Disclaimer:

Haikyuu is belong to Haruichi Furudate. I only own this fanfic which I share on this site for fun only.

Warning:

-OOC

-Typos (?)

-Stupid Jokes

-Dirty Jokes

-Crude language

-… did I mention stupid jokes?

.

.

Author corner:

Hai! Long time no see, Minna-san! #dilempar

Maafkan karena lama updatenya, ya, Minna-san. Sebenernya chapter ini udah lama dibuat, tapi perlu direvisi dan disupervisi lagi. #hadoh, bahasanya.

Terima kasih juga atas atensinya yang lebih heboh dari chapter 1. Hontou ni arigatou gozaimasu buat yang udah alert, follow dan review cerita ini ya, minna-san. :) #hormat.

Author bener-bener menghargainya. Aku juga benar-benar seneng karena minna-san masih ngikutin cerita abstrak ini. Hahahaha.

Like I said before, semoga Minna-san betah baca kelanjutan cerita ini.

Buat 9798-san: Hai! Glad you like previous chapter. Seneng juga karena tokoh-tokohnya OOC tapi masih disenengin. Iya, Kenma emang unyu banget aslinya. Dan aku ngerasa Kenma itu cantik…. Makanya emak Tsukki sampai tertipu. Wkwkwkw. Terima kasih reviewnya, yaaaa. #senyum

Anyway, without further ado, please enjoy this chapter.

.

.

.

.

Summary cerita sebelumnya:

"Kenma, kurasa anak bernama Tsukishima ini perlu pendekatan yang lebih persuasif. Beri aku satu nama superhero yang sedang tidak bertugas."

"…..itu kau, kan, Kenma?"

Kenma pasang muka shock.

"Jangan pura-pura nggak tau!"

"Kei," ibunda Tsukishima merengut marah, "Jangan suka mengerjai orang sembarangan, ah. Nanti nggak dapat pacar loh."

Kenma memegang lembut tangan ibunda Tsukki, "…lain kali aku akan mengajak cewek buat jadi calon mantu anak tante yang nggak laku-laku ini."

Senyum yandere Tsukishima mengembang.

Kenma dilempar ke luar pagar.

.

.

.

Reluctant Hero

Chapter III

.

.

Hanya satu kata yang menggambarkan ekspresi Kuroo dan Akaashi saat ini: horor.

Bahkan Akaashi sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan saking terkejutnya.

Berdiri di hadapan Akaashi dan Kuroo, Kenma dengan piyama pink gambar kucing (Kuroo tidak tahu apa itu helo kiti), dengan lengan baju robek dan menggelayut layu, menampakkan bahu mulus yang dinodai dengan memar kebiruan semi porno.

Semak belukar dan dedaunan menghiasi kepala Kenma. Mukanya sih tetap lempeng. Tapi Kuroo dan Akaashi yang melihatnya hanya kepikiran hal-hal mesum.

"Kenma…."

"Kenma-san dirape?"

Akaashi kayang menghindari lemparan ranting dari Kenma. Sementara Kuroo malah jeprat-jepret pakai kamera ponselnya dengan tangan gemetar. Jarang-jarang Kuroo melihat Kenma pakai kostum loli, pakai pita merah renda-renda pula. Gemetarnya tangan Kuroo diindikasi karena terlalu excited akibat memikul tanggung jawab terlalu besar dan hasrat yang tidak tersalurkan.

"Kenapa kondisimu seperti ini, Kenma?" Kuroo bertanya, lebih karena penasaran, bukan karena khawatir. Kapten kita ini agak durhaka rupanya sama teman.

"Pokoknya ini semua salahmu." Kenma memberengut. Dengan langkah tertatih, Kenma menyusuri pinggiran meja kerja Akaashi untuk bisa menuju ke meja kerjanya sendiri. Pemandangan Kenma yang berjalan dengan tangan memegang pantat dan langkah terseok membuat pikiran Kuroo dan Akaashi segelap hutan yang belum dijamah listrik PLN.

"Ke-Kenma-san kok jalannya kaya gitu?"

"Jangan-jangan kau 'ditusuk' dari belakang, Kenma?!"

Akaashi dan Kuroo shock.

"Iya, ini ketusuk semak-semak." Ujar Kenma tak acuh.

"Bohong!"

"Kuroo…" Kenma mulai lelah.

"Benar si Tsukishima ini tidak menyodomimu?"

Kepala Kuroo diinjek.

Bagaimana bisa kaki Kenma yang pendek bisa sampai ke kepala Kuroo, adalah misteri di dunia anime.

"Jadi, Kenma-san…" Akaashi buka mulut, mengabaikan kaki Kenma yang menjejak-jejak kepala Kuroo yang kaya burung. "Kalau begitu bagaimana proses negosiasimu dengan Tsukishima?"

Pause sejenak.

Kenma berkedip.

Semua menunggu.

"Eum…..Negosiasi apa, ya?"

.

.

.

"Kapten Kuroo, anda yakin masih mau menginvite bocah bernama Tsukishima ini?" Akaashi bertanya malas. Terus terang dia ngantuk, tapi kerjaan belum kelar. Walaupun sering baper sama Kuroo, Akaashi termasuk bawahan berdedikasi, sehingga malam ini ia tetap lembur.

Background scene kali ini adalah markas superhero di tengah malam. Hutan belantara di belakang bangunan diliputi suara cicak dan belalang. Sementara Kenma nungging di pojokan akibat tikaman tusuk sate dan pisau buah. Credit to Kuroo yang menjadikan Kenma target lempar pisau setelah Kenma melakukan pengukuan dosa bahwa dia malah karaokean di rumah Tsukishima dan bukannya melakukan negosiasi.

"Tentu saja. Memangnya kenapa?"

"Prospeknya minim. Kenapa tidak lebih baik kita fokuskan melatih superhero baru yang sudah daftar saja?"

"Hmmmh, aku tahu, Akaashi, bahwa kau itu sebenarnya terlalu muda untuk memahami hal yang sulit dimengerti oleh anak seumurmu. Memang susah ya, kalau masih balita dan pakai popok-"

'Kampret…' Akaashi misuh terselubung.

"Begini ya, Akaashi. Kau tahu bahwa telekinetis adalah kekuatan yang memiliki potensi yang sangat besar. Aplikasi kekuatannya bisa sangat beragam. Apalagi jika pemiliknya melatih kekuatan itu secara serius, dampaknya bisa sangat kuat. Kau bisa membayangkan, dengan tambahan orang seperti Tsukishima, pilihan kita akan banyak sekali."

"Tapi dia sepertinya tidak berminat."

"Kita hanya harus meyakinkannya, Akaashi."

Akaashi menghela napas lelah, "Tapi yang menanggung biaya perjalanan dinas para superhero gimana?"

Kuroo pasang tangan di pinggang, muka sangar dengan alis menukik khas orang marah, "Emang ini anggota dewan? Ini kerja sosial dan gratisan. Orang yang mau cari untung di sini silakan seppuku."

"Ehhhhhh…?" Rintihan Kenma mirip kucing.

"Kenma nggak usah protes! Nungging aja sana!"

Giliran Kenma yang manyun.

Kuroo duduk kembali ke kursinya. Tangan ditaruh di atas meja menutupi mulut ke bawah. Bayangan rambutnya menutupi wajah. Lengan baju disingsingkan. Jubah disingkap.

Kuroo Tetsurou: serius mode on.

"Kalau begini caranya, tidak ada cara lain." Kuroo menyeringai penuh kegelapan, membuat Akaashi terhenyak. "Tidak ada cara lain." Kuroo me-replay ucapannya, "Aku akan menggunakan 'orang itu' agar target kita datang ke tempat ini."

"Orang itu….?" Naiknya alis Akaashi dan bibir agak mangap tanda dia tak mengerti.

"Sponge bob Squarepants?" tanya Kenma.

"Bukan."

"Kapten Afrika?" tebak Akaashi.

"Bukan."

"Dewi Berisik?" tanya Kenma lagi.

"Yang ada Bokuto Berisik. Dan jawabannya adalah bukan."

"Banana split?" Akaashi gosok-gosok janggut.

"Janda hitam?" Kenma masih belum menyerah.

"Lip gloss rasa kapal selam?" Akaashi tunjuk jari.

"Mahou Shoujo Iron man-chan?" sambung Kenma.

"Satu tebakan lagi dan katakan selamat tinggal buat –piiiiip- kalian."

Dua sekretaris Kuroo langsung menutupi anu-nya.

"Bagus," Kuroo tersenyum miring, "Kalau kalian sudah mengerti, aku akan menunjukkan siapa yang menjadi senjata pamungkas kita untuk negosiasi dengan Tsukishima kali ini."

Bagaikan dikomando oleh pembawa acara tak terlihat, lampu ruangan seketika mati. Ruangan yang sunyi makin senyap dan hanya terdengar bunyi 'KRAUK-KRAUK-NYAM-NYAM'.

"Kenma, serius, hentikan makan krupuk kulit cicak kalau kau tidak mau kudisan."

Kunyahan Kenma langsung terhenti.

Suasana kembali serius, apalagi tatkala sesosok bersiluet hitam mendadak muncul di tengah ruangan. Rupanya tidak kelihatan, hanya matanya yang bersinar tajam bagai gagak yang siap mencaplok biji mata om-om pedo yang suka jelalatan. Kenma dan Akaashi bergidik ngeri sekalipun tampang tetap pokerface, sementara Kuroo ketawa lewat hidung.

Sosok itu makin mendekat…mendekat... mendekat dan mendekat dengan gerakan hantu seolah kakinya dipasangi skateboard.

Mejik.

Semua yang ada di ruangan menahan napasnya. Sosok itu menyeringai ala vampir, membuat Kenma dan Akaashi lupa diri dan hampir berpelukan dengan kaki gemetar dan keringat dingin membanjiri jidat mereka. Namun sebelum mereka OOC, seberkas cahaya menimpa siluet itu, menampakkan sebuah sosok tak diduga.

Tak diduga karena sosok itu adalah seorang dengan wajah babyface berkostum kaos oblong warna hitam plus celana pendek ngatung, tangan kanannya pegang panci lalu tangan kiri pegang Ind*mie. Poni hitam diikat pakai karet gelang.

'…Ini….' Akaashi dan Kenma membatin. '…kok imut-imut amat?' (FYI, kalimat ini diucapkan oleh seorang cowok bertampang loli dan juga seorang cowok dengan predikat paling cantik seantero markas superhero)

"Kuroo-san memanggilku?"

Kuroo menyandar ke kursi tanpa melepas pandangan ke sosok yang absurdnya absolut itu.

"Ya. Aku punya pekerjaan buatmu…" Seringai di wajah Kuroo melebar, "…Kageyama."

.

.

.

Kageyama Tobio namanya, dia mahasiswa jurusan kedokteran semester xx yang walaupun tampangnya seganteng Tatsunari Kimura*), tapi kantongnya sekelam lembah hitam alias cekak sangat. Motif utama ikut ajang pencarian baka- maaf, motif utama Kageyama ikut ajang rekrutmen superhero adalah ingin mencari penghasilan tambahan sekaligus menghindari tuntutan orang tua.

Soalnya, mereka jugalah sumber krisis keuangan yang melanda dompet Kageyama. Kageyama itu punya kekuatan besar. Dan dia belajar dari yang terbaik yaitu orang tuanya yang ternyata memiliki kekuatan sejenis. Dan sebagai orang tua, mereka juga yang bertanggungjawab mengendalikan kekuatan –dan hasrat mendominasi dunia- milik Kageyama.

Contoh kasus satu:

"Tobio, beliin bawang goreng di warung sebelah."

"Okeh."

"Jangan 'nyuruh' anak tetangga. Kemarin dia kejang!"

"Huh!" Kageyama buang muka.

Contoh kasus dua:

"Tobio, cebokin adek kamu."

"…"

"Jangan mikir buat ngebuang adek kamu ke panti jompo!"

"Aku kan belum bilang apa-apa!"

"Mama bisa baca pikiran kamu!"

Kageyama gondok.

Contoh kasus tiga:

"Kageyama… kamu liat cewek itu nggak?"

"Yang mana?"

"Yang itu, yang roknya kependekan."

"Memangnya kenapa?"

"Aku naksir dia, tahu."

"…Kalau aku bisa membuatmu jadian dengannya, mobilmu buatku, mau?"

"HE? BENARKAH?!"

Kageyama sudah mau tertawa durjana ketika emaknya tiba-tiba muncul dari pojokan kelas, "Dilarang pake kekuatan kamu buat jadi pelet, susuk dan pesugihan! Atau mama kasih kamu video bagaimana terjadinya kamu dan adik kamu!"

Kali ini Kageyama yang kejang.

Daripada disuruh nonton video dokumenter terjadinya dirinya dan adiknya which is adalah rekaman bokep emak dan bapaknya, Kageyama memilih merantau, mengabdikan diri menjadi siswa teladan dan bertekad meraih titel dokter untuk menyelamatkan banyak jiwa tak berdosa, serta memilih menjadi superhero pembawa keadilan. Untuk yang terakhir, emak dan bapak sudah ACC kalau-kalau Kageyama menggunakan kekuatannya.

Selain itu, dia ingin ketemu sama Kenma, superhero yang menjadi idolanya semenjak dia menuntut ilmu di perkuliahan. Menurut Kageyama, Kenma itu punya kekuatan yang benar-benar keren. Dia bisa mengubah benda apapun menjadi mesin yang punya cara kerja yang kompleks. Bahkan boneka seimut barbi bisa jadi gundam secanggih bumblebee. Kageyama sebenarnya ingin mengajukan proposal agar Kenma membuatkannya mesin pencetak uang. Sudah disebutkan, kan, kalau Kageyama itu bokek?

Sebagai superhero, ini adalah tugas pertama Kageyama. Kata Kuroo-san, dia harus membuat anak bernama Tsukishima agar datang ke markas mereka. Selanjutnya entah akan diapakan oleh Kuroo-san-nya, Kageyama sungguh tak peduli.

Tapi tugas buat pertamanya ini memangnya tidak salah?

Membujuk doang?

Cih. Kageyama manyun.

Apa, sih, susahnya?

.

.

.

"Kei, tisu-tisu yang berceceran di meja tolong diberesin, ya. Kalau ada tamu takutnya mereka mikir aneh-aneh, kenapa ada tisu dengan cairan lengket bertebaran di atas meja. Nanti kalau dipikir bekas pesta sex gimana?"

"Bisa tidak ibu tidak berkomentar absurd begitu? Komentar ibu sudah membuat tingkat kepolosanku makin hari makin berkurang." Tsukishima setengah mengomel setengah mengeluh.

Ibunda Tsukishima hanya angkat bahu tak mau tahu. Tangannya cekatan membereskan gelas-gelas berisi soda yang bergelimpangan di meja, sisa karaokean dengan seorang asing bernama Kenma. Acara beres-beres tidak pernah terasa berat karena selalu ada Tsukishima yang membantunya walau kadang anak bungsunya itu mengomel tidak karuan.

Tisu-tisu melayang, lalu masuk sendiri ke keranjang sampah. Melihat itu ibunda Tsukishima jadi teringat masa kecil Tsukishima dulu, dia suka sekali membuat sempak dan beha tetangga melayang dan bertebaran di halaman, sementara tetangganya kelabakan mencari-cari daleman setelah keramas dan mandi basah. Ah, masa lalu yang indah.

"Bu, aku ke kamar dulu ya."

"Kei mau bobo?"

"Mau bikin tugas." Ujar Tsukishima sembari merapikan majalah dan koran yang berserakan di atas sofa. "Sekalian mau ikut kontes web desain."

"Oh. Tapi bobonya jangan malam-malam ya. Besok kan kita harus ketemu di rumah sakit."

"Hai…" Tsukishima menjawab dengan nada monoton sambil terus naik tangga menuju kamarnya. Sembari menguap lelah dan mengucek-ngucek mata untuk tetap terjaga, Tsukishima menuju ke kamar.

Ceklek! Terdengar suara pintu dikunci berbarengan Tsukishima masuk.

"Kamarmu bagus."

Tsukishima mengangguk mendengar pujian itu setelah menutup pintu.

"Terima ka- GYAAAH!"

Punggung Tsukishima kepentok daun pintu. Mata selebar mangkok buah saat menatap kasur. Bukan hanya karena ada makhluk asing berkelamin jantan tengah duduk di kasurnya, tapi kostumnya asli bikin Tsukishima ternganga dan pengen jedotin wajah ke tembok.

Di atas kasur Tsukishima, bertengger (?) seorang cowok dengan kostum paling tak terdefinisikan abad ini. Jubah hitam beludru dengan bulu hitam burung gagak tersampir di bahunya. Wajahnya tertutup oleh topeng berwarna ungu dengan pola sirkuit balap ojek. Satu yang sulit dilewatkan lagi: kostum spandek plus sepato boot selutut dan bando berbentuk tiara bertabur batu swarovski.

Satu kata: weirdo.

'Anjay…' Rahang Tsukishima belum balik ke posisi semula ketika cowok itu malah buka topeng dan bunga mawar setengah mekar langsung nangkring di bibirnya.

'Bunga mawar buat apa cobaaa?! Eh, tunggu, bunga mawarnya asalnya dari mana?!'

Entah kenapa saat Tsukishima melihat orang asing itu dia langsung ingin membuang si cowok asing keluar jendela sekarang juga. Dari kostumnya yang susah dideskripsikan, Tsukishima yakin kalau cowok di depannya ini adalah seorang superhero. Makanya, sekalipun males, Tsukishima merasa tetap harus waspada sama sosok yang satu ini.

"Kau yang bernama Tsukishima?" tanya cowok itu tegas. Ada nada otoriter di dalamnya yang membuat Tsukishima eneg.

"Jangan asal tanya nama kalau kau menyelinap ke kamar orang tanpa ijin! Stalker hentai!" Urat-urat wajah Tsukishima berubah jadi perempatan saking kesalnya.

"OI! Aku bukan stalker hentai! Namaku Kageyama!"

'Dia asli bodoh apa memang superhero itu nggak ada yang peduli sama identitasnya?' Tsukishima geregetan, "Aku tidak mau mendengar alasan dari seorang cosplayer mencurigakan."

"Memangnya apa yang salah sama kostumku?" Kageyama pasang tampang lugu.

"Bukan kostummu, tapi sudut otakmu sepertinya agak miring."

"Hee? Benarkah?" Cowok itu melipat tangan di dada, "Kau berani mengatakan itu pada seorang mahasiswa kedokteran?"

"Hee? Mahasiswa kedokteran?" Tsukishima menaruh tangan di pinggang, alis miring, tampang menghina dan tatapannya nista, "Masa dengan pilihan kostum bodohmu itu kau bisa lulus sebagai orang waras dan masuk kuliah?"

"HA?! APA KATAMU?!"

Hanya bayangan Tsukishima atau memang ubun-ubun cowok itu terbakar?

"Memangnya apa yang salah dari kostumku ini?! Kau tahu," Kageyama mengibaskan jubahnya dengan marah, membuat bulu-bulu di pangkalnya bergoyang indah, "Jubah ini melambangkan kebebasan dan kekuatan, perwujudan dari konsep superhero ideal yang ingin diwujudkan oleh para pendahulu kita! Sedangkan topeng ungu ini melambangkan perlindungan dan keadilan untuk menolong orang tanpa pandang bulu! Dan terakhir, bunga mawar setengah mekar yang baru dipetik saat subuh dari puncak gunung ini melambangkan keperjakaan tanpa noda dan niat suci nan mulia!"

'Haruskah kau menjelaskan ini padaku? Aku kira kita akan jambak-jambakan. Cih.' Kalau wajah takjub tapi kusut milik Tsukishima bisa bicara, mungkin itu yang akan dia katakan melihat Kageyama yang begitu berapi-api menjelaskan filosofi dari pernak-pernik kostum yang ia kenakan.

"Dan asal kau tahu, kostum ini diberikan gratis sehingga uang jajanku seminggu tetap utuh!"

Ujung kaki Tsukishima menancap ke pantat Kageyama, membuat Kageyama meneriakkan frase "TSUKISHIMA KAMPRET!" dengan nada suara milik seorang anak perawan.

"Jangan asal bicara seperti filsuf saat kau memilih kostum itu hanya karena gratisan, bodoh." kata-kata Tsukishima sedingin embun pagi dalam botol kemasan. Kenapa hari ini dia harus ketemu orang-orang sinting, sih?!

Di lain pihak, kali ini Kageyama tidak menjawab. Aura Kageyama mendadak berubah hitam, sehitam rambut, bola mata dan lubang hidungnya. Pantatnya yang kebas akibat tendangan Tsukishima tidak ia hiraukan. Suasana berubah serius seperti sinetron India dan ambeien yang berkepanjangan.

"Hanya karena gratisan katamu?" Kepala Kageyama tengleng ke kanan. Bola mata hitamnya kosong bagai kuburan yang akan diterpa badai. Kelopak matanya melebar layaknya piring yang menyuguhkan dark matter.

Cesss…

Punggung Tsukishima seolah ditempeli es batu… atau dipipisi Olaf. Angin dingin menerpa entah darimana ketika melihat Kageyama menunjukkan wajah boneka yang lagi kerasukan setan.

'Se-seram…'

"Kau tidak tahu arti kata 'hanya' yang kau ucapkan itu ya? Kau tidak tahu gelapnya dunia saat kau hanya bisa makan Indom*e saat teman-temanmu bisa makan steak. Kau tidak tahu betapa mengerikannya sisi gelap dari dirimu ketika kau tidak bisa minum susu padahal vending machinenya sudah ada di hadapanmu hanya karena di kantongmu cuma ada bungkus permen karet dan serpihan genteng. Kau juga tidak akan bisa mengerti bagaimana rasanya punya kekuatan untuk bisa membuat setiap orang yang kau temui bertekuk lutut padamu tetapi kau tidak bisa menggunakannya padahal kau bisa mendapatkan daging barbecue untuk makan malam, TEME!"

'Jadi ini hanya tentang makan malam?' Tsukishima sih tidak tahu Kageyama bicara apa, tapi melihat ekspresi wajahnya saja Tsukishima langsung tahu kalau dia sudah mengaktifkan bom waktu.

"Begitu banyak hal yang tidak kau mengerti, bocah." Kageyama sudah gelap mata, soalnya dia memanggil Tsukishima dengan sebutan 'bocah' padahal mereka seumuran. Kageyama maju… maju … dan terus maju hingga Tsukishima hanya bisa mundur dan punggungnya mencium daun pintu seperti heroine tsundere di shoujo manga.

"Tidak ada pilihan lain," Kageyama menyeringai, mata kanannya menjadi merah dan mata kirinya berubah kuning, "Aku, King of the Court, alias Penguasa Emperor Eye, alias Kageyama Vi Japania, -"

"Oi, itu seriusan namamu semua?"

"-akan memberi anak nakal sepertimu pelajaran yang tidak akan kau lupakan." Kageyama pamer seringai.

Kalau Tsukishima anak gadis pasti sudah termehek-mehek dengan senyumnya, tapi berhubung Tsukishima perjaka tulen, seringaian Kageyama itu malah membuatnya pening dan hidung berair.

'Si-sial! Parodi si Kageyama kebanyakan…'

Tsukishima menjambak kepalanya yang tiba-tiba serasa dihantam oleh gong.

Lalu-

BRUK!

Di hadapan Kageyama, lutut Tsukishima membentur lantai.

.

.

.

"Cih."

Kageyama memandang Tsukishima yang tengah berlutut dengan kepala terkulai. Cowok berambut hitam itu mengitari tubuh pemuda yang satunya, ibarat guru yang menginspeksi apakah anak didiknya sudah cebok dengan benar apa belum. Atau sudahkah dia memakai celana dalamnya dengan baik tanpa terbalik.

Sesungguhnya Kageyama tidak mengerti, apa sih bagusnya pemuda bernama Tsukishima ini? Jika dibandingkan dengan dirinya yang spektakuler, Tsukishima tidak ada apa-apanya. Secara Kageyama punya kekuatan buat mengendalikan pikiran dan tubuh orang.

Mau membuat dosennya nari hula-hula sambil jejeritan ala Tarzan, Kageyama juga bisa.

(Agak mengherankan sebenernya kenapa Kageyama malah milih jadi superhero dan bukannya villain.)

"Hm… aku penasaran kenapa Kuroo-san begitu tertarik padamu." Gumam Kageyama. Memang benar muka Kageyama benar-benar terlihat ingin tahu, tapi ia kemudian angkat bahu.

"Ya sudahlah, terserah, yang penting kerjaanku beres. Oi, Tsukishima Kei!"

Di bawah panggilan Kageyama, Tsukishima mengangkat kepala. Tatapannya kosong.

"Berdiri!"

Tsukishima berdiri, masih dengan tatapan sekosong kantong Kageyama. Kageyama mengitari kembali tubuh Tsukishima.

"Angkat tangan."

Tsukishima angkat tangan kanan.

"Bukan yang kanan!"

Tsukishima angkat tangan kiri.

"Memangnya kau dengar kalau tadi aku nyuruh angkat tangan kiri?!" Kageyama mulai kaya ibu tiri.

"Sungkem." Perintah Kageyama lagi. Tsukishima berlutut dengan patuh, cium tangan, cipika-cipiki dan langsung nadah tangan.

"Ngapain nadah tangan?" Kageyama heran.

"Salam tempelnya mana?"

"Memangnya ini lebaran?!" Kageyama keki dengan pertanyaan Tsukishima. Sekalipun di bawah pengaruh cuci otak Kageyama, Tsukishima masih tetap menyebalkan.

'Mungkinkah ini karena kekuatan telekinesisnya?' Kageyama berpikir sembari mengamati muka Tsukishima. Muka Tsukishima sedatar triplek, tapi juga masih tetap terlihat tengil.

'Ini sih memang sifat aslinya yang nyebelin.' Putus Kageyama kemudian.

Singkatnya, Kageyama yang berhasil mengendalikan Tsukishima akhirnya membawa cowok yang lebih jangkung darinya itu keluar kamar. Sebelum efek cuci otaknya hilang dan dia diteriaki Tsukishima sebagai maling jemuran dan pelaku pencabulan perjaka di bawah kasur, Kageyama buru-buru membawa Tsukishima menuju markas.

Emak Tsukki masih menonton acara gosip tengah malam, tanpa sadar di belakang sofa yang didudukinya, dua orang pemuda tengah berjalan berjingkat-jingkat di tengah gelap. Emak Tsukki memang suka nonton gosip dengan lampu dimatikan. Ngedengerin aib orang di tengah gelap itu thrill-nya lebih greget, sodara-sodara.

Kaki Kageyama sudah selentur penari balet, guling sana-guling sini demi menghindari segala jenis suara yang nantinya akan menggugah perhatian si emak. Kageyama koprol, jumpalitan, ninjutsu sambil kayang, dan dua langkah lagi ia akan mencapai pintu.

Mata hitam gagak Kageyama berbinar saat tangannya meraih handle.

Sebentar lagi mereka akan-

"Kei lagi ngapain?"

Lampu menyala dan Kageyama beku di tempat. Di belakangnya, Emak Tsukki mengucek-ucek mata seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya. Itu beneran ada anak cowok pakai jubah dan sepatu boot sambil pakai spandeks tebal?

'Ganteng, sih, tapi apa nggak gerah?' Pikir emak Tsukki. Beliau lalu menoleh ke anaknya, "Kei lagi ngapain malam-malam?" ulang ibunda Tsukki.

Anaknya bengong, lalu punggungnya ditepuk Kageyama, "Mau keluar sebentar, Bu." Sungguh hebat kekuatan Kageyama, bisa membuat Tsukki bohong sambil menatap lurus ke kedua bola mata ibunya.

Kageyama sungguh tega.

"Oh… bukannya tadi Kei bilang mau bikin pe-er? Ini siapa? Teman Kei?"

"Bukan lah, mana mau aku temenan sama-" Tsukki ditendang, "-Iya, ini temanku, bu."

"Oh…" Ibu Tsukishima ber-oh ria, lalu menoleh lagi ke cowok berkostum aneh itu. Kageyama gelagapan.

Soalnya dia sudah lupa gimana tata cara bertamu ke rumah teman.

Akhirnya, Kageyama maju dan… cium tangan emak Tsukki.

"Kageyama, tante." Kageyama memperkenalkan diri dengan sopan, layaknya seorang pemuda yang kenalan sama ibu dari cewek yang ditaksirnya. Ibunda Tsukishima manggut-manggut.

"Sudah lama temenan sama Kei?"

"Lumayan, tante." Dalam hati Kageyama 'cuih-cuih'.

"Malam-malam keluar mau apa?"

"Nonton bokep, tante. Eh?"

JEGER! (Petir menggelegar di malam buta)

Lalu sunyi….

Kageyama dan nyonya Tsukishima berpandangan. Bocah berambut hitam itu beku di bawah pandangan setajam belati ibunda Tsukishima.

Kageyama makin gelagapan, apalagi tanpa sebab siluet pohon di luar rumah menyambar-nyambar. Entah kenapa Kageyama melihat rambut si tuan rumah mulai meliuk-liuk seperti Medusa.

Keringat dingin menetes di jidat Kageyama sebelum nyonya Tsukishima tersenyum.

…eh? Kok malah senyum?

"Oh… ya udah. Pokoknya jangan pesta narkoba, ya."

EHHHH?

"…." Kageyama cengo.

"Nanti kalau sudah, Kei diantar pulang ya. Maklum anaknya suka nyasar. Ahahaha." Ibunda Tsukishima ketawa polos.

Kageyama hanya menatap nanar sambil mikir, 'Kenapa… kenapa aku tidak lahir jadi anaknya ibu ini aja..?'

"Ya udah, sana. Nanti kemalaman, lagi."

"I-iya, tante."

Tanpa ba-bi-bu, Kageyama dan Tsukishima pamit, tak lupa cium tangan ke ibunda Tsukki dengan khidmat sebelum menghilang di balik pintu.

TBC

.

.

.

A/N:

*) Tatsunari Kimura: Aktor Stage Play di Haikyuu Engeki. Dia kebagian peran sebagai Kageyama. Dan, ya, uhuk, orangnya ganteng banget. #hidung author meler.

Holaaaaa! Akhirnya chapter ini publish juga. #nari-nari pakai pom-pom.

Akhirnya satu lagi tokoh superhero muncul. Kageyama Vi Japania! Kekuatannya mirip sama Tsukishima, berbasis kekuatan pikiran juga. Bedanya, Tsukishima bisa ngendaliin benda, Kageyama bisa manipulasi pikiran orang. Author kepikiran ngasih Kageyama telepati karena secara dia King of the Court, suka merintah-merintah orang kaya raja (menurut pendapat Kindaichi, wkwkwkw).

Bagian Tsukishima bilang 'parodi Kageyama kebanyakan' itu beneran ngerujuk parody, loh. Ada yg notis, kah? #nangis. Soalnya yang disebutin Kageyama itu marodiin Haikyuu, Kuroko no Basket, sama Code Geass. Wkwkwkw. Maap kalau maksa, yah…

Overall, I hope you'll like it, Minna-san. Saya harap chapter ini nggak ngecewain.

Dan plis review yaaaah. Your reviews mean so much to me.

#love

XOXO

Tall and Handsome