke yang langsung menuai protes dari Sasuke.

"Yaa, bangkit dari tempat tidurku brengsek!" ujar Sasuke seraya menendang kecil tubuh kakaknya agar bergeser dari tempat tidurnya, namun sayang Itachi sama sekali tidak bergeming dari posisinya

"Hey, berani sekali kau menyebutku brengsek, ku pikir satu-satu nya pria brengsek di kamar ini adalah dirimu otouto" Itachi menyeringai kecil ke arah Sasuke

Sasuke hanya bisa mengernyitkan dahinya menanggapi pernyataan sang kakak.

"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan tadi? Ohh .. aku bahkan sedikit kasihan terhadap Naru-chan"

Sasuke berusaha me-loading perkataan sang kakak, ntah kenapa malam ini otaknya yang encer ini mendadak lambat merespon.

"Ohh, tapi aku cukup bangga, kau benar-benar melakukannya dengan gaya Uchiha"

Loading 40 % ..

"Naru-chan bahkan sampai kewalahan menghadapi mu"

70 % …

"Aahhh, dan kau benar-benar telah mematahkan rekorku, Aku saja baru berani melakukan french kiss di umur 20 tahun, dan kau .. Ohh"

100 % .. loading complete.

Bugh, Sasuke melemparkan bantal kewajah sang kakak tercinta.

"Yaah, kenapa kau melemparku!" Itachi tak terima, Ia kemudian kembali melemparkan bantal tersebut ke wajah Sasuke

Sayang Sasuke tidak sempat menghindar, alhasil wajah tampannya menjadi sasaran empuk lemparan balas dendam sang kakak.

"Cih, ternyata sekarang kau jadi punya hobi baru, menguntit adik mu sendiri"

Sasuke kembali berusaha untuk menghiraukan perkataan Itachi dengan kembali mengalihkan atensi nya ke buku sastra klasiknya. Sejujurnya dirinya cukup malu mengetahui bahwa tindakannya tadi tertangkap basah oleh sang kakak, tapi jangan sampai Ia menunjukkan wajah merahnya pada Itachi, bisa-bisa seumur hidupnya dirinya akan jadi bahan lelucon sang kakak. Tidak, itu tidak boleh terjadi, seorang Uchiha Sasuke tidak dilahirkan untuk menjadi bahan lelucon seorang Uchiha Itachi.

Maka yang Sasuke coba lakukan saat ini adalah bersikap cool, seolah hal itu adalah hal yang wajar dan tak perlu untuk di besar-besarkan.

"Hey, aku tidak menguntitmu, kau lupa, kau melakukannya di tempat umum"

Itachi yang masih dalam posisi tidurnya sedikit memiringkan badannya menghadap sang adik.

"Untung saja tadi sore aku memutuskan untuk pulang kerumah dan menginap disini, coba kalau aku tadi tidak pulang kerumah, mungkin .. " Itachi menjeda kalimatnya

Ia sedikit menghela nafasnya, kemudian bangkit dari posisi tidur nya. Kini Ia duduk dengan posisi bersimpuh, menatap lekat ke arah sang adik sembari memegang dagunya dengan tangan kirinya.

"Mungkin adikku yang sedang kelebihan hormon ini akan menyerang Naru-chan dan .."

Belum sempat Itachi menyelesaikan kalimatnya, sebuah buku sastra klasik yang cukup tebal telah mendarat sempurna di wajahnya yang tampan.

"Kau pikir aku pria brengsek seperti itu, hah!" bentak Sasuke dengan wajah yang sedikit memerah, entah itu memerah karena marah atau menahan malu

"Ouch" Itachi mengelus dahi nya yang terasa sakit

"Yaah, kenapa kau suka sekali melempar wajahku" bentak nya tak terima

"Kau layak mendapatkannya, dan sekarang menyingkir dari tempat tidur ku dan enyahlah dari kamar ku!" ujar Sasuke seraya menendang tubuh sang kakak agar menyingkir dari tempat tidurnya

"Ck, kau ini tidak asyik, aku kan hanya berusaha menjadi kakak yang baik, aku hanya ingin berbagi ilmu dan pengalaman denganmu" Itachi masih tetap bertahan di posisi nya walau kaki Sasuke sedari tadi menendang tubuhnya agar menyingkir dari tempat tidur

"Ehm, kusarankan kalau kau mau melakukannya mungkin saat umur mu sudah lebih dewasa lagi, ahh diatas 20 tahun mungkin sudah bisa, tapi kalau kau memang sudah tidak tahan lagi, ku ingatkan padamu jangan lupa gunakan pengaman, kasihan kan Naru-chan kalau harus hamil di usia muda, terus pastikan kau tidak melakukannya secara kasar otouto, tapi melihat saat kau menciumnya tadi, aku sudah bisa membayangkan betapa brutal nya dirimu nanti, dan …"

Sasuke langsung menendang kuat tubuh sang kakak hingga membuat seorang Uchiha Itachi terjatuh dari tempat tidur dengan tidak elitnya. Sasuke berusaha mengabaikan sumpah serapah kakaknya kepadanya saat dirinya berhasil membuat sang kakak tersingkir dari tempat tidurnya. Setidaknya hal itu bisa menghentikan Itachi mengeluarkan kata-kata vulgar dari bibirnya.

"Yaah, Sasuke, berani sekali kau menendangku!" Itachi mencoba mengelus bokongnya yang terasa sakit,

"Cih, karna kau sudah berani berbuat seperti ini padaku, aku tidak akan mau mengajarimu gaya-gaya yang bagus saat berci**a"

Bugh, kembali sebuah bantal mendarat di wajah tampan Uchiha Itachi.

"Aku juga tidak butuh nasehat dari ero-aniki seperti mu!"

.

######

.

Naruto perlahan membuka pintu kamarnya, Ia sedikit memajukan wajahnya menoleh ke kanan dan ke kiri secara bergantian hanya untuk melihat keadaan sekitar.

"Fyuuh, sepertinya Sasuke sudah pergi" Ia mengelus dada nya lega

Ini sudah hari kedua dirinya menghindar dari Sasuke, mau bagaimana lagi, dirinya belum siap menghadapi sang tuan muda. Bahkan hanya menggumamkan nama Sasuke saja bisa membuatnya teringat akan kejadian 2 hari yang lalu, belum lagi saat dirinya ingat dengan pernyataan Sasuke padaya malam itu. Ohh, Ia bingung harus menjawab apa, karena awalnya Ia hanya menganggap Sasuke sebagai adik asuhnya, seorang murid SMA yang nakal tetapi berkat dirinya Ia jadi mendapat pekerjaan untuk membayar hutang Sasori.

Tak pernah terbayang dalam pikirannya Ia akan menjalin hubungan dengan pria yang umurnya di bawah dirinya, apalagi pria itu masih pelajar SMA. Tunggu dulu, umur Sasuke itu 17 tahun, sedangkan dirinya 18 tahun. Ahh, Ia baru sadar usia mereka hanya terpaut 1 tahun saja.

Perlahan Naruto melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, jalannya yang terlihat mengendap-endap layaknya pencuri sontak menarik atensi Uchiha Itachi yang pada saat itu sedang berjalan menuruni tangga.

"Naru-chan, ada apa denganmu? Kau terlihat seperti pencuri saja"

Tubuh Naruto langsung membeku ditempat, perlahan Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Uchiha Itachi yang sedang menatapnya dari atas tangga.

"Ahahha, Itachi-nii, kau membuat ku kaget saja" Naruto mencoba tertawa merutuki tingkah bodohnya yang dipergoki oleh sang sulung Uchiha

"Ara, kalau kau bertingkah seperti itu karena menghindari Sasu-chan maka tenang saja, Sasu-chan baru saja keluar" ujar Itachi sembari tersenyum kecil

Sebenarnya didalam pikirannya Ia sedang tertawa melihat tingkah Naruto, dirinya tahu sudah dua hari ini sepertinya gadis bersurai pirang itu sedang berusaha menghindari adiknya, dan hal itu pula yang membuat Sasuke uring-uringan selama dua hari belakangan ini. Astaga, kenapa kisah asmara dua insan ini layaknya cerita dalam sebuah novel teenlit dengan rate T. Bukannya akan lebih seru kalau seperti roman dewasa dengan rate M, oke abaikan pikiran nista nya barusan.

"Ah, tidak, aku tidak menghindari Sasuke kok" ujar Naruto seraya mencoba mengalihkan pandangannya dari Itachi yang kini telah berdiri dihadapannya

"Hmm" Itachi sedikit menundukkan wajahnya

"Tapi sepertinya, apa yang kau ucapkan dengan apa yang kau lakukan berbeda Naru-chan" ujarnya seraya tersenyum jahil

Naruto menatap Itachi dengan wajahnya yang sedikit memerah, kenapa duo Uchiha ini suka sekali menggoda dirinya.

"Lalu, kau mau pergi kemana sore-sore seperti ini Naru-chan? Apalagi sebentar lagi akan gelap"

"Ah, itu aku ada janji dengan Sakura dan Hinata untuk bertemu di acara festival, aku dengar festival musim gugur kali ini lebih meriah dari tahun lalu"

Itachi sedikit menanggukkan kepalanya menanggapi ucapan Naruto.

"Ah, festival yah, sudah lama juga aku tidak melihatnya. Tapi Naru-chan yang akan mengantarmu pulang nanti siapa? Pastinya kamu pulang sangat sudah gelap kan?"

"Itachi-nii tenang saja, aku akan pastikan tidak melewatkan bus terakhir"

"Dan membiarkan dirimu berjalan dari halte menuju ke rumah seorang diri di tengah malam? Ah, tidak bisa, itu sangat bahaya sekali Naru-chan"

Karena terlalu sibuk berdebat, kedua insan tersebut tidak menyadari kedatangan Sasuke dari pintu depan.

"Aniki, kau ada lihat dimana aku menaruh kunci mobilku? Ku pikir tadi aku …" Sasuke menghentikan kalimatnya saat kedua oniksnya menangkap sosok Naruto yang sedang berbicara dengan Itachi

"Ah, Sasuke, kebetulan aku baru saja mau memberikan kunci mobil kepadamu" ujarnya seraya melempar kunci mobil tersebut kearah Sasuke yang refleks ditangkap oleh Sasuke

"Dan juga Sasuke, bisa kau temani Naru-chan malam ini, katanya Ia ingin pergi melihat festival di Kuil Shinto Sakurayama"

Naruto menatap Itachi dengan tatapan protesnya, hei, sudah susah payah dirinya berusaha menghindari Sasuke dan Itachi malah membuat dirinya terjebak dengan Sasuke.

Sasuke mengehela nafasnya pelan, terkadang Ia cukup risih dengan kelakuan sang kakak yang ternyata cukup mencampuri kehidupan pribadinya. Tapi setidaknya kali ini Ia akan berterima kasih kepada sang kakak, bahkan didalam hatinya Ia telah berniat akan membelikan 20 tusuk Dango untuk Itachi.

"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi" ujar Sasuke seraya menarik lengan Naruto

"Yaah, Sasuke, tunggu" Naruto akhirnya hanya bisa pasrah saat lengannya ditarik oleh Sasuke

"Hati-hati dijalan, dan Sasuke, jangan berbuat macam-macam terhadap Naru-chan yah" ujar Itachi seraya melambaikan tangannya

Sasuke membalikkan tubuhnya sesaat hanya untuk menghadiahi death glare kepada Itachi, dan yang dihadiahi hanya bisa tersenyum miris.

"Dan jangan lupa, belikan aku Dango" lirihnya kemudian

Blamm

Itachi hanya bisa menghela nafasnya kasar.

"Tak bisakah dia menutup pintunya dengan lebih lembut" ujarnya bermonolog

Dengan langkah gontai Itachi berjalan menuju dapur, memeriksa isi dari kulkas, mencoba mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa laparnya. Ah, kenapa disaat seperti ini Ayame lama sekali pulang dari supermarket. Baru saja dirinya akan menikmati apel yang baru ditemukannya, terdengar suara bel dari arah pintu depan.

"Cih, siapa lagi yang mengganggu di sore seperti ini" gerutu nya seraya berjalan menuju pintu depan

Ting tong, Ting tong ..

Nampaknya sang tamu tidak sabaran menunggu pemilik rumah untuk membukakan pintunya, hingga berkali-kali menekan bel tersebut.

"Astaga, tak bisakah dia sedikit sabar" maki Itachi

Ting tong,

Itachi kemudian membuka pintu rumahnya dengan sedikit kasar, dirinya benar-benar penasaran siapa orang dibalik pintu rumah nya ini

"Hei, tak bisakah kau sedikit bersa … "

Oniks Itachi langsung melebar sempurna tatkala menangkap sosok pria bersurai pirang yang kini sedang berdiri angkuh dihadapannya.

"Ah, kakak ipar, ternyata kau yang datang" ujarnya saat disadari nya ternyata sosok yang sedari tadi menekan bel rumahnya adalah Deidara

"Aku bukan kakak iparmu brengsek!" maki Deidara, bagaimana pun juga Ino sang adik belum menikah dengan pria dihadapannya ini

"Kenapa? Kan sebentar lagi kau akan menjadi kakak ipar ku" ujar Itachi seraya memiringkan sedikit kepalanya, memasang pose innocent yang malah membuat Deidara semakin ingin menghajar dirinya

"Jangan berharap kau bisa menikahi adikku selama aku masih hidup Uchiha!" ujar Deidara seraya mengepalkan tangannya ke wajah Itachi

"Haahh, over protective seperti biasa, kusarankan kau untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater agar penyakit sister complex mu itu tidak semakin parah"

Itachi menghela nafasnya pelan, sebenarnya dirinya dan Deidara adalah teman sejak bangku SMA, bahkan keduanya adalah sahabat dekat, dimana ada Deidara disitu pasti ada Itachi. Namun persahabatan keduanya menjadi renggang di tahun ketiga, disaat Itachi berpacaran dengan adik perempuan Deidara, Ino. Deidara yang mengidap sister complex itu tentu saja tidak menyetujuinya, bahkan Ia sempat mengatai Itachi pedofil karena berpacaran dengan adiknya yang masih kelas 3 SMP.

"Hentikan omongan tidak pentingmu, aku kemari hanya ingin menjemput Naruto, cepat panggilkan dia kemari"

"Ah, maksudmu Naru-chan? Kakak ipar, ada hubungan apa kau dengan Naru-chan?"

"Dia adik sepupu ku, dan berhentilah memanggilku kakak ipar, aku bukan kakak iparmu!"

Itachi mengangguk paham.

"Ah, tapi Naru-chan sedang tidak ada, Ia sedang pergi berkencan dengan Sasuke"

Kedua iris sapphire Deidara langsung melebar sempurna.

"Apa? Berkencan? Mereka pergi kemana?"

"Astaga, Dei, tidak bisakah kau bersikap tidak terlalu berlebihan? Mereka hanya pergi melihat festival di Kuil Shinto Sakurayama, bukan kawin lari" Itachi sedikit memegang kepalanya yang mendadak pusing melihat tingkah Deidara

"Oh Kuil Shinto Sakurayama, baiklah aku akan pergi kesana"

Deidara langsung membalikkan badannya dan bersiap untuk pergi, namun langkahnya langsung terhenti saat kedua tangan Itachi melingkar di pinggangnya.

"Mau kemana kau, tak akan kubiarkan kau mengganggu kencan Sasuke dan Naru-chan" ujar Itachi mencoba mem-block langkah Deidara dengan menarik pinggang pria pirang tersebut, namun malah terlihat seperti sedang memeluk pria tersebut dari belakang

"Yah, lepaskan aku sialan!" ujar Deidara seraya berusaha terlepas dari Itachi

"Tidak akan!" Itachi malah semakin mengeratkan tangannya di pinggang Deidara

Brugh,

Hingga suara belanjaan milik Ayame yang terjatuh menghentikan kegiatan kedua pria tersebut.

"Ah, maafkan saya Uchiha-san, maaf kalau saya menganggu" ujar Ayame seraya menundukkan kepalanya berkali-kali

Sadar akan posisi kedua nya, Itachi langsung melepaskan tangannya dari pinggang Deidara dan refleks mendorong pria bersurai pirang tersebut sehingga membuat Deidara hampir terjatuh, dan dibalas dengan makian oleh Deidara.

"A .. Ayame, ini tidak seperti yang kau pikirkan!"

.

######

.

Naruto mengeratkan kedua tangannya, mencoba menyalurkan kehangatan pada tubuhnya. Seharusnya Ia tahu, sweater yang digunakannya ini tidak akan mampu menghalau udara malam di bulan November ini.

Sasuke melirik Naruto yang berjalan sedikit menjauh darinya, bahkan gadis itu sama sekali belum ada berbicara sejak keduanya keluar dari rumah, dan Sasuke sedikit bersyukur tatkala Ia mendengar pembicaraan Naruto di telpon, bahwa kedua temannya tidak bisa datang ke festival.

Sasuke refleks melepas hoodie nya saat kedua oniksnya melihat Naruto yang sedang berusaha menahan dinginnya udara malam musim gugur. Ia menarik pergelangan tangan Naruto sehingga membuat sang gadis menghadap dirinya, perlahan Sasuke memakaikan hoodie nya ditubuh Naruto.

"Pakailah" ujarnya selembut mungkin

Naruto sedikit menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang tengah merona, bagaimanapun baru kali ini Sasuke memperlakukan dirinya se-gentle ini.

"Aku hanya tidak ingin dibunuh oleh Deidara karena membiarkan adik sepupu kesayangannya mati kedinginan" lanjut Sasuke yang malah dihadiahi injakan kaki oleh Naruto

"Yaah, kenapa kau menginjak kaki ku?"

"Kau pantas mendapatkannya!" baru saja Naruto tersentuh oleh sikap gentle Sasuke, namun belum ada 10 detik, Sasuke malah merusak momen tersebut

"Aku tidak butuh jaketmu" ujar Naruto seraya mencoba melepaskan hoodie milik Sasuke, namun kedua tangannya langsung ditahan oleh Sasuke

"Aku hanya bercanda" ujarnya kembali dengan nada selembut mungkin

Naruto hanya mem-pout kan bibirnya menanggapi perkataan Sasuke.

"Itu tidak lucu!" ujarnya seraya hendak berjalan meninggalkan Sasuke, namun langkahnya langsung terhenti saat dirasakannya jemari Sasuke mengenggam tangannya

"Jangan jauh-jauh dariku" ujar Sasuke yang terdengar seperti perintah pada Naruto

Naruto hanya bisa pasrah, Ia membiarkan Sasuke menggandeng tangannya. Awalnya Ia sedikit malu saat Sasuke menggenggam tangannya, namun lama kelamaan dirinya menjadi terbiasa, dan malah dirinya lah yang menarik tangan Sasuke, memaksanya untuk mengunjungi dari satu stand ke stand yang lainnya.

Puas berkeliling, akhirnya keduanya mengistirahatkan diri di dekat jembatan yang tak jauh dari Kuil. Sasuke menyandarkan tubuhnya di sisi jembatan berwarna merah tersebut, Ia memiringkan wajahnya menatap Naruto yang terlihat tengah asyik menatap sungai kecil dibawah jembatan tersebut. Gadis itu perlahan mengadahkan kedua tangannya saat angin malam membawa beberapa daun momiji yang gugur. Sasuke tersenyum kecil saat melihat Naruto yang mencoba menangkap daun momiji tersebut.

"Kenapa dua hari ini kau menghindariku?" ujarnya memecah keheningan

Perlahan Naruto menarik kembali kedua tangannya. Ah, ini dia, hal yang paling tidak ingin dibahasnya.

"Ng, aku tidak menghindarimu kok" jawabnya tanpa menatap kearah Sasuke

Haahh,

Sasuke menghela nafasnya pelan.

"Apa aku harus membeli 2 buah tiket ke London saat ini, kemudian aku harus mengulangi pernyataanku kembali di depan menara Big Ben?"

"Eh" refleks Naruto menolehkan wajahnya menatap Sasuke

"Habisnya, gadis yang kusukai menginginkan seseorang menyatakan cinta padanya dengan latar belakang menara Big Ben" ujar Sasuke seraya menatap lurus kearah depan, melewatkan momen dimana wajah Naruto yang merona akibat ucapannya

Naruto sedikit terkejut, ternyata Sasuke benar-benar mengingat ucapan absurd nya saat itu. Sejujurnya jauh dilubuk hatinya, dirinya juga memiliki perasaan yang sama dengan Sasuke.

"Sasuke" suara Naruto terdengar lirih

"Hm" jawab Sasuke seraya menatap Naruto yang tengah menundukkan kepalanya

"Stop teasing me!"

"Aku sedang tidak menggodamu, aku bersungguh-sungguh. Apa aku harus mengulanginya lagi? Aku benar-benar menyu .."

Kata-kata Sasuke langsung terhenti tatkala bibirnya dibungkam oleh bibir hangat Naruto, Naruto menghadiahinya dengan sebuah ciuman singkat.

"Aku juga menyukaimu"

Sasuke mengerjapkan mata nya beberapa kali, mencoba untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Tunggu, tadi Naruto menciumnya, kemudian mengatakan bahwa gadis itu juga menyukai dirinya.

"Apa kau selalu menyatakan perasaan mu dengan cara seperti ini kepada seorang pria?" Sasuke sedikit tidak rela mengucapkan kalimat tersebut, bagaimana pun Ia tahu, dirinya bukanlah pria pertama yang disukai oleh gadis bersurai pirang dihadapannya ini

"Tentu saja tidak, kau yang pertama" ujar Naruto dengan wajah merona nya

"Bahkan .., walau sudah berpacaran lama dengan Sasori, aku sama sekali belum pernah berciuman dengannya" lanjutnya, dan kali ini Ia mengucapkannya tanpa memandang wajah Sasuke

Sasuke kemudian menarik lengan Naruto, membawanya kedalam pelukannya. Ia membenamkan wajah Naruto di dadanya yang bidang.

"Lalu kau mau mengatakan bahwa aku harus bertanggung jawab karena mengambil ciuman pertamamu?" goda Sasuke yang dibalas cubitan kecil Naruto di pinggangnya

"Aaah"

Sasuke hanya meringis tertahan, rasa sakit akibat cubitan Naruto tidak seberapa dibandingkan dengan perasaan bahagianya saat ini.

"Tenang saja, aku pasti akan bertanggung jawab"

.

######

.

TBC

Hallo minna ..

Terimakasih buat semua readers yang masih setia membaca fic gaje ini, nggak nyangka juga, fav nya tembus di angka 118. Arigatou ne _

Setidaknya chap ini update nya nggak sampe sebulan yah, kalau author lagi nggak banyak kerjaan pasti di usahakan update nya cepat kok. Hehhe

Dan untuk chapter ini sepertinya author harus buat rate nya jadi T semi M yah, karena beberapa percakapan dan adegan kissu yang sedikit keluar dari rate T, untuk para readers yang masih di bawah umur, mohon jangan ditiru yah, dan maafkan saya.

Dan maaf sekali lagi maaf yah, author belum bisa membalas satu persatu review para readers sekalian, tapi tetep kok author sangat senang membaca review para readers sekalian, jadi ditunggu review selanjutnya yah :)