Characters belongs to Kishimoto Sensei
Story is mine
.
CHAPTER 10
.
.
November, Musim Gugur, 7 tahun kemudian ..
.
Shion memandang kagum seorang wanita dengan balutan kimono putih yang sedang berdiri disamping seorang pria yang menggunakan hakama berwarna hitam, khas pakaian pengantin. Sebuah wata boushi yang dikenakan sang pengantin wanita sukses menutupi surai pirangnya yang indah dan sebagaian dari parasnya yang mempesona, seakan sang pengantin wanita sedang menyembunyikan wajahnya agar sang mempelai pria sajalah yang boleh menikmati paras cantiknya.
Shion yang sedari tadi terus menerus membisikkan kata 'Naruto-nee benar-benar cantik Okaa-san' pada sang Ibu, hanya dibalas senyuman dan ibu jari yang menempel dibibirnya oleh Kushina yang mengisyaratkan agar Shion lebih tenang dan mengikuti ritual yang dibawakan sang pendeta dengan lebih khidmat.
Shion menghela nafasnya, Ia mencoba mengikuti saran sang Ibu, bahkan disampingnya tampak keponakannya Uchiha Haruto yang masih berumur 3 tahun tampak tenang berdiri disamping kedua orangtuanya, Uchiha Itachi dan Uchiha Ino.
Satu persatu seluruh ritual dilaksanakan oleh kedua mempelai yang tak lain adalah Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto, ah .. beberapa menit yang lalu Ia sudah sah menjadi Uchiha Naruto. Masing-masing keluarga baik dari pihak Uchiha dan Uzumaki tampak saling bergantian meminum sake yang menandakan bersatunya kedua keluarga dalam ikatan pernikahan, yang juga menandakan berakhirnya ritual pernikahan yang dilakukan sesuai kepercayaan Shinto tersebut.
"Kawaii ne" gumam Ino.
"Anata, kenapa kemarin kita tidak menikah seperti ini?"
Itachi hanya mengernyitkan dahinya menanggapi ucapan sang istri.
"Bukannya dirimu kemarin yang bilang ingin memakai wedding dress? Dan menikah di gereja?"
"Iya, itu benar sih, tapi melihat pernikahan Naru-chan Aku jadi iri, dan lagi pula lihatlah, Naru-chan sangat pintar memilih waktu pernikahannya, Ia sengaja menikah saat musim gugur seperti ini".
Itachi mengarahkan oniksnya menatap pemandangan disekelilingnya, tampak daun-daun momiji yang berwarna mulai dari kuning, jingga dan merah menghiasi alam disekitar kuil tersebut, Ia harus mengakui adik iparnya tersebut memiliki taste yang bagus, memilih tanggal pernikahan saat musim gugur, dan tempat pernikahan di daerah Arashiyama benar-benar kombinasi yang pas, what a romantic wedding concept, pikirnya.
"Papa, mama, cepat kemari, perahunya sudah menunggu" teriak Haruto dari kejauhan.
Refleks pasangan suami istri tersebut menoleh kearah Haruto yang sedang berjalan ketepi sungai Hozu bersama Shion yang menggenggam tangannya. Mereka baru ingat, setelah acara ritual selesai di kuil ini, mereka juga mengadakan acara resepsi di hotel, mereka memilih Suiran Hotel sebagai tempat resepsi yang jaraknya tidak jauh dari kuil tempat pemberkatan.
Haruto segera naik kedalam perahu yang mampu menampung belasan orang tersebut dengan atap yang berguna menghalang sinar matahari yang telah disiapkan pihak hotel untuk menjemput para tamu undangan yang keseluruhannya merupakan kerabat dekat dari keluarga Uchiha dan Uzumaki.
"Haruto, hati-hati" ujar Ino seraya menggandeng tangan sang suami untuk mengikuti putra mereka menaiki perahu.
Satu persatu dari mereka memasuki perahu menyeberangi sungai Hozu, Shion dan Ino tak hentinya mengucapkan kata 'Kirei' untuk merepresentasikan pemandangan yang tersaji di sekeliling mereka.
"Ara, dimana Deidara?" ujar Kushina yang baru menyadari ketidakhadiran sang keponakan di atas perahu tersebut.
Ino hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan sang bibi, Ia sendiri tidak tahu dimana keberadaan sang kakak.
"Sepertinya dia ingin memberikan kejutan terakhir buat Naruto" ujar Itachi sembari tersenyum.
Seluruh penghuni didalam perahu tersebut menoleh kearah sang sulung Uchiha, sedikit mengernyitkan dahinya menanggapi perkataan Itachi, karena mereka semua tahu bagaimana Deidara sangat tidak menyetujui hubungan Naruto dan Sasuke.
Dengan hati-hati Itachi membantu Ino dan Haruto keluar dari perahu sesaat setelah pria yang membawakan perahu kecil tersebut menepikan perahunya. Tak lupa juga membantu Mikoto sang Ibu yang terlihat sedikit kesusahan menuruni perahunya karena Furisode yang dikenakannya.
"Arigatou ne" gumam Mikoto kecil pada sang anak.
"Ka-san akhirnya bahagia karena kedua anak Ka-san sudah menikah" ujarnya seraya berjalan diiringi Itachi yang sedang menggendong Haruto.
"Ka-san bahagia?"
"Tentu saja, mendapat menantu seperti Ino-chan dan Naru-chan menambah warna dikeluarga kita, setidaknya aku harus bersyukur, ada wanita yang mau menggantikanku mengurusi kalian".
"Hahaha, jadi menurut Ka-san kami berdua merepotkan?" Itachi tak bisa menahan tawanya menanggapi ucapan sang Ibu.
"Syukurlah kalau kalian berdua sadar"
"Lalu dimana menantuku dan Sasuke?" ujar Mikoto yang sadar bahwa sang menantu dan anaknya belum berada dilokasi resepsi yang digelar di restaurant Hotel yang telah disewa khusus yang berada tepat di tepi sungai Hozu.
Itachi menurunkan Haruto dari gendongannya, lalu melirik jam tangannya.
"Seharusnya mereka sudah datang, semoga Kakak Ipar ku itu tidak membuat masalah kali ini"
.
######
.
Naruto yang masih dalam balutan kimono putihnya dan lengkap dengan wata boushi nya berkacak pinggang menatap pria bersurai pirang dihadapannya.
"Jangan bilang dirimu yang akan membawaku menyebrangi sungai ini Dei-nii" ujarnya saat melihat Deidara sudah menggunakan seragam pengayuh perahu yang dipinjamnya dari pihak Hotel.
"Kenapa? Kau sangat terharu kan Naruto?" ujar Deidara dengan cengiran 3 jarinya.
"Kau pasti berbohong" Naruto menatap horror kearah Deidara.
"Arrgghh, aku harus menelpon Itachi-nii" teriak Naruto frustasi seraya berjalan kesana-kemari mencari smartphone miliknya.
'Sial aku lupa, aku tidak membawa handphone ku' batinnya kemudian.
Sasuke yang sedari tadi melihat interaksi kedua makhluk pirang didepannya hanya bisa menghela nafas, Ia memijit dahinya pelan, sembari berfikir apakah saudara iparnya ini benar-benar ingin menghancurkan acara pernikahannya, karena dirinya ingat betul bagaimana ulah Deidara pada saat acara pernikahan Itachi dan Ino 4 tahun yang lalu.
Saat sang pendeta di gereja mengucapkan kata 'Apakah ada yang keberatan dengan pernikahan ini?' maka saat itulah Deidara muncul dan berteriak 'Aku keberatan' dengan kencangnya yang sontak menarik atensi seluruh undangan yang ada di gereja. Mungkin orang-orang yang bukan keluarga mereka sudah berfikir bakal ada adegan kisah cinta segitiga layaknya Dorama Romance yang banyak digandrungi wanita remaja dan para ibu-ibu rumah tangga. Tapi beruntung saat itu Naruto dan Shion langsung membekap mulut Deidara dan menyeretnya keluar dari gereja. Dan karena kejadian itulah, kali ini Naruto hanya meminta pernikahannya hanya dihadiri keluarga dekat mereka saja, takut-takut Deidara akan berbuat ulah lagi.
"Mou.. mou, kenapa kau jahat sekali padaku Naru-chan?"
Naruto memicingkan matanya melihat Deidara yang sedang dalam mode sok imutnya.
"Aku sudah sepenuhnya menerima Sasuke-mu menjadi adik iparku Naru-chan, aku juga sudah bertekat akan memperbaiki hubungan ku dengannya, iya kan Sasuke?" ujarnya seraya merangkul pundak Sasuke.
Sasuke sedikit memicingkan matanya, melirik kearah Deidara, sebelum akhirnya ia mengucapkan dua huruf andalannya.
"Hn"
Sasuke hanya bisa menghela nafasnya, semoga benar apa yang baru saja diucapkan oleh Deidara.
"Lihat, benarkan Naruto" ujar Deidara seraya mengeratkan rangkulannya di pundak Sasuke.
'Tapi awas saja kau Sasuke jika berani berbuat macam-macam dengan Naru-chan, akan kupastikan kau menemui nenek moyang mu secepatnya' bisiknya kemudian.
Naruto menatap keduanya secara bergantian, sedikit menghela nafasnya sekaligus berdoa semoga apa yang baru saja diucapkan Deidara benar adanya. Ia juga mereka ulang kejadian barusan, selama ritual pernikahannya yang dibawakan oleh pendeta kuil berjalan dengan lancar tanpa adanya interferensi dari Deidara, jadi mungkin kali ini pun Deidara tidak akan mensabotase acara resepsi nya.
"Baiklah ayo kita pergi, yang lainnya pasti sudah menunggu di Hotel" ujar Sasuke seraya berjalan menuju perahu kecil yang akan membawa mereka ke tempat resepsi.
Dengan hati-hati Sasuke menaiki perahu kecil tersebut, sembari mengumpat didalam hati, sebenarnya dia mengutuk ide Naruto yang satu ini, cuma sang istri mengatakan 'Ini akan jadi pernikahan yang romantis Sasuke, aku terinspirasi seperti ini saat melihat foto pernikahan yang di-posting dilaman website Hotel ini' sehingga mau tak mau Ia harus mengikuti kemauan sang istri.
"Yosh, ayo kita berangkat" ujar Deidara seraya melompat kecil kedalam perahu yang berhasil membuat perahu tersebut sedikit bergoyang, Sasuke yang sudah berada didalam perahu jadi sedikit oleng tapi syukurnya Ia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak terjatuh.
Sasuke menghadiahi Deidara deathglare andalannya.
"Kau hampir membuat kita terjatuh Baka!" umpatnya kemudian.
"Language dear, hei aku ini kakak iparmu!" ujar Deidara seraya ingin mengarahkan kayuh perahu yang dipegangnya kewajah Sasuke.
"Yaa, kalian berdua berhenti!" teriak Naruto seraya meremas erat kimono nya.
Sontak keduanya terdiam.
Fiuhh,
Naruto mengehela nafasnya, mencoba menetralkan emosinya.
'Tidak boleh, kau tidak boleh badmood Naruto, ingat ini hari pernikahanmu' gumamnya dalam hati.
Naruto kemudian sedikit merapikan kimono dan wata boushi nya yang tadi sedikit berantakan. Dirasa sudah sempurna, Ia pun berjalan pelan menuju perahu yang sudah dinaiki oleh Sasuke sang suami dan Deidara.
"Anata, bantu aku" ujarnya seraya mengulurkan tangan kirinya kearah Sasuke.
Sasuke langsung menerima ularan tangan Naruto sembari tersenyum, benar-benar adegan yang mampu membuat Deidara memutar kedua bola matanya bosan, yah salahkan saja dirinya, kenapa Ia belum juga mau menikah di umurnya yang sudah memasuki kepala 3, bahkan Itachi yang umurnya sama dengan dirinya saja sudah memiliki anak berusia 3 tahun.
Dengan hati-hati Naruto melangkahkan kakinya masuk kedalam perahu, Sasuke membantunya merapikan kimono nya agar tidak kusut saat duduk didalam perahu.
"Tanganmu jangan seenaknya menyentuhnya!" ujar Deidara saat melihat tangan Sasuke yang membetulkan kimono diarea pinggang hingga paha Naruto.
"Dia sudah sah jadi istriku Baka!" ujar Sasuke tak kalah sewot.
"Kau" geram Deidara seraya hendak kembali mengarahkan kayuhnya ke wajah Sasuke.
"Yaa, kalian berdua" kembali terdengar teriakan Naruto.
Teriakan Naruto selalu berhasil membuat keduanya terdiam.
"Dei-nii kau cukup bawa saja perahu ini secepatnya ke arah Hotel, dan satu lagi, jangan bentak suamiku!"
Sasuke yang merasa menang karena dibela oleh Naruto menatap Deidara dengan seringai kemenangannya.
Cihh..
Deidara hanya bisa mendecih pelan, Ia segera membalikkan badannya memunggungi kedua pengantin baru tersebut, mengarahkan kayuhnya, menembus air, perlahan perahu tersebut bergerak menyusuri sungai Hozu. Agin semilir yang berhembus membawa daun momiji yang berguguran menjadi pemandangan yang menakjubkan selama perjalanan mereka diatas perahu menuju Hotel.
Sesekali Naruto mengadahkan tangan kanannya mencoba menangkap momiji yang berterbangan di hadapannya, sedangkan tangan kirinya digenggam lembut oleh Sasuke. Naruto melirik pria yang beberapa saat lalu telah sah menjadi suaminya, rasanya masih terbayang dibenaknya momen dimana Sasuke melamarnya setahun yang lalu, ditepi sungai Thames, London, saat keduanya sedang melanjutkan kuliah S2 mereka disana. Yang dari lokasi tersebut tampak Big Ben yang berdiri kokoh, persis seperti impiannya.
Sasuke yang sadar sedang ditatap oleh sang istri, semakin mengeratkan genggamannya pada jemari Naruto, tidak menoleh kearah sang istri, dirinya justru menutup kedua oniksnya, bagai mem-flash back tahun-tahun yang sudah mereka lewati bersama, Ia tersenyum dalam lamunannya.
Perlahan perahu yang dibawa oleh Deidara sudah hampir mendekati area Hotel, tampak di tepi sana Haruto melambaikan tangannya.
"Oji-chan …" teriaknya.
Walau Deidara tidak menyukai Itachi, tetapi dia sangat sayang pada keponakannya yang satu ini, karena setidaknya keponakannya tidak memiliki surai seperti Itachi, sepertinya gen milik Ino lebih banyak sehingga Haruto mewarisi warna surai dan bola mata miliknya.
"Haruto …" Deidara ikut melambaikan tangannya, gerakannya yang tiba-tiba sontak membuat perahu yang dinaiki ketiganya sedikit bergoyang.
Refleks Naruto dan Sasuke memegang tepian perahu.
"Onii-chan .." Naruto hanya bisa bergumam kesal.
"Yaah, Baka, kau hampir membuat kita semua terjatuh dari sini" mengenal Deidara selama 7 tahun lebih membuat Sasuke sudah tidak segan lagi memanggil kakak sepupu Naruto sekaligus saudara ipar nya ini dengan sebutan 'Baka' karena memang kenyataannya sikap overprotektif nya itu sering membuatnya jadi terlihat seperti orang bodoh.
Sasuke kemudian melirik sang istri yang berada disampingnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya sedikit cemas.
"Aku tidak apa-apa Anata" ujar Naruto seraya menggenggam kedua tangan Sasuke.
Sasuke melapaskan tangan kirinya yang digenggam Naruto, kemudian mengangkat tangannya perlahan untuk merapikan sedikit wata boushi milik Naruto.
Deidara memutar kedua bola matanya bosan melihat pemandangan didepannya.
"Oi.. oi, berhentilah melakukan PDA"
Sasuke melirik tak suka kearah Deidara.
"Aku hanya membetulkan wata boushi miliknya, dan kau sebut itu PDA?" kilah Sasuke.
"Hei, jarakmu itu terlalu dekat dengan Naruto, seharusnya kau duduk lebih jauh sedikit darinya" ujar Deidara seraya mengarahkan kayuh nya kearah tempat duduk Naruto dan Sasuke.
"Yaah, sudah berapa kali aku bilang, dia sudah sah jadi istriku Baka!"
"Aku mau duduk tanpa jarak, atau menyuruhnya duduk dipangkuanku juga bukan urasan mu!" lanjut Sasuke seraya menarik tubuh Naruto agar lebih merapat ketubuhnya. Berbicara dengan Deidara selalu sukses membuat Sasuke bertingkah tidak selayaknya seorang Uchiha.
"Kau .."
Itachi dan seluruh keluarga yang berada di tepi sungai dapat melihat dengan jelas Deidara dan Sasuke yang sedang beradu argument, tetapi sayangnya mereka tidak bisa mendengar apa yang sedang diperdebatkan keduanya.
"Astaga, Otou-san, seharusnya kau tadi mengurung Dei-nii saja dirumah, jangan membiarkannya ikut sampai kemari, cukup pernikahanku saja yang dibuatnya kacau" ujar Ino seraya menarik pelan Hakama Inoichi.
Inoichi hanya bisa menghela nafasnya pelan melihat tingkah laku putra sulungnya itu.
Kembali ke perahu yang dinaiki Sasuke, Naruto dan Deidara.
Sasuke yang dibentak seperti itu sontak berdiri.
"Astaga, Deidara, tidak bisakah untuk hari ini saja kita akur?" ujar Sasuke setengah frustasi.
Deidara yang masih mengarahkan kayuhnya ke wajah Sasuke mendecih pelan.
"Cih, kau yang mencari gara-gara duluan Sasuke"
"Apa? Aku?"
Sasuke menarik surai raven nya frustasi, Ia berjalan pelan hendak mendekati Deidara. Deidara yang sadar Sasuke sedang berjalan mengarah kedirinya sontak ikut maju kedepan, namun sayang gerakan tiba-tiba nya malah membuat perahu kecil tersebut sedikit oleng. Nasib tak dapat ditebak, karena perahu yang oleng tersebut Sasuke jadi tercebur kedalam sungai, namun beruntung untuk Deidara berkat kayuh yang dipegangnya, dirinya masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak terjatuh mengikuti Sasuke.
Byuurr …
"Sasuke!"
Naruto yang terkejut refleks meneriakkan nama sang suami, Ia bergerak pelan ketepian perahu. Deidara hanya bisa melongo melihat Sasuke yang tercebur kedalam sungai, bukannya menolong, dirinya malah tertawa melihat Sasuke yang susah payah berenang ke permukaan karena Hakama yang dikenakannya.
Naruto yang sudah kesal kemudian berdiri, Ia berjalan pelan menghampiri Deidara yang sedang tertawa terbahak-bahak seraya memegang perutnya. Ia menarik paksa kayuh yang dipegang oleh Deidara, dan tanpa aba-aba, kaki jenjangnya menendang bokong sang kakak sepupu sehingga Deidara jatuh kedalam sungai menyusul Sasuke.
Byurr …
Sasuke yang sudah berhasil berenang kepermukaan segera memegang tepian perahu. Ia mengusap wajahnya dan sedikit merapikan surainya yang menutupi wajahnya. Tak berniat naik kembali kedalam perahu, Ia justru sedang menikmati pemandangan dimana istrinya mengarahkan kayuh perahu ke kepala Deidara, seolah tidak membiarkan Deidara untuk berenang ke permukaan. Sesekali terdengar gumaman Naruto 'Mati kau' kepada Deidara.
Sementara itu, seluruh keluarga yang berada ditepi sungai hanya bisa melongo melihat kejadian yang ada dihadapan mereka. Seperti membeku, tidak ada dari mereka yang berusaha menolong Deidara dari amukan Naruto.
"Kyaa.., Oba-chan jangan bunuh Oji-chan"
Sepertinya Deidara harus berterima kasih kepada keponakannya yang satu ini, karena teriakan Haruto lah yang berhasil menyelamatkan nyawanya dari amukan Shinigami Naruto.
.
######
.
Naruto membantu Sasuke mengeringkan rambutnya dengan Hair dryer. Keduanya kali ini sudah berada di kamar khusus yang telah dipesan untuk pernikahan mereka di Hotel tersebut. Sasuke yang hanya mengenakan celana panjangnya membiarkan Naruto mengeringkan rambutnya, sesekali jemari Naruto yang halus mengacak-acak rambutnya agar kering sempurna.
Tangan Naruto yang halus sesekali menyentuh punggung Sasuke yang tidak terlapisi sehelai benang pun. Menekan pelan kepalanya lebih menunduk agar dirinya bisa mengeringkan bagian terbawah surai milik suaminya itu.
Naruto sudah melepas wata boushi dan hiasan dirambutnya, menyisakan kimono putih dengan surai pirangnya yang dibiarkan terurai. Tiba-tiba Ia mematikan Hair dryer nya saat dirasakannya bahu Sasuke yang bergetar.
"Ha..ha..ha"
Tunggu, apa dirinya tidak salah dengar, Sasuke tertawa?
"Sasuke kenapa kau tertawa?" tanyanya seraya duduk bersimpuh diatas tempat tidur dengan Hair dryer yang sudah dimatikan ditangan kanannya.
"Hm?"
Sasuke kemudian membalikkan badannya menghadap sang istri. Ia kemudian menghela nafasnya pelan.
Naruto yang melihat tingkah tak biasa Sasuke memiringkan sedikit kepalanya, sembari menatap Sasuke dengan penuh tanya.
"Dulu Ibu pernah berkata, kalau memiliki menantu dari keluarga kalian akan menambah warna dalam keluarga Uchiha, karena seperti yang kau tahu keluarga Ayahku sangat pendiam dan yah.. seperti kata orang-orang, sedikit membosankan"
"Maksudmu?" Naruto masih belum mengerti maksud dari Sasuke.
"Memiliki saudara ipar seperti Deidara terkadang tidak buruk juga, setidaknya dia benar-benar membuat pernikahan kita sangat berkesan sehingga kita tidak akan pernah melupakan hari ini"
"Jadi kau tidak marah padanya? Dia sudah membuatmu jatuh kedalam sungai"
Sasuke tersenyum lembut kearah Naruto.
"Setidaknya istriku sudah membalaskan dendamku" ujarnya seraya mengelus lembut pipi Naruto dengan tangan kanannya.
Naruto hanya bisa tertawa kecil, Sasuke yang melihatnya juga ikut tertawa, hari pernikahannya benar-benar tak akan pernah dilupakannya seumur hidupnya. Perlahan Sasuke menyatukan kening mereka, keduanya terlarut dalam tawa.
"Ne, Sasuke, cepat kembali pakai bajumu, Ka-san dan yang lainnya pasti sudah menunggu kita"
"Hm?" Sasuke yang masih setia pada posisi mereka, sedikit pun tak berniat untuk menggeser tubuhnya dari sang istri.
"Biarkan saja mereka" gumamnya kemudian.
Naruto sedikit menjauhkan wajahnya dari Sasuke, melepaskan kening mereka yang semula saling menempel.
"Apa maksudmu? Sudah, cepat pakai kembali bajumu".
Naruto yang hendak turun dari atas ranjang tiba-tiba ditarik oleh Sasuke, membuat dirinya terjatuh keatas tempat tidur. Naruto berusaha bangkit, namun sayang dirinya kalah cepat dari Sasuke yang telah berhasil mengurung dirinya dibawah badan kekar milik pria itu.
"Tung.., tunggu dulu Sasuke" ujar Naruto gelagapan seraya mencoba mendorong tubuh topless Sasuke.
"Kenapa sekarang kembali memanggilku Sasuke? Tadi kau memanggilku Anata" ujarnya penuh seringai sembari semakin mendekatkan wajahnya dengan Naruto.
"Tung.., yaah.. Aku bilang tunggu dulu Sasuke, kita harus segera kembali, semua orang sedang menunggu kita"
Sasuke menarik tangan Naruto yang berusaha menjauhkan wajah mereka.
"Sudah kubilangkan, aku tidak mau kembali" ujar Sasuke seraya meletakkan kedua tangan Naruto diatas kepalanya.
"Yaah, Sa.., Sasuke apa mau mu?" wajah Naruto semakin memerah saat wajah Sasuke semakin mendekat kearahnya.
"Kau tahu apa yang Aku mau Naruto" ujar Sasuke penuh seringai.
Wajah Naruto telah memerah sempurna layaknya tomat.
"Yaah, go to the hell!"
"Not, without you"
Sasuke langsung membungkam bibir Naruto dengan bibirnya sebelum bibir itu kembali mengeluarkan umpatan untuk dirinya.
Selanjutnya sudah bisa ditebak sendiri apa yang akan dilakukan Sasuke.
.
######
.
FIN
.
.
Holla, akhirnya bisa juga menamatkan fic yang satu ini.
Kalau ada yang kurang berkenan dengan ending fic ini, saya sebagai author minta maaf sebesar-besarnya, karena kemarin memang udah nentuin fic ini bakal ending di chap 10 aja. Soalnya ini fic fluffy tanpa banyak konflik, jadi menurut aku kalau semakin panjang dan alur cerita nya dipaksakan akan membuat para reader jadi bosan.
Dan maaf yah kalau update nya ini terlalu lama, selain kemarin sempat kehabisan ide mau buat ending nya seperti apa, author juga lagi banyak kerjaan.
Nah untuk inpirasi ending cerita ini aku dapat waktu lagi nyusun itinerary.
Buat yang penasaran, untuk perahu yang dinaiki oleh Sasuke, Naruto dan Deidara, bisa dilihat dilaman website Suiran Hotel Kyoto, di album Wedding.
(Uhh ... jadi tak sabar menunggu November)
.
Dan author ingin mengucapkan banyak terima kasih buat :
1. Para Reader (baik itu silent reader maupun reader yang sudah berkenan meninggalkan jejaknya di fic aku melalui review) :D
2. Yang udah Fav dan Follow fic ini
3. Yang nge-flame juga aku ucapin terima kasih deh, aku anggap itu untuk penyempurnaan tulisan aku kedepannya
4. Buat yang udah nulis review, yang mohon maaf sekali tidak bisa dibalas satu persatu (tapi review dari kalian selalu aku tunggu loh)
Udah deh, nggak mau banyak bacot lagi. Sekali lagi saya Hatake Aria pamit dari fic ini, dan ditunggu untuk komentarnya. :)
Maaf kalau ending nya gantung, soalnya ini rate nya T (*wink)
